Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Pengaruh Perlakuan Alkali dan Orientasi Serat Buah Patola Terhadap Sifat Impak Komposit Poliester Kristomus Boimau; Rima Nindia Selan; Demas Abia Manimalay
JTERA (Jurnal Teknologi Rekayasa) Vol 6, No 1: June 2021
Publisher : Politeknik Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31544/jtera.v6.i1.2021.101-108

Abstract

Komposit polimer berpenguat serat alam menjadi tren bagi peneliti dalam beberapa dekade terakhir karena memberikan banyak keuntungan dan sangat ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan alkali dan orientasi serat terhadap sifat impak komposite poliester berpenguat serat buah patola (luffa cylindrical). Bahan yang digunakan adalah serat buah patola dan matrik poliester. Sebelum serat digunakan sebagai penguat pada penelitian ini, terlebih dahulu serat diberi perlakuan alkali dengan cara direndam dalam larutan alkali dengan konsentrasi larutan sebesar 5%, 10%, dan 15% selama 1 jam. Orientasi serat yang digunakan adalah [0/45/0] dan [45/0/45]. Selanjutnya komposit dicetak dengan metode  hand ly up diikuti penekanan selama 24 jam. Komposisi campuran serat dan matrik didasarkan pada aturan Rule of Mixture (RoM), dengan fraksi berat serat sebesar 16,8%. Spesimen uji dibuat sesuai standar ASTM D256 dan diuji dengan alat uji impak Charpy. Hasil pengujian impak menunjukkan bahwa kekuatan impak tertinggi diperoleh pada komposit yang diperkuat oleh serat dengan perlakuan NaOH 10% dan orientasi serat [0/45/0] yaitu 0,0068J/mm2, sedangkam kekuatan impak terendah diperoleh pada spesimen dengan konsentrasi larutan 5% dan orietasi serat [45/0/45] yaitu 0,0037 J/mm2.
Perancangan Sistem Transmisi Mesin Pencacah Sampah Plastik dengan Putaran Mesin 2800 RPM Rima Nindia Selan; Erich U.K Maliwemu; Kristomus Boimau
AL-JAZARI JOURNAL SCIENTIFIC OF MECHANICAL ENGINEERING Volume 6, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.322 KB) | DOI: 10.31602/al-jazari.v6i1.5014

Abstract

Mesin pencacah limbah plastik otomatis adalah sebuah alat yang digunakan untuk mencacah atau menghancurkan plastik. Mulai dari botol minuman, botol oli, botol jerigen, plastik lembaran dan limbah - limbah plastik lainnya. Hasil cacahan plastik dapat digunakan para pengusaha sebagai bahan daur ulang plastik yang banyak dibutuhkan oleh pabrik daur ulang plastik. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuak konsep desain Alat pencacah sampah plastik yang di peruntukkan sebagai bahan baku aspal, perbedaan alat pencacah sampah plastik sebagai bahan baku aspal dan alat pencacah sampah plastik pada umumnya adalah cacahan kantong plastik yang digunakan harus kering, bersih dan terbebas dari bahan organik dengan ukuran maksimal 9,5 milimeter.
PERANCANGAN ALAT TENUN TRADISIONAL NTT DENGAN METODE THREE IN ONE DI RUMAH TENUN KAMPUNG ALOR Rima Nindia Selan; Ariency K. Ada Kale; Theodora M. Tualaka
AL-JAZARI JOURNAL SCIENTIFIC OF MECHANICAL ENGINEERING Volume 6, Nomor 2, Nopember 2021
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.183 KB) | DOI: 10.31602/al-jazari.v6i2.6054

