Joyo Nur Suyanto Gono
Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro, Semarang

Published : 102 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

TINGKAT PEMANFAATAN SOCIAL MEDIA TERHADAP BRANDING PARIWISATA JAWA TENGAH OLEH DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH Fetiyana Luthfi Prihandini; Agus Naryoso; Adi Nugroho; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.67 KB)

Abstract

Pemanfaatan social media saat ini telah membuat masyarakat kini mengalami perubahan proses komunikasi, tidak hanya secara vertikal hierarkis, namun juga terjadi secara horizontal. Dalam keadaan seperti ini, proses komunikasi yang harus dikembangkan haruslah bersifat interaktif dialogis dengan membangun partisipasi publik. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu instansi yang memanfaatkan social media Twitter dan Facebook sebagai tools branding pariwisata Jawa Tengah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan social media terhadap branding pariwisata Jawa Tengah. Adapun variabel yang diteliti adalah tingkat pemanfaatan social media sebagai variabel independen (X), dan branding pariwisata Jawa Tengah sebagai variabel dependen (Y). Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Atitude Change Theory oleh Carl Hovland dan Teori Ekologi Media oleh McLuhan.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei (survey), dimana informasi data dikumpulkan dari sejumlah sampel berupa orang, melalui pertanyaan-pertanyaan berupa kuesioner, kemudian disebarkan kepada 40 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Untuk menjawab permasalahan yang terdapat dalam perumusan masalah, penelitian ini menggunakan Uji Koefisien Korelasi Pearson sebagai teknik analisis data.Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara tingkat pemanfaatan social media dengan branding pariwisata Jawa Tengah sebesar 0,575, sehingga dapat dinyatakan bahwa antara tingkat pemanfaatan social media dengan branding pariwisata Jawa Tengah terdapat hubungan yang cukup kuat dengan arah positif. Melalui perhitungan rumus analisis regresi dengan bantuan program komputer SPSS Release 11,5 diperoleh nilai t sebesar 2,92 dengan probabilitas kesalahan atau signifiknsi (sig) sebesar 0,006. Oleh karena sig sebesar 0,006 < 0,05, maka inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan social media, maka semakin tinggi tingkat keberhasilan branding wisata Jawa Tengah kepada followers akun social media Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
Hubungan Terpaan Pernyataan Kontroversial Anji Mengenai COVID-19 di Media Sosial dan Komunikasi Interpersonal Dalam Keluarga Terhadap Sikap Kedisiplinan Masyarakat Melaksanakan Protokol Kesehatan Pada Masa New Normal Umi Nafiatul Udkhiyah; Joyo Nur Suryanto Gono
Interaksi Online Vol 9, No 3: Juli 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between exposure to Anji's controversial statement regarding COVID-19 on social media and interpersonal communication in the family with community discipline in implementing health protocols. This study uses quantitative research methods with an explanatory approach. The data collection technique used non-probability sampling with a sample of 50 respondents. The theory used is Information Integration Theory and Pragmatic Theory of Communication. Hypothesis testing uses Kendall's analysis and the results of hypothesis testing show a significance value for the variable. The exposure to Anji's statementregarding COVID-19 is 0.917 and the correlation coefficient is 0.01, so it means that there is no relationship between Anji's controversial statement exposure (X1) and the disciplined attitude of the community in implementing health protocols (Y) and the correlation is very low. While the results of hypothesis testing for interpersonal communication variables in the family show a significance value of 0.037 and a correlation coefficient of 0.228, so that it means that there is a relationship between interpersonal communication in the family (X2) and community discipline in implementing health protocols (Y) and the correlation is low.
PENGARUH FREKUENSI AKSES BBM, PATH, FACEBOOK TERHADAP INTENSITAS KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI Dinda Dwimanda Wahyuningtias; Agus Naryoso; Sri Budi Lestari; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.56 KB)

