Claim Missing Document
Check
Articles

Potensi Daun Teh (Camellia sinensis) dan Daun Anting-anting Acalypha indica L. dalam Menghambat Pertumbuhan Salmonella typhi Nita Noriko
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v2i2.131

Abstract

Abstrak - Salmonella typhi adalah bakteri penyebab terjadinya penyakit typhus. Pengobatan menggunakan antibiotika menimbulkan resistensi jika dilakukan tidak tuntas terutama ketika sistem tubuh menurun. Pengobatan dengan menerapkan kearifan lokal merupakan salah satu alternatif dalam upaya penyembuhan. Daun teh (Camellia sinensis) dan daun anting-anting (Acalypha indica L) diduga mengandung tanin, suatu senyawa yang dapat berfungsi sebagai antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi efektifitas ekstrak daun teh dan daun anting-anting sebagai antibakteri alami, khususnya S. typhi Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Oktober 2012 di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Al Azhar Indonesia. Tahapan penelitian terdiri dari pembuatan ekstrak daun teh dan anting-anting, pengujian adanya kandungan tanin, penumbuhan S. typhi dan uji antibakteri. Ekstrak daun diperoleh dengan cara perebusan dan pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun teh dan anting-anting berpotensi untuk dikembangkan sebagai antibiotik. Hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening ketika dilakukan uji antibakteri. Kedua ekstrak daun tersebut positif mengandung tanin yang diduga berperan dalam penghambatan pertumbuhan S. typhi.  Abstract - Salmonella typhi is a bacteria that caused typhus disease. The curation using chemical drugs may cause bacterial resistance if the treatment is not complete, especially when the system of the body decreases. Treatment with traditional medicine is one of alternative way for curing typhoid fever. Tea and Anting-anting leaves are suspected to contain tannin, a compound that can act as an antibiotic. The aim of the research is getting information about effectiveness of tea and anting-anting leaf extract as antibacterial agent specially S. thypi. Research were conducted from Maret until October 2012 in Microbiology Laboratory, Al Azhar Indonesia University. The steps incude collecting tea and anting-anting leaves, extracting tannin, testing for tannin, growing the bacteria, and testing the inhibition zone. Leaf extract obtained by boiling and drying. The research shows that leaf tea and anting-anting extraction have potential to be developed as an antibiotic. That are showed by clear zone as indicate inhibition Salmonella typhi when tested antibacterial. Both of the leaves plant are positive tannin containing, and it is indicated as inhibitor S. thypi growth.
Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Tanah Sawah di Kecamatan Medan Satria dan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat Arief Pambudi; Nita Noriko; Endah Permata Sari
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v3i4.233

Abstract

Abstrak - Produksi padi di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan, namun peningkatan ini belum mampu memenuhi kebutuhan nasional sehingga impor masih harus dilakukan. Salah satu masalah dalam produksi beras adalah penggunaan pupuk berlebih yang tidak hanya meningkatkan biaya produksi, namun juga merusak kondisi tanah. Aplikasi bakteri tanah sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dapat menjadi salah satu solusi terhadap masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri tanah dari 3 lokasi sawah daerah Bekasi, membandingkan keberadaan total bakteri pada ketiga lokasi tersebut,  dan melakukan karakterisasi isolat berdasarkan karakter yang dapat memicu pertumbuhan tanaman. Dari ketiga lokasi, diperoleh total 59 isolat dan 5 diantaranya berpotensi sebagai PGPR karena kemampuan fiksasi Nitrogen, melarutkan Fosfat, katalase positif, dan motil. Dari ketiga lokasi pengambilan sampel, BK1 memiliki jumlah total bakteri terendah karena aplikasi pemupukan dan pestisida berlebih yang ditandai tingginya kadar P total, serta tingginya residu klorpirifos, karbofuran, dan paration. Kondisi fisik tanah BK1 juga didominasi partikel liat yang menyebabkan tanah menjadi lebih padat. Peningkatan jumlah penggunaan pupuk tidak selalu diikuti peningkatan produktivitas tanaman. Kata Kunci - Bakteri tanah, Rhizosfer sawah, PGPR, Pupuk Hayati Abstract - Rice production in Indonesia has increased annually, but this increase has not reached national demand,so imports still done. One of the problems in rice production is the use of excessive fertilizers that not only increase production costs, but also decreased the soil conditions. The application of soil bacteria as Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) can be the one solution to face this problem. The objective of this study was isolate soil bacteria from 3 locations of rice field in Bekasi, compare the total bacteria in the three locations, and characterize isolates based on the character that can promote plant growth. From three locations, a total of 59 isolates were obtained and 5 of them were potential as a PGPRs due to its Nitrogen fixation activity, Phosphate solubilization, positive catalase, and motility. From three sampling sites, BK1 has the lowest TPC value because of excessive  fertilizers and pesticides application which indicated by high total P levels, and also high chlorpyrifos, carbofuran and paration residues. The physical condition of BK1 soil is also dominated by clay particles which causes the soil more solid. Increasing of fertilizer application is not always followed by increased plant productivity. Keywords - Biofertilizer, PGPR, Rice field rhizosphere, Soil Bacteria
Analisis Penggunaan dan Syarat Mutu Minyak Goreng pada Penjaja Makanan di Food Court UAI Nita Noriko; Dewi Elfidasari; Analekta Tiara Perdana; Ninditasya Wulandari; Widhi Wijayanti
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v1i3.52

