Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

The Identification Of Morphometric Characteristics And Fattenning Of Mud Crabs (Scylla spp.) In Para Island, Tatoareng District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province Aditya Sasamu; Winda M. Mingkid; Revol D. Monijung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.21491

Abstract

The purpose of this study was to identify the morphometric characters of mangrove crabs Scylla spp. and to grow them on the island of Para Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province. There were 2 types of crabs found during crab’s collection. However, the most abundant one was Scylla serrata while the olivacea is only one tail. The results of this study indicate that mangrove crabs that were kept for 2 weeks feed on trash fish three times a day experience growth. Based on the results of the study, it can be concluded that: the type of crab found on Pulau Para, Tatoareng District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province were mostly S. serrata (34 tails) and one tail of S. olivacea. The fattening of mangrove crabs showed results on the body weight and carapace length.Further research on mangrove crabs needs to be done on different aspects such as preferable food and time of the abundancy.Keywords: Crab, Scylla spp., identification, fattening. ABSTRAK       Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter morfometrik kepiting bakau Scylla spp dan cara penggemukannya di Pulau Para Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara. Dua jenis kepiting bakau ditemukan saat pengumpulan data, namun yang ditemukan paling banyak adalah Scylla serrata, sedangkan S. olivacea hanya 1 ekor saja.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepiting bakau yang dipelihara selama 2 minggu dengan diberi pakan ikan rucah sebanyak tiga kali sehari mengalami pertumbuhan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: jenis kepiting yang ditemukan di Pulau Para Kecamatan Tatoareng Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara adalah Scylla serrata (34 ekor) dan S. olivacea (1 ekor). Penggemukan kepiting bakau dengan pakan ikan rucah tiga kali sehari menunjukan adanya pertumbuhan berat badan dan panjang lebar karapas.     Penelitian lanjutan tentang kepiting bakau perlu dilakukan untuk melihat berbagai aspek seperti makanan kesukaan dan waktu kelimpahanya.Kata kunci : Kepiting, Scylla spp, identifikasi, penggemukan.
Utilization of life feed Alona sp., Boiled Egg Yolk and Commercial Feed Toward Survival Rate of Betta Fish Larvae Mikraim J. Kaseger; Henneke Pangkey; Diane J. Kusen; Henky Manoppo; Winda M. Mingkid; Nego E. Bataragoa
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.23651

Abstract

The purpose of this study was to find out the survival rates of betta fish larvae (cupang) that were given life feed Alona sp., boiled egg yolk and commercial feed for 21 days. Data analysis was performed by one-way ANOVA, and continued with BNJ (Tukey) test. The result of the survival rate is as follow treatment with life feed Alona sp. 56%, treatment with boiled egg yolk 26%, and treatment with commercial feed 0%. The results of statistical tests show there are significant differences.  Significant value p <.0002 (<.05). Water quality parameter measured during the study was temperature of 26 ºC.Keywords: betta fish larvae, life feed, Alona sp., survival rateABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan laju kelangsungan hidup larva ikan betta (cupang) yang dibeerikan pakan alami Alona sp., rebusan kuning telur dan pakan komersil selama 21 hari.  Analisis data dilakukan dengan ANOVA one way, dan dilanjutkan dengan uji BNJ (Tukey).  Hasil laju kelangsungan hidup adalah sebagai berikut, perlakuan dengan pakan alami Alona sp. 56%, perlakuan dengan rebusan kuning telur 26%, dan perlakuan dengan pakan komersil 0%.  Hasil uji statistik menunjukan adanya perbedaan yang nyata.  Nilai signifikan p <.0002 (<.05).  Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah suhu 26ºC.Keywords: larva ikan betta, pakan alami, Alona sp., kelangsungan hidup
The Survival Rate and Growth of Juvenile Crayfish (Cherax quadricarinatus) With Different Types of Shelter Jimmy Mamuaya; Winda M. Mingkid; Ockstan J. Kalesaran; Hengky J. Sinjal; Reiny A. Tumbol; John L. Tombokan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.24510

