Claim Missing Document
Check
Articles

Perbedaan Kadar Keasaman Saliva Pasca Menyikat Gigi dengan Sikat Gigi Konvensional dan Sikat Siwak Mo'o, Billie A. F. P.; Tendean, Lydia E. N.; Mintjelungan, Christy N.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.24642

Abstract

Abstract: Miswak (Salvadora persica) is known to be capable enough to increase the hygiene and oral health through its mechanical and chemical components. The acidity of saliva is one of the components that contribute to the acidity of the oral cavity. This study was aimed to evaluate the difference of the saliva acidity after tooth brushing using conventional toothbrush and miswak brush. This was an observational descriptive study with a cross sectional design. Population consisted of Preclinic students of Dentistry Study Program, Sam Ratulangi University Manado. Total sampling method was used in this study and we obtained 30 students that fulfilled the inclusion criteria. The result showed that the number of subjects with acid category of saliva was higher after using miswak brush (53.3%) than after using conventional toothbrush (23.3%). In conclusion, the acid category of saliva was more frequent occured afer tooth brushing with miswak brush than with conventional toothbrush.Keywords: acidity of saliva, conventional toothbrush, miswak brush Abstrak: Siwak (Salvadora persica) telah dikenal mampu meningkatkan kebersihan dan kesehatan mulut melalui kandungan komponen mekanis serta komponen kimia. Kadar keasaman saliva merupakan salah satu komponen yang berkontribusi terhadap kadar keasaman mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan kadar keasaman saliva pasca menyikat gigi dengan sikat gigi konvensional dan sikat siwak. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Populasi ialah mahasiswa Preklinik Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi (PSPDG Unsrat) Manado. Metode pengambilan sampel ialah total sampling. Pada penelitian ini didapatkan 30 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi. Setiap subyek dinilai kadar keasaman saliva sebelum dan setelah menyikat gigi dengan sikat gigi konvensional dan sikat siwak. Hasil penelitian mendapatkan jumlah subyek dengan nilai kadar keasaman saliva kategori asam setelah menyikat gigi menggunakan sikat siwak (53,3%) lebih besar daripada setelah menyikat dengan sikat gigi konvensional (23,3%). Simpulan penelitian ini ialah kadar keasaman saliva kategori asam setelah menyikat gigi dengan sikat siwak lebih sering ditemukan daripada yang menggunakan sikat gigi konvensional.Kata kunci: kadar keasaman saliva, sikat gigi konvensional, sikat siwak
PENGALAMAN KARIES GIGI SERTA POLA MAKAN DAN MINUM PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA KIAWA KECAMATAN KAWANGKOAN UTARA Worotitjan, Indry; Mintjelungan, Christy N.; Gunawan, Paulina
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1931

