Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

MEMBANGUN KARAKTER DAN KECAKAPAN BERBAHASA MELALUI LITERASI PAGI BERBASIS PIDATO Maharani, Nabilla; Hardi, Rahmat Sulhan; Jannah, Lailatul; Komala, Yulia; Embunsari, Nur; Rupiarti, Riski Mini; Setiawan, Rudi; Syah, Yogi Darman; Mansurudin, Mansurudin
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.34912

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Tujuan kegiatan literasi pagi berbasis pidato pada siswa tingkat MA adalah untuk meningkatkan kecakapan berbahasa sekaligus membangun karakter siswa melalui pembiasaan berbicara di depan umum. Kegiatan literasi pagi berbasis pidato ini dilakukan di MA NW Keruak yang berada di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara umum, waktu kegiatan dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai dengan melibatkan seluruh siswa secara bergiliran. Kegiatan literasi pagi berbasis pidato diikuti oleh siswa-siswi dari setiap kelas dengan pendampingan guru sebagai fasilitator. Kegiatan ini didasarkan atas kondisi siswa yang cenderung masih memiliki kepercayaan diri rendah serta keterampilan berbicara yang belum optimal. Guru-guru juga mengalami hambatan dalam menggerakkan siswa untuk aktif dalam kegiatan literasi, khususnya berbicara di depan umum. Padahal, siswa memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong siswa agar terbiasa menyampaikan gagasan secara runtut, percaya diri, dan bertanggung jawab. Hasil evaluasi dari kegiatan ini berupa peningkatan keberanian siswa dalam berbicara, keterampilan menyusun naskah pidato, serta terbentuknya budaya literasi yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Kata kunci: Karakter; Kecakapan Bahasa; Literasi Pagi; Pidato. ABSTRACTWrite The purpose of the morning literacy activity based on speeches for high school students is to improve language skills and build character through public speaking practice. This morning literacy activity based on speeches is carried out at MA NW Keruak, located in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. In general, the activity is carried out routinely every morning before classes begin, involving all students in turns. The morning literacy activity based on speeches is attended by students from each class with the assistance of teachers as facilitators. This activity is based on the condition of students who tend to have low self-confidence and suboptimal speaking skills. Teachers also experience obstacles in motivating students to be active in literacy activities, especially speaking in public. In fact, students have enormous potential for development. This activity is expected to encourage students to get used to expressing their ideas coherently, confidently, and responsibly. The evaluation results of this activity show an increase in students' courage in speaking, their speech writing skills, and the formation of a sustainable literacy culture in the school environment. Keywords: Character; Language Profiency; Morning Literacy; Speech.
Revitalisasi Cerita Rakyat dan Tradisi Sasak melalui Teater Komunitas: Studi Kasus Kampoeng Baca Pelangi Waluyan, Roby Mandalika; Mawardi, Taufik; Nahdlatuzzainiyah, Nahdlatuzzainiyah; Hardi, Rahmat Sulhan; Renda, Rapi
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 1: January 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i1.37227

Abstract

This study analyzes the role of Kampoeng Baca Pelangi (KBP) in Merce Timur Hamlet, Selat Village, Narmada District, West Lombok as a community literacy platform that develops theatrical performance arts based on Sasak folklore and traditions. As a non-formal learning space that began as a community literacy movement, KBP has developed into a creative center that facilitates children and youth to learn, adapt, and re-perform local stories such as the legends of Princess Cilinaya, Princess Mandalika, Peraq Api, and various other Lombok cultural narratives. This study uses a qualitative approach with a case study design, through in-depth interviews, observations of the rehearsal and performance process, and a review of community documentation and local media publications. The results show that KBP plays a role in: (1) strengthening the cultural identity of the younger generation through the integration of literacy with traditional theater practices; (2) creating a collaborative space between communities, educators, and higher education institutions; and (3) presenting a community-based cultural revitalization model that is adaptive to local needs. The findings also indicate major challenges in the form of limited resources, regeneration, and minimal sustainable promotional support. Overall, this study confirms that the synergy between literacy, education, and performing arts is an effective strategy in revitalizing Sasak culture at the community level, while also providing a basis for developing policies and programs to strengthen local culture in West Lombok.
Bahasa Anak sebagai Jejak Psikologis dalam Lingkungan Keluarga: Perspektif Psikolinguistik Forensik Niswariyana, Ahyati Kurniamala; Hardi, Rahmat Sulhan; Lamusiah, Siti; Supratman, Supratman; Akhmad, Akhmad
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 11, No 1: January 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v11i1.37330

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bahasa anak sebagai jejak psikologis dalam lingkungan keluarga melalui perspektif psikolinguistik forensik. Penelitian berangkat dari fenomena perbedaan respons kebahasaan dua anak perempuan dalam merespons tuturan orang tua pada konteks domestik yang sama. Anak sulung cenderung merespons dengan nada tinggi dan ekspresi kemarahan, sedangkan anak bungsu menunjukkan respons yang lebih lembut, afektif, serta sering disertai tangisan atau perajukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus keluarga. Data diperoleh melalui observasi alami dan pencatatan tuturan anak dalam interaksi sehari-hari dengan orang tua. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi pilihan leksikal, struktur sintaksis, intonasi, serta muatan emosional dalam tuturan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bahasa anak merefleksikan strategi regulasi emosi yang berbeda dan berkaitan dengan posisi psikologis anak dalam relasi keluarga. Bahasa anak dapat dipahami sebagai jejak psikologis yang memberikan informasi penting mengenai kondisi emosional dan dinamika relasi dalam keluarga.