Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua dengan Status Karies Gigi Siswa Usia 10–12 Tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.; Vania, Marella T.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55683

Abstract

Abstract: Dental caries is most commonly caused by demineralization, namely loss of the structure of the hard tooth tissue which consists of email, dentine, and cementum. Dental caries has several causative factors, one of which is knowledge which is an external factor in the occurrence of dental caries. This study aimed to determine the relation between the level of parental knowledge and the dental caries status of students aged 10–12 years at SDN Talawaan Bajo, North Minahasa Regency. This was an analytical and descriptive study using a cross-sectional design. Samples consisted of students aged 10–12 years and parents of the students, totaling 42 people each, who were taken by total sampling technique that met the inclusion criteria. The results showed the parental levels of knowledge about caries, categorized as follows: good (95.24%), moderate (4.76%), and poor (0,0%). Dental caries status of students aged 10–12 years with very low (35.71%), low (21.43%), moderate (26.19%), high (9.52%), and very high (7.14%). The Spearman Rank test showed a p-value of 0.38 (>0.05). In conclusion, there is no significant relation between the level of parental knowledge and the dental caries status of students aged 10–12 years at SDN Talawaan Bajo, North Minahasa Regency. Keywords: caries status; parental knowledge; students   Abstrak: Karies gigi paling sering terjadi akibat demineralisasi yaitu hilangnya struktur dari jaringan keras gigi yang terdiri dari email, dentin, dan sementum. Karies gigi memiliki beberapa faktor penyebab, salah satunya ialah pengetahuan yang merupakan faktor eksternal timbulnya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan status karies gigi siswa usia 10–12 tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian terdiri dari siswa berusia 10–12 tahun dan orang tua siswa yang berjumlah masing-masing 42 orang, diambil dengan teknik total sampling yang telah memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua tentang karies dengan kategori baik (95,24%), kategori sedang (4,76%), dan kategori kurang (0,0%). Status karies gigi siswa usia 10–12 tahun dengan kategori sangat rendah (35,71%), rendah (21,43%), sedang (26,19%), tinggi (9,52%), dan sangat tinggi (7,14%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p=0,38 (0,38>0,05). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan orang tua dengan status karies gigi siswa usia 10–12 tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara. Kata kunci: status karies; tingkat pengetahuan orang tua; siswa
Hubungan antara Tingkat Kecemasan dan Perubahan Tekanan Darah pada Pasien Pencabutan Gigi Mintjelungan, Christy N.; Rompas, Irene F.; Tato, Enjelin M.
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.57300

