Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

GAMBARAN KASUS PSIKOLOGI ANAK DI KLINIK TUMBUH KEMBANG ANAK RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA Suci Murti Karini; Sri Wahyu Herlinawati; Annang Giri Moelyo
Wacana Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.892 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i1.66

Abstract

Salah satu aspek tumbuh kembang anak adalah perkembangan psikologis. Telah dilakukan penelitian di Klinik Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr. Moewardi terhadap kasus-kasus psikologi pada anak. Disain penelitian adalah deskriptif retrospektif terhadap catatan medik kasus-kasus psikologi anak yang datang di Unit Rawat Jalan pada Klinik Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr. Moewardi Surakarta dari April 2002 hingga Maret 2006, kemudian dibandingkan dengan kasus serupa pada tahun 2001. Hasil penelitian pada sebanyak 212 anak menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak (63,7%), lebih banyak pada anak berusia lebih dari 5 tahun (56,5%), dan kasus dari luar kota Surakarta (56,6%). Sebanyak 99 subjek datang atas keinginan sendiri, berbeda dengan data tahun 2001 di mana kasus terbanyak adalah rujukan dari dokter anak. Jenis gangguan berupa gangguan intelektual (24,5%), gangguan perkembangan (47,2%), gangguan psikologis disertai manifestasi fisik (6,1%), dan gangguan tingkah laku 22,2%). Gambaran status perkembangan mental menunjukkan sebanyak 85 subjek normal dan 15 subjek abnormal, berbeda dengan data tahun 2001 di mana 64,5% perkembangan mentalnya abnormal. Kata kunci : tumbuh kembang anak
PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA ANAK YANG MENJALANI SISTEM PEMBELAJARAN TAMAN KANAK-KANAK FULL DAYS DAN REGULER Yuninta Ayu Brianti; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.17 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i2.48

Abstract

Kindergarten full days is a full days learning concept, which educates children in the school environment from morning till evening. Unlike regular kindergarten which organizes activities until 10:00. The phenomenon of the learning system has an effect also produce different abilities including social adjustment. Social adjustment was instrumental in the development of children so that they can establish good relationships with others. Both these learning systems have made possible a different effect in child development including social adjustment. This study aimed to find out the difference of social adjustment in children who undergo a learning system kindergarten full days and regular. This study uses the entire population as a sample because the number of kindergarten children in KB TKI Mulia Hati Klaten and TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kalikotes 1 Klaten too little, so this research is the study population. This study uses a quantitative approach with cross sectional method. Data collection tool used is the scale of social adjustment. Data analysis using analytical techniques independent sample t-test. Categorization results showed that the general subject in the learning system a full kindergarten days and regular has a high level of social adjustment, but there are differences in the mean 1.30 which shows the differences in social adjustment in children who undergo the learning system is a full kindergarten days and regular, although the differences were less learning system can be used as a predictor of social adjustment. It was not statistically significant due to test independent sample t-test resulted t-count = 0.934 and t-table = 1.980, with probability p-value = 0.352 > α = 0.005. This means that the hypothesis is rejected, there is no difference of social adjustment in children who undergo a learning system kindergarten full days and regular. Results of data analysis to produce an average value of regular kindergarten 78.38 and kindergarten full days 77.08. This means that learning the system a regular kindergarten have higher social adjustment rather than a kindergarten full days.     Keywords: social adjustment, kindergarten full days, the regular kindergarten
PENGARUH SENAM LANSIA TERHADAP PENURUNAN TINGKAT DEPRESI PADA ORANG LANJUT USIA Luh Mea Tegawati; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.684 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i2.62

