Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

DUKUNGAN GURU, REGULASI DIRI, DAN MODAL PSIKOLOGIS SISWA: MENEMUKAN KUNCI KEBERHASILAN DI SEKOLAH DASAR: Bahasa Indonesia Helda Apriani Lestari; Sri Tiatri; Fransisca Iriani R. Dewi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i3.26764.2023

Abstract

Siswa masa kini menghadapi tantangan untuk beradaptasi dengan perubahan pasca pandemi COVID-19. Jumlah anak yang berpartisipasi mengikuti kegiatan sekolah sebagai siswa Sekolah Dasar di Indonesia pada tahun 2022 mengalami penurunan signifikan dibanding jenjang pendidikan lainnya. Hal ini perlu diantisipasi segera agar tidak berdampak pada kualitas lulusan pendidikan Indonesia di masa depan. Sejumlah studi mengkonfirmasi bahwa kemampuan regulasi diri bisa menjadi solusi tepat bagi siswa. Regulasi diri ketika diterapkan pada pembelajaran mengacu pada proses proaktif siswa yang terdiri dari menetapkan tujuan pembelajarannya, memantau kemajuannya secara aktif, dan mengatur kognisi, motivasi, dan perilakunya untuk mencapai tujuan pembelajarannya (Pintrich, 2000). Menurut Connell & Wellborn (1991), dukungan guru adalah perilaku guru sebagai konteks sosial yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan psikologis dasar siswa akan keterkaitan, kompetensi, dan kemandirian. Sementara itu, modal psikologis adalah keadaan perkembangan psikologis positif individu dan ditandai dengan adanya harapan, efikasi, resiliensi, dan optimisme (Luthans, et al., 2007). Penelitian ini memprediksi bahwa ketika siswa merasakan dukungan dari guru, mereka cenderung mengakumulasi sumber daya pribadi dalam bentuk modal psikologis yang kemudian membantu siswa melakukan regulasi diri dengan lebih baik. Partisipan penelitian ini berjumlah 276 siswa kelas 4 sampai 6 Sekolah Dasar X di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner regulasi diri (MSLQ), dukungan guru (TASC) dan modal psikologis (PCQ) yang diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia. Dukungan guru berkontribusi terhadap regulasi diri siswa sebesar 4,6%. Variabel modal psikologis terbukti memediasi sempurna hubungan antara dukungan guru terhadap regulasi diri siswa di Sekolah Dasar X di Jakarta. Kontribusi variabel dukungan guru dan modal psikologis dalam menjelaskan variabel regulasi diri siswa sebesar 24,9%.
LATIHAN MENGGAMBAR DASAR DOODLE UNTUK SISWA SMP DI DESA CIHERANG, CIANJUR nashir, muhammad; Jap Tji Beng; Sri Tiatri; Maitri Widya Mutiara; Lygia Teresa Timoria Natan; Muhammad Irfan Pradana; Octarifa Angela; Vania Yori Wakano
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v7i1.28698

