Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS TINGKAT PRODUKTIVITAS PADI BERDASARKAN METODE NDVI (NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX) DAN LSWI (LAND SURFACE WATER INDEX) MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT TAHUN 2007 DAN 2009 ( Studi Kasus : Kabupaten Karanganyar,Jawa Tengah ) Ariescha Eko Yuniarto; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.032 KB)

Abstract

ABSTRAK Padi merupakan salah satu sumber bahan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Perkiraan hasil panen padi dilakukan dengan mempertimbangkan parameter luas dan poduktivitas tanaman padi. Luas tanah sawah diperoleh dari proses analisis citra satelit Landsat dengan memanfaatkan metode klasifikasi terbimbing. Produktivitas tanaman padi dihitung berdasarkan data survei ubinan yang dilakukan pada beberapa titik sampel yang diambil secara acak. Berdasarkan parameter luas lahan sawah hasil klasifikasi dan nilai produktivitas padi maka diketahui nilai produksi padi di kabupaten Karanganyar. Total hasil panen berdasarkan analisis citra satelit sebesar 219.839,256 ton pada tahun 2007 dan 227.088,717 ton pada tahun 2009. Pada citra Landsat dilakukan transformasi indeks vegetasi berdasarkan algoritma NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan LSWI (Land Surface Water  Index) untuk mengetahui tingkat persebaran indeks vegetasi di kabupaten Karanganyar. Persebaran nilai indeks vegetasi hasil transformasi NDVI dan LSWI digunakan untuk mendeskripsikan nilai produktivitas. Produktivitas padi dipengaruhi oleh nilai indeks vegetasi dimana penurunan nilai NDVI atau peningkatan nilai LSWI akan meningkatkan nilai produktivitas padi. Kata kunci : Produktivitas padi; Normalized Difference Vegetation Index; Land Surface Water  Index; citra Landsat ABSTRACT Paddy is one of staple foods for the most Indonesian peoples. Crop yield  estimation is done by considering the parameters of area oand poductivity of paddy. The area of paddy filed is derived by analysis of Landsat’s satellite image using the supervised classification method. Productivity of paddy is calculated based on survey ‘ubinan’ data at some random samples point. the parameters of area and poductivity of paddy then the amount of crop yield is known in Karanganyar’s regency. The amount of crop yield based on the analysis of satellite image is 219.839,256 ton in 2007 and 227.088,717 ton in 2009. In the Landsat image is applied the transformation of vegetation index based on NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) and LSWI ( Land Surface Water Index) algorithm to determine the level of vegetation index distribution in Karanganyar’s regency. The distribution of vegetation index based on NDVI and LSWI transformation use to describe the value of productivity. Productivity of paddy deppend by vegetation index value that the decrease of NDVI or the increase of LSWI value will increse the value of paddy’s productivity.  Keywords :Paddy’s productivity; Normalized Difference Vegetation Index; Land Surface Water  Index; Landsat images        *) Penulis, Penanggungjawab
KAJIAN PENURUNAN MUKA TANAH MENGGUNAKAN DIFFERENTIAL INTERFEROMATRY SYNTHETIC APERTURE RADAR (DInSAR) DAN UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) (STUDI KASUS: WILAYAH PEMBANGUNAN JALAN TOL SEMARANG-DEMAK STA 17-22) Marissa Isabella Panggabean; Fauzi Janu Amarrohman; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKecamatan Karangtengah merupakan salah satu kecamatan yang rentan terhadap peristiwa Penurunan Muka Tanah (PMT) akibat dari endapan aluvial muda yang mendominasi di Desa Batu, Kedunguter, Dukun, Karangsari,Grogol dan Pulosari. Terkait peristiwa penurunan muka tanah, di lokasi ini juga sedang dilakukan pembangunan jalan tol Semarang-Demak yang berada pada STA 17-22. Penelitian ini menggunakan metode DInSAR (Differential Interferrometry Synthetic Aperture Radar) dalam mendapatkan nilai penurunan muka tanah dan penggunaan UAV untuk mendapatkan informasi perubahan volumetrik dengan menggunakan data Digital Elevation Model (DEM) yang terjadi selama rentang waktu penelitian pada wilayah pembangunan jalan tol. Hasil dari pengolahan DInSAR pada bulan Agustus hingga Oktober menunjukkan bahwa penurunan muka tanah tertinggi terjadi pada STA 20 sebesar 7,1±2,4 cm/tahun memiliki luas daerah penurunan 11,09 ha yang berada di Desa Karangsari serta penurunan terendah sebesar 2,7±2,0 cm/tahun pada STA 18 dengan luas area penurunan 7,41 ha yang berada di Desa Dukun. Luas area yang mengalami penurunan muka tanah adalah 42,55 ha (74,3%) dari luasan total area pembangunan jalan tol STA 17-22. Perubahan volume yang terjadi pada tanggal 30 Agustus hingga 11 Oktober tahun 2020 di sepanjang wilayah pembangunan jalan tol mengalami kenaikan volume sebesar 92.824,42 m3 akibat penimbunan selama rentang waktu akuisisi foto. Secara visual, perubahan volumetrik yang cukup signifikan terjadi pada STA 20 yang mengalami pengurangan volume (cut) dimana perubahan elevasi DEM di STA 20 mencapai 1,43±0,14m pada area akses jalan.
ANALISIS PERBANDINGAN NILAI NDVI LANDSAT 7 DAN LANDSAT 8 PADA KELAS TUTUPAN LAHAN (Studi Kasus : Kota Semarang, Jawa tengah) Dita Rizki Amliana; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.642 KB)