Abstract

NTT adalah salah satu dari beberapa daerah penghasil tenun di Indonesia, kain tenun ikat dari NTT menjadi kebanggaan masyarakat provinsi NTT, karena secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi, misalnya sebagai busana yang dipakai dalam pesta, tari - tarian, upacara adat, penghargaan kepada tamu yang berkunjung, sebagai mas kawin, sebagai pemberian dalam acara kematian dan sebagai wujud penghargaan, dan masih banyak lagi. Bahkan menurut para ahli NTT adalah salah satu dari beberapa daerah penghasil tenun di Nusantara tercatat paling awal dalam mengembangkan corak ragam hias tenun ( Nadek, 2018). Proses pembuatan kain tenun ini dilakukan secara manual. Mulai dari proses ikat untuk pembentukan motif, sampai pencelupan warna yang dilakukan berulang-ulang. Ini karena satu warna saja butuh waktu selama 2-3 hari untuk pengeringan. Kemudian, benang-benang yang sudah diikat ini akan ditenun untuk menjadi sebuah kain sarung. Nah, bayangkan, itu baru proses awalnya. Untuk menjadi kain sempurna, tiap penenun butuh waktu sedikitnya 3 bulan. Postur kerja yang salah sering diakibatkan oleh letak fasilitas yang kurang sesuai dengan antropometri pengrajin sehingga mempengaruhi kinerja pengrajin. Postur kerja yang tidak alami misalnya postur kerja selalu berdiri, jongkok, membungkuk, mengangkat, dan mengangkut dalam waktu yang lama dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan nyeri pada salah satu anggota tubuh. Kelelahan dini pada pekerja juga dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja yang mengakibatkan cacat bahkan kematian (Mufti, dkk. 2013). Berdasarkan hasil pengamatan langsung pada pengerjaan Tenun Ikat di Sentra Tenun Kampung Alor, kondisi kerja yang tidak ergonomis ditunjukan oleh adanya posisi duduk yang berlangsung lama pada proses menenun, sehingga mengakibatkan timbulnya keluhan-keluhan pada tubuh pengrajin diantaranya pada punggung, pinggang, bokong, pantat, dan leher yang jangka panjang akan menimbulkan kelelahan kronis dan rasa sakit pada anggota - anggota tubuh tadi. Penelitian ini bertujuan merancang alat tenun yang dikombinasikan fungsinya menjadi three in one, hal ini dimaksudkan untuk mempersingkat waktu pengerjaan tenun ikat yang berpengaruh juga untuk minimalisasi keluhan – keluhan pada tubuh pengrajin. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode perancangan berdasarkan pengamatan dan observasi. Tujuan dari metode tersebut adalah untuk mengurangi atau menghilangkan gerakan yang kurang efektif agar mendapatkan gerakan yang cepat dan efektif serta mempersingkat waktu kerja.
PENGENALAN TEKNOLOGI BIOGAS SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN DI DESA TUBUHUE Dominggus G. H. Adoe; Rima Nindia Selan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 2 (2022): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i2.8679

