Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Distribusi dan Densitas Ikan di Laut Banggai Menggunakan Metode Hidroakustik dan Visualisasi GIS-Dashboard Windra, Alivio; Manik, Henry Munandar; Somantri, Lili
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 16, No 1 (2024): (APRIL) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.16.1.2024.11-22

Abstract

Estimasi stok ikan berupa distribusi dan densitasnya, sangat penting untuk manajemen perikanan tangkap suatu kawasan perairan. Teknologi hidroakustik umumnya digunakan untuk mengestimasi stok ikan secara real time. Pada tahun 2022, BRIN dan IPB melakukan pengukuran data akustik di Laut Banggai sebagai bagian dari "Banggai Upwelling Dynamics Exploration and Experiment" untuk mengestimasi stok ikan. Hasil analisis hidroakustik menunjukkan, total densitas ikan di Laut Banggai adalah 527.914 ikan km-2. Ikan berukuran sangat kecil (< 12 cm) memiliki densitas tertinggi yakni 292.471 ikan km-2, sedangkan ikan berukuran kecil (12 cm - 28 cm) dan berukuran besar (28 cm - 58 cm) masing-masing memiliki densitas 98.472 ikan km-2 dan 124.519 ikan km-2. Ikan berukuran sangat besar (> 58 cm) hanya memiliki densitas 12.452 ikan km-2. Ikan lebih banyak ditemukan di perairan timur Pulau Banggai dan perairan utara Pulau Taliabu. Lapisan epipelagik (0 hingga -200 meter) memiliki potensi terbesar, dengan densitas ikan tertinggi pada kategori ikan berukuran sangat kecil, diikuti oleh ikan berukuran besar dan berukuran kecil. Untuk meringkas hasil analisis distribusi dan densitas ikan, data dan informasi divisualisasikan lewat GIS-Dashboard. Dashboard dapat mengintegrasikan tampilan peta serta grafik, dan menyajikan informasi dengan lebih menarik dan lebih mudah dipahami. Dashboard memberikan gambaran menyeluruh tentang informasi distribusi spasial ikan di Laut Banggai, sehingga penggunaan GIS-Dashboard sangat bermanfaat dalam kegiatan manajemen perikanan.
Pendekatan Akustik Solusi Dampak Polusi Suara Bawah Air Terhadap Biota Alut Manik, Henry M
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 3 No 1 (2021): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0301.162-166

Abstract

Saat ini peningkatan perhatian banyak dilakukan terhadap konsekuensi ekologis terhadap polusi suara bawah air yang diakibatkan aktivitas manusia seperti perhubungan laut menggunakan kapal dan industri maritim seperti eksplorasi minyak dan gas, sistem sonar, pengerukan, dan konstruksi bangunan laut. Dampak aktivitas tersebut berkaitan dengan biota laut, habitat terumbu karang, mamalia laut. Hal ini merupakan isu global yang sangat penting. Paper ini memberikan solusi untuk dapat mendeteksi dan mengkuantifikasi dampak polusi suara terhadap biota laut yang dapat diimplementasikan untuk melindungi biota dan ekosistem laut menggunakan pendekatan teknologi akustik. Paper ini juga memberikan arah dan perencanaan terhadap riset masa depan (frontier) untuk menyediakan data saintifik dan regulasi polusi suara terhadap biota laut.
Urgensi Teknologi Deteksi Bawah Air untuk Pertahanan dan Keamanan Laut Ibu Kota Negara (IKN) Manik, Henry Munandar
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol 4 No 4 (2022): Policy Brief Pertanian, Kelautan dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0404.362-366

Abstract

Pemerintah telah menetapkan UU No. 3 Tahun 2022 tentang pembentukan Ibu Kota Negara (IKN) bernama Nusantara, di mana wilayah IKN bersifat khusus karena setingkat provinsi. IKN sebagai pusat pemerintahan memerlukan pertahanan dan keamanan yang memadai untuk menjalankan fungsinya. Dari sisi pertahanan laut, perlua da pengendalian IKN dengan kekuatan yang besar. Kekuatan ancaman bisa masuk lewat Selat Makassar untuk kapal-kapal sipil dan operasi militer yang melewati selat tersebut. Untuk itu pentingnya teknologi deteksi pengendalian Selat Makassar dalam pengawasan dan pengendalian lalu lintas kapal dan sistem deteksi dini bawah laut untuk mendukung pertahanan dan menopang aktivitas ekonomi.
Karakteristik Proses Pendangkalan Gelombang Soliter Internal di Sisi Utara Perairan Laut Flores Putra, I Wayan Sumardana Eka; Atmadipoera, Agus Saleh; Manik, Henry Munandar; Harsono, Gentio; Purwandana, Adi
Jurnal Kelautan Nasional Vol 19, No 2 (2024): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v19i2.14049

