Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGEMBANGAN DIRI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING SMA NEGERI DI KOTA BANDA ACEH Nur Mutia; Abu Bakar; Nurbaity Bustamam
Jurnal Suloh Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v3i2.14163

Abstract

Abstrak: Sebagai seorang guru profesional guru BK diharuskan untuk melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan seperti mengikuti diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi atau keprofesian guru. Pengembangan diri secara terus menerus (continuous improvement) juga dapat dilakukan melalui pelatihan, organisasi profesi, internet, membaca buku, mengikuti seminar dan semacamnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat arah dari pengembangan diri guru BK serta hambatannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah guru BK tingkat SMA di Kota Banda Aceh yang berasal baik dari jurusan BK maupun Non-BK. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pengembangan diri yang biasa dilakukan guru BK adalah mengikuti MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan Konseling) secara rutin serta mengikuti pelatihan dan seminar yang diselenggarakan oleh dinas. Sedangkan mengikuti lokakarya dan konferensi, tergabung dalam organisasi profesi BK, mengikuti berbagai grup diskusi tentang BK, dan membangun jaringan atau kerjasama antar profesi lain serta kegiatan mandiri lainnya masih jarang dilakukan. Responden penelitian menyatakan bahwa kegiatan  melanjutkan pendidikan (S2) dan mengikuti pendidikan profesi serta melakukan kegiatan penulisan atau publikasi ilmiah oleh guru BK bahkan belum dilakukan sama sekali. Hambatan guru BK dalam melakukan pengembangan diri berkaitan dengan faktor biaya, waktu, tempat  fasilitas dan regulasi (peraturan yang ada). Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka membantu pengembangan diri guru BK.Kata Kunci : Guru BK SMA, Pengembangan diri profesional Abstract: As a professional, school counselor are required to grow up their profesionalism through functional training and collaborative activities aimed to improve the competence or professionalism. In this study the professional development activities being assessed were training, professional organizations, self-development by internet, books, seminars, group discussion and the like . The purpose of this study is to explain self-development activities and barriers to self-development of school counselor in Banda Aceh. The subjects of this study were high school counselor in Banda Aceh both from counseling and non- counseling educational background. The research data was collected by interview technique. The result showed that the self-development activities usually carried out by counselor was routinely take part ini MGBK (School Counselor Meeting), also attending training and seminars conducted by education offices. Meanwhile independent activities such as attending workshops and conferences, joined in professional counseling organizations, attending various discussion groups on counseling, and building networks or cooperation among other professions were still rarely done. None of the subject reported pursuing master degree or other professional education, neither they write or do scientific publications. The obstacles of teachers counselor in doing self-development was related to cost, time, facilities and regulation. This research is expected to be used by interested parties in order to support self development of school counselors.Keywords: High school counselor, Profesional development
Persepsi wanita menopause terhadap diri dan hubungannya dengan tingkat kecemasan Zainap Tunrahmi; Syaiful Bahri; Abu Bakar
Jurnal Suloh Vol 2, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v2i2.14102

Abstract

Abstract: Physical changes, health and psychological disorders during menopause are reasons for the high level of anxiety of women. A woman who has a negative perception will have a high level of anxiety about menopause, and vice versa. This study raised the problem of self-perception, anxiety and the relationship of perceptions to the level of anxiety in women who experience menopause in Mukim Lam Ara, Darul Imarah District of Aceh Besar. The study population was 360 people. The study sample was taken using a proportionate stratified random sampling using the Slovin formula, so that a sample of 189 people was obtained. Data collection used a questionnaire method with a Likert scale model. Data analysis used descriptive statistical analysis and Product Moment correlation. The results showed that menopausal women generally had a positive self-perception and a low level of anxiety. It also found a negative relationship between the perception and anxiety level. In other words, it is evident that women who have a positive self-perception will have a low level of anxiety about menopause, and vice versa. Research still finds some women who worring the menopausal condition, even though with a minimal percentage; It is expected that the village government, community health center, and related parties in the local area will always strive to facilitate women and the community with various information and debriefing activities about menopause to minimize the development of negative perceptions in women, so as to reduce their anxiety level towards menopause. Thus a healthy society can be created, have a stable psychological development and far from excessive anxiety..Keywords: Perception, Menopause, Anxiety Level Abstrak: Perubahan fisik, gangguan kesehatan dan psikologis pada masa menopause menjadi alasan tingginya tingkat kecemasan para wanita. Wanita yang memiliki persepsi negatif akan memiliki tingkat kecemasan yang tinggi tentang menopause, demikian pula sebaliknya. Penelitian ini mengangkat masalah persepsi diri, tingkat kecemasan dan hubungan persepsi dengan tingkat kecemasan pada wanita yang mengalami menopause di Mukim Lam Ara Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. Populasi penelitian adalah 360 wanita, sampel diambil menggunakan proportionate stratified random sampling dengan rumus Slovin, sehingga diperoleh sampel sebanyak 189 orang. Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner dengan model skala likert. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum wanita menopause memiliki persepsi diri yang positif, tingkat kecemasan yang rendah, serta adanya hubungan yang negatif antara persepsi dan tingkat kecemasan. Dengan kata lain, terbukti bahwa wanita yang memiliki persepsi diri yang positif akan memiliki tingkat kecemasan yang rendah tentang menopause demikian pula sebaliknya.. Dengan masih ditemuinya beberapa wanita yang mencemaskan kondisi dirinya saat menopause, walau dengan persentase yang minim; diharapkan pada pemerintah desa, puskesmas, dan pihak-pihak terkait agar berupaya memfasilitasi para wanita dan masyarakat dengan berbagai informasi dan kegiatan pembekalan tentang menopause guna meminimalisir perkembangan persepsi negatif dalam diri para wanita, sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan terhadap menopause. Dengan demikian dapat tercipta masyarakat yang sehat, memiliki perkembangan psikologis yang stabil dan jauh dari rasa cemas berlebihan.Kata kunci: Persepsi, Menopause, Tingkat Kecemasan
Analisis manajemen konflik single mother dalam pola pengasuhan anak Abu Bakar; Martunis Yahya; Indri Syafitri
Jurnal Suloh Vol 5, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/suloh.v5i2.20658