Abstract

Community Service activities are carried out together with a team of lecturers, a team of students, and junior high school students in Ciherang Village, Cianjur. The problem faced by junior high school students in Ciherang Village is none other than the impact of the earthquake disaster in the Cianjur area. As a result, post-earthquake trauma and junior high school students' activities tend to be undirected due to collapsed school buildings and houses. As a solution, Community Service conducted a 'doodle' drawing activity in the emergency tent. 'Doodle' is a free drawing activity to express oneself and describe personal experiences, circumstances, and current surrounding situations. The 'doodle' drawing activity aims to direct students to be more productive with the introduction of 'doodle' and reduce post-earthquake trauma because 'doodle' is a form of art therapy. The method used in this Community Service is the demonstration method through a group discussion approach by students with junior high school students. The method of implementation is to divide junior high school students into several groups, distribute bags containing tools for activities, follow the direction of the lecturer who demonstrates making various forms of lines in various directions while accompanied by students, students create their own creations by making the composition of the lines that have been practiced, and coloring their 'doodles' with soft pastels and watercolors. As a result of the implementation of this activity, students who were previously more often in refugee tents have more organized activities. ABSTRAK  Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilaksanakan bersama dengan tim dosen, tim mahasiswa, dan siswa SMP di Desa Ciherang, Cianjur. Permasalahan yang dihadapi oleh siswa SMP di Desa Ciherang tidak lain adalah dampak dari bencana gempa bumi di wilayah Cianjur. Akibatnya, trauma pasca gempa dan kegiatan siswa SMP yang cenderung tidak terarah karena bangunan sekolah dan rumah yang runtuh. Sebagai solusi, PKM melaksanakan kegiatan  menggambar ‘doodle’ di tenda darurat. ‘Doodle’ merupakan sebuah aktivitas menggambar bebas untuk mengekspresikan diri serta menggambarkan pengalaman pribadi, keadaan, dan situasi sekitar saat ini. Kegiatan menggambar ‘doodle’ bertujuan untuk mengarahkan siswa agar lebih produktif dengan dikenalkannya ‘doodle’ dan mengurangi trauma pasca gempa lantaran ‘doodle’ merupakan bentuk dari terapi seni. Metode yang digunakan dalam PKM ini ialah metode demonstrasi melalui pendekatan diskusi kelompok oleh mahasiswa dengan siswa SMP. Metode pelaksanaan yang dilakukan adalah membagi siswa SMP menjadi beberapa kelompok, membagikan tas berisi alat untuk kegiatan, mengikuti arahan dosen yang melakukan demonstrasi membuat beragam bentuk garis dengan berbagai arah sembari didampingi mahasiswa, siswa berkreasi sendiri dengan membuat komposisi garis yang sudah dipraktekan, dan mewarnai ‘doodle’ mereka dengan soft pastel dan watercolor. Hasil dari pelaksanaan kegiatan ini siswa yang sebelumnya lebih sering berada di tenda pengungsian menjadi punya kegiatan yang lebih terarah dan produktif yaitu menggambar ‘doodle’ . Dengan kegiatan menggambar ‘doodle’ juga mengurangi rasa trauma mereka pasca gempa yang dilihat dari ekspresi siswa saat mengikuti rangkaian kegiatan ini.
Studi Korelasi Resiliensi dan Kesejahteraan Psikologis pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Jakarta Binarta, Adeline; Sri Tiatri
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.653

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi tantangan besar seperti penulisan skripsi dan transisi ke dunia kerja yang bisa menimbulkan stres. Tingkat stres yang tinggi ini dapat berpengaruh negatif terhadap pencapaian akademis dan menurunkan kesejahteraan psikologis. Memahami kesejahteraan psikologis mahasiswa sangat penting karena hal ini berdampak langsung pada cara mereka merencanakan masa depan. Resiliensi yang merupakan kemampuan individu untuk mengatasi dan beradaptasi dengan stres, dipercaya memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa dalam menghadapi berbagai kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara resiliensi dan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa tingkat akhir di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan partisipan sebanyak 415 mahasiswa tingkat akhir di Jakarta. Alat ukur yang digunakan adalah Resilience Evaluation Scale (RES) dan Scale of Psychological Well-Being. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online dan dianalisis menggunakan SPSS. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan nilai r(413) = .624, p < .001, yang menunjukkan adanya hubungan positif antara resiliensi dan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa tingkat akhir.
EXPLORATION OF CAREER DECISION SELF-EFFICACY (CDSE) AND WORK READINESS OF FINAL YEAR STUDENTS: AN EMPIRICAL STUDY IN JAKARTA. Alifia Azzahra Anam; Sri Tiatri
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.654

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir dan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir di Jakarta yang pernah magang. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan banyak individu menganggur karena kesulitan mendapatkan pekerjaan. Efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam pengambilan keputusan karir, sedangkan kesiapan kerja mencakup sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk sukses di dunia kerja. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan pengumpulan data secara daring menggunakan teknik snowball. Populasi penelitian terdiri dari 400 responden (276 perempuan dan 126 laki-laki) berusia 20-25 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah career decision self-efficacy scale-short form (Cronbach’s alpha=.799) dan work readiness scale (Cronbach alpha=.802). Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif antara kesiapan kerja dan efikasi diri, dengan koefisien r(398)= .458, p= < .001 yang berarti semakin tinggi kesiapan kerja partisipan, semakin tinggi pula efikasi diri dalam keputusan karir pada individu.
MENGURANGI LONELINESS PADA MAHASISWA PERANTAU: PERAN GROWTH MINDSET DENGAN PERCEIVED SOCIAL SUPPORT SEBAGAI MEDIATOR Cintya Yunetta; Sri Tiatri
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.664

