Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Implementasi Program 5R Area Depo Kereta Api PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional IV Tanjungkarang Wibowo, Heri; Mulyani, Ayu; Anggraini, Meilani; Khikmawati, Emy
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 9, No 2 (2025): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v9i2.21449

Abstract

Depo Kereta Tanjungkarang merupakan salah satu fasilitas penting yang berperan dalam mendukung operasional kereta api di wilayah Sumatera Selatan dan Lampung. Sebagai pusat kegiatan perawatan serta perbaikan kereta api, khususnya untuk kereta penumpang dan kereta makan. Depo ini memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan kondisi kereta api tetap optimal dan aman untuk digunakan. Dalam menjalankan tugasnya, Depo Kereta Tanjungkarang menghadapi tantangan operasional yang kompleks, seperti pengelolaan suku cadang, pemeliharaan fasilitas kerja, hingga pengelolaan limbah hasil perawatan kereta api. Oleh karena itu, penerapan program 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin menjadi sangat relevan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih teratur dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana prinsip-prinsip 5R diterapkan oleh karyawan serta dampaknya terhadap keselamatan kerja dan efisiensi operasional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa implementasi program 5R sudah berjalan dengan baik tanpa adanya masalah atau kendala untuk setiap penerapannya. Kata Kunci : Rajin, Rapi, Rawat, Resik, Ringkas.
Penerapan rocket stove sebagai inovasi pengelolaan sampah ramah lingkungan Jannah, Miftahul; Nurhalimah, Siti Ulpa; Amarta, Tirta; Abimannyu, Ragil; Almukorobin, Almukorobin; Khikmawati , Emy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i7.1472

Abstract

Background: Many aspects need to be addressed to ensure a community remains safe from the changes that arise. Environmental health is a shared responsibility, both in management and in the aftermath of contamination that negatively impacts endemic disease or pollution. Waste remains a serious problem in Banjar Negoro Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency, due to residents' habit of disposing of it in markets and rivers, which causes environmental pollution and health risks. Purpose: To provide education and implement the rocket stove as a simple, inexpensive, and environmentally friendly appropriate technology innovation in village waste management. Method: This community service activity was conducted in Banjar Negoro Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency (Fieldwork Lecture) on Monday, August 25, 2025. The activity was attended by 30 people, consisting of Banjar Negoro Village residents and relevant village officials. The outreach took place at the Banjar Negoro Village Hall. Preparatory activities included coordination with village officials, preparation of materials, and creation of presentation media. In the implementation stage, the team conducted outreach using the lecture method using PowerPoint (PPT) media, followed by interactive discussions and question and answer sessions with the community and also the 2025 Community Learning and Empowerment (KKL-PPM) of Malahayati University. The discussion covered waste problems and their management. Results: The rocket stove implementation program ran smoothly according to the planned stages. The activity began with initial observations, where the 27 KKL-PPM groups found that most residents still disposed of waste in market areas and riverbanks. This condition resulted in a slum environment, unpleasant odors, and degraded river water quality, which residents should use for their daily needs. Conclusion: The use of rocket stoves in waste management has been proven to reduce the volume of household waste, especially that previously disposed of in markets and rivers, while simultaneously reducing air pollution from open burning. Waste management with rocket stoves also increased community awareness regarding the benefits for environmental health and the potential use of combustion waste as a simple fertilizer. Suggestion: Follow-up programs by the community and village government are needed to increase the number of rocket stove units so that their benefits reach a wider area and provide further educational activities regarding waste management to increase its economic value. Keywords: Appropriate technology; Environmental health; Rocket stove; Waste management Pendahuluan: Banyak aspek yang perlu dilakukan untuk menjamin suatu komunitas selalu dalam kondisi aman terhadap perubahan yang ditimbulkan. Kesehatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan maupun pasca terjadinya akibat dari suatu kontaminasi yang berdampak negatif berupa endemi penyakit atau pencemaran. Sampah masih menjadi permasalahan serius di Desa Banjar Negoro, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, karena kebiasaan warga membuangnya di pasar dan sungai yang menimbulkan pencemaran lingkungan serta risiko kesehatan. Tujuan: Memberikan edukasi dan penerapan rocket stove sebagai inovasi teknologi tepat guna yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah desa. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Banjar Negoro, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus (Kuliah Kerja Lapangan) pada hari senin tanggal 25 Agustus 2025. Kegiatan dihadiri 30 orang yang terdiri atas warga Desa Banjar Negoro dan perangkat desa terkait. Penyuluhan di laksanakan di balai pekon banjar negara. Kegiatan tahap persiapan berupa koordinasi dengan perangkat desa, penyusunan materi, dan pembuatan media presentasi. Pada tahap pelaksanaan, tim melakukan penyuluhan dengan metode ceramah menggunakan media PowerPoint  (PPT), dilanjutkan dengan diskusi interaktif serta sesi tanya jawab bersama masyarakat dan juga pembelajaran dan pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati tahun 2025. Diskusi meliputi permasalahan sampah dan pengelolaanya. Hasil: Program penerapan rocket stove berjalan dengan baik sesuai tahapan yang telah direncanakan, kegiatan dimulai dengan observasi awal, di mana kelompok 27 KKL-PPM menemukan bahwa sebagian besar masyarakat masih membuang sampah di area pasar dan bantaran sungai. Kondisi tersebut menyebabkan lingkungan sekitar menjadi kumuh, timbul bau tidak sedap, serta menurunkan kualitas air sungai yang seharusnya di manfaatkan warga untuk kebutuhan sehari hari. Simpulan: Penggunaan rocket stove dalam pengelolaan sampah terbukti mampu mengurangi volume sampah rumah tangga, khususnya yang sebelumnya di buang ke pasar dan sungai, sekaligus menekan pencemaraan udara akibat pembakaran terbuka. Pengelolaan sampah dengan rocket stove juga memberikan peningkatan pengetahuan masyarakat terkait manfaat terhadap kesehatan lingkungan ataupun limbah pembakaran yang bisa menjadi pupuk sederhana. Saran: Perlunya program lanjutan dari masyarakat maupun pemerintah desa untuk memperbanyak unit rocket stove sehingga manfaatnya menjadi lebih luas jangkauan wilayahnya dan kegiatan edukasi lanjutan mengenai pengelolaan sampah agar bernilai ekonomis.
Edukasi gizi dengan partisipasi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan pencegahan stunting Pangestu, Agung Julian; Andini, Andini; Khikmawati, Emy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i8.1458