Abstract

Komunikasi menjadi hal yang tidak dapat dihindari selama kita melakukan aktivitas.Semakin seringnya seseorang berkomunikasi informasi yang dipertukarkan semakin dalam dan luas.Tingginya frekuensi komunikasi melalui alat komunikasi yang disebabkan banyak faktor menjadikan orang lebih sering bertukar informasi melalui aplikasi yang tersedia, terlebih lagi kecanggihan teknologi membuat aplikasi komunikasi semakin baik hanya dengan memiliki smartphone sudah tersedia aplikasi seperti BBM, Path dan Facebook yang dijadikan sebagai media untuk bertukar cerita maupun informasi yang bersifat formal.Penelitian ini menggunakan teori CMC (Computer Mediated Communication) teori dimana program-program suatu aplikasi yang dapat menghubungkan dua orang atau lebih dengan suatu jaringan komputer atau format komputer di berbeda tempat. Sedangkan menurut Fulk dan Collins teori Computer Mediated Communication adalah teori yang dimaksudkan bukan tentang bagaimana dua atau lebih mesin saling berhubungan atau berinteraksi tetapi bagaimana dua atau lebih manusia bisa saling berubungan atau berinteraksi dengan dibantu menggunakan alat komputer pada program aplikasi tertentu yang tersedia pada komputer (Fulk dan Collins, 2001). Computer Mediated Communication juga melihat dan mempelajari cara membentuk kepribadian seseorang dengan pertukaran informasi melalui komputer khususnya pada jaringan internet pada komputer. Computer Mediated Communication memberikan dampak sosial kepada manusia. Rice dan Gattiker (2001) menyatakan bahwa Computer Mediated Communication berbeda dari komunikasi tatap muka. Computer Mediated Communication membatasi tingkat interaksi yang bisa menyebabkan penurunan aktifitas. Computer Mediated Communication dapat mengatasi masalah waktu dan keberadaan. Secara keseluruhan penggunaan Computer Mediated Communication menghasilkan beberapa perbedaan dalam komunikasi tatap muka yang dalam hal ini menjelaskan mengenai frekuensi tingginya orang menggunakan aplikasi BBM, Path, Facebook sehingga mengurangi intensitas komunikasi antar pribadi pada mahasiswa perantau yang ada di Semarang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 orang.Analisis yang digunakan adalah korelasi kendalls dengan spss. Hasil uji hipotesis pertama menunjukan bahwa variabel frekuensi akses BBM berpengaruh terhadap variabel intensitas komunikasi antar pribadi dan signifikan (sig.= 0,000) dengan koefisien korelasi -,509. Hasil uji hipotesis kedua menunjukan bahwa variabel frekuensi akses Path berpengaruh terhadap variabel intensitas komunikasi antar pribadi dan signifikan (sig.=0,000) dengan koefisien korelasi -,403. Dan hasil uji hipotesis ketiga menunjukan bahwa variabel frekuensi akses Facebook berpengaruh terhadap variabel intensitas komunikasi antar pribadi dan signifikan (sig.= 0,000) dengan koefisien korelasi -,536.Saran yang diberikan penelitian ini adalah menjadikan aplikasi media sosial seperti BBM, Path dan Facebook sebagai media komunikasi dengan menjaga intensitas komunikasi antar pribadi terutama komunikasi pribadi tatap muka agar mampu menghasilkan kualitas komunikasi yang jauh lebih baik.
Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam Tayangan Mata Lelaki Rindhianti Novita Sari; Joyo Noer Suryanto Gono; Triono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.606 KB)

