Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

SIMULASI PEREDAMAN GETARAN PADA PEGAS KATUP (VALVE SPRING) SISTEM HIDROLIK DENGAN METODE PID MEMANFAATKAN SIMULINK MATLAB Keszya Wabang; Ali Warsito; Andreas Christian Louk
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 1 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.231 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v5i1.890

Abstract

A simulation of damping vibration on valve spring hydraulic system has been done. This research is a study of the simulation that aims to control excess vibration on valve spring hydraulic system as a result of excitation force that is affected by the changes of pressure periodically, to produce a stable system. The simulation performed by using Matlab simulink with applying a PID method (P, PD, PI and PID) and noticed to variations of proportional constant (Kp), integral constant (Ki) and the derivative constant (Kd). The simulation results obtained show that by combining these three constants Ki, Kp and Kd can dampen the vibration better. For the total excitation force, using the value of Kp = 106, Ki = 7 x 106 and Kd = 6 x 104 can provide damping vibration system response on valve spring with a rise time of 1.2119 s, settling time of 1.2792 s, stable at setpoint 1, error steady state 0% and a small maximum overshoot of 0.3309. This is the result of a stable system response and best compared to the other combinations of the constant values. Keywords : vibration, damper, valve spring, hydraulic system, PID method.
SISTEM KONTROL SUHU PADA PENGERING IKAN BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 8535 Fredy M. Baitanu; Ali Warsito; Jonshon Tarigan
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 2 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/fisa.v5i2.903

Abstract

Abstrak Telah dirancang sebuah sistem kontrol secara loop tertutup pada unit pengeringan ikan menggunakan sensor LM35, mikrokontroler ATmega8535, seven segment serta beberapa komponen elektronika yang tesedia dipasaran. Sistem dikendalikan oleh mikrokontroler ATmega8535 untuk pengambilan data suhu menggunakan sensor LM35 dan menampilkan data suhu melalui seven segment, serta mengontrol pemanas melalui aktuator. Hasil pengukuran nilai suhu akan dibandingkan dengan nilai setpoint, sehingga diperoleh selisih nilai yang akan digunakan sebagai indikator untuk melakukan proses pengontrolan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengontrolan bekerja dengan baik dalam merespon setiap perubahan suhu udara. Ketika suhu di bawah setpoint 53°C maka aktuator akan berada dalam kondisi on sehingga pemanas aktif, sebaliknya jika suhu berada di atas setpoint 53°C maka aktuator akan berada dalam kondisi off untuk mematikan heater. Hasil pengeringan selama 4 jam menunjukkan bahwa pengeringan ikan pada massabasah ikan 200 gram, yaitu pada keadaan ventilasi atas kotak pengeringan terbukaakan menghasilkan massa kering90 gram. Pengujian selama 4 jam pada keadaan ventilasi kotak pengeringan tertutup akan menghasilkan massa kering 130 gram. Selain itu, pengeringan secara tradisional selama 12 jam dengan massa basah ikan 200-gram akan menghasilkan massa kering 90 gram.Kata Kunci: Suhu, pengeringan ikan; mikrokontroler Atmega8535; seven segment; aktuator Abstract A closed-loop control system of temperatures in fish drying unit using LM35 sensor, ATmega8535 microcontroller, seven segment and also some of the available electronic market components has been designed. The system is controlled by a microcontroller ATmega8535 for temperature data collection using LM35 sensor and temperature data is displayed on seven segments, as well as heating control via actuators. The measurement results will be compared with the value of the temperature set point value in order to obtain the difference in value to be used as an indicator for process control. The results show that the control works well in response to any changes in air temperature. If the setpoint temperature below 53°C, the actuator will in on condition that the heating is on, otherwise if the temperature is above 53°C setpoint then the actuator will on condition to turn the heater off. Drying for 4 hours results show that the drying fish on the fish wet mass of 200 grams, which is the state of the top vents open drying box will produce a dry mass of 90 grams. Testing for 4 hours in a drying box vents closed state will produce 130 grams of dry mass. In addition, traditional drying for 12 hours with 200 grams of fish wet mass will produce 90 grams of dry mass.Keywords: Temperature; drying fish; ATmega8535 microcontroller; seven segments; actuators.
KAJIAN DISTRIBUSI INTENSITAS CAHAYA PADA FENOMENA DIFRAKSI CELAH TUNGGAL DENGAN METODE BAGI DUA DAN METODE NEWTON RAPHSON Richard Umbu Datangeji; Ali Warsito; Hadi Imam Sutaji; Laura A. S. Lapono
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.9 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i2.976

