Claim Missing Document
Check
Articles

Status Karies Gigi pada Pengidap HIV/AIDS Sundah, Michael J.; Mintjelungan, Christy N.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34985

Abstract

Abstract: Human immunodeficiency virus (HIV) is a virus that attacks the human immune system, especially white blood cells called CD4 cells. Meanwhile, acquired immune deficiency syndrome (AIDS) is a syndrome that arises due to the decline in the human immune system caused by HIV infection. Several studies showed that people living with HIV/AIDS had a higher risk of developing dental caries compared to those without HIV/AIDS. Maintenance of oral hygiene, consumption of antiretroviral (ARV) drugs, and low salivary flow play a role in increasing the risk of caries in people living with HIV/AIDS. This study was aimed to determine the status of dental caries in people living with HIV/AIDS. This was a literature review using the databases of Google Scholar, PubMed, and Clinical Key. The results obtained five journals that were relevant to the topic of discussion. There was a high prevalence of caries in people with HIV/AIDS (56.78%-78.7%) and a higher average caries status (12.83±9.6, 15.14±6.09, and 11.87±8.08) compared to those without HIV/AIDS. The high prevalence of caries in people with HIV/AIDS was influenced by decreased salivary flow, use of ARVs, consumption of sweet foods, and lack of oral hygiene. In conclusion, the prevalence of caries in people living with HIV/AIDS was high.Keywords: dental caries, HIV/AIDS  Abstrak: Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia kususnya sel darah putih yang disebut sel CD4 sedangkan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan sindrom yang muncul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang diakibatkan infeksi HIV. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengidap HIV/AIDS berisiko lebih tinggi mengalami karies gigi dibandingkan dengan orang tanpa HIV/AIDS. Pemeliharaan kebersihan gigi mulut, konsumsi obat antiretroviral (ARV), dan aliran saliva yang rendah berperan dalam peningkatan risiko karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status karies gigi pada pengidap HIV/AIDS. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Database yang digunakan untuk pencarian literatur ialah Google Scholar, PubMed, dan Clinical Key. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi karies yang tinggi pada pengidap HIV/AIDS (56,78%-78,7%) dan rerata status karies lebih tinggi (12,83±9,6, 15,14±6,09, dan 11,87±8,08) dibandingkan dengan yang tanpa HIV/AIDS. Tingginya prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS dipengaruhi oleh penurunan laju aliran saliva, penggunaan ARV, konsumsi makanan manis, dan kurangnya menjaga kebersihan gigi mulut. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi karies pada pengidap HIV/AIDS tergolong tinggi.Kata kunci: karies gigi, HIV/AIDS
Angular Cheilitis pada Anak yang Mengalami Defisiensi Nutrisi Ekarisma, Verena M.; Mintjelungan, Christy N.; Supit, Aurelia S. R.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34871

