Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

“Self” Profesor Komunikasi di Kumpulan Cerpen Islami Septiawan Santana Kurnia
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 1 (2004): Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i1.1105

Abstract

Judul: Senja di San Fransisco: Parade Cerpen Islami; Pengarang: Deddy Mulyana; Penerbit: PT Rosdakarya, Bandung; Tahun terbit: 2004; Tebal: x + 245 halaman.
Menulis Ilmiah Kualitatif: Sekadar Pengantar Septiawan Santana Kurnia
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 2 (2004): Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap Enteng
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i2.1162

Abstract

Dunia ilmiah, selama ini, banyak dikenali sebagai dunia serius. Dunia objektif. Penalaran. Kaku. Tidak boleh dibuat main-main. Ini dimunculkan, antara lain, dalam penulisan ilmiah, yang bersifat kuantitatif. Semua itu tidaklah salah. Bukan sesuatu yang buruk, sebab sudah memiliki logikanya sendiri. Namun terlepas dari berbagai pandangan orang tentang penulisan ilmiah kuantitatif, banyak orang kemudian merasa enjoy membaca laporan riset kualitatif. Sebuah laporan kualitatif, lazimnya, dipenuhi dengan pelbagai deskripsi, detail penuh warna, dan sifat-sifat yang cenderung tidak formal. Berdasarkan karakteristik itulah, di antaranya, tulisan kualitatif memiliki daya enterprise. Bila dirunut, jejak sejarahnya bertaut dengan kisah sastra (literary) memasuki dunia akademik.
Kemungkinan Bahasa Sastra Diadopsi Jurnalisme Septiawan Santana Kurnia
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 1 (2004): Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i1.1097

Abstract

Upaya penyampaian pesan jurnalistik cetak, yang ber-feed back tidak langsung, diatasi dengan lebih mengaransir aspek “human interest” dalam susunan pelaporan. Efek medium “cetak”, yang tidak audio visual, dieliminir jurnalisme. Tiap peristiwa yang diletakkan tiap ujud fakta, dikemas lagi ke dalam pengisahan teknik “fiksi” sastra untuk menghampiri “bayangan” pembaca akan news value (nilai berita) yang punya daya greget. Pembaca diharapkan akan asyik membayangkan rincian kisah fakta-berita yang tengah aktual terjadi, serta akan diberi ulasan yang lebih mendalam dalam perspektif yang lebih meluas. Kekuatan tulisan sastra, misalnya, menjadi alat menjiplak jurnalis: mengembangkan sebuah pelaporan yang lebih menggigit “dramatisasi”, dan pelebaran isi pesan (pemaknaan) dienkoding masyarakat. Pencairan fakta dan fiksi, misal yang lain, juga membangun kepercayaan bahwa kenyataan “semiotis” pun memiliki daya guna bagi pelaporan fakta-berita. Kenyataan sosial dan realitas empirik ternyata bisa didekati dengan sebuah upaya membangun penyampaian pesan lewat semiotika pencitraan.
How the Print Media Industry Survived in the Digital Era Firmansyah Firmansyah; Sophia Novita; Atie Rachmiatie; Septiawan Santana K.; Alex Sobur; Dian Widya Putri
Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24329/aspikom.v7i1.1013

Abstract

In the era of information technology, print media is on the verge of extinction. The Pikiran Rakyat Newspaper, one of the largest local newspapers in West Java, still survives. This study illustrates how print media can survive in the era of digital society. This research uses a sequential explanatory design method by combining quantitative and qualitative data. Quantitative data was collected using a survey to a sample of readers totaling 1540 respondents. The sample was determined using purposive sampling with unique qualifications for potential readers in West Java. Qualitative data using observation, interviews, and FGD. The quantitative results showed that respondents admitted they were still interested in consuming newspapers. Newspapers have advantages over online media; clickbait does not exist. The qualitative results indicate that print media can still survive, not as a source of income but as an icon of the company.
Komodifikasi Kritik Sosial dalam Film Sexy Killers Helsa Dhyanti Mustika; Septiawan Santana Kurnia
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 1, No. 1, Juli 2021 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.277 KB) | DOI: 10.29313/jrjmd.v1i1.47

