Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERDAYAAN KADER POSYANDU MELALUI PELATIHAN KPSP DALAM DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK DI KELURAHAN KLOJEN WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAMPAL CELAKET KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG: KADER POSYANDU MELALUI PELATIHAN KPSP DALAM DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK DI KELURAHAN KLOJEN WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAMPAL CELAKET KECAMATAN KLOJEN KOTA MALANG Yudiernawati , Atti; Hadi, Sugianto
Jurnal Produk Pengabdian Masyarakat indonesia Vol 1 No 2 (2024): JPPMI- Oktober 2024
Publisher : CV.G-Techsolutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.810028/jppmi.v1i2.54

Abstract

Penyimpangan tumbuh kembang balita sebagai tindakan koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak agar tumbuh kembangnya kembali normal atau penyimpangannya tidak semakin berat. Apabila balita perlu dirujuk, maka rujukan juga harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan indikasi. Peran kader posyandu sangat penting untuk dapat melakukan pemantauan tumbuh kembang untuk itu diperlukan peningkatan pemahaman dan ketrrampilan melakukan deteksi dini tumbuh kembang, dengan menggunakan KPSP, Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) merupakan suatu instrumen deteksi dini dalam perkembangan anak usia 0 sampai 6 tahun. KPSP ini berguna untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. Program Kemitraan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan KPSP Kader Posyandu Di Kelurahan Polowijen Wilayah Kerja Puskesmas Rampal Celaket Kecamatan Klojen Kota Malang. Pengabdian pada masyarakat ini dilakukan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kader posyandu balita agar mampu melakukan deteksi dini penyimpangan dan keterlambatan perkembangan, serta implementasi penerapan KPSP pada anak usia 0 72 bulan pada saat pelayanan penimbangan di posyandu balita dalam upaya deteksi dini tumbuh kembang anak.
Beyond the Brain: Applying the Extended Mind Concept for Cognitive Optimization in the Digital Era Wicaksono, Soetam Rizky; Mustapa, Kasmudin; Ferdianto, Jujuk; Yudiernawati, Atti; Rusmawati, Retno Danu
ARISTO Vol 13 No 2 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v13i2.11582

Abstract

The Extended Mind concept, as introduced in The Extended Mind: The Power of Thinking Outside the Brain by Annie Murphy Paul, challenges the traditional view that cognition is solely confined to the brain. This book argues that human thinking extends beyond neural processes, incorporating the body, environment, social interactions, and technology. By understanding these external cognitive factors, individuals and organizations can optimize learning, problem-solving, and productivity. This article reviews the key ideas of the book, highlighting its relevance to education, the workplace, and the integration of artificial intelligence (AI) as a cognitive extension. The first major aspect, thinking with the body, demonstrates that gestures, movement, and physical interaction enhance cognitive performance, creativity, and problem-solving. In education, incorporating physical movement into learning activities improves comprehension, while in the workplace, structured movement fosters innovation. The second aspect, utilizing space and environment, emphasizes the impact of well-designed physical spaces on cognitive efficiency. Proper lighting, workspace flexibility, and architectural elements influence focus, productivity, and collaboration. The third aspect, social interaction as a thinking tool, underscores how collaboration and discussion accelerate information processing and critical thinking. Work environments that promote interaction enhance decision-making and employee satisfaction. Finally, integrating technology in cognitive systems explores AI's role in augmenting human intelligence rather than replacing it. AI can streamline data analysis and decision-making but must be used as a supportive tool rather than a substitute for human cognition. The book's insights offer valuable recommendations for education and industry. Educational institutions should integrate embodied learning techniques and create interactive learning environments. Organizations should design workspaces that enhance cognitive efficiency and balance AI integration with human expertise. Ultimately, The Extended Mind is a compelling read for educators, professionals, and researchers seeking to understand and enhance human cognition. Its synthesis of neuroscience, psychology, and real-world applications makes it an essential resource in the modern era of AI and digital transformation.
Pengaruh edukasi healthseed game terhadap pengetahuan dan sikap konsumsi buah sayur siswa kelas 5 MI Ratnaningtyas, Fitria Desy; Yudiernawati, Atti; Lala, Handy
Journal of Health Research Science Vol. 5 No. 02 (2025): Journal of Health Research Science
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/mj965m32