Abstract

Abstract: In dental practice, emotional states, stress, and anxiety are often found in patients. This situation can trigger a defense reaction characterized by increased sympathetic nerve activity. Blood pressure can be used as a parameter to detect the increase in sympathetic nerve activity resulting in changes in blood pressure before the tooth extraction procedure. This study aimed to evaluate the relationship between anxiety levels and changes in blood pressure in tooth extraction patients at Public Health Center. This was a descriptive and analytical study with a cross-sectional approach. Samples were taken using purposive sampling method. The results obtained 50 patients at Puskesmas Sario (Public Health Center) as respondents There were 11 respondents who were not anxious: nine (18%) respondents with fixed blood pressure, one (2%) respondent with lower blood pressure, and one (2%) respondent with increased blood pressure. There were 39 respondents with “anxiety” levels of anxiety including nine (18%) respondents with fixed blood pressure, seven (14%) with decreased blood pressure, and 23 (46%) with increased blood pressure. The paired t-test obtained a p-value of 0.001 for the relationship between anxiety level and blood pressure before tooth extraction. In conclusion, there is a relationship between the level of anxiety and changes in blood pressure in patients before the tooth extraction procedure is carried out. Keywords: anxiety; blood pressure; tooth extraction.   Abstrak: Dalam praktik kedokteran gigi, keadaan emosi, stres, dan kecemasan sering dijumpai pada pasien yang berkunjung ke dokter gigi. Keadaan ini dapat memicu reaksi pertahanan yang ditandai dengan peningkatan aktivitas saraf simpatis. Tekanan darah dapat digunakan sebagai parameter untuk mendeteksi adanya peningkatan aktivitas saraf simpatis, yang dapat menghasilkan perubahan  tekanan darah sebelum dilakukan prosedur pencabutan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara tingkat kecemasan dan perubahan tekanan darah pada pasien pencabutan gigi di Puskesmas. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian diperoleh menggunakan metode purposive sampling. Hasil penelitian mendapatkan 50 pasien di Puskesmas Sario sebagai responden. Terdapat 11 responden yang tidak cemas dan di antaranya terdapat sembilan (18%) responden yang tekanan darahnya bernilai tetap, satu (2%) responden dengan tekanan darah turun, dan satu (2%) responden dengan tekanan darah meningkat.  Terdapat 39 responden dengan tingkat kecemasan “cemas” di antaranya sembilan (18%) responden tekanan darahnya tetap, tujuh (14%) responden tekanan darah turun, dan 23 (46%) responden dengan tekanan darah meningkat. Hasil uji t berpasangan terhadap hubungan antara tingkat kecemasan dan perubahan tekanan darah sebelum pencabutan gigi mendapatkan nilai p=0,001 (<0,005).  Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara tingkat kecemasan dengan perubahan tekanan darah pada pasien sebelum dilakukan tindakan pencabutan gigi. Kata kunci: tingkat kecemasan; perubahan tekanan darah; pencabutan gigi
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Karang Gigi dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa Sekolah Menengah Atas Kojongian, Gloria M. P.; Juliatri, Juliatri; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.59563

Abstract

Abstract: Poor oral hygiene can cause the development of diseases in the oral cavity, including dental calculus. Knowledge about dental calculus greatly influences the individual dental and oral hygiene. Clinically, the level of dental and oral hygiene is assessed using the Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) criteria. This study aimed to analyze the relationship between the level of knowledge about dental calculus and the status of dental and oral hygiene in senior high school students of SMA Negeri 1 Tatapaan. This was an analytical and observational study with a cross-sectional design using the stratified proportionate random sampling technique. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test that obtained a p-value of 0.012 <0.05 and an r of 0.222 for the relationship between level of knowledge about dental calculus and status of dental and oral hygiene. In conclusion, there is a significant relationship between level of knowledge about dental calculus and dental and oral hygiene among students of SMA Negeri 1 Tatapaan. Keywords: knowledge; calculus; dental and oral hygiene status    Abstrak: Kebersihan gigi dan mulut termasuk karang gigi dapat menjadi penyebab berkembangnya penyakit dalam rongga mulut. Pengetahuan tentang karang gigi sangat berpengaruh pada status kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut seseorang. Secara klinis tingkat kebersihan mulut dinilai dengan kriteria Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan tentang karang gigi dengan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa SMA Negeri 1 Tatapaan. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang, menggunakan teknik stratified proportionate random sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji Spearman rank correlation. Hasil analisis uji Spearman rank mendapatkan nilai p=0,012 <0,05 dengan nilai r=0,222 untuk hubungan antara pengetahuan tentang karang gigi dengan status kebersihan gigi dan mulut. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan karang gigi dengan status kebersihan gigi dan mulut pada siswa SMA Negeri 1 Tatapaan. Kata kunci: pengetahuan; karang gigi; status kebersihan gigi dan mulut
Perbedaan Efektivitas Menyikat Gigi Metode Modifikasi Stillman dan Metode Scrub terhadap Indeks Debris Siswa Sekolah Dasar Bawenti, Suryani; Mintjelungan, Christy N.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol. 13 No. 2 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i2.60187

