Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pemanfaatan Limbah menjadi Energi Konservasi pada Pasca Panen Tanaman Tahunan (Alpukat, Mangga dan Kelapa) Indriyani; Fery Hendi Jaya; Sari Utama Dewi; Wisnaningsih; Farida Juwita; Ari Beni Santoso; Muh Thohirin; Ambar Pambudi
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol 3 No 2 (2024)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v3i2.1057

Abstract

Limbah sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak memiliki manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Limbah sering dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan yang sulit diatasi dengan cara apapun. Melalui metode Pengabdian kepada Masyarakat yang aplikatif, limbah dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Satu diantara metode yang efektif adalah dengan menanam pepohonan tanaman tahunan (alpukat, mangga, dan kelapa) yang dapat mencegah penggerusan lahan atau erosi, serta mengurangi risiko banjir. Teknik ini melibatkan pemanfaatan limbah (pengujian beton balok dan silinder) untuk melingkari tanaman. Limbah pengujian beton tersebut disusun sedemikian rupa dengan kedalaman minimal 1,00 m dan jarak lingkaran berdiameter 4,00 m. Penempatan limbah beton di sekitar tanaman ini tidak hanya memperkuat struktur tanah di sekitarnya, tetapi juga membantu dalam retensi air, yang pada gilirannya meningkatkan kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman. Selanjutnya limbah yang awalnya dianggap tidak berguna dan merusak lingkungan justru dapat berkontribusi dalam upaya konservasi lingkungan. Metode ini juga merupakan bentuk inovasi dalam pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Dengan memanfaatkan limbah pengujian beton balok dan limbah pengujian beton silinder, kita dapat mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dan meminimalkan dampak negatifnya terhadap lingkungan. Penerapan metode ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Selanjutnya metode ini tidak hanya menyelesaikan masalah limbah, tetapi juga memberikan solusi jangka panjang untuk konservasi lahan dan pencegahan bencana alam seperti banjir dan erosi.
Perancangan dan Konstruksi Boiler untuk Rebusan Buah Sawit dengan Kapasitas 200 Kg Thohirin, Muh.; Wisnaningsih, Wisnaningsih; Yunus, M.; Pambudi, Ambar; Habibi, Ahmad Solih
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2714

Abstract

Provinsi Lampung memiliki potensi di bidang kelapa sawit. Potensi ini dapat dilihat dari jumlah luas dan produksi kelapa sawit yang tinggi di Provinsi Lampung. Pembangunan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Lampung di harapkan mampu meningkatkan nilai tambah, membuka dan memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, mengentaskan kemiskinan sehingga peningkatkan devisa yang dapat mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung. Setiap kabupaten di Provinsi Lampung memiliki potensi dan kemampuan berbeda mengenai budidaya kelapa sawit. Besarnya biaya dan rumitnya pembuatan pabrik pengelola kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) membuat masyarakat yang memiliki kebun kelapa sawit dengan ekonomi rendah tidak dapat memproses kelapa sawit menjadi CPO sendiri. Berdasarkan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah membuat boiler untuk digunakan pada rebusan kelapa sawit dengan kapasitas 200 Kg. Tahap pertama sebelum menentukan konstruksi rebusan kelapa sawit adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah berorasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantaranya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 280 derajat celcius, suhu panas pada rebusan sebesar 135 derajat celcius, tekanan maksimal pada rebusan sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Konstruksi dan semua komponen boiler mampu bekerja dan mencapai panas 100 dearajt celcius pada waktu pemanasan 90 menit dan mencapai tekanan tertinggi 2 bar. Berdasarkan analisis, efesiensi boiler pada penelitian rancang bangun boiler untuk rebusan kelapa sawit sebesar 79,08 persen.
Pengaruh Tekanan dan Temperatur Terhadap Rancangan Konstruksi Boiler Sederhana Menggunakan Solidwork 2019 Wisnaningsih, Wisnaningsih; Thohirin, Muh.; Yunus, M.; Fauzi, Ahmad Afif
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2712