Abstract

Kemunculan Gelombang Soliter Internal (GSI) di Laut Flores sering kali tertangkap oleh citra satelit dengan pusat pembangkitan yang berasal dari Selat Ombai. Namun, belum ada penelitian yang mengungkap secara detail nasib fenomena tersebut sesaat setelah dibangkitan. Karakteristik GSI tersebut diselidiki berdasarkan kemunculannya pada Synthetic Aperture Radar (SAR) dan citra kolom air (Water Coloum Imaging-WCI) peralatan akustik hidrografi (multibeams echosounders-MBES) saat kegiatan Ekspedisi Jala Citra (EJC) 3-2023 di Perairan Flores pada tanggal 25 April 2023. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa dan mengungkapkan nasib perambatan GSI dari Selat Ombai hingga mengalami pendangkalan dan pemecahan di perairan Teluk Bone, Sulawesi. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan data hasil perekaman citra satelit dan peralatan akustik hidrografi (MBES). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Perairan Teluk Bone dikarekteristikan sebagai lokasi propagasi, pendangkalan dan pemecahan yang berasal dari pembangkitan GSI di Selat Ombai. Nilai amplitudo GSI yang mengalamai pendangkalan di Teluk Bone dikarakterisasi berubah menjadi 4-10 kali lebih kecil dari pusat pembangkitan GSI (Selat Ombai) akibat perubahan kedalaman dan memecah akibat menabrak dinding tebing/lereng topografi dasar laut dan diduga berubah menjadi boluses. Karakteritik massa air saat kenampakan GSI di Laut Flores tanggal 25 April 2023 di dominasi oleh massa air Samudera Pasifik yang terbawa oleh Arlindo dari Selat Makassar. Kemunculan GSI juga merubah struktur kolom air yaitu suhu, salinitas dan densitas yang merupakan faktor penting dalam propagasi akustik serta berimplikasi terhadap proses kegiatan maritim di Perairan Indonesia.
KOREKSI MISTIE PADA SEISMIK SINGLE CHANNEL MENGGUNAKAN SINGLE BEAM ECHOSOUNDER DI PERAIRAN BINTAN SELATAN Zahran, Hafizh; Manik, Henry Munandar; Zulfikar, Muhammad; Nurdin, Nazar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 22, No 2 (2024)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.22.2.2024.918

Abstract

Seismik merupakan metode eksplorasi geologi bawah laut dengan menggunakan penjalaran gelombang akustik sehingga dapat menggambarkan bentuk dan lapisan bawah permukaan dasar laut. Pada pengolahan data seismik, penjalaran gelombang yang merambat dari pengirim menuju penerima akan menghasilkan kedalaman yang berbeda dengan kondisi sebenarnya yang ada di lapangan. Perbedaan kedalaman yang terjadi pada jalur lintasan seimik yang berpotongan biasa disebut mistie. Kesalahan mistie pada data seismik jika tidak diperbaiki, akan menghasilkan bentuk stratigrafi yang salah dan kesalahan pada saat interpretasi data seismik. Penelitian bertujuan menganalisis kedalaman dasar laut yang diperoleh dari single beam echosounder (SBES) dan seismik serta perbedaan kedalaman pada dasar laut di jalur seismik yang berpotongan. Data kedalaman yang diperoleh dari single beam echosounder (SBES) dilakukan koreksi pasang surut dan digunakan sebagai data acuan pada seismik. Data kedalaman yang diolah dilakukan interpolasi dengan menggunakan metode kriging. Hasil kedalaman yang diperoleh pada Perairan Bintan dengan menggunakan single beam echosounder (SBES) didapatkan nilai kedalaman berkisar 1 hingga 27 meter dan pengukuran seismik berkisar 4,5 meter hingga 30 meter. Mistie yang terjadi pada tiap jalur lintasan memiliki nilai lebih dari 1,5 meter. Data kedalaman dari single beam echosounder (SBES) yang telah dilakukan koreksi pasang surut dapat mengatasi mistie pada jalur seismik yang berpotongan.
ZOOPLANKTON DISTRIBUTION FROM BACKSCATTER DATA OF ADCP INSTRUMENT IN WEST SUMATRA WATERS Napitupulu, Gandhi; Farihah, Rizqi Ayu; Manik, Henry Munandar; Larasati, Oktavira Dwi Demia; Napitupulu, Moses; Bernawis, Lamona Irmudyawati; Radjawane, Ivonne Milichristi; Kusmanto, Edi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 39, No 2 (2024)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.39.2.2024.871

