Bidasari Lubis
Department Of Child Health, Universitas Sumatera Utara Medical School, Medan, North Sumatra

Published : 52 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Peran Eritropoietin pada Anemia Akibat Keganasan pada Anak Reni Suryanty; Nelly Rosdiana; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.34-8

Abstract

Anemi relatif sering terjadi pada kasus keganasan hematologi atau tumor padat, namunpenyebab anemia belum jelas diketahui. Eritropoietin merupakan suatu glikoproteinhormon yang dapat merangsang proliferasi dan diferensiasi sel-sel progenitor darah merah.Salah satu penanganan anemia yaitu pemberian transfusi yang mempunyai banyak risikodiantaranya risiko transmisi infeksi, hemolitik, non- hemolitik, penumpukan besi danpenekanan produksi eritropoietin endogen. Dipertimbangkan pemberian eritropoietineksogen (human recombinan erythropoietin) yang identik dengan eritropoietin endogenpada keganasan terutama yang mendapat kemoterapi bila Hb £ 10 g/dL dengan dosis150 U/kg BB 3x seminggu selama 4 minggu dan dosis dapat ditingkatkan hingga 300U/kg BB dan diberikan selama 4 - 8 minggu. Diperlukan pemeriksaan secara periodikterhadap kadar besi, TIBC, (total iron binding capacity) saturasi transferin dan feritin.Rhu-EPO dipasaran yaitu epoetin alfa dan beta. Efek samping Rhu-EPO antara lainhipertensi, nyeri kepala, nyeri tulang, mual, edem, lemah dan diare. Dilaporkan padaepoetin beta relatif jarang terjadi hipertensi dan dilaporkan tentang terjadinya kasuspure red cell aplasia pada pemberian epoetin alfa (eprex).
Tata Laksana Epistaksis Berulang pada Anak Bidasari Lubis; Rina A C Saragih
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.75-9

Abstract

Epistaksis berulang selalu menimbulkan kecemasan pada orang tua dan seringkali menjadi keluhan yangmenyebabkan seorang anak dibawa berobat ke unit rawat jalan. Etiologi epistaksis dapat dibagi atas penyebablokal dan sistemik, namun pada umumnya kasus epistaksis idiopatik. Diagnosis dan penanganan epistaksisbergantung pada lokasi dan penyebab perdarahan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaanfisis, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang sesuai dengan indikasi dapat yaitu pemeriksanlaboratorium darah, radiografi, endoskopi, CT scan dan biopsi. Tata laksana mencakup resusitasi jikadiperlukan, penekanan dengan jari, tampon anterior, kauterisasi, tampon posterior dan, pembedahan.Saat ini terdapat berbagai alternatif terapi seperti krim antiseptik, petroleum jelly, kauterisasi silver nitrate,embolisasi angiografi, fibrin glue, endoscopic electrocautery, irigasi air panas, dan laser
Dampak Suplementasi Besi dan Seng dalam Meningkatkan Eritropoiesis pada Malaria Anak yang Diberi Obat Anti Malaria di Daerah Endemis Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.927 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.1-7

Abstract

Latar belakang. Dampak besi dan seng untuk anak pasien malaria pada daerah endemis telah ditelitidapat menurunkan parasitemia. Namun penelitian interaksi keduanya bila diberikan bersama-sama untukmeningkatkan kadar hemoglobin, serum feritin, dan retikulosit masih terbatas.Tujuan. Membandingkan dampak seng dalam meningkatkan absorbsi besi pada anak dengan malaria falciparumyang mendapat pengobatan.Metode. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok besi ditambah plasebo dan kelompok besiditambah seng kemudian darah vena diambil sebelum perlakuan (H0) dan pada akhir penelitian (H30).Hasil. Setelah 30 hari suplementasi, 69 anak dapat menyelesaikan penelitian dan memenuhi kriteria untukdapat dianalisis. Terdapat perubahan yang bermakna pada konsentrasi hemoglobin kelompok besi ditambahplasebo dan kelompok besi ditambah seng setelah suplementasi (0,58 dan 0,09 g/dl; p<0,05) tetapi serumferitin dan retikulosit tidak bermakna.Kesimpulan. Suplementasi besi dan seng hanya meningkatkan kadar hemoglobin pada anak penderitamalaria di daerah endemis yang diberi obat anti malaria
Perbedaan Respon Hematologi dan Perkembangan Kognitif pada Anak Anemia Defisiensi Besi Usia Sekolah Dasar yang Mendapat Terapi Besi Satu Kali dan Tiga kali Sehari Bidasari Lubis; Rina AC Saragih; Dedi Gunadi; Nelly Rosdiana; Elvi Andriani
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.184-9

