Ria Azizah Tri Nuraini
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 57 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Konsentrasi Nitrat dan Fosfat dan Kandungan Klorofil Thalassia Hemprichii di Perairan Pulau Kemujan dan Perairan Teluk Awur Kirana, Nadia Astrid; Endrawati, Hadi; Nuraini, Ria Azizah Tri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.48042

Abstract

Ekosistem lamun memiliki produktivitas primer yang tinggi sehingga dapat mendukung kelimpahan ikan dan invertebrata serta turut menjaga kelestariannya. Nutrien berupa nitrat dan fosfat merupakan makro nutrien yang sangat penting bagi proses pertumbuhan dan perkembangan lamun. Pembentukan klorofil lamun dapat dipengaruhi oleh nutrien berupa nitrat dan fosfat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi nutrien nitrat dan fosfat pada air dan sedimen serta kandungan klorofil lamun Thalassia Hemprichii di perairan Teluk Awur dan Pulau Kemujan. Sampel daun lamun T. Hemprichii diambil dari perairan Teluk Awur dan perairan Pulau Kemujan bersamaan dengan sampel air dan sedimen perairan. Sampel daun lamun T. Hemprichii dalam keadaan basah digerus kemudian ditimbang sebanyak 100 mg. Sampel dilarutkan menggunakan 10 ml Aseton 90%. Dilakukan sentrifuge dengan kecepatan 1000 rpm selama 5 menit lalu hasil supernatannya dipindahkan ke dalam botol vial. Analisis klorofil menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil yang telah didapatkan menunjukkan bahwa pada lokasi yang berbeda terdapat perbedaan kandungan klorofil. Kandungan klorofil di perairan Pulau Kemujan lebih tinggi apabila dibandingan dengan perairan Teluk Awur. Hasil konsentrasi nitrat dan fosfat perairan dan sedimen ditemukan cenderung memiliki nilai yang lebih baik di lokasi perairan Teluk Awur apabila dibandingkan dengan perairan Pulau Kemujan.  Seagrass ecosystems have very high primary productivity so that they can support the abundance and diversity of fish and invertebrates and contribute to their sustainability. Nutrients in the form of nitrate and phosphate are macronutrients that are very important for the growth and development of seagrass ecosystems. The formation of chlorophyll in seagrass leaves can be influenced by nutrients in the form of nitrate and phosphate. This study aims to determine the consentration of nitrate and phosphate nutrients in water and sediment and the chlorophyll content of seagrass T. Hemprichii in the waters of Teluk Awur and Kemujan Island. Seagrass leaf samples of T. Hemprichii were taken from the waters of Teluk Awur and the waters of Kemujan Island along with samples of water and water sediments. Samples of T. Hemprichii seagrass leaves were ground wet and then weighed as much as 100 mg. The sample was dissolved using 10 ml of 90% Acetone. Centrifuge at 1000 rpm for 5 minutes. Then the supernatant was transferred to a vial. Chlorophyll analysis using UV-Vis spectrophotometer. The results that have been obtained indicate that at different locations there are differences in chlorophyll content. The chlorophyll content in the waters of Kemujan Island is higher when compared to the waters of Teluk Awur. The results of nitrate and phosphate concentrations in waters and sediments were found to have a better value in the waters of Teluk Awur when compared to the waters of Kemujan Island.
Mikroplastik pada Kerang Darah (Tegillarca granosa) Berbagai Ukuran dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang Khoerunnisa, Rizka Nabila; Hartati, Retno; Nuraini, Ria Azizah Tri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.62376