Abstract

Abstract. The mass media is one source of information that is currently used easily by the public. With the development of communication technology today, people can easily access all information. Researchers used qualitative research methods. This research uses Theo Van Leeuwen's Critical Discourse Analysis. The results of the study carried out by these shows that the marginalization in the Sexy Killers movie dialogue text indicated that the marginalized groups in this study were farmers and surrounding communities living in areas near coal excavations and the construction of a power plant. The discourse of exclusion which includes passivation, nomination and substitution of clauses is contained in the text of the dialogue. While the discourse of exclusion with 7 categories also exists in this study except assimilation-individualization. While the discourse of social criticism in this study arises because of the dialogue from the surrounding community deliberately raised by researchers. The results of this study that the discourse of exclusion and inclusion as well as the discourse of social criticism in the film Sexy Killers successfully raised by the filmmaker. The result is readers and the audience who watch the film know how the actual conditions occur, as well as the impact on the surrounding community. Abstrak. Media massa merupakan salah satu sumber informasi yang saat ini digunakan secara mudah oleh masyarakat. Dengan berkembangnya teknologi komunikasi saat ini, masyarakat dapat dengan mudah mengakses segala informasi. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatis. Penelitian ini menggunakan Analisis wacana Kritis milik Theo Van Leeuwen. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tersebut menunjukan bahwa pemarjinalan dalam teks dialog film Sexy Killers tersebut tertera kelompok yang termarjinalkan dalam penelitian ini adalah para petani dan masyarakat sekitar yang tinggal di daerah dekat penggalian batu bara dan pembangunan PLTU. Wacana eksklusi yang meliputi pasivasi, nominalisasi, dan penggantian anak kalimat terdapat dalam teks dialog tersebut. Sementara wacana eksklusi dengan 7 kategori terdapat pula dalam penelitian ini kecuali asimilasi-individualisasi. Sementara wacana kritik social dalam penelitian ini muncul karena adanya dialog dari masyarakat sekitar yang sengaja dimunculkan oleh peneliti. Hasil dari penelitian ini bahwa wacana eksklusi dan inklusi juga wacana kritik social dalam film Sexy Killers berhasil dimunculkan oleh pembuat film tersebut. Hasilnya pembaca dan khalayak yang menonton film tersebut mengetahui bagaimana kondisi yang sebenarnya terjadi, juga dampak bagi masyarakat sekitarnya.
Pola Pencarian Data Investigasi di Media Online Tika Rizkina Azizah; Septiawan Santana; Firmansyah
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.415 KB) | DOI: 10.29313/bcsj.v1i1.26

Abstract

Abstract. In investigative journalism work, there are three general forms of investigative methods, namely, related to the work of investigating documents, as well as investigations of individual subjects related to the problem. This general form of investigative reportage is termed a paper trail, people trail, and money trail. Tempo Magazine is a media that is considered to have competence and credibility for investigative coverage. Tempo magazine is a pioneer of investigative journalism in the period after 1990. In addition, the internet media has opened up information expansion based on a multidimensional "network". A number of platforms on the internet have emerged that can attract people's attention. Like it or not, the print media must also adapt their work to the needs of the public. In the end, the print media also experienced convergence. In the world of journalism, online journalism was born. This study aims to determine why and how investigative data search patterns in online media. This study uses a qualitative method with a case study approach. In this case the researcher tried to find out the pattern of investigative data collection in the online media through investigative news entitled "Pesta Terakhir Aktivis Ambon" conducted by Tempo.co and investigative news entitled "Emas Hitam Mahakam dalam Bidikan KPK" conducted by Katadata.co.id . The result of this research is that investigative journalism work in online media is basically the same as investigative journalism work in print media. The only difference is that there are more readers in online media. Especially in reporting done on online media, the writer can add digital content that can help explain this information. Abstrak. Dalam kerja jurnalisme investigasi, terdapat tiga bentuk umum metode investigasi yaitu, terkait dengan pekerjaan menginvestigasi dokumen-dokumen, serta penyelidikan terhadap subjek-subjek individu yang terkait dengan permasalahan. Bentuk bidang umum reportase investigasi ini diistilahkan dengan paper trail, people trail, dan money trail. Majalah Tempo menjadi media yang dinilai memiliki kompetensi dan kredibilitas untuk peliputan investigatif. Majalah Tempo merupakan pelopor jurnalisme investigatif di masa setelah 1990. Disamping itu media internet membuka perluasan informasi berdasarkan “jaringan” yang multidimensi. Sejumlah platform di internet muncul yang dapat menarik perhatian masyarakat. Mau tidak mau media cetak juga harus menyesuaikan pengerjaannya dengan kebutuhan publik. Pada akhirnya media cetak pun mengalami konvergensi. Dalam dunia jurnalistik maka lahirlah Jurnalisme Online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa dan bagaimana pola pencarian data investigasi di Media Online. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam hal ini peneliti berusaha mencari tahu pola pengumpulan data investigasi di media online melalui berita investigatif berjudul “Pesta Terakhir Aktivis Ambon” yang dilakukan oleh Tempo.co dan berita investigatif berjudul “Emas Hitam Mahakam Dalam Bidikan KPK” yang dilakukan oleh Katadata.co.id. Hasil dari penelitian ini adalah kerja jurnalisme investigasi di media online pada dasarnya sama dengan kerja jurnalisme investigasi di media cetak. Yang membedakan hanya pada pasar pembaca di media online lebih banyak. Terlebih dalam pelaporan yang dilakukan pada media online penulis dapat menambahkan konten digital yang dapat membantu menjelaskan informasi tersebut.
Representatif Jurnalisme Investigasi dalam Buku Bandung Pop Darlings Bikry Praditya Nur Alam; Septiawan Santana Kurnia
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.025 KB) | DOI: 10.29313/bcsj.v2i2.4148

