Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PEMETAAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TAHUN 2011 "“ 2020 UNTUK ZONASI KAWASAN PERTANIAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DESA TANJUNG BUNUT KECAMATAN TAYAN HILIR Purba, Andryan; Krisnohadi, Ari; Hazriani, Rini
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 14, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v14i2.67210

Abstract

Desa Tanjung bunut, terletak di Kabupaten Sanggau, yang merupakan salah desa didalam kecamatan tayan hilir. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan dari tahun 2011 "“ 2020, mengidentifikasi karakteristik fisik dan kimia tanah di Desa Tanjung Bunut, menentukan luasan kawasan pertanian pada tahun 2020, memberikan saran arahan untuk perkembangan zonazi kawasan pertanian Desa Tanjung Bunut. Hasil penelitian terdapat perubahan penggunaan lahan yang ada di wilayah Desa Tanjung Bunut dalam kurun waktu 10 tahun menggunakan pendekatan verifikasi kondisi lahan eksisting. Titik berjumlah 18 yang merupakan sasaran verifikasi perubahan penggunaan lahan, dari hasil verifikasi lapangan terdapat pemekaran dan perubahan lahan yang didapati dalam kurun waktu 10 tahun  meliputi titik V5, V6, V7, V8, V9, V10, V11, V12, V13, V14, V15, V16, V17, V18, sedangkan titik yang tidak berubah adalah V1, V2, V3, V4. Pada karakteristik kimia dan fisika tanah merujuk pada data pH tanah berkisar antara 3,34 sampai 5,17, C-organik berkisar antara 1,10 sampai 57,06, Kapasitas tukar kation dengan kisaran rentang antara 6,05 sampai dengan 118,44, Kejenuhan basa dengan kisaran rentang antara 3,45 sampai 44,70 dan tekstur hasil analisis tekstur tanah terdiri dari lempung liat berdebu, lempung, lempung berdebu, serta debu. Pada klasifikasi arahan kawasan pertanian didapat pada Satuan lahan (SL) I II VII masuk pada klasifikasi kriteria pertanian lahan kering, pada SL III IV V VI masuk pada klasifikasi kriteria pertanian lahan basah dan SL VIII masuk pada klasifikasi kriteria pertanian tanaman tahunan. Hasil zonasi kawasan pertanian didapat SL 1 zona kawasan pertanian lahan kering, SL 2 zona kawasan pertanian lahan kering, SL 3 zona kawasan pertanian lahan basah, SL 4 zona kawasan pertania   lahan basah, SL 5 zona kawasan pertanian lahan basah, SL 6 zona kawasan pertanian lahan basah, SL 7 zona kawasan pertanian lahan kering, SL 8 zona kawasan pertanian tanaman tahunan.
Water table depth optimisation solutions to prevent peat fires in the Kapuas River Nusantara, Rossie Wiedya; Suryadi, Urai Edi; Chandra, Tino Orciny; Krisnohadi, Ari
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol. 10 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v10i1.14418

Abstract

The optimisation of water table management is a significant strategy to prevent the risk of fire and peat subsidence. Peatlands, unique ecosystems, are frequently damaged by drainage due to human activities. The hydrological restoration program aims to protect and manage peat ecosystems, thereby contributing to the enhancement of the resilience of fire-free villages. The success indicators of peat rewetting can be indicated by a shallow water table and a slow rate of subsidence. The objective is to optimise the water table management to prevent fires and subsidence, while increasing community awareness of its importance in agriculture. The implementation of Community Service Activities was conducted in Punggur Kecil Village, involving the Farmer Group in Parit Toom Jaya and the Fire Care Community Parit Rahmat group in the Kapuas River-Punggur Besar River Peat Hydrological Unit. These activities included socialization, educational sessions, and field visits to peatlands to gain insight into the concept of peat rewetting techniques. Practical training was also provided on measuring and monitoring water tables, followed by regular evaluations to assess progress. This strategy not only enhances agricultural productivity but also reduces fire risks and land subsidence, providing a sustainable, long-term solution for peatland ecosystem management.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN PINANG DI DESA SUNGAI BELIDAK KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA Zamaludin, Zamaludin; Hazriani, Rini; Ruliyansyah, Agus; Krisnohadi, Ari; Pramulya, Muhammad
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3955