Abstract

An experiment was designed to assess the relative performance of three shelter types on the survival and growth of red-claw crayfish (Cherax quadricarinatus).  A 13 days old juvenile crayfish with an average length of 10 mm were cultured in 400 ml water of glass bowl and were provided with one of 3 types of shelter over 19 days.  The various shelter types assessed were dried coconut leaves, bamboo and Hydrilla.  Juveniles in each bowl were fed with Artemia twice a day morning and in the afternoon. There was no significant effect (P>0.05) of shelter type on the survival rate; however, there was a significant effect (P<0.05) on growth with dried coconut leaves (5.33%) performing significantly better than Hydrilla (2.33%) and bamboo (2.00%).  This experiment showed that the shelter types provided had a significant effect on the growth but not in their survival.Keywords: Survival rate, Growth, juvenile Cherax quadricarinatus, ShelterABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sintasan hidup dan  pertumbuhan  juvenil lobster air tawar (C. quadricarinatus) dengan shelter yang berbeda. Juvenil lobster yang berumur 13 hari dengan panjang rata rata 10 mm dipelihara dalam wadah toples kaca dengan diberikan ketiga perlakuan selama 19 hari.  Ketiga jenis perlakuan adalah daun kelapa kering, bambu dan Hydrilla.  Juvenil diberi pakan Artemia 2 kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari.  Hasil penelitian menunjukkan ketiga perlakuan tidak berbeda nyata terhadap sintasan hidup (P>0.05), namun berbeda nyata (P< 0.05 ) untuk pertumbuhan dengan daun kelapa kering (5.33%), Hydrilla (2.33%) dan bambu (2%).     Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis shelter memberikan pengaruh nyata  terhadap pertumbuhan namun tidak berbeda nyata untuk sintasan hidup.Kata kunci: Sintasan hidup, Pertumbuhan, Juvenil Cherax quadricarinatus, Shelter
Plankton Community Structure In Halmahera Barat Coastal Zone Tamrin; Joshian Nicolas William Schaduw; Haryani Sambali; Adnan Sjaltout Wantasen; Desy Maria Helena Mantiri; Rene Charles Kepel; Winda Mercedes Mingkid; Ockstan Jurike Kalesaran; Nurhalis Wahidin; Muhammad Aris
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.53407