Abstract

Abstrak Telah dilakukan penelitian tentang distribusi intensitas cahaya pada fenomena difraksi celah tunggal dengan tujuan menerapkan metode Bagi Dua dan metode Newton Raphson untuk memperoleh solusi jarak antara dua titik intensitas dalam fenomena difraksi celah tunggal, menetukan jarak antara dua intensitas pada pita terang, memperoleh grafik distribusi intensitas cahaya terhadap jarak pada kasus difraksi cahaya Franhoufer celah tunggal, serta membandingkan kekonvergenan metode Bagi Dua dan metode Newton Raphson. Solusi jarak antara dua intensitas pada pita terang pada kasus difraksi cahaya Franhoufer celah tunggal diperoleh dengan mencari akar-akar persamaan intensitas cahayanya. Hasil penelitian menunjukan jarak yang semakin besar ketika intensitasnya makin kecil. Ada tiga puncak intensitas, yang pertama puncak untuk intensitas maksimum pada terang pusat yang berada pada jarak 0 cm dan dua puncak untuk terang pertama setelah terang pusat yang mana intensitasnya tinggal 0.05I0 dan berada pada jarak 0.154875 cm sebelah kiri dan sebelah kanan dari intensitas maksimum. Grafik antara jarak dengan perbandingan intensitas terhadap terang maksimum berbentuk sinusoidal, terdapat tiga puncak intensitas. Puncak pertama menunjukan intensitas maksimum yang terdapat pada pita terang pusat dan dua puncak dengan intensitas 0.05I0 yang berada pita terang pertama. Pada kasus ini diperoleh hasil bahwa metode Newton Raphson lebih cepat konvergen dari metode Bagi Dua karena hanya memerlukan 4 iterasi untuk memperoleh solusi, sedangkan metode Bagi Dua membutuhkan 20 iterasi. Metode Newton Raphson juga memiliki nilai error pendekatan lebih kecil dari metode Bagi Dua yaitu 6.43929 x 10-13 sampai 7.52642 x 10-7 sedangkan metode Bagi Dua 1.90735 x 10-6. Abstract Research on the distribution of light intensity in the phenomenon of single slit diffraction has been carried out with the aim of applying the Bisection method and the Newton Raphson method to obtain a solution between two points in a single slit diffraction phenomenon, determining the distance between two point of intensity in the bright band, obtaining a graph of the light intensity distribution to distance in the case of Franhoufer single slit light diffraction, and comparing the speed of convergence of the Bisection method and the Newton Raphson method. The solution of the distance between two intensities in the bright band in the case of Franhoufer light diffraction in a single slit obtained by looking for the roots of the light intensity equation. The results of the study show that the greater the distance when then intensity gets smaller. There are three peak intensities, the first peak for the highest intensity in the central bright band which is located at a distance of 0 cm and two peaks in the first bright with the intensity is 0.05I0 and is 0.154875 cm left and right of the maximum intensity. The graph between the distance and intensity ratio is sinusoidal, which is three peak intensities. The first peak shows the highest intensity in the central bright band and the two peaks with the intensity of 0.05I0 which is the first bright band. In this case the results of the Newton Raphson method are converged faster than the method of Bisection because it only requires 4 iterations to obtain a solution, while the Bisection method requires 20 iterations. The Newton Raphson method also has a smaller error value than the Bisection method, which is 6.43929 x 10-13 to 7.52642 x 10-6 when the Bisection method is 1.90735 x 10-6.
ANALISIS KEMUNCULAN SPREAD F DI ATAS KUPANG Adrianus Marselus Seran; Ali Warsito; Jehunias L. Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.47 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i1.1430

