Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA PENYANDANG CACAT TUBUH DI BALAI BESAR REHABILITASI SOSIAL BINA DAKSA PROF. DR. SOEHARSO SURAKARTA Fitriana Dyah Sandhaningrum; Sri Wiyanti; Salmah Lilik
Wacana Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.226 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i1.55

Abstract

Remaja penyandang cacat tubuh dihadapkan pada masalah pergaulan yang berhubungan erat dengan penerimaan dan penolakan terhadap kehadirannya, baik oleh teman sebaya atau orang yang lebih tua. Penanaman konsep diri positif pada diri remaja penyandang cacat tubuh sangat diperlukan untuk menghadapi keberhasilan seseorang dalam mengatasi persoalan dan penyesuaian dirinya. Remaja penyandang cacat tubuh juga membutuhkan dukungan sosial untuk menghadapi segala permasalahannya sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) ada hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh, (2) ada hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh, dan (3) ada hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh. Penelitian ini adalah penelitian populasi, karena terbatasnya jumlah populasi yaitu remaja penyandang cacat tubuh yang berumur 16 s/d 21 tahun di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa Prof. Dr. Soeharso Surakarta hanya 50 orang. Oleh karena itu 50 orang tersebut semuanya digunakan sebagai sampel penelitian, sehingga pengambilan sampel dengan purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan skala konsep diri, skala dukungan sosial dan skala penyesuaian sosial. Berdasarkan analisis regresi dua prediktor menunjukkan bahwa ada hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh dengan Ry(1,2) = 0,689, Freg = 21,296 dengan p < 0,05. Koefisien korelasi rx1y adalah 0,590 dan p < 0,05 dan rx2y adalah sebesar 0,685 dengan p < 0,05. Kesimpulan dari analisis data tersebut adalah adanya hubungan antara konsep diri dan dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh  dan ada hubungan positif antara konsep diri dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh serta ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian sosial pada remaja penyandang cacat tubuh. Besarnya sumbangan efektif (SE%) kedua variabel bebas secara bersama-sama adalah 47,5%.   Kata kunci: remaja penyandang cacat tubuh, konsep diri, dukungan sosial, penyesuian sosial.
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU DARI STRATEGI SELF-MANAGEMENT DALAM MENGATASI WORK-FAMILY CONFLICT PADA IBU BEKERJA Dias Tri Handayani; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.887 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i2.37

Abstract

Peran ganda yang dimiliki ibu bekerja sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga mengarahkan ibu bekerja pada permasalahan work-family conflict (selanjutnya disebut WFC) yang disebabkan oleh pertentangan dua peran atau lebih sekaligus.   WFC dapat menyebabkan terganggunya psychological well-being (selanjutnya disebut PWB) pada ibu bekerja, jika tidak diatasi dengan benar.  Dengan membangun self-management dalam diri ibu bekerja, dapat membantu ibu bekerja mengatasi WFC, sehingga lebih mengarahkan mereka pada proses pencapaian  PWB.  PWB  adalah kehidupan yang positif, seimbang dan berkelanjutan pada individu dalam menghadapi tantangan menuju kondisi terbaik meliputi fisik, mental dan sosialnya.  Terdapat empat strategi self-management, yaitu positive self-talk, time management, task delegation dan role compartmentalization, yang nantinya masing-masing strategi self-management akan mengarahkan ibu bekerja pada kondisi PWB yang berbeda-beda pula. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Populasi adalah ibu bekerja di 4 Bank Persero (BUMN) di Surakarta.  Sampel berjumlah 72 orang dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dengan kriteria wanita sudah menikah, pada saat ini memiliki anak berusia 0 – 13 tahun, suami masih hidup dan pendidikan minimal lulusan SMA/ SMK.  Pengumpulan data menggunakan Skala PWB dan Skala Strategi Self-Management dalam Mengatasi WFC. Teknik analisis data yang digunakan adalah One-Way ANOVA dengan bantuan program SPSS 14. Hasil analisis dengan menggunakan teknik One-Way ANOVA diperoleh  = 1,165 lebih kecil dari   = 2,739.  Dari hasil analisis tersebut, dapat dimaknai bahwa tidak ada perbedaan PWB ditinjau dari strategi self-management dalam mengatasi WFC pada ibu bekerja.  Hal ini dikarenakan masing-masing strategi berperan sebagai fungsi afek, tingkah laku dan kognisi dalam diri individu yang sistem bekerjanya saling terpisah tetapi saling mempengaruhi, sehingga ketiganya sama-sama diperlukan untuk mengatasi work-family conflict dan sama-sama berkontribusi dalam mengarahkan psychological well-being pada ibu bekerja.   Kata kunci: psychological well-being, strategi self-management dalam mengatasi work-family conflict, ibu bekerja
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KONFORMITAS DENGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA Ratna Akhiroyani Pratiwi; Munawir Yusuf; Salmah Lilik
Wacana Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.895 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i2.60