Abstract

Abstract: Oral hygiene is crucial in maintaining oral health and preventing oral cavity problems or diseases. Tooth brushing is an effective way to maintain oral hygiene and to remove debris and plaque. The Stillman modification and scrub methods are simple techniques that can be taught to children. This study aimed to determine the effectiveness difference between the Stillman modification and Scrub methods of tooth brushing on the debris index among elementary school students. This was a quasi-experimental study with a pretest and posttest control group design. Respondents were students of SD GMIM Buloh aged 10–12 years as many as 37 students that fulfilled the inclulsion and exclusion criteria. The results showed that the mean debris index score of respondents before tooth brushing with modified Stillman method was 1.68 and after tooth brushing was 0.35. The mean debris index score before tooth brushing with scrub method was 1.29 and after tooth brushing was 0.34. The independent t-test obtained a p-value >0.05 for the difference of mean debris index of the two methods. In conclusion, the reduction of mean debris index of modified Stillman method is greater than of scrub method, however, there is no significant difference between the two methods in debris index reduction among students of SD GMIM Buloh. Keywords: tooth brushing; Stillman modification method; scrub method; debris index    Abstrak: Kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut serta mencegah terjadinya masalah atau penyakit dalam rongga mulut. Menyikat gigi merupakan suatu usaha yang efektif untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut dan tindakan sehari-hari yang digunakan untuk menghilangkan debris dan plak gigi. Metode menyikat gigi modifikasi Stillman dan metode scrub merupakan metode sederhana yang bisa diedukasikan kepada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas menyikat gigi metode modifikasi Stillman dan metode scrub terhadap indeks debris siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ialah quasi eksperimental dengan pretest and posttest control group design. Responden penelitian ialah. siswa SD GMIM Buloh usia 10–12 tahun berjumlah 37 siswa sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi penelitian. Hasil penelitian mendapatkan rerata skor indeks debris responden sebelum menyikat gigi dengan metode modifikasi Stillman sebesar 1,68 dan sesudah menyikat gigi sebesar 0,35. Rerata skor indeks debris responden sebelum menyikat gigi dengan metode scrub sebesar 1,29 dan sesudah menyikat gigi sebesar 0,34. Hasil uji independent t-test terhadap perbedaan rerata indeks debris menyikat gigi dengan metode modifikasi Stillman dan metode scrub mendapatkan nilai p>0,05. Simpulan penelitian ini ialah penurunan rerata indeks debris dengan metode modifikasi Stillman lebih besar daripada metode scrub namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua metode terhadap penurunan indeks debris siswa SD GMIM Buloh. Kata kunci: menyikat gigi; metode modifikasi Stillman; metode scrub; indeks debris
Kejadian Gingivitis pada Siswa Tunagrahita di SLB Wilayah Pesisir Kota Manado Pardanus, Darlene G.; Tendean, Lydia E. N.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64950

Abstract

Abstract: Gingivitis is one of the periodontal disease characterized by redness, swelling of the gingival tissue, and bleeding due to the accumulation of dental plaque and calculus in the supragingival and subgingival areas. This disease is common among children, including those with special needs such as individuals with intellectual disabilities. Children with intellectual disabilities face challenges in maintaining oral hygiene due to intellectual and behavior limitations, which increase the risk of periodontal diseases like gingivitis. Moreover, socioeconomic challenges and limited access to dental health services in coastal areas further exacerbate this condition. This study aimed to determine the incidence of gingivitis in students with intellectual disabilities in special schools at the coastal area of Manado City. This was an observational study with a cross-sectional design conducted on students with intellectual disabilities at GMIM Nazareth Tuminting Special School and YPAC Special School in Manado using the total sampling method. The results obtained 46 students as respondents; females (58.7%) were more frequent than males (41.3%). The highest percentages were students from SMPLB and SMALB (each of 34.8%). The majority of respondents suffered from gingivitis (89.1%), especially on both upper and lower jaws (41.3%). In conclusion, the prevalence of gingivitis among intellectually disabled students in Special Schools in the coastal area of Manado City is categorized as high (89.1%). Keywords: gingivitis; students with intellectual disabilities    Abstrak: Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang ditandai dengan kemerahan, pembengkakan jaringan gingiva, dan pendarahan akibat penumpukan plak gigi dan kalkulus di supragingiva dan subgingiva. Gingivitis menjadi salah satu penyakit periodontal yang umum terjadi pada anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti tunagrahita. Anak-anak tunagrahita menghadapi tantangan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut akibat keterbatasan intelektual dan perilaku adaptif, yang meningkatkan risiko terhadap penyakit periodontal seperti gingivitis. Tantangan sosial ekonomi dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi di wilayah pesisir memperburuk kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian gingivitis pada siswa tunagrahita di Sekolah Luar Biasa wilayah pesisir Kota Manado. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan pada siswa tunagrahita di SLB GMIM Nazareth Tuminting dan SLB YPAC Kota Manado dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 46 siswa sebagai responden penelitian. Responden perempuan (58,7%) lebih banyak daripada laki-laki (41,3%), terbanyak berada di tingkat SMPLB dan SMALB (masing-masing 34,8%). Mayoritas responden mengalami gingivitis (89,1%), terutama pada rahang atas dan bawah (41,3%). Simpulan penelitian ini ialah angka kejadian gingivitis pada siswa tunagrahita di sekolah luar biasa wilayah pesisir Kota Manado tergolong tinggi (sebesar 89,1%). Kata kunci: gingivitis; siswa tunagrahita
Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Bitung (Barringtonia asiatica) terhadap Pertumbuhan Bakteri Porphyromonas gingivalis Inoi, Archi G. P.; Juliatri, Juliatri; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64954