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) dapat menyebabkan gangguan belajar dan mental dalam jangka panjang, bahkan dapat menetap. Tingkat kepatuhan pengobatan yang diberikan tiga kali sehari masih rendah. Hal ini dapat ditingkatkan dengan pemberian satu kali sehari sehingga diharapkan pengobatan akan berhasil.Tujuan. Membandingkan respon pengobatan pada pemberian sulfas frosus satu kali sehari dengan 3 kali sehari pada anak usia sekolah yang menderita anemia defisiensi besi.Metode. Penelitian dilakukan di Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Rantau Prapat terhadap murid sekolah dasar. Anak dengan Hb <12, hipokrom mikrositer, Mentzer Index >13 dan RDW index >220 diikutsertakan dalam penelitian. Fungsi kognitif dinilai dengan Weschler Intelligence Scale for Children. Sampel secara random dibagi menjadi 2 kelompok yang mendapat sulfas ferosus 3 kali sehari dan satu kali sehari dengan dosis yang sama (besi elemental 5 mg/kgBB/hari).Hasil. Lima puluh anak dinilai dengan WISC, didapati rerata Full IQ 83,80 (SD=13,14), Performance IQ 81,08 (SD=14,58) dan Verbal IQ 88,10 (SD=14,20). Didapatkan skor aritmatika yang rendah (7+3,23). Tingkat IQ didapati average 36%, dull normal 28%, borderline 24%, dan mental defective 10%. Konsentrasi yang rendah dijumpai pada 44% dan sangat rendah 10%. Terdapat peningkatan bermakna kadar hemoglobin pada kedua kelompok setelah pemberian terapi besi (p<0,05), namun tidak dijumpai perbedaan bermakna peningkatan Hb antar kedua kelompok (p=0,29).Kesimpulan. Full IQ anak sekolah dasar yang menderita anemia defisiensi besi tidak melebihi tingkat average, didapati gangguan konsentrasi dan fungsi kognitif, terutama dalam matematika. Tidak didapati perbedaan bermakna antara kelompok terapi besi tiga kali sehari dibandingkan satu kali sehari dalam peningkatan Hb.
Fungsi Ginjal pada Anak dengan Keganasan di RSUP H. Adam Malik Medan Trie Hariweni; Bidasari Lubis; Rita Carmelia; Nelly Rosdiana; Adi Sutjipto
Sari Pediatri Vol 3, No 2 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.2.2001.101-5

Abstract

Berbagai keganasan hematologi dan tumor padat mampu mempengaruhi fungsi ginjal.Komplikasi pada ginjal ini dapat terjadi selama perjalanan penyakit keganasan, akibatinvasi keganasan pada ginjal, ureter, kandung kemih, akibat metabolit tumor tersebutserta akibat kemoterapi. Penelitian ini merupakan laporan pendahuluan yang bertujuanuntuk mengetahui keadaan fungsi ginjal pada anak dengan keganasan, hal tersebutdiperlukan dalam pertimbangan pemberian kemoterapi. Penelitian ini bersifat deskriptifrestropektif,data diambil dari rekam medik semua anak rawat inap yang menderitakeganasan dan belum pernah mendapat kemoterapi, di Bagian IKA RS Adam MalikMedan dalam rentang waktu Januari 1997 sampai dengan Desember 2000. Fungsi ginjaldinilai dari laju filtrasi glomerulus. Diperoleh sampel penelitian 127 pasien, usia kurangdari 5 tahun terdiri dari 22 (17%) pasien keganasan hematologi dan 42 (33%) pasientumor padat ganas, sedangkan usia lebih dari 5 tahun terdiri dari 41 (33%) pasienkeganasan hematologi dan 22 (17%) pada pasien tumor padat ganas. Dari 127 pasientersebut 63 pasien mengalami keganasan hematologi terdiri dari 43 laki-laki (34%) dan20 perempuan (16%), sedangkan 64 pasien menderita tumor padat ganas terdiri dari 29laki-laki (23%) dan 35 perempuan (27%). Keganasan hematologi dengan fungsi ginjalnormal didapatkan pada 48 (38%) anak, IRF (impaired renal function) 9 (14,3%), CRI(chronic renal insufficiency) 6 (9,5%) sedangkan pada tumor padat ganas dengan fungsiginjal normal 52 (41%), IRF 5 (7,8%), CRI 2 (3,2%), CRF (chronic renal failure) 5(8%). Terlihat bahwa pada pasien dengan keganasan hematologi dan tumor padatmengalami gangguan fungsi ginjal pada perjalanan penyakitnya.
Perbandingan Pemberian Vitamin K Dosis Tunggal Intramuskular pada Bayi Prematur dan Aterm Terhadap Masa Protrombin Asrul Asrul; Nancy Ervani; Bugis M Lubis; Emil Azlin; Lily Emsyah; Bidasari Lubis; Guslihan D Tjipta
Sari Pediatri Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.1.2007.17-22