Abstract

Nama : Rindhianti Novita SariNIM : D2C009009Judul : Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuandalam Tayangan Mata LelakiABSTRAKProgram acara televisi yang menonjolkan kesensualan perempuan sebagai dayatarik utamanya, menjadi ajang bisnis bagi pekerja media untuk meraup untungsebesar-besarnya. Kata “pengetahuan” dan “hiburan” dijadikan alasan dalampenyajian tayangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana interpretasi khalayak pria terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para penonton programacara Mata Lelaki menggunakan materi acara tersebut sebagai rujukanpembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Teori yang digunakan yaitu encodingdecoding(Stuart Hall, 1980), everyday life (David Chaney, 2002), dan teorinormatif (McQuail,1987). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif denganpendekatan resepsi dan dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknikpengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepadaempat informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni khalayak pria yang aktifatau pernah aktif menonton tayangan Mata Lelaki.Hasil penelitian ini menunjukkan khalayak menganggap bahwa tayangan MataLelaki merupakan sebuah tayangan yang menghibur, yang berorientasi padaseksualitas. Selain itu, ada pula keberagaman pendapat mengenai eksploitasisensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikan dalam tayanganMata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan StandarProgram Siaran (P3SPS) yang ditetapkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan, sehingga bisadijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atau selingan ketika waktu sela ditengah-tengah kesibukan bekerja. Tayangan Mata Lelaki digunakan sebagairujukan pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun hal tersebut tidakdilakukan oleh semua khalayak. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayakmengetahui adanya istilah khusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Namun, meskipun hampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelakisebagai bahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta mertamenggunakan istilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraansehari-harinya.Kata kunci: Sensualitas perempuan, everyday life, tayangan malam Indonesia.ABSTRACTTelevision programs that highlight the sensuality of women as the main attraction,also become a business event for media workers to reap maximum profit. Theword "knowledge" and "entertainment" as a reason in the presentation of theshow. The purpose of this study was to determine how the public interpretation ofthe figure of a man in a women's show Mata Lelaki. In addition, to know how toprogram the audience the show Mata Lelaki using the event as a referencematerial talks in everyday life. The theory used is encoding-decoding (Stuart Hall,1980), everyday life (David Chaney, 2002), and normative theory (McQuail,1987). This type of research is a qualitative descriptive approach was associatedwith the reception and analysis of the political economy of media. Data wascollected using in-depth interviews to four informants who had been chosen bythe researchers.The results showed that the audience assumes impressions Mata Lelaki is anentertaining show, which is oriented towards sexuality. In addition, there is also adiversity of opinion regarding the exploitation of sensuality and women's bodiesare used in the show Mata Lelaki. Overall the audience agreed that what ispresented in the Mata Lelaki impressions are in accordance with the BroadcastingCode of Conduct and Broadcasting Program Standards (P3SPS) established by theIndonesian Broadcasting Commission (KPI). In this sense impressions MataLelaki is considered as a lightweight material, so that it can be used in the contextof the conversation everyday or distraction joking in the spare time in the middleof busy work. Impressions Mata Lelaki is used as a reference in the conversationof everyday life, even if it is not done by all audiences.This study shows that theaudience aware of any specific terms used in the show Mata Lelaki. However,although almost all informants using impressions Mata Lelaki as a day-to-dayconversation, they do not necessarily use the term contained in these show intoeveryday conversation.Keywords: Sensuality women, everyday life, evening shows in Indonesia.Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam TayanganMata LelakiSummary SkripsiPenyusunPENDAHULUANMenayangkan materi bermuatan seksualitas di media massa, memangmemiliki tujuan yang jelas dan hampir selalu disadari oleh pengelola media, yaituuntuk menarik perhatian pembaca, pendengar, atau penonton untuk membaca,mendengar, dan menonton materi tersebut. Jika perhatian khalayak telah berhasildirebut, hal ini selanjutnya dapat dijual ke pengiklan, yang artinya membawakeuntungan ekonomis bagi organisasi media. Jadi, memang tidak dapat dipungkiribahwa seks dan semua bentuk serta penggambarannya (yang memiliki unsurkenikmatan) akan selalu membangkitkan rasa ingin tahu khalayak dan juga dapatmembangkitkan fantasi pada khalayak tertentu. Salah satu isu utama dalam studipenonton menyangkut hubungan antara produser, teks, dan penonton. Dalambanyak persamaan ini adalah tentang keseimbangan kekuatan yakni menilaisejauh mana khalayak dipengaruhi dan terpengaruh oleh teks media (Rayner,Wall, dan Kruger, 2004: 96).Program tayangan televisi Indonesia yang sengaja disajikan pada tengahmalam seringkali mengusung tema seksualitas. Perempuan yang ditampilkanselalu menggunakan busana mini yang ditujukan agar penonton yangmenyaksikan tayangan tersebut semakin terbelalak, terutama pada kaum lelaki.Hal ini tidak terlepas dari adanya komodifikasi dari pihak-pihak tertentu yangmemiliki kepentingan untuk memperoleh keuntungan secara materi. John