Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengobatan Penyakit Menurut Budaya Orang Muna di Kecamatan Batalaiworu Kabupaten Muna Bainudin, Bainudin; Niampe, La; Aso, La
Jurnal Penelitian Budaya Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Budaya
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.598 KB) | DOI: 10.33772/jpeb.v4i2.8980

Abstract

Orang Muna sebagai sebuah masyarakat memiliki budaya terhadappengobatan penyakit yang dapat diidentifikasi dan disebarluaskan untukdilestarikan Tujuan artikel ini adalah mengidentifikasi dan mendeskripsikanbudaya orang Muna terhadap pengobatan penyakit. Teori untuk membaca dataadalah pemikiran Rivers (1915: 59-65) tentang tiga pandangan dunia yangberbeda (gaib, religi, dan naturalistik) dapat menghubungkan sistem-sistemkepercayaan, dan tiap-tiap pandangan memiliki model perilaku pengobatanyang sesuai. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pemilihan informandalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling. Pengumpulandata dalam penelitian ini dilakukan dengan cara obserfasi, dokumentasi, danwawancara mendalam. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa orang Munamasih aktif melakukan pengobatan penyakit menurut budaya yang dilakukanoleh seorang bhisa (dukun) untuk menyembuhkannya. Orang Muna penyakitmempercayai bahwa ada sebahagian penyakit yang tidak dapat disembuhkanmelalui pengobatan medis/dokter dan hanya dapat di sembuhkan melaluipengobatan secara tradisional yang dilakukan seorang bhisa (dukun). Selainterdapat juga penyakit yang dapat disembuhkan melalui pengobatanmenggunakan ramuan. Penyebab orang Muna mempertahaknannya karenakeyakinan, biaya, dan adanya rasa takut untuk melakukan pengobatan secaramedis.Kata kunci; Budaya, orang Muna, kepercayaan, pengobatan, penyakit,tradisi
ANALISIS POTENSI DAYA TARIK WISATA BENTENG TIWORO DI KECAMATAN TIWORO KEPULAUAN KABUPATEN MUNA BARAT Hikma Dani Syamsuddin, Wa Ode; Niampe, La; Syahrun, Syahrun
Jurnal Penelitian Budaya Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Budaya
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.512 KB) | DOI: 10.33772/jpeb.v6i2.19852

Abstract

This study aims to determine the potential of Tiworo Fort in Tiworo Islands District, West Muna Regency, analyze its potential in the 4A formulation and analyze the government's efforts in developing the Tiworo Fort site. The theory used to read the data is Tourism Destination Development. The method used is descriptive qualitative method, through observation, interviews and documentation. The results of the research on the analysis of the potential tourist attraction of Tiworo Fort consist of 1) Sangia Barakati Mosque, 2) King's Tombs, and 3) King's Inauguration Stone. While the results of the analysis in the 4A formulation obtained 1) Attraction, namely the Sangia Barakati Mosque, the King's Tombs, and the King's Inauguration Stone. 2) Amenity (facilities), namely lodging business, and supporting infrastructure that can provide services and comfort for tourists covering the fields of Health, Electricity, and Communication Networks. 3) Accessibility (accessibility), including access to land, sea and air routes equipped with road signs, 4) Supporting Services (additional services), namely the presence of the West Muna Regency Tourism Office. Furthermore, related to the government's efforts, it can be seen with the construction of the gate and the plan to restore the mosque to a sleeping formKeywords: Tourist Attraction, Historical Tourism, Fort, Tiworo
Pelestarian Objek Cagar Budaya Desa Sebagai Upaya Pengembangan Potensi Pariwisata Budaya Niampe, La; Jamili; Alias; Laniampe, Hasdairta; Mursin; Hisna; Bainudin
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2024): Edisi November 2024
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v6i1.295

Abstract

Pentingnya pelestarian objek cagar budaya sebagai warisan sejarah dan identitas lokal di Indonesia mendorong perlunya keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pelestarian dan pengembangannya. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan budaya serta mengembangkannya sebagai potensi pariwisata berbasis budaya. Pelaksanaan program kegiatan menggunakan metode penyuluhan dengan pendekatan partisipatif. Program pengabdian masyarakat tentang pelestarian cagar budaya di Desa Landipo berhasil meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Berdasarkan survei bahwa 85% peserta menyatakan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pelestarian cagar budaya. Kegiatan pelatihan teknis, seperti pembersihan, perbaikan, dan dokumentasi sejarah, mendapat respons positif, dengan 75% peserta menguasai keterampilan dokumentasi sejarah. Meskipun keterlibatan dalam perbaikan struktur masih rendah (37,5%), ide-ide pengembangan pariwisata berbasis budaya, seperti paket wisata sejarah, muncul dengan potensi implementasi yang tinggi. Program ini telah berhasil membangun kesadaran masyarakat, namun diperlukan pendampingan lanjutan untuk mengoptimalkan keterampilan teknis dan mengimplementasikan ide pengembangan pariwisata.
Tuturan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar Kecamatan Lakuko Kabupaten Buton Tengah Sartika, Sartika; Niampe, La; Marhini, La Ode; Sardiin, La Ode Muhammad
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2977