Abstract

ABSTRAKLandsat 8 merupakan misi kelanjutan dari satelit Landsat yang telah menyediakan lebih dari 40 tahun citra untuk penelitian jangka panjang. Namun, sangat penting untuk diketahui bahwa fitur spektral dari Landsat 8 sendiri hampir sama dengan citra Landsat sebelumnya yaitu citra Landsat 7 karena citra Landsat 8 memiliki kanal-kanal yang sempit terutama kanal-kanal yang digunakan pada perhitungan NDVI (Normalized Difference Vegetation Index ) yang mana merupakan metode perhitungan indeks vegetasi yang paling sering digunakan. Pada penelitian ini Nilai NDVI  digunakan untuk mengetahui indeks vegetasi guna menghitung perbandingan spektral antara nilai NDVI Landsat 7 dan nilai NDVI Landsat 8, dan bisa juga untuk menghitung perubahan tutupan lahan berdasarkan nilai NDVI.Dalam penelitian ini nilai NDVI dari citra Landsat 8 dibandingkan dengan NDVI Landsat 7 yang berasal dari titik titik sampel 7 kelas tutupan lahan yang diambil pada saat bulan yang sama dengan perekaman citra Landsat 7 dan Landsat 8 di Kota Semarang. 7 kelas tutupan lahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah air, pemukiman, industri, lahan kosong, kebun, tegalan, dan sawah. Untuk perubahan tutupan lahan pada tahun 2013,2014, dan 2015 di Kota Semarang sendiri menggunakan 4 kelas tutupan lahan yaitu air, lahan terbangun, vegetasi jarang dan vegetasi rapat.Hasil korelasi spektral antara Landsat 7 dan Landsat 8 dengan metode NDVI pada 7 kelas tutupan lahan di Kota Semarang tahun 2015 didapatkan persamaan y= 0,7171x + 0,0682 dengan R2=0,631 dan koefisien korelasi sebesar0,7943  yang memiliki pengertian bahwa pengaruh variabel Landsat 7 terhadap Landsat 8 adalah sebesar 63% yang menunjukan adanya korelasi positif dan kuat, jika nilai NDVI pada Landsat 7 naik maka nilai ndvi Landsat 8 pun naik. Pada hasil perubahan tutupan lahan Kota Semarang menggunakan NDVI didapatkan hasil perubahan yang signifikan dari tahun 2013-2015 pada kelas lahan terbangun yang luasnya meningkat  setiap tahunnya dan vegetasi yang luasnya semakin turun setiap tahunnya.Kata Kunci : Landsat 7, Landsat 8, NDVI, Tutupan Lahan, Vegetasi , Korelasi ABSTRACTLandsat 8, the on going mission of the Landsat satellites that have provided over 40 years of images, continues to benefit long-term research. However, it is important to know if the spectral features of Landsat 8 are the same standard as previous Landsat imagery because Landsat 8 images have narrower bands, especially because of the normalized difference vegetation index (NDVI) calculation which is the most popular vegetation index. In this study, NDVI value is used to determine the vegetation index for calculating the spectral ratio between the value of NDVI Landsat 7 and the value of NDVI Landsat value of 8 , and it could be to calculate changes in land cover based on NDVI values .In this research the value of NDVI  of Landsat 8 imagery compared with NDVI Landsat 7 derived from sample points 7 land cover classes are taken at the same month recording of Landsat 7 and Landsat 8 in Semarang. Seven (7) land cover classes used in this research are water, residential, industrial, barren land, garden, fields, and rice fields. For land cover changes in 2013, 2014 and 2015 in Semarang itself uses four classes of land cover: water, built-up land, infrequent vegetation and frequent vegetation.The results of spectral correlation between Landsat 7 and Landsat 8 with the method of NDVI in seven (7)  classes of land cover in Semarang city by 2015 are obtained by the equation y = 0, 7171x + 0.0682 with R2 = 0,631 which has the definition that the influence of variable Landsat Landsat 7 against Landsat 8 is 63% and corellation coefficient (r) is 0,7943 which shows a strong positive correlation and, if Landsat 7 NDVI values increase, Landsat 8 NDVI values will increase too. On the results of Semarang land cover changes using NDVI showed a significant change from the year 2013-2015 on the extent of built up land class increase every year and vegetation is getting down every year.Keywords: Landsat 7, Landsat 8, NDVI, Land Cover, Vegetation, correlation *) Penulis, PenanggungJawab
KAJIAN TERAPAN TEKNOLOGI UAV DAN SIG DALAM PEMBUATAN PETA DESA SKALA 1:1000 UNTUK WILAYAH RW-04 KELURAHAN TEMBALANG TAHUN 2017 Naryoko Naryoko; Yudo Prasetyo; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.625 KB)