Dovey(dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 126) berpendapat bahwa kita hidupdalam masyarakat pengakuan dan menggambarkan fenomena genre baru televisisebagai 'media orang pertama' di mana subjektivitas, personal, dan intim menjadiprioritas. Mata lelaki seringkali dibuat terbelalak manakala menyaksikan kamerayang menelusuri tubuh perempuan dari ujung kaki hingga ujung rambut, ditambahpula si perempuan yang dengan sengaja melekukkan tubuhnya agar terlihat lebihsensual dan menarik hasrat kaum lelaki.Perempuan yang kemudian dijadikan objek untuk dieksploitasi seakanakanpasif dan menerima saja atas perlakuan pihak-pihak yang berkepentingan.Dalam hal ini perlindungan hak-hak perempuan justru dikesampingkan danmengutamakan profit yang akan didapatkan pihak media. Perempuan dijadikankonsumsi khalayak dan dipandang sebagai makhluk yang lemah, sebagaikeindahan yang dinikmati oleh barbagai khalayak yang berbeda-beda, dan darilatar belakang yang berbeda pula.Dari uraian di atas, serta mengingat bahwa penelitian ini ingin mengupasruang pemaknaan, maka peneliti ingin melihat bagaimana pemaknaan khalayakterhadap sosok perempuan dalam tayangan Mata Lelaki berkaitan dengan gayahidup masyarakat di era modern saat ini. Selanjutnya masalah yang diteliti dalampenelitian ini dirumuskan ke dalam pertanyaan sebagai berikut:1. Bagaimana interpretasi lelaki terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki?2. Bagaimana para penonton program acara Mata Lelaki menggunakanmateri acara tersebut sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari?ISIPenelitian ini merupakan kajian interpretatif atas content media berupateks, yang merupakan kombinasi tanda-tanda yang berupa tanda visual dan audio,dengan analisis yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif memerlukanketerlibatan yang lebih mendalam dengan penonton itu sendiri. Ini termasukteknik seperti wawancara dalam rangka untuk sampai pada kesimpulan tentangperilaku penonton dalam kaitannya dengan konsumsi media (Rayner, Wall danKruger, 2004: 96).Jika dikaitkan dengan tema tersebut, penelitian ini menggunakanparadigma interpretatif untuk melakukan interpretasi dan memahami alasan darisubyek penelitian terhadap tindakan sosial yang mereka lakukan, yaitu bagaimanamereka mengonstruksikan kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah tayangantelevisi Mata Lelaki dan memberikan makna dari tayangan tersebut. Penelitian inimenggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus mengenaikhalayak. Dalam hal ini khalayak adalah sebagai penghasil makna, bukan hanyapengonsumsi media semata. Tujuan resepsi secara umum adalah untukmenemukan bagaimana khalayak dengan konteks sosial dan latar belakang yangberbeda membuat bermacam-macam pengertian mengenai teks media.Televisi merupakan salah satu bentuk komunikator massa, di mana dalamhal ini khalayak adalah sebagai komunikan. Proses komunikasi massa padahakekatnya merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang berarti(mengandung arti atau makna) yang dilakukan melalui saluran-saluran (chanel),biasanya dikenal dengan media cetak, media auditif (radio), media visual (gambar,lukisan), atau media audio visual seperti televisi dan film.Dalam hal ini hubungan antara media dan khalayak dijelaskan Stuart Halldalam model encoding dan decoding. Encoding, yang merupakan domain dariproduser, dan decoding domain dari penonton. Proses mengkomunikasikan pesanmensyaratkan bahwa dikodekan sedemikian rupa sehingga penerima pesanmampu untuk memecahkan kode itu (Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 97).Misalnya, pesan televisual dikodekan melalui penggunaan teknologi kamera,ditransmisikan sebagai sinyal dan kemudian diterjemahkan dengan menggunakantelevisi, kemudian khalayak memberikan pemaknaan atas tanda-tanda dan pesanyang disampaikan oleh media. Dalam hal ini pesan yang disampaikan oleh mediakepada khalayak mengandung sebuah ideologi. Sebagai salah satu media massa,televisi membawa ideologi-ideologi tertentu yang berusaha ditanamkan kepadakhalayak melalui teks. Model encoding dan decoding yang diajukan oleh StuartHall dan David Morley berpusat pada gagasan bahwa penonton bervariasi dalamrespon mereka terhadap pesan media. Hal ini karena khalayak dipengaruhi olehposisi sosial mereka, jenis kelamin, usia, etnis, pekerjaan, pengalaman dankeyakinan serta di mana mereka berada dan apa yang mereka lakukan ketikamereka menerima pesan.Dalam perspektif active audience khalayak dipandang sebagai penciptamakna yang aktif. Khalayak Mata Lelaki adalah khalayak yang aktif. Merekatidak langsung secara mentah-mentah menerima apa yang mereka tonton dalamsebuah tayangan televisi. Khalayak merupakan penerima pesan dan pengolahinformasi. Ien Ang menyebutkan bahwa khalayak media bukanlah sebagai“masses” yaitu sekumpulan orang anonym dan pasif yang tidak beridentitas.Bukan pula sebagai “market” yang menjadi target industri media. Namunkhalayak media aktif dalam menggunakan, menginterpretasikan dan menikmatiproduk media. (Ang, dalam Downing, Mohammad, dan Sreberny Mohammad,1990 : 165). Dalam pelaksanaannya, mereka seakan terlihat pasif dan hanya diamketika menonton sebuah tayangan televisi, namun pada kenyatannya banyak halyang sedang berlangsung dalam pikiran mereka (Burton, 2008: 222). Selain itukhalayak menginterpretasikan teks media dengan cara mereka sendiri dandihubungkan dengan keadaan sosial dan budaya mereka serta pengalaman pribadimereka (Ang dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds],1990: 160).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakankhalayak yang masih aktif menonton tayangan Mata Lelaki, dan pernah aktifmenonton tayangan tersebut. Keempat informan memiliki tingkat pendidikan danlingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara informan menyampaikaninterpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Mata Lelaki.Khalayak yang dalam hal ini merupakan penghasil makna, memaknai tayanganMata Lelaki secara beragam, karena teks yang berbeda dapat menghasilkanpemaknaan yang beragam.Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagaiberikut:1. Khalayak menganggap bahwa tayangan Mata Lelaki merupakan sebuahtayangan yang menghibur, yang berorientasi pada seksualitas. Meskipundemikian, ada pula anggapan bahwa perempuan yang tampil sensual danterbuka dalam media merupakan hal yang tidak wajar. Adapun yangmengatakan hal tersebut sebagai suatu kewajaran, yakni karena melihatdari pers yang ada di Indonesia. Bahwa pers di Indonesia sudah terbukadan bebas, sehingga hal tersebut merupakan konsekuensi yang harusditerima oleh kita sendiri dari kebebasan pers yang kita anut.2. Penelitian ini menunjukkan adanya keberagaman pendapat mengenaiekploitasi sensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalamtayangan Mata Lelaki. Ada pendapat tidak setuju, dengan alasan haltersebut sama saja merendahkan derajat kaum perempuan. Namun adapula pendapat yang setuju mengenai hal tersebut, dikarenakan apa yangditampilkan dalam tayangan Mata Lelaki tidak sekadar seksualitas saja.Tetapi juga ada informasi baru yang diberikan kepada penonton. Meskipundemikian, secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikandalam tayangan Mata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman PerilakuPenyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang ditetapkan olehKomisi Penyiaran Indonesia (KPI).3. Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan,sehingga bisa dijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atauselingan ketika waktu sela di tengah-tengah kesibukan bekerja. TayanganMata Lelaki digunakan sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari, meskipun hal tersebut tidak dilakukan oleh semua khalayak.4. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak mengetahui adanya istilahkhusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki. Namun, meskipunhampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelaki sebagaibahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta merta menggunakanistilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraan sehariharinya.PENUTUPMedia televisi melalui tayangan Mata Lelaki yang disajikan memangbertujuan untuk mengarahkan khalayak ke arah pembacaan yang diinginkan.Makna dominan (preferred reading) dalam sebuah tayangan selalu tersirat denganjelas, dalam hal ini bagaimana produser ingin menuntun khalayak kepadapemaknaan yang sesuai dengan kode-kode dominan tersebut. Dalam hal ini MataLelaki sebagai tayangan malam mempertontonkan kesensualan perempuan,dengan menggunakan busana yang sangat minim dan terlihat pada bagian dadanyadiharapkan dapat menjadi sebuah hiburan bagi khalayak yang menonton. Selainitu, tayangan ini juga menekankan pada sisi informatif untuk memberikanpengetahuan baru bagi khalayaknya seputar dunia malam dan seksualitas.Sosok perempuan dalam media hingga saat ini masih sering digambarkansebagai penarik perhatian. Tayangan televisi sebagai salah satu industri budayaseringkali menggunakan tubuh perempuan lengkap dengan segala“keperempuanannya” sebagai daya tarik yang paling utama. Tubuh perempuandieksploitasi dengan penonjolan pada bagian-bagian tubuhnya yang mampumenimbulkan kesan sensual seperti paha, payudara, rambut yang tergerai, bibir,atau tubuh yang sensusal secara utuh. Hal tersebut masih saja selalu terjadi karenadianggap mampu menaikkan rating program televisi mereka yakni sebagaipekerja media. Meskipun sering mendapat teguran keras dari KPI karenamenyajikan bagian-bagian intim tubuh perempuan seperti belahan dada dan paha.Para pekerja media hanya memikirkan keuntungan untuk mereka sendiri dan tidakpeduli apakah hal tersebut melanggar P3SPS yang sudah ditetapkan KPI. Itulahmengapa tayangan hiburan malam yang berorientasi pada seksualitas masih sajadiproduksi.Peran dari Pedoman Perilaku Penyiaran (P3SPS) terlihat masih sangatlemah. Hal tersebut dapat dilihat dari interpretasi informan yang secarakeseluruhan dari mereka mengatakan tayangan Mata Lelaki sudah sesuai denganP3SPS, karena sudah dilakukan sensor di dalamnya. Padahal jika kita lebihcermat, dalam tayangan tersebut dilakukan sensor hanya untuk melindungiidentitas narasumber yang dirahasiakan. Sedangkan untuk adegan yangmemperlihatkan bagian intim tubuh perempuan, seperti paha, belahan dada, danperut justru sama sekali tidak tersentuh sensor. Dari sini dapat dilihat bahwa perandari P3SPS masih sangat lemah. Selain itu, media seakan-akan masih bebasmelakukan apa pun demi mendapatkan keuntungan. Media sangat cerdas dalammemainkan perannya dan bersembunyi di balik kata sensor yang sudah merekalakukan, meskipun sensor tersebut tidak tepat dalam penggunaannya.Khalayak diharapkan lebih cermat mengkritisi tayangan malam yangdisuguhkan oleh pekerja media yang banyak mengeksploitasi tubuh perempuandan lebih mampu berperan sebagai khalayak aktif dalam menerima pesan yangdisampaikan oleh media.Penelitian terhadap tayangan Mata Lelaki yang mengeksploitasi tubuhperempuan yang menggunakan analisis resepsi, ini diharapkan dapat menjadireferensi untuk penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan berbagai teori danpendekatan lainnya yang sesuai, untuk mengkritisi tayangan-tayangan televisiyang ada di Indonesia sesuai perkembangannya.DAFTAR PUSTAKABurton, Graeme. 2000. Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaStudi Televisi. (Terj.) Bandung: JalasutraDowning, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990.Questioning The Media a Critical Introduction. USA: Sage PublicationRayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssentian Resource. London: Routledge
Persepsi Khalayak tentang Aksi Demonstrasi FPI di Surat Kabar Suara Merdeka Anike Puspita Yunita; Joyo NS Gono; Lintang Ratri Rahmiaji; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.563 KB)