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peran growth mindset terhadap loneliness dengan perceived social support sebagai mediator pada mahasiswa perantau. Growth mindset merupakan pola pikir yang meyakini bahwa kualitas diri dapat dikembangkan melalui usaha dan bantuan orang lain. Sementara itu, perceived social support merupakan persepsi individu terhadap dukungan sosial yang dirasakan. Perubahan hidup yang terjadi secara signifikan dapat membuat mahasiswa perantau kesulitan untuk membangun relasi baru sehingga mengakibatkan munculnya loneliness. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 393 mahasiswa perantau berusia 18-23 tahun dan berdomisi di Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling dan snowball sampling dalam teknik pengambilan data. Alat ukur yang digunakan adalah Carol Dweck’s Growth vs. Fixed Mindset Assessment oleh Diehl (2008), UCLA Loneliness Scale Version 3 oleh Russel (1996), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) oleh Zimet et al. (1988) yang telah ditranslasi ke dalam Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan metode regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran growth mindset terhadap loneliness dengan perceived social support sebagai mediator (r(393) = -.514 dengan p < .001). Temuan ini juga menunjukkan peran perceived social support adalah sebagai mediator parsial yang hanya menguatkan peran growth mindset terhadap loneliness yang telah signifikan.
Studi Korelasi Resiliensi dan Kesejahteraan Psikologis pada Mahasiswa Tingkat Akhir di Jakarta Binarta, Adeline; Sri Tiatri
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.653

Abstract

Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi tantangan besar seperti penulisan skripsi dan transisi ke dunia kerja yang bisa menimbulkan stres. Tingkat stres yang tinggi ini dapat berpengaruh negatif terhadap pencapaian akademis dan menurunkan kesejahteraan psikologis. Memahami kesejahteraan psikologis mahasiswa sangat penting karena hal ini berdampak langsung pada cara mereka merencanakan masa depan. Resiliensi yang merupakan kemampuan individu untuk mengatasi dan beradaptasi dengan stres, dipercaya memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa dalam menghadapi berbagai kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara resiliensi dan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa tingkat akhir di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan partisipan sebanyak 415 mahasiswa tingkat akhir di Jakarta. Alat ukur yang digunakan adalah Resilience Evaluation Scale (RES) dan Scale of Psychological Well-Being. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online dan dianalisis menggunakan SPSS. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan nilai r(413) = .624, p < .001, yang menunjukkan adanya hubungan positif antara resiliensi dan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa tingkat akhir.
EXPLORATION OF CAREER DECISION SELF-EFFICACY (CDSE) AND WORK READINESS OF FINAL YEAR STUDENTS: AN EMPIRICAL STUDY IN JAKARTA. Alifia Azzahra Anam; Sri Tiatri
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.654

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir dan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir di Jakarta yang pernah magang. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan banyak individu menganggur karena kesulitan mendapatkan pekerjaan. Efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam pengambilan keputusan karir, sedangkan kesiapan kerja mencakup sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk sukses di dunia kerja. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan pengumpulan data secara daring menggunakan teknik snowball. Populasi penelitian terdiri dari 400 responden (276 perempuan dan 126 laki-laki) berusia 20-25 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah career decision self-efficacy scale-short form (Cronbach’s alpha=.799) dan work readiness scale (Cronbach alpha=.802). Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif antara kesiapan kerja dan efikasi diri, dengan koefisien r(398)= .458, p= < .001 yang berarti semakin tinggi kesiapan kerja partisipan, semakin tinggi pula efikasi diri dalam keputusan karir pada individu.
MENGURANGI LONELINESS PADA MAHASISWA PERANTAU: PERAN GROWTH MINDSET DENGAN PERCEIVED SOCIAL SUPPORT SEBAGAI MEDIATOR Cintya Yunetta; Sri Tiatri
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.664

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat peran growth mindset terhadap loneliness dengan perceived social support sebagai mediator pada mahasiswa perantau. Growth mindset merupakan pola pikir yang meyakini bahwa kualitas diri dapat dikembangkan melalui usaha dan bantuan orang lain. Sementara itu, perceived social support merupakan persepsi individu terhadap dukungan sosial yang dirasakan. Perubahan hidup yang terjadi secara signifikan dapat membuat mahasiswa perantau kesulitan untuk membangun relasi baru sehingga mengakibatkan munculnya loneliness. Partisipan pada penelitian ini berjumlah 393 mahasiswa perantau berusia 18-23 tahun dan berdomisi di Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling dan snowball sampling dalam teknik pengambilan data. Alat ukur yang digunakan adalah Carol Dweck’s Growth vs. Fixed Mindset Assessment oleh Diehl (2008), UCLA Loneliness Scale Version 3 oleh Russel (1996), dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) oleh Zimet et al. (1988) yang telah ditranslasi ke dalam Bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan metode regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran growth mindset terhadap loneliness dengan perceived social support sebagai mediator (r(393) = -.514 dengan p < .001). Temuan ini juga menunjukkan peran perceived social support adalah sebagai mediator parsial yang hanya menguatkan peran growth mindset terhadap loneliness yang telah signifikan.
PENINGKATAN EFIKASI DIRI AKADEMIK REMAJA MELALUI STRATEGI SMART GOALS Juliana, Sarah Gracyntia; Sri Tiatri; Jap Tji Beng
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i1.34468

