Claim Missing Document
Check
Articles

Perilaku Pemeliharaan dan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro Wulandari, Fitri K.; Pangemanan, Damajanty H.C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17607

Abstract

Abstract: Oral health plays an important role in the body health status. This study was aimed to determine the behavior about dental and oral health care among the people at Paniki, Sitaro. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population consisted of people living at Paniki, Sitaro aged 18-60 years. There were 92 respondents obtained by using purposive sampling method. Data were collected by using questionnaire and examination of simplified oral hygiene index (OHI-S). The results showed that 60.8% of respondents had good behavior of dental and oral health care, and 75% of respondents had OHI-S evaluation as poor category. Conclusion: In general, people of Paniki, Sitaro had good behavior about dental and oral health care but their dental and oral hygiene was in poor category.Keywords: behavior of dental and oral hygiene maintenance Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut berperan penting bagi kesehatan tubuh umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan dan status kebersihan gigi dan mulut masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang, dilakukan terhadap masyarakat usia 18-60 tahun di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro. Jumlah responden 92 orang diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data didapat melalui pengisian kuisioner dan pemeriksaan Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro sebanyak 60,8% tergolong baik. Penilaian OHI-S dari masyarakat Paniki sebanyak 75% tergolong buruk. Simpulan: Pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat di Kelurahan Paniki Kabupaten Sitaro tergolong baik tetapi status kebersihan gigi dan mulut tergolong buruk.Kata kunci: Perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut
PERBEDAAN INDEKS PLAK PENGGUNAAN OBAT KUMUR BERALKOHOL DAN NON ALKOHOL PADA PENGGUNA ALAT ORTODONTIK CEKAT Warongan, Mega S. J.; Anindita, P. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10170

Abstract

Abstract: The need fororthodontic treatment at present is increasing, both in Indonesia andother countries. Fixed orthodontic appliance is an orthodontic appliance that is bonded to the teeth and have intricate shapes that facilitate the attachment of plaque longer and can increase the risk of various diseases of the mouth.The best way to prevent that is to do a plaque control, one of them is to use the mouthwash. The purpose of this research was to determine whether there were differences of plaque index in the use of alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash towards fixed orthodontic users.This research is an experimental study with a pretestposttest control group design. The population was Dentistry of Sam Ratulangi University students batch 2011and 2012 who use fixed orthodontic appliance. Samples were 34 students who were divided into two treatment groups. The sampling method used is total sampling.The results of this research based on independent T-test between alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash shows that there is no significant differences in plaque index between alcohol-containing mouthwash and alcohol free mouthwash on the fixed orthodontic users with a p value of0.172(p>0.05).Keywords: fixed orthodontic appliance, alcohol-containing mouthwash, alcohol free mouthwash, plaque indexAbstrak: Kebutuhan akan perawatan ortodontik pada masa kini semakin meningkat, baik di Indonesia maupun negara-negara lain. Alat ortodontik cekat merupakan alat ortodontik yang dicekatkan pada gigi geligi dan memiliki bentuk yang rumit, sehingga mempermudah melekatnya plak lebih lama dan dapat meningkatkan berbagai resiko penyakit mulut. Cara terbaik untuk mencegah hal tersebut yaitu dengan melakukan kontrol plak, salah satunya dengan menggunakan obat kumur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan indeks plak penggunaan obat kumur beralkohol dan non alkohol pada pengguna alat ortodontik cekat. Peneltian ini merupakan penelitian eksperimentaldengan rancangan pretest posttest control group design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi angkatan 2011 dan 2012 yang menggunakan alat ortodontik cekat dengan sampel 34 mahasiswa yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu total sampling. Hasil penelitian berdasarkan uji independent T-test antara obat kumur beralkohol dan obat kumur non alkohol menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna indeks plak penggunaan obat kumur beralkohol dan non alkohol pada pengguna alat ortodontik cekat dengan nilai p sebesar 0,172 (p>0,05).Kata kunci :alat ortodontik cekat, obat kumur beralkohol, obat kumur non alkohol, indeks plak.
STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA NELAYAN DI KELURAHAN BAHU KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO SULAWESI UTARA Nayoan, Gary S. J.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10014