Abstract

Keberadaan lansia yang semakin meningkat menimbulkan berbagai polemik dewasa ini. Hal ini disebabkan oleh timbulnya berbagai masalah fisik, psikologis, dan sosial akibat proses degeneratif yang dialami lansia. Kondisi permasalahan tersebut seringkali memunculkan gangguan mental pada lansia seperti depresi. Dalam rangka upaya menurunkan depresi salah satu alternatif penanganan adalah dengan olahraga yang dirancang dengan gerakan khusus bagi lansia yaitu senam lansia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat depresi pada kedua kelompok subjek penelitian yaitu kelompok eksperimen dan kontrol serta mengetahui pengaruh senam lansia terhadap penurunan tingkat depresi pada kelompok orang lanjut usia. Penelitian ini mengambil sampel lansia di dua dusun Kelurahan Brosot Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo DIY. Adapun subjek kelompok eksperimen adalah lansia di Dusun 1 Brosot dan subjek kelompok kontrol adalah lansia Dusun 2 Brosot. Sampel diambil secara purposive sampling. Penelitian ini merupakan quasi experimental dengan desain nonrandomized pretest-postest control group design. Alat pengumpul data depresi adalah adaptasi GDS (Gerriatric Depression Scale) dari Brink and Yessavage yang memiliki nilai alpha cronbach 0,909 dan nilai product moment r = 0,82. Metode analisis data dengan menggunakan paired sample t-test dan independent sample t-test dengan program SPSS 14. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mean pretest dan posttest pada masing masing kelompok eksperimen dan control akan tetapi secara statistic tidak signifikan p value > 0,05. Kelompok eksperimen mean pretest 8,867 menurun menjadi 8,333 perhitungan t sebesar 0,440 dengan p value 0,663 > 0,05 sehingga perbedaan tidak signifikan. Kelompok eksperimen mean pretest 12,033 menurun menjadi 11,967 perhitungan t sebesar 0,051 dengan p value 0,960 > 0,05 sehingga perbedaan tidak signifikan. Penurunan terjadi pada mean kelompok eksperimen sebesar 5,133 dibanding kelompok kontrol sebesar 5,20 memiliki nilai t sebesar 0,057 dengan p value 0,954 > 0,05 sehingga penurunan tersebut tidak signifikan. Kata kunci : depresi, senam lansia
Terapi Melukis untuk Meningkatkan Konsep Diri Remaja Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta Astri Fatwasari; Suci Murti Karini; Nugraha Arif Karyanta
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.388 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.113

Abstract

Terapi Melukis untuk Meningkatkan Konsep Diri Remaja Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta     Painting Therapy to Increase Self-Concept of Orphan Adolescent at Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta     Astri Fatwasari, Suci Murti Karini, Nugraha Arif Karyanta Program Studi Psikologi FakultasKedokteran UniversitasSebalasMaret       ABSTRAK   Konsep diri ialah penilaian dan perasaan terhadap diri yang menjadi skema dasar individu. Remaja memiliki kondisi konsep diri yang cenderung tidak stabil, terlebih lagi remaja yang bertempat tinggal di panti asuhan tentu memiliki tantangan yang berbeda. Melukis sebagai bagian dari art therapy membantu individu untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan diri untuk menemukan konsep diri. Terapi melukis sebagai proses kreatif yang terlibat dalam pembuatan karya lukis dengan melibatkan kapasitas mengolah potensi indra untuk menghasilkan sebuah citra melalui medium lukisan sebagai proses terapeutik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi melukis terhadap peningkatan konsep diri remaja panti asuhan.   Penelitian ini menggunakan metode eksperimen pretest-posttest control group design. Terapi melukis dilakukan dalam 3 sesi yakni warm-up, melukis, dan refleksi yang dilakukan dalam 6 kali pertemuan dengan tema-tema melukis yakni Scribble Painting, Spektrum Warna, Potret Diri, Aku dan Mereka, Pengalamanku, Diriku Di Masa Depan, dan Favoritku. Pengumpulan data menggunakan skala konsep diri Tennessee Self Concept Scale (TSCS) dengan indeks korelasi 0,300-0,686 dan reliabilitas 0,890. Subjek dalam penelitian ini ialah yatim piatu di Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta yang berusia 13-18 tahun, diperoleh 7 orang dalam kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan berupa terapi melukis secara penuh dan 7 orang dalam kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan terapi melukis.   Berdasarkan hasil uji 2 sampel independen Mann-Whitney diperoleh hasil berupa nilai z sebesar -2,505 dan nilai uji signifikansi (p) sebesar 0,012 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perubahan skor konsep diri secara signifikan antara kelompok eksperimen yang medapatkan perlakuan berupa terapi melukis dengan kelompok kontrol yang tidak mendapat perlakuan, sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi melukis memengaruhi konsep diri secara signifikan pada remaja panti asuhan di Panti Asuhan Nur Hidayah Surakarta. Berdasarkan uji kualitatif pada subjek kelompok eksperimen menunjukkan bahwa terdapat perubahan konsep diri yang ditunjukkan dengan mengenal dirinya dengan baik melalui terapi melukis.   Kata kunci: art therapy, terapi melukis, konsep diri, remaja panti asuhan
Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus Akwila Adwin Falenttino; Suci Murti Karini; Arif Tri Setyanto
Wacana Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.322 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i1.105

