Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENINGKATAN AWARENESS MENGENAI PERILAKU TOXIC DI BALIK INTERNET SURFING PADA SISWA Nurfitriany Fakhri; Tri Sulastri; Hilwa Anwar; Sahril Buchori; Lukman Lukman
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2024): Januari
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v2i2.63251

Abstract

Perilaku toxic di internet telah menjadi perhatian global karena dampak negatifnya yang signifikan. Perilaku toxic internet surfing juga mempengaruhi cara belajar siswa sehingga guru memiliki peran untuk pencegahan perilaku toxic internet surfing. Salah satu cara untuk mencegah hal tersebut terjadi adalah dengan meningkatkan awareness mengenai perilaku toxic di balik internet surfing pada siswa tidak hanya penting untuk melindungi siswa dari menjadi korban, tetapi juga untuk mencegah mereka menjadi pelaku. Peningkatan awareness dilakukan melalui psikoedukasi. Kegiatan psikoedukasi ini dilaksanakan pada MAN 2 Polewali Mandar. Sebanyak 30 siswa kelas XI dan XII mengikuti kegiatan psikoedukasi ini. Hasil psikoedukasi menunjukkan bahwa siswa memperoleh pengetahuan mengenai konsep psikologi dalam memahami permasalahan perilaku toxic internet surfing dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, dari hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berpendapat bahwa kegiatan yang diberikan memiliki hubungan dengan kebutuhan mereka sehari-hari. Hasil akhir kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperlihatkan kepuasan yang sangat baik mengenai pelaksanaan kegiatan psikoedukasi ini.
Pemahaman Mindset dan Karakter Wirausaha pada Siswa SMKN 5 Makassar Hilwa Anwar; Abdul Rahmat; St. Hadjar Nurul Istiqamah
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2024): November
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v3i1.68512

Abstract

Pengenalan wirausaha sejak dini merupakan salah satu cara untuk mengubah mindset terkait wirausaha dan pengembangan karakter wirausaha pada remaja. Sementara berdasarkan hasil awal analisa kebutuhan diketahui masih kurangnya pemahaman wirausaha yang memadai pada remaja di tingkat sekolah menengah atas. Berdasarkan hal tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini difokuskan pada pemahaman mindset dan karakter wirausaha pada siswa SMKN 5 Makassar. Kegiatan PKM ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah interaktif. Peserta adalah siswa kelas XI di SMKN 5 Makassar dari tiga jurusan yang berbeda. Jumlah peserta adalah sebanyak 28 orang terdiri dari siswa laki-laki dan Perempuan. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, diketahui bahwa terdapat peningkatan pemahaman terkait wirausaha, perubahan pola pikir terutama motivas menjadi wirausaha serta menunjukkan peningkatan pemahaman terutama terkait kreativitas dalam ide bisnis. Implikasi dari kegiatan ini adalah pemahaman mindset wirausaha pada tingkat remaja dapat menjadi langkah awal yang penting dalam membentuk generasi muda yang berdaya saing. Pengabdian kepada masyarakat ini membuktikan bahwa melalui berbagai metode interaktif dan pendekatan kreatif, dapat memberikan dampak positif pada remaja dan membantu remaja dalam hal ini siswa SMKN 5 Makassar mengembangkan karakter wirausaha.
IDENTIFIKASI IDE BISNIS DAN PELUANG USAHA: PENGEMBANGAN KEMAMPUAN AWAL WIRAUSAHA PADA SISWA MAN POLEWALI MANDAR Hilwa Anwar; Rahmawati Syam; Amirah Aminanty Agussalim; Lukman Lukman; Abdul Rahmat
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 3 (2024): Mei
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v2i3.61862

Abstract

Ide bisnis dan peluang usaha merupakan langkah awal yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan calon pelaku wirausaha sebelum memulai kegiatan usaha.Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyrakat ini adalah memberikan pengetahuan kepada mitra dalam hal ini siswa kelas XII MAN Polewali terkait tahapan mengidentifkasi ide bisnis menjadi peluang usaha. Metode yang digunakan adalah psikoedukasi aktif dengan menggunakan beberapa teknik yakni ceramah, menonton video, bermain, simulasi, dan diskusi. Jumlah mitra yang mengikuti kegiatan ini adalah 38 orang yang terdiri dari siswa dan siswi. Kegiatan psikoedukasi dibawakan oleh dua orang narasumber yang menyajikan materi terkait ide bisnis dan peluang usaha. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pada 50% peserta psikoedukasi. Hasil observasi selama berjalannya kegiatan, seluruh siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi dibuktikan dengan keterlibatan aktif peserta dimulai dari kegiatan ceramah, diksusi, simulasi, games berkelompok maupun sesi tanya-jawab. Kesimpulan dari pengabdian ini adalah pemberian psikoedukasi dapat bermanfaat bagi para mitra. Implikasi dari pengabdian ini, diharapkan pada pihak sekolah untuk mengajak mitra mempraktikkan hasil dari kegiatan ini, sehingga semakin banyak pelaku wrausaha yang berhasil menjalankan usahanya.
The Influence of Emotional Labor on Service Quality with Burnout as a Mediating Variable Elshafa Salsabil Anwar; Resekiani Mas Bakar; Hilwa Anwar
LITERACY : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities Vol. 4 No. 3 (2025): December : International Scientific Journals of Social, Education, Humanities
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/literacy.v4i3.2963