Abstract

The research was conducted in Sungai Belidak Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency, Chemistry and Soil Fertility Laboratory and Physics and Soil Conservation Laboratory, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University, Pontianak. Soil types found in the research location consist of 3 types, namely Histic Sulfaquents with the order Entisols, Typic Haplohemists with the order Histosols and Typic Sulfaquents with the order Entisols. This study aims to determine the land suitability class and limiting factors for areca nut plant development as well as management recommendations according to land characteristics. The actual suitability of areca nut plants in SPT 1 and SPT 3 shows the unsuitable class (N) by having a limiting factor on sulfidic hazards (xs), while in SPT 2 shows a marginal suitable class (S3) by having limiting factors on oxygen availability (oa), rooting media (rc), available nutrients (na) and flood hazards (fh). Keywords: Soil Survey, Land Suitability, Areca Nut INTISARI            Penelitian dilaksanakan di Desa Sungai Belidak, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan Laboratorium Fisika dan Konservasi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Jenis tanah yang terdapat di lokasi penelitian terdiri dari 3 jenis yaitu Histic Sulfaquents dengan ordo Entisols, Typic Haplohemists dengan ordo Histosols dan Typic Sulfaquents dengan ordo Entisols. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelas kesesuaian lahan dan faktor pembatas pengembangan tanaman pinang serta rekomendasi pengelolaan sesuai dengan karakteristik lahan. Kesesuaian aktual tanaman pinang pada SPT 1 dan SPT 3 menunjukkan kelas tidak sesuai (N) dengan memiliki faktor pembatas pada bahaya sulfidik (xs), sedangkan pada SPT 2 menunjukkan kelas sesuai marginal (S3) dengan memiliki faktor pembatas pada ketersediaan oksigen (oa), media perakaran (rc), hara tersedia (na) dan bahaya banjir (fh). Kata kunci : Survei Tanah, Kesesuaian Lahan, Pinang.
PENERAPAN PERTANIAN VERTIKULTUR DAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR BERBASIS LIMBAH IKAN PADA IBU- IBU NELAYAN DI DUSUN NIRWANA, KECAMATAN SEI KAKAP Krisnohadi, Ari; Gunawan, Joni; YVI, Urai Suci
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 3 No. 1 (2017): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 3 NO. 1 OKTOBER 2017
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v3i1.2969

Abstract

Penerapan Pertanian Vertikultur dan Pembuatan Pupuk Organik Cair Berbasis Limbah Ikan bertujuan untuk membentuk suatu Kawasan Rumah Pangan Lestari  yang dapat menunjang Program Ketahanan Pangan dan secara langsung dapat meningkatkan Perekonomian Masyarakat Nelayan di daerah pesisir. Kehidupan masyarakat nelayan yang sebagian besar sebagai nelayan dan mempunyai lahan pekarangan sempit dan selalu terkena intrusi air laut, sehingga tidak subur. Pentingnya sayuran organik untuk kehidupan keluarga masyarakat nelayan menyebabkan transfer teknologi vertikultur yang murah dan mudah ditiru penting dilakukan. Untuk mengatasi permasalahan mitra beberapa solusi teknologi yang ditawarkan adalah transfer teknologi melalui pendampingan, penyuluhan, demplot dan pembuatan pupuk organik cair. Metode ceramah dan diskusi dan aplikasi langsung melalui penerapan teknik budidaya sayuran organik dengan metode vertikultur dilakukan sebagai media alih informasi yang bersifat interaktif dan berlangsung dua arah serta pembuatan pupuk organik cair dengan pemanfaatan limbah ikan. Metode ini merupakan inisiasi program dengan harapan kelompok mitra mempunyai pengetahuan dasar yang baik tentang pengetahuan budidaya tanaman sayuran secara organik. Sasaran peserta IbM adalah Kelompok Usaha (KU) Lina Sederhana yang terdiri dari kelompok wanita nelayan. Luaran yang dihasilkan adalah penerapan paket teknologi budidaya sayuran organik secara vertikultur, produk kemasan sayuran organik yang bernilai ekonomis tinggi dan mempunyai nilai tawar yang tinggi pada pemasarannya, paket pupuk organik yang bisa dibuat secara mandiri oleh kelompok mitra untuk mendukung pertumbuhan sayuran organik yang akan dihasilkan.Kata kunci: limbah ikan, pupuk organik cair, sayuran organik, vertikultur
ANALISIS STATUS HARA N, P, K TANAH INCEPTISOL PADA DUA TIPE PENGGUNAAN LAHAN DI DESA NUSA KENYIKAP KABUPATEN MELAWI Maragaraya, Yerikho; Hayati, Rita; Krisnohadi, Ari
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 14, No 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v14i3.91189