Abstract

Untuk merebus tandan buah segar (TBS), tahapan yang pertama adalah proses perebusan atau sterilisasi yang dilakukan dalam bejana bertekanan (sterilizer) dengan menggunakan uap air jenuh (saturated steam). Tahap pertama sebelum menentukan model boiler untuk sterilizer kelapa sawit mini adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah beroperasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantaranya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 280 derajat celcius, suhu panas pada sterilizer sebesar 135 derajat celcius, tekanan maksimal pada sterilizer sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Analisis menggunakan metode taguchi untuk mengetahui yang paling berpengaruh antara pengaruh suhu dengan pressure terhadapat konstruksi boiler setelah dilakukan simulasi menunjukkan bahwa pengujian level pertama pada pressure memiliki nilai 4,422 dan pada temperature memiliki nilai 4,762. Sedangkan untuk level kedua memiliki nilai pressure 4,427 dan temperature e 4,422. Pengujian level ketiga memiliki nilai pressure 4,434 dan temperature 4,099. Nilai delta pada pressure sebesar 0,012 dan temperature 0,663 dan nilai rank pada pressure 2 sedangkan pada temperature 1. Sehingga dapat diketahui bahwa yang paling memiliki pengaruh besar terhadap konstruksi boiler adalah temperature dengan nilai 2,311.Variasi yang paling baik adalah yang memiliki pengaruh kritis yang paling rendah yaitu pada variasi tekanan 4 bar dan temperatur 140 derajat celcius.
Rancang Bangun Rebusan Buah Kelapa Sawit Sederhana Kapasitas 200 Kg Wisnaningsih, Wisnaningsih; Thohirin, Muh.; Yunus, M.; Santoso, Ari Beni; Raihan, Ahmad
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2713

Abstract

Provinsi Lampung memiliki potensi di bidang kelapa sawit. Potensi ini dapat dilihat dari jumlah luas dan produksi kelapa sawit yang tinggi di Provinsi Lampung. Setiap kabupaten di Provinsi Lampung memiliki potensi dan kemampuan berbeda mengenai budidaya kelapa sawit. Berdasarkan masalah tersebut maka peneliti berencana akan membuat rebusan kelapa sawit kapasitas 200 Kg. Pada penelitian ini akan menggunakan pembuatan mesin rebusan, Tahap pertama sebelum menentukan konstruksi rebusan kelapa sawit adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah berorasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantarnya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 2800c, suhu panas pada rebusan sebesar 1350c, tekanan maksimal pada rebusan sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Waktu perebusan pada penelitian ini dilakukan selama 100, 110 dan 120 menit dengan bahan bakar batok kelapa yang sudah dipecah dengan ukuran 2-3 cm. Perlakuan sterilizer menggunakan dengan suhu dan waktu, perlakuakn terlihat dengan tabel sebagai berikuti. Kelapa sawit yang sudah direbus matang, selanjutnya sawit dilumat menggunakan digester selama 10 menit sampai biji sawit terpisah dengan daging dan seratnya. Hasil dari lumatan selanjutnya dipres menggungakan pres hidrolik untuk memisahkan minyak CPO dengan fiber dan carnelnya. Waktu untuk pengepresan 5,7 dan 9 menit. Pengaruh suhu dan waktu perebusan terhaap kematangan buah kelapa sawit. Pengujian pertama dengan suhu 100oc dan waktu 120 menit hasil buah kelapa sawit kurang matang. Selanjutnya proses pengujian ke dua dengan suhu 100 dan waktu perebusan 130 menit mendapatkan hasil buah sawit kurang matang. Selanjutnya adalah pengujian ketiga dengan suhu 100 dan waktu perebusan 140. Tingkat kematangan buah kelapa sawit semakin meningkat dikarenakan lamanya waktu perebusan. pengujian pertama dengan suhu 100oc dan waktu 110 menit mendaptakan hasil yang kurang merata. Pada pengujian kedua mendapatkan hasil rebusan yang hanya mateng pada bagian terdekan yang terkena uap panas. Pengujian yang idel ditunjukan pada pengujian ketiga dan keempat dimana tingkat kematangan buah kelapa sawit merata kesemua buah kelapa sawit yang direbus (200 Kg). Pengujian kelima dan enam mendapatkan hasil lebih matang atau kelewat matang jika dibandingkan dengan pengujian-pengujian sebelumnya.
Optimasi Parameter Pengelasan Baja AISI 1040 Menggunakan Metode Taguchi terhadap Kekuatan Sambungan Las Berdasarkan Uji Impak Thohirin, Muh; Pambudi, ambar; Wardana, wisnu
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 14, No 2 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Proses pengelasan merupakan salah satu metode penyambungan logam yang paling umum digunakan dalam industri manufaktur dan konstruksi. Kualitas sambungan las sangat dipengaruhi oleh parameter proses seperti arus pengelasan, jenis elektroda, serta celah akar lasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan parameter-parameter tersebut terhadap kekuatan sambungan las baja AISI 1040 menggunakan metode Taguchi dengan pengujian impak Charpy. Tiga faktor utama digunakan dalam rancangan eksperimen, yaitu arus pengelasan (85 A, 90 A, dan 100 A), jenis elektroda (E7016, E7018, dan E6013), serta celah akar lasan (1,5 mm, 2,6 mm, dan 3,2 mm). Proses pengelasan dilakukan menggunakan metode SMAW (Shielded Metal Arc Welding), dan hasil sambungan diuji dengan alat uji impak untuk menentukan energi serap akibat tumbukan. Analisis hasil menggunakan rasio signal-to-noise (S/N) pada metode Taguchi menunjukkan bahwa arus pengelasan merupakan faktor paling dominan terhadap ketangguhan sambungan las. Kombinasi parameter optimal diperoleh pada arus 90 A, elektroda E6013, dan celah akar 3,2 mm dengan nilai energi impak tertinggi. Hasil ini membuktikan bahwa penerapan metode Taguchi efektif untuk menentukan kombinasi parameter pengelasan yang menghasilkan sambungan dengan ketangguhan maksimal pada baja karbon menengah AISI 1040
SWOT Analysis of the Effect of New Materials on Engine Performance and Durability Risdianto, Anauta Lungiding Angga; Saputra, Rahmad Surya Hadi; Thohirin, Muh; Chin, Jacky
Journal of Renewable Engineering Vol. 2 No. 1 (2025): JORE - February
Publisher : Pt. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/dkhsqx33

