Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Keanekaragaman Makrofauna Tanah pada Habitat Hutan Homogen dan Heterogen di Kawasan Hutan Pendidikan dan Pelatihan Sisimeni Sanam, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Maria M. E. Purnama; Nixon Rammang; Astin Elise Mau; Roni Haposan Sipayung
Wana Lestari Vol 4 No 2 (2022): JURNAL KEHUTANAN
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v7i02.9615

Abstract

This study aims to determine types of soil macrofauna and analyze the diversity and similarity of soil macrofauna contained in homogeneous and heterogeneous forest habitat. This research has been done in the Sisimeni Sanam Education and Training Forest Area, in Silu Village, Fatuleu District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara. This research is descriptive quantitative using the exploratory method. Observations were carried out through pitfall trap and hand sorting. The data to be analyzed is related to the diversity index (H') and the Similarity Index (IS). Analysis of data using Microsoft Excel and Past3 applications. The results showed that types of soil macrofauna in Forest Areas Education and Training Sisimeni Sanam especially under the stands of forest habitat heterogeneous and homogeneous forest consists of 11 ordo with a total of 1,113 individuals were found. The diversity level of soil macrofauna under heterogeneous and homogeneous forest habitat stands at 1.71063 and 0.55568. The level of similarity between soil macrofauna under heterogeneous forest habitat stands is high with an average value of 62.406%.
EKSTRAKSI DAN PENENTUAN KADAR SELULOSA DARI EMPULUR BATANG GEWANG (Corypha utan Lamk.) MELALUI METODE ALKALI DAN ACETOSOLV Imanuella Aprilya Eunike Blegur; Herianus J.D. Lalel; Nixon Rammang; Roni Haposan Sipayung
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empulur batang Gewang merupakan biomassa palma non-kayu yang melimpah diNusa Tenggara Timur, namun pemanfaatannya sebagai sumber selulosa strukturalbelum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan (1) menentukan kandungan selulosadan lignin residu empulur batang Gewang dengan metode serat deterjen ADF–ADL,(2) membandingkan efektivitas metode ekstraksi alkali soda– AQ dan acetosolvterhadap rendemen selulosa yang dihasilkan, (3) menganalisis pengaruh agenbleaching hidrogen peroksida (H₂O₂) dan natrium hipoklorit (NaOCl) terhadaprendemen dan kecerahan selulosa, serta (4) mengkarakterisasi panjang seratselulosa empulur batang Gewang. Analisis ADF–ADL menunjukkan bahwa empulurbatang Gewang memiliki selulosa residu sekitar 10,25% dan lignin residu 1,02%pada basis berat kering, menandakan fraksi selulosa struktural yang terbatas dandominasi karbohidrat non- struktural. Ekstraksi menggunakan metode alkali soda–AQ menghasilkan rendemen selulosa 12,7%, sedangkan metode acetosolv hanya3,2% dari berat kering bahan awal. Proses bleaching dengan kombinasi metodeekstraksi dan agen pemutih memberikan rendemen 54,7% (acetosolv–H₂O₂), 54,0%(alkali–H₂O₂), 49,6% (acetosolv–NaOCl), dan 38,3% (alkali–NaOCl), dengan nilaikecerahan L berturut-turut 64,87; 62,31; 71,40; dan 67,97. Analisis One-WayANOVA diikuti uji lanjut Bonferroni menunjukkan bahwa perbedaan kecerahanantar perlakuan bleaching bersifat nyata (p < 0,05). Pengukuran 300 seratmenghasilkan panjang serat rata-rata 0,53 mm dengan kisaran 0,15–1,20 mm,sehingga serat selulosa empulur batang Gewang tergolong serat pendek. Secarakeseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa empulur batang Gewangmemiliki potensi terbatas