Abstract

Perilaku merokok dilihat dari berbagai sudut pandang manapun sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain yang berada di sekelilingnya. Perilaku merokok merupakan salah satu permasalahan yang terjadi pada masa remaja. Ada banyak alasan yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja, seperti kurang kuatnya konsep diri yang dimiliki remaja dan kurang bisa menyaring pergaulan atau korban dari konformitas yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan konformitas dengan perilaku merokok pada remaja. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian diambil dengan teknik cluster random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala konsep diri, skala konformitas, dan skala perilaku merokok. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi ganda. Hasil perhitungan menggunakan analisis regresi ganda menunjukkan korelasi rx1y sebesar - 0,600 pada taraf signifikan p < 0,05. Artinya ada korelasi negatif yang signifikan antara konsep diri dengan perilaku merokok pada remaja, dan korelasi rx2y sebesar 0,615 pada taraf signifikan p < 0,05 memiliki arti ada korelasi positif yang signifikan antara konformitas dengan perilaku merokok pada remaja. Selain itu berdasarkan hasil analisis data diketahui ada hubungan yang signifikan secara statistik antara konsep diri dan konformitas dengan perilaku merokok pada remaja ditunjukkan dengan nilai korelasi Ry12 = 0,757 dan Fregresi = 20,111 dengan r < 0,05. Sumbangan efektif konsep diri dan konformitas dengan perilaku merokok dapat dilihat dari koefisien determinan (R2) sebesar 0,5728 atau 57,28% yang berarti masih terdapat 42,72% faktor lain yang mempengaruhi perilaku merokok selain konsep diri dan konformitas.     Kata kunci: konsep diri, konformitas, perilaku merokok.
STRATEGI KOPING PADA BIPOLAR YANG MENGALAMI PERCERAIAN (STUDI KASUS) Mursyid Robbani; Salmah Lilik; Arif Tri Seyanto
Wacana Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.122 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v8i1.92