Abstract

Latar Belakang: Anak usia sekolah dasar memiliki karakteristik senang belajar melalui pengalaman langsung. Pengetahuan dan sikap yang kurang tentang pentingnya konsumsi buah sayur menjadi faktor utama. Dibutuhkan inovasi seperti HealthSeed Game, permainan edukatif modifikasi congklak tradisional yang mengintegrasikan pembelajaran tentang buah sayur. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh edukasi kesehatan dengan Healthseed Game terhadap pengetahuan dan sikap konsumsi buah sayur siswa kelas 5 MI MPI Cendono.Metode: Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest posttest. Subjek penelitian adalah 64 siswa kelas 5 dipilih melalui proportional random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan ceklis sikap sebelum dan sesudah intervensi, dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks.Hasil: Terdapat peningkatan pengetahuan dan perbedaan sikap siswa setelah dilakukannya edukasi dengan menggunakan Healthseed Game. Pengetahuan kategori baik meningkat dari 39,06% menjadi 82,81%. Sikap positif meningkat dari 40,63% menjadi 57,81%. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value < 0,001, pada kedua variabel.Kesimpulan: Edukasi kesehatan dengan Healthseed Game tentang konsumsi buah sayur siswa kelas 5 MI MPI Cendono berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan dan sikap siswa.
Stimulasi Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Todler Wahyuningsri Wahyuningsri; Atti Yudiernawati; Meylia Meylia
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 3 No 1 (2017): Jurnal Keperawatan Terapan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v(3)i(1)y(2017).page:50-55

Abstract

Perkembangan motorik halus merupakan peningkatan pengkoordinasian gerak tubuh yang melibatkan otot dan saraf. Pemberian stimulasi oleh orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan baik bahasa, sosial, motorik kasar dan motorik halus pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan motorik halus anak todler sebelum dan setelah dilakukan stimulasi. Penelitian studi kasus deskriptif observasional dengan subyek sebanyak 2 orang anak todler. Hasil observasi menunjukkan adanya kemajuan perkembangan motorik halus dari kedua subyek. Pemberian stimulasi yang dilakukan sejak dini sangat membantu perkembangan motorik halus anak sesuai dengan tahapan usianya. Saran bagi orangtua untuk memberikan stimulasi rutin sejak dini sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
PENGARUH SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (SEFT) TERHADAP VITAL SIGN PADA PASIEN GAGAL GINJAL Rizky Nur Evinda; Susi Milwati; Atti Yudiernawati
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 5 No 1 (2019): JURNAL KEPERAWATAN TERAPAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v5i1.354

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to determine the influence of spiritual emotional freedom tehnique (SEFT) to the vital sign in patients with renal failure in RSUD Ngudi Waluyo. The design of this research is quasi experiment with time series design. The population was all patients with renal failure in RSUD Ngudi Waluyo, while the sample was a part of the population that fulfilled the inclusion criteria of 29 respondents. The sampling technique used is non probability sampling with purposive sampling specification. Technique of collecting data with measurement of vital sign before and after given treatment. Processing and data analysis used in this research is with Wilcoxon Test. The result of data analysis shows that there is influence of spiritual emotional freedom technique (SEFT) to vital sign in patients with renal failure in RSUD Ngudi Waluyo, with p is 0,000. Keywords: SEFT, vital sign, kidney failure patient
PENGARUH INTERAKSI ANTARA PROJECT BASED LEARNING DAN DIRECT INSTRUKSIONAL SERTA GAYA KOGNITIF TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MAHASISWA Atti Yudiernawati; Tavip Dwi Wahyuni; Pudji Suryani
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i2.10241