Abstract

Masyarakat Indonesia memiliki ketergantungan terhadap minyak goreng. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang penggunaan dan mutu minyak goreng yang beredar di masyarakat khususnya pada food court Universitas Al Azhar Indonesia. Analisis penggunaan minyak goreng penjaja makanan dilakukan dengan melakukan survey. Untuk mengetahui kualitas minyak goreng, dilakukan analisis laboratorium yang meliputi pengukuran kadar air, kadar asam lemak bebas, dan bilangan Iod. Dari dua belas kantin, ada sembilan kantin yang menggunakan minyak goreng. Hasil analisis penggunaan minyak goreng, penjaja makanan secara konsisten  34% menggunakan minyak goreng bermerek dagang A. Pemilihan minyak berdasarkan warna dilakukan oleh 45% penjaja makanan. Berdasarkan frekuensi pembelian, 56% penjaja makanan membeli minyak per hari. Selain itu, 45% penjaja makanan menggunakan minyak dua kali pakai. Analisis kebutuhan minyak menunjukkan, 34% penjaja makanan menghabiskan 5 liter minyak per hari. Cara pembuangan minyak yang dilakukan oleh penjaja, 78% membuang minyaknya setelah digunakan, dimana 67% penjaja makanan membuangnya ke tempat sampah. Berdasarkan pengukuran kadar air, kadar asam lemak bebas, dan bilangan Iod menunjukkan bahwa minyak goreng yang digunakan belum memenuhi standar syarat mutu, walaupun kadar air yang masih di dalam ambang batas normal yaitu kurang dari 0,30%, namun kadar asam lemak bebas baik sebelum maupun sesudah penggunaan melebihi ambang batas normal yang didukung oleh hasil pengukuran bilangan Iod.AbstractIndonesian society has dependence of cooking oil. Based on this condition, the analysis of cooking oil utilization and quality requirement at UAI food court is necessary and it was done. The analysis of cooking oil utilization was done by doing some survey. In order to search the quality of cooking oil, laboratory analysis was done that consist of water content, free fatty acid content, and Iod number. There are nine canteens from twelve canteens which utilize cooking oil. The result of cooking oil utilization analysis shows that 34% of merchant is utilizing A trade mark cooking oil, 45% is identifying cooking oil based on color. 56% is buying cooking oil per day, 45% is utilizing the cooking oil twice, 34% is spending 5 liters cooking oil per day, 78% is casting the cooking oil after utilize it, and 67% is casting the cooking oil into trash can. Based on the result of water content, free fatty acid content, and Iod number analysis showed that cooking oil is never fulfill normal limit, although the water content is still in proper limit is less than 0,30%, whereas free fatty acid content before or after analysis are very high and do not in proper limit and it is supported by Iod number measurement result.
Deteksi Bakteri Klebsiella pneumonia pada Beberapa jenis Rokok Konsumsi Masyarakat Dewi Elfidasari; Nita Noriko; Anita Mirasaraswati; Aishah Feroza; Siti Fauziah Canadianti
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v2i1.97