Abstract

Abstract: Porphyromonas gingivalis is a Gram-negative anaerobic bacterium and one of the main etiological agents of periodontal disease, which is a common oral health problem in the community. Management of periodontal disease generally involves scaling and root planing, accompanied by antibiotics such as metronidazole. However, long-term use of antibiotics may lead to adverse effects, including bacterial resistance and hypersensitivity reactions. Therefore, safer alternative antibacterial agents are needed. One natural ingredient with antibacterial potential is the bitung plant (Barringtonia asiatica), which is known to contain active compounds such as flavonoids, saponins, steroids, alkaloids, phenols, and tannins. This study aimed to evaluate the inhibitory effect of Barringtonia asiatica leaf extract on the growth of P. gingivalis. The test used the disc diffusion method. Extract samples were prepared at concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%, with positive control (metronidazole) and negative control (aquades). The test was conducted at the Pharmaceutical Microbiology Laboratory, FMIPA, Universitas Sam Ratulangi. The results showed that Barringtonia asiatica leaf extract exhibited antibacterial activity against P. gingivalis at all tested concentrations. The largest mean inhibition zone was observed at the 25% concentration and categorized as very strong. In conclusion, Barringtonia asiatica leaf extract has inhibitory effects on the growth of Porphyromonas gingivalis bacteria. Keywords: Porphyromonas gingivalis bacteria; bitung leaf (Barringtonia asiatica)    Abstrak: Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri Gram negatif anaerob yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit periodontal yang banyak ditemukan di masyarakat. Penanganan umum penyakit ini dilakukan melalui scaling, root planning, dan pemberian antibiotik seperti metronidazole, namun, penggunaan antibiotik jangka panjang dapat menimbulkan efek samping seperti resistensi dan reaksi hipersensitivitas, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang lebih aman. Salah satu tanaman yang memiliki potensi antibakteri ialah daun bitung (Barringtonia asiatica) yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, steroid, alkaloid, fenol dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hambat ekstrak daun bitung terhadap pertumbuhan bakteri P. gingivalis. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design menggunakan metode difusi cakram. Sampel dibagi menjadi enam kelompok: ekstrak daun bitung konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, kontrol positif (metronidazole), serta kontrol negatif (akuades). Pengujian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bitung mampu menghambat pertumbuhan P. gingivalis pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat terbesar ditemukan pada konsentrasi 25% dan masuk dalam kategori sangat kuat. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak daun bitung (Barringtonia asiatica) memiliki potensi sebagai agen antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: bakteri Porphyromonas gingivalis; daun bitung (Barringtonia asiatica)
Gambaran Status Gizi dan Kejadian Karies pada Anak Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Tinumbala Pesisir Kota Bitung Mongi, Pebrian B.; Mintjelungan, Christy N.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.65758