Abstract

Pemetaan desa dilakukan sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial dan Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Di definisikan bahwa Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengelolaan potensi desa yang meliputi alam, sosial dan ekonomi sangatlah penting bagi pembangunan desa. Maka dari itu menggunakan UAV dan aplikasi SIG di sini ditujukan sebagai alat untuk melaksanakan proses pembuatan, perencanaan dan validasi data peta. Pemetaan menggunakan UAV dan aplikasi SIG tergolong sebagai pengukuran secara fotogrametris dimana pengukuran ini memanfaatkan foto udara untuk pengambilan datanya. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta yang akurat dan mempunyai ketelitian yang tinggi (orthometrik) yang dapat digunakan acuan dalam proses pembangunan. Informasi perencanaan pembangunan, perencanaan tata ruang, perencanaan investasi dan bisnis perekonomian, sangatlah membantu untuk perkembangan desa. maka pemetaan desa menggunakan UAV sangat tepat untuk dilakukan.
PENGUJIAN AKURASI DAN KETELITIAN PLANIMETRIK PADA PEMETAAN BIDANG TANAH PEMUKIMAN SKALA BESAR MENGGUNAKAN WAHANA UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) Anggoro Pratomo Adi; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.735 KB)

Abstract

ABSTRAKKebutuhan pengukuran dan pemetaan bidang tanah di Indonesia masih sangat tinggi, dimana masih banyak bidang-bidang tanah yang belum terpetakan. Untuk itu dibutuhkan metode pengukuran dan pemetaan bidang tanah yang efektif dan efisien untuk menunjang terlaksananya pemetaan bidang tanah tersebut.Salah satu metode efektif dan efisien yang dapat digunakan selain terestris adalah metode fotogrametri menggunakan wahana pesawat tanpa awak atau biasa disebut UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Untuk mengetahui apakah pemetaan bidang tanah menggunakan wahana UAV memenuhi standar ketelitian geometri dan planimetrik dari BIG maupun BPN, maka perlu dilakukan pengujian mengenai ketelitian geometri dan planimetrik pada pemetaan bidang tanah menggunakan wahana pesawat tanpa awak atau UAV. Pengujian ketelitian geometri dilakukan dengan berpedoman pada Perka BIG Nomor 15 Tahun 2014. Sedangkan pengujian ketelitian planimetrik dilakukan dengan membandingkan luas serta jarak dari sampel bidang-bidang tanah antara hasil pengukuran menggunakan UAV (metode fotogrametri) dengan hasil pengukuran terestris yang berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997. Dari pengujian yang dilakukan, seluruh orthofoto yang dihasilkan memenuhi standar ketelitian geometri peta RBI serta ketelitian planimetrik peta dasar pendaftaran. Selain itu, berdasarkan hasil uji statistika F (Fisher) tidak terdapat perbedaan ketelitian geometri yang signifikan antara orthofoto yang dibentuk dari dua buah perangkat lunak baik pada daerah yang memiliki topografi relatif datar maupun berbukit.Kata Kunci : Bidang Tanah, Ketelitian Geometri, Ketelitian Planimetrik, UAVABSTRACTNeeds of measurements and plot mapping in Indonesia is very high, it shown by many unmapped plot. So required the effective and efficient method to support the plot mapping implementation. One of the effective and efficient method that can used besides terrestrial is photogrammetric method using an UAV (Unmanned Aerial Vehicle). To determine whether the plot mapping using UAV meets the geometric and planimetric accuracy standard of BIG and BPN, it needs the geometric and planimetric accuracy test.. Testing of geometric accuracy is based on the Perka BIG 15/2014. While testing of planimetric accuracy did by comparing the area and distance from sample plot between the measurement results using UAV (photogrammetric method) with the measurement results using a Total Station (terrestrial method) that based on PMNA 3/1997. Based on the tests, generated orthophotos meet the geometric accuracy of RBI map also the planimetric accuracy of base map registration. In addition, based on the results of F statistics test ( Fisher), there are no significant differences of geometric accuracy between orthophotos that generated by two software on flat and hilly topography.Keywords: : Geometric Accuracy, Planimetric Accuracy, Plot, UAV
DETEKSI OBJEK BERBAHAYA DAN PEMODELAN 3D JARINGAN KELISTRIKAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI LIDAR Studi kasus: Koridor jaringan kelistrikan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia Alfian Adi Atmaja; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.814 KB)