Abstract

Rokok dinilai sebagai material yang banyak memberikan dampak yang merugikan bagi kesehatan, yang di mana komposisinya memberikan berbagai reaksi negatif dalam tubuh. Himbauan mengenai bahaya merokok yang diakibatkan oleh berbagai senyawa kimia banyak dipublikasikan pada masyarakat, namun dalam hal ini kesempatan muncul untuk mengungkapkan sisi lain dari rokok, yaitu melalui isolasi dan identifikasi bakteri yang terdapat pada tembakau dan abu rokok. Dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri pada 6 sampel rokok yang telah ditentukan telah ditemukan 28 jenis bakteri yang tumbuh pada pengkulturan sampel tembakau, 14 jenis bakteri pada sampel abu rokok dengan 10 jenis bakteri tersebut dijumpai pula pada sampel rokok dan 4 diantaranya merupakan bakteri jenis lain yang hanya tumbuh pada sampel abu rokok.
Fungsionalisasi Limbah Cair Industri Tahu Tradisional PRIMKOPTI Jakarta Barat Sebagai Media Tumbuh Spirulina platensis Nita Noriko
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v1i1.17

Abstract

Tofu industry produce organic waste in the form of liquid and solid. But, most of the industry cast away its waste to the surroundings directly without any processes before and contaminate the environment. One way out to solve this problem is by functionalizing the liquid waste as growth media of Spirulina platensis. In this research, exemic culture method with independent microalgae is used. Based on the result of the research, the optimal  growth of Spirulina platensis  if  cultured in 10% concentration of liquid waste with 4:6 comparison (400 ml Spirulina platensis : 600 ml tofu liquid waste). It is indicated by green color intensity of Spirulina platensis.
Identifikasi Jenis Teripang Genus Holothuria Asal Perairan Sekitar Kepulauan Seribu Berdasarkan Perbedaan Morfologi Dewi Elfidasari; Nita Noriko; Ninditasya Wulandari; Analekta Tiara Perdana
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v1i3.53

Abstract

Teripang adalah hewan invertebrata laut yang merupakan anggota hewan berkulit duri (Echinodermata) memiliki potensi ekonomi yang cukup besar karena mengandung berbagai bahan yang bermanfaat dan dapat dijadikan sebagai sumber protein hewani, obat luka dan anti inflamasi. Eksploitasi yang terjadi secara besar-besaran dikhawatirkan akan merusak kelestarian teripang di alam. Untuk itu diperlukan informasi dasar terkait jenis dan morfologi teripang yang terdapat di perairan sekitar Kepulauan Seribu, khususnya di P. Pari dan P. Pramuka. Pengambilan sampel dilakukan pada pagi dan sore hari, yaitu pada saat kondisi surut di perairan sekitar P. Pari dan P. Pramuka. Sampel selanjutnya dikoleksi untuk diidentifikasi jenisnya berdasarkan perbedaan morfologi. Hasil analisis bentuk, warna, corak warna dan tipe spikula pada teripang tersebut menunjukan, terdapat empat jenis teripang yang berbeda berasal dari Kelas Holothuroidea, Subkelas Aspidochirotacea, Ordo Aspidochirotda, Famili Holothuriidae dan Genus Holothuria. Dua jenis yang terdapat di perairan sekitar P. Pari adalah Holothuria impatiens dan H. atra, sedang dua jenis yang diperoleh dari perairan sekitar P. Pramuka adalah H. edulis dan H. fuscocinerea. Perbedaan jenis pada masing-masing perairan disebabkan karena perbedaan jenis habitat dan sumber bahan makanan yang terdapat di perairan tersebut. Sea cucumber is marine invertebrate that that member of Echinodermata (the thorn-skinned animals), which has considerable economic potential because it contains many useful material and can be used as source of animal protein, drug injury, and anti inflammatory. Massive exploitation is predicted destroying the existance of sea cucumbers in nature. Furthermore, basic information related with the type and morphology of sea cucumbers, especially in Pari Island and Pramuka Island is required. Sampling was carried out in the morning and the afternoon when the condition of waters around Pari Island and Pramuka Island is being low tide. The following samples were collected to identify the species based on morphological differences. The result of the analysis of shape,  colour,  colour shades, and type of spicules on sea cucumbers showed there are four different types of sea cucumbers from the Class Holothuroidea, Subclass Aspidochirotacea, Order Aspidochirotida, Family Holothuriidae and Genus Holothuria.  Two types found in Pari Island are Holothuria impatiens and H. atra, whereas two types found in Pramuka Island are H. edulis and H. fuscicinerea. The diffrences in each type are caused by the difference of habitat and food source in the waters of Pari Island and Pramuka Island.
Kualitas Air Situ Lebak Wangi Bogor Berdasarkan Analisa Fisika, Kimia dan Biologi Dewi Elfidasari; Nita Noriko; Yunus Effendi; Riris Lindiawati Puspitasari
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v3i2.193

