Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS POLA ARUS LAUT PERMUKAAN PERAIRAN INDONESIA DENGAN MENGGUNAKAN SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2010-2014 Haryo Daruwedho; Bandi Sasmito; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1965.904 KB)

Abstract

ABSTRAK  Arus adalah gerakan mengalir suatu massa air yang disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas, atau pergerakan gelombang panjang. Akuisisi data arus menggunakan alat konvensional sangat sulit dilakukan untuk wilayah luas dan memerlukan biaya yang besar, oleh karena itu digunakan data dari satelit Altimetri Jason-2 yang menawarkan data mengenai arah dan kecepatan angin yang nantinya melalui metode perhitungan didapatkan data arus laut permukaan Perairan Indonesia.Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah perairan Indonesia dengan letak geografis 6°08' LU - 11°15' LS, dan dari 94°45' BT - 141°05' BT. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data GDR (Geophysical Data Record) Satelit Altimetri Jason-2 tahun 2010-2014. Data GDR berisikan 36 pass (jalur orbit) dalam satu cycle, dimana satu cycle di tempuh dalam waktu sepuluh hari. Metode yang digunakan adalah perhitungan arah dan kecepatan arus laut permukaan tiap cycle dengan persamaan Stewart.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Saat terjadi angin muson Barat, angin bertiup dari Barat menuju Timur, sehingga arus juga bergerak dari arah Benua Asia menuju ke Benua Australia. Saat terjadi angin muson Timur, angin bertiup dari arah Timur menuju Barat, sehingga arus juga bergerak dari arah Benua Australia menuju ke Benua Asia. Sedangkan saat terjadi musim peralihan, baik saat peralihan dari muson Barat ke muson Timur maupun saat peralihan dari muson Timur ke muson Barat pergerakan arus tidak teratur dan cenderung terbagi menjadi dua arah yakni dari Benua Asia menuju Benua Australia dan dari Benua Australia menuju Benua Asia namun kecepatan arusnya rata-rata adalah lemah di hampir seluruh perairan di Indonesia. Pola arus laut permukaan hasil pemodelan menunjukkan beberapa arah arus yang tidak megikuti model arus Wyrtki, namun tedapat juga beberapa arah arus yang memiliki kemiripan dan mengikuti model arus Wyrtki di lokasi perairan yang dijadikan sampel seperti di Laut Arafuru, perairan sekitar pulau Jawa, perairan sebelah barat pulau Sumatera, perairan sebelah utara pulau Papua, dan Selat Karimata. Kata Kunci : Arus Laut Permukaan, Model Arus Wyrtki, Satelit Altimetri Jason-2   ABSTRACT Ocean Current is a mass movement of flowing water caused by wind, differences in density, or long wave movement. At the present time many ocean currents used for various purposes that support human life. However, current data acquisition using conventional tools is very difficult for the vast territory and require a huge cost, therefore we use data from altimetry satellites. With the development of altimetry satellite system, one of the Jason-2 altimetry satellites which offer data on wind direction and the speed of wind that will go through the calculation method to get the surface ocean currents data of Indonesian waters.This study took place in Indonesian waters which is located within 6 ° 08 'N - 11 ° 15' S and 94 ° 45 'E - 141 ° 05' E. The data used in this research is GDR (Geophysical Data Record) data of Jason-2 altimetry satellites in 2010-2014. GDR data contains 36 pass (the orbital paths) in a single cycle, which one cycle can be reached within ten days. The method used is the calculation of the direction and speed of ocean currents surface of each cycle with Stewart equation.The results of this study indicate that when West monsoon occurs from December to February, the wind is blowing from the West to the East, so the current is also moving from the Asian continent towards the Australian Continent. In the event of East monsoon which is from June to August, the wind is blowing from the East to the West, so the current is also moving from the Australian continent towards the Asian continent. Meanwhile, during a transitional season either the transition from monsoon West to monsoon East which is from March to May and during the transition from monsoon East to monsoon West which is from September to November, the current’s movement is irregular and tend to fall into two directions, ie from the Asian continent towards Australian continent and from the Australian continent to the Asian continent, but the average speed of the current is weak in almost all Indonesian waters. The current pattern of sea surface modeling results indicate some current directions are not the same as Wyrtki current model, but some current directions are also the same as Wyrtki current model in several water location samples such as Arafuru Sea, the water around the Java island, the water west of the Sumatra island, the water north of the Papua island, and the Strait of Karimata. Keywords : Ocean Surface current, Wyrtki current model, Altimetry Satellite Jason-2  *) Penulis Penanggung Jawab