Abstract

Abstract: Dental caries is an infectious disease resulting email and dentin demineralization. In general, children enter school age have a high caries risk, because at this school age children have a habit of eating foods and beverages cariogenic. This research is descriptive. The purpose of this study was to determine the dental caries experience and patterns of eating and drinking in primary school children in rural North Kawangkoan Kiawa District.The entire study population the sixth grade elementary school students in the village of North KawangkoanKiawa district totaling 60 samples were taken using the Total Sampling. Data retrieval of primary dental caries examination to see the number of dental caries experience (DMF-T) and filling out the questionnaire by using Food Frequency Questionnaire (FFQ) to see the pattern of eating and drinking in primary school children in rural North Kawangkoan Kiawa District.The results showed that primary school students in desaKiawahaving caries experience caries being the average DMF-T 3.71 it means each one of childrens having four caries teeth. Diet on elementary school children who consumed foods cariogenic carbohydrate snack at a frequency that is the most time 2-3 times per day and drinking patterns in elementary school children who consume isotonic drinks cariogenic ie at a frequency of 1-3 times per week. Keywords: dental cariesexperience, eating patterns and drinking, elementary school children.    Abstrak:Karies gigi merupakan penyakit yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin. Anak-anakmemasuki usia sekolah umumnya mempunyai resiko terhadap karies yang tinggi, karena pada usia ini anak-anak memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman kariogenik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengalaman karies gigi serta pola makan dan minum pada anak sekolah dasar di desa Kiawa kecamatan Kawangkoan Utara.Populasi penelitian yaitu seluruh murid SD kelas VI di desa Kiawa Kecamatan Kawangkoan Utara yang  berjumlah 60 sampel diambil dengan menggunakan metode total sampling. Pengambilan data primer yaitu pemeriksaan karies gigi untuk melihat jumlah pengalaman karies gigi (DMF-T) dan pengisian kuesioner dengan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk melihat pola makan dan minum pada anak sekolah dasar di desa Kiawa kecamatan Kawangkoan Utara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar didesaKiawamemilikipengalaman karies gigikategori sedang dengan rata-rata DMF-T 3.71 yang artinya anak-anak sekolah mengalami karies rata-rata 4 gigi. Pola makan makanan karbohidrat kariogenik tertinggi pada anak sekolah dasar yaitu snackpada frekuensi waktu 2-3 kali per hariPola minum minumankariogenik tertinggi pada anak sekolah dasar yaitu minuman isotonik pada frekuensi 1-3 kali per minggu. Kata kunci: pengalaman karies gigi, pola makan dan minum, anak sekolah dasar.
Pengaruh air kelapa terhadap peningkatan pH saliva Kusumawardani, Chendrakasih; Leman, Michael A.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14781

Abstract

Abstract: Dental caries is a disease that attacks the hard tooth tissue. One of the causes of dental caries is the acidogenic bacteria. The bacterial growth is influenced by the condition of oral cavity such as the pH of saliva. The acidity of salivary pH causes increased growth of bacteria resulted in higher risk of caries. Various methods are used to reduce the risk of dental caries. One of them is the usage of natural materials that contain calcium such as coconut water (Cocos nucifera L.) that can help the remineralization process, therefore, can pH of saliva will increase. This study was aimed to determine whether the coconut water and improve the pH of saliva. This was a quasi experimental study with a pretest and posttest group design. There were 30 people as samples. Salivary pH measurements were done three times in each sample as follows: normal saliva, saliva after consumption of bread, and saliva after drinking coconut water. Salivary pH was measured with a pH meter. The results showed that coconut water did not increase the pH of saliva because its pH was acid and its sugar content lowered the pH of saliva.Keywords: salivary pH, coconut water, dental caries, coconut water to pH of saliva Abstrak: Penyakit karies gigi merupakan penyakit yang menyerang jaringan keras gigi. Penyebab terjadinya karies gigi di antaranya ialah bakteri asidogenik. Pertumbuhan bakteri ini dipengaruhi keadaan rongga mulut seperti pH saliva. pH saliva yang asam menyebabkan pertumbuhan bakteri semakin meningkat dengan risiko karies semakin tinggi. Berbagai cara dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya karies gigi di antaranya dengan memanfaatkan bahan dari alam yang memiliki kandungan kalsium seperti air kelapa (Cocos nucifera L.) yang dapat membantu proses remineralisasi sehingga diduga dapat meningkatkan pH saliva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah air kelapa dapat meningkatkan pH saliva. Jenis penelitian ialah kuasi eksperimental dengan pretest and post test group design. Sampel penelitian ini sebanyak 30 orang. Pengukuran pH saliva dilakukan sebanyak tiga kali pada tiap sampel, yaitu saliva normal, saliva setelah mengonsumsi roti, dan saliva setelah meminum air kelapa. Pengukuran pH saliva menggunakan pH meter. Hasil penelitian mendapatkan air kelapa tidak dapat meningkatkan pH saliva karena pH kelapa yang asam serta kandungan gula di dalamnya yang menyebabkan pH saliva menjadi turun. Kata kunci: pH saliva, air kelapa, karies gigi, air kelapa terhadap pH saliva
Hubungan periodontitis dengan penyakit jantung koroner pada pasien di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Ticoalu, Jolanda P.; Kepel, Billy J.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14222

