Claim Missing Document
Check
Articles

Analisa Pengaruh Penambahan Fin Keel terhadap Hambatan, Pola Aliran, dan Stabilitas pada Kapal Ferry Ro-Ro 1000 GT Rezky Naufal Pratama; Parlindungan Manik; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 8, No 3 (2020): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal Ferry Ro-Ro merupakan salah satu alat transportasi yang dapat diandalkan untuk melayani penumpang antar pulau karena harga tiket yang relatif murah. Untuk menjaga hal itu maka perlu adanya peningkatan kenyamanan serta keselamatan penumpang dan efisiensi bahan bakar, salah satu cara nya adalah dengan mengurangi hambatan, mengefisienkan pola aliran, serta meningkatkan stabilitas dengan meneliti penggunaan fin keel. Penelitian ini menggunakan software Maxsurf dan CFD dengan variasi tinggi dan posisi fin keel di lunas kapal dan bertujuan untuk membandingkan hambatan, kecepatan aliran, serta nilai GZ maksimum yang lalu dibandingkan dengan analisa kapal asli yang sudah ada. Hasilnya adalah kapal dengan fin keel berbagai variasi memiliki nilai hambatan 0.13%-1.32% lebih kecil dibanding dengan kapal tanpa fin keel, kecepatan aliran 0.01% lebih kecil sampai dengan 0.7% lebih besar dibanding kapal asli, serta nilai GZ maksimal 9.62%-9.81% lebih kecil dibanding kapal asli.
Analisa Kekuatan Lentur dan Kekuatan Tarik Pada Balok Laminasi Bambu Petung dan Kayu Kelapa (Glugu) Untuk Komponen Kapal Rizka Cholif Arrahman; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.14 KB)

Abstract

Seiring dengan bertambahnya kebutuhan kayu sebagai bahan baku pembuat kapal, menyebabkan persediaan kayu menjadi semakin berkurang. Teknik laminasi menjadi solusi untuk mengembangkan sebuah produk kayu yang memiliki struktur dan sifat mekanik lebih kuat dan awet. Prosedur pembuatan dan pengujian spesimen kayu laminasi bambu petung dan glugu mengacu pada SNI-03-3959-1995 dan SNI-03-3399-1994. Pembuatan balok laminasi melewati beberapa tahap, pertama: persiapan serta pemotongan bambu petung dan glugu menjadi bilah-bilah lamina, kedua: pengeringan bilah lamina, ketiga: perekatan bilah lamina menjadi balok laminasi atau glulam (glue - laminated timber) dan terakhir finishing. Balok laminasi yang telah siap, kemudian diuji sesuai dengan standar SNI. Pada penelitian yang telah dilakukan terhadap spesimen kayu laminasi bambu petung dan kayu kelapa (glugu) berupa pengujian lentur dan tarik di laboratorium, didapatkan data bahwa laminasi kayu dengan komposisi 50% bambu petung dan 50% kayu kelapa (glugu) memiliki kekuatan paling tinggi, yakni kuat lentur sebesar 95,98 MPa dengan nilai lendutan (∆l) 10 mm dan MOE sebesar 11568,68 MPa serta kuat tarik sebesar 157,21 MPa dengan nilai regangan 0,0222 dan modulus young (E) sebesar 7090,38 MPa. Balok laminasi tersebut memiliki berat jenis sebesar 0,6458 dengan kadar air 13,08%. Nilai tersebut memenuhi persyaratan kayu lapis sebagai bahan material kapal kayu menurut BKI dan termasuk dalam kelas kuat II sehingga dapat digunakan sebagai material konstruksi galar balok, papan geladak kapal dan balok geladak kapal pada kapal kayu.
ANALISA TEKNIS BAMBU LAMINASI SEBAGAI MATERIAL KONSTRUKSI PADA LUNAS KAPAL PERIKANAN Khusnul Khotimah; Parlindungan Manik; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 1 (2014): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.814 KB)