Abstract

Mikroplastik di perairan dapat tertelan dan terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup dengan melalui proses rantai makanan. Kerang darah adalah organisme sesil yang hidupnya berada di substrat dasar perairan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yakni mengidentifikasi mikroplastik di dalam kerang darah (Tegillarca granosa) dan korelasi ukuran cangkang kerang darah terhadap kelimpahan mikroplastik pada kerang darah dari TPI Bungo, Demak, dan TPI Tambaklorok, Semarang. Sampel kerang darah diperoleh dari hasil penangkapan ikan oleh nelayan TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang pada bulan September 2023. Sampel dipisahkan antara daging kerang dan jaringan lunak. Sampel jaringan lunak didestruksi menggunakan 100 ml KOH 10% selama 24 jam, ditambahkan 10 ml ZnCl2 30% dan didiamkan selama 24 jam untuk memisahkan nathan dan supernathannya, kemudian disaring dengan kertas Whatman No. 42 dengan bantuan vacuum pump. Hasil penelitian ini menemukan mikroplastik dalam kerang darah dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang, yang berbentuk fiber, film, fragment, serta pellet. Kelimpahan mikroplastik pada kerang darah dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang berturut-turut pada ukuran kecil 9,63±0,98 partikel/gr dan 5,95±0,98 partikel/gr, ukuran sedang 5,66±1,16 partikel/gr dan 5,18±1,15 partikel/gr, serta ukuran besar 6,32±1,47 partikel/gr dan 5,08±1,41 partikel/gr. Sehingga disimpulkan kerang darah dari TPI Bungo, Demak dan TPI Tambaklorok, Semarang sudah terkontaminasi mikroplastik dan terdapat hubungan antara ukuran cangkang kerang darah yang berbeda terhadap kelimpahan mikroplastik pada kerang darah.  Microplastics in waters can be ingested and accumulated in the body of biota throughout the food chain cycle. Blood cockles (Tegillarca granosa) are sessile organisms that live in the bottom substrate of water. This study aims to determine the microplastics in blood cockles (Tegillarca granosa) from Fish Auction Place (FAP) of Bungo, Demak and Tambaklorok, Semarang and its relationship with the shell size. The samples were taken in September 2023. The soft tissue of samples was destructed using 100 ml of 10% KOH for 24 hours, was added with ten molliliters of 30% ZnCl2 and allow it to settle for 24 hours for separation of natant and supernatant. The samples were then filtered using Whatman paper no. 42 with a vacuum system. The microplastics were examined under microscope. The results showed the presence of microplastic in all blood cockles samples in form of fiber, film, fragment, and pellet. The density of microplastics in blood cookles from FAP of  Bungo, Demak and Tambaklorok, Semarang according to their size as follows: small 9.63±0.98 and 5.95±0.98 particles/gr, medium 5.66±1.16 and 5.18±1.15 particles/gr, and large 6.32±1.47 and 5.08±1.41 particles/gr, respectivelly. The blood cockles from FAP Bungo, Demak and Tambaklorok, Semarang have been contaminated with microplastics and there is relationship between the shell sizes and the abundance of microplastics.
Analisis Kesesuaian Wisata Berdasarkan Parameter Fisik di Pantai Pok Tunggal, Gunungkidul Firdaus, Shabriel Auliya; Nuraini, Ria Azizah Tri; Subagiyo, Subagiyo
Indonesian Journal of Oceanography Vol 7, No 3 (2025): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v7i3.28756