Abstract

ABSTRAKPada era modern seperti sekarang ini, energi listrik sudah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Saluran transmisi udara merupakan salah satu komponen penting dalam penyaluran energi listrik pada sistem tenaga listrik. Keamanan infrastruktur jaringan kelistrikan secara signifikan memberikan efek dalam kehidupan sehari-hari dan aktivitas industri. Ada banyak faktor dan objek yang mengancam keamanan jaringan kelistrikan yaitu vegetasi, pohon dan bangunan di sekitar jaringan kelistrikan; selain itu juga kerusakan pada infrastruktur jaringan kelistrikan itu sendiri, dan lain-lain. Pengawasan yang akurat secara terus-menerus terhadap jaringan kelistrikan tersebut dapat mencegah terjadinya situasi yang berbahaya seperti pemadaman listrik total.Sekarang ini, perusahaan milik negara yang menangani masalah kelistrikan di Indonesia yaitu PT. PLN masih sangat bergantung pada petugas lapangan dalam pengawasan jaringan kelistrikan secara manual. Hal tersebut masih kurang efektif dan sangat mahal, pada sisi lain juga masih sangat berbahaya. Akhir-akhir ini, sistem LiDAR udara mulai digunakan dalam pengawasan jaringan kelistrikan dengan pemodelan secara 3D. Sistem ini dianggap dapat membuat biaya dan waktu pengawasan jadi lebih efisien karena dapat memetakan jaringan kelistrikan secara cepat dengan akurasi 30 titik/m2. Dalam penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi model jaringan kelistrikan secara 3D dari data LiDAR udara pada koridor jaringan kelistrikan 150 KV (2000 m X 600 m) di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.Metode yang dilakukan terdiri dari 3 komponen utama, yaitu deteksi, ekstraksi, dan pemodelan. Powerline dideteksi secara otomatis dengan bentuk geometrik yang umum menggunakan satu set algoritma, termasuk vertical spacing filtering dan density-based filtering. Powerline secara lengkap selanjutnya diekstraksi menggunakan metode Hough Transform. Terakhir, merekonstruksi model jaringan kelistrikan secara 3D agar dapat digunakan untuk mendeteksi objek berbahaya di sepanjang koridor jaringan kelistrikan sesuai dengan SNI 04-6918-2002 tentang ruang bebas dan jarak bebas minimum pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa pemodelan jaringan kelistrikan secara 3D dapat dilakukan dan efektif untuk mendeteksi objek berbahaya di sepanjang koridor jaringan kelistrikan, sehingga dapat digunakan untuk mendukung manajemen dan pengawasan jaringan kelistrikan di Indonesia.Kata kunci :  3D, Jaringan Kelistrikan, LiDAR, Powerline, Rekonstruksi ABSTRACTNowadays in modern era, electric energy has been primary needed in our daily activities.Transmission powerline is important part to transmit electricity in powerline system. The safety of powerline infrastructure significantly affects to our everyday life and industrial activities. There are many factors and objects to threaten powerline safety, which includes encroaching vegetation, surrounding trees, surrounding building, structural faults of insulator, tower and so on. A timely and accurate monitoring of those keys, powerlines features enables to prevent causing possible dangerous situation such as blackout.At present, most of utility firms such as PT.PLN heavily relies on men-centric and manual powerline monitoring methods which are time consuming and costly, moreover hazardous. Recently, airborne LiDAR system was introduced as a cost effective data acquisition tool which enables to rapidly capture 3D powerline scene with up to 30 points/m2. This study aims at 3D reconstruction workflow for powerline extracted from airborne LiDAR data of 150 kV transmission line corridors (2000 m by 600 m) in Gowa, South Sulawesi Province, Indonesia.The proposed workflow consists of three components: detection, extraction, and modelling. The powerlines are automatically detected with regular geometric shape using a set of algorithms, including Vertical Spacing Filtering and density-based filtering. The complete powerlines are then extracted using Hough Transform method. Finally, the 3D powerline are reconstructed to evaluate the proposed workflow for danger objects detection according to SNI 04-6918-2002 about the Indonesian standard rule for minimum distance in horizontal and vertical space in the powerline corridor. The results obtained demonstrate that powerlines can be reconstructed in 3D, which are useful in detection of danger objects to support powerline corridor management.Keywords : 3D, LiDAR,Powerline, Reconstruction*) Penulis penanggung jawab
ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH (LAND SUBSIDENCE) KOTA SEMARANG MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1 BERDASARKAN METODE DINSAR PADA PERANGKAT LUNAK SNAP Lukman Jundi Fakhri Islam; Yudo Prasetyo; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.884 KB)