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN (ZNEK) DAN PETA UTILITAS BERDASARKAN NILAI EKONOMI KEBERADAAN DAN NILAI PENGGUNAAN LANGSUNG KAWASAN MASJID AGUNG DEMAK DAN MAKAM KADILANGU DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Nastiti Asrining Hartri; Arief Laila Nugraha; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.026 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu daerah di Indonesia yang memiliki destinasi pariwisata yang terkenal dengan wisata religinya adalah Kabupaten Demak. Objek wisata religi di Kabupaten Demak diantaranya adalah Masjid Agung Demak dan Makam Kadilangu. Wisata religi tesebut sangat diminati wisatawan untuk berkunjung. Hampir setiap tahun terjadi kenaikan jumlah wisatawan pada kedua objek wisata tersebut. Dari tingkat antusiasme wisatawan yang semakin meningkat maka dapat dikatakan bahwa kedua obyek tersebut merupakan  obyek wisata yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Berdasarkan hal tersebut diperlukan pembuatan peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan untuk mengetahui manfaat nilai ekonomi kedua kawasan objek wisata tersebut.Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode Travel Cost Method (TCM) dan metode Contingent Valuation Method (CVM). Metode TCM digunakan untuk memperoleh nilai kegunaan langsung sedangkan metode CVM digunakan untuk mendapatkan nilai bukan kegunaan. Kemudian, pengambilan data primer dilakukan melalui survei lapangan. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan menghitung nilai total ekonomi. Pada penelitian ini juga dilakukan uji statistik (uji validitas dan uji reliabilitas) dan uji asumsi klasik (uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas).Hasil dari perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai total kegunaan dan nilai total bukan kegunaan. Untuk kawasan Masjid Agung Demak, nilai total kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 1.032.106.843.000,-, nilai total bukan kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 52.746.711.060,-, dan nilai total ekonomi yang didapatkan adalah sebesar Rp 1.084.853.554.060,-. Sedangkan untuk kawasan Makam Kadilangu, nilai total kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 1.347.433.284.000,-, nilai total bukan kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 53.937.046.060,-, dan nilai total ekonomi yang didapatkan adalah sebesar Rp 1.401.370.330.060,-.
ANALISIS SPASIAL PERKEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN PATI TAHUN 2030 MENGGUNAKAN MODEL CELLULAR AUTOMATA MARKOV Tristika Putri; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDi Kabupaten Pati khususnya wilayah sekitar jalan lingkar selatan selatan selatan yang melingkupi 4 Kecamata terjadi perubahan penggunaan lahan akibat aktivitas dan mobilitas masyarakat yang semakin kompleks membutuhkan infrstruktur yang memadai dalam mendukung produktifitas masyarakat agar terlaksana secara maksimal. Salah satu infrastruktur yang harus diperhatikan adalah infrastruktur jalan lingkar selatan sebagai pendukung perkembangan wilayah. Analisis spasial dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan lahan yang selanjutnya ditinjau kesesuaiannya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang ketelitian peta RTRW. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh adanya jalan lingkar selatan terhadap perkembangan wilayah Kabupaten Pati dengan metode CA Markov serta melakukan prediksi kondisi wilayah perkembangan Kabupaten Pati Tahun 2030 dan mengetahui pola perkembangan wilayah Kabupaten Pati dengan Global Moran’s Index. Hasil penelitian berupa analisis kesesuaian prediksi penggunaan lahan Tahun 2030 dengan RTRW dengan katagori sesuai sebesar 21144,98 Ha (95,41%). Persebaran pola perkembangan pola pada prediksi Tahun 2030 sesudah dibangun jalan lingkar selatan membentuk pola clustered di Kecamatan Margorejo dan Kecamatan Jakenan. Kata Kunci: CA Markov, Global Moran’s Index, Jalan lingkar selatan, Kabupaten Pati, Perkembangan Wilayah, Penggunaan Lahan ABSTRACTIn Pati Regency, especially the area around the southern southern ring road which covers 4 districts, there has been a change in land use due to increasingly complex community activities and mobility requiring adequate infrastructure to support community productivity so that it is carried out optimally. One of the infrastructure that must be considered is the ring road infrastructure to support regional development. Spatial analysis is carried out to identify land changes which are then reviewed for compliance with the Regional Spatial Plan (RTRW) in accordance with Government Regulation Number 8 of 2013 concerning the accuracy of the RTRW map. This study aims to determine the effect of a ring road on the development of Pati Regency with the CA Markov method and to predict the condition of the development area of Pati Regency in 2030 and determine the development pattern of Pati Regency with the Global Moran's Index. The result of the research is the analysis of the suitability of the prediction of land use in 2030 with the RTRW with the appropriate category of 21144,98 Ha (95,41%). The distribution of the pattern development pattern in the 2030 predictions after the construction of the ring road forms a clustered pattern in Margorejo District and Jakenan District. Keywords:  CA Markov, Global Moran’s Index, Pati Regency, Regional Development, Land Use