Abstract

Abstrak Telah dilakukan dilakukan penelitian tentang kemunculan spread F di atas Kupang dengan menggunakan data hasil scalling ionogram pada tahun 2013 hingga 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerakteristik kejadian spread F dan variasi tipe kemunculan spread F berdasarkan klimatologi kemunculannya yang berdampak pada perambatan gelombang radio High Frequency (HF;3-30 MHz) dan sistem navigasi berbasis satelit yang dikenal Global Navigation Satelit System (GNSS). Kemunculan spread F mempunyai korelasi dengan kejadian sintilasi yang bersumber dari aktivitas matahari dan gelombang gravitasi yang umunya terjadi pada malam hari (18.00-06.00) LST. Hasil analisis kemunculan Spread F pada periode tahun 2013-2015 menunjukan bahwa kemunculan spead F tertinggi di tahun 2014 dengan tipe spread F frekuensi karena pada periode tahun 2014 masih merupakan puncak siklus matahari ke 24 meskipun dikatakan siklus terlemah atau aktivitas mataharinya sangat minimum namun gangguan aktivitas matahari seperti flare dan CME awal bulan pertengahan bulan tahun 2014 sangat tinggi intensiasnya yang menimbulkan gangguan geomagnet pada lapisan ionosfer sangat besar dimana tipe spread F frekuensi disebabkan oleh gangguan geomagnet. Intensitas kejadian spread F terjadi di pertengahan tahun yakni bulan Juni dibandingkan dengan bulan-bulan awal dan akhir tahun yang tingkat kemunculannya rendah terutama pada fase ekuinoks. Jumlah kemunculan spread F maksimum terjadi pada tengah malam (22.00-03.00) LST dan minimum di awal dan di akhir malam. Analisis dalam domain frekuensi dengan menggunakan metode Fast Fourier Transform (FFT), menunjukan bahwa adanya kemunculan spread F selama 3 tahun (36 bulan) terjadi rentang waktu 200 hingga 600 hari. Frekuensi kemunculan spread F untuk tiap tahunnya adalah 0,1 sampai 0,2 perhari. Informasi ini menunjukan bahwa intensitas kemunculan spread F yang dapat mengganggu perambatang pelombang radio pada lapisan ionosfer di atas wilayah Kupang masih rendah dengan periode kejadian yaitu 365 hari atau 1 tahun selama 3 tahun (2013-2015) dan dapat digunakan sebagai indicator peluang kejadian spread F setiap tahunnya. Kata kunci: Spread F; FFT; Kupang Abstract Research has been conducted on the emergence of the distribution of F above Kupang by using scaling ionogram data from 2013 to 2015. This study aims to study the characteristics of F distribution events and variations in the type of occurrence of F distribution based on their climatology appearance used in High Frequency radio wave moorings (HF ; 3-30 MHz) and a satellite-based navigation system called the Global Navigation Satellite System (GNSS). The appearance of spread F has an interaction with the scintillation event that originates from the activity of the sun and the wave of release that occurs at night (18.00-06.00) LST. The results of the analysis of the emergence of the F spread in the period 2013-2015 indicate that the appearance of the highest F spead in 2014 with the type of spread F frequency in the period of 2014 is still the peak of the 24th solar cycle which is expected to be protected or used by the minimum sun to be used to monitor solar activity such as flares and CME at the beginning of the middle of 2014 is very high, which causes geomagnetic disturbances in the ionospheric layer to be very large where the frequency F type spread is related to geomagnetic interference. The intensity of diffuse F events occurs in the middle of the year in June compared to the initial and end of the year with a low rate of occurrence in the equinox phase. The maximum number of occurrences of the F spread occurs at midnight (10:00 p.m.: 00: 00) LST and minimum at the beginning and end of the night. Analysis in the domain using the Fast Fourier Transform (FFT) method, showed that there were occurrences that spread F for 3 years (36 months) occurring in the range 200 to 600 days. The frequency of occurrence of spread F for each semester is 0.1 to 0.2 per day. This information shows that the intensity of the spread of occurrence of F that can be carried out by radio waves in the ionospheric layer above the Kupang region is still low with an event period of 365 days or 1 year for 3 years (2013-2015) and can be used as an Annual indicator. Keywords: Spread F; FFT; Kupang
ANALISA KOMPUTASI PERGERAKAN ORBIT BUMI TERHADAP MATAHARI BERDASARKAN HUKUM KEPLER MEMANFAATKAN WOLFRAM MATHEMATICA Leonia M. F. B. Da Silva; Ali Warsito; Andreas Christian Louk
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 1 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.221 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i1.1431