Abstract

Tari Mangaru menggambarkan keberanian para lelaki yang berperang di masa lampau. Tarian ini menampilkan dua orang laki-laki yang berperan sebagai pejuang di medan perang. Keduanya menjadi elemen penting dalam pertunjukan karena merepresentasikan semangat dan suasana pertempuran. Dalam pertunjukan Tari Mangaru, keris digunakan sebagai alat utama. Sebagai tarian yang melambangkan keberanian, penggunaan senjata seperti keris menjadi unsur wajib bagi setiap penari. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, dengan fokus pada: (1) fungsi dan makna Tari Mangaru; (2) pola pewarisan tradisi lisan Tari Mangaru di Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah. Informan dalam penelitian ini ditentukan melalui metode purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan empat tahapan, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi dan makna Tari Mangaru bagi masyarakat Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, adalah sebagai simbol kesatria atau laki-laki perkasa. Tari Mangaru merupakan tarian perang yang awalnya digunakan untuk melawan penjajah yang berusaha menguasai wilayah Buton. Namun, saat ini Tari Mangaru difungsikan sebagai sarana hiburan dan penyambutan tamu dalam berbagai acara adat. Pewarisan Tari Mangaru dilakukan oleh tokoh adat melalui beberapa metode, di antaranya: (1) sosialisasi dan (2) pelatihan kepada generasi muda.
Masyarakat Di Buton Utara Dalam Penerapan Pengetahuan Lokal Di Bidang Perkebunan Suraya, Rahmat Sewa; Niampe, La; Syahrun , Syahrun; Topo Jers, La Ode; Laxmi, Laxmi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 5 (2023): Innovative: Journal of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat pengelola jambu mete di Kabupaten Buton Utara memiliki pengetahuan lokal dalam menjaga dan meningkatkan produksi. Sejak lama masyarakat telah mengenal beberapa pengetahuan lokal dalam bidang pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk penerapan pengetahuan lokal masyarakat untuk peningkatan produksi jambu mete di Kabupaten Buton Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif. Pengumpulan data penelitian di lakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pengetahuan lokal masyarakat dalam sektor pertanian jambu mete meliputi tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. pupuk organik yang digunakan didapatkan dari lingkungan alam sekitarnya. Saat membabat rumput kebun, rumput sisa babatan itu di biarkan menumpuk dan lapuk di bahwa pohon jambu sebagai upaya pemupukan organik. Selain itu juga bagi para petani di wilayah pesisir menggunakan sisa-sisa pembersihan ikan sebagai bahan pupuk organik. Kemudian untuk membasmi hama tanaman jambu mete dilakukan dengan cara membakar ikan lure dicampur garam di bawah pohon jambu mete, juga digunakan ramuan tradisional daun Tantaule, rumput laut (Konse), Gigi sotong (cumi-cumi) untuk membasmi hama di pohon jambu mete.
Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Lokal di Button: Satu Kajian Berdasarkan Teks Sarana Wolio Niampe, La
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v14i2.2314

Abstract

This study aimed to describe how far the moslem teaching has given influence to the local culture in Wolio (Buton). This study researched a classic script text, therefore used a filology and Heuristic methode. filology methode was used to purify text and make text be readable by the citizen, hereas heuristic method was used to find out the substantial of the text. The result of this study showed that Islamic teaching influenced toward local culture in Buton since Sultan Mobolina Pauna administration. When he arranged the constitution of Buton verbally called as “Martabat Tujuh “ or Sarana Wolio is like influenced by his intuition or his sufism perspective. That   influence could be seen through the culture which was arranged like Martabat Tujuh,  determining of sultan’s number and sapati which was symbolized by the twenty features, determining of minister number was symbolized like thirty of juz alqur’an and determining number of points refused by culture were symbolized by “itikad yang tujuh puluh dua kaum” Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan sejauh mana ajaran Islam telah berpengaruh dalam kebudayaan lokal di Wolio (Buton). Oleh karena objek yang diteliti berupa teks naskah kuno, maka metode yang digunakan adalah metode Filologi dan metode Heuristik. Metode filologi digunakan untuk memurnikan teks serta mebuat teks menjadi terbaca oleh masyarakat umum, sedangkan metode Heuristik digunakan untuk menemukan substansi teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ajaran Islam mulai berpengaruh terhadap budaya lokal di Buton sejak masa pemerintahan sultan Mobolina Pauna. Ketika beliau menyusun Undang-Undang Buton secara tertulis yang disebut “Martabat Tujuh” atau “Sarana Wolio”, tampaknya sangat dipengaruhi perasaan atau alam pemikiran kesufiannya. Pengaruh itu terlihat pada produk adat yang disusunnya seperti penetapan pangkat-pangkat ditamsilkan dengan Martabat Tujuh, penetapan jumlah adat Sultan dan Sapati ditamsilkan dengan sifat dua puluh, penetapan jumlah mentri ditamsilkan dengan tiga puluh juz al Quran dan penetapan jumlah itikat yang ditolak oleh adat ditamsilkan dengan “itikad yang tujuh puluh dua kaum”.