Articles
Pencitraan Ultrasonografi Organ Hepatobiliari pada Ular Sanca
Nurul Aeni Ayu Lestari;
Amira Putri Pertiwi;
Muhammad Piter Kombo;
Ligaya ITA Tumbelaka;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 1 No. 2 (2017): ARSHI Veterinary Letters - November 2017
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (292.666 KB)
|
DOI: 10.29244/avl.1.2.29-30
Teknologi pencitraan ultrasonografi memiliki peranan penting dalam manajemen kesehatan pada ular sanca. Struktur sistem organ di dalam tubuh seperti hepatobiliari dapat dipantau secara non-invasif menggunakan teknologi ultrasonografi. Citra ultrasonografi organ hepatobiliari pada tiga spesies ular sanca, yang terdiri atas sanca batik, sanca bodo, dan sanca bola dilaporkan dalam tulisan ini. Pencitraan organ hepatobiliari dilakukan menggunakan trasnduser linear dengan frekuensi 10 MHz. Ukuran organ hepatobiliari diukur berdasarkan nomor dan jumlah sisik ventral tubuh. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa organ hati pada ketiga sanca memiliki ukuran yang bervariasi dan berada di antara persinggungan nomor sisik ventral 72-102. Organ kelenjar empedu berukuran 7-9 sisik dan berada di antara nomor sisik ventral yang bervariasi. Derajat ekogenitas organ hepatobiliari di antara ketiga sanca tidak menunjukkan adanya perbedaan. Ekogenisitas organ hati pada ketiga sanca tampak hipoekoik dengan dinding hiperekoik di antara bayangan organ paru-paru yang tampak hiperekoik. Kelenjar empedu tampak anekoik dengan dinding hiperekoik berada diantara organ limpa yang tampak hiperekoik dan organ pankreas yang tampak hipoekoik.
Radiographic measurement of cardiac size in laboratory mice
Mokhamad Fakhrul Ulum;
Deni Noviana
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (306.575 KB)
|
DOI: 10.29244/avl.2.1.19-20
This study was to establish quantitative reference range measurements that could be used to support basic data of cardiac size in the laboratory animals. Right and left lateral recumbency (R/L view) and ventral and dorsal recumbency (VD/DV view) radiographs were obtained in 6 normally laboratory mice (Mus musculus). The R/L view heart measurements were the apicobasal length (AB); the maximum width (CD); the distance between the cranial edge of the fifth rib and the caudal edge of the seventh rib (R5-7); the vertical depth of the thorax (H). The VD/DV view cardiac silhouette measurements were maximum length (L); maximum width (W); the width of the thorax (T). In order to determine vertebral heart scale score (VHS), the length and width of the heart were measured and then superimposed to the thoracic vertebrae starting at fourth vertebral (T4) caudally. In order to determine intercostals space (ICS), the CD were measured perpendicularly and superimposed on the intercostals space from fourth costal caudally. The cardiac silhouette was evaluated objectively to describe the cardiac appearance. Lengths of the parameter were determined with a caliper and a ruler in millimeters scale. The result showed that all measurements have not differed significantly between radiographic views (p>0.05).
Abses pada gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus)
Hamdan Ubaidillah;
Niluh Selly Frantika;
Laily Purnamasari;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (379.933 KB)
|
DOI: 10.29244/avl.2.3.45-46
Abses merupakan kasus yang sering terjadi pada jaringan kulit gajah. Seekor gajah Sumatera dewasa mengalami kebengkakan pada jaringan otot di sekitar tuber ischii, sedangkan anak gajah mengalami kebengkakan di daerah sekitar vagina. Gajah dikekang dan ditangani oleh keeper menggunakan tali dan rantai. Pemeriksaan klinis dilakukan oleh dokter hewan dan gajah didiagnosa mengalami abses dengan prognosa baik (fausta). Jaringan kulit daerah bengkak pada gajah Sumatra dewasa dan anak gajah disayat dan ditemukan adanya akumulasi nanah. Terapi yang diberikan pada kedua gajah yaitu pembersihan luka menggunakan 3%H2O2 dilanjutkan dengan pemberian iodine dan pemberian antibiotik topikal. Terapi pada kedua gajah dilakukan setiap hari sekali selama kurang lebih 2 minggu. Persembuhan pascaterapi berupa pengurangan kebengkakan dan tampak luka yang mengering.
