Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pendampingan Pengajaran Bahasa Inggris Berbasis Budaya bagi Teruna Teruni Gianyar Language Club di Desa Beng Gianyar I Gusti Ayu Agung Dian Susanthi; I Made Mardika; Made Sani Damayanthi Muliawan; A.A. I Mas Trisnamayuni; Kadek Yogi Pratama; Kadek Silvia Melinda Dewi
Linguistic Community Services Journal Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55637/licosjournal.5.2.9969.33-39

Abstract

Bali sebagai destinasi pariwisata tentunya sangat ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai belahan dunia. Hal ini merupakan pemicu bagi generasi muda untuk dapat menguasai bahasa asing, utamanya bahasa Inggris. Sebagai contoh, penggunaan bahasa Inggris menjadi sangat penting untuk dapat bekomunikasi dengan wisatawan yang berkunjung. Oleh sebab itu, bahasa Inggris tentunya sangat perlu untuk dipelajari sejak dini, di samping itu, saat ini banyak wisatawan yang berkunjung ke Bali dengan berbagai tujuan yakni berlibur, mengenal budaya lokal dan sebagainya. Fenomen ini tentunya sangat penting untuk diperhatikan mengingat Bali sangat kaya akan produk dan budaya lokal. Kendala keterbatasan berkomunikasi dalam bahasa Inggris seringkali menjadi permasalahan untuk dapat memperkenalkan budaya ataupun produk lokal pada wisatawan yang berkunjung. Kendala tersebut dapat diatasi dengan mengadakan pengajaran atau pelatihan bahasa Inggris agar tentunya budaya lokal dan produk lokal dapat lebih dikenal oleh wisatawan yang berkunjung. Pengajaran bahasa Inggris yang diperkenalkan juga dapat memuat unsur pengenalan budaya, hal ini penting karena pengenalan budaya pada remaja dapat disisipkan dalam pengajaran bahasa, seperti pengenalan bahasa Inggris yang mengandung unsur budaya dapat termuat dalam pengenalan kata benda sebagi contoh makanan, profesi, tempat dan sebagainya dengan sajian yang menarik sehingga mudah diingat oleh siswa, pengenalan kata sifat sebagai contoh kata sifat yang sering digunakan dalam mendeskripsikan tempat. Dengan demikian, adanya pendampingan pengajaran bahasa Inggris dapat meningkatkan kualitas dan mutu pelajaran bahasa Inggris dan membantu lembaga yang berlokasi di desa khususnya yang memiliki potensi wisata yang tinggi.
Local Wisdom-Based Ecotourism Development Model In Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency Bali province Toto Noerasto; Ayu Dewi Larantika; I Made Mardika; Ni Luh Sephia Adnyani Putri
Asian Journal of Management, Entrepreneurship and Social Science Vol. 4 No. 04 (2024): Upcoming issues, Asian Journal of Management Entrepreneurship and Social Scien
Publisher : Cita Konsultindo Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the model of ecotourism development based on local wisdom in Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency, Bali Province, and identify the role of local wisdom in managing ecotourism. Sambangan Village holds significant ecotourism potential with its natural attractions like Aling-Aling Waterfall, as well as unique local culture and arts. However, the development of ecotourism in this village has been hindered by the lack of appropriate strategies and limited community involvement in maximizing its potential. This research employed a qualitative method with data collection techniques including observation, interviews, documentation, and Focus Group Discussions (FGD). Data analysis followed the stages outlined by Miles, Huberman, and Saldana, which involved data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. The findings showed that the ecotourism development model in Sambangan Village involved the integration of natural, cultural, and artificial tourism. Local wisdom, such as the spirit of community cooperation (gotong royong) and cultural preservation, plays a vital role in ecotourism management. The community actively participates through institutions like LPHD and POKDARWIS, engaging in sustainable tourism management. Furthermore, infrastructure improvements and accessibility enhancements were needed to support further development. Diversification of tourist attractions and improving community skills through training programs were also recommended to increase the village's appeal as a leading ecotourism destination.
Pelatihan dan Pendampingan Tata Kelola Pengembangan Desa Wisata Kepada Perangkat Desa dan Pokdarwis Wisnumurti, Anak Agung Gede Oka; Antarini, Lilik; Mardika, I Made; Dewi, I Gusti Agung Ayu Yuliartika
International Journal of Community Service Learning Vol. 6 No. 3 (2022): August 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v6i3.51586