Abstract

Kapal kayu merupakan sarana transportasi tradisional yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk sarana transportasi, niaga maupun sarana rekreasi. Dalam produksinya kapal kayu banyak menggunakan kayu berjenis kayu jati. Namun seiring berjalannya waktu kayu jati mulai mengalami kelangkaan selain itu harga kayu jati relatif mahal. Maka dilakukan penelitian bambu laminasi sebagai alternatif material lunas kapal perikanan terutama kayu jati.Dalam penelitian ini membuat lunas balok laminasi dengan perbandingan 2 jenis susunan bilah bambu petung , yaitu susunan bilah vertikal dan susunan bilah horisontal yang kemudian di uji tekan tegak lurus dengan standart SNI 03-3958-1995, uji kuat tarik serat memanjang dengan menggunakan standart ISO 22157, uji berat jenis dan kadar air menggunakan standart ISO 22157-1. Dari hasil uji tekan tegak lurus serat memanjang dilakukan analisa kukuh kuatan mutlak kemudian digolongkan dalam BKI Kapal Kayu 1996, kemudian dibandingkan dengan standart yang diijinkan kayu jati pada BKI Kapal Kayu 1996 bagian lunas kapal.Berdasarkan hasil pengujian bambu laminasi susunan horisontal memiliki kadar air rata-rata 13%, dengan berat jenis 0,78, dan uji tekan tegak lurus serat dengan susunan horisontal memperoleh hasil tegangan rata-rata 16,528 Mpa atau 165,28 kg/cm2 dan memiliki lendutan rata-rata 5,662. Pada pengujian bambu laminasi susunan vertikal memiliki kadar air 13%, dengan berat jenis 0,76, dan uji tekan tegak lurus serat susunan vertikal memperoleh hasil tegangan rata-rata 18,056 Mpa atau 180,56kg/cm2 dan memiliki lendutan rata-rata 4,7248. Kuat tarik sejajar serat dengan ruas memiliki rata-rata 246,37 Mpa, dan kuat tarik sejajar serat tanpa ruas memiliki rata-rata 102,062 Mpa.
Analisa Pengaruh Penambahan Grothues Spoilers Tipe NACA 64098 dengan Variasi Jumlah Spoiler pada Kapal Perintis 750 DWT Terhadap Hambatan dan Nilai Wake Kapal dengan Menggunakan Metode CFD Josua Siagian; Parlindungan Manik; Eko Sasmito Hadi
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkembangnya zaman di era globalisasi ini ikut mempengaruhi perkembangan teknologi di dunia perkapalan yang dapat meningkatkan performa kapal menjadi lebih baik, salah satunya ialah dengan mengurangi nilai hambatan dan wake. Wake merupakan perbandingan antara kecepatan air yang melalui baling-baling dengan kecepatan kapal dinas kapal itu sendiri. Penambahan Grothues Spoilers yang diletakkan pada bagian buritan kapal dapat mengarahkan aliran turbulen menjadi aliran laminar menuju baling-baling. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai hambatan dan wake kapal setelah dilakukan penambahan Grothues Spoilers dengan memvariasikan jumlah dari spoiler  tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program komputer berbasis Computational Fluid Dynamic (CFD) dengan memvariasikan jumlah spoiler sebanyak 2 hingga 4 spoiler terhadap model 3D kapal perintis 750 DWT. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan grothues spoilers dengan jumlah 4 spoilers merupakan hasil yang paling optimal dalam mengurangi hambatan. Dimana pada hambatan total pada Fn 0,19 dapat berkurang sebesar 11,707% dari 8,176 N menjadi 7,219 N, hambatan viskositas pada Fn 0,21 dapat berkurang sebesar 5,314% dari 6,22 N menjadi 5,889 N, dan hambatan gelombang pada Fn 0,19 berkurang dari 1,956 N menjadi 1,425N dengan perubahan sebesar 27,17%. Dan dari hasil analisa wake friction, model dengan variasi 4 spoilers juga menjadi model yang paling optimal dalam mengurangi nilai wake, dimana pada kecepatan dinas nilai wake mengalami penurunan sebesar 1,746% yaitu dari 0,237 menjadi 0,2104.
STUDI PERANCANGAN RESCUE HOVERCRAFT UNTUK EVAKUASI KORBAN BENCANA ALAM Dede Nugraha Sentosa HS; Deddy Chrismianto; Parlindungan Manik
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 4 (2014): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.989 KB)

