Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Love Language dalam Komunikasi Keluarga Generasi Z untuk Membangun Self-Disclosure Alannys Zefanya Kambey; Riris Loisa
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33277

Abstract

This study aims to analyze the role of love language in communication between parents and children of generation Z for self-disclosure. The love language proposed by Chapman (2014) includes five main forms: words of affirmation, acts of service, receiving gifts, quality time, and physical touch. The study used a qualitative approach with a phenomenological method. Data collection was carried out through in-depth interviews with six informants consisting of parents and children of generation Z. The results of the study showed that love language plays an important role in creating comfort, trust, and openness between parents and children. Self-disclosure occurs because of the comfort and trust that arise from smooth communication through love language. However, differences in understanding between parents and children can hinder the process of self-disclosure. This study recommends the importance of parents' understanding of their children's love language in order to strengthen family relationships. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran Love Language dalam komunikasi antara orang tua dan anak generasi Z untuk penyingkapan diri (self-disclosure). Love Langeage yang dikemukakan oleh Chapman (2014) mencakup lima bentuk utama: words of affirmation, act of service, receiving gift, quality time, dan physical touch. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari orang tua dan anak generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa cinta berperan penting dalam menciptakan kenyamanan, kepercayaan, dan keterbukaan antara orang tua dan anak. Penyingkapan diri terjadi karena rasa nyaman dan kepercayaan yang muncul dari komunikasi yang berjalan lancar melalui bahasa cinta. Namun, perbedaan pemahaman antara orang tua dan anak dapat menghambat proses Self- Disclosure anak. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemahaman orang tua terhadap bahasa cinta anak guna mempererat hubungan keluarga.
Pola Komunikasi Pengguna Media Sosial dalam Perilaku People Pleasing terhadap Ekspektasi Sosial Apriyani Anggraeni; Riris Loisa; Lydia Irena
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36378

Abstract

The development of technology and social media encourages users to adjust their communication patterns to gain social acceptance, which in turn gives rise to the phenomenon of people pleasing in the digital space. This study examines the communication patterns of Instagram users in meeting social expectations, particularly through the phenomenon of people-pleasing, from the perspective of Erving Goffman's dramaturgy. Social media, especially Instagram, is used by users to project a more perfect self-image as part of impression management, while their true identities are more often displayed in private spaces. This study uses a qualitative approach with a phenomenological method through in-depth interviews, observation of informants' Instagram accounts, and documentation. The results show that pressure from the social environment influences how a person communicates, selects content, edits posts, and chooses language to gain recognition from others. The phenomenon of people-pleasing emerges as a way to maintain a positive image and elicit responses from the audience through various channels such as stories, comments, and direct messages. The research findings also indicate that users utilize the DM feature as a place for more authentic interactions, while public posts become a "front stage" for presenting an ideal version of themselves. This research helps understand how social expectations shape communication in the digital world and emphasizes the importance of honest and balanced interactions. Perkembangan teknologi dan media sosial mendorong pengguna untuk menyesuaikan pola komunikasinya demi memperoleh penerimaan sosial, yang kemudian memunculkan fenomena people pleasing di ruang digital. Penelitian ini membahas pola komunikasi pengguna Instagram dalam berkomunikasi untuk memenuhi harapan sosial, khususnya melalui fenomena people pleasing, dilihat dari sudut pandang dramaturgi Erving Goffman. Media sosial, terutama Instagram, digunakan oleh pengguna untuk menunjukkan gambaran diri yang lebih sempurna sebagai bagian dari pengelolaan kesan, sementara identitas sebenarnya lebih sering ditampilkan di area pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi melalui wawancara mendalam, pengamatan akun Instagram informan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan dari lingkungan sosial memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, memilih konten, mengedit unggahan, serta memilih bahasa untuk memperoleh pengakuan dari orang lain. Fenomena people pleasing muncul sebagai cara untuk mempertahankan citra positif dan memancing respons dari audiens melalui berbagai saluran seperti story, komentar, dan pesan langsung. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pengguna memanfaatkan fitur DM sebagai tempat interaksi yang lebih autentik, sementara unggahan publik menjadi tempat "panggung depan" untuk menampilkan versi diri yang ideal. Penelitian ini membantu memahami bagaimana harapan sosial membentuk komunikasi di dunia digital dan menekankan pentingnya interaksi yang jujur serta seimbang.
Paparan Drama Tiongkok terhadap Pandangan Realitas Budaya Tiongkok pada Penonton di Indonesia Jennifer Grace; Riris Loisa
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36464

Abstract

 This study is motivated by the growing penetration of Chinese dramas in Indonesia, which are increasingly competing with the dominance of Korean dramas, particularly among viewers aged 18–35 who are active consumers of digital media. This phenomenon indicates that foreign entertainment plays a role in shaping cross-cultural perceptions and has become part of the dynamics of cultural globalization. The study aims to measure the influence of exposure to foreign entertainment products on viewers’ perceptions of the reality of the producing culture, using Cultivation Theory as the main framework to explain how intensive and repetitive exposure can affect audiences’ understanding, attitudes, and behavioral tendencies. Variables such as frequency, duration, attention, and viewer involvement are derived from the concepts of media exposure and foreign entertainment, while the process of cultural perception formation is explained through the concept of stereotypes within the warmth–competence framework. This research employs a quantitative approach through an online survey of 100 respondents who meet the criteria of Chinese drama viewers. The findings affirm that foreign entertainment media plays a significant role as an agent of cultural transmission and contributes to shaping how audiences interpret cultural realities within the context of contemporary globalization.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penetrasi drama Tiongkok di Indonesia yang kini bersaing dengan dominasi drama Korea, terutama pada kelompok penonton berusia 18–35 tahun yang menjadi konsumen aktif media digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa hiburan asing berperan dalam membentuk persepsi budaya lintas negara dan menjadi bagian dari dinamika globalisasi budaya. Studi ini bertujuan mengukur pengaruh terpaan produk hiburan asing terhadap pandangan tentang realitas budaya produsen dengan menggunakan Teori Kultivasi sebagai landasan utama untuk menjelaskan bagaimana terpaan yang intensif dan berulang mampu memengaruhi pemahaman, sikap, serta kecenderungan perilaku penonton. Variabel frekuensi, durasi, atensi, dan keterlibatan penonton dijelaskan melalui konsep terpaan media dan hiburan asing, sedangkan proses pembentukan persepsi budaya dijelaskan menggunakan konsep stereotip dalam kerangka warmth dan competence. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei daring kepada 100 responden yang memenuhi kriteria penonton drama Tiongkok. Temuan ini menegaskan bahwa media hiburan asing memiliki peran signifikan sebagai agen transmisi budaya dan turut membentuk cara audiens memaknai realitas budaya dalam konteks globalisasi kontemporer.