Abstract

Pascareformasi, demonstrasi marak terjadi di berbagai daerah di tanah air.Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh anggota Front Pembela Islam (FPI)rupanya memiliki daya tarik tersendiri bagi media massa untuk mengangkatnyamenjadi berita. Suara Merdeka merupakan salah satu media cetak yang menulisdemonstrasi FPI dalam pemberitaannya. Akan tetapi, Suara Merdekamengidentikkan demonstrasi yang dilakukan oleh anggota FPI dengan tindakananarkis dan selalu berujung dengan bentrokan pada berita yang dihasilkannya.Kata-kata bentrokan, kericuhan, keributan, perusakan, dan kemacetan hampirselalu ada dalam berita demonstrasi FPI di Suara Merdeka.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana persepsikhalayak tentang aksi demonstrasi FPI di surat kabar Suara Merdeka. Tipepenelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi.Dalam analisis resepsi, khalayak dipandang sebagai produser makna, tidak hanyamenjadi konsumen media. Khalayak akan menerima berita demonstrasi FPI yangdibacanya sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan pengetahuan mereka.Penelitian ini juga menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall, untukmenjelaskan jalannya proses encoding dan decoding berita-berita aksi demonstrasiFPI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa khalayak aktif dalammenginterpretasi berita demonstrasi FPI yang diterimanya. Interpretasi khalayakterbagi dalam tiga posisi pemaknaan: dominant-hegemonic position, negotiatedposition, dan oppositional position. Khalayak yang masuk dalam dominanthegemonicposition, memaknai demonstrasi FPI identik dengan tindakan anarkisdi dalamnya. Khalayak tersebut memaknai demonstrasi FPI sesuai dengan maknadominan yang dihadirkan Suara Merdeka. Sementara khalayak dengan negotiatedposition, akan menerima makna dominan yang ada, tetapi mereka memilikipemaknaan alternatif dimana ada campur tangan pihak lain atau pemerintah dalamdemonstrasi FPI. Kemudian tidak ada khalayak yang berada pada posisi oposisi.Hal ini dilihat dari kecenderungan pemberitaan yang seragam.Temuan lain dari penelitian ini yaitu tidak ada korelasi antara perbedaanagama dengan pemaknaan khalayak terhadap berita aksi demonstrasi FPI.
Pengaruh Terpaan Berita Kriminal Dan Faktor Demografi Terhadap Tingkat Kecemasan Masyarakat Untuk Berinteraksi Dengan Lingkungan Arinda Putri Oktaviani; Adi Nugroho; Joyo NS Gono; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.815 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan berita kriminal di televisi dan faktor demografi terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji faktor demografi yang memediasi terpaan berita kriminal di televisi dan tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan.Penulis menggunakan Teori Depedensi Mengenai Efek Komunikasi Massa dan Teori Kategori Sosial untuk menjelaskan pengaruh terpaan berita kriminal di televisi dan faktor demografi terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan. Populasi penelitian ini adalah khalayak yang berdomisili di Semarang dan menonton berita kriminal di televisi, yang diambil sebanyak 60 orang, dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan Analisis Regresi Hirarki Berganda. Uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan berita kriminal di televisi terhadap variabel tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan adalah 0.011, sehingga terdapat pengaruh langsung terpaan berita kriminal di televisi terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan. Kemudian, nilai signifikansi variabel terpaan berita kriminal di televisi melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan adalah 0.000, 0.001, 0.000, 0.008 nilai signifikansi < 0.05, sehingga terpaan berita kriminal di televisi berpengaruh terhadap tingkat kecemasan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.
Hubungan Antara Kualitas Komunikasi Dokter-Pasien dan Tingkat Pendidikan Pasien dengan Loyalitas Pasien. Septiana Wulandari Suparyo; Joyo NS Gono; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.694 KB)

