Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG JANENG (Dioscorea Hispida Dennst.) DALAM PEMBUATAN KUE ADEE Lisa Khairina; Yuli Heirina Hamid; Zuraini Mahyiddin
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Janeng (Dioscorea hispida dennst) merupakan tanaman banyak mengandung karbohidrat, mineral dan vitamin. Janeng bisa dimanfaatkan menjadi bahan dalam membuat penganan, terutama penganan tradisional khas Aceh, salah satu penganan khas Aceh adalah kue adee. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh standarisasi resesp, mengetahui karakteristik organoleptik dan daya terima konsumen terhadap kue adee dengan penambahan tepung Janeng. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Tempat dan waktu penelitian dilakukan di laboratorium Tata Boga Prodi PKK FKIP Unsyiah. Data uji Deskriptif menggunakan analisis WMS dan SD dari total nilai narasumber. Data uji penerimaan analisis of variance (anova) satu jalur dari konsumen. Kemudian dianalisis dengan menggunalan LSD pada taraf 0,05. Hasil penelitian diperoleh kue adee pada perlakuan kedua (AJ1) dengan penambahan tepung Janeng 30% merupakan perlakuan yang diterima oleh narasumber berdasarkan uji deskriptif dengan nilai rata-rata sebanyak 5,075 dari skala 1-7. Hasil penelitian uji penerimaan konsumen terhadap kue adee dengan penambahan tepung Janeng dengan nilai rata-rata tertinggi terdapat pada kue adee perlakuan kedua (AJ1) dengan nilai 4,25 dengan skala 1-5. Simpulan penelitian ini adalah berdasarkan hasil uji yang dilakukan, baik narasumber maupun konsumen lebih menyukai perlakuan kedua (AJ1) karena pengaruh warna yang bersih, aroma Janeng tidak terlalu kuat, tekstur lembut, serta memiliki rasa manis. Hasil uji daya terima konsumen terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa kue adee lebih diterima dengan penambahan tepung Janeng sebanyak 75 gram (30%).Kata Kunci: karakteristik organoleptik, kue adee, tepung Janeng
DAYA TERIMA KONSUMEN TERHADAP CITA RASA RANGGINING UBI JALAR UNGU (Ipomea batatas P) Dede Rosadi; Suryati Sufiat; Yuli Heirina Hamid
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar merupakan tanaman umbi-umbian dan tergolong tanaman semusim atau berumur pendek.Ubi jalar ungu merupakan sumber karbohidrat dan sumber energi yang cukup tinggiuntuk memenuhi kebutuhan gizi bagi kesehatan tubuh. Serta mudah diolah untuk dijadikan sebagai olahan cemilan tradisional salah satunya Ranggining.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon konsumen terhadap ranggining ubi jalar ungu terhadap karakteristik organoleptik yaitu warna, aroma, rasadan tekstur.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain rancangan acak lengkap (RAL), yaitu satu kali resep kontrol dan dua kali perlakuan. Besar ukuran gram ubi jalar ungu adalah 200 gram dan 250 gram dengan dua kali perlakuan dari tiga produk ranggining yang diberikan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah uji penerimaan (Hedonic Scale) oleh 30 panelis konsumen.Data uji penerimaan dianalisis dengan menggunakan analisis varian (anava) satu jalur yang diperoleh dari panelis konsumen.Hasil uji penerimaan oleh konsumen yang disukai adalah ranggining dengan menggunakan ubi jalar ungu 200 gram pada perlakuan (Ru2) yaitu dari segi warna ungu pekat (3,9), aroma harum (3,7), tekstur renyah (4,1) dan rasa manis (3,9). Hipotesis penelitian ini diterima (H1) karena terdapat pengaruh pada warna,aroma, tekstur dan rasa. Kesimpulan konsumen lebih menyukai perlakuan ke dua Ru2 terhadap produk ranggining ubi jalar ungu berdasarkan warna, aroma,tekstur, dan rasa.Kata Kunci:Daya Terima, Konsumen, Ranggining, Ubi Jalar Ungu
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG BOH GADNG (Diocorea alata ) DALAM PEMBUATAN COOKIES Mulia Sukmawati Bahruni; Izwani .; Yuli Heirina Hamid
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 5, No 3 (2020): AGUSTUS