Abstract

Pantai Pok Tunggal merupakan salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Gunungkidul yang memiliki potensi berupa hamparan pasir putih, tebing karst, dan ekosistem pantai yang masih alami. Namun, pemanfaatan kawasan ini belum sepenuhnya optimal dan belum didasarkan pada kajian kesesuaian wisata yang mempertimbangkan karakteristik fisik pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik kawasan, menganalisis tingkat kesesuaian wisata, dan mengevaluasi pemanfaatan ruang eksisting sebagai dasar pengembangan kawasan. Penelitian dilakukan di tiga stasiun pengamatan dengan menggunakan sepuluh parameter fisik pantai, seperti lebar pantai, kemiringan, kedalaman, arus, dan kecerahan air. Analisis dilakukan menggunakan metode Indeks Kesesuaian Wisata (IKW). Hasil menunjukkan bahwa karakteristik fisik Pantai Pok Tunggal umumnya mendukung aktivitas wisata, ditandai dengan pantai landai dan perairan yang relatif jernih. Nilai IKW berkisar antara 80,56% hingga 97,22%, dengan dua stasiun termasuk kategori sangat sesuai (S1) dan satu stasiun tergolong sesuai (S2). Meskipun potensi fisik kawasan tinggi, pemanfaatan ruang saat ini belum sepenuhnya selaras dengan karakteristik lingkungan. Oleh karena itu, pengembangan kawasan perlu diarahkan secara berkelanjutan dan berbasis daya dukung fisik pantai. 
Analisis Kesesuaian Perairan untuk Budidaya Ikan Kerapu Macan (E. fuscoguttatus) di Sekitar Perairan P. Menjangan Besar dan Menjangan Kecil Karimunjawa Nurjanah, Ulfah; Widianingsih, Widianingsih; Helmi, Muhammad; Nuraini, Ria Azizah Tri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i2.54666

Abstract

Industri perikanan budidaya dengan sistem keramba jaring apung di era modern ini telah berkembang menjadi salah satu industri pangan yang memiliki pertumbuhan tercepat di dunia. Keterbatasan informasi mengenai lokasi yang berpotensi untuk kegiatan budidaya menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan industri ini. Perairan Pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil memiliki potensi untuk pengembangan kegiatan budidaya perikanan. Ikan kerapu macan (E. fuscoguttatus) menjadi salah satu komoditas yang dapat dibudidayakan dengan teknologi keramba jaring apung. Penentuan lokasi yang sesuai untuk kegiatan budidaya ikan kerapu macan dengan keramba jaring apung sangat diperlukan untuk mendukung efektivitas budidaya. Beberapa parameter yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan lokasi yaitu parameter suhu permukaan laut, salinitas, pH, oksigen terlarut, kedalaman perairan, kecerahan perairan, arus dan gelombang. Parameter kualitas perairan tersebut berperan penting dalam kehidupan organisme perairan. Penelitian ini dilakukan melalui survei pada 35 titik stasiun dengan metode purposive sampling. Pemodelan arus dan gelombang juga dilakukan untuk mengetahui kecepatan arus dan ketinggian gelombang pada lokasi penelitian. Pemodelan arus dan gelombang dilakukan untuk mewakili setiap musim. Analisis data dilakukan melalui modifikasi pada matriks kriteria kesesuaian. Hasil setiap parameter yang diperoleh kemudian diintegrasikan melalui Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan ArcGIS 10.8. Berdasarkan hasil integrasi diperoleh luas area perairan yang tergolong sangat sesuai seluas untuk kegiatan budidaya ikan kerapu macan seluas 56.15 ha.  The aquaculture industry using floating net cage systems in the modern era has developed into one of the fastest-growing food industries in the world. Limited information regarding potential locations for cultivation activities is a factor influencing the development of this industry. The waters of Menjangan Besar and Menjangan Kecil Islands have the potential for developing fisheries cultivation activities. Tiger grouper (E. fuscoguttatus) is one of the commodities that can be cultivated using floating net cage technology. Determining a suitable location for tiger grouper cultivation activities using floating net cages is crucial to support the effectiveness of cultivation. Several parameters that need to be considered in determining the location are sea surface temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, water depth, water brightness, currents, and waves. These water quality parameters play an important role in the life of aquatic organisms. This research was conducted through a survey at 35 stations using a purposive sampling method. Current and wave modeling was also carried out to determine the current speed and wave height at the research location. Current and wave modeling is carried out to represent each season. Data analysis was carried out through modifications to the conformity criteria matrix. The results of each parameter obtained were then integrated through the Geographic Information System using ArcGIS 10.8. Based on the integration results, it was obtained that the water area classified as very suitable for tiger grouper cultivation activities was 56.15 ha.
Kandungan Mikroplastik pada Rajungan (Portunus pelagicus), Air Laut, dan Sedimen Di Perairan Desa Gugunung Wetan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah Rohmaniyah, Lailatur; Widowati, Ita; Nuraini, Ria Azizah Tri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.46984