Abstract

Kompetensi Emosi dan Kompetensi Sosial pada Anak Kembar Identik Laki-Laki dengan Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) Sebuah Studi Kasus   Emotional Competence and Social Competence in Identical Tiwn Boys with Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) A Case Study   Akwila Adwin Falenttino, Suci Murti Karini, Arif Tri Setyanto Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret   ABSTRAK Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah sebuah gangguan yang secara konsisten memperlihatkan beberapa dari sejumlah karakteristik selama periode waktu tertentu: gangguan pemusatan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Pada akhir masa kanak-kanak, anak pada umumnya mengalami periode meningginya emosi, keadaan yang demikian membuat anak harus menyesuaikan diri, sehingga anak cenderung cepat marah dan sulit untuk dihadapi. Hal ini menjadi suatu permasalahan tersendiri bagi anak dengan gangguan ADHD, karena fase memuncaknya emosi ini akan diperparah dengan sikap anak yang impulsif yang disertai dengan hiperaktivitas. Aspek emosi tersebut tidak dapat terlepas dari aspek sosialnya, dimana perkembangan emosi anak akan berdampak langsung pada kehidupan sosialnya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan desain studi kasusyang diharapkan dapat menggali fokus penelitian secara mendalam. Subjek dalam penelitian ini adalah sepasang anak kembar identik laki-laki yang keduanya mengalami gangguan ADHD. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan riwayat hidup. Hasil penelitian ini menggambarkan kompetensi emosi dan kompetensi sosial yang dimiliki oleh anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Kondisi keluarga menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap kompetensi emosi dan sosial pada anak kembar identik dengan gangguan ADHD. Sikap yang diberikan oleh ibu subjek yang cenderung terlalu melindungi ketika berurusan dengan kehidupan sosial anak dan juga sikap yang cenderung membiarkan anak berperilaku sesuka mereka di dalam rumah, berakibat pada pembentukan sikap agresif pada anak kembar identik tersebut. Sikap agresif tersebut dimunculkan oleh kedua subjek ketika mereka berada dalam kondisi emosi marah atau sedih, dan kondisi ini memerlukan waktu yang cukup lama agar kembali ke keadaan yang stabil. Keadaan emosi yang demikian berdampak pada kompetensi sosial kedua subjek, terutama kompetensi yang berhubungan dengan interaksi subjek dengan kelompok tertentu. Kedua subjek masih belum dapat bekerja sama dalam sebuah kelompok tertentu dan cenderung belum dapat memahami isyarat sosial dari orang lain.   Kata kunci: anak kembar identik, ADHD, kompetensi emosi, kompetensi sosial
Pelatihan Mental Imagery Untuk Menurunkan Kecemasan Bertanding pada Atlet Taekwondo di Dojang Patriot Wonosobo Ayuningtyas Sekar A P; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.696 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i2.87

Abstract

Pelatihan Mental Imagery Untuk Menurunkan Kecemasan Bertanding pada Atlet Taekwondo di Dojang Patriot Wonosobo Mental Imagery Training For Reducing Anxiety in Competition on Taekwondo Athletes at Dojang Patriot Wonosobo Ayuningtyas Sekar Asmara Putri, Suci Murti Karini, Rin Widya Agustin Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret ABSTRAK Setiap atlet pasti mempunyai keinginan tampil secara maksimal agar dapat mencapai hasil yang terbaik. Tuntutan yang dialami oleh atlet tidak hanya dari dalam dirinya sendiri namun juga biasa diperoleh dari lingkungan disekitarnya.Tekanan-tekanan baik dari dalam diri dan dari lingkungan atlet itu sendiri menyebabkan atlet mengalami kecemasan, jika tidak dapat dikontrol maka akan mempengaruhi performa sehingga tidak dapat tampil dengan maksimal. Pelatihan mental imagery merupakan suatu proses pendidikan jangka pendek yang bertujuan membantu atlet taekwondo untuk dapat mengontrol kecemasan bertanding yang dialami sehingga dapat memberikan performa yang terbaik dalam bertanding. Pelatihan mental imagery menggunakan metode ceramah, diskusi, role play dan simulasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperiment dengan desain penelitian pretest-posttest control group design. Jumlah subjek penelitian sebanyak 10 orang atlet taekwondo yang mempunyai kecemasan sedang dan tinggi berdasarkan skala kecemasan dari peneliti yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok yaitu lima subjek untuk kelompok eksperimen dan lima untuk kelompok kontrol dengan menggunakan teknik matching. Pelatihan mental imagery diberikan oleh dua orang fasilitator sebanyak tiga kali pertemuan dengan materi hari pertama ketajaman, materi hari kedua keterkendalian, dan materi hari ketiga evaluasi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala kecemasan dengan indeks korelasi bergerak dari 0,011 sampai dengan 0,751 dan koefisian reliabilitas (α) 0,741. Berdasarkan analisis kualitatif masing-masing subjek kelompok eksperimen mengalami penurunan skor kecemasan bertanding setelah diberi perlakuan berupa pelatihan mental imagery. Sedangkan uji hipotesis dengan menggunakan uji Mann-Whitney U-test diperoleh nilai probabilitas (p) 0,094 (uji dua sisi) (p>0,05), maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan skor kecemasan bertanding antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol setelah diberikan perlakuan berupa pelatihan mental imagery. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan mental imagery tidak efektif untuk menurunkan kecemasan bertanding pada atlet taekwondo, perbedaan skor kecemasan bertanding yang dialami oleh subjek dimungkinkan terjadi karena faktor-faktor lain dan bukan karena pengaruh dari pelatihan mental imagery. Kata kunci : kecemasan bertanding, atlet taekwondo, pelatihan mental imagery.
Pengaruh Permainan Tradisional Bentengan Terhadap Interaksi Sosial Anak Asuh di Panti Yatim Hajah Maryam Kalibeber Wonosobo Mutia Febri Nurastuti; Suci Murti Karini; Istar Yuliadi
Wacana Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.663 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v7i2.83