Abstract

ABSTRAKDesa Tubuhue merupakan salah satu daerah di Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten TTS. Desa Tubuhue berjarak ±96 KM dari Kota Kupang dan hanya dapat ditempuh dengan perjalanan darat dengan waktu tempuh ± 1,5 s/d 2,15 jam. Mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani palawija dan peternak. Satu-satunya hasil pertanian andalan masyarakat desa Tubuhue diluar palawija adalah buah jagung, yang dipanen sekali dalam setahun pada bulan September. Pemahaman masyarakat akan potensi alam dan pola pikir yang hanya mengandalkan hasil alam yang telah ada/disediakan alam tanpa ada upaya pengembangan, menjadi penyebab utama keterpurukan ekonomi atau kemiskinan yang melanda hampir seluruh masyarakat Desa Tubuhue. didesa ini terdapat sumber mata air dan danau yang selalu menyediakan air meskipun pada musim kemarau. Namun sumber air yang terbilang maksimal ini tidak dimanfaatkan secara baik untuk kegiatan ekonomi produktif dan hanya semata-mata dimanfaatkan untuk kebutuhan MCK dan beberapa memanfaatkan untuk bertani sayur yang semata-mata untuk keperluan konsumsi. Limbah peternakan juga sama sekali tidak dimanfaatkan untuk sumber energi dan hanya sebagian yang dimanfaatkan sebagai kompos. Melalui program ini dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman serta skill yang maksimal untuk dapat mengelola potensi yang dimiliki dengan pembuatan biogas dari kotoran ternak dalam meningkatan kesejahteraan hidup masyarakat di desa Tubuhue. Hasil dari program ini masyarakat mampu untuk memanfaatkan potensi limbah /kotoran ternak sebagai sumber energi terbarukan biogas. Kata kunci: biogas; desa tubuhue; kotoran ternak. ABSTRACTTubuhue Village is one of the areas in West Amanuban District, TTS Regency. The village of Tubuhue is ±96 KM from Kupang City and can only be reached by road with a travel time of ± 1.5 to 2.15 hours. The majority of the people make a living as secondary food farmers and ranchers. The only mainstay agricultural product for the people of Badanue village outside of palawija is corn, which is harvested once a year in September. The community's understanding of the potential of nature and a mindset that only relies on natural products that already exist by nature without any development efforts are the main causes of usage downturn or poverty that hit almost the entire community of Tubuhue Village. In this village, there are springs and lakes that always provide water even in the dry season. However, this maximum water source is not used properly for productive economic activities and is only used for toilet needs and some use it for vegetable farming which is solely for consumption purposes. Livestock waste is also not used as an energy source at all and only part of it is used as compost. Through this program, they can provide maximum knowledge and understanding as well as skills to be able to manage their potential by making biogas from livestock manure in improving the welfare of the community in the village of Tubuhue. The result of this program is that the community can take advantage of the potential of livestock waste as a renewable source of biogas energy. Keywords: biogas energy; tubuhue village; livestock waste
PELATIHAN KESIAPSIAGAAN BENCANA BAGI MASYARAKAT PESISIR PANTAI DI KELURAHAN OESAPA Rima Nindia Selan
Jurnal Pengabdian Vokasi Vol 2, No 2 (2021): Nopember 2021
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.133 KB) | DOI: 10.14710/jpv.2021.12284

Abstract

Oesapa Beach is a tourist destination beach located in Kelapa Lima District, Kupang City. The location of Oesapa Beach is on the coast of the Kupang bay which is quite close to the South Beach (Indian Ocean). Therefore, Oesapa Beach is also very vulnerable to coastal disasters, so there is a need for early coastal disaster counseling efforts for the coastal communities of Oesapa Beach, so that the community has a spirit of being ready and responding to emergencies in the event of a disaster. Many of them live and open businesses on the coast and based on the results of interviews with the community, they still do not know about disaster emergency preparedness and response. Reflecting on the disaster that occurred last April, the community service activity (PKM) this time is very important because it has the main goal of providing counseling about important things that need to be known by the community around the coast about coastal disaster management, both before the disaster, during a disaster or after a disaster. It also aims to build a spirit of readiness and readiness to survive by the appeal from the government. The main activities are counseling about disasters and disaster preparedness actions from experts who have experience and explanations through simulation videos about what things must be done when a disaster occurs so that people understand and are better prepared to deal with disasters. The target to be achieved as the output of this training program is to increase partners' knowledge of disaster emergency preparedness and response, as well as produce modules that can be used as information media on disaster preparedness. With this PKM activity, it is hoped that it will increase the knowledge of the coastal community of Oesapa about disasters and prepare themselves, families, communities in dealing with disasters.
Pelatihan Pembuatan Biogas dari Kotoran Ternak di Kecamatan Oebobo Kota Kupang Rima Nindia Selan; Ben Vasco Tarigan; Kristomus Boimau; Muhamad Jafri
Jurnal Pengabdian Vokasi Vol 2, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.832 KB) | DOI: 10.14710/jpv.2021.10924