KAJIAN PENENTUAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN METODE UAV DI PANTAI TELENG RIA KABUPATEN PACITAN Nur Fajar Nafiah; Arief Laila Nugraha; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.503 KB)

Abstract

ABSTRAK                Garis pantai merupakan salah satu aspek teknis dalam penetapan dan penegasan batas pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Perkembangan teknologi dalam bidang geospasial dan pengindraan jarak jauh dapat memudahkan dalam pekerjaan geospasial seperti halnya dalam pembentukan garis pantai dengan menggunakan UAV proses pengukuran dan pengolahan garis pantai dapat dilakukan dengan cepat dan dengan hasil yang akurat. Dalam penetapan garis pantai dibutuhkan bidang referensi ketinggian muka air laut. Secara periodik permukaan air laut selalu berubah, karena itu perlu dipilih suatu tinggi muka air tertentu untuk menjelaskan posisi garis pantai dalam penelitian tugas akhir ini jenis garis pantai yang digunakan adalah garis pantai Mean Sea Level atau garis pantai muka air laut rata-rata. Mengacu pada UU. No 4 tahun 2011, pasal 13 point 2 dan 3.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil dan analisis penentuan garis pantai menggunakan metode UAV di Pantai Teleng Ria Kabupaten Pacitan. Metode pengolahan UAV menggunakan software Agisoft PhotoScan untuk mendapatkan Orthophoto dan Digital Terrain Model. Sedangkan untuk pengolahan pasang surut dilakukan menggunakan software SLP64 yang menggunakan bahasa pemrograman untuk mendapatkan konstanta harmonik dan prediksi pasang surut selama 18,6 tahun dan menggunakan data kedalaman Peta LPI untuk daerah topografi kedalaman laut .Hasil dari penelitian ini menunjukkan langkah-langkah dalam pembentukan peta topografi menggunakan software Agisoft PhotoScan untuk menghasilkan Orthophoto dan Digital Terrain Model yang telah dilakukan uji akurasi sesuai dengan PERKA BIG No 15 Tahun 2014  dengan hasil untuk ketelitian horizontal sebesar 0,022 meter dan ketelitian vertikal sebesar 1,064 meter. Serta hasil pengolahan prediksi pasang surut selama 18,6 tahun yang didapatkan nilai tinggi yang didapat adalah sebesar 2,680 meter untuk HAT, 0,160 meter untuk LAT dan 1,210 meter untuk nilai MSL. Sedangkan untuk nilai yang telah ditransformasikan terhadap MSL untuk nilai LAT, HAT dan MSL masing-masing sebesar -1,050 meter, 1,470 meter dan 0 meter.Kata Kunci:  Garis Pantai, UAV, Orthophoto, Digital Terrain Model, MSL. ABSTRACT                    Coastline is one technical aspect in the determination and demarcation of marine and coastal zone management. Technological developments in the field of geospatial and remote sensing can facilitate the work of geospatial. While in its application in the formation of the shoreline using UAVs process measurement and processing of the coastline can be done quickly and with accurate results. In determining the required shoreline reference plane height of sea level. Periodically the sea level is always changing, because it needs to have a certain water level to explain the position of the shoreline in this research have used type of shoreline is Mean Sea Level coastline or shoreline sea level on average. Referring to the UU. No. 4 of 2011, section 13 point 2 and 3.This research is performed to invent the result and analysis of coastline determination by the use of UAV method at Teleng Ria Beach, Pacitan Regency. UAV method utilizes Agisoft PhotoScan software to obtain Orthophoto and Digital Terrain Model. Meanwhile, the processing of riptide utilizes SLP64 software to obtain harmonic Constanta including the prediction of riptide for 18,6 years. As for depth data for the area topographic map LPI depths of the ocean.The results of this study show the steps in the formation of topographic maps using the software Agisoft PhotoScan to produce orthophoto and Digital Terrain Models that have been tested accuracy in accordance with Perka BIG No. 15 of 2014 with the results for accuracy horizontal of 0,022 meters, the accuracy of the vertical of 1,064 meters. The results of the processing of the tidal prediction for 18,6 years obtained high value obtained is equal to 2,680 meters for HAT, 0,160 meters for the LAT and 1,210 meters to the value of MSL. As for the value that has been transformed to MSL for the value LAT, HAT and MSL respectively -1.050 meters, 1,470 meters and 0 meters.Keywords:  Coastline, UAV, Orthophoto, Digital Terrain Model, MSL.