Abstract

Research on plankton organisms in supporting aquatic resource management is very important to do. This study aims to see the structure of the plankton community in the coastal waters of West Halmahera Regency. There were 9 sampling sites, namely the waters of Toniku (TO), Tewe (TW), Dodinga (DG), Tuada (TU), Porniti (PR), Payo (PA), Bobo (BO), Sahu (SH), and Ibu (IB). Plankton observations used the Census-SRC method. The parameters observed were abundance, diversity index, uniformity index, and dominance index. The results showed that the highest phytoplankton abundance was found in the TO area, namely 1.7 x 107 cells/m3 and the lowest was 4.1 x 106 cells/m3 in the PR area. The highest phytoplankton diversity index was found in the PR area, namely 2.075 and the lowest was 1.429 in the IB area. The highest uniformity index of phytoplankton was found in the PR area, namely 0.901 and the lowest was 0.624 in the BO and DG areas. The highest phytoplankton dominance index was found in the IB area, namely 0.350 and the lowest was 0.138 in the PR area. The highest zooplankton abundance was found in the DG area at 2.0 x 106 cells/m3 and the lowest was 3.3 x 105 cells/m3 in the IB area. The highest zooplankton diversity index was found in the TU area, namely 1.981 and the lowest was 1.516 in the IB area. The highest uniformity index of zooplankton was found in the IB area, namely 0.942 and the lowest was 0.761 in the DG area. The highest zooplankton dominance index was found in the BO area, namely 0.266 and the lowest was 0.167 in the TU area. The conclusion of this study revealed that the most common type of plankton found was Bacillariophyceae. While the diversity value shows moderate diversity, the uniformity value shows a high level of uniformity, and the dominance value shows low-moderate dominance. Keywords: Diversity index; Uniformity index; Dominance index; Abundance; Plankton Abstrak Penelitian tentang organisme plankton dalam mendukung pengelolaan sumberdaya perairan sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan melihat struktur komunitas plankton perairan kawasan pesisir Kabupaten Halmahera Barat. Terdapat 9 lokasi sampling, yaitu perairan Toniku (TO), Tewe (TW), Dodinga (DG), Tuada (TU), Porniti (PR), Payo (PA), Bobo (BO), Sahu (SH), dan Ibu (IB). Pengamatan plankton menggunkan metode Sensus-SRC. Parameter yang diamati adalah kelimpahan, indeks keragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukan kelimpahan fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan TO yaitu 1,7 x 107 Sel/m3 dan terendah 4,1 x 106 Sel/m3 di kawasan PR. Indeks keragaman fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan PR yaitu 2,075 dan terendah 1,429 di kawasan IB. Indeks keseragaman tertinggi fitoplankton terdapat di kawasan PR yaitu 0,901 dan terendah 0,624 di kawasan BO dan DG. Semetara indeks dominansi fitoplankton tertinggi terdapat di kawasan IB yaitu 0,350 dan terendah 0,138 di kawasan PR. Kelimpahan zooplankton tertinggi terdapat di kawasan DG yaitu 2,0 x 106 Sel/m3 dan terendah 3,3 x 105 Sel/m3 di kawasan IB. Indeks keragaman zooplankton tertinggi terdapat di kawasan TU yaitu 1,981 dan terendah 1,516 di kawasan IB. Indeks keseragaman tertinggi zooplankton terdapat di kawasan IB yaitu 0,942 dan terendah 0,761 di kawasan DG. Semetara indeks dominansi zooplankton tertinggi terdapat di kawasan BO yaitu 0,266 dan terendah 0,167 di kawasan TU. Kesimpulan penelitian ini mengungkapkan jenis plankton yang paling banyak ditemukan adalah Bacillariophyceae. Sementara nilai keragaman menunjukkan karagaman sedang, nilai keseragaman menunjukkan tingkat kesergaman tinggi, dan nilai dominasi menunjukkan dominansi rendah – sedang. Kata kunci: Indeks keragaman; Indeks keseragaman; Indeks dominansi; Kelimpahan; Plankton.
Co-Authors Aditya Sasamu Adnan Sjaltout Wantasen Adnan Wantasen Ali Djamhuri Antonius P Rumengan Bawekes, Frisley Rici Billy Th Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus P Paruntu Christo V S Aer, Christo V S Christo V.S Aer, Christo V.S Cyska Lumenta Cyska Lumenta Cyska Lumenta Dahlia Malau Diane J. Kusen Edwin D Ngangi Erly Y. Kaligis Erwin Wiradita Mamonto Farnis Boneka Fransine B. Manginsela Gompi, Wiranto Hariyani Sambali Haryani Sambali Hengky J. Sinjal Hengky J. Sinjal Hengky Sinjal Henky Manoppo Henneke Pangkey Henneke Pangkey Henneke Pangkey Janny Kusen Jeffrie F. Mokolensang Jeti K. Rangan Jhonly Solang Jimmy Mamuaya John L. Tombokan Joppy Mudeng Joshian Nicolas William Schaduw Juliaan Ch. Watung Julius Sampekalo Junaidi Asnawi Kreckhoff, Reni L. Kusen, Diane J. Lady D. Khartiono, Lady D. Mamuko, Nelsi Mantiri, Desy M. H Mardiana M Massora Dudung Medy Ompi Metlin Boroallo Mikraim J. Kaseger Mokoginta, Leyda H. Muhammad Aris Nego E. Bataragoa Nego Elvis Bataragoa Nickson J. Kawung Noni Saliwati Sarifudin Ockstan J Kalesaran Ockstan J. Kalesaran Ockstan J. Kalesaran Ockstan Jurike Kalesaran Ockstan Kalesaran Ockstan Kalesaran Paputungan, Fikri Ramses Nainggolan Reinol Jacobs Reiny A. Tumbol Reiny A. Tumbol Rene Charles Kepel, Rene Charles Revol D Monijung Revol D. Monijung Reygina B.S Roring Robert A. Bara Sambali, Hariyani Sammy N. J. Longdong Sammy N. J. Longdong Sammy N.J. Longdong Sammy N.J. Longdong Sarif Hidayat Silalahi, Torang J. P. Suria Darwisito Suzanne L. Undap Tamrin Tamrin Tamrin Taufiq Abdullah Tununu, Riky R. Veibe Warouw Wahidin, Nurhalis