Abstract

Background: Stunting remains a significant public health problem in Indonesia. Data from the 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) shows that the national stunting prevalence reached 21.6%, while in Lampung Province the figure was 20.3%. This indicates that achieving the target of reducing stunting to 14% by 2024 still faces significant obstacles. Stunting is caused by chronic malnutrition, recurrent infections, inadequate parenting, and poor sanitation and access to healthcare. The long-term impacts of stunting not only disrupt a child's physical growth but also hinder cognitive development, reduce work productivity, and increase the risk of non-communicable diseases in adulthood. Therefore, comprehensive measures involving various sectors are needed to prevent stunting, including the active role of universities in community service activities. Purpose: To increase public awareness through education and a participatory approach regarding stunting prevention. Method: Community service activities designed with a participatory approach that emphasizes education, empowerment, and active community involvement. The KKL-PPM activity was carried out in Banjar Sari Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency on August 8, 2025. The activity was carried out in several stages including the preparation stage including coordination with village officials, health centers, and integrated health post (posyandu) cadres, preparation of educational modules to be used, and distribution of invitations to the community. Next, in the implementation stage, namely nutrition counseling and education, interactive discussions with participants, simulations of making complementary foods, and assistance from integrated health post (posyandu) cadres in monitoring toddler growth. Nutrition Counseling and Education, with materials on introducing stunting, the importance of the First 1,000 Days of Life (HPK), exclusive breastfeeding, providing nutritious complementary foods, and a balanced diet delivered through presentation media, and leaflets, then continued with interactive discussions and questions and answers to provide opportunities for participants to share experiences and obstacles related to child feeding, parenting, and sanitation, as well as finding solutions together. Results: Implementation demonstrated increased community understanding of the importance of balanced nutrition, exclusive breastfeeding, fulfilling the First 1,000 Days of Life (HPK), environmental sanitation, and the role of integrated health posts (Posyandu) in stunting prevention efforts. Furthermore, community participation in Posyandu activities also increased, accompanied by a commitment from village officials to ensure the program's sustainability. Conclusion: Nutrition education and counseling activities have positively contributed to increasing community knowledge regarding stunting prevention. Through outreach activities, interactive discussions, nutritious menu preparation simulations, and Posyandu mentoring, especially for pregnant women and mothers with toddlers, awareness of the importance of balanced nutrition, appropriate parenting practices, and clean and healthy lifestyles in preventing the risk of stunting has also increased. Suggestion: Integrated health posts cadres and health workers are advised to improve their skills in early detection and routinely recording the nutritional status of toddlers. Village governments are expected to provide support through policies and budget allocations to ensure the program's sustainability, while universities are encouraged to develop this initiative into data-driven research to support a significant reduction in stunting rates. Keywords: Community participation; Nutrition education; Prevention; Stunting  Pendahuluan: Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup tinggi di Indonesia. Data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukkan bahwa prevalensi stunting secara nasional mencapai 21.6%, sementara di Provinsi Lampung angkanya sebesar 20.3%. Kondisi ini menandakan bahwa pencapaian target penurunan stunting menjadi 14% pada tahun 2024 masih menghadapi berbagai hambatan yang cukup signifikan. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi yang bersifat kronis, infeksi yang berulang, pola asuh yang kurang memadai, serta kualitas sanitasi dan akses layanan kesehatan yang rendah. Dampak jangka panjang stunting tidak hanya mengganggu pertumbuhan fisik anak, tetapi juga menghambat perkembangan kognitif, menurunkan produktivitas kerja, dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular pada masa dewasa. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang menyeluruh dan melibatkan berbagai sektor untuk mencegah stunting, termasuk peran aktif perguruan tinggi dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan edukasi dan pendekatan partisipatif mengenai pencegahan stunting. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat yang dirancang dengan pendekatan partisipatif yang menekankan pada edukasi, pemberdayaan, dan keterlibatan aktif masyarakat. Kegiatan KKL-PPM dilaksanakan di Desa Banjar Sari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus pada tanggal 8 Agustus 2025. Kegiatan dilakukan dengan beberapa tahapan antara lain tahap persiapan meliputi koordinasi dengan perangkat desa, puskesmas, dan kader posyandu, penyusunan modul edukasi yang akan digunakan, serta penyebaran undangan kepada masyarakat. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan yaitu penyuluhan dan edukasi gizi, diskusi interaktif dengan peserta, simulasi pembuatan MPASI, serta pendampingan kader posyandu dalam pemantauan pertumbuhan balita. Penyuluhan dan Edukasi Gizi, dengan materi pengenalan stunting, pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ASI eksklusif, pemberian MP-ASI bergizi, dan pola makan seimbang yang disampaikan melalui media presentasi, dan leaflet, kemudian dilanjutkan dengan diskusi Interaktif dan tanya jawab untuk memberikan kesempatan bagi peserta dalam berbagi pengalaman dan kendala terkait pemberian makan anak, pola asuh, dan sanitasi, sekaligus mencari solusi bersama. Hasil: Pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang, pemberian ASI secara eksklusif, pemenuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sanitasi lingkungan, serta peran posyandu dalam upaya pencegahan stunting. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu juga meningkat, diikuti oleh komitmen dari perangkat desa untuk memastikan keberlanjutan program tersebut. Simpulan: Kegiatan penyuluhan dan edukasi gizi menunjukkan kontribusi positif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan stunting. Melalui kegiatan penyuluhan, diskusi interaktif, simulasi penyusunan menu bergizi, dan pendampingan posyandu pada masyarakat terutama ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya gizi seimbang, pola asuh yang tepat, serta perilaku hidup bersih dan sehat dalam mencegah risiko stunting. Saran: Para kader posyandu dan tenaga kesehatan disarankan untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan deteksi dini serta pencatatan status gizi balita secara rutin. Pemerintah desa diharapkan dapat memberikan dukungan melalui kebijakan dan alokasi anggaran agar program ini dapat berlanjut, sementara perguruan tinggi diharapkan dapat mengembangkan inisiatif ini menjadi penelitian yang berbasis data untuk mendukung penurunan angka stunting secara nyata
PENGEMBANGAN WIRAUSAHA DODOL DI DESA SUKAJADI KECAMATAN RATU NUBAN KABUPATEN LAMPUNG TENGAH Anggraini, Meilani; Khikmawati, Emy; Wibowo, Heri; Wardana, Marcelly Widya
Jurnal Bakti Masyarakat Manajemen Vol 1, No 2 (2021): Volume 1 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jbmm.v2i1.6859