Abstract

Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) conventionally used to monitor ocean current profiles and potentially detect zooplankton distribution remains largely unexplored. Zooplankton are key consumers in the marine food chain, therefore understanding their distribution is critical. This study aims to map the distribution of zooplankton in West Sumatra waters using ADCP backscatter data. Data analyzed encompass ocean current measurements, backscatter, and conductivity-temperature-depth (CTD) profiles collected from March 1 to 3, 2017. Raw ADCP digital counts were converted into mean volume backscattering strength (MVBS) in dB using sonar equations, proportional to zooplankton biomass. The conversion process involved corrections for sound attenuation due to distance and water absorption, ADCP transducer angle correction, and noise correction. Processing results revealed zooplankton distribution in raw ADCP data ranging from 20 to 160 counts and in MVBS data spanning -140 dB to -40 dB. MVBS values derived from ADCP acoustic signal processing were filtered within the -100 dB to -60 dB range, representing the zooplankton backscatter range. Zooplankton distribution was observed at depths of 0-300 m. Vertical zooplankton distribution was generally high in the 100-200 m layer and decreased at 0-100 m and 200-300 m. This is attributed to the influence of the Equatorial Undercurrent transporting zooplankton biomass from the Indian Ocean to West Sumatra waters at depths of 100-200 m, characterized by high salinity (34.6-35.2 PSU) and cold temperatures (19°-21°C). This study demonstrates the utility of ADCP in observing zooplankton distribution based on their backscatter values and the influence of ocean currents in transporting zooplankton biomass.
Acoustic Sediment Classification Using High-Frequency (400 kHz) Multibeam Data in Pari Water of Seribu Island, Indonesia Handoko, Dadang; Manik, Henry Munandar; Hestirianoto, Totok; Priandana, Karlisa; Hasan, Rozaimi Che
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 30, No 1 (2025): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.30.1.135-144

Abstract

Seafloor classification is essential for understanding sediment distribution, marine habitat characteristics, and resource management. Therefore, this study aimed to classify seafloor sediment in the Pari water, Indonesia using high-frequency (400 kHz) backscatter data obtained through the Multibeam Echosounder T-50P. The Angular Range Analysis (ARA) method was applied to analyze backscatter intensity variations across different incidence angles, to enhance the accuracy of sediment classification in this shallow marine environment. Data acquisition was collected using the T-50P, which captured high-resolution acoustic signals from varying angles to generate angular response curves. Analysis was conducted in the curves were then analyzed to differentiate sediment types, with ground-truth sediment samples collected to validate classification outcomes. The result showed that backscatter intensity mosaic had an intensity range of -27 dB to -37.5 dB. Applying ARA enabled the identification of 12 sediment classes, including sandy silt, coarse silt, and clayey sand. Sediment distribution maps, generated via FMGT and visualized with ArcGIS, indicated a predominance of fine-grained sediments. The FMGT-based classification tended to prioritize finer sediment categories, likely due to the acoustic limitations in detecting granular details. Conversely, the in-situ analysis of 15 sediment samples revealed medium sand as the predominant sediment type, accompanied by smaller proportions of coarse sand and coral fragments. The discrepancies between the in-situ sampling and FMGT results were primarily due to the operational frequency of the MBES system, which limits the acoustic signal's penetration to the surface of the seabed. This highlights the importance of in-situ sampling to complement acoustic data, especially in accurately seabed characterization. 
COMPUTING AND CLASSIFICATION OF ACOUSTIC BACKSCATTER VALUES OF THE BOTTOM SUBSTRATE OF JAKARTA BAY USING MULTIBEAM ECHOSOUNDER Lazuardi, Muhammad Nur Riza; Manik, Henry Munandar; Setiyadi, Johar
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 1 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i1.1383