Abstract

Abstract: Periodontitis is one of the factors causing systemic disease. It is often associated with increasing signs of inflammation and it is also an indicator of the risk factors of coronary heart disease (CHD). Infection of periodontal structures can accelerate the form of atherosclerosis that causes coronary heart disease due to systemic inflammation through the release of endotoxins, proteins, or acute phase reactors. This was a case control analytical study with a cross sectional design conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from August to September 2016. There were 40 respondents (20 CHD patients and 20 non-CHD patients) obtained by using total sampling method. Periodontal disease indexes of the samples were evaluated by using periodontal disease index of Ramfjord 1959. The Chi-square test showed a p value of 0.01. Conclusion: There was a significant relationship between periodontitis and coronary heart disease in patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Keywords: periodontitis, Coronary Heart Disease (CHD) Abstrak: Periodontitis merupakan salah satu faktor penyebab penyakit sistemik. Pada periodontitis sering didapatkan peningkatan tanda-tanda inflamasi yang juga merupakan salah satu indikator dari faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK). Infeksi struktur periodontal dapat mempercepat pembentukan aterosklerosis yang menjadi penyebab PJK dengan cara menimbulkan inflamasi sistemik melalui pelepasan endotoksin, protein, atau reaktor fase akut. Jenis penelitian ialah analitik menggunakan case control dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan Agustus sampai September 2016. Terdapat 40 responden (20 pasien PJK dan 20 pasien non PJK) diperoleh dengan menggunakan metode total sampling. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran indeks penyakit periodontal menggunakan pengukuran PDI Ramfjord 1959. Analisis data menggunakan uji Chi-square. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square menunjukkan nilai p=0,01 (0,01<0,05) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara periodontitis dengan PJK pada pasien di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara periodontitis dengan penyakit jantung koroner pada pasien di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.Kata kunci: periodontitis, penyakit jantung koroner (PJK)
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK TINTA CUMI-CUMI (LOLIGO SP) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS Rahayu, Mayangsari P.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
eBiomedik Vol 7, No 2 (2019): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.7.2.2019.23876

Abstract

Abstract: Mouthwash could inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria in the oral cavity. Albeit, the most widely used today is mouthwash containing clorhexidine that has side effects in prolonged use. Therefore, it is necessary to find new agents as an alternative antibacterial, especially against Staphylococcus aureus. Squid ink is one of the best known seafood used as alternative medicine which has a wide range of therapeutic applications. This study was aimed to evaluate the inhibitory effect of squid ink extract (Loligo sp) on the growth of S. aureus. This was a true experimental study with a post test only control group design. We used modified Kirby-Bauer method using filter papers. Ciprofloxacin antibacterial was used as the positive control and aquadest as the negative control. Extract of squid ink (Loligo sp) and stock of pure bacteria S. aureus bacteria were prepared. The results showed that mean of zone of inhibition of the squid ink extract (Loligo sp) was 11.22 mm which was less than the zone of inhibition of ciprofloxacin. In conclusion, the squid ink extract (Loligo sp) had a moderate inhibitory effect (Himedia category) on the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: extract of squid ink (Loligo sp), Staphylococcus aureus, inhibitory effectAbstrak: Salah satu cara penanganan bakteri Staphylococcus aureus dalam rongga mulut ialah dengan menggunakan obat kumur. Yang banyak digunaakan saat ini yaitu obat kumur yang mengandung clorhexidine dengan efek samping bila digunakan secara berkepanjangan. Oleh karena itudiperlukan penelitian terhadap agen baru sebagai alternatif antibakteri khususnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Tinta cumi-cumi merupakan salah satu hasil laut yang dikenal dalam dunia pengobatan alternatif serta memiliki jangkauan yang luas pada aplikasi terapeutik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) terhadap pertumuhan bakteri S. aureus. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan yaitu metode modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan kertas saring. Kontrol positif menggunakan antibakteri siprofloksasin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Pada penelitian ini digunakan ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) dan stok bakteri murni S. aureus. Hasil penelitian mendapatkan bahwa diameter rerata zona hambat dari ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus sebesar 11,22 mm namun diameter tersebut lebih kecil daripada diameter zona hambat siprofloksasin. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) memiliki daya hambat kategori sedang (Himedia) terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus.Kata kunci: tinta cumi-cumi (Loligo sp), bakteri Staphylococcus aureus, daya hambat
GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DESA WIAU LAPI TENTANG STOMATITIS AFTOSA REKUREN Wololy, Jefrianto; Kepel, Billy J.; Mintjelungan, Christy N.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2637