Abstract

Abstrak - Situ Lebak Wangi merupakan situ yang berada di daerah Bogor, dan awalnya dimanfaatkan sebagai tempat penampungan air saat musim hujan untuk peningkatkan persediaan  air tanah.  Saat ini, Situ Lebak Wangi dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan limbah oleh masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan perubahan kualitas baik fisik, kimia dan biologi  perairan situ. Untuk itu perlu dilakukan penelitian terhadap kualitas fisik, kimia dan biologi perairan Situ Lebak Wangi agar diperoleh informasi mengenai kualitas perairannya sehingga dapat disosialisasikan kepada masyarakat di sekitarnya nilai penting konservasi, pengelolaan dan pemanfaatan situ tersebut. Hasil pengukuran sifat fisik dan kimia air menunjukkan bahwa suhu di perairan Situ Lebak Wangi masih memenuhi baku mutu air kelas 1, nilai total padatan terlarut perairan Situ masih di bawah ambang batas baku mutu yang dipersyaratkan, nilai kecerahan di perairan Situ Lebak Wangi berkisar antara 67,17 – 80,83 cm dengan nilai rata-rata 74,46 cm, nilai pH perairan danau lebih rendah dari perairan sungai, yaitu berkisar antara 6,60–8-80. Pengukuran DO menunjukkan bahwa di perairan danau konsumsi oksigennya lebih tinggi, sedangkan hasil BOD5 menunjukkan bahwa perairan Situ Lebak Wangi sudah tercemar oleh bahan organik mudah urai (BOD5). Nilai daya hantar listrik berkisar antara 112,0 – 118,0 µhos/cm. Hasil analisa kualitas air Situ Lebak Wangi secara keseluruhan menunjukkan bahwa perairan tersebut tidak layak untuk dijadikan sebagai air baku, karena mengandung bakteri patogen Salmonella-Shigella yang merupakan penyebab thypus dan kolera.                                                           Keata Kunci  - kualitas fisik, kimia dan biologi; Situ Lebak Wangi; Perairan; Baku mutu air Abstract - Situ Lebak Wangi is a place located in the Bogor area, and was originally used as a water reservoir during the rainy season to increase groundwater supply. Currently, Situ Lebak Wangi is used as a waste disposal site by the community. This can lead to changes in the quality of both physical, chemical and biological waters there. Therefore, research on the physical, chemical and biological qualities of waters of Situ Lebak Wangi to obtain information about the quality of the waters so that it can be socialized to the community around the importance of conservation, management and utilization of the site. The result of measurement of physical and chemical properties of water shows that the temperature in Situ Lebak Wangi waters still meet the water quality standard class 1, the total dissolved solids of waters Situ is still below the required quality standard threshold, the brightness value in Situ Lebak Wangi waters ranges between 67, 17 - 80.83 cm with an average rating of 74.46 cm, the pH value of the lake waters lower than river waters, which ranged from 6.60-8-80. Measurements of DO indicate that in lake waters oxygen consumption is higher, whereas BOD5 results show that waters Situ Lebak Wangi already contaminated by organic material easily explained (BOD5). The electrical conductivity values range from 112.0 - 118.0 μhos / cm. The result of Situ Lebak Wangi water quality analysis as a whole shows that the water is not feasible to serve as raw water, because it contains Salmonella-Shigella pathogen bacteria which is the cause of thypus and cholera. Keywords - physical quality, chemistry and biology, Situ Lebak Wangi, Waters, Water quality standards
Pengaruh Pertumbuhan Spirulina sp. terhadap Penggunaan Pupuk Organik Cair sebagai Media Tumbuh Risa Swandari Wijihastuti; Akifah Lutfiah; Nita Noriko
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 5, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v5i4.445