Abstract

Masih banyaknya pasien yang mengeluhkan buruknya komunikasi dari dokter kepada pasien menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Komunikasi yang buruk itu seperti dokter yang bersikap tidak ramah, atau komunikasi dimana terdapat kesenjangan kedudukan antara dokter dan pasien. Komunikasi dokter-pasien yang buruk tersebut mengakibatkan pasien berpindah dokter atau pasien tidak loyal. Tingkat pendidikan juga menjadi variabel penting dalam hubungan ini karena tingkat pendidikan ikut memengaruhi sikap pasien.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas komunikasi dokter-pasien dengan loyalitas pasien dan hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan loyalitas pasien. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling dengan responden berjumlah 40 orang. Penelitian ini menggunakan metode statistik korelasi Kendall’s tau-b sebagai alat uji hipotesis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif tetapi lemah antara kualitas komunikasi dokter-pasien dengan loyalitas pasien dan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan loyalitas pasien. Pada setiap tingkat pendidikan pasien, loyalitas pasien adalah tinggi. Kualitas komunikasi dokter pasien dan loyalitas pasien dalam penelitian ini masuk ke dalam kategori sangat tinggi.Disarankan kepada dokter pada praktik dokter umum untu meningkatkan lagi komunikasi antara dokter dengan pasien terutama pada saat melibatkan pasien ketika mengambil keputusan mengenai pengobatan yang diberikan atau dijalankan.
Pemeliharaan Komitmen pada Pasangan Pernikahan Dini Kurnia Primareta; Joyo Nur Suryanto Gono
Interaksi Online Vol 9, No 4: Oktober 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study sees that early marriage is still prevalent in Indonesia with various backgrounds, even though early marriage has many risks such as domestic violence or divorce caused by differences in forms of communication between husband and wife that cannot be managed due to immature age or other things. Others, leading to divorce. The purpose of this study is to analyze the management of the communication process between married couples in early marriage, when there are contradictions in the different forms of communication that occur in everyday household life with the aim of maintaining and maintaining the commitments that have been built. This research is a descriptive study using relational dialectical theory, commitment theory, and naturalistic paradigm. The data collection technique used by the researcher is indepth interviews. The results of the study prove that early marriage couples who marry with various backgrounds experience relational dialectical contradictions due to different forms of communication. The three pairs experience three main contradictions in relational dialectics, namely integration and separation, stability and change, and expression and non-expression. In managing different forms of communication, the three early married couples feel that age affects them to overcome prestige, influences to listen to their partner's opinions and requires the intervention of others. However, this can be done by taking a special time that is fun so that the couple can express their feelings to each other and understand each other in a relaxed atmosphere.
Meaning lyrics Slank As Media Communication Social Criticism Adydhatya Della Pahlevi; Drs. Joyo Nur Suryanto Gono, M.Si
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.087 KB)

Abstract

Music is used as a medium to convey the aspirations of social, political, and even become one of the media propaganda (information / opinions) to launch an ideological movement (idea / ideas). The lyrics is one of verbal communication media that have meaning in it. Research on the band Slank song "Gossip Streets" is a study that aims to describe the concept of the "Mafia" in the lyrics of the song and to explain the meaning of social criticism depicted. The paradigm used in this study is a critical paradigm. The theory used is the standpoint theory that provides a framework for understanding the power system. Another theory is the Critical Theory to understand the conditions that limit ratio (common sense). This research method is qualitative method in which data is interpreted (the view) through the analysis of the meaning of words written or oral form are observed. The analysis used in this research is the analysis of semiotics by Roland Barthes. Based on a study of "mafia" in the lyrics gossip streets, there is a conclusion that the mafia is described as having the properties wanted power and money have the power to set a lot of things to be achieved. In addition, the "mafia" also dare take action in the form of physical or unlawful behavior as an act of violence (hitting / slapping) and pay bribes to authorities by providing some money.
Hubungan Terpaan Iklan Yamaha YZF R25 Dan Citra Merek Terhadap Minat Beli Otto Fauzie Haloho; Joyo NS Gono; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.812 KB)