Abstract

Oebobo Subdistrict is one of the six sub-districts in Kupang City. Based on data from the City of Sanitation and Landscaping Office of Kupang City, Oebobo District is a district with the largest volume of waste every day, which is 20.68 m3/ day. This is due to the densely populated area, which is also an office, school and hospital area, as well as a traditional market. Waste dumps that occur every day are almost entirely transported to the Final Disposal Site, located in Alak District. Waste management systems that are still based on the principle of Gathering - Transport - Dispose and are entirely dependent on the presence of the landfill, it is estimated that in the next 5-10 years waste management in Kupang City will experience problems with the end of the life of the landfill, while the location of the replacement landfill is increasingly difficult to obtain in connection with limited land and increasing community resistance to the existence of landfills. The waste problem can be overcome by proper waste management, so far in Oebobo District, the organic waste does not yet have proper management, therefore with the proposed program it is hoped that waste problems, especially organic waste, can be overcome. On the other hand by making biogas from organic waste, it can also help the community's economy. The gas produced can be used as a substitute for kerosene and LPG, which are increasingly scarce and expensive in the market.
PELATIHAN PEMBUATAN DAN PEMANFAATAN ECO ENZYME DI KUB YOMAVI, BELLO Yeremias M. Pell; Jefri Samuel Bale; Jahirwan Ut Jasron; Wenseslaus Bunganaen; Daud P. Mangesa; Nurhayati Nurhayati; Rima Nindia Selan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 4 (2022): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i4.11591

Abstract

ABSTRAKKegiatan pengabdian ini mengambil tema tentang pembuatan eco enzyme dan pemanfaatannya bagi lingkungan sekitar rumah tangga. Kegiatan ini merupakan jawaban atas keprihatinan sebagian besar masyarakat yang ada di KUB Yomavi, di RT 021, RW 001 Kelurahan Bello, Kota Kupang, tentang penanganan sampah organik rumah tangga yang cukup melimpah dan terbuang sehingga menimbulkan bau busuk di lingkungan sekitar rumah. Dari kegiatan ini masyarakat bisa memanfaatkan sampah-sampah organik ini sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup. Metode kegiatan terdiri dari ceramah, diskusi, tanya jawab, simulasi dan praktek. Pembuatan eco enzyme dalam pelatihan ini yaitu sebanyak 70 liter dan akan dipanen setelah difermentasi selama 3 bulan sesuai dengan aturan pembuatan eco enzyme. Di akhir kegiatan pengabdian, tim juga berhasil membagikan eco enyme kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat lebih lanjut memanfaatkannya di rumah masing-masing. Hasil lain yang lebih penting yaitu masyarakat semakin sadar tentang manfaat eco enzyme bagi kelestarian lingkungan hidup, dan juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tentang cara pembuatan eco enzyme  dari sampah rumah tangga berupa sisa kulit buah dan sayuran. Dengan demikian masyarakat pun bisa secara mandiri membuat eco enzyme ini di rumahnya. Kata kunci: sampah organik; eco enzyme; lingkungan hidup. ABSTRACTThis service activity takes the theme of making eco enzymes and their use for the environment around the household. This activity is an answer to the concerns of most of the people in KUB Yomavi, in RT 021, RW 001, Bello Village, Kupang City, regarding the handling of household organic waste which is quite abundant and wasted, causing a foul odor in the environment around the house. From this activity, the community can take advantage of this organic waste while preserving the environment. The method of activity consists of lectures, discussions, questions and answers, simulations, and practice. The production of the eco enzyme in this training is 70 liters and will be harvested after being fermented for 3 months according to the rules for making eco enzyme at the end of the service activity, the team also succeeded in distributing eco enzyme to the community, so that the community could further use it in their respective homes.  The more important result is that people are increasingly aware of the benefits of eco enzymes for environmental sustainability, and also gain knowledge and skills on how to make eco enzymes from household waste in the form of leftover fruit and vegetable peels. Keywords: organic waste; eco-enzymes; environment.
PELATIHAN MANAJEMEN BANK SAMPAH BAGI KELOMPOK PEDULI KASIH Rima Nindia Selan; Yeremias M. Pell; Theodora Murni Tualaka; Yosefina K.I.D.D Dhae
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 4 (2022): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i4.11545

