Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PERSEBARAN SUHU PERMUKAAN DAN PEMANFAATAN LAHAN DI KOTA MANADO Rumengan, Stevianus H.; Kumurur, Veronica A.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urban heat island (UHI) atau pulau panas perkotaan merupakan sebuah fenomena yang terjadi akibat adanya peningkatan suhu pada wilayah tertentu sehingga membentuk pulau-pulau panas. Dalam perencanaan kota, urban heat island atau pulau panas perkotaan di pengaruhi oleh geometri perkotaan, pola penggunaan lahan, dan property perkotaan. Penggunaan lahan Kota Manado terus mengalami perubahan dari kawasan tidak terbangun menjadi kawasan terbangun sehingga menyebabkan peningkatan suhu permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran suhu panas perkotaan di Kota Manado dan mengetahui pemanfaatan lahan di Kota Manado. Penelitan ini mengunakan metode analisis spasial. Analisis Spasial dilakukan untuk melakukukan pengolahan citra lansat 8 untuk menentukan suhu permukaan, menetukan pola sebaran suhu permukaan dan pemanfaatan lahan pada suhu permukaan. Hasil pengloahan suhu permukaan dari citra satelit lansat 8 mendapatkan suhu permukaan tertinggi adalah 48°C dan suhu permukaan terendah adalah 25°C dengan rata-rata suhu 33,43°C. suhu tertinggi berada pada lahan yang digunakan untuk transportasi. Sedangkan suhu terendah, berada pada lahan yang digunakan untuk hutan.Kata Kunci: Persebaran suhu permukaan, Pemanfaatan lahan
HOTEL WISATA DI MANADO (Implementasi Konsep Taman Gantung Babylonia) Palit, Rhamanda P. S.; Sondakh, Julianus A. R.; Moniaga, Ingerid L.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.6654

Abstract

Dalam ilmu sejarah arsitektur dikenal dengan peradaban arsitektur Mesopotamia dengan ciri khas arsitekturalnya yaitu taman gantung babilonia (Hanging Garden Of Babylon) yang merupakan ikon dari arsitektur hijau di jaman purbakala. Dewasa ini perancangan arsitektur semakin berkembang kepada gaya arsitektur yang tanggap akan lingkungan. Hal tersebut didasari oleh semakin diperlukannya tindakan nyata ataupun tanggapan terhadap kerusakan yang telah disebabkan oleh manusia. Implementasi konsep Taman Gantung Babylonia pada Hotel Wisata di Kota Manado merupakan salah satu wujud nyata dari arsitektur yang tanggap akan lingkungan di masa kini. Tujuan dari Penerapan konsep Taman Gantung Babylonia yaitu untuk menunjang visi ekowisata yang merupakan program dari pemerintah Kota Manado sekaligus membentuk hubungan yang bersinergi antara bangunan dan alam. Upaya ini tentunya tak lepas dari keberadaan Kota Manado sendiri yang memiliki potensi pariwisata yang baik karena ditunjang dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar sehingga menjadikan Kota Manado Sebagai salah satu kota tujuan pariwisata di Indonesia. Dengan dihadirkannya desain Hotel Wisata di Kota Manado diharapkan dapat menunjang kegiatan pariwisata yang ada ataupun dapat menjadi alternatif objek wisata baru dengan penerapan dari tema perancangannya. Kata kunci : Arsitektur Mesopotamia, Taman Gantung Babilonia,Hotel Wisata.
DESAIN TIPOLOGI KAMPOENG KAIN BENTENAN ‘TRANSFORMASI VISUAL ART DENGAN MOTIF BENTENAN’ Suhono, Jessica T.; Sondakh, Julianus A. R.; Moniaga, Ingerid L.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9176

Abstract

Saat ini Sulawesi Utara telah menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia, salah salah satu ciri khas daerah Sulawesi Utara adalah Kain Bentenan. Namun saat ini keberadaan para penenun kain Bentenan belum didukung oleh sarana dan prasarana untuk mengembangkan keahlian mereka agar bisa dilestarikan turun-temurun.Kampoeng kain Bentenan merupakan salah satu solusi, dengan menghadirkan suatu kawasan pendukung bagi desa Bentenan yang didalamnya terdapat sarana dan prasarana yang bisa menunjang Desa tersebut untuk menjadi daerah tujuan wisata. Untuk menghasilkan desain yang optimal maka dipilih tema yang berhubungan erat dengan objek yaitu ‘transformasi visual art dengan motif Bentenan’. Dengan tema tersebut maka menghasilkan objek dengan desain yang berkarakter yang sarana dan prasarana yang ada didalamnya mampu memfasilitasi pemakai, pengelolah dan para penenun yang akan melesarikan warisan budaya daerah.  Kata Kunci : Kampoeng, Kain Bentenan, ‘transformasi visual art dengan motif Bentenan’
HOTEL RESORT DI DANAU SENTANI KABUPATEN JAYAPURA “ EKOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN DESAIN” Kusumawati, Chotijah M.; Moniaga, Ingerid L.; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.6663

