Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Fungistatic activity and mechanism of Caulerpa racemosa, Caulerpa lentillifera fractions and caulerpin metabolite against pathogenic fungi Nursidika, Perdina; Julianti, Elin; Kurniati, Neng F.
Narra J Vol. 5 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v5i1.1714

Abstract

The increasing prevalence of azole resistance in various fungal species presents a significant concern, highlighting the urgent need for new antifungal agents. The aim of this study was to investigate the antifungal activity of fractions from Caulerpa racemosa, C. lentillifera, and caulerpin against three species: Aspergillus flavus, A. niger, and Candida albicans. The Caulerpa extracts were obtained through maceration with 96% ethanol, followed by fractionation using vacuum liquid chromatography. Antifungal activity was assessed using the broth microdilution method, while fungal growth kinetics were evaluated through time-kill curves. Bioautography was employed to identify inhibitory compounds, while liquid chromatography high-resolution mass spectrometry (LC-HRMS) was utilized to detect the contents of the extracts and fractions. Scanning electron microscopy (SEM) was used to observe the fungal structure, and the absorbance at 260/280 nm was measured to evaluate the cell leakage. LC-HRMS identified numerous compounds in C. racemosa and C. lentillifera with antifungal activities, including fatty acids, terpenes, alkaloids, flavonoids, and coumarins. The results indicate that the fractions of both Caulerpa did not inhibit the growth of A. flavus and A. niger, but effectively inhibited C. albicans. Among the fractions, F3CR and F4CL exhibited the highest antifungal efficacy against C. albicans, with minimum inhibitory concentrations (MICs) ranging from 64 to 128 µg/mL. Caulerpin, the primary metabolite of Caulerpa, also demonstrated significant inhibition, with an MIC of 256 µg/mL. The findings suggested that F3CR, F4CL, and caulerpin possessed fungistatic properties. Bioautography results revealed clear zones in the colonies, indicating inhibited fungal growth. The SEM observations showed that fungal cells became rough, perforated, and damaged, which was confirmed by the increase in absorbance at 260/280 nm, suggesting the release of cellular components such as nucleotides and proteins. In conclusion, both Caulerpa species and caulerpin are promising candidates for developing new antifungal agents against C. albicans.
Manipedicare Upaya Pencegahan Cacingan dan Peningkatan Kesadaran Kebersihan pada Anak SD di Cimahi Berutu, Astri Lafenia; Febrianti, Vina; Khairunissa, Tasya Salsabilla; Hasna, Natasya Aliatul; Nurkurnia, Isyfi; Nursidika, Perdina
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 5 No 3 (2024): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v5i3.504

Abstract

Manipedicare adalah program perawatan kuku dengan tujuan mencegah cacingan dan meningkatkan kesadaran untuk anak-anak sekolah dasar (SD) di Cimahi. Jumlah penderita cacingan di Indonesia masih cukup tinggi, dan cacingan termasuk dalam Penyakit Tropis Terabaikan (Neglected Tropical Diseases/NTDs) yang masih menjadi prioritas penanganan di Indonesia. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk merawat dan memeriksa kuku tangan serta memberikan edukasi untuk mengenalkan dan menanamkan kesadaran tentang kebersihan pribadi pada siswa SD L sehari-hari. Metode pengabdian masyarakat ini meliputi berbagai tahap, yaitu survei lokasi, edukasi melalui penyuluhan, pemeriksaan kebersihan kuku, tes laboratorium untuk memeriksa telur cacing dengan metode NaCl, dan evaluasi kegiatan. Hasil dari kegiatan program Manipedicare menemukan bahwa masih ada tiga siswa yang positif terdapat telur cacing Ascaris lumbricoides dan Ancylostoma duodenale di kuku mereka, namun hal ini telah ditindaklanjuti dengan pemeriksaan feses dan pemberian obat cacing. Hasil dari program ini juga menunjukkan peningkatan kebiasaan siswa SD L dalam membersihkan tangan dan kuku mereka, yang terlihat dari peningkatan jumlah siswa yang mengubah kebiasaan dari 234 siswa sebelum edukasi menjadi 340 siswa. Program Manipedicare ini dapat dinyatakan berhasil. Hasil menunjukkan masih ditemukan siswa yang menderita cacingan, sehingga perlu dilakukan tindak lanjut berupa perbaikan status gizi atau pemeriksaan laboratorium yang lebih komprehensif.
Manicare Upaya Pencegahan Cacingan dan Peningkatan Kesadaran Kebersihan Pada Anak Sekolah Dasar di Cimahi Febrianti, Vina; Berutu, Astri Lafenia; Khairunissa, Tasya Salsabilla; Hasna, Natasya Aliatul; Nurkurnia, Isyfi; Naully, Patricia Gita; Nursidika, Perdina
JURNAL KESEHATAN KARTIKA Vol. 20 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan Kartika
Publisher : Faculty of Health Science and Technology, University of Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jkkes.v20i1.435