Abstract

Abstract: Nutritional problems in Indonesia and developing countries in general are still dominated by the protein energy malnutrition (PEM) and other micronutrient problems such as iron deficiency and vitamin B complex deficiency. Nutritional deficiency is always accompanied by malnutrition in childhood. Children face the greatest risk of developing malnutrition. This can lead the children to become susceptible to infectious diseases. One of the most common oral infections in children with nutritional deficiencies is angular cheilitis. This study was aimed to review nutritional deficiencies in children with angular cheilitis. This was a literature review study. This study reviewed topics related to nutritional deficiencies in children from previous studies. There were 12 literature reviewed in this study consisting of 11 cross-sectional studies and one simple experimental study. The results showed that angular cheilitis was more common in children with malnutrition based on BMI for age measurement and moderate nutritional status based on MUAC measurements. Angular cheilitis type 1 were most commonly found in children with mild nutritional status, while types 2, 3 and 4 were most commonly found in children with moderate nutritional status. None of types 2, 3, and 4 were seen in children with good nutritional status. In conclusion, children with angular cheilitis are mostly deficient in vitamin B complex.Keywords: angular cheilitis, children, nutritional deficiencies Abstrak: Masalah nutrisi di Indonesia dan di negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh masalah kurang energi dan protein (KEP) serta masalah nutrisi mikro lainnya seperti defisiensi zat besi dan defisiensi vitamin B kompleks. Defisiensi nutrisi selalu dihubungkan dengan kekurangan gizi pada masa anak-anak. Anak-anak menghadapi risiko paling besar untuk mengalami kurang gizi. Defisiensi nutrisi dapat menyebabkan anak rentan terhadap penyakit infeksi. Salah satu penyakit infeksi rongga mulut yang sering terjadi pada anak dengan defisiensi nutrisi ialah angular cheilitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran defisiensi nutrisi pada anak dengan angular cheilitis. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Penelitian ini mempelajari topik terkait defisiensi nutrisi pada anak dengan angular cheilitis dari penelitian-penelitian sebelumnya. Pustaka yang diulas dan dipelajari dalam penelitian ini sebanyak 12 pustaka yang terdiri dari 11 studi potong lintang dan satu eksperimental sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lesi angular cheilitis lebih sering ditemukan pada anak dengan status gizi kurang berdasarkan pengukuran IMT/U dan status kurang nutrisi sedang berdasarkan pengukuran LLA. Lesi angular cheilitis tipe 1 paling banyak ditemukan pada anak dengan status kurang nutrisi ringan, sedangkan tipe 2, 3 dan 4 paling banyak ditemukan pada anak dengan status kurang nutrisi sedang dan tidak satu pun lesi tipe 2, 3, 4 terlihat pada anak dengan status nutrisi baik. Simpulan penelitian ini ialah anak dengan angular cheilitis paling banyak mengalami defisiensi nutrisi mikro vitamin B kompleks.Kata kunci: angular cheilitis, anak, defisiensi nutrisi
Uji Efektivitas Pasta Gigi Pemutih terhadap Perubahan Warna Gigi Ekstrinsik Bayahu, Cintia; Pengemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34872

Abstract

Abstract: Physical appearance has a major influence in determining the quality of individual social interaction, especially in terms of non-verbal interactions. Tooth color is one of the things that affect physical appearance. Various efforts to improve the aesthetics of tooth color should be studied further, including the use of whitening toothpaste. This study was aimed to determine the effectiveness of whitening toothpaste on extrinsic tooth discoloration. This was a true experimen-tal study in the  form of laboratory test. Coffee was used as a discoloring agent for teeth. Twenty-six premolar teeth were immersed in coffee solution for 14 days. Then the samples were divided into four groups based on the toothpaste used. Initial measurements used the CIEL *a*b* digital dental photo technique. Brushing was carried out for 14 days, after which the tooth color was measured again. The paired sample t-test and the Wilcoxon test showed a significant change in * L values in the group receiving 7% perlite, hydrated silica, and sodium bicarbonate (p=0.01; p=0.001; p=0.012). The Wilcoxon test showed no change in *a and *b values in all whitening toothpaste groups (p>0.05). There was no significant change in the *L *a *b toothpaste (p>0.05). In conclusion, whitening toothpaste is effective against extrinsic tooth discoloration.Keywords: extrinsic tooth discoloration; whitening toothpaste; tooth colorAbstrak: Penampilan fisik memiliki pengaruh besar dalam menentukan kualitas interaksi sosial individu, terutama dalam hal interaksi non-verbal. Salah satu hal yang memengaruhi penampilan fisik individu ialah warna gigi. Berbagai upaya untuk meningkatkan estetika warna gigi harus dikaji lebih lanjut, termasuk penggunaan pasta gigi pemutih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pasta gigi pemutih terhadap perubahan warna gigi ekstrinsik. Jenis penelitian ialah eksperimental murni (true experimental design) berupa uji laboratorik. Kopi digunakan sebagai bahan diskolorasi untuk gigi. Sebanyak 26 gigi premolar direndam dalam larutan kopi selama 14 hari. Sampel dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan pasta gigi yang digunakan. Pengukuran awal menggunakan teknik digital dental photo CIEL*a*b*. Penyikatan dilakukan selama 14 hari, setelah itu warna gigi diukur kembali. Hasil  uji paired sample t-test dan Wilcoxon menunjukkan terdapat perubahan nilai *L yang bermakna pada kelompok yang mendapatkan perlite 7%, silica hydrated, dan sodium bicarbonate (p=0,01; p=0,001; p=0,012). Uji Wilcoxon menunjukkan tidak terdapat perubahan nilai *a dan nilai *b pada semua kelompok pasta gigi pemutih (p>0,05). Pada pasta gigi tanpa pemutih tidak didapatkan perubahan nilai *L*a*b yang bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian ini ialah pasta gigi pemutih efektif terhadap perubahan warna gigi ekstrinsik.Kata kunci: perubahan warna gigi ekstrinsik; pasta gigi pemutih; warna gigi
Uji Daya Hambat Ekstrak Ikan Nike (Awous melanocephalus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Fusobacterium nucleatum Nonutu, Stevia E.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34982