Abstract

Jakarta Bay is a semi-closed water area with numerous activities that trigger sedimentation, which can disrupt navigation and construction activities in Jakarta Bay. Sediment analysis and classification are useful to provide information on sediment types to support activities and coastal management in Jakarta Bay. The multibeam echosounder is an underwater acoustic research instrument that generates depth data and seabed backscatter with wide coverage and high resolution. The backscatter values are used to determine the type and grain size of sediments through the backscatter values, which function through angular response. This study uses data from the Lattek (Practical Training) Dikspespa Hidros XXI survey conducted by the Naval Technology College (STTAL) in collaboration with the Hydro-Oceanographic Education Center of the Indonesian Navy (Pusdik Hidros TNI-AL). The instruments used include the Teledyne Reson T-50R Multibeam Echosounder and the sediment grab sampler. The acoustic multibeam data were processed using Caris and FMGT software to produce bathymetric profiles and backscatter mosaics at depths ranging from 5 to 9 meters. The backscatter intensity ranges from -40 dB to -27 dB with ten classification categories: clay, silty clay, sandy clay, sandy silt, very fine silt, fine silt, medium silt, coarse silt, sandy mud, and clayey sand. The acoustic data were linked with sediment samples to classify and determine the sediment types. The results of the sediment sample analysis were divided into empat classes based on grain size: coarse clay, coarse silt, fine sand, and very fine sand.
Acoustic target strength measurement of striped goatfish (Upeneus vittatus) Purnawan, Syahrul; Manik, Henry M; Hestirianoto, Totok; Amri, Khairul; Prasetiawan, Agung; Syahrin, Win Alfi; Husal, Siddiq Husaini; Faaris, Said M; Hawari, Aqil
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 14, No 1 (2025): MARCH 2025
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.14.1.44269

Abstract

The Striped Goatfish (Upeneus vittatus) is a demersal species of significant ecological and economic value, particularly for small-scale fisheries in Aceh Province. Accurate biomass estimation and species identification in hydroacoustic surveys rely heavily on precise target strength (TS) reference values. This study aimed to establish reference TS values for U. vittatus by examining the relationship between TS and fish morphology. Specimens collected from northern Aceh waters were measured for total length (TL: 17.328.3 cm) and weight (W, g). TS measurements were conducted using a single-beam echosounder (Simrad EK15) operating at 200 kHz with a pulse duration of 0.16 ms in a controlled water-tank environment. This approach enabled the assessment of TS variability across specimens with different TLs. A robust relationship between TL and weight revealed positive allometric growth (b = 3.2932, R = 0.94) in the study. Furthermore, TS analysis demonstrated a logarithmic increase with TL (R = 0.6459), in alignment with theoretical predictions. These findings contribute to more accurate biomass estimation and support sustainable management strategies for U. vittatus populations in northern Aceh, Indonesia. Future research should encompass a broader range of fish sizes and incorporate additional biological variables to refine TS prediction models further.Keywords:GoatfishAcehLWRTSMullidae
Relationship between water mass characters to Sound velocity profiler (SVP) in the Sulawesi Sea Agustinus, Agustinus; Pranowo, Widodo Setiyo; Manik, Henry Munandar; Rahmatullah, Amri; Aji, Tri
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 12, No 3 (2023): DECEMBER 2023
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.12.3.32296