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBoh gadng merupakan tanaman umbi-umbian yang merambat dan banyak tumbuh di Aceh.Umbi ini memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dan dapat diolah menjadi berbagaimacam makanan, salah satunya cookies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik organoleptik(warna, aroma, rasa dan tekstur), resep standar, daya terima konsumen, kandungan gizi (karbohidrat, protein dan lemak), serta daya simpan cookies tepung boh gadng. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Teknik pengumpulan data menggunakan uji pengamatan (Sensory Evaluation ) yang dilakukan oleh 7 orangnarasumber, uji penerimaan (Accetaptability Test ) oleh 30 orang panelis konsumen. Data ujipengamatan dianalisis dengan menentukan nilai rata-rata (mean) dari total nilai narasumber. Data uji penerimaan menggunakan analisis varian (anava) satu jalur. Hasil analisis data dari narasumber menunjukkan bahwa cookies tepung boh gadng (BR1) memperoleh nilai yangtinggi de ngan nilai rata-rata (23,58) dari segi tekstur, rasa (23,15), warna(23), dan aroma (23). Hasil analisis data terhadap penerimaan konsumen menunjukkan bahwa cookiestepung boh gadng(BR1) mempe ur (4,6), aroma(4,57), dan rasa (4,37). Hasil analisis nilai gizi cookies tepung boh gadng mengandung energi total 449,1 kkal, lemak 24,02%, karbohidrat 6,61%, protein 9,13%. Daya simpan cookies tepung boh gadng(BR1) selama 8 minggu. Diharapkan pembaca dapat mencoba membuat cookies tepung boh gadng sebagai produk untukdijadikan sebuah peluang usaha, kepada peneliti lainnya dapat mencoba mengolah penganan lain dengan dengan bahan dasar tepung boh gadngKata Kunci: tepung boh gadng, cookies.
MODIFIKASI RESEP BAKPIA MENGGUNAKAN TALAS KIMPUL (Xanthosoma sagittifolium) Deni Sri Anggraini; Rahmi Kamal; Yuli Heirina Hamid
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 4, No 3 (2019): AGUSTUS
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakpia adalah makanan manis dan gurih yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Terlebih sangat populer dikota Yogyakarta dan di Sabang dikenal dengan sebutan kue sabang. Talas kimpul merupakan sumber pangan yang penting karena selain sumber karbohidrat, protein, dan lemak, talas juga mengandung beberapa mineral dan vitamin serta rendah glukosa yang aman di konsumsi oleh penderita diabetes. Tujuan penelitian (1)Mengetahui karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur, dan rasa) bakpia dengan penambahan talas kimpul (2)Standarisasi resep bakpia dengan penambahan talas kimpul (3)Daya terima konsumen terhadap bakpia dengan penambahan talas kimpul (4)Mutu simpan bakpia dengan penambahan talas kimpul. Penelitian merupakan eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan uji pengamatan (Sensory Evaluation) terhadap 5 orang Narasumber, uji penerimaan (Hedonic Scale) kepada 30 orang panelis konsumen dan uji mutu simpan. Data uji pengamatan dianalisis dengan menentukan nilai rata-rata (mean). Data uji penerimaan menggunakan analisis varian (anava) satu jalur. Berdasarkan hasil penelitian penilaian narasumber yang tertinggi terhadap karakteristik organoleptik tekstur pada bakpia penambahan talas 0 gr sedangkan warna, aroma dan rasa terdapat pada bakpia dengan penambahan 75 gr. Hasil analisis penerimaan konsumen dari uji penerimaan konsumen terhadap warna, tekstur dan rasa bakpia disukai dengan penambahan talas 75 gr, pada aroma konsumen menyukai bakpia dengan penambahan talas 100 gr. Dari hasil penelitian bakpia dengan Penambahan talas 75 gr dengan masa simpan 2 hari. Kesimpulan berdasarkan uji pengamatan dan penerimaan organoleptik bakpia dengan penambahan talas lebih diterima dan disukai pada penambahan 75 gr. Hipotesis yang diajukan diterima dibuktikan (H1) diterima karena adanya pengaruh terhadap karateristik organoleptik, daya terima dan mutu simpan pada bakpia dengan penambahan talas. Penelitian berikutnya dapat melakukan uji proksimat pada penelitian ini.Kata Kunci : modifikasi resep bakpia, talas kimpul