Abstract

Abstract: Oral hygiene is a part of the general health that is needed to be considered by the community. Some causes of a person neglecting his/her teeth and mouth cleanliness are level of education, level of knowledge, and the person's income. Generally, fishermen do not have enough time to take care of their oral hygiene. This study aimed to determine the status of oral hygiene of fishermen living in Bahu Malalayang Manado, North Sulawesi. This was a descriptive study using a cross sectional design. There were 63 fishermen, but only 38 fulfilled the inclusion and exclusion criteria. The results showed that based on the knowledge, most of the dental and oral hygiene status (62.52%) belonged to the medium category of OHI-S. Oral hygiene status Based on the characteristics of age, most of the age group of 36-45 years (61.29%) had the medium category of OHI-S. Distribution of oral hygiene status by education was most dominant subjects with secondary school education level that is equal to 81,82%. Distribution of oral hygiene status by income is most prevalent subject to income <UMP included in category status OHI-S was in the amount of 60.00 %.Keywords: status of oral hygiene, fishermanAbstrak: Kebersihan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan secara umum yang perlu diperhatikan oleh masyarakat. Beberapa faktor penyebab seseorang mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya yaitu diantaranya tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, dan penghasilan. Kegiatan perikanan para nelayan yang sehari semalam berada dilaut menyebabkan perhatian terhadap kebersihan gigi dan mulut menjadi kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kebersihan gigi dan mulut pada nelayan di kelurahan Bahu kecamatan Malalayang kota Manado Sulawesi Utara. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan pendekatan potong lintang, dilakukan pada nelayan yang berada di kelurahan Bahu kecamatan Malalayang kota Manado Sulawesi Utara yang berjumlah 63 orang, namun sampel yang didapat berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu berjumlah 38 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pengetahuan paling banyak ditemukan pada kategori OHI-S sedang (65,52%). Status kebersihan gigi dan mulut berdasarkan karakteristik usia lebih banyak ditemukan pada kategori usia 36-45 tahun yang memiliki status OHI-S sedang (61,29%). Distribusi berdasarkan pendidikan paling banyak ditemukan tingkat pendidikan SMA dengan status OHI-S sedang (81,82%). Distribusi berdasarkan penghasilan paling banyak ditemukan penghasilan lebih kecil dari UMP yang termasuk dalam kategori status OHI-S (60,00%).Kata kunci: status kebersihan gigi dan mulut, nelayan
Hubungan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Penyandang Tunanetra Dewasa Tandra, Noviana F.; Mintjelungan, Christy N.; Zuliari, Kustina
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20855

Abstract

Abstract: Limitations in vision of people with visual impairment affect their ability to gain knowledge, including oral and dental knowledge. Therefore, they are not able to keep their oral and dental health properly. This study was aimed to determine the correlation between oral and dental health knowledge and oral hygiene status among adult people with blindness. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaire and examination of oral hygiene status using the oral hygiene index-simplified (OHI-S). Data were analyzed by using the Pearson correlation test. Subjects were 35 adult people with blindness aged 18-45 years. The results showed that 24 subjects (68.57%) had poor level of knowledge and 11 subjects (31.43%) had good level of knowledge. There were 10 subjects (28.57%) with poor oral hygiene status, 24 subjects (68,57 %) with moderate oral hygiene status, and 1 subjects (2.86%) with good oral hygiene status. The Pearson correlation test showed a P value of 0.009. Conclusion: There was a significant correlation between oral and dental health knowledge and oral hygiene status among adult people with blindness.Keywords: oral and dental health knowledge, oral hygiene status, blindness Abstrak: Keterbatasan dalam penglihatan yang dimiliki oleh penyandang tunanetra meme-ngaruhi kemampuan mereka dalam memperoleh pengetahuan, tepenyandangrmasuk pengetahuan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini mengakibatkan penyandang tunanetra kurang optimal menjaga kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada penyandang tunanetra usia dewasa. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan dessain potong lintang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuisioner serta pemeriksaan status kebersihan gigi dan mulut menggunakan oral hygiene index-simplified (OHI-S). Subyek penelitian berjumlah 35 penyandang tunanetra berusia 18-45 tahun diperoleh dengan menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian mendapatkan dari 35 subyek, terdapat 24 penyandang (68,57%) dengan tingkat pengetahuan rendah, 11 penyandang (31,43%) dengan tingkat pengetahuan tinggi. Terdapat 10 penyandang (28,57%) dengan status kebersihan gigi dan mulut buruk, 24 penyandang (68,57%) dengan status kebersihan sedang, dan 1 penyandang (2,86%) dengan status kebersihan gigi dan mulut baik. Uji korelasi Pearson mendapatkan nilai P = 0,009. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status kebersihan gigi dan mulut pada penyandang tunanetra dewasa.Kata kunci: pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, status kebersihan gigi dan mulut, tunanetra
UJI EFEKTIFITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN MEDIKAMEN SALURAN AKAR TERHADAP BAKTERI ENTEROCOCCUS FAECALIS Howarto, Mario S.; Wowor, Pemsi M.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9835