Abstract

Kabupaten Jayapura merupakan salah satu wilayah yang ada di Provinsi Papua, Kabupaten Jayapura memiliki potensi yang besar dalam sektor  pariwisata. Kekayaan objek wisata yang ada di Kabupaten Jayapura antara  lain wisata alam, peninggalan sejarah dan budaya. Salah satu kawasan objek wisata yang terkenal di Kabupaten Jayapura yakni Danau Sentani yang terletak di Distrik Sentani Timur. Danau Sentani merupakan lokasi terpilih dalam perancangan Objek Hotel Resort di  Danau Sentani Kabupaten Jayapura. Dengan penerapan Ekologi Sebagai Pendekatan Desain, perencanaan dan perancangan memperhatikan nilai-nilai ekologi yakni alam sekitar Danau Sentani sebagai pendekatan desain, sehingga tidak merusak kondisi alam di Danau Sentani dan menjaga ekosistem danau, sehingga dapat menarik wisatawan di Kabupaten Jayapura.   Kata kunci : Ekologi,Danau Sentani, Kabupaten Jayapura
KAJIAN SEBARAN & KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI PERKOTAAN TONDANO Karouw, Claryta Jeanette V.; Moniaga, Ingerid L.; Karongkong, Hendriek H.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan amanat UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, di dalam wilayah kabupaten atau perkotaan harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 30% dari luas wilayah. RTH yang dimaksud adalah RTH publik dan RTH privat dengan proporsi masing-masing 20% dan 10%. Baik RTH publik maupun privat memiliki fungsi utama sebagai fungsi ekologis dan fungsi tambahan diantaranya sosial & budaya, ekonomi, dan estetika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi eksisting sebaran ruang terbuka hijau dan menganalisis ketersediaan ruang terbuka hijau di Perkotaan Tondano. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis spasial. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri PU No: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH perkotaan yaitu RTH Publik dan RTH Privat. Tahapan analisis data dilakukan secara bertahap yaitu 1) memetakan sebaran RTH dengan menggunakan ArcGIS 10.3, 2) menghitung persentase luas RTH menggunakan rumus persamaan RTH 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting sebaran RTH di Perkotaan Tondano, terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu RTH Publik yang terdiri atas, Taman Kota, Hutan Kota, Jalur Hijau Jalan, Sabuk Hijau, Sempadan Sungai, Sempadan Danau, Pemakaman, Pertanian, dan RTH Privat berupa, Pekarangan. Ketersediaan RTH Perkotaan Tondano sudah melebihi amanat Undang-Undang yaitu seluas 1787,17 ha atau sebesar 79,2% (>30%) dari keseluruhan luas wilayah perkotaan. Perkotaan Tondano memiliki luas RTH Publik sebesar 1321,92 ha atau 58% (>20%) dan RTH Privat yaitu 465,25 ha atau 20% (>10%).Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau, Ketersediaan, Sebaran
EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI KOTA SORONG Baru, Desi Natalia; Poluan, Roosje J.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah adalah usaha untuk mengatur atau mengelola sampah dan proses pengumpulan, pemisahan, pemindahan, pengangkutan sampai pengelolaan dan pembuangan akhir. Implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Sorong melalui regulasi atau Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Sampah. Tetapi permasalahan pengelolaan persampahan di Kota Sorong belum optimal sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Daerah Kota Sorong. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi sistem pengelolaan persampahan di Kota Sorong dengan mengunakan penelitian kualitatif. Metode pendekatan kualitatif dilakukan dengan mengunakan analisis skala likert. Hasil hitungan skala likert untuk mengetahui tingkat kamuan dan kemampuan masyarakat melakukan penanganan sampah dengan cara pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan, pemrosesan akhir.Kata Kunci: Pengelolaan, Sampah, Kota Sorong
PUSAT KONSERVASI EKSITU TAMAN NASIONAL WASUR DI MERAUKE (Simbiosisme Arsitektural) Liem, Adrianus; Sondakh, Julianus A. R.; Mononimbar, Windy; Moniaga, Ingerid L.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 1 (2014): Volume 3 No.1 Mei 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i1.5096