Abstract

Pengaruh Permainan Tradisional Bentengan Terhadap Interaksi Sosial Anak Asuh di Panti Yatim Hajah Maryam Kalibeber Wonosobo Effect of Traditional Games Bentengan on Social Interaction in Orphans in Panti Yatim Hajah Maryam Kalibeber Wonosobo Mutia Febri Nurastuti, Suci Murti Karini, Istar Yuliadi Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebalas Maret ABSTRAK Perbedaan individu dalam suatu masyarakat dapat memengaruhi interaksi sosial yang terjadi, tidak terkecuali di panti asuhan. Panti asuhan merupakan rumah yang berisi banyak individu dengan latar belakang yang berbeda. Setiap individu memiliki sifat, karakter, dan masa lalu berbeda. Individu-individu di harapkan untuk dapat membentuk suatu interaksi sosial yang baik agar tercipta keadaan yang nyaman sehingga panti asuhan dapat menjadi rumah yang menyenangkan bagi anak asuh. Salah satu cara untuk meningkatkan interaksi sosial pada anak asuh panti asuhan adalah dengan melakukan permainan tradisional bentengan di Panti Yatim Hajah Maryam Kalibeber Wonosobo. Penelitian ini menggunakan desain Randomize Pretest-Posttest Control Group Design dengan subjek penelitian ditentukan menggunakan metode purposive sampling, yaitu menentukan subjek berdasarkan suatu kriteria. Kriteria subjek dalam penelitian ini, yaitu anak asuh Panti Yatim Hajah Maryam Kalibeber Wonosobo, berusia 7 hingga 11 tahun, dan bersedia mengikuti penelitian. Metode lain yang digunakan adalah total sampling, yaitu menggunakan seluruh subjek yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Subjek yang sesuai kriteria berjumlah 20 anak, kemudian dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan jumlah anggota kelompok 10 anak asuh. Kelompok eksperimen dalam penelitian ini diberikan perlakuan berupa permainan tradisional selama empat pertemuan dengan 60 menit pada setiap pertemuannya. Permainan diberikan oleh peneliti dan dua fasilitator yang merupakan pengasuh di Balai Yatim Hajah Maryam. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan Skala Interaksi Sosial dengan nilai uji daya beda (Corrected Item-Total Correlation) antara 0,315 hingga 0,696 dan nilai reliabilitas (α) 0,905. Berdasarkan uji hipotesis dengan uji Independent Sample T Test diperoleh nilai t hitung sebesar 6,921 > nilai t tabel 2,101 dan p sebesar 0,000 < nilai α 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh permainan tradisional terhadap interaksi sosial anak asuh di Balai Yatim Hajah Maryam Kalibeber Wonosobo. Pengaruh permainan tradisional bentengan juga dapat diamati melalui perubahan perilaku pada kelompok eksperimen antara sebelum diberi perlakuan hingga penelitian selesai. Anak asuh yang semula menarik diri dari lingkungan Panti Yatim Hajah Maryam Kalibeber Wonosobo menjadi lebih dekat dengan lingkungan. Kata Kunci : Interaksi Sosial, Permainan Tradisional Bentengan
PERBEDAAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DITINJAU DARI DUKUNGAN SOSIAL PADA REMAJA TUNARUNGU YANG DIBESARKAN DALAM LINGKUNGAN ASRAMA SLB-B DI KOTA WONOSOBO Ratna Widyastutik; Suci Murti Karini; Rin Widya Agustin
Wacana Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.909 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v3i1.42