sebagai sumber selulosa struktural, dengan metode alkalisoda–AQ lebih efektif dibandingkan acetosolv dalam melepaskan selulosa. Ditinjau dari karakter panjang serat dan rendemen, selulosa empulur batang Gewang lebihberpotensi dimanfaatkan sebagai komponen campuran dalam sistem pulp non-kayu,bahan pengisi komposit, atau bahan baku awal produk selulosa bernilai tambah skalaterbatas, daripada sebagai sumber utama pulp kertas berkekuatan tinggi.Kata kunci: selulosa, empulur batang Gewang, alkali soda–AQ, acetosolv,bleaching, panjang serat
Reforestation of the Rehabilitation Zone of Mutis Timau National Park to Enhance the Regeneration of Ampupu (Eucalyptus urophylla) Lusia Sulo Marimpan; Tomycho Olviana; Nixon Rammang; Roni Haposan Sipayung; Ayuvera Rifani Ray
Jurnal IPTEK Bagi Masyarakat Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Ali Institute of Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/j-ibm.v6i1.1705

Abstract

Mutis Timau National Park is the newest national park designated in East Nusa Tenggara and was declared the 56th national park in Indonesia on 8 September 2024 by the Ministry of Environment and Forestry. Located across South Central Timor, North Central Timor, Kupang, and Belu Regencies, and partially bordering Timor-Leste, this area is widely known as the “Mother of Timor Island.” Ampupu (E. urophylla), a drought-adapted and fire-resistant species, dominates this region; however, its natural regeneration has continued to decline. This community service activity aimed to support the conservation and regeneration of Ampupu through reforestation in the rehabilitation zone using native species, namely naturally growing seedlings collected from their original habitat. Prior assessment of site conditions and previous research in the area supported the selection of this approach. A total of 100 Ampupu seedlings were planted and maintained intensively, resulting in a survival rate of 89%. The high survival rate was supported by the use of locally sourced seedlings, which required minimal adaptation, and by intensive maintenance, including the installation of supporting stakes to protect seedlings from livestock grazing in the forest area. In the short term, reforestation can increase stand productivity, while in the long term, it can enhance the forest’s capacity to store carbon and absorb CO₂ emissions.
DINAMIKA KELOMPOK TANI HUTAN (KTH) AMNINO BUTIN DI DESA OEBOLA, KECAMATAN FATULEU, KABUPATEN KUPANG DALAM PROGRAM REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN Charlita Billy; Ludji Michael Riwu Kaho; Yusratul Aini; Nixon Rammang
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan hutan dan lahan yang keliru dapat memicu dampak negatif seperti penggundulan hutandan penurunan kualitas tutupan lahan. Sebagai langkah mitigasi, Pemerintah menginisiasi ProgramRehabilitasi Hutan dan Lahan melalui kegiatan reboisasi dan penghijauan. Keberhasilannya sangatdipengaruhi oleh partisipasi aktif dan dinamika Kelompok Tani Hutan sebagai pelaksana di tingkattapak. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik individu anggota, (2) gambaranpelaksanaan program Rehabilitasi Hutan dan Lahan, (3) tingkat dinamika kelompok pada KelompokTani Hutan Amnino Butin di Desa Oebola, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, serta (4)menganalisis hubungan yang signifikan antara karakteristik individu (usia dan tingkat pendidikan)dengan dinamika kelompok. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan campuran (mixedmethods) dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode sensus terhadap seluruhanggota Kelompok Tani Hutan Amnino Butin yang berjumlah 37 orang, sedangkan analisis hubunganantarvariabel diuji menggunakan analisis statistik non-parametrik Uji Korelasi Rank Spearmanbantuan IBM Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwakarakteristik anggota Kelompok Tani Hutan didominasi oleh kelompok usia produktif 41–50 tahundengan latar belakang pendidikan formal mayoritas lulusan SD dan SMP. Pelaksanaan programRehabilitasi Hutan dan Lahan yang mengelola lahan seluas 50 ha di Kawasan Hutan Lindung SisimeniSanam blok Butin telah berjalan secara sistematis melalui tiga tahapan utama yang terukur, yaituperencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Secara akumulatif, tingkat dinamikaKelompok Tani Hutan Amnino Butin berada pada kategori tinggi tergolong dinamis dengan nilai rataratatotal sebesar 133, di mana tujuh indikator dinamika kelompok berada pada kategori tinggi danhanya indikator tekanan kelompok yang berada pada kategori rendah. Hasil uji korelasi RankSpearman membuktikan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia maupun tingkatpendidikan dengan tingkat dinamika kelompok pada Kelompok Tani Hutan Amnino Butin.Kata Kunci: dinamika kelompok, kelompok tani hutan, karakteristik individu, rehabilitasi hutan dan lahan.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PERAMBAHAN DI KAWASAN HUTAN LINDUNG ILE WUUNG (STUDI KASUS DESA WULUBLOLONG, KECAMATAN SOLOR TIMUR, KABUPATEN FLORES TIMUR) Ade Irma Syamsudin; Nixon Rammang; Norman P. L. B Riwu Kaho; Fadlan Pramatana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perambahan kawasan hutan lindung merupakan salah satu permasalahan yangmengancam kelestarian fungsi ekologis hutan serta keberlanjutan sumber daya alam. KawasanHutan Lindung Ile Wuung di Desa Wulublolong, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten FloresTimur mengalami tekanan akibat aktivitas masyarakat yang memanfaatkan kawasan hutanuntuk kepentingan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yangmempengaruhi terjadinya perambahan hutan di Kawasan Hutan Lindung Ile Wuung. Penelitianmenggunakan metode campuran (mixed methods) dengan menggabungkan pendekatankuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara,dokumentasi, serta analisis data spasial menggunakan citra satelit Google Earth, Google EarthEngine, dan Global Forest Watch (GFW). Responden penelitian terdiri atas 50 masyarakatpelaku perambahan serta informan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dan tokohmasyarakat. Analisis data dilakukan menggunakan analisis frekuensi, persentase, tematik dananalisis geospasial untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perambahan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan penyebab utamaterjadinya perambahan hutan, yang ditandai oleh rendah dan tidak stabilnya pendapatanmasyarakat serta tingginya ketergantungan terhadap sektor pertanian. Selain itu, faktor sosialberupa sistem kepemilikan lahan secara turun-temurun, rendahnya tingkat pendidikan danpemahaman masyarakat mengenai fungsi serta status kawasan hutan lindung, keterbatasanlahan pertanian, serta kurang optimalnya sosialisasi dan pengawasan turut mendorongterjadinya perambahan. Analisis citra satelit tahun 2015, 2023, dan 2025 menunjukkan adanyadinamika perubahan tutupan hutan yang mengindikasikan bahwa perambahan berlangsungmengikuti tekanan sosial ekonomi dan kebutuhan lahan masyarakat.Kata Kunci: Perambahan Hutan, Hutan Lindung Ile Wuung, Faktor Penyebab, Sosial Ekonomi.