Abstract

Rembang merupakan salah satu wilayah yang memiliki daerah pantai, karena letaknya yang berada di Utara Pulau Jawa. Perairan laut Kabupaten Rembang merupakan salah satu penghasil perikanan yang besar di Indonesia, salah satu jenisnya yaitu rajungan (Portunus pelagicus). Rajungan sangat rentan terhadap kontaminasi mikroplastik dikarenakan hidup di daerah pasang surut (intertidal) atau didasar perairan yang langsung bersentuhan dengan substrat. Tujuan penelitian ini mengkaji dan menganalisis kandungan mikroplastik pada daging rajungan (Portunus pelagicus), air laut, dan sedimen di perairan laut Desa Gegunung Wetan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sampel rajungan, air laut, dan sedimen kemudian dilakukan analisis kandungan mikroplastik menggunakan 2 metode, yaitu metode analisis fisikal yang di lakukan Laboratorium Tropical Marine Biotechnologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang dan metode analisis FTIR (Fourier Transform Infrared) yang dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Hasil Penelitian menunjukkan ditemukan adanya partikel mikroplastik pada sampel rajungan adalah 68 partikel mikroplastik, dengan hasil FTIR menunjukan mikroplastik berjenis Polystyrene, Polycarbonate, Latex, Nitrile, dan Poly (Methyl Methacrylate) (PMMA atau Acrylic). Kemudian total kandungan mikroplastik pada sampel air laut adalah 28 partikel mikroplastik, dengan hasil FTIR menunjukan mikroplastik berjenis Polystyrene dan Polycarbonate. Selanjutnya total kandungan mikroplastik pada sampel sedimen adalah 33 partikel mikroplastik, dengan hasil FTIR menunjukan mikroplastik berjenis Polypropylene, Polycarbonate, Polystyrene, Polyethylene Terephthalate (PETE), dan Nitrile.  Rembang is one of the areas that has a coastal area, because it is located in the north of the island of Java. The marine waters of Rembang Regency are one of the largest fishery producers in Indonesia, one of which is the blue swimming crab (Portunus pelagicus). Crayfish are very susceptible to microplastic contamination because they live in intertidal areas or on the bottom of waters that are in direct contact with the substrate. The purpose of this study was to examine and analyze the content of microplastics in blue swimming crab meat (Portunus pelagicus), seawater, and sediments in the sea waters of Gegunung Wetan Village, Rembang Regency, Central Java. The blue swimming crab, seawater, and sediment samples were then analyzed for microplastic content using 2 methods, namely the physical analysis method carried out by the Tropical Marine Biotechnology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University, Semarang and the FTIR (Fourier Transform Infrared) analysis method carried out at the Integrated Laboratory of Gadjah Mada University, Yogyakarta. The results showed that microplastic particles were found in the swimming crab, seawater, and sediment samples. The total microplastic content in the swimming crab sample was 68 microplastic particles, with the FTIR results showing the microplastics of the types Polystyrene, Polycarbonate, Latex, Nitrile, and Poly (Methyl Methacrylate) (PMMA or Acrylic). Then, the total microplastic content in the seawater sample was 28 microplastic particles, with the FTIR results showing polystyrene and polycarbonate microplastics. Furthermore, the total microplastic content in the sediment sample was 33 microplastic particles, with FTIR results showing microplastics of the types Polypropylene, Polycarbonate, Polystyrene, Polyethylene Terephthalate (PETE), and Nitrile.
Kelimpahan Gastropoda di Padang Lamun Pulau Menjangan Besar dan Pulau Kemujan, Karimunjawa Hayati, Amaliya Tsiqotul; Nuraini, Ria Azizah Tri; Riniatsih, Ita; Widianingsih, Widianingsih
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.28792