Abstract

Abstract: One of the treatment options of periodontal abscess caused by Fusobacterium nucleatum is administration of antibiotics. However, long-term antibiotics consumption can cause negative side effects. Therefore, alternative treatments that have low side effects and easy to be obtained are needed. Nike fish (Awaous melanocephalus) is one of the endemic fish of North Sulawesi province which has antibacterial properties. This study was aimed to evaluate the inhibition effect of nike fish extract on the growth of Fusobacterium nucleatum. This was a true experimental study with a posttest only control group design. We used modified Kirby-Bauer method with filter papers. Ciprofloxacin was used as the positive control and aquadest as the negative control. Extract of nike fish and stock of pure bacteria Fusobacterium nucleatum were prepared. The results showed that the average diameters of the inhibition zones formed in the nike fish extract after three repetitions, were as follows: for extract concentration of 12.5% was 2.91 mm; 25% was 4.16 mm; 50% was 8.41 mm; and 100% was 9.58 mm. In conclusion, nike fish extract (Awaous melanocephalus) at concentrations of 50% and 100% had a weak inhibitory effect (Himedia category) on the growth of Fusobacterium nucleatum meanwhile at concentrations of 12.5% and 25% there was no activity of zone of inhibition.Keywords: extract of nike fish (Awaous melanocephalus); Fusobacterium nucleatum; inhibitory effect Abstrak: Salah satu opsi pengobatan abses periodontal yang disebabkan oleh bakteri Fusobacterium nucleatum yaitu dengan penggunaan antibiotik namun mengonsumsi antibiotik jangka panjang dapat menimbulkan efek samping negatif. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan alternatif yang memiliki efek samping rendah serta mudah didapat. Ikan nike merupakan salah satu ikan endemik Provinsi Sulawesi Utara yang berkhasiat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus) terhadap pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Metode yang digunakan yaitu metode modifikasi Kirby-Bauer dengan menggunakan paper disk. Kontrol positif menggunakan antibakteri ciprofloxacin dan kontrol negatif menggunakan akuades. Pada penelitian ini digunakan ekstrak ikan nike dan stok bakteri murni Fusobacterium nucleatum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata diameter zona hambat yang terbentuk pada ekstrak ikan nike setelah tiga kali pengulangan yaitu untuk konsentrasi 12,5% sebesar 2,91 mm; 25% sebesar 4,16 mm; 50% sebesar 8,41 mm; dan 100% sebesar 9,58 mm. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus) pada konsentrasi 50% dan 100% memiliki daya hambat kategori lemah (Himedia) terhadap pertumbuhan bakteri Fusobacterium nucleatum sedangkan pada konsentrasi 12,5% dan 25% dikategorikan tidak terdapat aktivitas zona hambat. Kata kunci: ekstrak ikan nike (Awaous melanocephalus); Fusobacterium nucleatum; daya hambat
Daya Hambat Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia Steenis) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Aruperes, Geraldo Y.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34983