Pengambilan contoh biologi secara noninvasif untuk penilaian status reproduksi pada landak jawa (Hystrix javanica)
Muhammad Risman Wahid;
Andhika Yudha Prawira;
Chairun Nisa’;
Srihadi Agungpriyono;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (392.635 KB)
|
DOI: 10.29244/avl.2.3.53-54
Landak jawa (Hystrix javanica) memiliki keunikan pada rambutnya yang termodifikasi menjadi duri. Duri pada landak berperan sebagai pertahanan diri dari predator. Penanganan dan pengekangan landak cukup sulit dilakukan sehingga pengambilan data biologi ladak jawa menjadi terbatas. Penanganan dan pengekangan secara kimiawi menggunakan sediaan bius umum digunakan pada hewan liar. Studi ini menggambarkan metode penanganan dan pengekangan fisik untuk pengambilan contoh biologi secara noninvasif pada landak jawa (H. javanica). Penggunaan kandang jepit yang dimodifikasi dengan penambahan sekat bergerak berbahan logam pada bagian dalam efektif untuk penanganan dan pengekangan landak jawa. Data biologi dari landak jawa yang dapat diambil untuk menilai status reproduksi dengan metode tersebut meliputi gambaran sel epitel vagina dan suhu tubuh.
Penanganan prolaps vagina pada sapi perah
Bong Ai Yin;
Fathul Bari;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (456.452 KB)
|
DOI: 10.29244/avl.2.3.51-52
Prolaps organ reproduksi vagina pada sapi perah jarang terjadi dan belum banyak dilaporkan. Prolaps vagina harus ditangani dengan segera untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder yang mengganggu siklus reproduksi. Tulisan ini melaporkan kasus prolaps vagina yang ditemukan di peternakan rakyat, anggota Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Seekor sapi betina Friesien Holstein (FH) pada laktasi kedua seminggu pascamelahirkan dan mengalami protrusi mukosa vagina yang tampak menggantung di vulva. Kasus ini ditangani dengan membersihkan mukosa vagina menggunakan air bersih dari keran dan dialirkan bersamaan dengan proses memasukkan mukosa vagina kembali ke posisi normal secara lege artis. Jahitan tipe simple interrupted di labia vulva dilakukan menggunakan tali rafia untuk mencegah prolaps terjadi kembali. Jahitan kemudian dilepas setelah seminggu. Sapi terjadi persembuhan dan tidak mengalami prolaps yang berulang.
Nefrolithiasis pada red eared slider (Trachemys scripta elegans)
Devi Paramitha;
Intan Citraningputri;
Deni Noviana;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.116 KB)
|
DOI: 10.29244/avl.2.3.43-44
Kasus nefrolithiasis ini ditemukan pada seekor red eared slider (RES) atau di Indonesia dikenal dengan nama kura-kura Brazil, secara tidak disengaja ketika hewan tersebut diperiksa secara radiografi untuk melihat morfologi normalnya. Kura-kura telah dipelihara selama satu tahun oleh pemilik tanpa ada keluhan apapun. Kura-kura tersebut dipelihara di dalam kolam bersama dengan ikan, pakan yang diberikan pemilik adalah ikan kecil dan sayur. Riwayat kura-kura sebelum dipelihara pemilik tidak diketahui. Radiografi dilakukan melalui 3 standar pandang, yaitu dorsoventral, laterolateral dan craniocaudal. Hasil radiografi dari ketiga standar pandang tersebut menunjukkan adanya massa radiopaque di bagian kanan dan kiri abdomen kura-kura. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dilakukan sebagai diagnosa penunjang. Hasil yang didapat dari pemeriksaan USG ini adalah ditemukan massa hiperekhoik pada ginjal.
Penanganan distokia karena schistosomus reflexus pada sapi friesian holstein
Nurul Aeni Ayu Lestari;
Dhenok Maria Ulva;
. Nsereko;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 3 No. 1 (2019): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2019
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (389.063 KB)
|
DOI: 10.29244/avl.3.1.9-10
Schistosomus reflexus merupakan kelaianan kongenital berupa dorsoflexi tulang belakang sehingga saat palpasi perektal akan teraba kepala dan ekstremitas fetus yang berdekatan. Rongga thoraks dan abdomen fetus gagal menutup sehingga terjadi paparan organ viseral. Tulisan ini melaporkan kasus schistosomus reflexus yang terjadi pada fetus dari seekor induk sapi Friesian Holstein. Keadaan induk sapi sudah 6 jam mengalami perejanan tanpa disertai adanya kelahiran. Pemeriksaan palpasi perektal ditemukan kaki belakang fetus melipat ke kepala fetus di jalan kelahiran. Kantung amnion sudah pecah dan disertai oleh keluarnya intestin fetus. Penanganan dilakukan melalui bedah sesar, namun setelah fetus berhasil dikeluarkan, beberapa organ fetus menempel pada uterus induk. Jaringan dari organ fetus yang sulit untuk dikeluarkan dari uterus dibiarkan dan uterus dijahit. Penjahitan kulit, lemak, dan otot dilakukan sekaligus dengan tipe jahitan interlocking menggunakan benang nilon. Induk sapi kemudian di culling karena persembuhan pascabedah kemungkinan akan sulit bagi induk sapi untuk kembali bereproduksi akibat sisa jaringan fetus yang masih berada dalam uterus.