Abstract

Ketika terjadi suatu bencana alam sering kali kesulitan dalam mengevakuasi penduduk yang daerahnya terkena bencana alam. Salah satu penyebab kesulitan evakuasi tersebut yaitu medan yang sulit untuk dijangkau sehingga sangat dibutuhkan kendaraan yang bisa dioperasikan di berbagai medan. Hovercraft termasuk dalam jenis kendaraan amfibi, dalam arti bisa berfungsi di perairan maupun daratan. Bahkan hovercraft tetap dapat digunakan pada daerah rawa atau lumpur yang notabene kendaraan darat atau kapal tidak dapat digunakan di medan seperti itu. Dengan segala kelebihannya, penggunaan hovercraft sebagai kendaraan SAR (Search and Rescue) korban bencana alam sangat efektif. Penelitian ini bertujuan mendapatkan ukuran utama hovercraft yang bisa digunakan secara optimal dan sesuai dengan kebutuhan dalam evakuasi suatu bencana alam sehingga dihasilkan rencana garis dan rencana umum serta diketahui analisa hovercraft dari segi stabilitas dan manuver. Untuk mengetahui lebih spesifik tentang perancangan sebuah hovercraft, maka dilakukan survey lapangan ke perusahaan yang telah melakukan pembuatan hovercraft di Indonesia, yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero). Dari berbagai referensi yang didapatkan kemudian ditentukan ukuran utama menggunakan metode Regresi Linier dan Polinom Lagrange. Setelah ditentukan dimensi dan berat total hovercraft, selanjutnya dilakukan perhitungan hambatan, daya, tinggi rintangan, titik berat serta analisa stabilitas dan manuver. Rescue Hovercraft yang direncanakan ini mempunyai panjang (L) 11 meter. Dalam melakukan evakuasi korban bencana alam Rescue Hovercraft ini direncanakan mampu menempuh jarak 50 km. Dimensi Rescue Hovercraft yaitu L = 11,00 meter, B = 4,56 meter, Vs = 35 knot, payload 2,40 ton, dan jumlah penumpang sebanyak 20 orang. Pada analisa stabilitas Rescue Hovercraft ini terbagi atas 3 kondisi, yaitu saat hovercraft hanya diisi oleh kru (kondisi I), saat hovercraft diisi oleh kru dan para penumpang (kondisi II), dan saat mesin tiba-tiba mati ketika hovercraft sedang berada di perairan sehingga bantalan udaranya tidak mengembang (kondisi III). Hasil perhitungan stabilitas Rescue Hovercraft pada semua kondisi dinyatakan memenuhi (pass) standar persyaratan yang ditetapkan oleh IMO. Nilai GZ maksimum pada kondisi I yaitu 2,297 meter yang terjadi pada 30,9o,  nilai GZ maksimum pada kondisi II  yaitu 2,284 meter yang terjadi pada 31,8o, dan nilai GZ maksimum pada kondisi III yaitu 1,669 meter yang terjadi pada 31,8o. Hasil analisa manuver menggunakan formula menunjukan bahwa manuver Rescue Hovercraft telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan, yaitu pada saat surging, yawing, swaying, dan rolling semua perhitungan pada setiap sudut manuver dan kecepatan yang berbeda memiliki nilai negatif sehingga dihasilkan momen pemulih (righting moment) .
Analisa Teknis Papan Laminasi Serat Bambu Petung Dengan Serat Fiberglass Woven Roving Untuk Material Kulit Kapal Pani Prima Tambunan; Hartono Yudo; Parlindungan Manik
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 10, No 2 (2022): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan teknologi dalam bidang industri mendorong pemenuhan kebutuhan akan material  dengan karakteristik tertentu, berbagai material sudah diteliti guna mendapatkan material yang lebih baik, salah satunya material komposit. Komposit memiliki keunggulan yang mudah dibentuk, ringan dan kekuatan yang tinggi, keunggulan ini mendorong komposit sebagai bahan pengganti material logam konvensional pada berbagai produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kekuatan tarik, tekuk, impak dari material komposit berpenguat serat fiberglass dan serat bambu petung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengujian tarik, tekuk dan impak terhadap material komposit. Hasil yang diperoleh untuk kekuatan tarik laminasi bambu petung dan serat fiberglass yang paling tinggi ada pada variasi susunan serat bambu 7 lapis dengan serat fiberglass 6 lapis dengan hasil kuat tarik rata- rata sebesar 207.12 Mpa. Pengujian tekuk pada  variasi susunan 7 lapis dengan serat fiberglass 6 lapis diperoleh hasil kekuatan tekuk tertinggi yaitu sebesar 249.78 Mpa. Nilai pengujian impak juga berbanding lurus dengan nilai pengujian tarik dimana variasi susunan serat bambu 7 lapis dengan serat fiberglass 6 lapis memiliki kuat impak tertinggi yaitu sebesar 293.48 Kj/  Komposit serat bambu petung dengan serat fiberglass dapat digunakan sebagai material kulit kapal karena telah memenuhi persyaratan minimum yang ditetapkan oleh BKI.
PENGEMBANGAN DESAIN GEOMETRI LUNAS BILGA UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA KAPAL IKAN TRADISIONAL (STUDI KASUS KAPAL TIPE KRAGAN) Muhammad Imam Malik; Parlindungan Manik; Muhammad Iqbal
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 4 (2016): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.358 KB)

