Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PERGESERAN TERITORI SEBAGAI BENTUK ADAPTASI PADA TERAS RUMAH AKIBAT PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KAMPUNG PELANGI, KOTA SEMARANG Vincentia Aprilia Ratnasari; Happy Ratna Sumartinah; Dewi Septanti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v4i3.504

Abstract

Abstract: Tourism has the opportunity to be able to give a good influence on several aspects (economic, social, cultural, and environmental), so it makes one of the strategies of the Semarang City government to be used to solve the problems of slums in Kampung Wonosari. Kampung Wonosari which was changed into a tourist village, and changed its name to Kampung Pelangi. In addition to the positive effects obtained, but there are also negative effects due to changes in the function of the village. One of the negative influences is that there is a shift in territorial occupancy because people have to share their space with visitors. From this phenomenon, this research will raise the issue of territorial shift as a form of adaptation due to the development of tourism in the village. Based on these problems the purpose of this study is to determine the form of territory shifting from the form of adaptation that occurred. This research method uses a descriptive qualitative method. So we get realistic results from the object of shifting territory on the porch as a form of adaptation to follow the development of the village into a tourist attraction.
ASPEK FASAD BANGUNAN CAGAR BUDAYA YANG MEMPENGARUHI MINAT MASYARAKAT Khoudiy Iffiyah; Bambang Soemardiono; Dewi Septanti
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v6i3.1047

Abstract

Abstract: The facade of teh building can affect the public interest in activities around the building. A good building facade can influence people to dare to pass or even stop around the building. Tunjungan as a cultural heritage area, has experienced a phase of lost space which caused a decrease in the intensity of activities on Jalan Tunjungan due to the nonactive frontage. It the importance to understand the facade of the building that is of interest to the community so that the cultural heritage area can develop properly. This study aims to determine the aspects of the facade of cultural heritage buildings that affect the attractiveness and interest of the community in the Tunjungan area. This research uses qualitative phenomenological methods through interview tactics, distributing questionnaires to participants, and observation at the site. This study shows that the aspects that influence people's interest in activities on Jalan Tunjungan are building openings, building shapes, building decorations, building colors and building materials. Facades that attract public interest must maintain uniqueness, aesthetics and classic style to be a community attraction.Abstrak: Bentuk fasad bangunan dapat mempengaruhi ketertarikan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar bangunan. Fasad bangunan yang baik dapat mempengaruhi masyarakat untuk berani melintas atau bahkan berhenti di lingkungan sekitar bangunan. Tunjungan sebagai kawasan cagar budaya pernah mengalami fase kawasan lost space yang menyebabkan turunnya intensitas kegiatan di Jalan Tunjungan akibat adanya fasad bangunan yang tidak aktif. Pentingnya pemahaman mengenai fasad bangunan yang diminati oleh masyarakat agar kawasan cagar budaya dapat berkembang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek fasad bangunan cagar budaya yang mempengaruhi daya tarik serta minat masyarakat di Kawasan Tunjungan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif fenomenologi melalui taktik wawancara dan penyebaran kuesioner terhadap partisipan serta pengamatan langsung pada lokasi penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek yang mempengaruhi minat masyarakat untuk beraktivitas di Jalan Tunjungan adalah bukaan bangunan, bentuk bangunan, dekorasi bangunan, warna bangunan dan material bangunan. Fasad yang menarik minat masyarakat harus mempertahankan keunikan, estetika dan gaya klasik sehingga dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Selain itu penjagaan warna dan material bangunan asli juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
ECONOMIC ACTIVITIES IN URBAN SETTLEMENT PUBLIC SPACES: BEHAVIOR AS AN IDENTITY Ima Rahmawati Sushanti; Purwanita Setijanti; Dewi Septanti
Journal of Architecture&ENVIRONMENT Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : Department of Architecture, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2355262x.v21i2.a13582

Abstract

Behavior aspects cover response of interaction between human and places, showing existence of interactive spaces that not only describes behavior but also the place character. Currently, the level of need for human social and economic interaction is increasingly binding. Purpose of this study is to identify behavior of users in public space especially in utilizing space when they carry out social and economic activities simultaneously, and to question whether the creation of public space can reflect the character of identity. Activities to be observed are in residential corridor of Sekarbela, Mataram City. This space is used daily as space for social and economic interaction. This is qualitative research using grounded theory and case study. Data collection techniques were carried out by observation, description, and documentation. Interactive analysis model is used with descriptive analysis of behavior setting in Sekarbela corridor. The results show that social and economic activities are behavior identities in public space of urban settlement. The routine activities of production, distribution, and consumption in this area unwittingly make this space unified and give more meaning to a public space; not only perceived social and economic space separately but intertwined each other and makes the public space more vibrant.
Media Pembelajaran Rumah Sehat Anak Melalui Kegiatan Kreatif dan Buku Aktivitas Adinda Sih Pinasti Retno Utami; Tanti Satriana Rosary Nasution; Sarah Cahyadini; Happy Ratna Soemartinah; Purwanita Setijanti; Dewi Septanti; Wahyu Setyawan
Sewagati Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.229 KB)