Abstract

Abstract: Endodontics is the a type of treatment that aims to keep the teeth in function. Disinfection of the root canal is very important in endodontic treatment. Root canal disinfection can be done by giving the material a root canal medication. One of the bacteria that causes the failure of root canal treatment is the bacterium Enterococcus faecalis. The lemongrass essential oil contains geranial, neral, and mirsen which have antimicrobial activity against Gram-positive and Gram-negative. This study aimed to determine whether the lemongrass essential oil was effective against bacteria Enterococcus faecalis. This was an experimental study using post test only control group design with agar plate diffusion method. Samples consisted of a group of lemongrass essential oil with several concentrations: 25%, 50%, 75%, 100%, each consisted of 4 samples. The 16 control groups consisted of positive and negative groups. Diameter of inhibition was determined by the ability to inhibit Enterococcus faecalis cultured on MHA agar. The results showed that the average inhibitory diameter of 25% lemongrass essential oil was 2.60 mm; of 50% was 4.73 mm; of 75% was 4.50 mm; and of 100% was 5.34 mm. Conclusion: Lemongrass essential oil showed an antibacterial effect to inhibit the growth of bacteria Enterococcus faecalis.Keywords: enterococcus faecalis, lemongrass oil, antibacerialAbstrak: Endodontik merupakan salah satu jenis perawatan yang bertujuan mempertahankan gigi agar tetap dapat berfungsi. Disinfeksi saluran akar sangat penting dalam perawatan endodontik. Disinfeksi saluran akar dapat dilakukan dengan memberi bahan medikamen saluran akar. Salah satu bakteri yang menyebabkan kegagalan perawatan saluran akar ialah bakteri Enterococcus faecalis. Minyak atsiri sereh dapur mengandung geranial, neral dan mirsen yang memiliki aktifitas antimikrobapada gram positif dan gram negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak atsiri sereh dapur memiliki efek terhadap bakteri Enterococcus faecalis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain post test only control group design dan metode difusi lempeng agar. Sampel penelitian terdiri dari kelompok minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% yang masing-masing terdiri dari 4 sampel; 16 kelompok kontrol terdiri atas kelompok positif dan negatif. Diameter hambat ditentukan berdasarkan kemampuan menghambat Enterococcus faecalis yang dibiakkan pada media agar MHA. Hasil penelitian memperlihatkan rata-rata diameter hambat minyak atsiri sereh dapur dengan konsentrasi 25% sebesar 2,60 mm, 50% sebesar 4,73 mm, 75% sebesar 4,50 mm, dan 100% sebesar 5,34 mm. Simpulan: Minyak atsiri sereh dapur memiliki efek antibakteri untuk menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.Kata kunci: enterococcus faecalis, sereh dapur, antibakteri
Xerostomia pada Usia Lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur Tawas, Stevany A.D.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 6, No 1 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.1.2018.19556

Abstract

Abstract: Generally, in elderly there is a change in saliva composition due to the decreased production of saliva which leads to dry mouth or xersotomia. Clinically, a patient with dry mouth will feel dry on his/her lips and the mouth corners become irritated. This study was aimed to obtain the profile of xerostomia in the elderly at Kelurahan Malalayang Satu Timur. This was a descriptive study using a cross sectional design. This study was conducted in Kelurahan Malalayang Satu Timur. Samples of this study were obtained by using total sampling method. The study was performed on 35 peoples aged 60 to 75 years (according to WHO standard) as subjects. Salivary flow rate was measured with a measuring cup. The results showed that xerostomia was found in 87.5% of the subjects, more dominant in females (96.7%), and more frequent in the age group 65-69 years (66.7%). Conclusion: At Kelurahan Malalayang Satu Timur, xerostomia was more common in female elderly and age group 65-69 yearsKeywords: xerostomia, elderly Abstrak: Umumnya seseorang yang sudah memasuki usia lanjut akan mengalami perubahan dalam komposisi saliva akibat produksi saliva berkurang yang bermanifestasi sebagai xerostomia. Secara klinis pasien dengan xerostomia akan merasa kering pada bibir dan bagian sudut mulut mengalami iritasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran xerostomia pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Penelitian dilakukan di Kelurahan Malalayang Satu Timur. Terdapat 35 subyek usia lanjut dengan usia 60-75 tahun (menurut standar WHO). Pengukuran laju aliran saliva dilakukan dengan menggunakan metode spitting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa xerostomia ditemukan pada 85,7% dari subyek. Jenis kelamin perempuan lebih dominan (96,7%) dan tersering pada rentang usia 65-69 tahun (66,7%). Simpulan: Pada kelompok usia lanjut di Kelurahan Malalayang Satu Timur xerostomia lebih sering terjadi pada yang berjenis kelamin perempuan dan usia 65-69 tahun.Kata kunci: xerostomia, usia lanjut
Uji Daya Hambat Ekstrak Tinta Cumi-cumi (Loligo sp) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Mangindaan, Rocky J.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-Biomedik Vol 7, No 2 (2019): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v7i2.23877