Abstract

Abstract: Age of 24–59 months is a critical early stage in an individual's growth and development. Dental caries in children can cause pain, difficulty in eating, sleep disturbance, and ultimately affect their nutritional status due to disrupted food intake. Children with abnormal nutritional status are at higher risk of health problems, including infectious diseases, growth disorders, and oral health issues such as dental caries. This study aimed to obtain the description of nutritional status and dental caries incidence among children aged 24-59 months. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional approach, using purposive sampling on children attending the posyandu (integrated health post) organized by Puskesmas Tinumbala. A total of 87 children were selected based on inclusion and exclusion criteria. The results showed that 34.48% (n=30) of the children were categorized as stunted based on height-for-age (H/A) assessment, and 58.62% (n=51) had dental caries. Of the 30 children with stunted nutritional status, 50% experienced dental caries, and of the 51 children who had dental caries, 29.4% were also classified as stunted. Several factors influenced these conditions, including exclusive breastfeeding, birth weight, parental education and economic level, toothbrushing behavior, and the number of children in the family. In conclusion, half of the children aged 24-59 months experience dental caries, and  a part of the children  that experience dental caries are categorized as stunted. Keywords: nutritional status, caries incidence, children    Abstrak: Masa anak usia 24-59 bulan merupakan tahap awal yang krusial dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Karies gigi pada anak dapat menyebabkan rasa nyeri, kesulitan makan, gangguan tidur, dan pada akhirnya memengaruhi status gizi anak karena asupan makanan terganggu. Anak dengan status gizi tidak normal memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan, termasuk penyakit infeksi, gangguan pertumbuhan, dan masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status gizi dan kejadian karies pada anak. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling pada anak 24-59 bulan yang menghadiri posyandu yang dilaksanakan oleh Puskesmas Tinumbala. Sampel penelitian berjumlah 87 anak, diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 34,48% (n=30) anak tergolong dalam kategori stunting berdasarkan penilaian status tinggi badan menurut umur (TB/U) dan sebanyak 58,62% (n=51) anak mengalami karies. Dari 30 anak dengan status gizi stunting, sebanyak 50% mengalami karies gigi, dan dari 51 anak yang mengalami karies gigi, sebanyak 29,4% juga tergolong dalam status gizi stunting. Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut antara lain pemberian ASI-Eksklusif, berat badan lahir, tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua, perilaku menyikat gigi, serta jumlah anak dalam keluarga. Simpulan penelitian ini ialah setengah dari anak usia 24-59 bulan dengan status gizi stunting mengalami karies gigi, dan sebagian anak yang mengalami karies gigi tergolong dalam status gizi stunting. Kata kunci: status gizi; kejadian karies; anak usia 24-59 bulan  
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Status Kebersihan Gigi dan Mulut Masyarakat Pesisir Utomo, Hestia E.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.65759

Abstract

Abstract: Low knowledge, awareness, and behavior in maintaining dental and oral hygiene are influenced by various things such as environmental condition, education level, knowledge, economic condition, prevailing habits or culture, and access to health services. This study aimed to determine whether there was an influence of education level on dental and oral hygiene status of the coastal community of Maen Village, East Likupang. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Data were analyzed using univariate analysis with percentages and bivariate analysis with ordinal regression. The results obtained 56 people of coastal communities of Maen Village as respondents. The majority had a high level of education (n=25; 44.6%), and moderate dental and oral hygiene status (OHI-S) (n​​=27; 48,2%). The subjects were dominated by those who had high level of education with moderate dental and oral hygiene status (n=17; 68.0%). Bivariate analysis using the ordinal regression test obtained a significant effect. In conclusion, level of education has a significant effect on dental and oral hygiene status of the coastal community of Maen Village, East Likupang District. Keywords: education level; dental and oral hygiene status; coastal community    Abstrak: Rendahnya pengetahuan, kesadaran, dan perilaku dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut dipengaruhi berbagai hal seperti kondisi lingkungan, tingkat pendidikan, pengetahuan, kondisi ekonomi, kebiasaan atau budaya yang berlaku, serta akses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat pendidikan terhadap status kebersihan gigi dan mulut masyarakat pesisir Desa Maen, Kecamatan Likupang Timur. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Data dianalisis menggunakan secara univariat untuk melihat distribusi data berdasarkan persentase serta analisis bivariat untuk melihat pengaruh menggunakan regresi ordinal. Hasil pnelitian mendapatkan 56 orang masyarakat pesisir Desa Maen sebagai responden penelitian. Mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan terakhir menengah (n=25; 44,6%), dan status kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) kondisi sedang (n=27; 48,2%). Responden penelitian didominasi memiliki tingkat pendidikan terakhir menengah dengan status kebersihan gigi dan mulut sedang (n=17; 68,0%). Analisis bivariat menggunakan uji regresi ordinal menunjukkan pengaruh bermakna. Simpulan penelitian ini ialah tingkat pendidikan berpengaruh bermakna terhadap status kebersihan gigi dan mulut masyarakat pesisir Desa Maen Kecamatan Likupang Timur. Kata kunci: tingkat pendidikan; status kebersihan gigi dan mulut; masyarakat pesisir
Hubungan antara Konsumsi Ikan Laut dengan Status Karies Gigi pada Anak Usia 10-12 Tahun Karamoy, Keysha A.; Kawengian, Shirley E. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.66072