Abstract

ABSTRAK Daya tarik alam Papua secara umum dan Kabupaten Merauke secara lebih khusus merupakan anugerah dan warisan alam yang sangat menjanjikan dan sepatutnya harus dijaga untuk keberlangsungannya kedepan. Provinsi Papua  dan Papua Barat memiliki luas hutan terluas di Indonesia, Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke sendiri memiliki luas mencapai 413.800. Taman nasional ini merupakan aset kabupaten merauke untuk menjamin kestabilan alam dari segala interaksi sosial masyarakat disekitarnya, Tetapi dalam kenyataannya keberadaan Taman Nasional Wasur ini sendiri mulai mendapat ancaman yang dapat mengganggu kehidupan ekosistem didalamnya, sehingga upaya pelestarian warisan alam ini tentu menjadi tidak mudah dengan permasalahan yang ada Dari berbagai latar belakang permasalahan yang ada maka perlu di hadirkan sebuah sarana yang dapat menjadi wadah arsitektural sebagai Pusat Konservasi Eksitu yang melindungi dan menjamin kelestarian ekosistem didalamnya, dan juga sebagai sarana informasi untuk masyarakat umum. Kata Kunci: Taman Nasional Wasur, Pusat Konservasi Eksitu.
Partisipasi Masyarkat dalam Peningkatan Kualitas Lingkungan Objek Wisata Pantai di Sepanjang Jalan Trans Sulawesi Kota Manado – Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa Rogahang, Yunia E. G.; Moniaga, Ingerid L.; Siregar, Frits O. P.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 1 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i1.48819

Abstract

Partisipasi masyarakat dalam lokasi wisata pantai sepanjang Jalan Trans Sulawesi diketahui bahwa masih banyak masyarakat yang masih kurang mengetahui tempat wisata pantai ini, minimnya perhatian masyakat dalam aset wisata pantai ini maka harus diperhatikan tingkat partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas objek wisata pantai. Dalam sepanjang Trans Sulawesi ini memiliki empat objek wisata pantai. Peningkatan kualitas lingkungan meliputi kebersihan pantai, kelestarian biota pantai, ketersediaan fasilitas pendukung wisata pantai serta unsur biotik yang terpelihara dengan baik unsur abiotik yang masih lestari/tidak rusak di objek wisata pantai. Tujuan penelitian ini yaitu, menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dan faktor - faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas lingkungan objek wisata pantai disepanjang jalan Trans Sulawsi dengan menggunakan metode skala likert dapat melihat partisipasi masyarakat dilakukan dengan cara kuisoner dan wawancara. Hasil perhitungan tergolong dalam kategori cukup sering dan faktor yang mempengaruhi adalah tingkat kepemimpinan, kesadaran pribadi dan pekerjaan. Kata kunci: Partisipasi Masyarakat, Kualitas Lingkungan, Objek Wisata, Skala Likert Abstract The Community participation in beach tourism locations along the Trans Sulawesi Road is known that there are still many people who still lack this beach tourism spot, the lack of attention to knowing the community about this beach tourism asset means that the level of community participation in improving the quality of beach tourism objects must be considered. Along the trans Sulawesi, there are four beach attractions. Improving environmental quality includes beach cleanliness, preservation of coastal biota, availability of beach tourism supporting facilities as well as well-maintained biotic elements which are still sustainable/undamaged in beach tourism objects. The purpose of this study is to analyze the level of community participation and the factors that influence the level of community participation in improving the environmental quality of coastal tourism objects along the Trans Sulawsi road using the Likert scale method to see community participation carried out by means of questionnaires and interviews. The results of the calculation fall into the fairly frequent category and the influencing factors are the level of leadership, personal awareness and work. Keyword: Society participation, Environmental Quality, Attractions, Likert Scale
Perencanaan Daya Tarik Wisata Berbasis Ekowisata di Kecamatan Gane Timur Selatan Kabupaten Halmahera Selatan La Riti, Wayuna; Moniaga, Ingerid L.; Rengkung, Michael M.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.48903

