Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

The Ductch Colonial Policies on Religion and Education in the Dutch Indies (1889-1942) Ading Kusdiana
Khazanah Sosial Vol. 5 No. 3 (2023): Khazanah Sosial
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ks.v5i3.24736

Abstract

This study aims to examine the inlandsch polietiek (indigenous politics) implemented by the Dutch Colonial Government during the colonial period in the Dutch East Indies in the 19th century. This study focuses on analyzing the religious and educational practices conducted by the Dutch Colonial Government throughout its rule. Utilizing historical research methods, this study found that the Colonial-Dutch Government adopted a fluctuating political strategy between neutrality and security to maintain its power. In the religious context, the Colonial Government tended to support Islam in its pure religious aspect, yet strived to prevent Islamic intervention in state administration affairs. Islamic education was compelled to follow an independent path, free from political influences. This conclusion is supported by the Besluit dated March 5, 1860, No. 10 f issued by the Dutch Colonial Government, and an analysis of Aqib Suminto's book, "Islamic Politics in the Dutch East Indies," which illustrates efforts to diminish the influence of Islam. Consequently, Islamic education received less attention and was forced to conform to the educational framework established by the Colonial Government.
Akulturasi Klenteng Berkubah di Kota Bandung Tahun 2020 Marshanda Suci Meisya; Ading Kusdiana
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 1 No. 1 (2022): Priangan Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acculturation in places of worship in Bandung is a very rare thing. Culture is a symbolic tool for controlling attitudes so that cultural processes must be understood, translated and interpreted. Bandung is one of the cities that has cultural acculturation with Chinese ethnicity.The existen ce of Chinese ethnicity in the city of Bandung began to be seen when the construction of mosques in Chinese style by adding very close Chinese elements, namely the Al-Imtizaj Mosque and Lautze 2 Mosque in Bandung City.
Pesantren Al-Falah Biru Pada Masa Kepemimpinan Syekh Badruzzaman (1900-1973) Hamzah Jali; Ading Kusdiana
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 3 No. 2 (2024): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v3i2.22064

Abstract

Sebagaimana yang penulis ketahui bahwa Pondok Pesantren Al-Falah Biru merupakan salah satu pondok pesantren tertua yang berada di Jawa Barat, khususnya di wilayah Kabupaten Garut. Tulisan ini bertujuan untuk dapat menguraikan bagaimana saja proses berdirinya Pondok Pesantren Al-Falah Biru dan Kondisi Pondok Pesantren Al-Falah Biru pada masa kepemimpinan Syekh Badruzzaman. Pada penulisan ini, saya menggunakan metode penelitian sejarah yang mana terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa Pondok Pesantren Al-Falah Biru ini termasuk kepada lembaga pondok pesantren yang memiliki umur tertua di wilayah Garut. Pada umumnya, pondok pesantren memang menghasilkan atau mencetak santri yang unggul dalam ilmu agamanya dan memiliki budi pekerti yang baik. Tapi selain itu, para santri yang mondok di Al-Falah Biru ini dilatih juga untuk melawan para penjajah. Jadi eksistensi Pondok Pesantren ini tidak hanya menghasilkan santri yang berilmu dan berakhlakul karimah, tetapi juga menghasilkan santri yang lincah dalam berperang/melawan para penjajah pada saat itu.
Stasiun Kereta Api Tempo Dulu: Perkembangan Stasiun Cimahi Masa Kolonial Belanda 1884-1942 Dellia Gustiani; Ading Kusdiana; Agung Purnama
Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture Vol. 4 No. 1 (2025): Priangan: Journal of Islamic Sundanese Culture
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/priangan.v4i1.41120

Abstract

The purpose of this article is to conduct research related to the development of Cimahi station during the Nederlandcolonial period in the NederlandIndies. At that time, train transportation itself was one of the main transportations that was widely used for various forms of activities. The method used in this study is the historical research method which has four stages, namely heuristics, source criticism, interpretation and historiography. At the beginning of its development, Cimahi itself was planned to be an area with a train stop as a means of transportation, but over time the Nederland Colonial needed a larger means of transportation, therefore the Cimahi stop experienced an upgrade to a third-class station. After this upgrade, in addition to being a means of passenger transportation, Cimahi station was used as a supporting facility for the Military Garrison and the delivery of garden produce.
Pesta Demokrasi di Kota Benteng: Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Kota Tangerang Tahun 2024 Muhammad Raihan Averoes; Ading Kusdiana; Mardani
MOZAIK Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024 menjadi momentum penting bagi Kota Tangerang. Karena merupakan pelaksanaan Pilkada serentak yang kedua bagi Kota Tangerang sejak kebijakan pemilihan serentak diberlakukan. Hal tersebut tidak dapat dimungkiri, sebab pada tahun 2024 Kota Tangerang telah menyelenggarakan agenda politik lokal yang dilaksanakan secara serentak. Sebelumnya Kota Tangerang telah menyelenggarakan Pilkada serentak yang pertama di tahun 2018. Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya fase baru dalam penyelenggaraan demokrasi di tingkat lokal, yang berlangsung seiring dengan diberlakukannya kebijakan nasional mengenai pelaksanaan pemilihan kepala daerah secara serentak di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejarah Kota Tangerang dari era kolonial hingga berstatus kota, dinamika pelaksanaan Pilkada Kota Tangerang tahun 2018, serta menjelaskan dinamika pelaksanaan Pilkada Kota Tangerang tahun 2024. Penelitian ini menerapkan metode penelitian sejarah sebagai pendekatan utama. Metode tersebut mencakup empat tahap, yakni heuristik sebagai tahap pengumpulan sumber, kritik untuk menilai keaslian dan keabsahan data, interpretasi sebagai proses penafsiran, serta historiografi yang berfokus pada penyusunan dan penulisan hasil kajian. Kata kunci: Pilkada, Demokrasi, Kota Tangerang
The Relationship between Ulama and the State in the Political Thought of KH. Moenawar Chalil (1952-1961) Rizki Mulyana; Ading Kusdiana; muhammad riza
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan Vol. 13, No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v13i2.86688

Abstract

 This article analyzes the relationship between ulama and the state in the political thought of K.H. Moenawar Chalil (1908–1961), an Indonesian Muslim scholar and intellectual who was active during the Liberal Democracy period of the 1950s. Using the historical research method and Abul A'la Al-Maududi's concept of theo-democracy as an analytical framework, this study reconstructs Moenawar Chalil's thought based on primary sources comprising his writings in various Islamic periodicals and two major books. The findings reveal three key points. First, Moenawar Chalil positioned ulama as an independent moral authority responsible for overseeing state power, not as part of the governmental apparatus. Second, in his view, obedience to rulers is conditional, applying only when leaders govern in accordance with Islamic law. Third, the principle of shura is an inseparable element of the ideal Islamic government he envisioned. This research contributes to filling a historiographical gap by offering a more comprehensive reconstruction of Moenawar Chalil's political thought, grounded in a thorough engagement with primary sources. Keywords : Moenawar Chalil, Ulama, State, Imamah, Theo-democracy, Indonesian political Islam