Abstract

The existence of inconsistent nursing practices in realizing quality services causes complaints experienced by both patients and nurses. This inconsistency can be attributed to various factors, two of which are emotional labor and burnout. Emotional labor, specifically deep acting and surface acting, plays a significant role in how nurses regulate their emotions to meet professional expectations, which may impact their perceived service quality. Meanwhile, burnout, characterized by emotional exhaustion, depersonalization, and reduced personal accomplishment, is a psychological response to prolonged work-related stress and is commonly experienced by nurses in high-pressure environments. This study aims to determine the effect of deep acting and surface acting on service quality, with burnout as a mediating variable. The research utilized a quantitative survey design. Respondents consisted of 249 nurses selected through cluster random sampling. Instruments used in this study included the Service Quality Scale, Emotional Labor Scale, and Burnout Scale. Mediation testing was conducted using Hayes' PROCESS macro to analyze the indirect effects. The analysis results showed that burnout significantly mediates the relationship between emotional labor and service quality. Specifically, burnout mediates the effect of deep acting (b = 0.20, 95% CI [0.05–0.37]) and surface acting (b = 0.20, 95% CI [–0.40 to –0.132]) on service quality. These findings indicate that both deep acting and surface acting influence service quality, either directly or through the mediating effect of burnout. Understanding these relationships is crucial for hospital management to develop strategies that reduce burnout and promote effective emotional regulation among nurses. Interventions such as emotional resilience training and supportive work environments may help enhance service quality by managing emotional labor more effectively and reducing the negative impact of burnout.
Pengaruh Emotional Labor terhadap Employee Well-being pada Jurnalis Andi Nurul Izzah Ilham; Hilwa Anwar; Rahmawati Syam
eScience Humanity Journal Vol 6 No 2 (2026): eSience Humanity Vol.6 No.2 Mei 2026
Publisher : Asosiasi Ide Bahasa Kepri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/esci.v6i2.421

Abstract

Journalist encounter various interactions with sources during news coverage, which may negatively impact their well-being if not accompanied by appropriate emotion regulation. This study aims to examine the effect of emotional labor specifically surface acting and deep acting on employee well-being among journalist. This study use simple linear regression analysis and involved 270 active journalist as respondents. This study found that deep acting has a positive and significant effect on the employee well-being of journalist (R2 = 0,058, p = 0,000 < 0,05). However, surface acting did not have a significant effect on employee well-being among journalist (p = 0,068 > 0,05).  This study provides an important contribution to understanding emotional labor, particularly deep acting, in assisting journalists to enhance their well-being.
Transformasi Identitas Akademisi Menjadi Politisi: Analisis Psikologi Politik Nelson Pomalingo di Gorontalo Bala Bakri; Muhammad Daud; Hilwa Anwar
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9 No 3 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v9i3.3769

Abstract

The transition of academics into electoral politics is often normatively interpreted either as an expansion of public service or as a threat to academic independence. Such a dichotomy overlooks the psychological mechanisms that connect professional identity, political ambition, and available political opportunities. This study aims to explain the process and motives underlying Nelson Pomalingo's transition from professor and university rector to political party cadre and elected regional head in Gorontalo, Indonesia. A qualitative single-case design with narrative analysis was employed. Data were collected through in-depth interviews conducted in 2022 and document review. The analysis reconstructed the chronology of the transition, identified recurring motives, and interpreted them using achievement, power, and affiliation needs, political efficacy, moral identity, and social capital. The findings indicate that the transition was not an abrupt career change. It developed through an interaction between academic and managerial achievements, confidence in decision-making capacity, moral responsibility for regional development, adverse political experiences, party recruitment, and accumulated organizational networks. Achievement and affiliation were subsequently directed toward the pursuit of legitimate political influence. The narrative of public service gave moral coherence to this pursuit, while social capital and party access made candidacy feasible. This case shows that an academic's political transformation is best understood as a gradual reconstruction of professional identity within a political opportunity structure, rather than as the effect of a single motive. The study contributes an integrative political-psychological explanation while remaining limited to one retrospective account.