Abstract

Sebuah simulasi yang menggambarkan lintasan orbit benda langit telah dilakukan dengan menggunakan Wolfram Mathematica versi 10.3. Penyelesaian persamaan diferensial dalam kasus orbit bumi terhadap matahari yang bergerak mengikuti gerak elipsoidal diselesaikan dengan persamaan Euler-Lagrange. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hukum Kepler II dalam kasus orbit benda langit berbentuk elips yang meliputi kecepatan dan posisi setiap saat. Dari hasil simulasi metode Euler yang telah dilakukan dapat dilihat pada notebook mathematica berupa grafik orbit bumi berbentuk elips pada setiap percepatan saat nilai , sehingga dapat dikatakan memenuhi hukum Kepler I. Dari simulasi ini juga diperoleh nilai eksentrisitas () sebesar 0,562437, energi total () sebesar -0,21875 kg m2/s2 dan -0.218758 kg m2/s2 dan nilai periode () sebesar 21,7112 s dan 21,7114 s. Kata Kunci: orbit, simulasi gerak elipsoidal, Euler-Lagrange, Hukum Kepler. Abstract A simulation that describes the trajectory of the orbit of a celestial bodies has been done by using Wolfram Mathematica software version 10.3. differential equations in the case of the earth’s orbit around the sun that moves along the ellipsoidal are solved by the Euler-Lagrange equation. This research aimed to proved the law of Kepler II in the case of the orbit an elliptical celestial bodies which includes velocity and position at any time. From the results of the Euler method simulation that has been carried out, it can be seen on the Mathematica notebook in the form of graphs of earth’s elliptical orbit trajectories in each acceleration when the value of , so that it can be said to fulfill Kepler’s I law. From this simulation also obtained the value of eccentricity () : 0,562437, total energy (E) : -0,21875 kg m2/s2 and E: -0,218758 kg m2/s2 and value of period (T) : 21,7112 s and T: 21,7114 s. Keywords: orbit, Ellipsoidal motion simulation, Euler-Lagrange, Kepler’s Law.
PEMETAAN ZONA POTENSI TAMBANG MANGAN DAERAH NAIP KABUPATAN TIMOR TENGAH SELATAN DENGAN METODE GEOMAGNETIK Hadi Imam Sutaji; Abdul Wahid; Ali Warsito
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 1 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.294 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v5i1.1533

Abstract

Abstrak Telah dipemetakan zona potensi tambang mangan daerah Naip Kabupatan Timor Tengah Selatan menggunakan metode geomagnetik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur perlapisan dan pola sebaran batuan bawah permukaan yang diduga mengandung mangan. Hasil penelitian diinterpretasikan secara kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif menunjukkan anomali rendah bernilai antara -10 sampai < 50 nT sebagian besar berada pada bagian selatan dan anomali tinggi yaitu 50 sampai 220 nT, umumnya terdapat di bagian utara lokasi penelitian. Anomali rendah diinterpretasikan sebagai batuan lempung dan anomali tinggi diinterpretasikan batugamping yang berasosiasi dengan mangan dan batuan metamorf. Untuk interpretasi kuantitatif menunjukkan keberadaan batuan mangan diduga berasosiasi dengan batugamping yang berada pada bodi 1A sayatan 1 (A-A1) dengan nilai suseptibilitas 0,008116, bodi 1B sayatan 2 (B-B1) yang memiliki nilai suseptibilitas 0,001967 serta bodi 1C sayatan 3 (C-C1) untuk nilai suseptibilitas 0,006407. Bodi 1A sayatan 1 (A-A1) tersebar dari arah barat menuju timur laut, bodi 1B sayatan 2 (B-B1) mulai selatan ke utara dan bodi 1C sayatan 3 (C-C1) dengan arah barat daya menuju timur laut. Kata kunci: Mangan, suseptibilitas, metode geomagnetik Abstract An mapping of the potential Manganese mining zones has been done at Naip areas of the South Central Timor Regency using geomagnetic method. The purpose of this study was to determine the bedding structure and the subsurface patterns of rocks distribution that suspected contain manganese. The result of research were interpreted qualitatively and quantitatively. Qualitative interpretation shows that the low anomaly between -10 to <50 nT is mostly in the southern part and the high anomaly is ≥ 50 to 220 nT, generally in the northern part of the study area. The low anomaly is interpreted as clay and high anomaly is interpreted as limestone associated with manganese and metamorphic rocks. For quantitative interpretation, the presence of manganese is suspected to be associated with limestone at a depth of 6.2-100 m in body 1A incision 1 (A-A1) with susceptibility value 0.008116, body 1B incision 2 (B-B1) which has susceptibility value 0.001967 and body 1C incision 3 (C-C1) for the susceptibility value of 0.006407. Body 1A incision 1 (A-A1) is spread from west to northeast direction, body 1B incision 2 (B-B1) starts south to north and body 1C incision 3 (C-C1) is southwest toward northeast. Keywords: Manganese, susceptibility, geomagnetic methods
KAJIAN KOMPUTASI NUMERIK MODEL INTEGRATIF PADA DIFRAKSI CELAH LINGKARAN MENGGUNAKAN METODE PENDEKATAN SIMPSON 1/3 Freinademetz Anggur; Ali Warsito; Albert Zicko Johannes; Andreas Christian Louk
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.421 KB) | DOI: 10.35508/fisa.v4i2.1830