Abstract

Material innovation in the manufacturing and automotive industries plays an important role in improving engine performance and durability. Conventional materials such as steel and aluminum have limitations in resistance to extreme temperatures and wear, so new materials such as high-performance metal alloys, carbon fiber composites, and nanotechnology-based materials are developed as solutions. These materials are capable of improving energy efficiency, reducing weight, and extending component life. However, the adoption of new materials faces challenges such as high production costs, fabrication complexity, and validation in real operational environments. Therefore, collaboration between academia, industry and government is needed to develop solutions that are not only technically superior, but also economical and sustainable. This research uses the SWOT method to analyze the strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the application of new materials. Data were obtained through literature studies, laboratory experiments, and expert interviews. The analysis results show that materials such as carbon fiber composites (CFRP) have advantages in fuel efficiency and corrosion resistance, but also face challenges in production and maintenance costs. With innovations in manufacturing technology and a more sustainable approach, new materials have the potential to be the optimal solution for the automotive and manufacturing industries in the future
Studi Eksperimental Pengaruh Parameter Pengeboran terhadap Karakteristik Burr pada Pengeboran Tulang Kortikal Arzaq, Arzaq Guruh Dityamri; Ibrahim, Gusri Akhyar; Thohirin, Muh; Wisnaningsih; Anwar, Syaipudin; Magnolia, An-Nisa
ARMATUR : Artikel Teknik Mesin & Manufaktur Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Armatur (in Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/armatur.v7i1.10934

Abstract

Cortical bone drilling represents an initial stage in orthopedic surgical procedures prior to implant screw insertion, where the quality of the drilled hole is strongly influenced by burr formation along the hole edges. Excessive burrs may increase the risk of tissue trauma, interfere with screw placement, and elevate the likelihood of postoperative complications. This study aims to investigate the effects of drilling parameters on burr characteristics during cortical bone machining and to determine the optimal parameter conditions that minimize burr formation. The research was conducted experimentally using fresh bovine cortical bone specimens and employed a Response Surface Methodology (RSM) experimental design. The investigated parameters included spindle speeds of 500, 1000, and 1500 rpm, feed rates of 35, 60, and 85 mm/min, and cooling conditions consisting of NaCl solution, Opsite Spray, and dry drilling. Drilling experiments were performed using a three-axis CNC machine, while burr characteristics were visually evaluated using a USB microscope. The results indicate that feed rate is the most influential parameter affecting burr formation, followed by spindle speed and cooling condition. Drilling conditions characterized by low feed rates, high spindle speeds, and the application of cooling fluids either NaCl solution or Opsite Spray produced smaller burrs and smoother hole-edge morphologies. The optimal condition was achieved through a specific combination of parameters that minimized burr formation, thereby demonstrating potential improvements in hole quality and procedural safety during cortical bone drilling.