Abstract

Gastropods are a group of fauna commonly found in association with seagrass beds. However, increasing anthropogenic activities have led to significant declines in seagrass ecosystems across Indonesia. The degradation of seagrass has become evident in recent years in the Karimunjawa Islands, particularly at Menjangan Besar Island (due to tourism activities) and Kemujan Island (due to residential and boating activities). This situation is concerning, as it may affect the presence of gastropods inhabiting these areas. This study aims to determine the abundance of gastropods and its relationship with seagrass density at Menjangan Besar and Kemujan Islands. Data collection was carried out in October 2024 using the transect-quadrat method to assess gastropod abundance and seagrass density. Furthermore, correlation and simple linear regression analyses were employed to examine the relationship between gastropod abundance and seagrass density at the study sites. The results indicated that total gastropod abundance at Menjangan Besar Island (10.42 ind/m²) was higher than at Kemujan Island (5.33 ind/m²). Similarly, total seagrass density at Menjangan Besar Island (79.15 ind/m²) was higher compared to Kemujan Island (37.33 ind/m²). The correlation between gastropod abundance and seagrass density at both locations was strong and positive, indicating that seagrass significantly influences gastropods in these ecosystems.   Gastropoda merupakan kelompok fauna yang umum ditemukan berasosiasi dengan padang lamun, namun seiring bertambahnya aktivitas antropogenik, padang lamun di Indonesia mengalami banyak penurunan. Penurunan kondisi lamun ini terlihat di beberapa tahun terakhir di Kepulauan Karimunjawa khususnya di Pulau Menjangan Besar (aktivitas pariwisata) dan Pulau Kemujan (aktivitas pemukiman dan kapal warga). Sehingga dikhawatirkan kondisi ini dapat mempengaruhi keberadaan gastropoda yang hidup di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan gastropoda serta hubungannya dengan kerapatan lamun di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Kemujan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober 2024 di Pulau Menjangan Besar dan Pulau Kemujan menggunakan metode transek kuadran untuk mendapatkan data kelimpahan gastropoda serta kerapatan lamun. Selain itu analisis korelasi sederhana juga digunakan untuk mengetahui hubungan kelimpahan gastropoda dan kerapatan lamun di lokasi penelitian. Hasil kelimpahan total gastropoda di Pulau Menjangan Besar (10,42 Ind/m2) lebih besar dibandingkan nilai kelimpahan Gastropoda di Pulau Kemujan (5,33 Ind/m2). Sedangkan total kerapatan lamun di Pulau Menjangan Besar (79,15 Ind/m2) juga lebih besar dibandingkan dengan total kerapatan lamun di Pulau Kemujan (37,33 Ind/m2). Hubungan antara kelimpahan gastropoda dengan kerapatan lamun di kedua lokasi menunjukkan korelasi kuat dengan nilai positif, sehingga keberadaan lamun sangat mempengaruhi gastropoda yang hidup di dalamnya. 
Struktur Komunitas Gastropoda pada Ekosistem Mangrove Mangunharjo, Kota Semarang Adi Ashari; Rudhi Pribadi; Ria Azizah Tri Nuraini
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.35257