Abstract

Abstract: Herbal plants in Indonesia have been widely used as ingredients in traditional medicine; one of them is binahong plant (Anredera cordifolia Steenis). Binahong has roots, tubers, stems, flowers, and leaves that contain active compounds, namely flavonoids, alkaloids, terpenoids, and saponins. The active compounds of flavonoids can act directly as antibiotics by interfering with the function of microorganisms such as bacteria and viruses. Binahong also contains active antimicrobials that can be used to prevent bacterial growth. This study was aimed to determine the inhibition effect of binahong leaf extract (Anredera cardifolia Ssteenis) against the growth of Streptococcus mutans. This was a literature review study by searching databases of Google Scholar and Pubmed. The keywords used were Binahong leaf (Anredera Cordifolia Steenis), Streptococcus mutans. After being selected based on the inclusion and exclusion criteria, 10 experimental literatures were obtained. The results showed that as many as 10 literatures stated that binahong leaf extract could inhibit the growth of Streptococcus mutans depending on the amount of binahong leaf extract given. In conclusion, binahong leaf extract has the ability to inhibit the growth of Streptococcus mutans which depends on the amount of the leaf extract.Keywords: binahong leaves (Anredera cordifolia Steenis); Streptococcus mutans Abstrak: Tanaman herbal di Indonesia telah banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional, salah satunya ialah tanaman binahong (Anredera cordifolia Steenis). Binahong memiliki akar, umbi, batang, bunga, daun yang mengandung senyawa aktif yaitu flavonoid, alkanoid, terpenoid dan saponin. Senyawa aktif flavonoid dapat berperan langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Binahong juga mengandung antimikroba yang aktif sehingga dapat digunakan dalam mencegah pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun binahong (Anredera cardifolia Steenis) terhadap pertumbuhan bakteri Streptoccocus mutans. Jenis penelitian ini suatu literature review. Pencarian data menggunakan database Google Scholar dan Pubmed dengan kata kunci yaitu daun Binahong (Anredera Cordifolia Steenis), Streptococcus mutans. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 10 literatur eksperimental yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ke 10 literatur tersebut menyatakan ekstrak daun binahong memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans, dan daya hambatnya tergantung dari banyaknya ekstrak daun binahong yang diberikan. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak daun binahong mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang dipengaruhi oleh banyaknya ekstrak daun tersebut.Kata kunci: daun binahong (Anredera cordifolia Steenis); Streptococcus mutans
Manifestasi Oral Infeksi COVID-19 Woran, Yobel R.; Tendean, Lydia E. N.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34984

Abstract

Abstract: The COVID-19 outbreak is caused by SARS-CoV-2 that spread rapidly throughout the world. The most common clinical manifestations of COVID-19 are fever, fatigue, and dry cough. Some patients experience nasal congestion, runny nose, headache, conjunctivitis, sore throat, diarrhea, skin rash, loss of smell and taste. Oral manifestations of COVID-19 infection are also reported. Dentists are prone to cross-infections of several infectious diseases because they are often exposed to saliva and blood. These viruses are transmitted through inhalation of aerosols and droplets containing the viruses or direct contact with mucous membranes, oral fluids, dental instruments, and surfaces contaminated with the virus. This study was aimed to determine the oral manifestations of COVID-19 infection. This was a literature review study searching three databases, namely Pubmed, ClinicalKey and Google Scholar. The keywords used were oral AND manifestations AND COVID-19. Selection based on inclusion and exclusion criteria was carried out by critical appraisal. There were eight literatures in the form of case reports. The results showed that oral manifestations commonly found in patients with clinical COVID-19 were ulcers, petechiae, macules, and plaques with variations in quantity, color appearance, and localization. Lesions were found on the palate, tongue, labial mucosa, gingiva, lips, and oropharynx. In conclusion, oral manifestations could be found in clinical COVID-19 patients, however, it is not certain whether these manifestations are directly caused by SARS-CoV-2 or are as secondary manifestations.Keywords: oral manifestations; COVID-19 Abstrak: Wabah COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2 yang menyebar dengan cepat hingga ke seluruh dunia. Infeksi COVID-19 mempunyai manifestasi klinis paling umum seperti demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien mengalami hidung tersumbat, pilek, nyeri kepala, konjungtivitis, sakit tenggorokan, diare, ruam kulit, hilang penciuman dan pengecapan. Bahkan terdapat laporan penemuan manifestasi oral pada infeksi COVID-19. Dokter gigi sebagai profesi yang rentan terjadi infeksi silang beberapa penyakit menular karena sering terpapar dengan saliva dan darah. Virus ini memungkinkan terjadinya penularan lewat terhirupnya aerosol dan droplet yang mengandung virus atau kontak langsung dengan membran mukosa, cairan mulut, instrumen kedokteran gigi dan permukaan yang terkontaminasi virus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manifestasi oral infeksi COVID-19. Jenis penelitian ialah suatu literature review dengan pencarian menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu oral AND manifestations AND COVID-19. Setelah seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi dilakukan critical appraisal dan didapatkan delapan literatur yang berupa laporan kasus.Hasil penelitian mendapatkan bahwa manifestasi oral pada pasien klinis COVID-19 yang sering ditemukan, seperti ulkus, petekie, makula, dan plak dengan variasi kuantitas, penampakan warna, dan lokalisasi. Lokasi lesi ditemukan pada palatum, lidah, mukosa labial, gingiva, bibir dan orofaring. Simpulan penelitian ini ialah manifestasi oral dapat ditemukan pada pasien klinis COVID-19 tetapi belum diketahui pasti apakah secara langsung disebabkan oleh SARS-CoV-2 atau merupakan manifestasi sekunder.Kata kunci: manifestasi oral; COVID-19
Efektivitas Edukasi Kesehatan Gigi dengan Metode Kombinasi terhadap Tingkat Kebersihan Mulut pada Anak Tunanetra Kindangen, Miranda L.; Pengemanan, Damajanty H. C.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34870