Abstract

Abstrak Telah dilakukan penelitian tentang komputasi numerik model integratif pada difraksi celah lingkaran dengan tujuan untuk menerapkan metode simpson 1/3 untuk mencari solusi kasus difraksi celah lingkaran, menghitung nilai integrasi bessel menggunakan metode simpson 1/3, menentukan jarak antara dua intensitas pada pita terang, memperoleh grafik pola intensitas cahaya terhadap jarak pada kasus difraksi celah berbentuk lingkaran. Hasil integrasi yang diperoleh dengan metode simpson 1/3 pada tiga titik puncak intensitas yaitu 0.14352548, -0.3342371, 0.27050545 Dari hasil perhitungan pada puncak pertama untuk intensitas maksimum pada terang pusat yang berada pada jarak 0.3 cm dengan nilai intensitas 0.91553621, puncak kedua pada jarak 5.1 cm dengan nilai intensitas 0.01718022 dan pucak ketiga pada jarak 8.6 cm dengan nilai intensitas 0.00395745. Dari hasil perhitungan diperoleh grafik antara jarak dengan intensitas sehingga terdapat pola yang membentuk cincin gelap terang semakin besar panjang gelombang sumber maka semakin besar pula jarak antara suatu titik intensitas dari intensitas maksimum. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pendekatan integrasi simpson 1/3 hampir mendekati hasil yang telah diperoleh secara analitik. Dari hasil ini dapat dihitung nilai error dari program terhadap nilai eksak secara analitik dan diperoleh nilai pendekatan yang kecil yaitu -7.95 x 10-6, -6.07 x 10-6, 2.25 x 10-6. Sehingga hasil pendekatan dengan metode Simpson dapat diterima serta dapat dikatakan bahwa program yang dibuat telah berfungsi dengan baik. Kata kunci: Bessel; metode Simpson 1/3; difraksi celah lingkaran. Abstract [Numerical Computation Study Of Integrative Models In The Circular Aperture Diffraction With Simpson 1/3 Approach Method] Research on numerical computation of integrative models on the circular aperture diffraction with the aim to apply the Simpson 1/3 method to find a solution to the circular aperture diffraction case, calculate the integration value of the Bessel using the Simpson 1/3 method, determine the distance between two intensities on the bright band, obtain graph of the pattern of light intensity versus distance in the case of circular slit diffraction. The integration results obtained by the Simpson method at three intensity peaks are 0.14352548, -0.3342371, 0.27050545 From the results of the calculation at the first peak for maximum intensity at the center of light at a distance of 0.3 cm with an intensity value of 0.91553621, the second peak at a distance of 5.1 cm with an intensity value of 0.01718022 and a third peak at a distance of 8.6 cm with an intensity value of 0.00395745. From the calculation results obtained by the graph between the distance with intensity so that there is a pattern that forms a dark ring of light the greater the source wavelength, the greater the distance between an intensity point from the maximum intensity. The calculation results show that the Simpson 1/3 integration approach is almost close to the results that have been obtained analytically. From these results, an error value from the program can be calculated analytically and the exact value of the approach obtained is -7.95 x 10-6, -6.07 x 10-6, 2.25 x 10-6. So the results of the approach with the Simpson 1/3 method can be accepted and it can be said that the program created has functioned well. Keywords: Bessel; Simpson 1/3methods; circular aperture diffraction.
IDENTIFIKASI ASPEK GELOMBANG BUNYI KELUARAN ALAT MUSIK SASANDO TRADISIONAL DAN SASANDO ELEKTRIK Martince Aryani Jusuf Kaba; ali warsito; laura A.S lapono
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 2 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/fisa.v5i2.1960