Abstract

Mangunharjo merupakan sebuah Kelurahan di Kota Semarang yang mempunyai ekosistem mangrove, akan tetapi semakin hari luas ekosistem mangrove di Mangunharjo semakin menurun karena alih fungsi lahan. Hal ini dapat menurunkan produktifitas perairan yang secara tidak langsung mempengaruhi biota di dalamnya termasuk gastropoda. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur komunitas gastropoda di ekosistem mangrove Mangunharjo dengan indikator komposisi spesies, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominasi. Pengambilan data dilakukan pada bulan November-Desember 2021 pada 3 stasiun. Penentuan stasiun menggunakan metode purposive sampling dimana Stasiun 1 berada di area tambak dengan spesies mangrove Rhizophora apiculata, Stasiun 2 di muara suangai dengan sepesies mengrove Rhizophora mucronata dan Stasiun 3 di pesisir pantai dengan spesies mangrove Avicennia marina. Data yang diambil berupa sampel dan parameter perairan (suhu, salinitas, pH, substrat). Sampel diambil menggunakan transek 10m x 10m dengan sub plot 1m x 1m sebanyak 5 yang diletakkan secara diagonal. Hasil penelitian menunjukan ditemukan 11 spesies dari 5 famili yaitu famili Potamididae 5 spesies, Ellobiidae 2 spesies, Neritidae 2 spesies, Helicarionidae 1 spesies dan Littorinidae 1 spesies. Kelimpahan tertinggi terdapat pada Stasiun 1 sebesar 3.445 ind/25m2 dan terendah di Stasiun 3 sebesar 1.730 ind/25m2. Indeks keanekaragaman Stasiun 1 dan 3 dikategorikan keanekaragaman sedang, keanekaragaman di Stasiun 2 kategori keanekaragaman rendah. Indeks keseragaman pada ketiga stasiun dikategorikan rendah. Stasiun 2 terdapat dominasi sedangkan Stasiun 1 dan 3 tidak terdapat dominasi.  Mangunharjo is a sub-district in Semarang City which has a mangrove ecosystem, but the area of the mangrove ecosystem in Mangunharjo is decreasing day by day due to land conversion. This can reduce water productivity which indirectly affects the biota in it, including gastropods. This study was conducted to determine the structure of the gastropod community in the mangrove ecosystem of Mangunharjo with indicators of species composition, abundance, diversity, uniformity and dominance. Data collection was carried out in November-December 2021 at 3 stations. Determination of stations using purposive sampling method where Station 1 is in the pond area with the mangrove species Rhizophora apiculata, Station 2 in the mouth of the river with the mangrove species Rhizophora mucronata and Station 3 on the coast with the mangrove species Avicennia marina. The data taken in the form of samples and water parameters (temperature, salinity, pH, substrate). Samples were taken using a 10m x 10m transect with 5 1m x 1m sub plots placed diagonally. The results showed that 11 species from 5 families were found, namely the family Potamididae 5 species, Ellobiidae 2 species, Neritidae 2 species, Helicarionidae 1 species and Littorinidae 1 species. The highest abundance is at Station 1 of 3,445 ind/25m2 and the lowest is at Station 3 of 1,730 ind/25m2. The diversity index of Stations 1 and 3 is categorized as moderate diversity, diversity at Station 2 is categorized as low diversity. The uniformity index at the three stations is categorized as low. Station 2 has dominance while Stations 1 and 3 have no dominance.
Pengaruh Makroalga Ulva lactuca Sebagai Bahan Tambahan Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila Adlikahfi Adlikahfi; Ria Azizah Tri Nuraini; AB Susanto
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.42352