Abstract

Pada masa pandemi ini, konsep rumah sehat dan perilaku hidup sehat kembali menjadi isu yang diperbincangkan. Banyak penyakit yang bersumber dari kurang sehatnya kebiasaan manusia sehari-hari dan berakibat pada kurang sehatnya hunian. Anak-anak pada masa emasnya, memiliki kelebihan untuk menyerap berbagai hal dengan baik yang dapat mempengaruhi kebiasaan dan sikap ke depannya. Penanaman pentingnya rumah sehat dan PHBS pada anak dapat mendorong terciptanya rumah sehat dan PHBS sedari dini. Mensosialisasikan prinsip rumah sehat dan perilaku hidup sehat kepada anak-anak melalui ceramah akan dirasa kurang efektif. Salah satu alternatif cara mempromosikan prinsip rumah sehat dan PHBS untuk anak-anak adalah menggunakan buku aktifitas. Buku aktivitas saat ini banyak dipakai oleh anak-anak di sekolahnya dan juga secara mandiri di rumah. Selain mengajarkan topiknya, buku aktivitas juga disusun untuk dapat melatih kemampuan motorik dan sensorik anak. Dari penggunaan buku aktifitas pada anak-anak, menjadikan anak-anak memiliki aktivitas bermain dan belajar tentang rumah sehat.
Social, Religious, and Economic Interaction Spaces as a Community Representational Space Ima Rahmawati Sushanti; Purwanita Setijanti; Dewi Septanti
Journal of Islamic Architecture Vol 8, No 1 (2024): Journal of Islamic Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jia.v8i1.22767

Abstract

Place identity relates to the meaning and importance of a place to its residents and users and how these meanings contribute to an individual's self-conceptualization. The order of Islamic values in a place as spirit can move the community to practice them daily to create identity, which will easily observed in public spaces. Islamic values in religious traditions are suspected to underlie ongoing social and economic activities in this space. This research aims to determine the identity of public spaces in urban settlements based on Islamic values on a city scale. The research paradigm is naturalistic, with case studies and qualitative descriptive research methods. The research location is the corridor of Sekarbela district, Mataram city, where most people are Muslim. Data collection involves interviews, observation, and documentation of activities. The analysis used behavior setting and spatial and micro activities techniques. Research results show that the representation of public space is practicing Islamic values through local traditions in spider networks centered on the mosque. The community agrees and works together to practice Islamic values for social togetherness, economic independence, and environmental comfort so that local traditions can continue and become the color of public spaces.
Pendampingan Perancangan Eksterior Menara Masjid Baiturrohiem di Perum Wisma Kedung Asem Indah Kharismawan, Rabbani; Soemardiono, Bambang; Mahendra, Angger Sukma; Nugroho, Setyo; Septanti, Dewi; Sumartinah, Happy Ratna; Sudarma, Erwin; Krisdianto, Johanes; Muchlis, Nurfahmi; Defiana, Ima
Sewagati Vol 8 No 2 (2024)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v8i2.818

Abstract

Menara masjid telah lama digunakan sebagai tanda dan alat untuk menunjukkan keberadaan masjid dalam suatu lingkungan. Selain membantu menyuarakan adzan, menara juga berfungsi sebagai elemen yang meningkatkan keindahan visual sebuah masjid. Walaupun Masjid Baiturrohiem telah mengalami pengembangan besar sejak tahun 2010, namun masih belum memiliki menara yang mencerminkan dengan baik keagungan masjid saat ini. Oleh karena itu, pada tahun 2020, dimulai upaya untuk memulai pembangunan menara yang lebih representatif. Sayangnya, hingga saat ini, tim Takmir dan panitia pembangunan masih belum memiliki dokumen arsitektural yang diperlukan untuk mendukung penyelesaian proyek pembangunan menara ini. Proses ini dimulai dengan melakukan survei lokasi, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan dan akhirnya disusul dengan pembuatan gambar kerja yang dibutuhkan. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan pendampingan perancangan dalam eksterior Menara Masjid Baiturrohiem hingga menghasilkan dokumen rancang yang akan diserahkan ke panitia Pembangunan Menara masjid untuk dijadikan acuan dalam desain eksterior Menara. Dengan demikian, perancangan eksterior menara masjid ini diharapkan akan memberikan kebanggaan warga Perum Wisma Kedung Asem Indah di masa depan.
KAJIAN TRANSFORMASI RUANG BERSEJARAH MELALUI KONSEP ADAPTIVE REUSE DI DE TJOLOMADOE SURAKARTA Fanaya, Fachrizal Sabilineo; Septanti, Dewi; Novianto, Didit
NALARs Vol. 24 No. 1 (2025): NALARs Vol 24 No 1 Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.24.1.%p