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang identifikasi aspek gelombang bunyi alat musik sasando tradisional dan sasando elektrik. Subjek penelitian ini adalah bunyi alat musik sasando tradisional dan sasando elektrik yang bertipe sasando biola dengan jumlah dawai 32. Bunyi alat musik sasando direkam dengan mikrofon Havit Straight M-80 dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Wavepad sound editor. Aspek gelombang bunyi ditentukan dengan menggunakan metode Fast Fourier Transform (FFT). Sampel original bunyi sasando tradisional dan sasando elektrik dengan rentang frekuensi dari 86 Hz sampai 1206 Hz dan 97 Hz sampai 1077 Hz. Rentang intensitas dari sasando tradisional dan sasando elektrik secara berturut-turut (-45,95398906) dB sampai (-12,38564365) dB dan (-33,44661942) dB sampai (-9,780729931) dB. Kemudian dengan perangkat lunak excel diperoleh grafik data bunyi sasando tradisional dan sasando elektrik berupa grafik intensitas, frekuensi dan noise. Setelah dilakukan filter terhadap sampel original bunyi sasando tradisional dan sasando elektrik, yang mempengaruhi kualitas gelombang bunyi adalah adalah rentang noise pada sampel bunyi dari pengolahan data -2 dB sampai 0 dB dan -4,22 dB sampai -0,14 dB dengan persentase noise 0 % sampai 8,27 % dan 0,57 % sampai 22,76 %. Sebagian besar persentasi noise berpengaruh pada bunyi asli. Kata Kunci: Sasando, sampel original, mikrofon Havit Straight M-80, Wavepad sound editor, metode Fast Fourier Transform (FFT), frekuensi, intensitas, noise. ABSTRACT Research has been conducted on the identification of aspects of the sound waves of traditional Sasando musical instruments and Sasando electric. The subject of this research is the sound of traditional Sasando musical instruments and Sasando electric type of Sasando violin with 32 strings. The sounds of Sasando musical instruments were recorded with the Havit Straight M-80 microphone and analyzed using Wavepad sound editor software. Sound wave aspects are determined using the Fast Fourier Transform (FFT) method. Original samples of traditional Sasando sound and Sasando electric range in frequency from 86 Hz to 1206 Hz and 97 Hz to 1077 Hz. The intensity ranges from traditional Sasando and Sasando electric are (-45,95398906) dB to (-12,38564365) dB and (-33,44661942) dB to (-9,780729931) dB. Then with Excel software obtained data graphs of traditional Sasando sound and Sasando electric in the form of graphs of intensity, frequency and noise. After filtering the original samples of traditional Sasando sound and Sasando electric, what affects the sound wave quality is the range of noise in the sound sample from data processing of -2 dB to 0 dB and -4.22 dB to -0.14 dB with a percentage of noise 0 % to 8.27% and 0.57% to 22.76%. Most of the noise percentage affects the original sound. Keywords: Sasando, original sample, Havit Straight M-80 microphone, Wavepad sound editor, Fast Fourier Transform (FFT) method, frequency, intensity, noise.
ANALISIS POLA SEBARAN AIR LINDI SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) NOENBILA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN MENGGUNAKAN METODE ELEKTROMAGNETIK KONDUTIVITAS Harison Nubatonis; Hadi Imam Sutaji; Ali Warsito; Jehunias L. Tanesib
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 6 No 1 (2021): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/fisa.v6i1.2489