Abstract

Kecamatan Gane Timur Selatan Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara merupakan salah satu Kecamatan yang memiliki potensi Daya Tarik Wisata alam dan wisata bahari yang sangat indah. Daya Tarik yang dapat di kembangkan di lokasi tersebut di antaranya wisata alam dan bahari seperti keindahan bentang alam pulau – pulau kecil, keindahan bawah laut, dan pasir putih yang menciptakan keindahan pulau – pulau kecil di Kepulauan Widi. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi potensi Daya Tarik Wisata di Kecamatan Gane Timur Selatan Berbasis Ekowisata, dan mengetahui arahan perencanaan pariwisata menggunakan pendekatan metode analisis SWOT. Hasil identifikasi potensi Daya Tarik Wisata di Kecamatan Gane Timur Selatan diperoleh bahwa Kepulauan Widi memiliki Daya Tarik Wisata alam yang indah dengan persebaran pulau–pulau kecil, hutan mangrove, tempat memancing para masyarakat nelayan, air laut jernih kehijauan dan hamparan pasir putih yang halus dengan panjang 150 km2 menyatukan Kepulauan Widi.Kata kunci; Daya Tarik Wisata Kepulauan WidiAbstractSouth East Gane District, South Halmahera Regency, North Maluku Province is one of the sub-districts that has beautiful natural tourism and marine tourism potential. Attractions that can be developed in this location include natural and marine tourism such as the beauty of the landscape of small islands, the beauty of the underwater world, and the stretch of white sand that creates the beauty of the small islands in the Widi Islands. The purpose of this research is to identify the potential of Ecotourism-Based TouristAttractions in Southeast Gane Regency, as well as to find out the direction of tourism planning with the SWOT analysis method approach. The results of the identification of potential tourist objects in Southeast Gane District found that the Widi Islands have beautiful natural tourist attractions with stretches of small islands, mangrove forests, fishing grounds for fishing communities, clear green sea water and elongated stretches of fine white sand. sand. 150 km2 unites the Widi Islands.Keyword: Tourist Attraction Widi Islands
Analisis Perlindungan Mata Air di Kota Tomohon Dwigianto, Benedictus; Tarore, Raymond Ch; Moniaga, Ingerid L.
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 12 No. 2 (2023): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v12i2.52603

Abstract

AbstrakKota Tomohon sebagai kawasan yang berada di dataran tinggi/perbukitan berperan penting dalam hal penyedia air bagi daerahnya sendiri maupun untuk daerah disekitarnya. Meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya air disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan. Demi menjaga kualitas air tanah dari pencemaran, langkah awal yang perlu dilakukan yaitu penentuan zona perlindungan mata air, zona perlindungan mata air merupakan kawasan di sekitar mata air yang memberikan informasi terkait potensi pencemaran pada sumber air. Untuk mencapai hasil dalam menyusun penelitian tentang perlindungan mata air digunakan pendekatan metode deskriptif kuantitatif, dengan teknik analisis spasial buffer pada masing-masing titik mata air yang dilakukan untuk mengetahui luas wilayah dari tiap zona perlindungan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa mata air yang bisa dibuatkan zona perlindungan mata air yaitu mata air yang memiliki jarak cukup jauh dari area permukiman lebih disekitar 200 meter dari pusat mata air, dimana mata air yang memenuhi kriteria tersebut adalah : mata air Regesan, Sasalak I, Sasalak II, Patar, Wuwunongan. Dengan hasil perhitungan jarak zona I berjarak 10-15 meter dari titik mata air. Zona II merupakan hasil perhitungan menggunakan rumus kecepatan udara tanah dengan hasil : mata air Regesan (140,4 m) Sasalak I (86,4 m), Sasalak II (172,8 m), Patar (86,4 m), Wuwunongan ( 49,68 m).Kata kunci: Mata Air, Zona Perlindungan, Buffer, ZonasiAbstractTomohon City as an area located in the highlands/hills plays an important role in terms of water supply for its own area and for the surrounding areas. The increasing demand for water resources is caused by the increasing population and development activities. In order to maintain the quality of groundwater from pollution, the first step that needs to be taken is the determination of spring protection zones, spring protection zones are areas around springs that provide information related to the potential for pollution of water sources. To achieve the results in compiling research on spring protection, a quantitative descriptive method approach was used, with a spatial buffer analysis technique at each spring point conducted to determine the area of each protection zone. From the results of the research, it is known that springs that can be made spring protection zones are springs that have a considerable distance from residential areas of more than around 200 meters from the center of the spring, where springs that meet these criteria are: Regesan, Sasalak I, Sasalak II, Patar, Wuwunongan springs. With the results of the calculation of the distance zone I is 10-15 meters from the spring point. Zone II is the result of calculations using the ground air velocity formula with the results: Regesan spring (140.4 m) Sasalak I (86.4 m), Sasalak II (172.8 m), Patar (86.4 m), Wuwunongan (49.68 m).Keyword: Spring, Protection Zone, Buffer, Zoning