Background: Maxillofacial trauma is an injury to the soft or hard tissues of the upper, middle and lower face, commonly caused by traffic accidents, falls, sports and violence. Immediate treatment is required to reduce morbidity and mortality. RSUD Ulin Banjarmasin receives many patients with maxillofacial trauma, but no studies have focused on the prevalence of maxillofacial trauma to the middle and lower third of the face. Objective: To determine the prevalence of maxillofacial trauma in the middle and lower thirds of the face at Ulin Hospital Banjarmasin during 2019-2023. Methods: This study is a descriptive observational study with a cross sectional approach, using secondary data from medical records of maxillofacial trauma patients and using a total sampling technique. Results: The results showed that cases of maxillofacial trauma at Ulin Banjarmasin Hospital in the 2019-2023 period amounted to 70 cases, with the most cases in 2022 (32.9%) caused by traffic accidents (70%). The highest prevalence occurred in the adult age group of 26-45 years (41.4%) and occurred in men (65.7%). The most common trauma to the facial hard tissues (65.7%) was mandibular fracture (45.7%) with the most commonly used management being Open Reduction Internal Fixation (40%). Conclusion: The most common incidence of maxillofacial trauma in 2022 was caused by traffic accidents. This trauma is most common in adults aged 26-45 years, especially in males. Maxillofacial trauma often occurs in the hard tissues of the face, namely mandibular fractures, which are treated with Open Reduction Internal Fixation (ORIF). ABSTRAKLatar Belakang: Trauma maksilofasial adalah cedera pada jaringan lunak ataupun keras wajah pada bagian atas, tengah dan bawah, umumnya diesebabkan karena kecelakaan lalu lintas, terjatuh, olahraga, dan kekerasan. Penanganan segera diperlukan untuk menekan morbiditas dan mortalitas. RSUD Ulin Banjarmasin menangani sejumlah besar pasien dengan trauma maksilofasial; namun, belum ada penelitian yang berfokus pada prevalensi trauma maksilofasial pada sepertiga tengah dan bawah wajah. Tujuan: Mengetahui prevalensi trauma maksilofasial pada sepertiga tengah dan bawah wajah di RSUD Ulin Banjarmasin periode 2019-2023. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien trauma maksilofasial dan menggunakan teknik total sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus trauma maksilofasial di RSUD Ulin Banjarmasin periode 2019-2023 berjumlah 70 kasus, dengan jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun 2022 (32,9%) yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (70%). Prevalensi tertinggi terjadi pada kelompok usia dewasa yaitu 26-45 tahun (41,4%) dan terjadi pada laki-laki (65,7%). Trauma paling banyak terjadi pada jaringan keras wajah (65,7%) yaitu fraktur mandibula (45,7%) dengan tatalaksana terbanyak adalah Open Reduction Internal Fixation (40%). Kesimpulan: Kejadian trauma maksilofasial paling banyak terjadi pada tahun 2022 yang disebabkan karena kecelakaan lalu lintas. Trauma ini sebagian besar terjadi pada usia dewasa yaitu 26-45 tahun, khususnya pada laki-laki. Trauma maksilofasial sering terjadi pada jaringan keras wajah yaitu fraktur mandibula, ditangani dengan tatalaksana Open Reduction Internal Fixation (ORIF).Kata Kunci: Prevalensi, Rekam medis, RSUD Ulin Banjarmasin, Trauma maksilofasial