Abstract

Abstract: Recurrent aphthous stomatitis (RAS), commonly known among Indonesian people as "sariawan", is an oral mucosal disease which most often affects people. Based on the clinical symptoms, there are three recognized types of RAS, namely: minor RAS as the most common type, major RAS, and herpetiform RAS. Knowledge about RAS is very useful in the prevention and treatment of RAS. This was a descriptive study with a cross-sectional design. Samples were 75 Wiau Lapi villagers who filled in the questionnaires and were selected by using simple random sampling. This study aimed to reveal the knowledge of the villagers of Wiau Lapi about recurrent aphthous stomatitis. The results showed that the knowledge of the villagers of Wiau Lapi about RAS tested with the questionnaire consisting of 11 questions obtained a percentage of 63.8%. Conclusion: Most villagers of Wiau Lapi had good knowledge about recurrent aphthous stomatitis. Keywords: knowledge, recurrent aphtous stomatitis.     Abstrak: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau yang umum dikenal masyarakat Indonesia sebagai “sariawan”, merupakan penyakit mukosa oral yang paling sering diderita manusia. Sampai saat ini terdapat tiga jenis SAR yang dikenal, dengan gejala klinis masing-masing, yaitu: SAR minor sebagai jenis yang paling umum, SAR mayor, dan SAR herpetiformis. Pemahaman yang baik tentang SAR akan sangat bermanfaat ketika penderita berusaha menangani SAR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat Desa Wiau Lapi tentang stomatitis aftosa rekuren. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan cross-sectional design yang dilakukan selama satu bulan. Sampel ialah 75 penduduk desa Wiau Lapi yang mengisi kuesioner dan diseleksi dengan menggunakan simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Desa Wiau Lapi tentang SAR yang diuji dengan kuesioner yang meliputi 11 pertanyaan mencapai persentase sebesar 63,8 %. Simpulan: Pengetahuan masyarakat Desa Wiau Lapi mengenai SAR sudah tergolong baik. Kata kunci: pengetahuan, stomatitis aftosa rekuren.
Pengaruh Motivasi Ekstrinsik terhadap Perilaku Menyikat Gigi pada Anak Wanti, Melyana; Mintjelungan, Christy N.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32365