Abstract

Kewirausahaan memiliki peranan yang angat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan produk barang yang dihasilkan. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat di wilayah Desa Sukajadi Kecamatan Ratu Nuban Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu yang berkembang di Provinsi Lampung. Sektor ini sangat potensial untuk berkembang dengan dijalankannya sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mudah dikelola dan tidak membutuhkan biaya yang besar dalam prosesnya. Salah satu UKM yang banyak dijumpai di wilayah ini adalah UKM yang memproduksi dan menjual berbagai jenis bahan makanan olahan dan kerupuk berbahan baku ubi dan singkong. Permasalahan yang paling mendasar adalah UKM di Desa Sukajadi belum memperhatikan aspek desain dan kemasan produk, sehingga UKM masih menjual hasil produk olahan singkong dengan cara tradisional (konvensional) dan belum memiliki ciri atau merk dagang (brand image) produknya. Oleh karena itu tujuan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah menumbuhkan pola pikir dan pemahaman masyarakat setempat dalam berwirausaha pengembangan dodol untuk meningkatkan perekonomian dengan minat berwirausaha.
PEMBUATAN ALAT PEMIPIL JAGUNG KERING PORTABLE UNTUK KELOMPOK TANI SIDE KARYE DUSUN YOGALAKA DESA SUMUR KECAMATAN KETAPANG KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Ibrahim, Fauzi; Wardana, Marcelly Widya; Khikmawati, Emy
Jurnal Bakti Masyarakat Manajemen Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jbmm.v2i2.7993

Abstract

A corn Sheller Machine is a tool used to shell corn that has been dried to a moisture content of approximately 18% which is ready to be used as animal feed or for resale. In carrying out corn harvesting activities, home-scale corn farmers work on corn shelling using manual or traditional tools such as shelling by hand or simple tools (screwdrivers). Shelling in this way will require a lot of manpower, time, and small production capacity. Mechanical corn shelling is done by using a corn sheller machine. Sheller machines on the market use manual power. Shelling in this way will require a lot of energy and if the operation method is not correct and the moisture content of the shelled corn is not suitable, it will affect the viability of shelled corn kernels. This study aims to develop the design and application of a portable corn sheller tool with the help of a gasoline-fueled motor. In this case, researchers can find out how the tool works and find out the results of the corn sheller according to the level of the existing dry corn dose. The tools and materials used are very easy to obtain and can be given easy maintenance every month. It is hoped that this tool can help farmers work in terms of processing dry corn so that it can be worth the rupiah, keep the environment clean, and can maximize the potential of corn every year the annual harvest takes place.
ANALISIS PERENCANAN DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU (Studi Kasus Pada Pabrik Tahu China Bapak Made) Dirgantara, Wayan Veri; Sidiq, Ahmad; Khikmawati, Emy
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 7, No 1 (2023): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v7i1.7458

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan pengendalian persediaan bahan baku pada pabrik Tahu China Bapak Made dan kelancaran proses produksinya. Berdasarkan dari pengumpulan, pengelolahan, dan analisa data, maka didapatkan kesimpulan diantaranya sebagai berikut penelitian ini menggunakan peramalan. Untuk melakukan peramalan diperlukan metode tertentu penulis menggunakan metode Double Exponential Smoothing Holt, dengan memprediksi jumlah yang akan diproduksi yaitu 214.172 selama 12 minggu. Perhitungan Agregat Planning dengan menggunakan metode chase strategi di awali dengan menentukan proporsi terlebih dahulu, dimana biaya Subkontrak dengan hasil nya sebagai berikut untuk Tahu kecil mengeluarkan biaya =Rp.646.800, tahu sedang mengeluarkan biaya yaitu sebesar =Rp.1.337.600, dan untuk tahu yang besar mengeluarkan biaya yaitu sebesar = Rp. 2.417.400, jadi dapat disimpulkan total biaya untuk biaya subkontrak untuk tahu kecil, tahu sedang, dan tahu besar, yaitu sebesar = Rp.4.401.800. Sedangkan untuk perbandingan penulis disini menggunakan perhitungan agregat planning metode chase strategi dengan menggukan lembur dengan kapasitas lembur 357 unit/jam/hari dimana mengeluarkan biaya yaitu sebesar = Rp. 1.904.000. Jadi bisa disimpulan dalam menggunakan metode Chase Straegi mendapakan biaya minimum dengan lembur yaitu mendapatkan biaya lembur sebesar Rp. 1.904.000 sedangkan dengan subkontrak yaitu sebesar Rp. 4.401.800 jadi disini perusahan disarankan menggunakan lembur kerena biaya yang dikeluarkan lebih minimum. Dalam pengendalian persediaan bahan baku penulis disini menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), dimana dengan jumlah pemesanaan yang optimal sebanyak 10 kali dan total cost nya yaitu Rp. 205.930.843. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian persediaan bahan baku berperan dalam menunjang kelancaran proses produksi.T
IDENTIFIKASI KERUSAKAN BUAH PEPAYA SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUK TROPICAL FRUIT SALAD DENGAN MENGGUNAKAN PETA KENDALI P Anggraini, Meilani; Sidiq, Ahmad; Khikmawati, Emy
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v5i1.3849