DAYA TERIMA KONSUMEN TERHADAP KEUMAMAH TEUCRAH BERLEVEL PEDAS Cut Putri Nabila; . Izwani; Yuli Heirina Hamid
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 3, No 2 (2018): MEI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Populasi ikan tuna melimpah dari hasil tangkapan nelayan kota Banda Aceh yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan keumamah teucrah. Tujuan Penelitian ini mengetahui daya terima konsumen, resep standar, karakteristik organoleptik, kandungan gizi, serta mutu simpan keurmamah teucrah berlevel pedas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data adalah uji pengamatan (Sensory evaluation) yang dilakukan terhadap tujuh orang narasumber dan uji penerimaan (Hedonic scale) terhadap 30 orang panelis konsumen. Analisis data dengan menentukan nilai rata-rata (mean) dari total nilai narasumber. Data uji penerimaan menggunakan analisis varian (anava) satu jalur dari narasumber dan konsumen. Hasil analisis data dari narasumber dan konsumen menunjukkan bahwa karakteristik organoleptik dari konsumen menyukai keumamah teucrah perlakuan ketiga (KM3) dengan nilai rata-rata warna (4.1), aroma (3.7), tekstur (3.7) dan rasa (4.4). Nilai gizi pada perlakuan ketiga (KM3) yaitu karbohidrat 18.33%, lemak 34.30% dan protein 18.60% dengan mutu simpan lima hari pada suhu 25C. Resep standar diperoleh dari perlakuan ketiga (KM3) terdiri dari 100 gr ikan tuna, 40 gr asam sunti, 30 gr cabai rawit, 40 gr bawang merah, 10 gr bawang putih, 5 gr kunyit segar, 5 gr garam, 20 gr minyak makan, 10 gr bawang merah, 25 gr cabai merah, 25 gr cabai hijau dan 5 gr daun kari. Berdasarkan uji pengamatan dan penerimaan terhadap karakteristik organoleptik keumamah teucrah lebih di terima pada perlakuan ketiga (KM3), karena berwarna sangat cerah, aroma sangat harum, tekstur sangat lembut dan rasa sangat pedas. Hasil hipotesis diterima H1 karena ada perbedaan karakteristik organoleptik dan daya terima konsumen antara keumamah teucrah standar dengan keumamah teucrah berlevel pedas.Kata Kunci : daya terima konsumen, keumamah teucrah, berlevel pedas
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAGING BUAH PALA BANDA (Myristica fragrans Houtt ) TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK PADA COOKIES Aminatul Fitri; . Zuraini; Yuli Heirina Hamid
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 3, No 2 (2018): MEI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah pala banda merupakan tumbuhan khas masyarakat Aceh Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) pada cookies tepung buah pala banda.(2) menstandarisasikan resep cookies tepung pala banda, dan (3) daya terima konsumen terhadap cookies tepung pala banda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sensory evaluation (uji pengamatan) yang dilakukan terhadap 4 orang narasumber dan uji penerimaan (hedonic scale) yang diuji cobakan 30 orang panelis konsumen. Analisis data menggunakan anava satu jalur dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian berdasarkan uji Pengamatan oleh narasumber diketahui bahwa, cookies tepung daging buah pala banda yang disukai adalah pada perlakuan keempat (M18) dari segi warna 24,75, aroma 24,25, tekstur 24,5 dan rasa 24,25 pada cookies. Hasil analisis tentang penerimaan konsumen menunjukkan bahwa cookies tepung daging buah pala banda yang disukai adalah perlakuan ketiga (M16) memiliki nilai rata-rata pada warna 23,5, aroma 23,25, tekstur 24, dan rasa 23. Simpulan dari penelitian, Cookies yang disukai narasumber adalah pada perlakuan keempat dari segi warna, aroma, tekstur dan rasa. Sedangkan konsumen menyukai cookies dengan penambahan tepung daging buah pala banda pada perlakuan ketiga. karena memiliki warna sangat coklat, aroma yang sangat harum, tekstur yang renyah, dan rasa yang manis. Saran dari penelitian, kepada peneliti berikutnya untuk meneliti daya simpan cookies tepung daging buah pala banda dan uji kandungan gizi cookies tepung daging buah pala banda. Kata kunci: pengaruh, buah pala banda, karakteristik organoleptik,cookies