Abstract

Abstract: Dental caries is still a health problem in Indonesia. There are several factors that play some important roles in the occurence of caries, as follows: microorganism, host, food, and time. Streptococcus mutans is one of the microorganisms that cause caries. Squid ink contains melanin which has an active compound to inhibit microbial activity. This study was aimed to determine the inhibitory effect of squid ink extract (Loligo sp) on the growth of Streptococcus mutans. This was a laboratory experimental study, with a post test only control group design. The results showed that the mean diameter of the inhibitory zones of the squid ink extract (Loligo sp) was 10.50 mm which was categorized as strong inhibition (Davis and Stout criteria). In conclusion, the squid ink extract (Loligo sp) had a strong inhibitory effect on the growth of Streptococcus mutans bacteria.Keywords: squid ink extract (Loligo sp), Streptococcus mutans, zone of inhibitionAbstrak: Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Faktor-faktor penyebab karies gigi yaitu mikroba, pejamu, makanan, dan waktu. Salah satu mikroba penyebab karies ialah bakteri Streptococcus mutans. Tinta cumi-cumi mengandung melanin yang memiliki senyawa aktif untuk menghambat aktivitas mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik, dengan post test only control group design. Hasil penelitian menunjukkan diameter rerata zona hambat dari ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) sebesar 10,50 mm dan digolongkan dalam kategori kuat (kriteria Davis dan Stout). Simpulan penelitian ini ialah ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo sp) memiliki daya hambat yang kuat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.Kata kunci: ekstrak tinta cumi-cumi (Loligo Sp), Streptococcus mutans, zona hambat
PREVALENSI KARIES GIGI SULUNG ANAK PRASEKOLAH DI KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Mintjelungan, Christy N.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 2 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Juli 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.2.2014.5551

Abstract

Abstract: Dental caries is a disease of dental hard tissue characterised by demineralization of the inorganic substances and dissolving of the organic substances. The prevalence of dental caries in pre-school children is still high which may due to the improper way of teeth brushing as well as consuming cariogenic foods. This study aimed to determine the prevalence of dental decidious caries status among pre-school children in Malalayang district, Manado. This was a descriptive observational study with a cross-sectional approach. This study was carried out in July 2012. The data were obtained by using questionnaires and observation. The population in this study was all kindergarten pupils (788 children) in Malalayang district and the number of samples were 90 children. Data were obtained from primary and secondary data. The results showed that the prevalence of dental caries was 90% with the average index def-t = 6.99. Conclusion: There was a very high prevalence of dental caries among kindergarten pupils in Malalayang district, Manado. Keywords: prevalence, dental decidious caries, pre-school children.     Abstrak: Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai dengan terjadinya demineralisasi substansi anorganik dan penghancuran substansi organik. Prevalensi karies gigi anak usia prasekolah yang masih tinggi disebabkan antara lain kebiasaan menyikat gigi yang tidak sesuai prosedur serta kegemaran mengonsumsi makanan kariogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi sulung pada anak prasekolah di kecamatan Malalayang kota Manado. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan observasi. Populasi penelitian yaitu seluruh murid Taman Kanak-kanak di kecamatan Malalayang yang berjumlah 788 anak. Sampel yang diambil sebanyak 90 anak.  Data penelitian ini diperoleh dari data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi sulung sebesar 90% dengan indeks  rata-rata def-t = 6,99 yang berarti rata-rata setiap anak memiliki 7 gigi yang mengalami karies. Simpulan: Prevalensi kareis gigi sulung pada murid Taman Kanak-kanak di kecamatan Malalayang kota Manado tergolong sangat tinggi. Kata kunci: prevalensi, karies gigi sulung, anak prasekolah.
PREVALENSI KARIES GIGI MOLAR SATU PERMANEN PADA ANAK UMUR 6-9 TAHUN DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN TOMOHON SELATAN Liwe, Marsela; Mintjelungan, Christy N.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9833