Abstract

Terdapat banyak sekali jenis kapal ikan tradisional yang ada di Republik Indonesia, salah satunya yaitu kapal ikan tradisional di daerah Kragan di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah. Memiliki ciri khas dengan lunas bilga yang terpasang pada kedua sisi lambung kapal, yang dipercaya oleh warga setempat untuk menjadikan kapal memiliki stabilitas yang baik. Sehingga penulis ingin mengetahui performa kapal ikan tipe kragan yang terdiri dari hambatan, stabilitas, dan olah gerak dengan melakukan variasi geometri lunas bilga dengan patokan dari radius bilga kapal yang direkomendasikan penelitian sebelumnya. Adapun tahapan yang dilalui untuk mencapai tujuan tersebut menggunakan beberapa software perkapalan yang terintegrasi. Pada awalnya adalah pembuatan model menggunakan Rhinoceros dengan geometri lunas bilga yang berbentuk trapesium, segitiga, foil, dan bulb. Selain itu, model tanpa lunas bilga dan model yang direkomendasikan penelitian sebelumnya juga dibuat untuk mengkomparasikan hasil variasi geometri yang dilakukan penulis. Kemudian dilakukan analisa hambatan menggunakan Fluid Flow (CFX), analisa stabilitas menggunakan Maxsurf Stability, dan analisa olah gerak menggunakan Hydrodynamic Diffraction. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai hambatan pada Model 4 menghasilkan hambatan 3,648% lebih baik dari model existing. Nilai stabilitas terbaik didapatkan pada Model 4 dengan nilai GZ maksimum 2,79 m, dan nilai olah gerak pada Model 4 menghasilkan nilai RMS of roll 4,420% lebih baik dari model existing pada gelombang 125o.
Analisa Pengaruh Perubahan Bentuk Lambung Monohull Menjadi Catamaran Terhadap Stabilitas Kapal Alamanda Sulistianingtyas; Wilma Amiruddin; Parlindungan Manik
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 2 (2019): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1148.911 KB)