Abstract

Background: Helminth infections are common among elementary school children in areas with poor sanitation, often resulting in anemia, growth disorders, and weakened immunity. A lack of awareness about personal hygiene, particularly nail cleanliness, contributes significantly to this problem. Objective: This study aimed to evaluate the effectiveness of the Manicare program, an educational intervention designed to improve students’ awareness and practices regarding nail hygiene. Methods: . A quantitative experimental design was used, involving 76 students from SD Negeri Linggabudi, Cimahi, selected through purposive sampling based on the presence of long and dirty nails. Nail samples were examined in the laboratory before and after the Manicare intervention, and students’ awareness of nail hygiene was assessed through direct observation. Data were analyzed using the Chi-Square test Results: The results of the study of 309 students showed that before the intervention, 76 students (24.6%) had long and dirty nails, while 233 students (75.4%) had short and clean nails. After the four-week intervention, all students had short and clean nails (100%). Laboratory examinations revealed that 1 student (1.3%) tested positive for helminth eggs before the intervention, whereas post-intervention results showed no helminth eggs in the examined samples. Conclusion: the Manicare program effectively improved students’ nail hygiene and may reduce the risk of helminth infections. Regular implementation of this program could serve as an effective preventive measure among elementary school children.
Edukasi Kesehatan sebagai Upaya Preventif Penyakit Hepatitis B dan C pada Warga Binaan Pemasyarakatan Naully, Patricia Gita; Nursidika, Perdina
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2020): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v4i1.2164

Abstract

ABSTRAK Hepatitis B dan C dianggap paling berbahaya diantara jenis hepatitis yang lain karena keduanya dapat berkembang menjadi penyakit kronik, sering tanpa gejala, dan menyebabkan kematian. Salah satu upaya yang disarankan oleh WHO untuk mencegah peningkatan angka Hepatitis B dan C adalah melakukan kegiatan edukasi kesehatan bagi masyarakat, khususnya kelompok beresiko tinggi seperi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Oleh sebab itu, kegiatan penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan WBP terkait penyebab, gejala, cara penularan, pencegahan, dan layanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Kegiatan ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Bandung dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang WBP. Penyuluhan dilaksanakan dengan metode ceramah. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan cara menganalisis hasil kuesioner dan nilai tes para peserta. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil evaluasi membuktikan bahwa mayoritas WBP melakukan tindakan beresiko tinggi karena keterbatasan pengetahuan dan informasi, namun setelah mendapatkan materi penyuluhan terlihat adanya peningkatan nilai tes pada seluruh peserta. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan WBP di Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung terkait penyebab, gejala klinis, cara penularan, pencegahan, serta beberapa layanan kesehatan pemerintah untuk mencegah, mendiagnosa, serta mengobati penyakit Hepatitis B dan C.Kata Kunci: hepatitis B; hepatitis C; penyuluhan; lembaga pemasyarakatanABSTRACTHepatitis B and C are considered as the most dangerous hepatitis types compared to the other, because both can develop into chronic diseases, asymptomatic, and cause death. One of the methods suggested by WHO to prevent an increase of Hepatitis B and C numbers is to conduct health education activities for the community, especially for the high-risk groups such as prisoners (WBP). Therefore, the aim of this extension activity was to upgrade the WBP's knowledge regarding the disease causes, symptoms, transmission methods, prevention, and health services provided by the government. This activity was conducted in Bandung Narcotics Penitentiary class IIA, with 30 WBP participants. The extention was done by the lecture method. Then, the activity evaluation was done by analyzing of questionnaire results and participants' test-scores. Besides, the analysis technique used was descriptive analysis. The evaluation result proved that the majority of WBP taking the high-risk action due to the limited of knowledge and information, but there was a test-score increase for all participants after obtaining counseling materials. This activity was successful to improve the WBP's knowledge in Bandung Narcotics Penitentiary class IIA related to the causes, clinical symptoms, modes of transmission, prevention, and also some government health services to prevent, diagnose, and treat the Hepatitis B and C.Keywords : extension; hepatitis B; hepatitis C; prison.
Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi dengan Pemeriksaan Antibodi SARS-COV-2 Naully, Patricia Gita; Nursidika, Perdina; Kania, Prina Puspa; Rachmawati, Firdha
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6 No 3 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v6i3.6781