Abstract

Adaptive reuse merupakan pendekatan pemanfaatan kembali bangunan tua bersejarah terabaikan diubah fungsinya menjadi fungsi baru yang populer di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia. Surakarta, kota yang kaya akan sejarah, berupaya menerapkan konservasi dengan adaptive reuse, pada De Tjolomadoe. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis implementasi konsep adaptive reuse pada bangunan bersejarah di Kota Surakarta, khususnya di Museum De Tjolomadoe. Metode penelitian kualitatif naratif digunakan untuk melihat perubahan fungsi dan struktur bangunan serta dampaknya terhadap transformasi sejarah dan warisan budaya. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data melalui studi pustaka terkait teori adaptive reuse, observasi lapangan pada objek bangunan, analisis dokumentasi bangunan dan dokumen arsip terdahulu sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aspek arsitektur yang diteliti, yang terdiri dari bentuk, fasad, interior, material, dan struktur mengalami perubahan. Aspek bentuk, fasad, dan struktur juga mengalami perubahan yang tidak signifikan pada masing-masing empat dimensi dengan masih mempertahankan karakter dan poin-poin penting dari setiap bagian. Di sisi lain, variabel interior dan material merupakan bagian yang mengalami perubahan signifikan. Misalnya saja bagian besali, stasiun puteran, dan stasiun pengepakan yang berubah menjadi cafe dan hall. Merupakan ruang yang mengalami perubahan signifikan, bahkan sudah kehilangan karakteristik ruang tersebut sebagai tempat pengolahan gula. Di antara material tersebut, ada yang cukup kuat, terutama di area yang dekat dengan dan melekat pada pengolahan mesin, namun secara keseluruhan, material baru ini tidak terbatas pada apa yang terlihat pada sisi bangunan itu juga ada pada struktur utama bangunan yang sudah mengalami permabharuan dengan material-material baru.Adaptive reuse is an approach that repurposes abandoned historic buildings by transforming them into new functional spaces, a practice prevalent in various countries, including Indonesia. Surakarta, a rich historical city, strives to apply conservation through adaptive reuse, particularly at De Tjolomadoe. This study aims to identify and analyze the implementation of the adaptive reuse concept in historic buildings in Surakarta, specifically at the De Tjolomadoe Museum. A qualitative narrative research method is used to observe changes in the building's function and structure and their impact on the transformation of history and cultural heritage. Data collection involves literature reviews on adaptive reuse theory, field observations of the building, analysis of building documentation, and archival documents for comparison. The findings indicate that every architectural aspect studied changed, including form, facade, interior, material, and structure. The form, facade, and structure experienced minimal changes in the four dimensions, maintaining each part's character and key features. In contrast, the interior and material variables experienced significant changes. For instance, areas like the besali, spinning station, and packing station have been transformed into a cafe and hall, undergoing substantial changes that resulted in the loss of their original characteristics as sugar processing spaces. Among the materials, some remain strong, especially in areas close to and integrated with the processing machinery. However, the new materials are not limited to the building's visible parts but also include updates to the main structure with new materials.
PERGESERAN TERITORI SEBAGAI BENTUK ADAPTASI PADA TERAS RUMAH AKIBAT PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KAMPUNG PELANGI, KOTA SEMARANG Ratnasari, Vincentia Aprilia; Sumartinah, Happy Ratna; Septanti, Dewi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Tourism has the opportunity to be able to give a good influence on several aspects (economic, social, cultural, and environmental), so it makes one of the strategies of the Semarang City government to be used to solve the problems of slums in Kampung Wonosari. Kampung Wonosari which was changed into a tourist village, and changed its name to Kampung Pelangi. In addition to the positive effects obtained, but there are also negative effects due to changes in the function of the village. One of the negative influences is that there is a shift in territorial occupancy because people have to share their space with visitors. From this phenomenon, this research will raise the issue of territorial shift as a form of adaptation due to the development of tourism in the village. Based on these problems the purpose of this study is to determine the form of territory shifting from the form of adaptation that occurred. This research method uses a descriptive qualitative method. So we get realistic results from the object of shifting territory on the porch as a form of adaptation to follow the development of the village into a tourist attraction.
KONDISI DAN RESPON MASYARAKAT PADA RUANG TERBUKA PUBLIK DI SURABAYA SAAT PANDEMI COVID-19 Hutama, Shinta Fiqi; Septanti, Dewi; Soemardiono, Bambang