Abstract

Latar belakang. Defisiensi vitamin K atau hypoprothrombinemia pada bayi baru lahir dapat menyebabkanperdarahan karena faktor koagulasi yang bergantung vitamin K tidak adekuat. Bayi prematur kurangmemperlihatkan respon optimal dengan pemberian vitamin K disebabkan imaturitas sel hati.Tujuan penelitian. Mengetahui apakah vitamin K dosis tunggal intramuskular sama efektifnya padabayi prematur dibandingkan dengan bayi aterm terhadap masa protrombin.Metode. Uji klinis bayi baru lahir prematur dan aterm yang dirawat antara bulan Februari – Juli 2006 diRumah Sakit Pirngadi Medan. Kriteria eksklusi ialah menggunakan antibiotik, bayi denganhiperbilirubinemia. Pemeriksaan masa protrombin (PT) dilakukan sebelum pemberian vitamin K padahari pertama dan diulapng pemeriksaan PT pada hari ketiga terhadap bayi prematur dan aterm. Analisisstatistik secara uji t independen dan berpasangan, indeks kepercayaan 95%, kemaknaan p<0,05.Hasil. Dari 38 bayi prematur, 20 laki-laki, 18 perempuan dan 38 bayi aterm, 18 laki, 20 perempuan.Nilai PT bayi prematur hari pertama; rata-rata 38,7±18,4 detik, hari ketiga; 22,9±6,6 detik. Pada bayiaterm PT hari pertama; rata-rata 30,0±17,7 detik, pada hari ketiga rata-rata 16.9±7.3 detik. Tidak bermaknanilai PT pada hari pertama, namun terdapat perbedaan bermakna nilai PT pada hari ketiga antara bayiprematur dan aterm. Rata-rata terjadi penurunan nilai PT pada hari ketiga.Kesimpulan. Terdapat perbedaan bermakna nilai PT antara bayi prematur dengan aterm sebelum dan sesudahdiberikan vitamin K dosis tunggal intramuskular. Perubahan nilai PT antara hari pertama dengan hari ketigabaik pada bayi aterm maupun prematur setelah diberikan vitamin K
Terapi dan Suplementasi Besi pada Anak Dedy Gunadi; Bidasari Lubis; Nelly Rosdiana
Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.3.2009.207-11

Abstract

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan jenis anemia yang paling sering ditemukan di dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Hal ini sehubungan dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, masukan protein hewani yang rendah, dan infestasi parasit. Dari hasil survei rumah tangga di Indonesia pada tahun 1995 didapati ADB 40,5% pada anak balita dan 47,2% pada anak usia sekolah. Defisiensi besi dapat menyebabkan gangguan terhadap respon imun sehingga rentan terhadap infeksi, gangguan gastrointestinal, gangguan fungsi kognitif, tumbuh kembang, dan perubahan tingkah laku. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala pucat menahun tanpa disertai perdarahan maupun pembesaran organ dan dipastikan dengan pemeriksaan kadar besi dalam serum. Terapi besi dengan dosis 3-6 mg besi elemental/kgBB/hari diberikan kepada semua pasien ADB dengan monitor kenaikan kadar hemoglobin setelah 2-4 minggu. Terapi dilanjutkan 4-6 bulan setelah kadar hemoglobin mencapai normal untuk menambah isi cadangan besi, dan terapi terhadap penyakit dasarnya harus diberikan. Suplementasi besi harus diberikan pada bayi yang mempunyai risiko tinggi terhadap kejadian ADB seperti bayi berat badan lahir rendah (BBLR), prematur, bayi yang mendapat susu formula rendah besi, dan bayi lahir dari ibu yang menderita anemia selama kehamilan
Dampak Kardiotoksik Obat Kemoterapi Golongan Antrasiklin Irwan Harpen Siahaan; Tina Christina Tobing; Nelly Rosdiana; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.151-6

Abstract

Pengobatan kanker semakin pesat beberapa tahun terakhir dengan pilihan kombinasi obat kemoterapi,radioterapi dan pembedahan. Salah satu obat kemoterapi yaitu golongan antrasiklin, tetapi obat inimempunyai efek samping terhadap jantung yang tergantung dosis kumulatif pemakaian obat. Efek terhadapjantung dibagi menjadi efek cepat dan lambat. Efek cepat terjadi pada <1% kasus kanker. Sering ditemukanadalah efek lambat, dan seringkali subklinis. Mekanisme kerja obat diduga melalui proses ikatan denganDNA. Setelah pemberian obat intravena kadar obat dalam plasma akan menurun cepat dan bertahan lamadi jaringan, sehingga diperlukan pemantauan seumur hidup. Prosedur diagnostik untuk mendeteksi efekini adalah EKG, ekokardiografi, angiografi dan biopsi endomiokardium. Pencegahan yang dapat dilakukanyaitu penggunaan analog obat, membatasi jumlah obat yang masuk, mencari alternatif cara pemberianobat, dan pemberian obat yang disertai dengan obat yang melindungi jantung. Tantangan pemberian obatgolongan antrasiklin adalah bagaimana mengurangi efek toksik terhadap jantung sementara efek obatterhadap kanker tidak berkurang.
Peran Eritropoetin pada Anemia Bayi Prematur Lily Rahmawati; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.143-8