Abstract

Remaja berada pada tahap perkembangan penting yang ditandai dengan pencarian jati diri dan peningkatan tuntutan akademik, namun banyak di antara mereka yang menunjukkan keyakinan diri yang rendah dalam proses belajar. Rendahnya efikasi diri akademik dapat berdampak negatif terhadap motivasi, ketekunan, dan pencapaian akademik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai konsep efikasi diri akademik dan memperkenalkan metode SMART Goals sebagai strategi dalam membangun kepercayaan diri dalam belajar. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk seminar psikoedukatif secara luring selama 120 menit, diikuti oleh 22 remaja SMA peserta kelas pendalaman Alkitab di sebuah gereja. Metode yang digunakan meliputi pre-test, diskusi studi kasus, penyampaian materi, praktik penyusunan SMART Goal, sharing hasil, post-test, dan refleksi. Meskipun terdapat kendala seperti keterlambatan peserta dan terbatasnya fasilitator akibat cuaca buruk, kegiatan tetap berlangsung dengan partisipatif dan efektif. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep efikasi diri akademik dan strategi penyusunan tujuan belajar yang terstruktur. Peserta juga menunjukkan antusiasme dalam berbagi pengalaman dan merumuskan tujuan belajar yang relevan dengan kebutuhan pribadi mereka. Kesimpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan psikoedukatif yang sederhana, kontekstual, dan interaktif mampu meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya efikasi diri dalam belajar serta membekali mereka dengan keterampilan dasar dalam perencanaan akademik.
PERILAKU MEROKOK PADA INDIVIDU DEWASA DAN KAITANNYA DENGAN KONFORMITAS DALAM KOMUNITAS Yedida Ardi, Imma; Sri Tiatri
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v9i1.32280.2025

Abstract

Jumlah perokok di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya. Akibat dari kenaikan jumlah perokok, maka beban penyakit dan angka kematian akibat rokok juga terus meningkat. Dalam upaya menghentikan peningkatan jumlah perokok, peneliti melakukan penelitian mengenai keterkaitan konformitas dalam komunitas terhadap perilaku merokok pada individu dewasa. Metode penelitian yang digunakan adalah teknik analisis jalur. Sampel partisipan diambil dengan metode proportional random sampling. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 232 partisipan, dengan kriteria yaitu perokok berusia lebih dari 17 tahun dan merupakan anggota organisasi masyarakat "P" di Cianjur. Melalui penelitian ini, disimpulkan bahwa konformitas berpengaruh sebesar 3,4% terhadap perilaku merokok. Artinya, perilaku merokok akan semakin meningkat apabila individu melakukan konformitas terhadap komunitasnya. Semakin besar persentase perokok dalam komunitas meningkatkan keinginan bagi anggota baru untuk merokok dan menjadi sama dengan anggota lain. Berdasarkan kecenderungan melakukan konformitas, perempuan lebih rentan melakukan konformitas. Ditinjau dari latar belakang pendidikan, subyek dengan pendidikan terakhir yaitu SMA sederajat juga lebih rentan melakukan konformitas. Oleh karena konformitas berpengaruh pada perilaku merokok, perokok diharapkan dapat memilih kelompok teman yang bukan perokok, sehingga mengurangi perilaku merokok pada individu. Kelompok masyarakat juga diharapkan dapat mengganti jamuan rokok dengan makanan, permen atau buah sebagai upaya mengurangi perilaku merokok dalam komunitas. Sebagai praktisi psikolog, temuan ini juga mendukung program penghentian perilaku merokok dengan terapi berbasis sosial. Pemerintah juga dapat mempersempit ruang pengguna rokok dengan menegakkan peraturan ruang khusus merokok, pengadaan vending machine dengan KTP, dan punishment bagi perokok yang tidak sesuai syarat secara hukum.