Abstract

Inceptisol sebagai tanah yang baru berkembang tersebar luas diberbagai wilayah, namun tingkat kesuburannya rendah, diperlukan pengelolaan yang tepat agar dapat memenuhi kebutuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis unsur hara N, P, K, tanah Inceptisol pada lahan karet dan lahan sawit serta memberikan rekomendasi pemupukan di Desa Nusa Kenyikap, Kabupaten Melawi, penentuan titik pengamatan secara acak berdasarkan penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan Status Kesuburan tanah pada dua penggunaan lahan memiliki kriteria sangat rendah, dengan pH masam yang dipengaruhi oleh pencucian kation basa (Ca, Mg, K, Na) sehingga Al tersedia lebih banyak yang dapat mengikat fosfor, dan kalium dalam tanah. KTK yang rendah dipengaruhi oleh tekstur tanah Lempung Berpasir. Karbon organik yang memiliki kriteria sedang sampai tinggi mempengaruhi total Nitrogen dalam tanah. Rekomendasi pemberian pupuk pada penggunaan lahan sawit yaitu 190 kg/ha pupuk urea, 130 kg/ha pupuk SP-36 dan 175 kg/ha pupuk KCl. Saran pemberian pupuk pada penggunaan lahan karet yaitu 139 kg/ha, 100 kg/ha pupuk SP-36 dan 52 kg/ha pupuk KCl.
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN PADA BEBERAPA ZONA KEBUN RAYA SAMBAS DI KABUPATEN SAMBAS Ananta, Ferdy; Suryadi, Urai Edi; Krisnohadi, Ari
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 14, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v14i4.67021

Abstract

Kebun Raya Sambas memiliki variabilitas lereng yang cukup beragam. Untuk mengetahui potensi dan mengetahui penghambat dalam pemanfaatan lahannya diperlukan klasifikasi kemampuan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik lahan sesuai parameter kemampuan lahan dan sub kelas kemampuan lahan serta memberikan saran penggunaan lahan berdasarkan sub kelas kemampuan lahan beberapa zona Kebun Raya Sambas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey lahan dan matching. Penelitian ini dilaksanakan dengan survey tanah, analisis sampel tanah di laboratorium, dan pencocokan kelas kemampuan lahan. Berdasarkan hasil survey lapangan dan overlay peta terbagi atas delapan satuan lahan yang dibatasi pada lima zona pengelolaan (zona vegetasi eksisting (insitu), tumbuhan liar, camping ground, zona koleksi tumbuhan riparian, dan zona tanaman domestikasi), dari hasil klasifikasi terdapat empat sub kelas kemampuan lahan yaitu sub kelas kemampuan lahan IVes seluas 17,03 Ha (10,18 %) yang terdapat pada satuan lahan 2 (meliputi zona vegetasi eksisting (insitu), tumbuhan liar, camping ground, zona koleksi tumbuhan riparian, dan zona tanaman domestikasi), Vs seluas 61,73 Ha (36,91) yang terdapat pada satuan lahan 1, 4, dan 6 (zona vegetasi eksisting (insitu), tumbuhan liar, camping ground, zona koleksi tumbuhan riparian, dan zona tanaman domestikasi), Vsw seluas 15,64 Ha (9,35 %) yang terdapat pada satuan lahan 5 dan 7 (Zona Riparian), VIIes seluas 72,82 Ha (43,55 %) yang terdapat pada satuan lahan 4 dan 8 (meliputi zona vegetasi eksisting (insitu), tumbuhan liar, camping ground, zona koleksi tumbuhan riparian, dan zona tanaman domestikasi). Hasil klasifikasi dari sub kelas kemampuan lahan tersebut diberikan tindakan pengelolaan lahan untuk meningkatkan fungsi konservasi lahan di Kebun Raya Sambas, pada sub kelas IVes dapat dilakukan pembuatan teras, saluran bervegetasi dan strip penyangga riparian, sub kelas Vs dapat menggunakan mulsa organik, sub kelas Vsw dapat melakukan pembuatan strip penyangga riparian, sub kelas VIIes dapat dilakukan pembuatan rorak, pembuatan strip cropping, saluran bervegetasi, dan strip penyangga riparian.
Status Unsur Hara N, P dan K Tanah Inseptisol pada Tiga Penggunaan Lahan di Desa Semadin Lengkong Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi Dewanti, Aplince Della; Krisnohadi, Ari; Nuriman, Muhammad
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/plt.v14i1.80733

