Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Revitalization and the Meaning of Space in Surabaya’s Old Town: The Rajawali – Kembang Jepun Corridor Witjaksono, Ninditarari Salsabila; Parlindungan, Johannes; Surjono, Surjono
Civil and Environmental Science Journal (CIVENSE) Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.civense.2026.009.01.6

Abstract

Urban revitalization in historical cities usually focuses on physical upgrades and encouraging tourism, but there has not been much exploration of how these changes affect the meaning of space. This study examines how the revitalization of the Jalan Rajawali to Kembang Jepun corridor in Surabaya’s Old Town changes the feel of a place and how space is being used in that area. A qualitative descriptive approach was employed using field observation, stakeholder interviews, and spatial documentation. This research combines three analyses: typo-morphology, semiotic interpretation, and the production of a space framework to explore how physical structures, visual elements, and social practices interact after one year of revitalization. The result shows that 65% of the 136 buildings along the 1.13 km corridor experienced intervention of revitalization, affecting both heritage and nonheritage structures. Approximately 6,252 m² of land shifted from circulation and trade functions to adaptation, becoming a tourism and social public space. Although the basic morphological structure remains unchanged, facade handling, symbolic characteristics, pedestrian pathway improvements, and increased tourism activities have redefined the corridor as heritage tourism and a public space. This research shows that on Rajawali Street, it strengthens a monumental colonial identity, while on Kembang Jepun Street, it expresses a vibrant Chinatown character, creating a merging yet integrated spatial narrative. This research reveals that revitalization has a function as a process of spatial meaning production, in which physical interventions engage with collective memory and user perception. This approach combines typo-morphological and semiotic analysis to explain that heritage revitalization does not change the physical appearance of a place; it also shapes how people understand, experience, and give meaning to the space.
PENATAAN KAMPUNG PADAT DI BAWAH TEKANAN PUSAT KOMERSIL MELALUI PENDEKATAN PUBLIC REALM: STUDI PENGABDIAN DI KAMPUNG MALEER KOTA BANDUNG Chairul Maulidi; M. Rafly Rasya; Sharfina I. Kurniawati; Ellyna Nurdiana; Soraya Siti Isfihana; Dehaziza Verda Athifa; Mario Putra Pratama Munthe; Azriel R. Hashfi; I Nyoman Suluh Wijaya; Abdul Wahid Hasyim; Wulan Dwi Purnamasari; Surjono Surjono
Civil Engineering for Community Development (CECD) Vol 5, No 1 (2026): Edisi April 2026
Publisher : Department of Civil Engineering Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/cecd.v5i1.41430

Abstract

Kampung perkotaan di Indonesia menghadapi tantangan dalam pengelolaan public realm, terutama pada kawasan padat yang tertekan oleh komersialisasi skala besar. Kampung Maleer di Kota Bandung menunjukkan konflik antara pedestrian, parkir, dan perdagangan informal yang menurunkan kualitas lingkungan. Pengabdian ini bertujuan mengidentifikasi masalah public realm secara partisipatif, merumuskan konsep penataan, dan menyusun masterplan sebagai instrumen awal penataan kampung. Metode meliputi survei lapangan, kuesioner, wawancara, workshop desain selama tiga bulan, serta sosialisasi dengan pemangku kepentingan. Hasil berupa konsep penataan mencakup manajemen curbside, penataan PKL, aktivasi fasad, dan integrasi green-blue infrastructure yang diformalkan dalam dokumen masterplan. Dokumen ini berfungsi sebagai acuan dan instrumen untuk meningkatkan kesiapan kampung dalam mengakses program hibah penataan kampung. Kegiatan ini menunjukkan bahwa desain dapat menjadi intervensi pengabdian tahap awal yang efektif dalam memperkuat kapasitas perencanaan dan daya saing kampung.
Evaluasi Tingkat Keberlanjutan Fisik Kampung Kota Kecamatan Klojen, Kota Malang dengan Pendekatan Fuzzy Logic Ridhoni, Miftahul; Surjono, Surjono; Wijaya, I Nyoman Suluh
Indonesian Green Technology Journal Vol. 6 No. 1 (2017)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang dan kehidupan perkotaan saat ini menampung dan menyatukan semua aspek yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan. Proses penilaian viralslot keberlanjutan selama ini tidak menjawab mengapa nilai keberlanjutan antar kampung sangat beragam, hal ini terutama disebabkan karena hubungan antar teori dan praktek penilaian keberlanjutan kampung belum terbentuk secara utuh. Penelitian berfokus pada identifikasi faktor-faktor keberlanjutan fisik pada kampung Arab, Kampung Pecinan, dan Kampung Kebalen di Kecamatan Klojen, Kota Malang. Kemudian, dilakukan evaluasi menggunakan metode Fuzzy Logic untuk mengetahui tingkat keberlanjutan kampung-kampung kota tersebut. Wilayah studi secara umum memiliki ciri-ciri bukan merupakan wilayah kumuh, bukan merupakan permukiman formal, memiliki fasilitas pendukung minimal, dan memiliki nilai-nilai kelokalan. Nilai faktor-faktor keberlanjutan fisik Kampung Arab yaitu: compactness: 0,73 (Baik); connectivity: 0,63 (Sedang); density: 0,63 (Sedang); mix land use: 0,76 (Baik). Nilai faktor-faktor keberlanjutan fisik Kampung Pecinan yaitu: compactness: 0,63; connectivity: 0,34 (Sedang); density: 0,58 (Sedang); mix land use: 0,17 (Buruk). Nilai faktor-faktor keberlanjutan Kampung Kebalen yaitu: compactness: 0,58; connectivity: 0,36 (Sedang); density: 0,1 (Buruk); mix land use: 0,26 (Buruk). Tingkat keberlanjutan Kampung Arab (Medium-High) lebih tinggi daripada tingkat keberlanjutan Kampung Pecinan (Medium) dan Kampung Kebalen (Medium-Low). Kata kunci: kampung, faktor keberlanjutan, tingkat keberlanjutan, fuzzy logic
Ethnomodelling pada Konstruksi Atag di Desa Ajung Kabupaten Jember Yusfan Adeputera Yusran; Sri Utami; Surjono; Atsar Yaisy Muhammad
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 6 No 1 (2021): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2021 ~ April 2021
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v6i1.644

Abstract

Atag functions as a place for the air curing process to dry tobacco leaves. This building, which is made of bamboo, has existed in Indonesia since 1850 and used to produce authentic quality cigars. Initially, this building was only utilized for local materials, however, based on the shape, dimensions, and construction, there is a tendency for atag to be established by considering several technical aspects. Therefore, this study aims to examine the technical ideas, such as calculations, practices, and procedures for making Atag using the ethnomodelling strategy. The results showed that the community's practices and calculations in building atag were a logical response in adapting to natural conditions such as climate, wind, and humidity. It also provided intelligence in utilizing the potential of local materials such as bamboo and sugarcane leaves