Abstract

Wanita yang berstatus sebagai single mother harus menjalankan peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah. Dalam menjalani peran ini mereka terlibat dalam konflik-konflik yang tidak dapat dielakkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk manajemen konflik akibat perceraian dan bentuk-bentuk pola pengasuhan anak yang dilakukan oleh single mother. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Data dianalisis secara kualitatif, penyajian dan verifikasi data-data yang diperoleh secara objektif dengan cara menghubungkan informasi-informasi yang diberikan oleh para single mother. Hasil penelitian menemukan bahwa para single mother di kecamatan Bebesen kabupaten Aceh Tengah, pada umumnya bercerai dengan sebab suami yang berselingkuh, tidak memberi nafkah dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Adapun masalah yang dialami oleh single mother dalam menjalani roda kehidupan rumah tangga, terutama dalam pengasuhan anak sangat komplek, pada umumnya mereka mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, karena di samping mengurus/mengasuh anak juga harus mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Dalam menyelesaikan persoalan dalam keluarga para single mother menggunakan manajemen konflik terhadap masalah yang dihadapi dengan cara melihat konflik secara utuh, dianalisis dan kompromi menggunakan strategi manajemen konflik secara produktif. Dari hasil penelitian para single mother yang memiliki anak menerapkan pola asuh yang berbeda-beda, termasuk otoriter, demokratis dan permisif. Kaitan manajemen konflik single mother dalam pola pengasuhan anak para single mother mencari nafkah dengan cara bekerja sesuai kemampuan mereka masing-masing. Sehingga para single mother ini jarang berada dirumah untuk melihat tumbuh kembang anaknya. Tetapi masih memantau kegiatan anak-anaknya melalui orang terdekat.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF-EFFICACY AND EMOTIONAL REGULATION IN STUDENTS IN TEACHING AND EDUCATION FACULTY AT SYIAH KUALA UNIVERSITY Nurbaity Bustamam; Abu Bakar; Riska Amelia
Psikoislamedia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 1 (2024): PSIKOISLAMEDIA:JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : State Islamic University (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v9i1.22620

Abstract

Emotion regulation is an individual's ability to assess, manage, and express emotions appropriately in order to achieve emotional balance. One of the factors influencing emotion regulation is self-efficacy. People who are confident in their abilities tend to have better control over their emotions. The purpose of this study was to reveal the explanation and relationship between self-efficacy and emotional regulation in final-year students of the Faculty of Teacher Training and Education, Syiah Kuala University. The study population was students of the Faculty of Teacher Training and Education, Syiah Kuala University who were completing the final project of the class of 2019, and the number of samples was 270 out of a population of 829. The sampling method in this study used probability random sampling. The value of the correlation coefficient r = 0.635 explains the strong correlation between self-efficacy and emotional regulation in college students.ABSTRAKRegulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam menilai, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat guna mencapai keseimbangan emosi. Keyakinan pada diri sendiri atau efikasi diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi regulasi emosi. Orang yang percaya diri dengan kemampuannya cenderung memiliki kendali yang lebih baik terhadap emosinya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap penjelasan dan hubungan antara efikasi diri dengan regulasi emosi pada mahasiswa tingkat akhir FKIP Universitas Syiah Kuala. Populasi penelitian adalah mahasiswa dari seluruh fakultas di Universitas Syiah Kuala yang sedang menyelesaikan tugas akhir yakni angkatan 2019, dan jumlah sampel adalah 270 dari populasi sebanyak 829. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan probabilitas random sampling. Nilai koefisien korelasi r = 0,635 menjelaskan kuatnya korelasi antara efikasi diri dengan regulasi emosi pada mahasiswa.