Abstract

Modifikasi kapal monohull menjadi katamaran dapat menimbulkan persoalan teknis seperti stabilitas. Salah satu keuntungan modifikasi adalah memberikan keuntungan pada luas geladak yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh terhadap stabilitas kapal karena modifikasi kapal KMP. Berembang dari tipe monohull mejadi katamaran. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini untuk melihat pengaruh yang dimaksud adalah menggunakan model demihull NPL Hull From Series 4b yang kedua lambungnya simetris streamline dengan nilai S/L 0,25 ; 0,30 ; 0,35 dan menetapkan nilai displacement kedua kapal memiliki nilai yang sama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membandingkan dua model lambung kapal yaitu tipe monohull dengan tipe katamaran kemudian dilihat perbedaan performa stabilitasnya pada kondisi muatan penuh, muatan 50%, dan muatan kosong. Hasil analisia menunjukkan semua kondisi baik kapal monohull maupun katamaran telah memenuhi kriteria IMO A.749 (18) dan IMO Code MSC.36(63) HSC Code – Annex 7, Multihulls. Nilai GZ memenuhi kriteria pada semua kondisi pemuatan sehingga kapal aman untuk penumpang, dengan nilai GZ maksimal dimiliki oleh kapal katamaran S/L 0,35 pada setiap kondisi.
ANALISA TEKNIS BAMBU LAMINASI SEBAGAI MATERIAL KONSTRUKSI KAPAL PERIKANAN Sahat Nico Juan Varian Sibarani; Parlindungan Manik
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 1, No 2 (2013): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah negara maritim dengan potensi industri maritim dan sumber daya laut yang sangat besar. Hal ini terkendala dari sarana berupa kapal ikan, baik dalam jumlah serta peralatan atau teknologi yang digunakan. Kapal kayu banyak digunakan di Indonesia karena bahan bakunya banyak tersedia dan mudah ditemukan di Indonesia. Meskipun potensi kayu sebagai bahan konstruksi kapal masih banyak tersedia, pertimbangan efisiensi dan penghematan penggunaan kayu harus dilakukan. Salah satu alternatif material pengganti kayu adalah menggunakan bambu betung/petung dengan teknologi laminasi. Dalam penelitian ini pertama dilakukan mendapatakan syarat kapal kayu dengan mengacu BKI Kapal Kayu 1996. Dilanjutkan pembuatan bambu laminasi, dimana bambu betung melalui proses pemotongan, moulding, multirib, pengawetan, pengovenan, pemberian perekat dan pengempaan. Untuk mengetahui sifat fisik bambu dilakukan uji kadar air dan kerapatan. Untuk mengetahui sifat mekanik bambu laminasi dilakukan uji tarik bambu bilah, uji tekan sejajar serat bambu utuh dan uji lentur untuk spesimen balok lunas, gading, kulit dan geladak. Dalam pengujian ini digunakan standar ISO 22157-1-2004 dan untuk uji lentur dilakukan dengan pembebanan 2 titik. Dari hasil uji lentur dilakukan analisa keteguhan lentur mutlak kemudian dibandingkan dengan kekuatan yang diijinkan bahan kayu dalam BKI Kapal Kayu 1996. Berdasarkan hasil pengujian bambu memiliki kadar air rata-rata 12,62 % , kerapatan rata-rata 0,91 gr/cm3, kuat tarik sejajar rata-rata 63,6 MPa,dan kuat tekan sejajar serat  rata-rata 19,25 MPA dengan MOE tekan rata-rata 16,81 MPa. Untuk balok lunas MOR rata-rata 7,68 Mpa dan MOE rata-rata 2715,69 MPa, gading memiliki MOR rata-rata 73,61 Mpa dan MOE rata-rata 34625,96 Mpa dan kulit dan geladak memiliki MOR rata-rata 256,16 Mpa dan MOE rata-rata 19895.43 MPa . Hasil pengujian lentur untuk gading, kulit dan geladak memenuhi keteguhan lentur mutlak dari BKI Kapal Kayu 1996, namun tidak demikian untuk balok lunas
Studi Kasus Kinerja Propeller Kaplan Series Akibat Pengurangan Diameter dan Penambahan End Plate dengan Metode CFD Yermias Rahardian Andilolo; Parlindungan Manik; Muhammad Iqbal
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.119 KB)