Abstract

Abstract: Dental caries is one of the most common oral health problem among children and serves as an important indicator in assessing oral and dental health. One of the factors that plays a role in preventing caries is fluoride intake, which can be obtained from food sources such as marine fish. Coastal areas like Munte Village have high access to marine fish; however, a high prevalence of dental caries is still found among school-aged children. This has prompted research on the relationship between marine fish consumption and dental caries status. This study aimed to determine the relationship between marine fish consumption and dental caries status in children aged 10–12 years at SD Negeri Munte, Likupang Barat. This was an analytical and observational study with a cross-sectional design. Data were collected through a questionnaire on marine fish consumption frequency and dental caries examination using the DMF-T index. Data analysis was conducted using the Spearman Rank test. The results obtained 61 students as subjects selected using total sampling technique. The majority of subjects reported very frequent consumption of marine fish (63.93%) and had dental caries status in the moderate category (40.98%) with an average DMF-T index of 3.3. The Spearman test showed a p-value of 0.003 and a correlation coefficient of -0.371, indicating a significant and inverse relationship between marine fish consumption and dental caries status. In conclusion, there is a significant relationship between marine fish consumption and dental caries status in children aged 10–12 years at SD Negeri Munte, Likupang. Keywords: marine fish consumption; dental caries; school-aged children    Abstrak: Karies gigi termasuk salah satu masalah kesehatan gigi yang paling umum ditemukan pada anak-anak dan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan gigi dan mulut. Salah satu faktor yang berkontribusi dalam mencegah terjadinya karies yaitu asupan fluor yang dapat diperoleh dari makanan, seperti ikan laut. Daerah pesisir seperti Desa Munte memiliki akses tinggi terhadap ikan laut, namun masih ditemukan kasus karies gigi yang cukup tinggi pada anak usia sekolah. Hal ini mendorong dilakukannya penelitian mengenai hubungan konsumsi ikan laut dengan status karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk engetahui hubungan antara konsumsi ikan laut dengan status karies gigi pada anak usia 10–12 tahun di SD Negeri Munte, Likupang Barat. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan melalui kuesioner frekuensi konsumsi ikan laut dan pemeriksaan status karies menggunakan indeks DMF-T. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian mendapatkan 61 siswa sebagai subjek penelitian yang dipilih melalui teknik total sampling. Mayoritas subjek penelitian memiliki frekuensi konsumsi ikan laut yang sangat sering (63,93%) dan status karies gigi dalam kategori sedang (40,98%) dengan nilai rerata indeks DMF-T sebesar 3,3. Hasil uji Spearman menunjukkan nilai p=0,003 dan koefisien korelasi -0,371 yang menunjukkan adanya hubungan bermakna dan berbanding terbalik antara konsumsi ikan laut dan status karies gigi. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara konsumsi ikan laut dengan status karies gigi pada anak usia 10-12 tahun di SD Negeri Munte Likupang. Kata kunci: konsumsi ikan laut; karies gigi; anak usia sekolah