ANALISIS PERKEMBANGAN DAN POLA PERMUKIMAN DI WILAYAH KECAMATAN PERBATASAN KOTA SEMARANG DAN KABUPATEN KENDAL Mavita Nabata Dzakiya; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.421 KB)

Abstract

ABSTRAKPertumbuhan penduduk yang semakin pesat akan mengakibatkan kebutuhan permukiman semakin besar, masalah ini hampir terjadi disetiap daerah perkotaan. Wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal menjadi wilayah yang berkembang untuk lahan pemukiman karena diwilayah pinggiran Kota Semarang dan Kabupaten Kendal menjadi incaran para pengembang maupun masyarakat individu. Pengembang memamnfaatkan untuk membangun rumah diatas ruang terbuka yang masih tersedia diwilayah pinggiran tersebut. Sehingga dibutuhkan informasi mengenai perubahan penggunaan lahan dan pola persebaran permukiman dalam kaitannya dengan tata guna lahan pada perencanaan kota. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografis dengan interpretasi penggunaan lahan pada Citra Quikcbird tahun 2010 dan 2015 dan Citra SPOT 6 tahun 2019 yang kemudian dianalisis besar perubahan penggunaan lahan dan dianalisis menggunakan metode analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola persebaran permukiman. Berdasarkan pengolahan data dan hasil analisis didapatkan perubahan luas lahan permukiman di Kecamatan Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo dan Tugu pada tahun 2010 – 2015 sebesar 211,10 ha dan pada tahun 2015 – 2019 sebesar 369,57 ha. Perubahan tersebut terdiri dari permukiman teratur yang mengalami perubahan sebesar 184,16 ha dan permukiman tidak teratur mengalami perubahan sebesar 354,43 ha. Dari hasil perhitungan nilai indeks tetangga terdekat (T) dapat diketahui pola persebaran permukiman di Kecamatan Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo dan Tugu  adalaha mengelompok dan acak. Luas pola  persebaran mengelompok sebesar 112.940,49 ha. Luas pola persebaran acak sebesar 233.879,72 ha. Kata Kunci: Analisis Tetangga Terdekat, Citra Quickbird, Citra SPOT 6, Penggunaan Lahan, Permukiman  ABSTRACTThe Population growth rapidly affect in increased the demand of settlements, this problem almost occurs in every urban area. The sub district area which borders directly at the booth of Semarang and Kendal Regency is the developing residential area because the location which in the suburbs of Semarang and Kendal Regency is being the target of developers and individual people to build houses on open spaces that are still available on it. Information is needed regarding changes in land use and patterns of settlement distribution in relation to land use in urban planning. The methods used in this research is remote sensing and geographical information system with land use interpretation at Citra Quickbird 2010 and 2015, and Citra SPOT 6 2019 which analyzed how much the land use change and settelement’s distribution pattern using the closest neighbour methods analysis. Based on datas processing and the result of analysis show that the alteration of settlement area at Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo and Tugu sub district on 2010-2015 is 211,10 ha and on 2015-2019 is 369,57 ha. This change consists of regular settlement which change in the amount of 184,16 ha and unregular settlement which change in the amount of 354,43 ha. From the result of closest neighbour value index calculation (T) known that settlement’s distribution pattern at Boja, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Mijen, Ngaliyan, Singorojo and Tugu sub district is clustering and random. The area of clustering distribution is 112.940,49 ha. The area of random distribution is 233.879,724 ha.Keywords: Land Use,  Nearest Neighbor Analysis, Settlement, Quickbird Image, SPOT 6 Image.
ANALISIS POTENSI PENINGKATAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK AKIBAT PENGARUH DARI PEMBANGUNANPLAZA ASIA SUMEDANG MENGGUNAKAN SIG (Studi Kasus : Kec. Sumedang Utara, Kab. Sumedang ) Riza Ashar; Yudo Prasetyo; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.481 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan pembangunan di suatu daerah dari waktu ke waktu kian meningkat. Salah satunya pembangunan pusat perbelanjaan pada daerah yang sedang berkembang. Pembangunan yang ada diharapkan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian pada suatu daerah. Adanya pembangunan pusat perbelanjaan terbesar di Kabupaten Sumedang yaitu Plaza Asia Sumedang akan memberikan dampak terhadap perkembangan harga tanah dan bangunan yang berada dalam lingkup kawasan sekitarnya. Dari perkembangan harga tanah tersebut akan berdampak juga pada pendapatan asli daerah tersebut misalnya dalam segi pajak bumi. Dikarenakan alasan tersebut maka diperlukan pengelolaan informasi nilai tanah yang berkelanjutan agar dapat menjadi pertimbangan dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan yaitu NJOP. Informasi nilai tanah dapat dipresentasikan dalam bentuk peta Zona Nilai Tanah.Metode pengumpulan data dengan cara wawancara menggunakan formulir SPT. 112 –A dari Badan Pertanahan Nasional. Data yang digunakan adalah 430 sampel dan dokumen data NJOP bumi Kecamatan Sumedang Utara tahun 2014. Metode pengolahan data yang digunakan adalah regresi linier berganda, menghitung pengaruh aksesibilitas dan faktor lokasi terhadap sampel harga tanah. Serta menghitung peningkatan Pajak Bumi dan Bangunan khususnya pada sisi pajak Bumi (tanah) dengan cara membandingkan antara NIR tahun 2016 dengan NJOP dari DPPKAD tahun 2014.Hasil perhitungan perubahan harga tanah yang terjadi di Kecamatan Sumedang Utara sesudah pembangunan Plaza Asia Sumedang berkisar antara 10 % sampai 87 % dari harga sebelumnya. Hasil analisis faktor aksesibilitas dan faktor lokasi secara statistik menunjukkan bahwa dari tiga variabel yaitu jarak terhadap jalan arteri dan kolektor, jarak terhadap kantor kabupaten dan jarak terhadap CBD memiliki korelasi negatif sedangkan variabel lebar jalan memiliki korelasi positif. Hasil dari perhitungan peningkatan NJOP berkisar 83% di desa Kebonjati, 226% di Kelurahan Kotakaler dan 323% di desa Situ. Hal ini menunjukkan bahwa Kecamatan Sumedang Utara masih memiliki potensi Pajak Bumi dan Bangunan yang tinggi khususnya pada pajak Bumi (tanah).
ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN LAHAN KAWASAN INDUSTRI DAN LAHAN TERBANGUN TERHADAP RTRW DI KECAMATAN BAWEN DAN KECAMATAN PRINGAPUS MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Rika Enjelina Pidu; Bambang Sudarsono; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.784 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan penduduk di  suatu daerah berdampak pada meningkatnya pembangunan daerah. Oleh karena pembangunan yang pesat maka akan membuat masalah dalam penataan ruang. Semakin banyak lahan yang dibangun maka akan menimbulkan pembangunan yang tidak sesuai dengan RTRW. Salah satu Kecamatan yang kawasan industrinya berkembang pesat yaitu Kecamatan Bawen dan Kecamatan Pringapus yang berada di Kabupaten Semarang. Mendukung perkembangan industri di Kecamatan Bawen dan Kecamatan Pringapus maka dikembangkan beberapa kawasan industri yang cukup banyak seperti industri garmen dan industri tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kesesuaian antara rencana penggunaan lahan kawasan industri dan lahan terbangun dengan keadaan lapangan. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah peta penggunaan lahan tahun 2015 dan 2018 dengan melakukan proses digitasi on screen. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode overlay intersect untuk medapatkan data informasi perubahan, kesesuaian penggunaan lahan dan kesesuaian perubahan penggunaan lahan terhadap RTRW. Data yang digunakan pada penelitian adalah data  Citra Worldview-3 Tahun 2015 dan Citra SPOT-6 Tahun 2018. Analisis dari interpretasi citra yang hasilnya dianalisis perubahan dan kesesuaian terhadap RTRW. Hasil dari penelitian didapatkan peningkatan dan penurunan luas persebaran penggunaan lahan. Jumlah perubahan penggunaan lahan sebesar 471,678 ha (3,86%). Jumlah perubahan penggunaan lahan yang bertambah ± 181,897 ha (1,93%). Sedangkan jumlah perubahan penggunaan lahan yang berkurang ± 235,839 ha (1,93%). Sementara itu, Kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW pada tahun 2015 sebesar 9.828,567 ha (80,42%) dan pada tahun 2018 sebesar 9.675,471 ha (79,16%) dari luas wilayah penelitian. Selama kurun waktu 3 tahun kesesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW terjadi penurunan sebesar 153,096 ha (1,26%). Kata Kunci: Analisis Kesesuaian , Penggunaan Lahan, RTRW, SIG. ABSTRACTThe development of population in an area has an impact on increasing regional development. The impact of the rapid development will create problems in spatial planning. The more land that is developed, it will lead to incompatibility development that is not in accordance with the RTRW. One of the subdistricts that rapidly growing is Bawen and Pringapus Districts in Semarang regency. Several industrial estates have been developed, such as the garment and textile industry to support industrial development in Bawen and Pringapus District. This study aims to analyze how the suitability of industrial estate land use plans with built up land with field conditions. The process carried out in this research is the land use maps in 2015 and 2018 by digitizing on screen. The method used in this study is the intersect overlay method to obtain information on changes in data, the suitability of land use and land use change with RTRW. The data used in the study are the 2015 Worldview Image 2 and 2018 SPOT-6 Image. Analysis of the image interpretation whose results are analyzed changes and conformity to the RTRW. The results of the study found an increasing and decreasing in the spread of land use. Total land use change was 471,678 ha (3.86%). The number of changes in land use increased ± 181,897ha (1.93%). While the number of changes in land use is reduced ± 235,839 ha (1.93%). Meanwhile, the suitability of land use to the RTRW in 2015 amounted to 9.828,567 ha (80,42%) and in 2018 amounted to 9.675,471 ha (79,16%) of the area of the study area. Over this 3 years period, the suitability of land use to the RTRW decreased by 153.096 ha (1.26%).  Keywords: Suitability Analysis, Land Use, RTRW, GIS.