Abstract

ABSTRACT Problem-solving ability is a fundamental competency that university students must possess to meet the demands of analysis and decision-making in professional contexts. The development of this ability is influenced not only by the learning strategies applied but also by individual cognitive characteristics. This study aims to examine the effects and interaction between Project Based Learning and Direct Instruction models and students’ cognitive styles on problem-solving ability. The research employed a quasi-experimental approach with a 2×2 factorial design involving 87 students from the Health Promotion Study Program. Cognitive styles were classified into field independent and field dependent using the Group Embedded Figure Test, while problem-solving ability was assessed through scenario-based tests. The data were analyzed using two-way ANOVA. The findings indicate that students taught using Project Based Learning demonstrated higher problem-solving ability compared to those taught using Direct Instruction. In addition, students with a field independent cognitive style performed better than those with a field dependent style. Further analysis revealed a significant interaction between learning models and cognitive styles. These findings suggest that the effectiveness of learning strategies in enhancing problem-solving ability depends on the alignment between instructional approaches and students’ cognitive characteristics. ABSTRAK Kemampuan pemecahan masalah menjadi kompetensi esensial bagi mahasiswa dalam menghadapi tuntutan analisis dan pengambilan keputusan di dunia profesional. Pengembangan kemampuan ini tidak hanya dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang digunakan, tetapi juga oleh karakteristik kognitif individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh serta interaksi antara model pembelajaran Project Based Learning dan Direct Instruction dengan gaya kognitif mahasiswa terhadap kemampuan pemecahan masalah. Penelitian menggunakan pendekatan quasi-experimental dengan rancangan faktorial 2×2 yang melibatkan 87 mahasiswa Program Studi Promosi Kesehatan. Gaya kognitif diklasifikasikan menjadi field independent dan field dependent menggunakan Group Embedded Figure Test, sedangkan kemampuan pemecahan masalah diukur melalui tes berbasis skenario. Data dianalisis menggunakan two-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengikuti Project Based Learning memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih tinggi dibandingkan dengan Direct Instruction. Selain itu, mahasiswa dengan gaya kognitif field independent menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan field dependent. Analisis lebih lanjut mengungkap adanya interaksi signifikan antara model pembelajaran dan gaya kognitif. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah bergantung pada kesesuaian antara strategi pembelajaran dan karakteristik kognitif mahasiswa.
Efektivitas Mobile Learning App dalam Edukasi dan Pemantauan Log Activity Terhadap Pencegahan Risiko Dm Tipe 2 Pada Remaja Tavip Dwi Wahyuni; Atti Yudiernawati; Andi Hayyun Abiddin
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25568