PEMANFAATAN ETNOBOTANI SEBAGAI OBAT TRADISIONAL, PANGAN, DAN PEWARNA ALAMI OLEH MASYARAKAT SEKITAR UPTD KPH ALOR (Studi Kasus : Desa Lawahing, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor) Yulike H. S. Penali; Nixon Rammang; Roni Haposan Sipayung; Lusia Sulo Marimpan
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara megadiversitas yang memiliki potensi keanekaragamanhayati baik flora maupun fauna. Masyarakat Desa Lawahing tidak terlepas dengan tradisi dalammenjalankan kehidupan, dilihat dari cara mereka memanfaatkan tumbuhan untuk memenuhikebutuhan hidup dengan pengetahuan tradisional yang dimiliki. Pengetahuan mengenaipemanfaatan tumbuhan ini perlu diidentifikasi agar terus ada dan dapat dimanfaatkan olehmasyarakat umum yang membutuhkan. Pengambilan data dilakukan menggunakan data primerdan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui tahap observasi, wawancara,identifikasi tumbuhan, pengambilan titik koordinat, dan dokumentasi. Wawancara dilakukanmenggunakan metode snowball sampling, yang penentuan sampel paling pertama adalahdipilih responden pengunci. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif danmetode statistik deskriptif pada penelitian kualitatif. Teridentifikasi 71 spesies tumbuhan dari36 famili yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat tradisional, pangan dan pewarna alami.Spesies terbanyak yang dimanfaatkan dari famili Zingiberaceae yang beranggota 7 spesies.Bagian tumbuhan obat tradisional yang dominan adalah daun 44%, teknik pengolahan yangpaling sering digunakan yaitu direbus 20%. Bagian tumbuhan pangan yang dominan adalahbuah 55%, teknik pengolahan yang paling sering digunakan yaitu langsung dikonsumsi 33%,bagian tumbuhan pewarna alami yang dominan adalah daun 43%, teknik pengolahan yangpaling sering dilakukan yaitu dicampurkan lalu ditumbuk 57%. Berdasarkan status konservasiIUCN Red List diperoleh 4 kategori tumbuhan yang ditemukan yaitu LC 25 spesies, EN 1spesies, NE 35 spesies, dan DD 10 spesies, sedangkan status konservasi berdasarkan PermenLHK N0. 20 Tahun 2018, menyatakan semua spesies tumbuhan yang ditemukan di wilayahDesa Lawahing adalah tergolong tidak dilindungi.Kata kunci : Etnobotani, Tumbuhan obat tradisional, Tumbuhan pangan, Tumbuhan pewarna alami, Desa Lawahing
Analisis Kontribusi Hasil Hutan Bukan Kayu Madu pada Kelompok Tani Hutan Bangun Hidup di Desa Uiasa, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang Aditia Ones Mataus; Nixon Rammang; Norman P.L.B. Riwu Kaho; Bertila Avila Delvion
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilaiekonomi dan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan. Penelitian inibertujuan menganalisis kontribusi usaha madu terhadap pendapatan rumah tangga sertamengidentifikasi aspek ekologi yang mendukung pemanfaatan HHBK madu pada KelompokTani Hutan Bangun Hidup di Desa Uiasa, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang. Penelitiandilaksanakan pada Maret 2026 dengan metode sensus terhadap 13 anggota kelompok tani. Datadikumpulkan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan penelusuran titik sarangmenggunakan metode jelajah dengan bantuan Avenza Maps. Analisis dilakukan secaradeskriptif dan kuantitatif melalui perhitungan biaya, penerimaan, pendapatan, dan kontribusi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi madu sebesar Rp7.180.000 per tahundengan rata-rata Rp552.307 per petani. Total penerimaan mencapai Rp243.750.000 per tahundengan rata-rata Rp18.750.000 per petani, sedangkan pendapatan bersih mencapaiRp236.570.000 per tahun dengan rata-rata Rp18.197.692 per petani. Kontribusi usaha maduterhadap total pendapatan rumah tangga sebesar 40%, sedangkan usaha nonmadu memberikankontribusi 60%. Secara ekologis, ditemukan lima sarang, terdiri atas tiga sarang pada pohondan dua sarang pada lubang kayu dan batu. Sarang pada pohon ditemukan pada Alstoniascholaris dan Sterculia foetida, dengan lebah Apis dorsata, sedangkan sarang pada lubang kayudan batu ditemukan pada Trigona sp. Pola sebaran sarang tidak merata dan cenderungmengelompok pada habitat yang relatif dekat dengan kawasan hutan, memiliki sumber pakan,air, dan gangguan manusia yang lebih rendah. Usaha madu berperan penting sebagai sumber pendapatan tambahan, namun masih bersifat musiman sehingga pengelolaan danpengembangannya perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.Kata Kunci: Hasil Hutan Bukan Kayu, Madu Hutan, Pendapatan, Kontribusi, Desa Uiasa.