IDENTIFIKASI KESESUAIAN DAN INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN DI KELURAHAN LAMPER LOR MENGGUNAKAN FOTO UDARA TAHUN 2018 Dwi Rini Septiani; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.66 KB)

Abstract

ABSTRAKJumlah penduduk yang tinggi di wilayah perkotaan menyebabkan kebutuhan lahan semakin meningkat. Terbatasnya lahan mengakibatkan terjadinya pelanggaran pembangunan dan penyimpangan pemanfaatan lahan terhadap peraturan tata ruang kota. Penelitian yang pernah dilakukan oleh (Pratomo, 2016) menyatakan bahwa pelanggaran Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di perumahan BSB Kecamatan Mijen, Kota Semarang mencapai 67%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyimpangan pemanfaatan lahan dan kesesuaian KDB di Kelurahan Lamper Lor, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang terhadap Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kota Semarang Tahun 2000-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah foto udara tahun 2018 yang digunakan sebagai data dasar untuk digitasi pemanfaatan lahan eksisting dan digitasi bangunan. Data jaringan jalan untuk menentukan nilai maksimal KDB dan data bidang tanah PBB untuk menghitung KDB eksisting. Metode pengolahan data yang digunakan adalah teknik digitasi on screen pada foto udara yang memiliki resolusi spasial sebesar 10 cm. Analisis data dilakukan dengan metode overlay (tumpang susun) menggunakan perangkat lunak berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yaitu ArcGIS 10.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70% dari seluruh pemanfaatan lahan di Kelurahan Lamper Lor sesuai dengan peta rencana pemanfaatan lahan. Pemanfaatan lahan tersebut meliputi permukiman sebesar 19,492 ha dan konservasi sungai sebesar 1,308 ha. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai disebabkan adanya penambahan pemanfaatan lahan oleh masyarakat, dari rencana  6 kelas pemanfaatan lahan, namun kenyataannya di lapangan menjadi 12 kelas pemanfaatan lahan. Penambahan pemanfaatan lahan tersebut meliputi kesehatan, perkantoran, pergudangan, olahraga dan rekreasi serta pendidikan. Bangunan yang memiliki KDB sesuai dari 936 bangunan rumah di Kelurahan Lamper Lor hanya 13,6%, artinya bahwa KDB tidak sesuai mencapai 86,4%. Berdasarkan hasil analisis terhadap luas persil dan harga tanah/m2, KDB yang tidak sesuai didominasi oleh tanah yang memiliki luas 201-500m2 dan tanah yang memiliki harga jual Rp 2.013.000/m2.Kata Kunci : Pemanfaatan Lahan, KDB, Foto Udara, Digitasi On ScreenABSTRACTHigh population in urban areas causes land needs to increase. Limited land causes violations of development and deviations of land use against city spatial regulations. Research conducted by (Pratomo, 2016) stated that Building Coverage Ratio (BCR) violations in BSB housing in Mijen District, Semarang City  reached 67%. This study aims to identify irregularities in land use and suitability of the Building Coverage Ratio (BCR) in Lamper Lor Sub District, South Semarang District, Semarang City with the City Spatial Detail Plan of Semarang City in 2000-2010. The data used in this study include aerial photos of 2018 which are used as basic data for digitation existing land uses and buildings digitation. Road network data to determine the maximum BCR value and land field data PBB to calculate the existing BCR. The data processing method used is an digitized on screen technique on aerial photos that has a spatial resolution of 10 cm. Data analysis was performed using the overlay method using Geographic Information System (GIS) based software, ArcGIS 10.3. The results showed that 70% of all land uses in the Lamper Lor Sub District were in suitable with the land use plan map. The use of the land includes settlements of 19,492 ha and river conservation of 1,308 ha. Unsuitable land use is caused by the addition of land use by the community, from the plan of 6 land use classes, but in reality on the field there are 12 land use classes. The additional land uses include health, offices, warehousing, sports and recreation and education. Buildings that have BCR suitable of 936 houses in the Lamper Lor Sub District  are only 13,6%, it means that BCR is not suitable to reach 86,4%. Based on the analysis results of land area and land prices/m2, unsuitable BCR in Lamper Lor Sub District is dominated by land that has an area of 201- 500m2 and land that has a selling price of Rp 2.013.000/m2.