Abstract

ABSTRAKPT. Great Giant Food adalah sebuah perusahaan industri perkebunan yang mengolah bahan baku pepaya menjadi produk tropical fruit salad. Permasalahan yang terjadi adalah adanya potensi kerusakan yang menyebabkan bahan baku tidak sesuai standar kualitas yang telah ditentukan, diantaranya buah busuk, buah mentah, buah undersize, buah memar dan buah abnormal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa pengendalian kualitas bahan baku pepaya dengan menggunakan peta kendali p dan memberikan usulan perbaikannya sesuai dengan diagram fishbone. Hasil analisis peta kendali p menunjukkan bahwa pengendalian kualitas bahan baku pepaya masih berada dalam batas kendali. Dari grafik diagram pareto, menunjukkan bahwa adanya 2 jenis kerusakan yang sangat dominan yaitu buah undersize dan buah memar. Dari analisis diagram fishbone, faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penyebab kerusakan produk adalah manusia, metode dan lingkungan.Kata Kunci : diagram fishbone, diagram pareto, peta kendali pABSTRACTIdentification Of Pepaya Fruit Damage As A Raw Material For Tropical Fruit Salad Products Using P Control Chart. PT. Great Giant Food is a plantation industry company that processes papaya raw materials into tropical fruit salad products. The problem that occurs is the potential for damage that causes raw materials not according to predetermined quality standards, including rotten fruit, unripe fruit, undersized fruit, bruised fruit and abnormal fruit. The purpose of this study was to analyze the quality control of papaya raw materials using the p control chart and to suggest improvements according to the fishbone diagram. The results of the p control chart analysis show that the quality control of papaya raw materials is still within control limits. From the Pareto diagram, it shows that there are 2 types of damage that are very dominant, namely undersized fruit and bruised fruit. From the fishbone diagram analysis, the factors that influence and cause product damage are humans, methods and the environments.Keywords : fishbone diagram, pareto diagram, p control chart
ANALISIS PRODUKTIVITAS MESIN PRESS DENGAN PENDEKATAN OVERALL EQUIPMENT EFFECTIVENESS(OEE) PADAPT. JAPFA COMFEED INDONESIA LAMPUNG Anggraini, Melani; Khikmawati, Emy; Widiastuti, Heni
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v1i2.1107

Abstract

PT. Japfa Comfeed Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam pembuatan pakan ayam. Produktivitas dari mesin yang rendah dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar untuk perusahaan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat produktivitas dari mesin press menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) pada tahun 2014 dan 2015, dan mengidentifikasi Six Big Losess berdasarkan diagram Pareto. Metode OEE merupakan suatu metode pengukuran tingkat efektivitas pemakaian suatu mesin dengan menghitung tingkat availlability, performance efficiency, dan rate of quality product, selanjutnya menghitung dengan Six Big Lossesuntuk mengetahui kerugian yang mengakibatkan rendahnya nilai OEE. Pada tahun 2014 dengan kapasitas mesin press 20 ton/jam memiliki nilai OEE 73,18%, sementara pada tahun 2015 dengan kapasitas mesin press 15 ton/jam memiliki nilai OEE 88,86%, dimana selisih peningkatan nilai produktivitas tersebut sebesar 15,68%. Kontribusi utama yang mengakibatkan nilai OEE rendah pada tahun 2014 yaitu akibat reduced speed losses yaitu waktu yang hilang akibat kecepatan operasi aktual lebih kecil dari kecepatan mesin yang telah dirancang beroperasi dalam kecepatan normal.Kata Kunci:overall equipment effectiveness (OEE), sixbiglossesABSTRACT: Analysis Productivity Of Press Machine With Overall Equipment Effectiveness (OEE) At PT.Japfa Comfeed Indonesia Lampung.PT. Japfa Comfeed Indonesia is one of the companies engaged in the manufacture of chicken feed. The low productivity of the machine can incur huge losses for the company. The objectives of this research is to know the productivity level of press machine using Overall Equipment Effectiveness (OEE) method in 2014 and 2015, and to identify Six Big Losess based on Pereto diagram. The OEE method is a method of measuring the effectiveness of a machine, and rate of quality product, then counting with Six Big Losses to find out the losses that result in low OEE values. At 2014 with a capacity of 20 tons/hour press machine has an OEE value of 73.18%, while in 2015 with a capacity of 15 tons/hour press machine has an OEE of 88.86%, where the difference in the increase in productivity value was 15.68%. The main contribution resulting in low OEE value at 2014 was due to reduced speed losses (lost time due to actual operating speed smaller than engine speed that has designed to operate in normal speed). Keywords: overall equipment effectiveness (OEE), sixbiglosses
ANALISIS PETA KENDALI ATRIBUT DALAM MENGIDENTIFIKASI KERUSAKAN PADA PRODUK TEPUNG TAPIOKA PT. UMAS JAYA AGROTAMA LAMPUNG Khikmawati, Emy; Anggraini, Melani; Irawan, Indra
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v2i1.1113