Abstract

ABSTRAKKota Semarang adalah ibu kota Provinsi Jawa Tengah yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan kota yang pesat. Namun, jika ditinjau dari kondisi geologinya, Kota Semarang merupakan wilayah yang terbentuk dari endapan aluvial yang masih tergolong muda yang mana masih memungkinkan terjadinya kompaksi yang dapat menyebabkan fenomena penurunan muka tanah. Selain itu, pengambilan air tanah juga berkontribusi dalam proses penurunan muka tanah di Kota Semarang. Untuk mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan, maka diperlukan pemantauan terhadap fenomena tersebut sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Salah satu metode pemantauannya adalah dengan memanfaatkan citra satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) yang digunakan dalam penelitian ini.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan muka tanah di Kota Semarang dengan metode DInSAR. Metode ini dipilih dikarenakan memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap kawasan yang luas dengan waktu yang cepat. Data yang digunakan adalah 3 citra satelit Sentinel-1a level 1 yang diakuisisi pada tahun 2015-2016. Metode DInSAR yang digunakan adalah two-pass interferometry dengan Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) 30 m sebagai referensi untuk topografi. Proses DInSAR ini diproses dengan menggunakan perangkat lunak sumber terbuka SNAP.Dari penelitian ini diperoleh nilai penurunan tanah rata-rata Kota Semarang sebesar 4,37±4 cm/tahun. Wilayah yang mengalami penurunan rata-rata tertinggi berada di Kecamatan Genuk, Pedurungan dan Semarang Utara dengan nilai masing-masing sebesar 10,35±1,02 cm/tahun, 8,31±2,36 cm/tahun dan 8,23±1,58 cm/tahun. Untuk mengetahui ketelitian hasil DInSAR, dilakukan validasi yang diukur menggunakan GPS yang kemudian diperoleh standar deviasi sebesar 1,9 cm. Dari hasil penelitian ini juga diperoleh adanya korelasi antara penurunan muka tanah dengan perluasan area banjir rob dan susunan stratigrafinya. Korelasi dengan banjir rob tersebut ditunjukkan oleh adanya perluasan area banjir rob pada wilayah yang mengalami penurunan tertinggi di Kota Semarang. Adapun korelasi terhadap susunan stratigrafi terlihat jelas pada wilayah yang terbentuk dari aluvial, dimana pola  penurunan yang terjadi cenderung mengikuti pola aluvial dengan nilai penurunan yang lebih besar dari daerah dengan susunan stratigrafi lainya.Kata Kunci : DInSAR, Kota Semarang, Penurunan Muka Tanah, Sentinel-1, SNAP ABSTRACTSemarang city is the capital of Central Java province that is experiencing growth and rapid urban growth. However, based on its geological condition, Semarang City is formed by young alluvial deposits in which still allows the compaction that can cause land subsidence. In addition, groundwater extraction also contributed in the process of land subsidence in the Semarang City. To minimize its damage, land subsidence monitoring is required as a part of natural disaster mitigation. One of methods to monitoring land subsidence is by utilize Synthetic Aperture Radar (SAR) satellite image which is used in this research.The purpose of this research is to estimate the land subsidence in Semarang city using DInSAR method. This method is selected because of the ability to assess a wide area in a short time. The data used is 3 images Sentinel-1a level 1 which acquired between years 2015-2016. DInSAR method using two-pass interferometry with the Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) 30 m as a reference to the topography. DInSAR is processed using SNAP open-source software.From this study, the average value of subsidence of Semarang City is 4,37±4 cm/year. The highest average subsidence is located in Sub-district Genuk, Pedurungan and North Semarang which each subsidence value is 10,35±1,02 cm/year, 8,31±2,36 cm/year and 8,23±1,58 cm/year. To know the DInSAR result’s accuracy, GPS measurement is used to validate which resulted standard deviation of 1,9 cm. From the results of this study also found a correlation between subsidence with tidal inundation and stratigraphy composition. Correlation with the tidal inundation was shown by the expansion of tidal inundation in areas which experiencing the highest subsidence in Semarang City. The correlation of the stratigraphic composition is clearly visible on alluvial areas, where the pattern of subsidence that occurred tend to follow the alluvial pattern which has higher subsidence value than areas to the other stratigraphic composition.Keywords: DInSAR, Land Subsidence, Semarang City, Sentinel-1, SNAP
KAJIAN KESESUAIAN AKSESIBILITAS INFRASTRUKTUR SEBAGAI DAYA DUKUNG DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI (STUDI KASUS : KAWASAN INDUSTRI KENDAL, JAWA TENGAH) Dicky Nur Krisnha; Yudo Prasetyo; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.676 KB)