Abstract

Abstract: In children, caries occurs mostly at the age of 6 to 9 years. At the age of 6 years permanent molar teeth begin to erupt, therefore, they are more susceptible to caries. Moreover, at the age of 9 years, a period of mingled teeth where the number of permanent teeth and of the milk teeth are nearly the same. This study aimed to obtain the prevalence of dental caries of the first permanent molar among students of elementary schools in South Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The population of this study was 72 students aged 6-9 years old. Samples were obtained by using total sampling method. Primary data were obtained by examination of the teeth and mouth. The results showed that the prevalence of caries among students of elementary schools in South Tomohon was 68.1% (49 students). Based on gender, caries were most frequent among males (68.4%). Based on age, caries were most frequent among students of 8 years old (79.2%). Based on tooth element, tooth 36 had the highest incidence of caries (37.2%). Based on the severity of caries, dentine caries was the most frequent (46.51%).Keywords: dental caries, the first permanent molarAbstrak: Karies merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak terutama umur 6 sampai 9 tahun. Pada umur 6 tahun gigi molar permanen sudah mulai tumbuh sehingga lebih rentan terkena karies dan umur 9 tahun merupakan periode gigi bercampur dimana jumlah gigi permanen dan gigi sulung dalam rongga mulut hampir sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak di SD kecamatan Tomohon Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian yaitu anak umur 6 - 9 tahun di SD kecamatan Tomohon Selatan dengan jumlah 72 orang. Sampel penelitian digunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi karies pada anak-anak di SD kecamatan Tomohon Selatan mencapai 68,1% dengan jumlah 49 anak. Berdasarkan jenis kelamin angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada anak laki-laki mencapai 26 anak (68,4%). Berdasarkan usia angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada usia 8 tahun mencapai 19 anak (79,2%). Berdasarkan elemen gigi, gigi 36 merupakan yang paling tinggi angka kejadian kariesnya yaitu 32 gigi (37,2%) dan berdasarkan tingkat keparahan karies kejadian karies dentin yang paling tinggi yaitu mencapai 40 gigi (46,51%).Kata kunci: karies gigi, molar satu permanen
Gambaran Status Gingiva Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado Monoarfa, Olyvia Octaviany; Pandelaki, Karel; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6400