Abstract

Desa Cau Belayu dinobatkan menjadi desa wisata pada 19 Agustus 2020 berdasarkan pada Keputusan Bupati Tabanan Nomor 180/1286/03/HK&HAM/2020 tentang Penetapan Desa Cau Belayu sebagai Desa Wisata. Akan tetapi, pengelolaan wisata belum berkembang masih monoton dan minimnya partisipasi masyarkat lokal dalam menunjang kegiatan wisata di Desa Cau Belayu. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan melaksanakan pelatihan strategi pengembangan desa wisata, pelatihan pemberdayaan Pokdarwis, pelatihan pengelolaan website dalam menunjang pemasaran wisata, dan terakhir menyusun buku pengelolaan website desa wisata. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan metode observasi dan wawancara kepada mitra. Kegiatan ini menyasar masyarakat yang berjumlah 20 orang yang terdiri dari Pokdarwis, sekaa truna truni, dan perangkat desa cau belayu. Kegiatan ini menghasilkan luaran berupa fokus pengembangan desa wisata, roadmap pengembangan desa wisata, sistem perencanaan dan pengembangan desa wisata, sistem kerja kolaboratif antar Pokdarwis, perangkat desa, dan masyarakat. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat mengatasi segala permasalahan yang ada di Desa Wisata Cau Belayu.
Legal Protection and Empowerment of Songket/Endek Fabric Weavers in Gelgel Village Tourism Area, Klungkung Styawati, Ni Komang Arini; Mahendrawati, Ni Luh Made; Laksmi, Anak Agung Rai Sita; Wijaya, I Ketut Kasta Arya; Rideng, I Wayan; Widiati, Ida Ayu Putu; Mardika, I Made; Ekayani, Ni Nengah Seri; Wesna, Putu Ayu Sriasih; Utama, I Wayan Kartika Jaya; Muliana, I Wayan; Susanthi, I Gusti A.A. Dian; I Gusti Putu Ghosadhira Vedhastama; Erawati, Ni Putu Tina; Bongon, Miel S.; Villafuerte, Marcelo Roland C.; Vibandor, Demosthenes B. Vibandor; Sentelices, Leovigildo C.; Raymundo, Carlos M.
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v9i1.523

Abstract

Gelgel Village is one of the villages in Bali known for producing Balinese woven fabrics, namely songket and endek fabrics. Songket/endek fabric is one of the characteristics of Balinese cultural products. In order to preserve songket weaving, legal protection is necessary. Moving on from this matter, there are several problems experienced by participants in this program, namely: 1) Lack of interest of the younger generation in working as weavers, 2) Lack of compatibility of work results required by employers with weavers, and 3) Legal protection for workers and employers of songket/short cloth weaving in Gelgel Village, Klungkung. The activities carried out in this program were to provide counseling on the importance of preserving songket weaving as a cultural characteristic. These activities increased the younger generation's interest in weavers by counseling them on preserving songket weaving as a cultural characteristic. In addition, a good working relationship is needed in the songket/short woven fabric production process so that the weaving results are by the expectations of employers and consumers. Legal protection for weaving workers is to provide their rights as workers by applicable laws and regulations. Entrepreneurs are also encouraged to get legal protection by making Intellectual Property Rights (IPR) in the form of Copyright.
Development and Community Empowerment in Local Wisdom Based Ecotourism in Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency, Bali Province Toto Noerasto; Anak Agung Ayu Dewi Larantika; I Made Mardika; I Gusti Agung Istri Anindyagani
International Journal of Education, Vocational and Social Science Vol. 4 No. 04 (2025): September - November, International Journal of Education, Vocational and Socia
Publisher : Cita konsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijevss.v4i04.2474

Abstract

This study aimed to analyze the development and empowerment of the community in managing ecotourism based on local wisdom in Sambangan Village, Sukasada District, Buleleng Regency, Bali. Initial observations indicated that the village's tourism potential, including ten waterfalls, cultural attractions, and man-made tourism facilities, had not been optimally managed due to limited development strategies and human resource capacity. This study employed a qualitative method, collecting data through in-depth interviews, observations, and document analysis. The results showed that ecotourism development based on local wisdom successfully utilized natural, cultural, and artificial tourism potentials to attract visitors and improve community welfare. Local wisdom, reflected in the spirit of mutual cooperation, agricultural traditions, arts, and culture, strengthened tourism governance, with community members actively participating in village deliberations, training, homestay management, digital marketing, and preservation of traditional arts and handicrafts. Institutions such as LPHD and POKDARWIS served as coordination platforms to maintain environmental sustainability and ensure responsible tourism. The study produced a model of community empowerment that supported local economic improvement while preserving cultural values and environmental sustainability. The findings emphasized the importance of community collaboration and the utilization of local wisdom as a strategy for inclusive, sustainable, and adaptive ecotourism development.
Revitalisasi Warisan Budaya Tak Benda di Desa Heritage Gelgel, Bali: Kolaborasi Seni Budaya, Sastra, dan Teknologi Digital Mardika, I Made; Suwitra, I Made; Prabhadika, Putu Yudi
Community Service Journal (CSJ) 21-25
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csj.8.1.2025.21-25

Abstract

Warisan budaya tak benda (WBTb) di Indonesia menghadapi tantangan signifikan di era modernisasi dan globalisasi, yang berpotensi mengikis eksistensinya dan menyebabkan hilangnya identitas kultural. Banyak dari warisan ini, yang merupakan identitas dan kekayaan bangsa, berisiko mengalami kepunahan jika tidak ada upaya pelestarian yang sistematis dan berkelanjutan. Penelitian ini akan memaparkan metodologi, hasil, pembahasan, serta simpulan dan tindak lanjut dari program PKM ini sebagai studi kasus dalam upaya pelestarian budaya berbasis komunitas dan teknologi. telah berhasil mencapai tujuannya dalam merevitalisasi seni lukis Wayang Kamasan, digitalisasi lontar, dan pelestarian seni tari Wayang Wong. Luaran yang dicapai meliputi peningkatan keterampilan 12 anak dalam seni lukis dengan produk godibag inovatif, digitalisasi tiga cakep lontar yang penting, serta regenerasi 16 penari muda Wayang Wong. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif antara komunitas, seniman, dan teknologi digital adalah strategi efektif untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya tak benda di tengah tantangan modernisasi. Program ini tidak hanya menghasilkan produk fisik dan digital, tetapi juga meningkatkan kesadaran, partisipasi, dan kapasitas masyarakat lokal dalam menjaga identitas budaya mereka.