Abstract

ABSTRAKKawasan industri merupakan salah satu hal kawasan yang mengalami perkembangan sangat pesat dari tahun ke tahun. Perkembangan kawasan industri di Indonesia berdampak pada kemajuan sektor perekonomian di Indonesia. Salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah yang mengalami perubahan besar-besaran adalah lahan sawah dan tambak menjadi kawasan industri yaitu Kabupaten Kendal.Kawasan Industri Kendal (KIK) memerlukan dukungan dari segi aksesibilitas seperti kelengkapan sarana dan prasana, jaringan jalan yang memadai, moda transportasi yang cepat dan mudah dijangkau serta daya dukung lahan untuk keberlangsungan dari KIK dalam rencana jangka panjang. Masalah lainnya yaitu kepentingan pemanfaatan lahan lebih dominan dibandingkan pertimbangan terhadap daya dukungnya, sehingga dapat terjadi penggunaan lahan yang melampaui kemampuannya. Dampak yang terjadi bisa berupa penurunan kualitas fisik lahan sebagai akibat adanya penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukkannya. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan analisis kesesuaian aksesibilitas dan daya dukung lahan di Kawasan Industri Kendal menggunakan metode kombinasi pengindraan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pengolahan dan analisis spasial.Peneliti melakukan analisis kesesuaian aksesibilitas dan daya dukung kawasan industri dan memperoleh hasil yaitu pertumbuhan jalan Kecamatan Kaliwungu, Kaliwungu Selatan dan Brangsong dari tahun 2010 sampai 2019 sebesar 48,616 km dengan arah pertumbuhan mengarah ke timur yaitu letak Kota Semarang. Kualitas nilai sarana dan prasarana KIK diperoleh sebesar 73,96%. Hal ini sangat mendukung sisi aksesibilitas Kawasan Industri Kendal (KIK). Berdasarkan hasil analisis aspek daya dukung lahan dan aspek geografis, didapat bahwa KIK memiliki tingkat kesesuaian 70%. Kata Kunci : Analisis Spasial, Kawasan Industri Kendal dan Kesesuaian Aksesibilitas ABSTRACTIndustrial park is one of the areas that is experiencing rapid development from year to year. The development of industrial parks in Indonesia has an impact on the progress of the economic sector in Indonesia. One area in Central Java Province that is undergoing massive changes is paddy fields and ponds being an industrial area, namely Kendal Regency.Kendal Industrial Park (KIP) requires support in terms of accessibility such as the completeness of facilities and infrastructure, adequate road networks, modes of transportation that are fast and easy to reach and the carrying capacity of land for the sustainability of KIP in the long-term plan. Another problem is that the interests of land use are more dominant than the consideration of the carrying capacity, so that land use can occur that is beyond its capacity. The impact that can occur in the form of a decrease in the physical quality of land as a result of land use that is not in accordance with its designation. Therefore, researchers will conduct an analysis of the suitability of the accessibility and carrying capacity of land in the Kendal Industrial Park use a combination of remote sensing and Geographic Information Systems (GIS) methods for spatial processing and analysis..Researchers analyzed the suitability of the accessibility and carrying capacity of the industrial area and obtained results, namely the growth of the roads in the Districts of Kaliwungu, Kaliwungu Selatan and Brangsong from 2010 to 2019 amounted to 48.616 km with the direction of growth heading eastward, namely the location of Semarang City. The quality of the value of KIP facilities and infrastructure obtained by 73.959%. This strongly supports the accessibility of KIP. Based on the analysis of land carrying capacity and geographical aspects, it was found that KIP has a quality value of 70%. Keywords: Kendal Industrial Park, Spatial Analysis and Suitability of Accessibility
ANALISIS KORELASI SPASIAL DAMPAK PENURUNAN MUKA TANAH TERHADAP BANJIR DI JAKARTA UTARA Zainab Ramadhanis; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.439 KB)