TINGKAT PENGETAHUAN IBU RUMAH TANGGA TENTANG PENGGUNAAN MONOSODIUM GLUTAMATE (MSG) DALAM MENGOLAH MAKANAN (DI GAMPONG JEULINGKE KECAMATAN SYIAH KUALA BANDA ACEH) Intan Junita; Yuli Heirina Hamid; . Indani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 3, No 1 (2018): FEBRUARI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya masyarakat Gampong Jeulingke memiliki tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. Kondisi sosial ekonomi Gampong Jeulingke ini sudah berpengaruh dengan kebudayaan perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu-ibu rumah tangga tentang penggunaan monosodium glutamate (MSG) dalam mengolah makanan. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sedangkan jenis penelitian adalah penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Setelah data diperoleh maka menganalisis dengan rumus persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu-ibu rumah tangga tentang penggunaan monosodium glutamate (MSG) dalam mengolah makanan di Gampong Jeulingke mencapai 75.83%, dikatakan sebagian besar baik. Artinya sebagian besar ibu rumah tangga di Gampong Jeulingke mengetahui tentang penggunaan monosodium glutamate dalam mengolah makanan. Disarankan kepada ibu rumah tangga agar dapat mempelajari lebih dalam mengenai efek negatif penggunaan monosodium glutamate, mengingat peranan ibu rumah tangga sangat penting dalam penyelenggaraan tingkat gizi yang baik. Kata kunci : pengetahuan, ibu, penggunaan, MSG, makanan.
STANDARISASI RESEP HALUA BREUH SEBAGAI PENGANAN TRADISIONAL ACEH . Rosmanidar; Yuli Heirina Hamid; Laili Suhairi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 4 (2017): November
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Halua breuh merupakan salah satu kue penganan tradisional Aceh sangat berkaitan dengan adat Aceh sehingga perlu untuk dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi pada masa kini, membuat penganan tradisional dari generasi ke generasi mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) halua breuh dari gula merah dan halua breuh meulisan. (2) Menstandarisasikan resep halua breuh, dan (3) Daya terima konsumen terhadap karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) halua breuh gula merah dan Meulisan. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data adalah sensory evaluation yang dilakukan kepada 5 orang narasumber dan uji penerimaan yang diujikan kepada 60 panelis konsumen yaitu siswa SMKN 3 Banda Aceh. Analisis data menggunakan analisis varian anava satu jalur dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan pengamatan narasumber terhadap warna (23,30), aroma (24,20), tekstur (24,10) dan rasa (23,80) halua breuh hal ini berarti narasumber lebih menyukai halua breuh yang menggunakan gula merah pada perlakuan ke dua. Resep standar halua breuh terdiri dari 250 gram kelapa parut, 300 gram air kelapa, 350 gram meulisan, 350 gram gula merah, 75 gram gula pasir, 350 gram beras tumbuk, 3 gram garam. Penerimaan konsumen terhadap warna (1,38), aroma (1,76), tekstur (1,36) dan rasa (1,52) halua breuh menunjukkan konsumen lebih menyukai halua breuh menggunakan gula merah karena memiliki warna sangat coklat, aroma sangat harum, tekstur yang lembut, dan rasa yang manis. Diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan beras ketan sebagai bahan pembuatan kue halua breuh dan memproduksinya sebagai peluang bisnis sehingga dapat memperkenalkan kepada generasi muda sekarang untuk mengenal kembali penganan khas Aceh.