Abstract

Ulva lactuca merupakan makroalga dengan kandungan nutrisi yang tinggi sehingga berpotensi sebagai bahan tambahan pakan ikan nila. Ikan nila merupakan komoditas dengan nilai ekonomi yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Ulva lactuca sebagai tambahan pakan ikan dan pengaruh pada pertumbuhan ikan nila, meliputi panjang dan berat ikan nila. Hewan uji yang digunakan adalah ikan nila dengan berat 1-3 gr dan panjang 4-6 gr. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 3 perlakuan, yaitu 6% Ulva lactuca (perlakuan B), 12% Ulva lactuca (perlakuan C), 18% Ulva lactuca (perlakuan D), serta satu kontrol (perlakuan A) dengan 3 kali pengulangan. Ikan nila dipelihara dan diberi pakan selama 21 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa Ulva lactuca dapat digunakan sebagai bahan tambahan pakan ikan nila dengan hasil pertumbuhan perlakuan A (Kontrol) dengan panjang ikan nila 0,91 cm dan berat ikan nila 0,81 gr; perlakuan B (Ulva lactuca 6%) dengan panjang ikan nila 0,84 cm dan berat ikan nila 0,75 gr; perlakuan C (Ulva lactuca 12%) dengan panjang ikan nila 1,01 cm dan berat ikan nila 0,96 gr; perlakuan D (Ulva lactuca 18%) dengan panjang ikan nila 0,87 cm dan berat ikan nila 0,78 gr. Hasil tersebut menjelaskan bahwa penggunaan Ulva lactuca pada pakan ikan nila dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila. Ulva lactuca dengan perlakuan C (12%) memberikan pertumbuhan berat dan panjang yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Ulva lactuca is a macroalgae with high nutritional content so it has potential as an additional ingredient in tilapia fish feed. Tilapia is a commodity with high economic value. The aim of this research was to determine Ulva lactuca as an additional fish feed and its effect on the growth of tilapia, including the length and weight of the tilapia. The test animal used was tilapia with a weight of 1-3 grams and a length of 4-6 grams. This research used a Completely Randomized Design (CRD) method consisting of 3 treatments, namely 6% Ulva lactuca (treatment B), 12% Ulva lactuca (treatment C), 18% Ulva lactuca (treatment D), and one control (treatment A) with 3 repetitions. Tilapia fish are kept and fed for 21 days. The results of the research show that Ulva lactuca can be used as an additional ingredient in tilapia feed with the growth results of treatment A (Control) with a tilapia fish length of 0.91 cm and a tilapia fish weight of 0.81 gr; treatment B (Ulva lactuca 6%) with tilapia fish length of 0.84 cm and tilapia fish weight of 0.75 gr; treatment C (Ulva lactuca 12%) with tilapia fish length of 1.01 cm and tilapia fish weight of 0.96 gr; treatment D (Ulva lactuca 18%) with tilapia fish length of 0.87 cm and tilapia fish weight of 0.78 gr. These results explain that the use of Ulva lactuca in tilapia fish feed can have an influence on the growth of tilapia fish. Ulva lactuca with C treatment (12%) gave higher weight and length growth compared to the control treatment.
Pola Pertumbuhan Kerang Hijau (Perna viridis) yang Didaratkan di TPI Cilincing, Jakarta Utara Mutia Hanie; Widianingsih Widianingsih; Ria Azizah Tri Nuraini
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.53737

Abstract

Kerang hijau (Perna viridis) adalah salah satu komoditas perikanan yang banyak dipasarkan di TPI Cilincing, Jakarta Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfometrik dan pola pertumbuhan kerang hijau berdasarkan hubungan panjang dan berat, serta indeks kondisi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel sebanyak 150 individu selama Januari–Maret 2025. Parameter yang diukur meliputi panjang total, berat total, dan berat daging yang dianalisis menggunakan regresi logaritmik dan analisis indeks kondisi. Hasil menunjukkan bahwa pola pertumbuhan kerang hijau bersifat alometrik negatif dengan nilai b < 3 pada seluruh bulan pengamatan, yaitu Januari (b = 2,29), Februari (b = 2,32), dan Maret (b = 2,22), serta nilai R² berkisar antara 0,6861 hingga 0,9204. Indeks kondisi rata-rata berada dalam kategori kurus (<40), mengindikasikan bahwa kerang hijau belum mencapai kondisi pertumbuhan yang optimal pada bulan Januari sampai Maret 2025. Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kerang hijau lebih dominan pada aspek panjang dibandingkan berat.  
Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Kawasan Wisata Pantai Bondo Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah Adlina Aulia Firzanah; Bambang Yulianto; Ria Azizah Tri Nuraini
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.45878