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Public open spaces used for social interaction, recreation, and economics are now experiencing a crisis. The spread of the COVID-19 pandemic since the end of 2019 has caused various problems in public spaces. This study uses a qualitative descriptive method to determine how the community responds to public open spaces during a pandemic. A questionnaire survey by google form was conducted because of the social restrictions. And 84 respondents participated in this study. The data were analyzed descriptively, which consisted of analyzing, describing, and summarizing. And the results show that the park condition in Surabaya during the pandemic objectively and subjectively changed related to the arrangement of parks in Surabaya, which became cleaner and neater. The community also responded that the park's current condition was quite good, but the park closure made people feel bored and start visiting the park. So activities in the park that were initially spread throughout the park area now became centered on the park's edge. It emphasizes that parks are important to increase the quality of community, and improving public open space services that refer to the public needs during the COVID-19 pandemic is also needed.Abstrak: Ruang terbuka publik yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi sosial, rekreasi dan nilai ekonomi kini mengalami krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penyebaran pandemi COVID-19 yang telah terjadi sejak akhir 2019 menyebabkan berbagai permasalahan pada ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat terkait ruang terbuka publik saat pandemi. Pengambilan data dengan kuesioner dengan google form dilakukan akibat pembatasan sosial yang berlaku. Dan sebanyak 84 responden berpartisipasi dalam penelitian ini. Data kemudian dianalisis secara deskriptif yang terdiri dari menganalisis, menggambarkan dan meringkas kondisi situasi. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa kondisi Taman di Surabaya saat pandemi secara objektif dan subjektif menunjukkan perubahan terkait penataan Taman di Surabaya yang pada saat pandemi menjadi semakin bersih dan rapi. Masyarakat juga merespon bahwa kondisi Taman saat ini sudah cukup baik, namun tutupnya Taman membuat orang menjadi jenuh dan mulai berkunjung ke Taman. Sehingga aktivitas di Taman yang awalnya tersebar di seluruh area Taman kini menjadi berpusat di pinggir Taman. Hal tersebut menekankan bahwa pentingnya Taman dalam meningkatkan kualitas masyarakat, dan peningkatan pelayanan ruang terbuka publik yang mengacu pada kebutuhan masyarakat saat pandemi COVID-19 juga dibutuhkan.
ASPEK FASAD BANGUNAN CAGAR BUDAYA YANG MEMPENGARUHI MINAT MASYARAKAT Iffiyah, Khoudiy; Soemardiono, Bambang; Septanti, Dewi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The facade of teh building can affect the public interest in activities around the building. A good building facade can influence people to dare to pass or even stop around the building. Tunjungan as a cultural heritage area, has experienced a phase of lost space which caused a decrease in the intensity of activities on Jalan Tunjungan due to the nonactive frontage. It the importance to understand the facade of the building that is of interest to the community so that the cultural heritage area can develop properly. This study aims to determine the aspects of the facade of cultural heritage buildings that affect the attractiveness and interest of the community in the Tunjungan area. This research uses qualitative phenomenological methods through interview tactics, distributing questionnaires to participants, and observation at the site. This study shows that the aspects that influence people's interest in activities on Jalan Tunjungan are building openings, building shapes, building decorations, building colors and building materials. Facades that attract public interest must maintain uniqueness, aesthetics and classic style to be a community attraction.Abstrak: Bentuk fasad bangunan dapat mempengaruhi ketertarikan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar bangunan. Fasad bangunan yang baik dapat mempengaruhi masyarakat untuk berani melintas atau bahkan berhenti di lingkungan sekitar bangunan. Tunjungan sebagai kawasan cagar budaya pernah mengalami fase kawasan lost space yang menyebabkan turunnya intensitas kegiatan di Jalan Tunjungan akibat adanya fasad bangunan yang tidak aktif. Pentingnya pemahaman mengenai fasad bangunan yang diminati oleh masyarakat agar kawasan cagar budaya dapat berkembang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek fasad bangunan cagar budaya yang mempengaruhi daya tarik serta minat masyarakat di Kawasan Tunjungan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif fenomenologi melalui taktik wawancara dan penyebaran kuesioner terhadap partisipan serta pengamatan langsung pada lokasi penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa aspek yang mempengaruhi minat masyarakat untuk beraktivitas di Jalan Tunjungan adalah bukaan bangunan, bentuk bangunan, dekorasi bangunan, warna bangunan dan material bangunan. Fasad yang menarik minat masyarakat harus mempertahankan keunikan, estetika dan gaya klasik sehingga dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Selain itu penjagaan warna dan material bangunan asli juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.