Abstract

Ada beberapa variasi jenis daun propeller yang masing-masing memilki karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan jenis kapal. Dalam hal ini kaplan adalah salah satu jenis daun propeller yang paling banyak digunakan pada tug boat karena fungsinya untuk menghasilkan tenaga yang besar namun dengan kecepatan berlayar yang rendah. Tenaga besar yang perlu dihasilkan propeller kaplan series dengan kecepatan berlayar yang rendah akibat beban kerja yang besar akan memberi dampak penurunan nilai efisiensi dari kinerja propeller. Pada permasalahan ini nilai efisiensi propeller akan berkurang sehingga berdampak pada kinerja tug boat yang menurun dikarenakan tenaga mesin tidak dapat digunakan secara optimal. Penelitian ini menganalisa propeller jenis Kaplan Series dengan pengurangan diameter menjadi 0,975R, 0,95R, 0,925R, 0,90R dan penambahan end plate pada tip propeller dengan 4 variasi panjang yaitu 150 mm, 100 mm, 75 mm, 50 mm dan dengan menggunakan sudut rake 00 dan 150, sehingga didapatkan variasi propeller yang optimum dengan bantuan program Computational Fluid Dynamics (CFD). Dalam proses analisa menggunakan software berbasis CFD, hingga mendapatkan hasil dari semua model propeller yaitu nilai thrust, efisiensi, dan nilai pressure. Dari beberapa model yang telah dibandingkan diperoleh model propeller yang optimum yaitu dengan variasi pengurangan diameter sebesar 2,5% dengan sudut rake 150 dan penambahan end plate dengan panjang 75 mm dengan nilai thrust sebesar 122163 N, rata-rata tekanan 37202.5 Pa, dan nilai efisiensi sebesar 55,47% dengan putaran propeller yang optimal sebesar 275 RPM.
Co-Authors A.F. Zakki Abdurrofi, Arnan Achmad Kurniawan Zakaria Ahmad Fauzan Zakki Akbar Triansyah Alamanda Sulistianingtyas Alfikri Hidayat, Alfikri Alif Fauzan Rachmat Anam, Muhammad Aza Syafiul Ananda Arifin Zul Zihni Andi Satriawan Lubis, Andi Satriawan Andi Trimulyono Andy Wibowo Ari Wibawa Ari Wibawa Budi Santosa Ari Wibawa Budi Santoso Arief Situmorang Ario Nugroho Prihutomo Ariq Fadhlurrahman Rahardjo Asfala, Davierend Astrid Wulandari Avian Putri Utami Benny A.M Napitupulu, Benny Berlian Arswendo Adietya Biwa Abi Laksana Burhannudin Senoaji Caniago, Fahlan Parezki Chandra Ahmad Venzias Citra Tri Tunggal Dewi Dame Kita Ginting Dan Fianca David Adhi Prasetyo, David Adhi Deddy Chrismianto Dede Nugraha Sentosa HS Dhawala, Pakavy Aqshall Dhea Margaretha Edwin Wijaya Eko Sasmito Hadi Endah Dyah Aprianti Evan Pardede Fakhri, Alfian Fakhrul Arifin Febriana Dian Krismawati Firdhaus, Ahmad Gigih Niagara Good Rindo Haloho, Albert Tua Hanif Hisyam Hernanta Harno, Harno Hartono Yudo Haryo Baskoro Herman Ferdinan Philip Simanjuntak Hugo Digitec E. Sembiring Ighel Bryantama Putra Imam Pujo Mulyatno Indiaryanto, Mahendra Insanu Abdilla Cendikia Abar Ismail, Izzuddin Nadzir Ivel Afra Sevira Jan Shaka Ariandra Noor Josua Siagian Juwanto Juwanto K Kamal Kenteurachmat, Ahmad Khoirul Anam Khusnul Khotimah Kiryanto Kiryanto Kiryanto, K. Kusuma, Ghiyats Abiyyu Lubis, Bobby Parel Antonio Lumban batu, Afriando Mahendra Indiaryanto Marsaut Maurit Rumapea, Marsaut Maurit Maulana, Muhammad Dhefa Muhammad Fadel Alfaressy Samosir Muhammad Ikhsan Muhammad Imam Malik Muhammad Iqbal Muhammad Iqbal Muhammad Rahmat Darmawan Muhammad Wahyu Prihantoro Musfar, Raka Fadlyan Nainggolan, Diontius Namo Prima Sembiring Novem, Dicky Putra Nurul Huda Ocid Mursid Pani Prima Tambunan Paul CM Permana, M Saptahadi Prasetya, Blinka Hernawan Prasetyo Nugroho Pratama, Rezky Naufal Pratiwi, Ovin Ranica Prayoga, Rhizky Putri, Henna Dellya Zenitta Rachmat Assidiq rajagukguk, mangatas yohannes Reinhard Fernando Hutapea Reza Andrian Saputro Rezky Naufal Pratama Rifandi Aditya Rino Natalia Situmorang Rizaldo, M. Fikry Rizka Cholif Arrahman Rosiana Dewi Sadewo, Guntur Saeful Huda Mursito Sahat Nico Juan Varian Sibarani Samuel Samuel Sapto Wiratno Satoto Sarjito Joko Sisworo Sarjito Jokosisworo Sarjito Jokosiworo Sembiring, Benami I G Siahaan, Fredits A Sinaga, Ebin Ezer Sumintono, Heraldo Petra Surya Yusuf Afriansyah Syaiful Arifin Tambunan, Govinda Daniel Parasian Teguh Sulistyo Hadi, Teguh Sulistyo Tobing, Christabel Giovanny Tri Putra P Lumbantobing Tubongkasi, Yehezkiel Mizzi Nicole Tuswan Tuswan Untung Budiarto Wahyu Masykuri Al Hakim Wesly M Napitu Widya Rahman Fitriadi Widyatmoko, Ari Wilma Amiruddin Wiranda, Ariiq Daffa Wiwit Wirawan Yermias Rahardian Andilolo Yopi Tri Setiadi Yosafat Nugraha Putra