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang analisis pola sebaran air lindi sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Noenbila Kabupaten Timor Tengah Selatan menggunakan metode elektromagnetik konduktivitas. Tujuan penelitian adalah menentukan nilai konduktivitas dan suseptibilitas, keterkaitan antara keduanya serta pola sebaran lindi bawah permukaan pada TPA Noenbila. Akuisisi data menggunakan GF Instrument CMD-4 dan GPS (Global Positioning System) di lima lokasi yaitu A/1, B/2, C/3, D/4 dan E/5. Hasil pengukurannya berupa konduktivitas, suseptibilitas serta titik koordinat dalam lintang dan bujur. Data tersebut kemudian diinterpretasikan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil interpretasi kuantitatif menunjukkan bahwa lokasi yang tercemar lindi hanya di C/3 dan E/5 yang memiliki konduktivitas dan suseptibilitas yaitu 3,11-137,37 mS/m dan 4,02-44,27 ppt serta 3,86-110,11 mS/m dan 3,93-12,02 ppt. Interpretasi kualitatif menunjukkan pola sebaran lindi yang berada di lokasi C/3 dan E/5 berpotensi mengalir atau merembes dari arah utara TPA menuju sungai yang berada di bagian selatan. Potensi ini, akan lebih besar terjadi karena geologi bawah permukaan TPA Noenbila berupa batugamping koral yang relatif mudah dialiri air karena memiliki ukuran porous yang besar dan adanya faktor luar seperti turunnya air hujan serta meningkatnya tumpukan sampah penyebab terbentuknya lindi.
VISUALISASI FENOMENA KOMBINASI DIFRAKSI DAN INTERFERENSI PADA CELAH GANDA MEMANFAATKAN METODE SECANT BERBASIS PEMROGRAMAN DELPHI Valerianus Jehadu; Ali Warsito; Albert Zicko Johannes; Andreas Christian Louk
Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya Vol 5 No 2 (2020): Jurnal Fisika : Fisika Sains dan Aplikasinya
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Telah dilakukan penelitian tentang visualisasi fenomena kombinasi difraksi dan interferensni pada celah ganda dengan tujuan menerapkan metode secant untuk memperoleh solusi jarak terang pusat ke terang dengan intensitas tertentu dan memperoleh grafik 2 dimensi dari distribusi intensitas cahaya. Solusi jarak terang pusat (intensitas maksimum) ke terang dengan intensitas tertentu padakasuskombinasi difraksi dan interferensi pada celah ganda diperoleh dengan mencari akar-akar persamaan intensitascahayanya.Dari hasil perhitungan grafis dan komputasi diperoleh solusi jarak terang pusat ke terang dengan intensitas tertentu.Pada nilai perbandingan 0.6I0, metode grafis dengan rentang nilai x dari 0.00877 sampai 0.0088 diperoleh nilai jarak terang pusat ke terang dengan intensitas tertentu sebesar 0.008781 mm. Sedangkan pada metode komputasi dengan nilai tebakan 0.005 dan 0.264 diperoleh nilai jarak 0.00878129 mm. Dari dua variasi yang digunakandapat dilihat bahwa pada variasi panjang gelombang, 500 nm, 550 nm, dan 600 nm diperoleh interval pita terang pusat berturut-turut dari -0.0094392 mm sampai 0.00943919 mm, -0.0103831 mm sampai 0.01038311 mm, dan-0.011327 mm sampai 0.01132703 mm. Kemudian pada variasi jarak celah ke layar 500 mm, 550 mm, dan 600 mm diperoleh nilai interval pita terang berturut-turut dari -0.0103831mm sampai 0.01038311 mm, -0.01142142 mm sampai 0.01142142 mm, dan -0.0124597 mm sampai 0.01245973 mm.Katakunci: Difraksi; interferensi; Celah Ganda; Intensitas, Secant Abstract Research on the visualization of diffraction and interference combination phenomena on double slits has been carried out to apply the secant method for determining the solution of the maximum distance intensity to bright with the certain intensity and obtaining a two graph of the light intensity distribution. The solution of the maximum distance intensity to bright with a certain intensity is obtained by looking for the roots of the light intensity equation.From the result of calculationgraphical and computationally have gotten the solution of the maximum distance intensity to bright with a certain intensity. On the comparison value 0.6I0, a graph method with the interval from 0.00877 to 0.0088 is gotten the maximum distance intensity luminous with a certain intensity of 0.008781 mm. Meanwhile, on computational methods with the guessed value, 0.005 to 0.264 is reached distance value 0.00878129 mm. From two variation used, can be viewed that on wavelength variation 500 nm, 550 nm, 600 nm, are obtained a central light band interval successively from -0.0094392 mm to 0.00943919 mm, -0.0103831 mm to 0.01038311 mm, and 0.011327 mm to 0.01132703 mm. Then in the variation of the gap distance to the screen of 500 mm, 550 mm, and 600 mm, the values of the bright band intervals are obtained from -0.0103831 mm to 0.01038311 mm, -0.01142142 mm to 0.01142142 mm, and -0.0124597 mm to 0.01245973 mm. Keywords: Diffraction; Interference; double slits; intensity; and secant.