Abstract

Abstract. Almost three decades have passed after indies became an anomaly in Bandung underground music scene, their growth and development slowly but surely; never really famous, but never really die. In 2019, the book Bandung Pop Darlings appeared, which slickly reviews the history of the growth and development of the indiepop scene in Bandung from 1995 to 2015. Of course, long research and investigation was required in its production, given the lack of music archiving in Indonesia, especially regarding indiepop.Departing from these concerns, this study intends to review how the representation of investigative journalism in the book Bandung Pop Darlings? This study uses a qualitative method with an explanatory case study approach as described by Robert K. Yin. Researchers also matched Paul Williams eleven investigative reporting steps.The results of this study found that in its production, the Bandung Pop Darlings book uses the workings of journalism, especially investigative journalism which is indicated by people trails and paper trails activities, in addition to its reporting techniques it also contains eleven steps of reporting on Paul Williams investigative journalism, so that this book in addition to representing journalism investigative journalism but also as a product of investigative journalism itself. Due to the minimal historical record of the indiepop scene in Bandung, this book is one of the first and main historical sources of the Bandung indiepop scene.Abstrak. Hampir tiga dekade berlalu setelah indies menjadi anomali di skena musik bawah tanah Bandung, tumbuh kembangnya perlahan namun pasti; tidak pernah benar-benar tenar, namun tidak pernah pula benar-benar mati. Di tahun 2019, muncul buku Bandung Pop Darlings yang secara apik mengulas kembali tentang sejarah tumbuh kembang skena indiepop di Bandung mulai dari tahun 1995 hingga 2015. Tentu dalam pembuatannya dibutuhkan riset dan investigasi panjang mengingat minimnya pengarsipan musik di Indonesia terkhusus tentang indiepop. Berangkat dari keresahan-keresahan tersebut, penelitian ini bermaksud untuk mengulas bagaimana representasi jurnalisme investigasi dalam buku Bandung Pop Darlings? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksplanatoris seperti yang dijelaskan oleh Robert K. Yin. Peneliti juga mencocokan dengan sebelas langkah pelaporan investigasi milik Paul Williams. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwasanya dalam pembuatannya, buku Bandung Pop Darlings menggunakan cara kerja jurnalistik khususnya jurnalisme investigasi yang ditunjukkan dengan kegiatan people trails dan paper trails, selain itu teknik peliputannya pun mengandung kesebelas langkah pelaporan jurnalisme investigasi Paul Williams, sehingga buku ini selain merepresentasikan jurnalisme investigasi tapi juga merupakan sebagai produk dari jurnalisme investigasi itu sendiri. Dikarenakan catatan sejarah skena indiepop di Bandung yang begitu minim, buku ini menjadi salah satu sumber sejarah yang pertama dan utama dari skena indiepop Kota Bandung.
Gaya Penulisan Media Musik: Arie Afrizal; Septiawan Santana Kurnia
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i1.6626