ANALISIS GEOSPASIAL PERKEMBANGAN NILAI EKONOMI KAWASAN WISATA KOTA PAGAR ALAM MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Jetri Livia Rindika; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKota Pagar Alam merupakan kota yang terletak  di Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki banyak potensi obyek wisata. Kota yang merupakan dearah tujuan wisata dengan luas wilayah 633,66 Km². Obyek wisata yang menjadi tujuan wisata di Kota Pagar Alam yaitu objek wisata Tangga 2001 dan Green Paradise. Kedua obyek wisata tersebut merupakan jenis wisata alam yang memiliki potensi nilai ekonomi kawasan Maka dari itu diperlukan analisis arah perkembangan kedua objek wisata tersebut dengan  perhitungan  Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan metode pendekatan TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method)  untuk  mengukur perkembangan Total Nilai Ekonomi Kawasan wisata dan analisis  dengan menggunakan pendekatan metode HPM (Hedonic Pricing Method)  untuk mengetahui pengaruh nilai hedonik terhadap faktor jumlah permintaan kunjungan wisata,serta dilakukan analisis Gravity Model sebagai penentu potensi kawasan untuk perkiraan daya tarik suatu lokasi kawasan wisata. Dari hasil penelitian didapatkan hasil nilai total ekonomi (TEV) kawasan  Tangga 2001 Rp  354.953.019.370,- dan kawasan Green Paradise Rp. 346.430.302.110,- pada tahun 2019.  Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi kunjungan untuk Tangga 2001 adalah biaya, umur, pendapatan, dan alternatif lokasi. Dan untuk Green Paradise adalah umur, dan lama kunjungan. Dan hasil perhitungan nilai hedonikinterval terkecil pada kawasan Tangga 2001 sebesar 4,385 dengan TEV rerata (3 tahun) sebesar  Rp. 363.903.203.960 sedangkan kawasan Green Paradise sebesar 4,175 dengan TEV rerata (3 tahun) sebesar  336.882.827.257,  maka nilai hedonik berkorelasi positif terhadap hasil nilai TEV rerata (selama 3 tahun). Berdasarkan perhitungan interaksi spasial perbandingan daya tarik kawaan  Tangga 2001 lebih tinggi di bandingkan Green Paradise.Kata Kunci: Tangga 2001 dan Green Paradise, Zona Nilai Eknomi Kawasan ABSTRACTPagar Alam City is one of the cities in South Sumatra Province which has a lot of potential tourism objects. The city is a tourist destination with an area of 633.66 km². Tourist objects that become tourist destinations in Pagar Alam City are Tangga 2001 and Cendrawasih Hijau. Both of these tourism objects are types of natural tourism that have the potential for regional economic value, therefore it is necessary to analyze the direction of development of the two tourism objects by calculating the Economic Value of the Zone Zone using the TCM (Travel Cost Method) method. ) and CVM (Contingent Valuation Method) to measure progress. Total Economic Value of tourist areas and their analysis using the Hedonic Pricing Method (HPM) approach to determine the effect of hedonic value on the number of factors in tourist demand, as well as the Gravity Model analysis as a determinant of the area's potential to estimate attractiveness. from the location of the tourist area. The results showed that the total economic value (TEV) of Tangga 2001 was Rp. 354,953,019,370, - and the Cendrawasih Green area of Rp. 346,430,302,110, - in 2019. Factors affecting the frequency of visits to Tangga 2001 are cost, age, income, and alternative locations. And for Green Paradise is age, and length of visit. And the calculation of the value of the smallest hedonic interval in the area of Tangga 2001 is 4.385 with a mean TEV (3 years) of Rp. 363,903,203,960 while the Green Cendrawasih area is 4.175 with a mean TEV (3 years) of 336,882,827,257, so the hedonic value is positively correlated with the mean TEV value (for 3 years). Based on the calculation of spatial interaction, the comparison of household attractiveness in 2001 was higher than that of Green Paradise. Keywords: Tangga 2001 and Green Paradise, Regional Economic Value Zone
PENENTUAN LOKASI POTENSIAL PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SUKOHARJO Albertus Indra Bagus Cahyadi; Andri Suprayogi; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.659 KB)

Abstract

ABSTRAK           Kabupaten Sukoharjo memiliki kelebihan untuk dapat dijadikan model pembangunan kawasan industri. Hal ini, dikarenakan letak wilayahnya yang berada dekat dengan Kota Solo dan termasuk wilayah yang strategis dan fungsional untuk mendirikan sebuah kawasan industri. Untuk mendorong pertumbuhan sektor industri agar menjadi lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil guna yang lebih optimal, maka dibutuhkan pengembangan kawasan industri. Pengembangan kawasan industri merupakan kategori aspek spasial yang mana diperlukan sebuah metode untuk menyajikannya. Salah satu metode yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat potensi lahan pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sukoharjo. Kawasan industri yang diteliti merupakan semua jenis industri dengan luas minimal 20 ha dan masuk kedalam industri besar. Penelitian ini mempertimbangkan tujuh parameter untuk menunjang dalam pengembangan kawasan industri, yaitu kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak lahan terhadap