Abstract

This study aims to determine the nutrient status of N, P and K on three land uses and provide fertilization advice on each land use. This research was conducted in Semadin Lengkong Village, Nanga Pinoh sub-district, Melawi Regency. Soil samples for each research location were taken at 5 observation points of each land with a depth of 0-30 cm. The total number of samples on three land uses (oil palm, rubber and field rice) were 3 whole samples and 3 composite samples. Data analysis using descriptive analysis based on the criteria table of the Soil Research Center, 1983. Parameters of soil physical properties include soil color, soil drainage, soil texture, soil structure and soil content weight. The parameters of soil chemical properties include soil pH, soil total nitrogen, soil total phosphorus, soil total potassium, organic carbon as well as Al-dd content and soil Al saturation. The results showed that the soil N-total content in the three land uses entered into moderate criteria, the soil P-total content in the three land uses entered into very low criteria and the soil K-total content in oil palm land entered into very low criteria while in rubber land and paddy fields entered into low criteria. The high and low status of N, P and K nutrients is influenced by pH, organic carbon, and Al saturation. Soil reaction (pH) is included in the acid criteria, Carbon (C-Organic) is moderate, Al-dd content and soil Al saturation fall into high criteria. Furthermore, the recommended dose of fertilization on each land use is as follows, on oil palm land: Urea as much as 2.5kg/tree, SP-36 as much as 2kg/tree and KCL as much as 3.66 kg/tree. Rubber land: Urea as much as 287g/tree, SP-36 as much as 137 g/tree and KCL as much as 1,357g/tree. Paddy field: Urea as much as 223.66kg/ha, SP-36 as much as 55.55kg/ha, and KCL as much as 4,433.48kg/ha.
Aplikasi Smart Sprinkler Untuk Pembibitan Anggrek Kebun Raya Sambas di Kabupaten Sambas krisnohadi, ari; Suryadi, Urai Edy; Chandra, Tino Orciny; Nusantara, Rossie Wiedya
Jurnal Pengabdi Vol 8, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jplp2km.v8i2.90644

Abstract

Sumber air yang digunakan untuk areal screen house berjarak kurang lebih 1.400 meter dengan kemiringan lereng sekitar 78%, sehingga tidak mungkin dilakukan pengangkutan air secara manual. Sistem irigasi di KRS belum digunakan untuk areal screen house tanaman anggrek, sehingga pengembangan koleksi dan bibit anggrek masih terbatas jumlahnya. Penerapan PKM ini bertujuan untuk   untuk untuk meningkatkan pemahaman masyarakat   terhadap sistem irigasi sprinkler pada pembibitan anggrek Kebun Raya Sambas melalui Internet of Thing (IoT). Metode PKM melalui penyuluhan dan pendampingan standar kualitas air bersih, demonstrasi teknologi irigasi otomatis, peningkatan partisipasi pemuda dalam pemenuhan kebutuhan air tanaman anggrek secara spesifik. Kegiatan PKM   ini berlangsung selama 8 bulan dimulai dari kegiatan persiapan, pelatihan, pendampingan dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan PKM pemuda mampu membuat sistem irigasi, meningkatkan kualitas pertumbuhan bibit tanaman anggrek sehingga dapat menambah koleksi di sekitar Kebun Raya Sambas dalam rangka mendukung penyelenggaraan aktivitas pengunjung di Kebun Raya Sambas.
PEMETAAN PENGGUNAAN LAHAN DAN BEBERAPA SIFAT TANAH PADA LAHAN GAMBUT DI DESA KEDAMIN DARAT, KECAMATAN PUTUSSIBAU SELATAN, KABUPATEN KAPUAS HULU Wati, Leni Kusuma; Anshari, Gusti Zakaria; Krisnohadi, Ari
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.3934