Co-Authors . Juliatri, . Angelia Langkir Anggow, Ollivia R. Aruperes, Geraldo Y. Aurelia S. R. Supit Bawenti, Suryani Bayahu, Cintia Billy J. Kepel Billy O. S. Mayusip, Billy O. S. Christal G. Oroh, Christal G. Citra Ilery D. H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pangemanan Damajanty H. C. Pengemanan Dewi Y. Anang, Dewi Y. Dinar A. Wicaksono Ekarisma, Verena M. Elita Tambunan, Elita Ezra G. R. Tambunan, Ezra G. R. Felisa E. K. Bagaray, Felisa E. K. Freddy Wagey Gabrielle Warongan Galongi, Junistika P. Gary S. J. Nayoan, Gary S. J. Gerung, Ayumi Y. Hassan, Ewithya H. Herwanto, Adine V. K. Hontong, Cheny Indry Worotitjan Inoi, Archi G. P. Jane Wuisan Jefrianto Wololy Jemima L. Waworuntu, Jemima L. Jimmy Posangi Joan Christiany, Joan Joenda Soewantoro Johanna A. Khoman Julian G. Komansilan, Julian G. Juliatri . Juliatri Juliatri Kaida, Dita C. Karamoy, Deborah Karamoy, Keysha A. Karel Pandelaki Keloay, Princess Khoman, Johanna Kindangen, Miranda L. Kinontoa, Fitrisya C. Koagouw, Marco S. Kojongian, Gloria M. P. Kolonio, Fanessa E. Krista V. Siagian Kustina Zuliari, Kustina Kusumawardani, Chendrakasih Lidia Iswanto, Lidia Lolongan, Raymond A. Lumempouw, Novany Lydia E. N. Tendean, Lydia E. N. Mangindaan, Rocky J. Mangowal, Maya P. Mangundap, Gledis C. M. Mantiri, Amanda N. P. Mararu, Wahyu P. Marimbun, Betrix E. Mario S. Howarto, Mario S. Marsela Liwe, Marsela Mega S. J. Warongan, Mega S. J. Meilan M. Suleh, Meilan M. Michael A. Leman Mo'o, Billie A. F. P. Mokodompit, Moh. Fahmi M. Mongi, Pebrian B. Monica M. Sengkey, Monica M. Motto, Christavia J. Nadhira Thereza Manoy, Nadhira Thereza Ni Made Windrawati, Ni Made Ni Wayan Mariati Nonutu, Stevia E. Octavian, David Olivia Waworuntu Olyvia Octaviany Monoarfa P. S. Anindita Pardanus, Darlene G. Paulina Gunawan Paulina N. Gunawan Pemsi M. Wowor, Pemsi M. Pieter L. Suling Priscilia G. J. Tambuwun, Priscilia G. J. Pritartha S. Anindita Putra, Febrian S. Putrawan, I Putu G.E. Rahayu, Mayangsari P. Rambitan, Wulan K. D. Ratulangi, Marly H.R. Rengkuan, Raissa Y.E. Reyna Agnes Nastassia Lumentut Rizka Wahyuni Rizkika, Lilies Rompas, Irene F. Rompis, Kezia R. Sagemba, Pascal G. Sagrang, Patricia S. Shane H.R. Ticoalu Shirley E. S. Kawengian Sompie, Grace M. M. Stefani M. Karamoy, Stefani M. Sundah, Michael J. Syukri, Dwi M. Tambunan, Miranda A. Tandra, Noviana F. Tangka’a, Roy R. B. Tato, Enjelin M. Tawas, Stevany A.D. Ticoalu, Jolanda P. Utomo, Hestia E. Vania, Marella T. Vonny N. S. Wowor Vonny N.S. Wowor, Vonny N.S. Wanti, Melyana Woran, Yobel R. Wowor, Stephanie G. Wulan G. Parengkuan, Wulan G. Wulandari, Fitri K.