Abstract

STRATEGI KOPING PADA BIPOLAR YANG MENGALAMI PERCERAIAN (STUDI KASUS)     COPING STRATEGIES OF BIPOLAR ON THE DIVORCE EXPERIENCE (CASE STUDY)     Mursyid Robbani, Salmah Lilik, Arif Tri Seyanto Program Studi Psikologi FakultasKedokteran Universitas SebelasMaret     ABSTRAK   Strategi koping merupakan proses penyesuaian diri berupa perilaku dan pikiran internal berupa sumber daya, nilai-nilai yang dianut, dan komitmen sebagai upaya pertahanan diri dari tuntutan eksternal yang mengancam untuk memperoleh rasa aman dan menurunkan efek negatif yang ditimbulkan. Bipolar merupakan merupakan gangguan suasana perasaan atau mood yang ditandai dengan pergantian antara episode mania dengan episode depresi dalam waktu yang berbeda atau keduanya dalam waktu yang sama yang berpengaruh pada aktivitas sehari-hari berupa peningkatan atau penurunan energi yang signifikan. Pada penelitian ini, seseorang yang mengalami gangguan bipolar menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap efek stres yang ditimbulkan karena kondisi mood yang tidak stabil ditambah dengan kurangnya dukungan yang diterima karena perceraian yang dialami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi koping yang digunakan pada bipolar yang mengalami perceraian. Subjek penelitian ini berjumlah dua orang, yaitu pria dan wanita yang memiliki diagnosis bipolar tipe mania dan tidak memiliki gangguan lain, masih menjalani pengobatan dengan psikiater, serta memiliki riwayat perceraian dalam dua tahun terakhir. Penentuan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik bola salju (snowball sampling). Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah riwayat hidup, observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa kedua subjek memiliki latar belakang utama gangguan bipolar yang sama, yaitu karena kehilangan pasangan. Sementara alasan bercerai dari kedua subjek adalah karena kurangnya efektivitas komunikasi dan interaksi yang terjalin diantara keduanya menjadi pemicu terbesar dalam perceraian mereka. Untuk bertahan dengan kondisinya, kedua subjek menggunakan delapan bentuk koping dari dua jenis berupa problem-focused dan emotion-focused. Subjek wanita lebih dominan melakukan koping dengan cara problem-focused seperti berkonsultasi kepada psikiater, mengonsumsi obat secara rutin dan berbagi cerita dengan orang lain, sedangkan untuk subjek pria lebih memilih emotion-focused sebagai cara dominan untuk bertahan seperti berusaha mengontrol diri dari kejadian stresfull, dan berpikiran positif karena ingin melepaskan diri dari ketergantungan obat. Kedua subjek juga memiliki reaksi psikologis yang sama seperti berdamai dengan diri sendiri dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DAN PENERIMAAN DIRI DENGAN KETERAMPILAN SOSIAL PADA MAHASISWA ORGANISATORIS Hiemma Tiar Kusuma Umbara; Salmah Lilik; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.917 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.28

Abstract

Keterampilan mental seseorang berkembang salah satunya melalui keterampilan sosial. Keterampilan sosial menjadi modal yang mengarahkan seseorang pada pembentukan mental yang optimal. Kematangan emosi berperan dalam pengendalian emosi dan penerimaan diri membuat seseorang nyaman berinteraksi yang berdampak pada keberalngsungan interaksi seseorang dengan lingkungan. Mahasiswa organisatoris dalam menjalani dinamika organisasi memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan pengalaman interaksional. Berkembangnya kematangan emosi dan penerimaan diri positif pada seorang mahasiswa organisatoris dapat menjaga keberlangsungan interaksi, sehingga pengalaman interaksional semakin banyak dan keterampilan sosial menjadi semakin berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dan penerimaan diri dengan keterampilan sosial pada mahasiswa organisatoris. Responden penelitian ini adalah mahasiswa UNS yang menjadi pengurus organisasi BEM tingkat universitas dan fakultas dengan usia keanggotaan minimal satu tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive incidental sampilng. Pengumpulan data menggunakan Skala Keterampilan Sosial, Skala Kematangan Emosi, dan Skala Penerimaan Diri. Analisis data menggunakan teknik regresi linear berganda. Hasil penelitian menghasilkan nilai F-test = 70,310, p<0,05, dan R=791, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis I dapat diterima. Hasil penelitian juga menunjukkan nilai rx1y=0,290; p<0,05, sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan positif dan lemah yang signifikan antara kematangan emosi dan keterampilan sosialNilai rx2y=0,386; p<0,05; dapat disimpulkan terdapat hubungan positif dan lemah yang signifikan antara penerimaan diri dan keterampilan sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan secara parsial kematangan emosi dan penerimaan diri memiliki hubungan yang lemah dengan keterampilan sosial, jika hanya salah satu diantara kematangan emosi atau penerimaan diri yang dimiliki seseorang kurang menunjang berkembangnya keterampilan sosialnya. Nilai R2 dalam penelitian ini sebesar 0,6260 atau 62,60%, terdiri atas sumbangan efektif kematangan emosi terhadap keterampilan sosial sebesar 25,91% dan sumbangan efektif penerimaan diri terhadap keterampilan sosial sebesar 36,69%. Hal ini berarti masih terdapat 37,4% variabel lain yang mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial selain kematangan emosi dan penerimaan diri. Kata kunci: keterampilan sosial, kematangan emosi, penerimaan diri