Abstract

Abstrack. The path of development of music journalism is increasingly varied, with some mainstream media still promoting market music and some alternative media still consistently presenting music outside the industrial market. In a music media there are a lot of writings in it, such as news articles, articles, features and reviews. Several review writings began to mushroom in various music media, whether it's a review of a band, single or album. Therefore, music media journalists need an in-depth understanding and observation of the review articles they will write. As in its definition, music journalism is the activity of criticizing and reporting media on music topics. In music writing, of course, it is closely related to criticism, the criticism needed in music writing is sharp and intelligent criticism of a work. The purpose of music criticism is the consideration of good and bad about the ability of a person or group to produce music or musical works in musical performances. Music journalism is clearly writing about music, but the two main types of writing styles that tend to be published are interviews that gravitate towards feature writings from bands, individuals or people connected with music or reviews of major events, such as gigs, physical releases, books, and broadcast online (Mark Leverton: 2010). Music journalism also has a fairly narrow meaning, namely reporting or reporting within the scope of music but still relying on the principles of journalism itself, namely based on facts, or events that occur objectively, not fiction. One of the products of a music journalism product is review writing. Review writing itself is a concluding article, a review of several observed objects, such as writings, books, journals, gadgets, applications, food, electronics, films, music and others. With a review article, the reader will know the advantages, disadvantages and quality of a work or product. Review writing has the main purpose of providing information to the reader in order to know a summary of an object. A review also has a general structure that begins with an introduction and ends with an evaluation. This research focuses on the application of journalistic rules in review writing in the music media Rich Music Online. This study uses a qualitative method with a case study approach. In this case, the researcher is trying to find out the application of journalistic rules to review writing in the music media Rich Music Online. Abstrak. Alur perkembangan jurnalisme musik makin sini makin bervariasi, dengan beberapa media mainstream masih mengedepankan musik-musik pasar dan ada pula beberapa media alternatif yang masih konsisten menyuguhkan musik-musik di luar pasar industri. Dalam sebuah media musik banyak sekali tulisan-tulisan yang ada di dalamnya, seperti tulisan berita, artikel, feature dan review. Beberapa tulisan review pun mulai menjamur di berbagai media musik, mau itu review band, single ataupun album. Oleh karena itulah para jurnalis media musik membutuhkan pemahaman dan observasi mendalam mengenai tulisan review yang akan ditulisnya. Seperti pada pengertiannya jurnalisme musik merupakan kegiatan mengkritik dan pelaporan media mengenai topik musik. Dalam penulisan musik tentunya lekat dengan kritik, kritik yang dibutuhkan dalam penulisan musik yaitu kritik tajam dan cerdas terhadap suatu hasil karya. Maksud dari kritik musik adalah pertimbangan baik dan buruk terhadap kemampuan seseorang atau kelompok dalam memproduksi musik atau karya musik dalam pertunjukan musik. Jurnalisme musik jelas menulis tentang musik, tetapi dua jenis gaya penulisan utama yang cenderung dipublikasikan adalah wawancara yang condong ke tulisan feature dari band, individu atau orang yang terhubung dengan urusan musik atau ulasan dari peristiwa-peristiwa besar, seperti gigs, rilisan fisik, buku, dan siarain online (Mark leverton: 2010). Jurnalisme musik juga memiliki artian yang cukup mengkerucut, yaitu pelaporan atau reportase dalam lingkup musik namun tetap bersandar pada kaidah jurnalisme itu sendiri, yaitu berdasarkan fakta, atau peristiwa yang terjadi secara objektif, bukan fiksi. Salah satu produk dari sebuah produk jurnalisme musik adalah tulisan review. Tulisan review sendiri merupakan sebuah tulisan simpulan, tinjauan dari beberapa objek yang diamati, seperti tulisan, buku, jurnal, gadget, aplikasi, makanan, elektronik, film, musik dan lainnya. Dengan adanya sebuah tulisan review pembaca akan mengetahui kelebihan, kekurangan dan kualitas dari suatu karya atau produk. Tulisan review mempunyai tujuan utama yaitu untuk memberikan informasi kepada pembaca agar mengetahui ringkasan dari sebuah objek. Sebuah review pun memiliki sebuah struktur yang umum yaitu diawali dengan pengenalan dan diakhiri dengan sebuah evaluasi. Penelitian ini berfokus pada penerapan kaidah-kaidah jurnalistik pada tulisan review dalam media musik Rich Music Online. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam hal ini peneliti berusaha mencari tahu penerapan kaidah-kaidah jurnalistik pada tulisan review dalam media musik Rich Music Online.
Strategi Peliputan Jurnalis tempo.co dalam Mencari Berita di Lapangan Mahesa Alghifari; Septiawan Santana Kurnia
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i1.6895