Abstract

Berbagai kesulitan karena keterbatasan pendengaran maupun kesulitan-kesulitan masa remaja dihadapi remaja tunarungu mengarahkan pada kondisi ketertekanan. Dukungan sosial sangat membantu remaja tunarungu untuk menghadapi kesulitan tersebut dan membangun kondisi psychological well-being. Melihat adanya korelasi antara dukungan sosial dengan psychological well-being, maka tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui bentuk dukungan sosial yang efektif untuk membangun psychological well-being pada remaja tunarungu. Perbedaan bentuk dukungan yang paling banyak diterima oleh remaja tunarungu akan mengarahkan pada psychological well-being yang berbeda pula. Populasi penelitian ini ialah remaja tunarungu Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu Don Bosco dan Dena Upakara, Wonosobo, masing-masing sebanyak 62 dan 58 siswa. Sampel diambil dengan kriteria Remaja dengan usia 13-18 tahun, laki-laki dan perempuan, memiliki kemampuan baca dan tulis, serta memiliki kecerdasan normal atau di atas rata-rata. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Seluruh populasi masuk ke dalam kriteria yang dibutuhkan oleh peneliti. Pengumpulan data menggunakan skala psychological well-being dan skala dukungan sosial. Teknik analisis data yang digunakan ialah analisis varians klasifikasi satu arah (One Way Anova). Hasil analisis dengan menggunakan teknik One Way Anava diperoleh F hitung (11,478 ) > F tabel (2,725) serta taraf sigifikansi 0,000 < 0,05. Dari hasil analisis tersebut, maka dapat dikemukakan ada perbedaan yang sangat signifikan psychological well-being ditinjau dari bentuk dukungan sosial pada remaja runarungu. Selain itu, hasil analisis deskriptif menunjukkan adanya perbedaan rata-rata psychological well-being ditinjau dari dukungan sosial. Rata-rata psychological well-being tertinggi berada pada bentuk dukungan emosional dan terendah berada pada bentuk dukungan instrumental.   Kata kunci: psychological well-being, dukungan sosial, remaja tunarungu
Social maturity among obese children in Surakarta, Indonesia Endang Dewi Lestari; Dwi Hidayah; Suci Murti Karini
Paediatrica Indonesiana Vol 46 No 4 (2006): July 2006
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi46.4.2006.174-8

Abstract

Background Although it is clear that childhood obesity has asso-ciation with many aspects included social aspect, the social matu-rity aspect on childhood obesity is scarcely found.Objective To examine the prevalence of social maturity and thepossible associated factors among obese children.Methods A cross sectional study was conducted from January toFebruary 2005. Twenty percent of elementary schools in every sub-district were randomly selected. All obese children from selectedschools were recruited to the study after obtaining the informedconsent. Criteria of obesity in children was based on BMI e”95 thpercentile according to age and sex. Social maturity was measuredusing Vineland Social Maturity Scale, which consisted of 8 catego-ries, i.e., self-help general, self-help eating, self-help dressing, self-direction, occupation, communication, locomotion, and socializa-tion. Social maturity score was determined using age group. Thetotal score was divided into two categories i.e. immature and ma-ture. Possible associated factors with the social maturity such asgender, maternal education less than 9 years, being held back aclass, and parental guidance by step mother were analyzed usingSPSS 10.0 for Windows.Results There were 158 obese children recruited in the study. Theprevalence of social immaturity was 32.5%. The odds ratio (OR)for parental guidance by single parent or others was 2.32 (95%CI1.01;5.31); OR for intelligence was 3.93 (95%CI 1.42;10.89); ORfor male was 2.41 (95%CI 1.08;5.38) and OR for maternal educa-tion less than 9 years was 1.22 (95%CI 0.61;2.41). Multivariateregression, analysis showed significant association between gen-der (for male OR=2.44; 95%CI 1.06;5.58) and intelligence(OR=3.31; 95%CI 1.12;9.84) with social maturity.Conclusion The prevalence of social maturity in obese children ishigh. The factors associated with social maturity among obese chil-dren are the history of had ever been held back a class and male.Further investigation is needed to find out the understanding ofspecific influence of social maturity in the prevalence of obesity.