Abstract

Peat forests are sub-optimal lands for agricultur, but most of them have been converted to agricultural uses. This study aimed to map changes in peatland use in Kedamin Darat Village, Kapuas Hulu District, West Kalimantan Province, and to examined the properties of peat in different land uses, namely forest, shrubs, and oil palm.. The study was conducted using Landsat 8 imagery from 2013, 2017 and 2021 to map land use changesin this village. Peat properties measured were bulk density, porosity, soil moisture, ash content and total organic carbon. The area of peat forest in 2013 was 2 488 ha, and decreased to 2 271 ha in 2021. The increase in area between 2013 and 2021 was shrubs, settlements and oil palm plantations. Bulk density and porosity in secondary peat  forest did not differ significantly from shrubs but differed significantly from oil palm plantations. Moisture content in oil palm plantations and shrubs was not significantly different from secondary peat forests but moistures in oil palm plantations soils were significantly different from shrubs. C-organic content was very high, and were idifferent in the three land uses. The utilization of peatlands by the community causes a change in the area of each land use from year to year followed by a decrease in peat function. Keywords: peat criteria, land kedamin, mapping, land use, peat soil properties INTISARIHutan gambut termasuk lahan sub-optimal untuk budidaya pertanian, namun sebagian besar telah dialih fungsikan menjadi beberapa penggunaan lain. Tujuan penelitian ini memetakan perubahan penggunaan lahan gambut di Desa Kedamin Darat, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, dan meneliti beberapa sifat gambut pada beberapa penggunaan lahan, yaitu hutan, semak belukar, dan budidaya kelapa sawit. Pementaan dilaksanakan dengan Citra Landsat 8 tahun 2013, 2017 dan 2021. Sifat-sifat gambut yang diukur adalah bobot isi, porositas, kadar air, kadar abu dan kadar total karbon organik. Luas hutan gambut pada tahun 2013 seluas 2 488 Ha, dan berkurang menjadi 2 271 Ha pada tahun 2021. Pertambahan luas antara tahun 2013 dan 2021 adalah semak belukar, pemukiman, dan perkebunan kelapa sawit. Bobot isi dan porositas pada lahan hutan lahan basah sekunder tidak berbeda sangat nyata dengan semak belukar akan tetapi bobot isi dan borositas pada kedua penggunaan lahan tersebut berbeda sangat nyata dengan perkebunan kelapa sawit. Kadar air pada perkebunan kelapa sawit dan semak belukar tidak berbeda nyata dengan hutan lahan basah sekunder akan tetapi perkebunan kelapa sawit berbeda nyata dengan semak belukar. C-organik sangat tinggi dan tidak berbeda nyata pada ketiga penggunaan lahan. Adanya pemanfaatan lahan gambut oleh masyarakat menyebakan perubahan luas setiap penggunaan lahan dari tahun ke tahun diikuti dengan penurunan fungsi gambut. Kata Kunci: Kriteria Gambut, Kedamin Darat, Pemetaan, Penggunaan Lahan, Sifat Tanah  Gambut
EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN DI KELURAHAN MAYA SOPA KOTA SINGKAWANG Martalina, Evi; Hazriani, Rini; Krisnohadi, Ari
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 1 (2024): Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i1.4064

Abstract

Maya Sopa sub-district has quite large land potential, because this land is still not optimally utilized by local residents so it has not been managed optimally. This research aims to determine land characteristics according to land capability parameters and assess land capability sub-classes and provide land use suggestions based on land capability sub-classes in Maya Sopa Village, Singkawang City. The research stages start from research preparation for the initial step of obtaining a land unit map, making a map of observation points, preliminary survey and literature study, then the stage of carrying out research in the field and data analysis to obtain soil sample analysis values, producing a land unit map and a land capability class map. . The research results obtained 2 soil orders, namely Histosols and Entisols. The results of the land capability evaluation are divided into one land capability class and 2 subclasses, namely class III-w, and III-es. Land management efforts can be carried out with several efforts, namely the use of plants (legume cover crops) and/or natural grass strips, improving water management on land and fruit and/or wood plants. making worm channels, ground cover plants (shallow-rooted), and providing ameliorants.Keywords : Land Capability, Sub Class, Land ManagementINTISARIKelurahan Maya Sopa memiliki potensi lahan yang cukup besar, dikarenakan lahan tersebut masih belum maksimal dimanfaatkan penduduk setempat sehingga belum dikelola secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lahan sesuai parameter kemampuan lahan dan menilai sub kelas kemampuan lahan serta memberikan saran penggunaan lahan berdasarkan sub kelas kemampuan lahan di Kelurahan Maya Sopa, Kota Singkawang. Tahapan penelitian dimulai dari persiapan penelitian untuk langkah awal mendapatkan peta satuan lahan, pembuatan peta titik pengamatan, survey pendahuluan dan studi pustaka, kemudian tahap pelaksanaan penelitian di lapangan dan analisis data untuk  mendapatkan nilai analisis sampel tanah, menghasilkan peta satuan lahan serta peta kelas kemampuan lahan. Hasil penelitian diperoleh 2 ordo tanah yaitu Histosols dan Entisols. Hasil evaluasi kemampuan lahan terbagi menjadi satu kelas kemampuan lahan dan 2 sub kelas yaitu kelas III-w, dan III-es. Upaya pengelolaan lahan dapat dilakukan dengan beberapa upaya yaitu penggunaan tanaman (legumenosae cover crop) dan/atau strip rumput alami, perbaikan tata air pada lahan serta tanaman buah-buahan dan/atau kayu-kayuan. pembuatan saluran cacing, tanaman penutup tanah (berakar dangkal), serta pemberian ameliorant.Kata Kunci : Kemampuan Lahan, Sub Kelas, Pengelolaan Lahan