Abstract

Abstract: Dental caries is a dental health problem that often affects children aged 6-12 years. Children who have bad habits in maintaining oral hygiene are at greater risk to suffer from dental caries. A good habit that can be developed to obtain a good behavior is tooth brushing. The behavior of tooth brushing in children can be influenced by many things, inter alia intrimsic or extrinsic motivation. This study was aimed to determine whether there was an extrinsic motivation on tooth brushing behavior among elementary school students. This was a literature review study using databases of Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, and Indonesia Onesearch. There were five literatures with cross-sectional design used in this study. The results showed that extrinsic motivation could influence the tooth brushing behavior of the students. Parents and teachers had a major role in influencing the students for tooth brushing behavior. In conclusion, there is an influence of extrinsic motivation on children's tooth brushing behavior.Keywords: motivation, behavior, tooth brushing, children Abstrak: Karies gigi merupakan masalah gigi yang sering menyerang anak usia 6-12 tahun. Anak yang memiliki kebiasaan buruk dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulutnya berisiko lebih besar terkena karies gigi. Kebiasaan baik yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan perilaku yang baik, yakni kebiasaan menyikat gigi. Perilaku menyikat gigi pada anak dapat dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya ialah motivasi yang dapat berasal dari dalam (intrinsik) maupun dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh motivasi ekstrinsik terhadap perilaku menyikat gigi siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan empat database yaitu Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Indonesia Onesearch. Lima literatur yang diperoleh dalam penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Hasil penelitian memperlihatkan motivasi ekstrinsik berpengaruh terhadap perilaku menyikat gigi anak. Orang tua dan guru memiliki peran utama dalam memengaruhi motivasi menyikat gigi anak. Simpulan penelitian ini ialah terdapat pengaruh motivasi ekstrinsik terhadap perilaku menyikat gigi anak.Kata kunci: motivasi, perilaku, menyikat gigi, anak
Gambaran Perilaku Masyarakat dan Keputusan Tidak Menggunakan Gigi Tiruan Lepasan Kaida, Dita C.; Mintjelungan, Christy N.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 9, No 1 (2021): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.1.2021.32367

Abstract

Abstract: Teeth play an important role in chewing process, speech function, and as an aesthetics for the formation of facial profiles. Problems that often occur in dental and oral health, such as caries which causes tooth decay, therefore, extraction is needed. The solution to tooth loss is to use dentures, however, not everyone wants to do that.  There are factors that influence a person's condition in taking action, namely behavior. Health behavior is everything related to one's actions in maintaining and improving one's health. A person's decision to use or not use dentures is influenced by economic factors, knowledge, time, and experience.Thi study was aimed to obtain the community behavior related to the decision not to use removable dentures. This was a literature study using two databases, namely Google Scholar and Digital Reference Garba. Data were analyzed by using a cross sectional study design. The results showed that the community behavior was categorized as good. The community's decision not to use removable dentures was influenced by several factors, namely economy status, knowledge, time, and experience. In conclusion, although the community behavior was categorized as good, there were still many of them who lost their teeth but did not replace their missing teeth with artificial teeth due to a variety of factors.Keywords: behaviour, removable denture Abstrak: Gigi berperan penting dalam membantu proses pengunyahan, fungsi bicara, dan sebagai estetika pembentukan profil wajah. Masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies menyebabkan rusaknya gigi sehingga perlu pencabutan. Prevalensi penggunaan gigi tiruan tidak sebanding dengan prevalensi kehilangan gigi di masyarakat. Terdapat faktor yang memengaruhi keadaan seseorang dalam melakukan tindakan yaitu perilaku. Pengambilan keputusan seseorang untuk menggunakan atau tidak menggunakan gigi tiruan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor ekonomi, pengetahuan, waktu, dan pengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat dan keputusan tidak menggunakan gigi tiruan lepasan. Jenis penelitian ialah literatur reviewe, dengan sumber data diperoleh dari dua database yaitu Google Scholar dan Garba Rujukan Digital kemudian dianalisis dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan bahwa masih banyak masyarakat yang kehilangan gigi tetapi tidak menggantikan gigi yang hilang dengan gigi tiruan. Gambaran perilaku masayarakat dikategorikan baik dan untuk keputusan masyarakat tidak menggunakan gigi tiruan lepasan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor ekonomi, pengetahuan, waktu dan pengalaman. Simpulan penelitian ini ialah walaupun gambaran perilaku masayarakat dikategorikan baik namun masih banyak masyarakat kehilangan gigi tetapi tidak menggantikan gigi yang hilang dengan gigi tiruan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.Kata kunci: perilaku, gigi tiruan lepasan
Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi Mulut Siswa SD Dengan dan Tanpa Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) Gerung, Ayumi Y.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.9.2.2021.32958