Abstract

Abstract: Dental health education (DHE) is important to improve the community oral health. Visually impaired children who have limited vision require appropriate methods according to the acceptance of them by maximizing the provision of education through the senses other than sight in carrying out treatment and prevention efforts. This study was aimed to obtain the effectiveness of DHE using a combination method in visually impaired children. This was a literature review study using the Google Scholar database, PubMed/ National Library of Medicine (NCBI), and Springer Link. After data selection based on inclusion and exclusion criteria, a critical appraisal was carried out. There were 10 literatures (six literatures of randomized controlled trial studies and four literatures of nonrandomized controlled trial/quasi experimental studies). The results showed that on average, the oral hygiene index score was lower after the intervention compared to before the DHE intervention using a combination method (braille, audio, and tactile). Moreover, the intervention decreased significantly the plaque index score and increased the number of visually impaired children who had good oral hygiene categories. In conclusion, DHE for visually impaired children using a combination method is effective in improving oral hygiene.Keywords: dental health education (DHE); combination method; oral hygiene; visually impaired children  Abstrak: Edukasi kesehatan gigi penting untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Anak tunanetra memiliki keterbatasan penglihatan sehingga memerlukan metode yang tepat dan sesuai penerimaan anak tunanetra dengan memaksimalkan pemberian edukasi melalui indra selain penglihatan dalam melakukan upaya perawatan dan pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi kesehatan gigi dengan menggunakan metode kombinasi pada anak tunanetra. Jenis penelitian ialah suatu literature review dengan menggunakan pencarian database Google Scholar, PubMed/National Library of Medicine (NCBI), dan Springer Link. Setelah melalui seleksi data berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, dilakukan critical appraisal, kemudian didapatkan 10 literatur yang terdiri dari enam literatur dengan jenis studi randomized controlled trial dan empat literatur dengan jenis studi nonrandomized controlled trial/quasi experimental. Hasil penelitian mendapatkan bahwa umumnya hasil studi menunjukkan skor indeks kebersihan mulut lebih rendah sesudah intervensi dibandingkan dengan sebelum intervensi edukasi kesehatan gigi menggunakan metode kombinasi (braille, audio, dan taktil). Selain itu, secara bermakna intervensi menurunkan skor indeks plak dan meningkatkan jumlah anak tunanetra yang memiliki kategori kebersihan mulut yang baik. Simpulan penelitian ini ialah edukasi kesehatan gigi untuk anak tunanetra dengan metode kombinasi efektif meningkatkan kebersihan mulut.Kata kunci: edukasi kesehatan gigi; metode kombinasi; kebersihan mulut; anak tunanetra
Perilaku Pemeliharaan Kebersihan Mulut Pengguna Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Akrilik Herwanto, Adine V. K.; Mintjelungan, Christy N.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.36429