Abstract

The Sulawesi Sea is the western entry point of the Indonesian throughflow, which brings water masses from the Pacific Ocean. This study aims to describe the relationship between water mass characteristics and Sound Velocity Profiler (SVP) in the Sulawesi Sea based on Marine Copernicus data from 2022 with a depth of up to 500 meters. Temperature and Salinity data were used to obtain water mass types from the Tpot-S diagram based on Emmery's classification and Sound Velocity Profiler (SVP) based on the Medwin empirical equation. The temperature, salinity, and SVP data were visualized using ODV 5.6.2 software. The data processing results have identified several water mass characteristics that are believed to be influenced by the Eastern North Pacific Central Water (ENPCW) water mass type found at depths ranging from 130 to 318 meters, Western North Pacific Central Water (WNPCW) water mass found at depths ranging from 130 to 500 meters, Eastern South Pacific Central Water (ESPCW) water mass found at depths ranging from 92 to 453 meters, and Western South Pacific Central Water (WSPCW) water mass found at depths ranging from 130 to 500 meters. The ENPCW water mass type on average has a smaller difference in SVP values compared to the WNPCW water mass type. Meanwhile, the ESPCW water mass type on average has a greater difference in SVP values compared to the WSPCW water mass type. The results indicate a positive relationship between temperature and SVP, meaning that the higher the temperature, the higher the SVP. However, there is a negative relationship between salinity and SVP, meaning that the higher the salinity, the lower the SVP.Keywords:Water MassTemperatureSalinitySound VelocitySulawesi Sea
Co-Authors . Susilohadi Adhi Kusuma Negara Adi Purwandana Adi Purwandana Aditya P. Sidiq Adrianus, Aldwin Agung D. Syakti Agus Atmadipoera Agustina Sartika Yos Ekaristi Manik Agustinus Agustinus Alajuri, M Hasbi Sidqi Alfrida Romauli Amanda Astri Pratiwi Febrianti Anang P. Adi Anang Prasetia Adi Anang Prasetia Adi Andi Achmadi Andi Yaodi Nurani Yamin Angga Dwinovantyo Angga Dwinovantyo Ari Wahyudi Ari Wahyudi Asep Ma'mun Asep Ma’mun Asep Priatna Asmoro, Nuki Widi Augy Syahailatua Azhari, Ferian Bagas O. Siahaan Bernawis, Lamona Irmudyawati Billi R Kusumah Billi Rifa Kusumah Brojonegoro, Irsan S Catur Purwanto, Catur Choirul Umam, Choirul Christian Nugroho Dadang Handoko Deddy Bakhtiar Djoko Hartoyo Domey Moniharapon Dony Apdillah Dwi Charnila Dwiadji Gultom Edi Kusmanto Edy Hartulistiyoso Elson, La Faaris, Said M Fahrulian Fahrulian Fahrulian Fahrulian Fahrulian Fahrulian Fathkhurozak Yunanda Rifai Firdaus, Randi Fredrich Simanungkalit Gentio Harsono Gentio Harsono Handoko, Dadang Haqqu Ramdhani Hargiani, Fransisca Xaveria Hasan, Rozaimi Che Hascaryo, Anom Puji Hawari, Aqil Hawis H Madduppa Hendra Jayanto Hendra Jayanto Henry Andriadi Hestirianoto, Totok Hestirianoto, Totok Hestirianoto Hollanda Arief Kusuma Husal, Siddiq Husaini I Wayan Sumardana Eka Putra Imam Mudita Indah Nurkomala Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Irsan Soemantri Brodjonegoro Ita Wulandari Jales Veva Jaya Johar Setiyadi Junaedi, Liva Kang, Myounghee Karlisa Priandana Khairul Amri Kirana, Widiah Dwi Krisna Rendi Awalludin Kurniawan , Muhammad Aziz Kurniawan, Muhammad Azis Kusdiana, Dias La Elson, La Elson Lalita, Rayi Khasanah Larasati, Oktavira Dwi Demia Lazuardi, Muhammad Nur Riza Lili Somantri Liva Junaedi M. Agung Sedayu M.Rizal Keulana Manik, Agustina Sartika Muhamad Yulianto Muhammad Farhan Muhammad Firdaus MUHAMMAD ILHAM Muhammad Sanubari Muhammad Siddiq Sangadji Muhammad Zainuddin Lubis Muhammad Zainuddin Lubis Muhammad Zulfikar Muharrom, Eka Yudha Myounghee Kang Nainggolan, Tumpal Bernhard Napitupulu, Gandhi Napitupulu, Moses Nazar Nurdin Negara, Adhi K. Nur Fitria, Hanita Pamalik, Aulia Ranggi Prasetiawan, Agung Prihantoro, Andi Exyas Pujiyati, Sri Pujiyati Purwandana , Adi Putra, I Wayan Sumardana Eka R. Yanuar H. P Rabbani, Mochamad Rafif Radjawane, Ivonne Milichristi Rahmat, Ayi Rahmatullah, Amri Ratna Juita Sari Rina Fajaryanti Rina Nurkhayati Rina Zuraida Rizqi Ayu Farihah, Rizqi Ayu RR. Ella Evrita Hestiandari Saifur Rohman Setiyadi, Johar Setyanto, Agus Situmorang, Edriyan Sofyatuddin Karina Sri Pujiyati Steven Solikin Subarsyah Subarsyah Subarsyah Subarsyah Subarsyah Subarsyah Suhengki, Gemma Cahya Hafifah Suhengki Suhengki, Suhengki Sukoco, Nawanto Budi Sumantri, Willi Supriyanto, Taufiq Susilo Hadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Susilohadi Syahrin, Win Alfi Syahrul Purnawan Syahrul Purnawan Teguh Arif Pianto Tri Aji Tri Nur Sujatmiko Try Febrianto Tumpal B. Nainggolan Tumpal Bernhard Nainggolan Udrekh Udrekh Vincentius P Siregar Widodo S Pranowo Widodo Setiyo Pranowo Wijopriono Windra, Alivio Winjaniatun, Siti Novrianti Yoga Prihantoro Yoga Prihantoro Yulinar Firdaus, Yulinar Zahran, Hafizh