Abstract

Abstract: Behavior is the second major factor that affects the health status of an individual or society. Good behavior in maintaining oral hygiene will have a positive impact on the status of children’s oral health. One of the efforts to reduce the number of caries is through the Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) program. This study was aimed to obtain the oral health care behavior of elementary school students with UKGS and without UKGS. This was a literature review study. There were four relevant literatures with related topics obtained from different databases, as follows: Google Scholar, PubMed, and Garba Rujukan Digital. The results showed that the UKGS program was effective in increasing the status of students’ oral health. Besides education about oral health at schools, parents and the media played some important roles in providing information of oral care. In conclusion, oral health care behavior of elementary school students with and without UKGS were in good category as long as teachers, parents, and internet media as well as print media were involved.Keywords: behavior; oral health; Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)  Abstrak: Perilaku merupakan faktor kedua terbesar yang berpengaruh terhadap status kese-hatan individu atau masyarakat. Perilaku yang baik dalam pemeliharaan kebersihan mulut akan berdampak positif pada derajat kesehatan gigi mulut anak. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka karies yaitu melalui program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan kesehatan gigi mulut siswa SD dengan UKGS dan tanpa UKGS. Jenis penelitian ialah literature review. Terdapat empat pustaka yang relevan dengan topik terkait. Pustaka dalam penelitian didapat dari database Google Scholar, PubMed, dan Garba Rujukan Digital. Hasil penelitian menunjukkan program UKGS efektif dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi mulut siswa. Pendidikan tentang kesehatan gigi mulut tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi orang tua dan media berperan penting dalam memberikan informasi tentang pemeliharaan gigi mulut. Simpulan penelitian ini ialah perilaku pemeliharaan kesehatan gigi mulut siswa SD dengan UKGS dan tanpa UKGS keduanya dalam kategori baik sepanjang adanya keterlibatan guru, orang tua, dan media internet maupun cetak.Kata kunci: perilaku; kesehatan gigi mulut; Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)
Status Karies Gigi pada Pengidap HIV/AIDS Sundah, Michael J.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34985