Abstract

Abstract: Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease group with the characteristic blood glucose levels than normal (hyperglycemia) that occurs because abnormalities in insulin secretion, insulin recognized when payable disorders, or combination of both. Regular blood glucose levels cause patients uncontrolled type 2 diabetes are at greater risk for experiencing problems of oral health, including gingivitis. Purpose of this research was to know the description of gingival status in patients of type 2 diabetes at RSU GMIM Pancaran Kasih Manado. This research is an observational descriptive with cross sectional study approach. The research population is all patients of type 2 diabetes outpatient clinic Interna RSU GMIM Pancaran Kasih Manado in September 2014. The research method is by using a Consecutive sampling with a sample of 100 people. The result of this research showed that the gingival status in patients of type 2 diabetes calculated based gingival index that most occur severe gingivitis was 45 respondents (45%). The gingival status that showed the severe gingivitis in patients of type 2 diabetes based on age 17 respondents (48,6%) in the age range of 51-60 years old, based on gender that most occur in women 27 respondents (49,1%), based on duration of suffering 25 respondents (55,6%) in the age range >10 years, and based on blood glucose control (HbA1c) that most numerous in patients with poor blood glucose 30 respondents (60%). Conclusion: The gingival status in patients of type 2 diabetes most occur severe gingivitis, and recommended in patients of type 2 diabetes to improve their healthy lifestyle in order to normalize blood glucose levels so as to reduce the occurrence of diabetes, more attention and maintain oral hygiene, especially the gingival health.Keywords: gingival status, patients of type 2 diabetes.Abstrak: Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin, ataupun kombinasi dari keduanya. Kadar gula darah yang tidak terkontrol menyebabkan penderita DM tipe 2 beresiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mulut, termasuk gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gingiva pada penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian yaitu seluruh pasien DM tipe 2 rawat jalan di Poliklinik Interna Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado pada bulan September 2014. Metode penelitian yaitu Consecutive sampling dengan sampel penelitian berjumlah 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gingiva yang dihitung berdasarkan indeks gingiva paling banyak menunjukkan gingivitis berat 45 subjek penelitian (45%). Status Gingiva berdasarkan umur paling banyak 17 subjek penelitian (48,6%) pada rentang umur 51–60 tahun, berdasarkan jenis kelamin paling banyak pada perempuan 27 subjek penelitian (49,1%), berdasarkan lamanya menderita paling banyak selama >10 tahun 25 subjek penelitian (55,6%), dan berdasarkan kontrol gula darah (HbA1c) paling banyak pada pasien dengan kontrol gula darah buruk (>9%) 30 subjek penelitian (60%). Simpulan: Penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Umum GMIM Pancaran Kasih Manado paling banyak mengalami gingivitis berat, serta disarankan bagi penderita agar lebih meningkatkan pola hidup sehat guna menormalkan kadar glukosa darah sehingga dapat mengurangi terjadinya diabetes, lebih memperhatikan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut, terutama kesehatan gingivanya.Kata kunci: status gingiva, penderita diabetes melitus tipe 2
Co-Authors . Juliatri, . Angelia Langkir Anggow, Ollivia R. Aruperes, Geraldo Y. Aurelia S. R. Supit Bawenti, Suryani Bayahu, Cintia Billy J. Kepel Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Christal G. Oroh, Christal G. Citra Ilery D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pengemanan Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Ekarisma, Verena M. Elita Tambunan, Elita Ezra G. R. Tambunan, Ezra G. R. Felisa E. K. Bagaray, Felisa E. K. Freddy Wagey Gabrielle Warongan Galongi, Junistika P. Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Gerung, Ayumi Y. Hassan, Ewithya H. Herwanto, Adine V. K. Hontong, Cheny Indry Worotitjan Jane Wuisan Jefrianto Wololy Jemima L. Waworuntu, Jemima L. Jimmy Posangi Joan Christiany, Joan Joenda Soewantoro Johanna A. Khoman Julian G. Komansilan, Julian G. Juliatri . Juliatri Juliatri Kaida, Dita C. Karamoy, Deborah Karel Pandelaki Keloay, Princess Khoman, Johanna Kindangen, Miranda L. Kinontoa, Fitrisya C. Koagouw, Marco S. Kojongian, Gloria M. P. Kolonio, Fanessa E. Krista V. Siagian Kustina Zuliari, Kustina Kusumawardani, Chendrakasih Lidia Iswanto, Lidia Lolongan, Raymond A. Lumempouw, Novany Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N. Mangindaan, Rocky J. Mangowal, Maya P. Mangundap, Gledis C. M. Mantiri, Amanda N. P. Mararu, Wahyu P. Marimbun, Betrix E. Mario S. Howarto, Mario S. Marsela Liwe, Marsela Mega S. J. Warongan, Mega S. J. Meilan M. Suleh, Meilan M. Michael A. Leman Mo'o, Billie A. F. P. Mokodompit, Moh. Fahmi M. Monica M. Sengkey, Monica M. Motto, Christavia J. Nadhira Thereza Manoy, Nadhira Thereza Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. Octavian, David Olivia Waworuntu Olyvia Octaviany Monoarfa P. S. Anindita Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pieter L. Suling Priscilia G. J. Tambuwun, Priscilia G. J. Pritartha S. Anindita Putra, Febrian S. Putrawan, I Putu G.E. Rahayu, Mayangsari P. Rambitan, Wulan K. D. Ratulangi, Marly H.R. Rengkuan, Raissa Y.E. Reyna Agnes Nastassia Lumentut Rizka Wahyuni Rizkika, Lilies Rompas, Irene F. Rompis, Kezia R. Sagemba, Pascal G. Sagrang, Patricia S. Shane H.R. Ticoalu Shirley E. S. Kawengian Sompie, Grace M. M. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sundah, Michael J. Syukri, Dwi M. Tambunan, Miranda A. Tandra, Noviana F. Tangka’a, Roy R. B. Tato, Enjelin M. Tawas, Stevany A.D. Ticoalu, Jolanda P. Vania, Marella T. Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Wanti, Melyana Woran, Yobel R. Wowor, Stephanie G. Wulandari, Fitri K.