Abstract

Pantai Bondo Bangsri merupakan salah satu destinasi wisata para warga sekitar Jawa Tengah khusus nya Warga daerah Semarang yang terletak di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pantai Bondo Bangsri memiliki potensi yang baik untuk menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Jepara dan memerlukan analisis kesesuaian dan daya dukung kawasan agar mendapatkan potensi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian wisata dan daya dukung Kawasan Pantai Bondo Bangsri sebagai tujuan wisata. Penelitian ini juga bertujuan mengetahui pandangan wisatawan terhadap kondisi wisata di Pantai tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Maret 2024 di Pantai Bondo Bangsri, Kabupaten Jepara. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan menjabarkan secara umum kondisi yang ada di lokasi penelitian. Pengambilan data menggunakan metode survey dengan mengambil data secara langsung di Pantai Bondo Bangsri. Pengambilan data mencakup analisis kelayakan fisik menggunakan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), Daya Dukung Kawasan (DDK) dan kuisioner semi struktur interview kepada para Pengunjung Pantai Bondo Bangsri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Bondo Bangsri memiliki Indeks Kesesuaian Wisata sebesar 98,8 % pada Stasiun 3 dan 100% pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 yang berarti Pantai tersebut sangat sesuai (S1) untuk dijadikan tujuan wisata Pantai.
Co-Authors Abda Abda Adi Ashari Adlikahfi Adlikahfi Adlina Aulia Firzanah Ahmad Ziddan Dhiya Ulhaq Ali Djunaedi Ali Djunaedi AMANDA, REGINA Ananta, Clarence Daffa Anindya Putri Fadmawati Annisa Khusnul Khotimah Antonius Budi Susanto Arrico Fathur Yudha Bramasta Arum Rosita Dewi Ashari, Adi Audy Salsabila Firdausiah Aufa Rifqi Widiardja Bambang Yulianto Bambang Yulianto Betta Rianda Bramasta, Arrico Fathur Yudha Cantika Elistyowati Andanar Chrisna Adhi Suryono Cintya Pramesthi Dewi Clarence Daffa Ananta Delianis Pringgenies Dewi, Melati Sukma Diah Permata Wijayanti Diah Permata Wijayanti Dian Kharisma Dimas Panji Budi Prasetyo Drajati, Fathia Eko Wardana Parsaulian Tampubolon Endang Supriyantini Endang Supriyantini Erik Wijaya Kusuma Fathia Drajati Fatimah, Hanaf Firdaus, Shabriel Auliya Fita Mirawati Fitriyani, Naily Gurning, Lestari Febriant Pitaloka Hadi Endrawati Hadi Endrawati Hafizh Prihindrasto Hasibuan, Zhulian Hikmah Hayati, Amaliya Tsiqotul Henrian Rizki Pradana Hilda Yuli Hermayanti Hilda Yuli Hermayanti, Hilda Yuli Ibnu Pratikto Ita Riniatsih Ita Widowati Ivan Riza Maulana Ken Suwartimah Khoerunnisa, Rizka Nabila Khozin Khozin Kirana, Nadia Astrid Kusuma, Erik Wijaya Lestari Febriant Pitaloka Gurning M. Amanun Tharieq Maryuli Dyah Cahyani Maryuli Dyah Cahyani Muhammad Helmi Muhammad Juli Hendra Putra Muhammad Ridwan Muhammad Ridwan Mutia Hanie Naily Fitriyani Nico Prasetyo Nugrahanto Nico Prasetyo Nugrahanto Nirwani Soenardjo Nirwani Soenardjo Nur Chofifah Pradana, Henrian Rizki Pratiwi, Wukir Berliana Putra, Muhammad Juli Hendra R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rahma Nur Kharisma Ramadani Putri Windi Hastuti Rana Hadi Shafani Regina Amanda Retno Hartati Retno Kusumastuti Reysma Shinta Prastiwi Rianda, Betta Robertus Triaji Mahendrajaya Rohmaniyah, Lailatur Rudhi Pribadi Sarah Nabilla Sibero, Mada Triandala Siti Aminah Siti Aminah Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Tampubolon, Eko Wardana Parsaulian Ulfah Nurjanah, Ulfah Vicencius Hendra Adhari Victoria Ratna Widiyanti Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widiardja, Aufa Rifqi Widiyanti, Victoria Ratna Wilis Ari Setyati Wukir Berliana Pratiwi