Abstract

Abstract: Behavior of maintaining denture hygiene is an important factor in the success of denture care. Poor denture hygiene maintenance can cause problems for dental and oral health such as caries, gingivitis, stomatitis, xerostomia, candidiasis, and periodontal disease, especially in users of acrylic-based removable dentures. This study was aimed to obtain the oral hygiene maintenance behavior of denture wearers. This was a literature review study using secondary data sources of the Google Scholar and PubMed databases with keywords, as follows: maintenance behavior, oral hygiene, denture users, acrylic removable partial dentures. Data selection were carried out based on inclusion and exclusion criteria, followed by a critical appraisal. The selection results in six literatures consisting in the form of cross-sectional studies. The results showed that the hygiene behavior of acrylic-based removable dentures in the community was classified as poor. In conclusion, maintenance of oral hygiene behavior of acrylic removable partial denture wearers is classified as poor due to lack of knowledge of most denture wearers to keep their dentures clean.Keywords: maintenance behavior of oral hygiene; denture wearers; acrylic removable partial dentures Abstrak: Perilaku memelihara kebersihan gigi tiruan merupakan faktor penting dalam keberhasilan perawatan gigi tiruan. Pemeliharaan kebersihan gigi tiruan yang kurang baik dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut seperti karies, gingivitis, stomatitis, xerostomia, kandidiasis, dan penyakit periodontal, terutama pada pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemeliharaan kebersihan mulut pengguna gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) akrilik. Jenis penelitian berbentuk literature review dengan menggunakan sumber data sekunder yang diperoleh melalui pencarian database Google Scholar dan PubMed dengan kata kunci: maintenance behavior, oral hygiene, denture users, acrylic removable partial dentures. Seleksi data dilakukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, dilanjutkan dengan critical appraisal. Hasil seleksi mendapatkan enam literatur berbentuk cross-sectional study. Data hasil kajian menunjukkan bahwa perilaku pemeliharaaan kebersihan gigi tiruan lepasan berbasis akrilik pada masyarakat tergolong kurang baik. Simpulan penelitian ini ialah pemeliharaan kebersihan gigi mulut pengguna gigi tiruan sebagian lepasan akrilik masih tergolong kurang baik karena kurangnya kesadaran dan pengetahuan dari sebagian besar masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi tiruan.Kata kunci: perilaku pemeliharaan kebersihan mulut; pengguna gigi tiruan; gigi tiruan sebagian lepasan akrilik
Dry Socket in Smokers after Odontectomy Christian F. Poluan; Pritartha S. Anindita; Christy N. Mintjelungan
e-GiGi Vol. 10 No. 2 (2022): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v10i2.39676

Abstract

Abstract: Dry socket is delayed healing of a socket resulted from extraction due to the release of blood clot leaving visible bone surface. There are several risk factors of dry socket such as dentistry skills, perioperative infection, gender, extraction site, use of oral contraceptives, smoking, use of local anesthetics with vasoconstrictors, and position of impacted third molars. The risk of dry socket in smokers is greater than in non-smokers. This study aimed to obtain the occurrence of dry socket in smokers after odontectomy. This was a literature review study using databases of Google Scholar, PubMed, and Clinical Key. The results obtained 10 articles that were relevant to the topic of discussion. The incidence of dry socket was higher in smokers than in non-smokers. The high incidence of dry socket in smokers was influenced by the ingredients contained in cigarettes, among others, nicotine, carbon monoxide, and hydrogen cyanide. Nicotine affected the rate of epithelialization and blood flow, carbon monoxide caused a decrease in oxygen levels, and hydrogen cyanide could damage the metabolism of cellular respiration. These were related to the phase of wound healing at the stage of inflammation and epithelialization of fibroplasia. In conclusion, the incidence of dry socket after odontectomy is more common in smokers than in non-smokers.Keywords: dry socket; smoking; odontectomy Abstrak: Dry socket merupakan keadaan penyembuhan soket bekas pencabutan yang tertunda karena lepasnya bekuan darah sehingga permukaan tulang terlihat. Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya dry socket seperti keterampilan dokter gigi, infeksi perioperatif, jenis kelamin, lokasi pen-cabutan, penggunaan oral kontrasepsi, merokok, penggunaan anestesi lokal dengan vasokonstriktor, dan posisi gigi molar ketiga yang mengalami impaksi. Risiko terjadinya dry socket pada perokok lebih besar dibandingkan bukan perokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian dry socket pada perokok pasca tindakan odontektomi. Jenis penelitian berupa literature review menggunakan database Google Scholar, PubMed, dan Clinical Key. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang relevan dengan topik bahasan.  Kejadian dry socket lebih sering terjadi pada perokok dibandingkan non perokok. Tingginya kejadian dry socket pada perokok dipengaruhi oleh kandung-an rokok antara lain, nikotin, karbon monoksida, dan hidrogen sianida. Nikotin berpengaruh terha-dap penurunan laju epitelisasi dan aliran darah, karbon monoksida menyebabkan penurunan kadar oksigen, dan hidorgen sianida dapat merusak metabolisme respirasi seluler. Bahan-bahan ini berkaitan dengan fase penyembuhan luka pada tahap inflamasi dan epitelisasi fibroplasia. Simpulan penelitian ini ialah kejadian dry socket pasca tindakan odontektomi lebih tinggi pada perokok dibandingkan non perokokKata kunci: dry socket; merokok; odontektomi
Level of Parental Knowledge about Maintenance of Dental and Oral Hygiene in Early Childhood Farrah F. Sumangando; Christy N. Mintjelungan; Damajanty H. C. Pangemanan
e-GiGi Vol. 10 No. 2 (2022): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v10i2.40534