Abstract

Abstract. Tempo is a mass media that covers news in depth, one of which is the news about Kayan's Flowing to Jakarta. This study aims to find out the coverage strategy of Tempo.co journalists in the field in finding news about Kayan Menyair Sampai Jakarta, namely by understanding the stages, strategies, and evaluations carried out by Tempo journalists for reporting on the news Kayan Menyair Sampai Jakarta. This qualitative research uses a case study approach. Research data obtained through interviews, observation, and literature study. Interviews were conducted with the research subject, namely the writer and editor of Tempo.co who was tasked with covering the news Kayan Flows to Jakarta. The results obtained from this research are the news coverage strategy carried out by the Tempo editorial team, including through: (1) Meeting the parties involved in the problem; (2) Checking the documents related to the case being investigated; (3) Meet the person in ring-2 or the closest person from the parties involved. When reporting on the ground, journalists from Tempo.co use immersion and observation techniques. Abstrak. Tempo merupakan media massa yang meliput berita secara mendalam, salah satunya berita mengenai Kayan Mengalir Sampai Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi peliputan jurnalis Tempo.co di lapangan dalam mencari berita Kayan Mengalir Sampai Jakarta, yaitu dengan memahami mengenai tahapan, strategi, serta pengevaluasian yang dilakukan oleh jurnalis Tempo terhadap peliputan berita Kayan Mengalir Sampai Jakarta. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode pendekatan studi kasus. Data penelitian diperoleh dengan melalui wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan subjek penelitian, yaitu penulis dan editor Tempo.co yang bertugas untuk melakukan peliputan berita Kayan Mengalir Sampai Jakarta. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah strategi peliputan berita yang dilakukan oleh tim redaksi Tempo, diantaranya yaitu dengan melalui: (1) Menemui pihak-pihak yang berada dalam permasalahan tersebut; (2) Dilakukan pengecekan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kasus yang ditelusuri; (3) Menemui orang yang berada di ring-2 atau orang terdekat dari pihak yang terlibat. Saat melakukan peliputan di lapangan, wartawan Tempo.co menggunakan teknik penyamaran melebur (immerse) serta observasi.
The Meaning of Tempo Magazine Cover in Semiotics by Charles Sanders Peirce Venny Sevtiany; Septiawan Santana Kurnia; Rita Gani
Mediator: Jurnal Komunikasi Vol. 16 No. 1 (2023): Mediator: Jurnal Komunikasi
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v16i1.2311

Abstract

In the September 16-22, 2019, edition of Tempo, the magazine cover was shown painting a picture of President Joko Widodo’s face with his long nose like a Pinocchio wooden doll. One year later, Tempo republished the magazine cover by displaying a picture of the same figure, namely Pinocchio. But this time in the background of the DPR plenary session on the 11-25 October 2020 edition. This study examines the sign's meaning, the repetition factor in the sign, and the attractiveness of the Tempo magazine cover. The qualitative research method used in this research is the semiotic approach of Charles Sanders Peirce. This research produces a representation of meaning on the two covers, a form of people’s disappointment in public officials for the discrepancy between their words and actions. The factor of repetition of the “Pinocchio” sign that occurs on both covers based on data and facts is found repeatedly. The attractiveness of the Tempo magazine cover includes characteristics, point of view, and target audience, and this attraction results in a business strategy for Tempo magazine.