Abstract

Abstract: Human immunodeficiency virus (HIV) is a virus that attacks the human immune system, especially white blood cells called CD4 cells. Meanwhile, acquired immune deficiency syndrome (AIDS) is a syndrome that arises due to the decline in the human immune system caused by HIV infection. Several studies showed that people living with HIV/AIDS had a higher risk of developing dental caries compared to those without HIV/AIDS. Maintenance of oral hygiene, consumption of antiretroviral (ARV) drugs, and low salivary flow play a role in increasing the risk of caries in people living with HIV/AIDS. This study was aimed to determine the status of dental caries in people living with HIV/AIDS. This was a literature review using the databases of Google Scholar, PubMed, and Clinical Key. The results obtained five journals that were relevant to the topic of discussion. There was a high prevalence of caries in people with HIV/AIDS (56.78%-78.7%) and a higher average caries status (12.83±9.6, 15.14±6.09, and 11.87±8.08) compared to those without HIV/AIDS. The high prevalence of caries in people with HIV/AIDS was influenced by decreased salivary flow, use of ARVs, consumption of sweet foods, and lack of oral hygiene. In conclusion, the prevalence of caries in people living with HIV/AIDS was high.Keywords: dental caries, HIV/AIDS  Abstrak: Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia kususnya sel darah putih yang disebut sel CD4 sedangkan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan sindrom yang muncul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang diakibatkan infeksi HIV. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengidap HIV/AIDS berisiko lebih tinggi mengalami karies gigi dibandingkan dengan orang tanpa HIV/AIDS. Pemeliharaan kebersihan gigi mulut, konsumsi obat antiretroviral (ARV), dan aliran saliva yang rendah berperan dalam peningkatan risiko karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Database yang digunakan untuk pencarian literatur ialah Google Scholar, PubMed, dan Clinical Key. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi karies yang tinggi pada pengidap HIV/AIDS (56,78%-78,7%) dan rerata status karies lebih tinggi (12,83±9,6, 15,14±6,09, dan 11,87±8,08) dibandingkan dengan yang tanpa HIV/AIDS. Tingginya prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS dipengaruhi oleh penurunan laju aliran saliva, penggunaan ARV, konsumsi makanan manis, dan kurangnya menjaga kebersihan gigi mulut. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS tergolong tinggi.Kata kunci: karies gigi, HIV/AIDS
Co-Authors . Juliatri, . Angelia Langkir Anggow, Ollivia R. Aruperes, Geraldo Y. Aurelia S. R. Supit Bawenti, Suryani Bayahu, Cintia Billy J. Kepel Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Christal G. Oroh, Christal G. Citra Ilery D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pengemanan Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Ekarisma, Verena M. Elita Tambunan, Elita Ezra G. R. Tambunan, Ezra G. R. Felisa E. K. Bagaray, Felisa E. K. Freddy Wagey Gabrielle Warongan Galongi, Junistika P. Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Gerung, Ayumi Y. Hassan, Ewithya H. Herwanto, Adine V. K. Hontong, Cheny Indry Worotitjan Jane Wuisan Jefrianto Wololy Jemima L. Waworuntu, Jemima L. Jimmy Posangi Joan Christiany, Joan Joenda Soewantoro Johanna A. Khoman Julian G. Komansilan, Julian G. Juliatri . Juliatri Juliatri Kaida, Dita C. Karamoy, Deborah Karel Pandelaki Keloay, Princess Khoman, Johanna Kindangen, Miranda L. Kinontoa, Fitrisya C. Koagouw, Marco S. Kojongian, Gloria M. P. Kolonio, Fanessa E. Krista V. Siagian Kustina Zuliari, Kustina Kusumawardani, Chendrakasih Lidia Iswanto, Lidia Lolongan, Raymond A. Lumempouw, Novany Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N. Mangindaan, Rocky J. Mangowal, Maya P. Mangundap, Gledis C. M. Mantiri, Amanda N. P. Mararu, Wahyu P. Marimbun, Betrix E. Mario S. Howarto, Mario S. Marsela Liwe, Marsela Mega S. J. Warongan, Mega S. J. Meilan M. Suleh, Meilan M. Michael A. Leman Mo'o, Billie A. F. P. Mokodompit, Moh. Fahmi M. Monica M. Sengkey, Monica M. Motto, Christavia J. Nadhira Thereza Manoy, Nadhira Thereza Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. Octavian, David Olivia Waworuntu Olyvia Octaviany Monoarfa P. S. Anindita Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pieter L. Suling Priscilia G. J. Tambuwun, Priscilia G. J. Pritartha S. Anindita Putra, Febrian S. Putrawan, I Putu G.E. Rahayu, Mayangsari P. Rambitan, Wulan K. D. Ratulangi, Marly H.R. Rengkuan, Raissa Y.E. Reyna Agnes Nastassia Lumentut Rizka Wahyuni Rizkika, Lilies Rompas, Irene F. Rompis, Kezia R. Sagemba, Pascal G. Sagrang, Patricia S. Shane H.R. Ticoalu Shirley E. S. Kawengian Sompie, Grace M. M. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sundah, Michael J. Syukri, Dwi M. Tambunan, Miranda A. Tandra, Noviana F. Tangka’a, Roy R. B. Tato, Enjelin M. Tawas, Stevany A.D. Ticoalu, Jolanda P. Vania, Marella T. Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Wanti, Melyana Woran, Yobel R. Wowor, Stephanie G. Wulandari, Fitri K.