MODIFIKASI RESEP KUE BANGKIT DENGAN PENAMBAHAN LABU KUNING (CUCURBITA MOSCHATA, L) Rufiza Mizza; . izwani; Yuli Heirina Hamid
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kue kering dapat diciptakan dengan berbagai jenis bahan dasar tepung. Bahan yang digunakan berupa umbi-umbian ataupun buah-buahan yang dapat dijadikan modifikasi Kue Bangkit dengan penambahan Labu Kuning. Tujuan penelitian ini untuk (1) mengetahui pengaruh penambahan Labu Kuning terhadap karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) pada Kue Bangkit, (2) mengetahui pengaruh penambahan Labu Kuning terhadap tingkat penerimaan konsumen pada Kue Bangkit, (3) menghitung jumlah kalori Kue Bangkit dengan penambahan Labu Kuning serta (4) mengetahui pengaruh penambahan Labu Kuning terhadap mutu simpan Kue Bangkit. Kue Bangkit Labu Kuning dinilai dengan pengamatan (Sensory Evaluation) oleh narasumber dan uji penerimaan (Acceptability Test) oleh panelis konsumen, untuk melihat karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa). Penelitian dilakukan di Laboratorium Tata Boga Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Darussalam, Banda Aceh. Perhitungan jumlah kalori Kue Bangkit Labu Kuning dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Unsyiah. Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen dengan pendekatan Kuantitatif. Analisis data dilakukan dengan uji LSD (Least Significant Different) pada taraf signifikansi 0,05 dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil analisis data menunjukkan bahwa ditinjau dari segi warna, aroma, tekstur dan rasa baik narasumber maupun panelis konsumen kedua dengan menyukai Kue Bangkit Labu Kuning pada perlakuan pertama (Cp1). Perlakuan pertama untuk Kue Bangkit Labu Kuning dengan jumlah kalori 95,53% (karbohidrat), 15,99% (lemak) dan 3,13% (protein). Mutu simpan selama 2 minggu. Uji hipotesis dapat diterima (H1) karena ada pengaruh karakteristik organoleptik dan daya terima konsumen antara kue bangkit tanpa penambahan labu kuning dengan kue bangkit penambahan labu kuning.
STANDARISASI RESEP CIMPE SEBAGAI PENGANAN TRADISIONAL ACEH TENGGARA . Nurhayati; Yuli Heirina Hamid; . Indani
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 2, No 2 (2017): MEI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aceh Tenggara merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Aceh. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani dan peternak. Cimpe merupakan penganan tradisional yang sering dikonsumsi oleh petani saat bekerja di sawah. Cimpe sudah jarang dikonsumsi oleh penduduk Aceh Tenggara karena berubahnya pola konsumsi seiring dengan perkembangan zaman dan cimpe belum memiliki resep standar. Penelitian ini bertujuan (1) menstandarisasikan resep cimpe. (2) mengetahui karakteristik organoleptik (warna, aroma, tekstur, dan rasa) cimpe. (3) mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap cita rasa cimpe. (4) menghitung kalori cimpe. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Data-data dari uji pengamatan dianalisis dengan cara menentukan nilai rata-rata (mean) dari total yang diperoleh dari narasumber. Data-data dari uji kesukaan dianalisis menggunakan analisis varian (anava) satu jalur pada cimpe yang diperoleh dari narasumber dan panelis konsumen mahasiswa suku Alas, Gayo dan Batak. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu uji pengamatan (Sensory Evaluation) yang dilakukan oleh 5 orang narasumber, uji tingkat kesukaan (preferensi) yang di uji cobakan kepada 30 orang panelis konsumen. Resep standar cimpe adalah tepung beras 150 gram, gula merah 200 gram, kelapa parut 200 gram, dan garam sdt. Cimpe hasil standarisasi perlakuan ke-2 (Cp2) diterima oleh narasumber dan panelis konsumen, berdasarkan nilai rata-rata yang memperoleh nilai tertinggi perlakuan Cp2 dibandingkan cimpe perlakuan ke-1 (Cp1) karena berwarna coklat, aroma cukup harum, tekstur tidak terlalu keras dan rasanya manis. Jumlah kalori untuk satu resep adalah protein 18,5 gram, lemak 30,75 gram, karbohidrat 306 gram, dan total kalori cimpe adalah 1574.75 kal. Kalori cimpe perpotong adalah protein 0,93 gram, lemak 1,54 gram, karbohidrat 15,3 gram, dan total kalori 78,73 kal. Hipotesis penelitian H1 diterima.