jalan utama, jarak lahan terhadap sungai, jarak lahan terhadap fasilitas umum serta aksesbilitas jalan terhadap lahan. Data tersebut kemudian diidentifikasi dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peta potensi lahan untuk kawasan indusrtri. Tingkat potensi lahpan untuk pengembangan kawasan industri di Kabupaten Sukoharjo dibagi menjadi lima kelas, yaitu sangat sesuai (S1) sebesar 2,176 %, cukup sesuai (S2) sebesar 18,382  %, sesuai marginal sebesar (S3) 48,715 %, tidak sesuai pada saat ini (N1) sebesar 29,343 % dan 1,384 % untuk tidak sesuai permanen (N2). Dari hasil analisis, diperoleh peta potensi lahan baru untuk dikembangkan sebagai kawasan industri selain kawasan RTRW di Kabupaten Sukoharjo seluas 450,887 ha. Kata Kunci: AHP, Kabupaten Sukoharjo, Potensi Lahan Industri, SIG                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 ABSTRACT           Sukoharjo District has advantages to be used as a model of industrial estate development. This is due to the location of its territory which is close to Solo City and includes a strategic and functional area to establish an industrial estate. To encourage the growth of industrial sector to become more focused, integrated and provide more optimal results, it is necessary to develop industrial estate. Industrial estate development is a spatial aspect category which requires a method to present it. One of the methods used is Geographic Information System (GIS). GIS is an appropriate step in presenting the spatial aspect. In this case GIS has benefits that can be used to determine the level of potential land for industrial development in Sukoharjo District. The industrial areas studied are all types of industries with a minimum area of 20 ha and entered into large industries. This study considers seven parameters to support in the development of industrial estate, ie slope, land use, soil type, land distance to main road, distance of land to river, distance of land to public facilities and road accessibility to land. The data is then identified using the AHP (Analytical Hierarchy Process) method to show the magnitude of the weights that affect for each parameter. The results obtained from this research are land potential map for industrial area. The level of land potential for industrial estate development in Sukoharjo Regency is divided into five classes, which is very suitable (S1) of 2,176 %, quite appropriate (S2) of 18,382 %, marginally equal (S3) 48,715 %, not appropriate at this time (N1) of 29,343 % and 1,384 % for permanent non-conformity (N2). From the analysis result, obtained a map of potential new land to be developed as an industrial area other than RTRW area in Sukoharjo Regency is 450,887 hectar. Keywords : AHP, Sukoharjo District, Industrial Land Potential, SIG
Co-Authors Abdi Sukmono Abdi Sukmono, Abdi Ahmad Faishal Matazah Putra Ahmad Firdous Syifa Aisyah Arifin Aisyah Arifin Ajeng Dyah Setyowati Sri Utomo Ajeng Kartika Nugraheni Syafitri Aji, Sentanu Akbar, Rizki Maulidi Akhmad Tsalist Nailuz Tsabiq Albertus Indra Bagus Cahyadi Alfian Putra Setiadarma Alfred Boni Son Simbolon Amalia Tyo, Almaas Zain Andri Suprayogi Annisa Octaviana Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arwan Putra Wijaya Ashari, Taufiq Ichsan Astriana Dewi Aulia Imania Sukma Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bela Karbea Charisma Parasandi Alfarizi Desyta Ulfiana Dwi Rini Septiani Dwi Yulinanda Pratiwi Extiana, Kiky Fajar Rudi Purwoko Farid Burhanudin Yusup Farrah - Istiqomah, Farrah - Fatihulhaq, Muhammad Aidil Fryda Arlina Mahardika GETMA LAVEMIA Grandy Loranessa Wungo Gunawan, Andreas Hana Sugiastu Firdaus Hardi Wibowo Haryo Daruwedho Hilman Djalu Sadewo Hutagalung, Christovel Mangaratua Ika Nurdianasari Imanuel Sitepu Irfan Baharudin Istighfary Abirama Cininta Iva Kusniawati Jaka Gumelar Jauhari Pangaribuan Jetri Livia Rindika Joko Wibowo Juwita Widya Qur’ani Kanti Ismawati Khofifatul Azizah Kusmaryudi, Alan Kusuma, Hafiizh Mega Laisa Usrini Laode M Sabri LAURENTIUS IMMANUEL YUDIT PRABOWO Maharditya Yoga Pramudyono Marissa Isabella Panggabean Marissa Isabella Panggabean Mavita Nabata Dzakiya Mia Aulina Moehammad Awaluddin Mohamad Jorgie Prasetyo Mohamad Rizki Ramadhan Mufid Damar Pidekso Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Alimsuardi Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Maulana mahardika Amfa Muhammad Nida Hakim El Wafa Muhammad Sandhi Lazuardi Nastiti Asrining Hartri Naufal Dwiakram Novia Sari Ristianti Novialis, Elly Indah Novian Nur Aziz Nugrahanto, Prasetyo Odi Nur Fajar Nafiah Nur Rizal Adhi Nugroho Nurhadi Bashit Oki Samuel Damanik Putri, Ananda Sandriana Putri, Zulfara Disnatya Anggita Rahmah, Azizah Nur Rama Aditya Wiwaha Reisnu Iman Arjiansah Rifai, Lutfi Faizal Rika Enjelina Pidu Riza Ashar Rizki Widya Rasyid Rizky Saputra Safira Devi Kirana Saraswati, Galuh Febriana Sawitri Subiyanto Setyo Ardy Gunawan Shofiyatul Qoyimah, Shofiyatul Simamora, Enggar Stefan Sindi Rahma Erwanti Tatag Abiyoso Utomo Tito Wisnu Pramono Aji Tristika Putri Tristika Putri Wahyu Gangga Wahyuddin, Yasser Widi Hapsari Wijaya, Sujiwo Pandu Wili Setiadi Wiwik Levitasari Yogi Wahyu Aji Yosevel Lyhardo Sidabutar Yudo Prasetyo