Abstract

Pengendalian kualitas adalah suatu proses yang ditujukan untuk mempertahankan standar kualitas produk yang ditetapkan untuk membantu kinerja proses produksi. Pengendalian kualitas dapat dilakukan mulai dari bahan baku, selama proses produksi berlangsung sampai pada produk akhir. Masalah yang terjadi dalam penelitian ini adalah adanya kerusakan ini disebabkan oleh bahan baku namun ikut masuk ke dalam proses produksi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis jenis-jenis kerusakan yang terjadi pada produk tepung tapioka. Adapun analisa yang digunakan dalam mengolah data yaitu menggunakan check sheet, histogram, c-chart, diagram Pareto dan diagram sebab akibat. Dari hasil perhitungan peta kendali c diperoleh data bahwa tidak semua hasil produksi berada dalam batas kendali yang ditentukan. Hal ini dapat dilihat pada grafik kendali dimana ada 5 titik yang keluar yaitu pada titik data (2, 8, 10, 23 dan 26). Hasil analisis diagram Pareto, prioritas perbaikan dilakukan pada 2 jenis kerusakan yang mendominasi hingga lebih dari 80% yaitu serat kasar 58% dan kadar air 24%. Dari analisis diagram sebab akibat dapat diketahui faktor penyebab kerusakan berasal dari faktor manusia, metode kerja, material dan lingkungan kerja. Penggunaan alat bantu statistik dengan c-chart dalam pengendalian kualitas produk tepung tapioka dapat mengidentifikasi bahwa ternyata kualitas produk tepung tapioka masih berada diluar batas kendali meskipun jumlah kerusakannya sebagian besar berada dalam batas kendali. Faktor-faktor penyebab kerusakannya yaitu: manusia, metode, lingkungan, mesin dan material.Kata kunci : peta kendali c, kualitas, tepung tapiokaABSTRACT: Analysis of Atribute Control Chart to Identify The Tapioca Fluor Defect Product In PT. Umas Jaya Agrotama Lampung. Quality control is a process aimed to preserve product standard quality which is set by the company and to help the performance of production process in order to always be within the control limits. Quality control can be done started from raw materials, during the production process to the final product. In process production of tapioca has done supervision but not all products are manufactured the standard with set quality. The purpose of this study is to analyze the implementation of quality control and to analyze the types of damage that occurs in tapioca products. As for the analysis used in processing the data is he use check sheet, histogram, c-chart, Pareto diagram and cause and effect diagram. The result of the c-chart obtained that not all produce being within any control determined. This can be seen on a chart control where there are 5 point that out of data (2, 8, 10, 23 and 26). The analysis result of Pareto diagram, enhancement priority can be done in two types of damage, they dominates more than 80%, there are crude fiber 58% and moisture content 24%. From the analysis of cause and effect diagram, it can be found the factors of damage which are human factor, working methods, materials and working environment. The use of statstic tool by using c-chart to control product quality of tapioca can identify that it is still out of control limits although the amount of damage are largely with in the control limits. The factors that cause the damage are: man, method, environment, machine and material.Keywords: c-chart, quality, tapioca
ANALISIS PEMILIHAN JENIS TANAMAN PENYERAP EMISI UDARA DALAM MENDUKUNG RUANG TERBUKA HIJAU PRIVAT DI KECAMATAN KEMILING KOTA BANDARLAMPUNG Ergantara, Rani Ismiarti; Khikmawati, Emy
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Rekayasa, Teknologi, dan Sains
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v4i1.2186