Abstract

ABSTRAKKelurahan Oesapa Barat terletak di kecamatan Kelapa Lima yang  berada di pesisir pantai, dan juga merupakan daerah perdagangan serta terdapat berberapa universitas. Sehingga kelurahan Oesapa Barat termasuk daerah yang padat penduduk, baik penduduk lokal maupun pendatang.Dalam hal pengelolan sampah, selama ini masyarakat Oesapa Barat hanya mengumpulkan sampah dan dibuang di tempat – tempat sampah yang disediakan atau ditempatkan di tepi jalan dan diangkut oleh truk sampah. Belum adanya pengelolaan sampah secara terpadu, bahkan masih ada masyarakat yang membakar sampah karena jauh dari tempat pembuangan sampah.Kegiatan Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan melakukan sosialisai kepada mitra di    Kelompok Peduli Kasih, Kelurahan Oesapa Barat tentang manajemen bank sampah. Pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan tahapan menyajikan hasil penerapan pengelolaan sampah melalui bank sampah, dan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos serta pelatihan pembuatan kerajinan tangan menggunakan  barang bekas. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masayarakat adalah penyuluhan tentang manajemen bank sampah dan pembuatan pupuk organik menggunakan eco enzyme, serta pelatihan pembuatan barang daur ulang dari sampah plastik. Hasil yang didapat berdasarkan hasil kuesioner, diketahui bahwa terjadi peningkatan softskill dan pengetahuan tentang apa itu manajamen bank sampah, pembuatan pupuk oranik dari eco enzyme serta mitra dapat membuat kerajinan dari sampah plastik. Kata kunci: sampah; bank sampah; manajemen bank sampah; pupuk kompos eco enzyme.  ABSTRACTWest Oesapa sub-district is located in the Kelapa Lima sub-district which is on the coast and is also a trading area and there are several universities. So that the Oesapa Barat sub-district is a densely populated area, for both residents and immigrants. In terms of waste management, so far the Oesapa Barat community has only collected garbage and disposed of it in bins provided or placed on the side of the road and transported by garbage trucks. There is no integrated waste management yet, in fact, there are still people who burn garbage because it is far from landfills. This community service activity aims to socialize partners in the Peduli Kasih Group, Oesapa Barat Village about waste bank management. Community service is carried out with the stages of presenting the results of implementing waste management through a waste bank, managing organic waste into compost, and training in making handicrafts using used goods. The methods used in community service activities are counseling on waste bank management and making organic fertilizers using eco enzymes, as well as training on making recycled goods from plastic waste. Based on the results of the questionnaire, it is known that there has been an increase in soft skills and knowledge about waste bank management, making organic fertilizer from eco enzymes, and partners being able to make crafts from plastic waste. Keywords: waste; waste bank; waste bank management; eco enzyme compost fertilizer.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA LAPEOM MELALUI PEMBUATAN BEDENG DAN PEMBIBITAN DI KEBUN GIZI Dominggus G. H. Adoe; Rima Nindia Selan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i2.15177

Abstract

ABSTRAKLapeom adalah nama sebuah desa di kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Desa Lapeom terletak sekitar 14 Km dari Ibu Kota Kabupaten TTU dan sekitar 27 Km dari ibu kota kecamatan dengan jarak tempuh sekitar 0,5 jam dengan kendaraan roda empat, atau 1 jam dari ibukota kecamatan.Mata pencaharian penduduk Desa Lapeom sebagian besarnya adalah petani. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberi penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat desa Lepeom untuk memanfaatkan pekarangan rumah menjadi lahan yang bisa ditanami sayuran untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah tahap sosialisasi, tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan terakhir tahap penndampingan serta evaluasi.  Kegiatan bercocok tanaman dilakukan semuanya oleh masyarakat mulai dengan pembibitan, persiapan lahan, perawatan sampai pemanenan   dibantu   fasilitator.  Bedeng terdapat di pekarangan tempat tinggal warga sehingga warga dengan mudah untuk mengurusnya setiap hari. Kata kunci: desa Lepeom; pertanian; kebun gizi. ABSTRACTLapeom is the name of a village in the West Insana sub-district, North Central Timor Regency, East Nusa Tenggara province, Indonesia. Lapeom Village is located about 14 Km from the capital city of TTU Regency and about 27 Km from the sub-district capital, with a distance of about 0.5 hours by four-wheeled vehicle, or 1 hour from the sub-district capital. The livelihoods of residents of Lapeom Village are mostly farmers. The purpose of this activity is to provide counseling and training to the people of Lepeom village to use their yards as land that can be planted with vegetables to meet the nutritional needs of their families. The method used in this activity is the socialization stage, the preparation stage, the implementation stage and finally the mentoring and evaluation stage. Community farming activities are all carried out by the community starting with nurseries, land preparation, and maintenance to harvesting assisted by facilitators. nutrition garden is located in the yard where residents live so that residents can easily take care of it every day. Keywords: lepeom village; agriculture; nutrition garden.
PELATIHAN PEMANFAATAN PEKARANGAN RUMAH SEBAGAI KEBUN SAYUR ORGANIK Yeremias M. Pell; Rima Nindia Selan; Gusnawati Gusnawati; Wenseslaus Bunganaen
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i2.15207