Abstract

Peningkatan angka kejadian Covid-19 terjadi disebabkan akibat beban populasi yang cukup tinggi di wilayah Jawa Barat. Cluster-cluster baru terdiri dari kasus di pemukiman penduduk, di mana rata-rata saat dilakukan penelusuran bisa menginfeksi anggota keluarga lainnya. Peningkatan cluster di pemukiman penduduk cukup dikhawatirkan karena beberapa penduduk sudah kurang menerapkan protokol kesehatan untuk Covid-19. Penduduk di daerah lingkungan Stikes Jenderal Achmad Yani pun termasuk kurang menerapkan protokol kesehatan, seperti sering terlihat kerumuman warga dan lalai menggunakan masker, sehingga dikhawatirkan menjadi pembawa penyakit untuk keluarga dan menimbulkan cluster baru. Lingkungan Stikes Jenderal Achmad Yani dekat dengan Rumah Sakit Pusat Rujukan Covid-19 di Jawa Barat. Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) D-4 sebagai salah satu program studi yang terlibat dalam diagnosis penyakit, berinisiatif untuk melakukan pemeriksaan skrining Covid-19. Kegiatan ini dilakukan dengan memeriksa antibodi SARS-COV-2 dengan metode imunokromatografi terhadap 50 warga di sekitar kampus. Semua kegiatan pemeriksaan dilakukan sesuai dengan protokol yang diberlakukan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan World Health Organization. Hasil pemeriksaan menunjukkan 98% sampel non reaktif dan 2% reaktif. Sampel dengan hasil reaktif ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjut menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction. Selain pemeriksaan, sampel diberikan edukasi untuk tetap mengikuti protokol kesehatan dan menjaga lingkungan dari penularan Covid-19.
Pencegahan HIV/AIDS serta Penyakit Degeneratif melalui Edukasi dan Pemeriksaan Laboratorium pada Remaja di MAN 1 Cimahi Kania, Prina Puspa; Furqon, Ayi; Gunawan, Taufik; Khairinisa, Gina; Nursidika, Perdina; Naully, Patricia Gita; Friliansari, Lilis Puspa; Ningrum, Nining Ratna; Rachmawati, Firdha
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 6 No 3 (2025): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v6i3.726