Abstract

Abstrak - Spirulina sp. merupakan mikroalga yang mengandung antioksidan, phytonutrient, probiotik dan nutraceuticals yang dapat meningkatkan kandungan protein makanan dengan pencampuran biomassa Spirulina sp. kering dengan tepung ganyong atau biasa disebut Cannalina. Peningkatan penggunaan tepung ganyong dapat meningkatkan limbah tajuk tanaman ganyong yang tidak ikut terolah menjadi tepung. Pemanfaatan limbah tajuk ganyong tersebut dapat diolah menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan menjadi media tumbuh mikroalga khususnya Spirulina sp.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pertumbuhan Spirulina sp. terhadap pemberian pupuk organik hasil fermentasi limbah tajuk tanaman Ganyong sebagai media tumbuh. Penelitian ini akan dilakukan dengan pembuatan pupuk organik cair, persiapan bibit kultur Spirulina sp., persiapan media tumbuh dan analisa pertumbuhan dari Spirulina sp.. Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh luaran berupa publikasi pada jurnal nasional terakreditasi. Pupuk cair organik yang dihasilkan dari fermentasi tajuk tanaman ganyong telah memenuhi kriteria pupuk organik cair yang yang diterbitkan pada Peraturan Menteri Pertanian NO:37/Permentan/SR.130/5/2010 sehingga dapat diaplikasikan pada tanaman. Laju pertumbuhan dan produksi biomassa Spirulina sp. mencapai angka tertinggi pada konsentrasi media pupuk organik 14 mL/L. Penggunaan pupuk organik cair dari tajuk tanaman Ganyong berpotensi menjadi alternatif bahan media pertumbuhan Spirulina sp.Abstract – Spirulina sp. is a microalga that contains antioxidants, phytonutrients, probiotics, and nutraceuticals that can increase the protein content of food by mixing the dried Spirulina sp. with Ganyong flour which is called Cannalina. Increasing the use of Ganyong flour can increase waste from the plant shoot that is not processed into flour. Utilization of the shoot waste can be processed into organic fertilizer which can be used as a growing medium for Spirulina sp. The objective of this study is to find the effect of Spirulina sp. growth on the organic fertilizer medium that is resulting from Ganyong shoot fermentation. This research will be carried out by making liquid organic fertilizer, preparation of Spirulina sp. culture stock, growth media, and growth analysis. Organic liquid fertilizer produced from the Ganyong shoot fermentation has met the criteria for liquid organic fertilizer published in Minister of Agriculture Regulation NO: 37 / Permentan / SR.130 / 5/2010 so that it can be applied to plants. The growth rate and biomass production of Spirulina sp. reached the highest rate at 14 mL / L organic fertilizer media concentration. The use of liquid organic fertilizer from Canna plant shoot has the potential to be an alternative growth medium for Spirulina sp..Keywords - Spirulina sp., Microalgae, Ganyong, Waste, Pupuk Organik Cair
Diversifikasi Pangan Sumber Karbohidrat Canna edulis Kerr. (Ganyong) Nita Noriko; Arief Pambudi
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 2, No 4 (2014)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v2i4.160