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya jumlah penduduk di Jakarta Utara memaksa pemerintah untuk menambah lahan melalui reklamasi. Reklamasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lahan permukiman dan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi Pemerintah Daerah. Banyaknya gedung-gedung pencakar langit, pengambilan air tanah secara terus menerus dan jenis tanah Jakarta yang sebagian besar adalah alluvial menjadi beberapa faktor penyebab penurunan muka tanah, dikutip dari Kompas (2016) laju penurunan muka tanah di Jakarta meningkat dari 5-6 cm menjadi 10-11 cm per tahun. Penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta menyebabkan berbagai macam masalah yang serius, salah satunya adalah banjirDalam penelitian ini menggunakan Citra Sentinel-1A pada tahun 2015 dan 2016 untuk mengetahui penurunan muka tanah yang terjadi di Jakarta Utara dengan menggunakan metode DInSAR. Kemudian, untuk mengetahui zona ancaman banjir di Jakarta Utara, menggunakan metode pembobotan yang mengacu pada pada Katalog Metodologi Penyusunan Peta Geo Hazard Berbasis GIS karya Endro Santoso dari Badan Meterologi dan Geofisika dengan parameter berupa curah hujan, ketinggian, zona banjir dan tata guna lahan.Hasil dari metode DInSAR, penurunan muka tanah terjadi di empat dari enam kecamatan dengan besar -0,18 cm/tahun sampai dengan -2,45 cm/tahun dimana 61% penurunan muka tanah terjadi pada kawasan terbangun, 25% terjadi di kawasan tidak terbangun dan 14% terjadi kawasan sekitar perairan. Kemudian, hasil dari metode pembobotan adalah 82% dari wilayah Jakarta Utara merupakan zona banjir ancaman tinggi, 15% merupakan zona banjir ancaman sedang dan 3% merupakan zona banjir ancaman rendah. 81% zona ancaman banjir terdiri dari kawasan terbangun, 12% terdiri dari kawasan tidak terbangun dan 7% terdiri dari kawasan perairan. Selanjutnya, korelasi penurunan muka tanah terhadap banjir dibagi menjadi tiga tingkat kesesuaian, yaitu tinggi sebesar 74%, sedang sebesar 22% dan rendah sebesar 4%.  77% wilayah yang terdeteksi adanya korelasi penurunan muka tanah terhadap banjir merupakan kawasan terbangun, 17% merupakan kawasan tidak terbangun dan 6% merupakan kawasan perairan.Harapannya, penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai penurunan muka tanah dan zona ancaman banjir di Jakarta Utara. Hal ini, dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk perencanaan tata kota yang lebih baik.Kata Kunci : Banjir, DInSAR, Korelasi, Pembobotan, Penurunan Muka Tanah ABSTRACTThe population growth in North Jakarta forces the Government to enhance the land by reclamation. Reclamation was done to fulfill the settlement needs and to increase the economic revenues of Local Government, so that a lot of skyscrapers were built. A lot of skyscrapers, taking groundwater continuously and geological structure of Jakarta which most of it is alluvial become the factors cause land subsidence. Quoted from Kompas (2016), land subsidence rate in Jakarta is increasing from 5-6 cm to 10-11 cm a year. Land subsidence causes some serious problems, one of them is flood.This research used Sentinel-1A image in 2015 and 2016 to know the land subsidence rate in North Jakarta by using DInSAR method. Then, in order to know the flood threat zone in North Jakarta, used scoring method which referred to the Catalogue of Geo Hazard Map Methodology Based on GIS by Endro Santoso from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological and Geophysics with parameters of rainfall, topographic height, flood zone and land use.The result of DInSAR method, prove that land subsidence occurred in four of out six sub-districts with the rate of to -0,18 cm/year to -2,5 cm/year which 61% of the land subsidence occurred in a well-built area, 25% occurred in a non-built area and 14% occurred at around the waters area.  The result of scoring method is 82% of North Jakarta area is high the flood threat zone, 15% is medium the flood threat zone and 3% is low the flood threat zone. 81% of the flood threat zone consist of the built area, 12% consist of non the built area and 7% consist of the waters area. Then, the correlation land subsidence to flood is divided into three levels, 74% for high correlation, 22% for medium correlation and 4% for low correlation. 77% of area which detected to have the correlation land subsidence to flood is well-built area, 17% is non-built area and 6% is waters area. Hopefully, this research can provide information about land subsidence and flood threat zone in North Jakarta. So that, it can be used for better urban planning.Keywords: Correlation, DInSAR, Flood, Land Subsidence, Scoring
ANALISIS POTENSI INVESTASI LOKAL SEBAGAI FASILITAS PENDUKUNG WISATA TELAGA WARNA Supriadi Sanjaya Purba; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.87 KB)