Abstract

Dalam bersaing dengan kompetitor, YIMM selaku produsen resmi Yamaha Indonesia menggunakan berbagai jenis marketing komunikasi untuk mempromosikan dan mengkomunikasikan produk terbarunya kepada konsumen. Salah satunya adalah dengan iklan televisi (TVC). YIMM memiliki banyak iklan TVC dari berbagai produknya, salah satunya ialah iklan Yamaha R25 dimana, YIMM menggaet pembalap MotoGP, Valentino Rossi untuk mempromosikan produk ini. Selain iklan televisi, citra merek juga memiliki peranan penting dalam promosi sebuah produk baru. Iklan dan citra merek itu memiliki hubungan yang sejajar. Apabila pesan – pesan dan informasi dalam iklan dapat diterima dengan baik oleh konsumen.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan televisi Yamaha YZF R25 dan citra merek terhadap minat beli.. Dasar pemikiran yang digunakan adalah Cognitive Respons Theory. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatori. Penelitian ini menggunakan teknik non random sampling dengan metode accidental sampling sebagai alat untuk menentukan sampel. Jumlah sampel sebanyak 50 responden dengan usia 18-27 tahun. Analisis data yang digunakan adalah korelasi kendall dengan bantuan SPSS 17.Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa variabel terpaan iklan televisi Yamaha YZF R25 tidak memiliki hubungan dengan citra merek. Selanjutnya, hasil uji hipotesis kedua menunjukkan bahwa variabel citra merek memiliki hubungan yang signifikan dengan minat beli, dimana nilai signifikasinsinya 0,018 dan nilai koefisien korelasi kendall sebesar 0,273. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah antara citra merek dengan minat beli.Saran yang dapat diberikan adalah seharusnya YIMM sebagai produsen Yamaha di Indonesia memilih konsep yang lebih sederhana dalam membuat alur cerita iklan. Sehingga iklan mudah dimengerti oleh konsumen. Dan YIMM harus lebih bekerja keras lagi dalam mempertahankan citra merek yang sudah terbangun.
Co-Authors Abigail Betsy Eliasta Roos Abilangga . Adi Anggoro, Indra Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adydhatya Della Pahlevi Agus Naryoso Ahmad Firdaus Faza Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Akbar, Bintang Alya Anwar, Rizqika Amanda Meipuspa Nusa Ambar Rakhmawati Anastasia Betsy Palupi Andhika Putra Nugraha Anggita Muti Arani Zulaikho Anike Puspita Yunita Aqila Nur Iswahyudi, Shima Ardani, Fransisca Arif Andhika, Wisnu Arifa Rachma Febriyani Arinda Putri Oktaviani Arma Ngabeti Asri Bryllianissa, Fadhilla Asty Setiandini Ayu Nabilla, Ayu Azalea Puspa Sessarina Bagas Satria Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Beta Himawan Putra, Beta Himawan Burhanudin Ilham Wibawa, Muhammmad Cokky _ Desy Kurniasari Dinda Dwimanda Wahyuningtias Djoko Setyabudi Dody Pradana Eryanto Elisabeth Putri Widasari Faradila, Sabna Fauzi, Aldi Fetiyana Luthfi Prihandini Feyza Syifa Ashila Fitriani Sholekha, Hillda Fitriyani, Putri Frieda Isyana Putri Gibran, Alvien Gofita Dharana Zenaislamey Novadhiyavast Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hayu Pratiwi Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hidayat Putra, Syahida Alam Gitanjali Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilman Mursid Andaru Irfan Zuldi Jan Khairuzzaman, Alief Khansa Faadilah Krisan Putri, Florentina Kurnia Primareta Langgeng Irma Salugiasih Lintang Ratri Rahmiaji Lovegi David Sanjaya, Lovegi David M Bayu Widagdo M Yulianto Madani, Ndaru Maharani Harris, Marsya Mateus Sianturi, Primus Miratus Sholekhah, Ana Much Yulianto Much Yulianto M.Si Much Yulianto M.Si, Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Aldien Priambodo Muhammad Raditya Dwi Adhyatma Muhammad Wahyu Rizki Waskita Nadia Hutaminingtyas Naufal Farid Jayendar Nicolas Handoko Raharjo, Nicolas Handoko Nisa Bela Dina, Nisa Bela Nur Shafira, Hana Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Octaviani, Averina Oithona Gracelia R. Hutabarat, Oithona Gracelia R. Otto Fauzie Haloho Pinondang Caroline, Andrea Primada Qurrota Ayun R. Milwanda Nadika S. Rachma Fitriani, Areta Radinda N Harahap Razan Fathantra, Ryan Renata Alma Ratu Nabila Reza Andriana Dewanti Ribka Minatisari Sekeon Rimadhani Putri Budiana Rindhianti Novita Sari Rizky Kusnianto Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Septiana Wulandari Suparyo Siti Hawa . Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Susi Santiaji Swasti Kirana Putri, Swasti Kirana Syafiq Muhammad Qualitoaji Tandiyo Pradekso Tandiyo Pradekso Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Triono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Umi Nafiatul Udkhiyah Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Widya K. Siahaan Wimala Wimardana Wiwid Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yolanda Christin, Urimiana Yosua, Christian Yuanisa Meistha Yunisa Wirastanti, Tiara Zakira, Tuhfah