Abstract

ABSTRAK Penurunan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Kemiling akibat konversi lahan menyebabkan ketidakseimbangan daya dukung ekologis lingkungan dan kerusakan lingkungan. Penyediaan RTH privat menjadi salah satu alternatif yang harus didorong untuk mengurangi ketimpangan ketersediaan RTH publik sekaligus mereduksi pencemaran udara. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis tanaman penyusun RTH privat, menganalisis dan mengevaluasi kecocokan jenis tanaman penyusun RTH privat sebagai penyerap emisi udara serta menyusun arahan pemilihan jenis tanaman penyusun RTH privat rumah sederhana (RS), rumah menengah (Rm) dan rumah mewah (RM). Penelitian ini dilakukan dengan mengevaluasi nilai Anticipated Pollution Index (API) yang dikombinasikan dengan nilai Air Pollution Tolerance Index (APTI). Tumbuhan yang digunakan adalah 15 jenis tanaman dominan pengisi RTH privat Kecamatan Kemiling yaitu Mangifera odorata, Annona muricata, Ficus benjamina, Cyrtostachys renda, Oleina syzygium, Plumeria alba, Aglaonema sp, Saraca asoca, Anredera cordifolia, Pandanus amaryllifolius, Piper betle L, Bouganvillea, Euodia ridleyi, minum Sambac, Rhoeo discolor. Hasil penelitian menunjukkan nilai API dari jenis pohon lebih tinggi dibandingkan perdu dan semak. Selanjutnya, jenis pohon, perdu, dan semak yang direkomendasikan sebagai pengisi RTH privat RS, Rm, dan RM di Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung adalah Mangifera odorata (mangga kweni), Annona muricata (sirsak) Ficus benjamina (beringin laut), Aglaonema sp. (snow wkite), Plumeria alba (kamboja), Pandanus amaryllifolius (pandan wangi),  Piper betle L (sirih hijau), Saraca asoca (asoka) dan/ Anredera cordifolia (binahong). Kata Kunci: air pollution tolerance index, anticipated pollution index, ruang terbuka hijau, privat, pekarangan, emisi udara  ABSTRACT Plants Type Selection Analysis For Air Emission Aborber To Support Green Private Spaces In Kemiling Sub District Bandar Lampung City.The decrease of Green Open Space (RTH) quantity in Kemiling District due to land conversion causes an imbalance in the environmental carrying capacity and environmental damage. Provision of private green open space is one alternative that must be encouraged to reduce the imbalance in the availability of public open green space while reducing air pollution. This study aims to determine the type of private green space constituent plants, analyze and evaluate the suitability of private green space constituent plants as absorbers of air emissions and arrange directives for the selection of constituent plants for small houses (RS), medium houses (Rs) and large houses (RM). This research was conducted by evaluating the value of the Anticipated Pollution Index (API) combined with the value of the Air Pollution Tolerance Index (APTI). The plants used were 15 types of dominant dominant green space fillers in the Kemiling District, namely Mangifera odorata, Annona muricata, Ficus benjamina, Cyrtostachys lace, Oleina syzygium, Plumeria alba, Aglaonema sp, Saraca asoca, Anredera cordifolia, Pandanus amaryllifolius, Piper betle Lava, Bougan, Ligue Euodia ridleyi, drink Sambac, Rhoeo discolor. The results showed the API value of the tree species was higher than shrubs and bush. Furthermore, the species of trees, shrubs, and bush that are recommended as fillers for private green open space in the RS, Rm, and RM in the Kemiling District of Bandar Lampung City are Mangifera odorata (manga kweni), Annona muricata (sirsak) Ficus benjamina (beringin laut), Aglaonema sp. (snow white), Plumeria alba (kamboja), Pandanus amaryllifolius (pandan wangi), Piper betle L (sirih hijau), Saraca asoca (asoka) and / Anredera cordifolia (binahong). Keywords: anticipated pollution index, air pollution tolerance index, green open space, private, yard, air emissions