Kuantifikasi opasitas hasil radiografi mesin radiografi analog
Dwi Utari Rahmiati;
Gunanti Gunanti;
Riki Siswandi;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 2 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/avl.4.2.37-38
Citra radiografi suatu objek yang diperoleh dari mesin x-ray analog adalah berupa film yang telah tercetak sebagai suatu gambar dengan gradasi warna hitam, abu dan putih yang disebut sebagai opasitas. Penilaian perubahan opasitas pada film hasil radiografi analog dilakukan dengan bantuan lampu illuminator untuk menampilkan citra dari objek. Identifikasi perubahan opasitas suatu objek dilakukan oleh dokter hewan secara kualitatif dan bersifat sangat subjektif. Tulisan ini menyajikan teknik kuantifikasi sederhana dalam menilai opasitas citra radiografi analog menjadi hasil yang lebih objektif untuk mengurangi subjektifitas. Film radiografi analog yang telah diperoleh selanjutnya diubah menjadi digital secara fotografi menggunakan kamera digital yang ada pada ponsel genggam. Fotografi citra dilakukan di ruangan gelap dengan bantuan lampu illuminator. Foto kemudian dipindahkan ke perangkat komputer untuk diolah dengan perangkat lunak ImageJ. Nilai opasitas suatu area terpilih ditentukan oleh densitas objek berupa gray value pada setiap pixel dalam rentang angka 0-255. Nilai nol untuk citra paling gelap berwarna hitam sebagai radiolucent, sedangkan nilai 255 untuk citra paling terang berwarna putih sebagai radiopaque.
Potensi diagnostik pencitraan ultrasonografi pada otot perineal sebagai sarana diagnosa penunjang kesehatan reproduksi sapi
Sari Yanti Hayanti;
. Amrozi;
. Aryogi;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 2 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/avl.4.2.39-40
Otot perineal salah satu bagian tubuh yang dapat terpengaruh oleh perubahan pada organ yang disokongnya seperti ekor, kolon dan saluran reproduksi. Pendekatan diagnostik pada perubahan ini berpotensi sebagai teknik baru dalam penegakan diagnosa yang terukur pada ternak sapi. Pencitraan ultrasonografi otot perineal pada sapi dapat dikembangkan menjadi metode noninvasif dalam memantau perubahan yang terjadi pada saluran reproduksi. Ultrasonografi mode brightness dengan transduser linear berfrekuensi 5 MHz diposisikan pada otot perineal, yaitu otot coccygeus dan levator ani pada sudut pandang longitudinal dan transversal. Citra yang dihasilkan menampilkan variasi ekogenitas pada susunan jaringan kulit dan subkutan, otot coccygeus dan levator ani, dan peritoneum. Ukuran dan ekogenitas jaringan dapat diukur secara kuantitatif menggunakan perangkat lunak ImageJ.
Penanganan kasus prolaps vagina pada sapi induk tidak bunting
Kuntum Rahmawati;
Desi Khairunissa Rahayuningtyas;
Fatri Alhadi;
Yudi Fikri;
Mokhamad Fakhrul Ulum
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 4 (2020): ARSHI Veterinary Letters - November 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29244/avl.4.4.65-66
Prolaps vagina umumnya terjadi pada sapi bunting trimester ketiga, namun juga dapat terjadi pada sapi tidak bunting. Tulisan ini melaporkan kasus prolaps vagina pada sapi tidak bunting tiga bulan pasca partus. Sapi mengalami demam, peningkatan frekuensi napas, dan mukosa vagina tampak keluar dari vulva. Sapi ditangani dengan membersihkan mukosa vagina menggunakan air bersih mengalir dan antiseptik selanjutnya direposisi secara manual. Sapi kemudian diberikan antibiotik, antiradang dan multivitamin secara intramuskular