Abstract

ABSTRAK Kawasan pariwisata tentu memiliki peluang untuk mengembangkan suatu usaha yang mendukung kepariwisataan seperti penginapan, kuliner, toko oleh-oleh dan usaha lainnya yang dapat dikembangkan. Manajemen yang kurang baik dari pihak terkait akan berdampak pada usaha-usaha pariwisata. Dampak yang diberikan berupa terhalangnya perkembangan usaha-usaha pariwisata dan membuat usaha tersebut terkesan sepi pengunjung sehingga keuntungan yang dihasilkan tidak maksimal. Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti ingin membuat suatu analisis potensi investasi lokal sebagai pendukung wisata di kawasan Telaga Warna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data primer seperti foto udara, wawancara dan survei toponimi. Data primer akan digabungkan menjadi sebuah geodatabase yang memuat informasi seputar usaha-usaha investasi lokal yang berada di Kawasan Telaga Warna. Geodatabase tersebut akan dianalisis dengan menggunakan analisis spasial pada ArcMap untuk mengetahui daerah yang berpotensi dengan metode scoring dan overlay. Hasil penelitian di klasifikasikan menjadi 4 kelas potensi, dari 199,07 ha kawasan Telaga Warna yang diteliti, terdapat 146,88 ha daerah yang memiliki potensi rendah, 35,13 ha daerah dengan potensi sedang, 15,14 ha daerah dengan potensi tinggi dan 1,93 ha daerah dengan potensi sangat tinggi. Kawasan Telaga Warna memiliki nilai ekonomi sebesar Rp 211.370.000 setiap bulannya. Nilai tersebut didapat dari akumulasi total penghasilan rata-rata penginapan, kuliner serta suvenir dan oleh-oleh setiap bulannya.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adito Maulana ADYVICTURA TINAMBUNAN Agree Isnasatrianto Ahmad Iqbal Maulana Lubis Aji, Bernardinus Joko Prakosta Santu Alfian Adi Atmaja Alfonsus Bima Samudra Alvatara Partogi Hutagalung Alvian Danu Wicaksono An Nisa Tri Rahmawati Anang Ikhwandito Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Annisa Apriliani Annisa Octaviana ARDI SETYO PRATOMO Ari Setiani Arief Laila Nugraha Ariescha Eko Yuniarto Arif Rahman Arwan Putra Wijaya Aryasatya, Muhammad Farhan Atina Qothrunnada Salsabila Azeriansyah, Reyhan Bahtiar Ibnu Lonita Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bernard Ray Barus Bilal Fadhlurrohman Billy Silaen Bram Ferdinand Saragih chotimah, Saffira noor Dafid Januar Dani Nur Martiana Daud Panji Permana David Jefferson Baris Dede Handoko Delima Canny Valentine Simarmata Deviana Putri Sunarernanda Dicky Nur Krisnha Dinoto, Tjiong, Susilo Dita Ariani Dita Rizki Amliana Dito Seno Aji DIYANAH DIYANAH Dzulvikar, Azfa Ahmad Emeralda Amirul Ariefa Fadlila Ananingtyas, Fadlila Faisal Aldin Faiz Mahbubi Faizal Ibnu Adrian Fajriah Lita Pamungkasari Farras Nabilah Fatimah Putri Utami Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Firman Hadi Fitrah Trikusuma Franstein Kevin J.B Galuh Puteri Saraswati Gantra S.D Hutahaean Gusmiarti, Neni Indah Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hanif Arafah Mustofa Hanum Fadhil Baihaqi Hanum Fadhil Baihaqi Harintaka Harintaka Hestiningsih Hestiningsih Ikhtifari, Muh. Nurshauma Imanuel Sitepu Indah Purwanti Irfan Baharudin Jamilah, Mutiara Kurnia Wisnu Aziz Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lukman Jundi Fakhri Islam Luluk Dita Shafitri Maliha, Arnetta Tia Nur Marissa Isabella Panggabean Marissa Isabella Panggabean Maylani Daraputri Mazazatu Rosyada Moehammad Awaluddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Arizar Hidayat Muhammad Helmi Muhammad Nur Khafidlin Muna, Nailatul Nabila Rahmawati Nanang Noviantoro Prasetyo Narendra Sava Hanung Naryoko Naryoko Naufal Dwiakram NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Nizma Humaidah Noviar Afrizal Wahyuananto Nuardi Dwi Pradipta Nurhadi Bashit Panji Pratama Putra Pran Shiska, Pran Qudriyah, Riska Amirotul Rahmawati, Nabila Ramadhani, Sekar Melati Rendi Aulia Retno Kusumaningrum Rifki Purnama Aji Rina Emelyana Riska Pratiwi Riza Ashar Rizqika, Salsabilla Nurul Sabri, LM Sawitri Subiyanto Setyo Ardy Gunawan Sintauli Manullang Sukamta Sukamta Sukamta Sukmawati Nur Endah Supriadi Sanjaya Purba Syachril Warasambi Mispaki Syaharini, Jay She Tegar Dio Arsadya Rahadian Tengku Oki Al Akbar Theresia Niken Kurnianingsih Thoriq Fajar Setiawan, Thoriq Fajar Ulifatus Sa'diyah Ulinnuha, Ilham Virgus - Arisondang Wahyuddin, Yasser Widi Wicaksono WIWIT PURWANTI Yonanda Simarsoit YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis Zia Ul Maksum Zuraidha, Riza Nur