Abstract

Remaja merupakan kelompok individu yang sedang mengalami berbagai perubahan penting, baik secara fisik maupun psikologis. Perubahan psikologis seringkali menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi, termasuk terhadap perilaku seks bebas yang berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV/AIDS. Selain itu, pola makan yang kurang sehat akibat kebiasaan mengonsumsi makanan siap saji juga berdampak pada meningkatnya risiko penyakit degeneratif di kalangan remaja. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pencegahan HIV/AIDS serta Penyakit Degeneratif melalui Edukasi dan Pemeriksaan Laboratorium pada Remaja di MAN 1 Cimahi.” Kegiatan ini melibatkan siswa-siswi MAN 1 Cimahi dan dilaksanakan melalui tahapan sosialisasi, pelaksanaan, serta evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan memberikan pretest dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta terkait materi edukasi, serta pemeriksaan kesehatan melalui uji laboratorium. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan remaja setelah diberikan edukasi. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 50 siswa-siswi, seluruh peserta dinyatakan bebas HIV/AIDS dengan rata-rata kadar glukosa darah sewaktu sebesar 110,2 mg/dL. Dengan demikian, hasil skrining menunjukkan bahwa kondisi kesehatan siswa-siswi MAN 1 Cimahi berada dalam kategori normal.
Pemeriksaan Antibodi Paska Vaksinasi COVID-19 pada Penduduk di Sekitar Universitas Jenderal Achmad Yani Naully, Patricia; Nursidika, Perdina; Kania, Prina Puspa; Rachmawati, Firdha; Gunawan, Taufik
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 6 No 3 (2022): Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/ja.v6i3.16772

Abstract

In order to reduce the incidence of COVID-19, the Ministry of Health has thoroughly vaccinated including residents around Jenderal Achmad Yani University, but they don’t know the number of antibodies formed after the COVID-19 vaccination. This activity aims to provide information to residents around UNJANI regarding the number of specific antibodies that their bodies have successfully formed after the COVID-19 vaccination. A total of 50 local residents who have received the COVID-19 vaccination were invited to take part in this activity. Specific antibodies in the participants' blood were examined using the Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. The results that have been validated by doctors are informed to the participants. Through laboratory examination, it was found that 66% of participants succeeded in forming specific antibodies above 7 U/ml and 34% of participants below 7 U/ml. The target of this activity has been achieved, residents around UNJANI can find out the number of specific antibodies they have successfully formed after the COVID-19 vaccination.
Hasil Positif Palsu dan Negatif Palsu pada Pemeriksaan Cepat Antibodi SARS CoV-2 Naully, Patricia Gita; Nursidika, Perdina
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 6, No 2 (2021): May
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.62775

Abstract

Latar Belakang: Salah satu cara yang dilakukan Indonesia untuk mengendalikan dan mencegah penularan SARS CoV-2 sebagai penyebab COVID-19 adalah dengan menyediakan kit pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2. Metode pemeriksaan tersebut dapat mengatasi keterbatasan tenaga ahli dan alat laboratorium di Indonesia. Tujuan: Menentukan hasil pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2 pada masyarakat di Kecamatan Cimahi Tengah.Metode: Sebanyak 50 orang diambil sebagai sampel penelitian dengan menggunakan teknik quota sampling. Pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2 dilakukan dengan menggunakan imunokromatografi merek Lungene. Sampel penelitian yang reaktif diperiksa kembali dengan metode Quantitative Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (qRT-PCR).Hasil: Berdasarkan hasil pemeriksaan dengan imunokromatografi, terdapat satu orang (2%) anti-     SARS CoV-2 IgM reaktif dan tiga orang (6%) anti-SARS CoV-2 IgG reaktif. Pemeriksaan dengan qRT-PCR menunjukkan hasil yang berbeda. Keempat orang tersebut dinyatakan negatif COVID-19. Selain itu, satu orang (2%) yang mendapatkan hasil non-reaktif pada pemeriksaan cepat justru dinyatakan positif terinfeksi SARS CoV-2.Kesimpulan: Pemeriksaan cepat anti-SARS CoV-2 yang dilakukan di Kecamatan Cimahi Tengah kurang akurat karena terdapat empat (8%) hasil positif palsu dan satu (2%) hasil negatif palsu.