Abstract

ABSTRAKBerkebun tidak harus memerlukan lahan yang luas, di lahan kecil pun bisa dilakukan, asal ada kemauan untuk memulainya. Berkat kemauan itu, gagasan ini berhasil diwujudnyatakan dalam kegiatan pengabdian pada Kelompok Arisan Ibu-ibu KUB YOMAVI di Kelurahan Bello. Adapun tujuan kegiatan yaitu memberi pelatihan tentang pemanfaatan lahan sempit seperti pekarangan rumah sebagai lahan berkebun. Metode kegiatan yaitu pelatihan dan praktek percontohannya. Ibu-ibu dalam kelompok arisan yang berjumlah 12 orang ini. Dari kegiatan terbukti bahwa dengan luas lahan yang kecil hanya 4 x 5 m2  bisa menghasilkan sayur sawi yang layak dikonsumsi bahkan layak untuk  dipasarkan. Dalam kegiatan ini media tanam digunakan polibag berukuran 40cm x 20cm. Sedangkan pupuk yang dipakai yaitu pupuk organik campuran sekam padi dan kotoran ayam. Semua bahan dicampur  merata dengan perbandingan tertentu kemudian difermentasi selama 14 hari  sampai 3 bulan. Pembuatan pupuk berhasil dilakukan dengan indikator keberhasilannya yaitu tidak berbau dan warnanya hitam, maka pupuk siap digunakan. Jenis sayuran yang ditanam yaitu kangkung dan sawi. Khusus sawi setelah disemai  2 minggu, dipindahkan ke polibag. Setelah 4 minggu sawi dan kangkung  sudah bisa dipanen. Inilah hasil akhir dari kegiatan yang bisa diperoleh para ibu kelompok arisan ini, selain pengetahuan tentang pemanfaatan  pekarangan rumah sebagai lahan berkebun. Kata kunci: polybag; sayuran organik; lahan sempit; pekarangan. ABSTRACTGardening doesn't have to require a large area of land, even on small land it can be done, as long as there is a will to start it. Thanks to that will, this idea was successfully realized in a community service activity for the KUB YOMAVI Women's Gathering Group in Bello Village. The purpose of the activity is to provide training on the use of narrow land such as yards as gardening land. The activity method is training and pilot practice. There are 12 women in the lottery club. From the activities, it is evident that with a small land area of only 4 x 5 m2, mustard greens are suitable for consumption and even marketable. In this activity, the planting media used polybags measuring 40cm x 20cm. While the fertilizer used is organic fertilizer mixed with rice husk and chicken manure. All ingredients are mixed evenly with a certain ratio and then fermented for 14 days to 3 months. Fertilizer making was successfully carried out with indicators of success, namely no smell and black color, then the fertilizer is ready for use. Types of vegetables planted are kale and mustard greens. Specifically for mustard after sowing for 2 weeks, it is transferred to polybags. After 4 weeks, mustard greens and kale can be harvested. This is the final result of the activities that can be obtained by the women of this lottery club, in addition to knowledge about using the yard of the house as gardening land. Keywords: polybags;organic vegetables; narrow land; yard.