Abstract

ABSTRACT The increasing risk of Type 2 Diabetes Mellitus among adolescents is associated with unhealthy lifestyles, including low physical activity and high sedentary behavior. The use of mobile learning integrated with activity logs has emerged as an innovative approach to improve health literacy and promote behavioral change. This study aimed to determine the effect of mobile learning–based education on knowledge, physical activity behavior, and prediabetes risk parameters among adolescents. This study employed a quasi-experimental design involving 50 tenth-grade students of SMAN 1 Tumpang, Malang, selected using purposive sampling. Data were collected using knowledge and prediabetes questionnaires. Blood glucose levels and Body Mass Index (BMI) were measured before and after the educational intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon test. The intervention significantly improved participants’ knowledge (p = 0.000). However, the Wilcoxon test showed no significant effect on blood glucose levels (p = 0.496) or BMI (p = 0.698). Mobile learning–based education combined with activity log monitoring effectively improves adolescents’ knowledge but does not significantly affect blood glucose levels or BMI. Keywords: Education, Physical Activity, Blood Glucose, Body Mass Index, Adolescents.  ABSTRAK Peningkatan risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 pada remaja berkaitan dengan gaya hidup tidak sehat, seperti rendahnya aktivitas fisik dan tingginya perilaku sedentari. Pemanfaatan mobile learning yang terintegrasi dengan log activity menjadi pendekatan inovatif dalam meningkatkan literasi kesehatan dan mendorong perubahan perilaku. Mengetahui pengaruh edukasi berbantuan mobile learning app terhadap pengetahuan, perilaku aktivitas fisik, dan parameter risiko pradiabetes pada remaja. Penelitian menggunakan desain Quasi Eksperimen dengan subyek penelitian 50 remaja SMAN 1 Tumpang Malang. Teknik Pengambilan Sampel menggunakan Purposive Sampling pada siswa kelas X. Data dikumpulkan menggunakan Kuesioner pengetahuan dan prediabetes. Pengukuran Gula Darah dan IMT Remaja dilakukan sebelum dan sesudah edukasi. Analisis menggunakan uji Wilcoxon. Edukasi Dan Pemantauan Log Activity Berbantuan Mobile Learning App meningkatkan pengetahuan (p= 0.000). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap kadar gula darah (p = 0,496) maupun IMT (p = 0,698).  Edukasi dan pemantauan log activity berbantuan mobile learning app meningkatkan pengetahuan, tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar gula darah maupun IMT remaja. Kata Kunci: Edukasi, Aktivitas Fisik, Gula Darah, Index Masa Tubuh, Remaja.
Efektivitas In-House Training terhadap Peningkatan Kapasitas Kader dalam Deteksi Dini dan Pengelolaan Faktor Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 Atti Yudiernawati; Tavip Dwi Wahyuni; Andi Hayyun Abiddin
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25150

Abstract

ABSTRACT Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a continuously increasing prevalence and poses a major public health challenge. Early detection and management of T2DM risk factors at the community level are essential strategies to reduce disease burden. Health cadres play a strategic role in promotive and preventive services; however, limited knowledge and skills often hinder optimal implementation. This study aimed to improve the capacity of health cadres in early detection and management of T2DM risk factors through In-House Training. This study employed a pre-experimental one-group pretest–posttest design. The intervention consisted of educational sessions, interactive discussions, and practical training on T2DM risk factors and community-based screening techniques. Knowledge and skills were measured before and after the training using structured assessment tools. The results showed a significant improvement in both knowledge and skills after the training. The mean knowledge score increased from 55.4 ± 12.7 (pretest) to 82.1 ± 10.3 (posttest) (p 0.001). Similarly, the mean skill score improved from 48.7 ± 11.2 to 78.6 ± 9.5 (p 0.001), indicating a statistically significant enhancement in cadre capacity. In-House Training is an effective and practical approach to strengthening the capacity of health cadres in early detection and management of T2DM risk factors. This strategy may support sustainable community-based diabetes prevention and control programs. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Health Cadres, Early Detection, In-House Training.  ABSTRAK Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat. Deteksi dini serta pengelolaan faktor risiko DMT2 di tingkat komunitas merupakan strategi penting untuk menurunkan beban penyakit. Kader kesehatan memiliki peran strategis dalam pelayanan promotif dan preventif, namun keterbatasan pengetahuan dan keterampilan sering menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko DMT2 melalui In-House Training. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Intervensi meliputi pemberian materi edukatif, diskusi interaktif, dan pelatihan praktik terkait faktor risiko DMT2 serta teknik skrining sederhana berbasis komunitas. Pengetahuan dan keterampilan kader diukur sebelum dan sesudah pelatihan menggunakan instrumen penilaian terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor pengetahuan dan keterampilan kader setelah pelatihan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 55,4 ± 12,7 (pretest) menjadi 82,1 ± 10,3 (posttest) (p 0,001). Rata-rata skor keterampilan juga meningkat dari 48,7 ± 11,2 menjadi 78,6 ± 9,5 (p 0,001), yang menunjukkan peningkatan kapasitas kader secara bermakna. In-House Training merupakan pendekatan yang efektif dan aplikatif dalam meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko DMT2. Strategi ini berpotensi memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian diabetes secara berkelanjutan di tingkat komunitas. Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2, Kader Kesehatan, Deteksi Dini, In-House Training.