Abstract

Anemia sering terjadi pada bayi prematur, ditandai oleh penurunan nilai hematokrit,retikulosit dan kadar eritropoetin endogen rendah. Di Amerika Serikat, 60-80% bayiberat lahir sangat rendah (BBLSR) mengalami anemia dan membutuhkan transfusi seldarah merah berulang sehingga mempunyai risiko terjadi komplikasi penularan penyakit.Salah satu upaya menurunkan kebutuhan transfusi tersebut dengan pemberianeritropoetin eksogen yaitu recombinant human eritropoietin (r-HU EPO) yang berfungsimerangsang proliferasi, diferensiasi dan maturasi sel darah merah dalam sumsum tulang.Walaupun pada bayi prematur dijumpai kadar eritropoetin yang sangat rendah, namunprogenitor eritroid tetap sensitif terhadap eritropoetin eksogen. Pemberian r-HU EPOdapat meningkatkan eritropoesis sehingga bermanfaat mengurangi kebutuhan transfusipada anemia bayi prematur. Pemberian dalam dosis cukup pada usia dini, suplementasipreparat besi dan protein mempunyai efektifitas yang baik. Berbagai penelitian terhadappenggunaan r-HU EPO pada anemia bayi prematur telah dilakukan tetapi belum adakesepakatan mengenai protokol pemberian, termasuk waktu, dosis, cara, dan durasipemberian. [
Co-Authors Ade Hariza Harahap Adi Koesoema Aman Adi Koesoema Aman Adi Sutjipto Adi Sutjipto Adi Sutjipto Adillida Adillida Ahmad Faisal Ani Ariani Arman J. O. Panjaitan Asrul Asrul Aznan Lelo Bebi Trianita Sari Bistok Saing Budi Andri Ferdian Bugis Lubis Bugis M Lubis Bugis Mardina Lubis Candini, Naura Anindya Chairuddin P. Lubis Charles Siregar Dachrul Aldy Damayanti R. Sjarif Damayanti Rusli Sjarif Danny Dasraf Dedi Gunadi Dedy Gunadi Dedy Gunadi Dina Lyfia Dini Lailani Eka D Edward Elvi Andriani Emil Azlin Emil Azlin Erlina Masniari Napitupulu Farhat Farhat Fathia Meirina, Fathia Fera Wahyuni Fitri Primacakti, Fitri Guslihan D Tjipta Guslihan D Tjipta Guslihan Dasa Tjipta Guslihan Dasa Tjipta Hakimi Hakimi Hakimi Hakimi Helena Siregar Herman Hariman Herman Hariman Hilda Hilda Ichwan HH Batubara Irwan Harpen Siahaan Iskandar Z. Lubis Joedo Prihartono Leon Agustian Leon Agustian, Leon Lily Emsyah Lily Rahmawati Lubis, Irania Thariaty Malayana R Nasution Masyitah Sri Wahyuni Melda Deliana Muara Lubis Muhammad Ali Muhammad Ali Muhammad Ali Munar Lubis Nancy Ervani Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Nelly Rosdiana Netty D. Lubuis Noersida Raid Nofareni Nofareni Novie Amelia Chozie Nurdiani Nurdiani Olga R. Siregar OLGA RASIYANTI SIREGAR, OLGA RASIYANTI Olga Siregar Paulina K. Bangun Perjuangan Dapot Hamonangan Simbolon Pertin Sianturi Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia Putri Chadijah Tampubolon Ramadhani, Nadhifa Tazkia Reni Suryanty Ridwan M. Daulay Rina A C Saragih Rina A.C. Saragih Rina AC Saragih Rita Angraini Rita Carmelia Rita Carmelia Rosmayanti Syafriani Siregar Rusdi Andid Rusdidjas -, Rusdidjas Salsabila, Sheila Claudhea Saur L Margaretha Selvi Nafianti Selvi Nafianti, Selvi Sembiring, Krisnarta Sisca Silvana Sisca Silvana, Sisca Sri Sofyani Sri Sofyani Sukartini, Ninik Syafruddin Haris Syahril Pasaribu T. Mirda Zulaicha Tiangsa Sembiring Tiangsa Sembiring Tiangsa Sembiring, Tiangsa Tina Christina Tobing Trie Hariweni Trie Hariweni Vinisia Setiadji Wisman Dalimunte Y Dimyati Yoyoh Yusroh