Abstract

Abstrak - Fenomena adanya penyakit akibat kurangnya asupan serat yang memicu penyakit degeneratif di masyarakat perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan masalah nasional di masa mendatang. Penelitian mengenai kadar serat dan metabolit sekunder Canna edulis Kerr. (Ganyong) yang dilanjutkan dengan pengabdian masyarakat  telah dilakukan.  Metode yang digunakan dalam penelitian adalah survey sedangkan pengabdian masyarakat berupa edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya serat dan metabolit sekunder melalui diversifikasi pangan sumber karbohidrat non beras seperti Canna edulis Kerr. (Ganyong). Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat tertinggi Ganyong terdapat pada daun, selain itu ganyong juga mengandung metrabolit sekunder seperti flavonoid, steroid dan alkaloid. Pengabdian masyarakat dilaksanakan di desa Sindanglengo Gunung Putri Jawa Barat. Penelitian juga menunjukkan bahwa masyarakat telah mengetahui ganyong akan tetapi tidak mengetahui manfaatnya bagi kesehatan. Oleh sebab itu budidaya ganyong kurang dikembangkan  oleh masyarakat. Abstract - The phenomenon of disease that caused by lack of  fiber intake that induce  degenerative  disease  is important  to get attention  because it  can cause national problem in the future. The research on fiber concentration and secondary metabolic Canna edulis Kerr. (Ganyong) that continued by community serviced were conducted.  The methodology  used  in this research was a survey techniques, whereas  community serviced was done through extension to the community about the important of fiber and secondary metabolites through food diversification like Canna edulis Kerr (Ganyong). The research showed that the highest Ganyong fiber found in leaf, leaves also contained secondary metahabolites like flavonoid, steroid and alkaloid. Community serviced was done in desa Sindanglengo Gunung Putri Jawa Barat. This activity indicated that most community has known about Ganyong but they didn’t know its benefit for health, which result in lack of Ganyong cultivation. Keywords – degenerative disease, secondary metabolite, education,  food diversification
Keanekaragaman Fitoplankton Sungai Ciliwung Pasca Kegiatan Bersih Ciliwung Arief Pambudi; Taufiq W Priambodo; Nita Noriko; Basma Basma
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sst.v3i4.235