Abstract

Abstract: Parental knowledge is very important in shaping behavior that supports or does not support oral and dental hygiene of children. The ability of parents to maintain the dental health of their children is strongly influenced by their level of education, age, marital status, occupation, and income. This study aimed to determine the level of parental knowledge about the maintenance of dental and oral hygiene in early childhood. This was a descriptive study with a cross sectional design. Respondents were mothers of early childhood children who had complete primary teeth with an age range of 3-5 years, and domiciled in Tosuraya Village, Ratahan, Southeast Minahasa. The results obtained 32 mothers as respondents. Mothers with children aged 3 years had the highest number of 17 respondents (53.1%). Based on maternal age, respondents at the age of 26-30 years were 12 people (37.5%), and of 21-25 years were 11 people (34.4%). The most frequent occupation of respondents was housewife amounted to 24 people (75%). The most common level of education was SMA/SMK (senior high school) with a total of 21 people (65.6%). In determination of parental category based on maternal education level, the most frequent was senior high school (43.75%) followed by D3/S1 (18.75%) belonged to good category with a total of 20 respondents (62,5%). In conclusion, most parents (mothers) had good category level of knowledge about the maintenance of dental and oral hygiene in early childhood.Keywords: parental knowledge; dental and oral hygiene Abstrak: Pengetahuan orang tua sangat penting dalam membentuk perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan mulut dan gigi anak. Kemampuan orang tua dalam menjaga kesehatan gigi anak sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, usia, status pernikahan, pekerjaan, dan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan orang tua tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pada anak usia dini. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden ialah ibu dari anak usia dini yang telah memiliki gigi sulung lengkap dengan rentang usia 3-5 tahun dan berdomisili di Kelurahan Tosuraya, Kecamatan Ratahan, Kabupaten Minahasa Tenggara. Hasil penelitian mendapatkan 32 orang ibu sebagai responden. Responden yang mempunyai anak usia 3 tahun ialah terbanyak dengan jumlah 17 orang (53,1%). Responden dengan usia ibu 26-30 tahun sebanyak 12 orang (37,5%), dan 21-25 tahun sebanyak 11 orang (34,4%). Pekerjaan responden sebagai ibu rumah tangga berjumlah 24 orang (75%), dan tingkat pendidikan terbanyak ialah SMA/SMK dengan jumlah 21 orang (65,6%). Pengukuran tingkat orang tua berdasarkan pendidikan ibu yang terbanyak ialah SMU/SMK (43,75%) diikuti D3/S1 (18,75%) tergolong kategori baik dengan total 20 responden (62,5%). Simpulan penelitian ini ialah tingkat pengetahuan ibu tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pada anak usia dini sebagian besar termasuk dalam kategori baik.Kata kunci: pengetahuan orang tua; kebersihan gigi dan mulut
Co-Authors . Juliatri, . A.A. Ketut Agung Cahyawan W Andi I. A. Marhaban Angelia Langkir Anggow, Ollivia R. Aruperes, Geraldo Y. Aurelia S. R. Supit Aurelia S. R. Supit Aurelia Supit B. S. Lampus Bawenti, Suryani Bayahu, Cintia Billy J. Kepel Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Celin L. Sindar Christal G. Oroh, Christal G. Christian F. Poluan Citra Ilery D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pengemanan Damajanty H.C. Pangemanan Deisye Supit Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Ekarisma, Verena M. Elita Tambunan, Elita Ezra G. R. Tambunan, Ezra G. R. Farrah F. Sumangando Felisa E. K. Bagaray, Felisa E. K. Freddy Wagey Gabrielle Warongan Galong, Junistika Priskila Galongi, Junistika P. Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Gerung, Ayumi Y. Gracecylia R. Salampessy Grant T. H. Mawei Hassan, Ewithya H. Herwanto, Adine V. K. Hontong, Cheny Imelda Ch. Manurung Indry Worotitjan Inoi, Archi G. P. Jane Wuisan Janno B. B. Bernadus Jefrianto Wololy Jeiska Triska Tulangow Jemima L. Waworuntu, Jemima L. Jimmy Posangi Joan Christiany, Joan Joenda Soewantoro Johanna A. Khoman Julian G. Komansilan, Julian G. Juliatri . Juliatri Juliatri Jumrah Jamil Kaida, Dita C. Karamoy, Deborah Karamoy, Keysha A. Karel Pandelaki Keloay, Princess Keynes Y. Supit Khoman, Johanna Kindangen, Miranda L. Kinontoa, Fitrisya C. Koagouw, Marco S. Kojongian, Gloria M. P. Kolonio, Fanessa E. Krista V. Siagian Kustina Zuliari, Kustina Kusumawardani, Chendrakasih Lidia Iswanto, Lidia Lolongan, Raymond A. Lumempouw, Novany Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N. Mangindaan, Rocky J. Mangowal, Maya P. Mangundap, Gledis C. M. Mantiri, Amanda N. P. Mararu, Wahyu P. Marimbun, Betrix E. Mario S. Howarto, Mario S. Marsela Liwe, Marsela Maureen M. Mawuntu, Maureen M. Meartriecs Tandilangi, Meartriecs Mega S. J. Warongan, Mega S. J. Meilan M. Suleh, Meilan M. Meily Ivane Esther Neman Mendur, Sheren Ch. M. Meyke Widyaningrum Michael A. Leman Milinia Mongkaren Mo'o, Billie A. F. P. Mokodompit, Moh. Fahmi M. Mongi, Pebrian B. Monica A. V. Rumampuk Monica M. Sengkey, Monica M. Motto, Christavia J. Nadhira Thereza Manoy, Nadhira Thereza Najwa F. Modjo Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. Nur I. Martin Octavian, David Olivia Waworuntu Olyvia Octaviany Monoarfa P. S. Anindita Pardanus, Darlene G. Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pieter L. Suling Priscilia G. J. Tambuwun, Priscilia G. J. Pritartha S. Anindita Pritartha S. Anindita Putra, Febrian S. Putrawan, I Putu G.E. Radiah . Rahayu, Mayangsari P. Rambitan, Wulan K. D. Ratulangi, Marly H.R. Rengkuan, Raissa Y.E. Reyna Agnes Nastassia Lumentut Rizka Wahyuni Rizka Wahyuni Rizki Mulyana Djokja Rizkia Irianti Rizkika, Lilies Rompas, Irene F. Rompis, Kezia R. Sagemba, Pascal G. Sagrang, Patricia S. Shane H.R. Ticoalu Sherry Deiristi Sulangi Shirley E. S. Kawengian Sompie, Grace M. M. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sundah, Michael J. Syukri, Dwi M. Tambunan, Miranda A. Tandra, Noviana F. Tangka’a, Roy R. B. Tato, Enjelin M. Tawas, Stevany A.D. Theodorus Pangalila Ticoalu, Jolanda P. Utomo, Hestia E. Vania, Marella T. Vonny N. S. Wowor Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Wanti, Melyana Woran, Yobel R. Wowor, Stephanie G. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K.