Abstract

Abstrak - Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang tercemar karena banyak dimanfaatkan oleh warga jakarta diantaranya untuk kegiatan industri dan rumah tangga. Salah satu parameter biologi yang dapat digunakan sebagai indikator perubahan lingkungan yaitu Fitoplankton. Peran fitoplankton dalam ekosistem perairan yaitu sebagai produsen primer, hal ini karena fitoplankton memiliki kemampuan untuk fotosintesis. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Juli 2016. Kegiatan Bersih Ciliwung dilaksanakan dari Rindam Jaya, Condet menuju Bidara Cina. Pasca kegiatan bersih ciliwung nilai oksigen terlarut (DO) dari hulu Rindam Jaya (Condet) menuju hilir hingga Bidara Cina mengalami penurunan, sehingga dapat mempengaruhi keanekaragaman fitoplankton. Perbedaan ini diduga memberikan gambaran keragaman komunitas fitoplankton yang berbeda sehingga dilakukan pengambilan sampel fitoplankton di kedua titik tersebut masing-masing dengan 3 kali pengulangan. Metode pengambilan sampel fitoplankton yang digunakan yaitu metode sampling Horizontal dan sampel diidentifikasi menggunakan Sedgewick Rafter Cell Counting (SRCC). Berdasarkan penelitian, total kelimpahan di Rindam Jaya lebih tinggi dibandingkan di Bidara Cina dengan angka berturut-turut 2511 Ind/L dan 1495 Ind/L. Hasil identifikasi fitoplankton yang ditemukan pada lokasi penelitian sebanyak 53 genus yang termasuk ke dalam 5 divisi yaitu, Bacillariophyta (20), Chlorophyta (16), Chrysophyta (5), Cyanophyta (8), dan Rhodophyta (4). Kelimpahan fitoplankton pada stasiun Rindam jaya lebih tinggi dibandingkan di Bidara Cina. Kata Kunci - Fitoplankton, Sungai Ciliwung, BioIndikator Abstract – Ciliwung river is one of the most polluted rivers because it’s used by many citizens of Jakarta for Industrial and household activity. One of biological parameter that’s can be used as an indicator of environmental changed is Phytoplankton.  The role of phytoplankton in aquatic ecosystem that is as primary producers, this is because phytoplankton have the ability to photosytensis. This study was conducted from February to July 2016. Ciliwung clean activity is implemented from Rindam Jaya, Condet to Bidara Cina. Post-activity clean ciliwung value of dissolved-oxygen from upstream Ridam Jaya, Condet to downsream Bidara Cina decreased, so that it can affect the diversity of phytoplankton. This difference is thought to give a picture of the diversity of different phytoplankton community so that samples were taken of phytoplankton in two points each with three repetitions. Phytoplankton sampling method was used Horizontal sampling method and samples were identified using Sedgewick Rafter Cell Counting (SRCC). Based on the research, the total abundance in Rindam Jaya is higher than in Bidara Cina with consecutive numbers 2511 Ind / L and 1495 Ind / L. The results of phytoplankton identification were found in the study sites of 53 genera belonging to 5 divisions namely, Bacillariophyta (20), Chlorophyta (16), Chrysophyta (5), Cyanophyta (8), and Rhodophyta (4). The abundance of phytoplankton at Rindam Jaya station is higher than in Bidara Cina. Keyword - Phytoplankton, Ciliwung River, Indicator Biotecnology
Co-Authors Abdullah Hakam Syah Adienda Yoesmah Zhafirah Adita Surya Doeana Agus Masduki Agustono, Rachmad Aidha Zulaika Aishah Feroza Akifah Lutfiah Alfiah, Elma Alma Mandjusri Amelia Latifa Analekta Tiara Perdana Andri Hadiansyah Ang, Benson Angelia Yulita Anggraini, Bunga Anita Mirasaraswati Arief Lelono Arum Arief Pambudi Armelia, Adela Arniaty, Andi Astria Prastika Dewi Bahrul Ulum Basma Basma Budi Aribowo Bunga Anggraini Choirunnisa, Nadiyah Isna Clarinda Puspitajati Crisnia Crisnia Cyndi Marcelina Dewi Elfidasari Dhia Puti Andini Wibowo Dinda Zalfa Dody Haryadi Dwi Atmi Narwati Ekaristi Pratiwi Ekowati Chasanah Elya Novani Endah Permata Sari Fachrudin, Muhammad Iqbal Raihan Fajar, Mahesa Putra Firli Azkia Rahmi Firman Alamsyah Gintung Patantis Grariani Nufadianti Habib Pangeran Hamisya Nurindriani Haris Atsal, Muhammad Amar Herlina, Sandra Hidayat Yorianta Sasaerila Imam Rosadi Indrini, Tri Ishmah, Fahradhita Sri Joko Prayitno JOKO PRAYITNO Kintoko, Wendy Almira Liana Mailani Mandjusri, Alma Maulana, Aisyah Fajri Maulida, Aulia Muchammad Nasucha Mulyanto, Rizky Nuur Berlianni Nadiyah Isna Choirunnisa Ninditasya Wulandari Novani, Elya Nunung Nurhasanah Nurfadillah Nurfadillah Parameswari, Shahnaz Kintan Perdana, Analekta Tiara primasari, alina Pua Meno, Muhamad Zikrillah Purwanty Rara Azura Puspitasari, Riris Lindiawati Rahayu, Kun Mardiwati Rahmat Azhari Riris Lindiawati Puspitasari Risa Azhari Rismayanti Rismayanti Saffana, Nadhira Sahamony, Nur Fitriyani Sakinah Sakinah Sakinah Sakinah Sastradinata, Raydinal Adam Kusdinar Shalsabila, Nayla Fatihah Siti Fauziah Canadianti Soesilo, Tri Edhi Budhi Stenny Putri Syaefudin - Syamsul Arifin Syarif Hidayat Syifanindira, Satri Vierly Taufiq W Priambodo Tharra Azzahra Riyana Vaerani, Nazwa Aiska Varomdhona, Siti Whisnuwardani, Indri Rosemaya Widhi Wijayanti Wijihastuti, Risa Swandari Wijihastuti, Risa Swandari Yunus Effendi Yusro Nuri Fawzya Yusuf, Andi Mukramin Zaharah, Puteri Zahid Azka Ramadhan Zalfa, Dinda