Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

NILAI-NILAI GURINDAM DUA BELAS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER KOMUNIKASI PROFESIONAL MURID MANAJEMEN PERKANTORAN Ratna Puri Handayani; Zaitun Zaitun
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13176

Abstract

ABSTRACT The development of professional communication character is an essential need in vocational education, particularly for Office Management students who are prepared to interact and provide services in workplace environments. One source of value that can be utilized in character education is Gurindam Dua Belas by Raja Ali Haji, which contains various moral and ethical teachings of life. This study aims to analyze the values of Gurindam Dua Belas in developing professional communication character among Office Management students. This research employed a qualitative approach using a literature review method and content analysis. The primary data source consisted of verses from Gurindam Dua Belas, which were analyzed through data reduction, value categorization, data presentation, and conclusion drawing. The results revealed seven values relevant to the development of professional communication character: language politeness, honesty in communication, willingness to learn and ask questions, professional integrity, relationship-building ability, self-control in speaking, and communication responsibility. These values demonstrate that Gurindam Dua Belas possesses not only literary and cultural significance but also potential as a contextual source for character education in vocational learning. Therefore, integrating the values of Gurindam Dua Belas into learning activities can serve as an alternative approach to strengthening professional communication character required in the modern workplace. ABSTRAK Pembentukan karakter komunikasi profesional menjadi kebutuhan penting dalam pendidikan vokasi, khususnya bagi murid Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) yang dipersiapkan untuk berinteraksi dalam lingkungan kerja. Salah satu sumber nilai yang dapat dimanfaatkan dalam pendidikan karakter adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang memuat ajaran moral dan etika kehidupan. Penelitian ini memiliki kebaruan melalui integrasi nilai sastra Melayu dengan penguatan karakter komunikasi profesional pada pendidikan vokasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai Gurindam Dua Belas dalam pembentukan karakter komunikasi profesional murid MPLB. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis isi (content analysis). Sumber data berupa bait-bait Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang dianalisis melalui identifikasi, reduksi data, kategorisasi nilai, penyajian data, dan penarikan simpulan berdasarkan relevansinya dengan karakter komunikasi profesional. Hasil penelitian menemukan tujuh nilai utama, yaitu kesantunan berbahasa, kejujuran komunikasi, kemauan belajar dan bertanya, integritas profesional, kemampuan membangun relasi, pengendalian diri dalam berbicara, serta tanggung jawab komunikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa Gurindam Dua Belas dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran berbasis kearifan lokal untuk memperkuat soft skills dan etika komunikasi murid vokasi.
ANALISIS NILAI DIDAKTIS DALAM CERITA RAKYAT PUTERA MAHKOTA LOKAN KEPULAUAN RIAU Hani Haifzah; Dody Irawan; Ahada Wahyusari; Abdul Malik; Maulida Mustado; Zaitun
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Completed
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.63579

Abstract

This study aims to describe the didactic values found in the folktale Putera Mahkota Lokan of the Riau Islands by Yanti Riswara. This study employs a qualitative approach using a descriptive research design. The data in this study consist of the book Cerita Rakyat Putera Mahkota Lokan Kepulauan Riau, published by the Language Center of the Ministry of National Education in 2007. The research instrument was the researcher herself, assisted by a data analysis table based on Elmubarok’s theory. The data collection techniques used included reading the book, listening, annotating, and entering data into the analysis table. The data analysis technique used was content analysis to understand, reveal, and capture the messages contained in the literary work. The results of the study show that there are fifteen didactic values, namely: (1) the value of helping others, (2) the value of empathy, (3) the value of honesty, (4) the value of sharing, (5) the value of loyalty, (6) the value of authenticity, (7) the value of wisdom, (8) the value of perseverance and tenacity, (9) the value of being helpful, (10) the value of tolerance, (11) the value of respecting others, (12) the value of patience, (13) the value of repaying evil with good, (14) the value of prioritizing good over evil, and (15) the value of the dangers of evil. These values are demonstrated through the characters’ attitudes, actions, dialogues, and conflicts. However, the value of the quality of good deeds was not found in the story. The value of the quality of good deeds refers to the way a person shows kindness to others with a sincere heart, without any hidden motives or interests. The absence of the didactic value of the quality of good deeds in this study does not indicate that Elmubarok’s theory is irrelevant to the research subject; rather, it demonstrates that a didactic value in a literary work is greatly influenced by its content, plot, conflict, character development, and the message conveyed within the work. Based on the research findings, the folktale Putera Mahkota Lokan from the Riau Islands is a literary work rich in didactic values and relevant to everyday life. These values serve not only as elements of entertainment but also as an educational tool that can serve as a guide in shaping the character and behavior of the community.
Edukasi Pencegahan Child Grooming dan Pelecehan Seksual pada Siswa Kelas VI SD Negeri 004 Toapaya Vianney Simanihuruk; Sumarningsih Sumarningsih; Tommy Susanto; Diniasih Saskia Sinaga; Fitra Andiko; Adelia Kristianti Purba; Ferdi Mardiansah; Sunia Rizki Aulia; Adelia Valentine; Nuraisya Fitri Purnomo; Zaitun Zaitun
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 5 (2026): JAMSI - September 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3285

Abstract

Child grooming dan pelecehan seksual merupakan ancaman serius terhadap keselamatan, perkembangan, dan pemenuhan hak anak. Risiko tersebut dapat terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital, terutama seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan internet oleh anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa sekolah dasar mengenai pencegahan child grooming, pelecehan seksual, perlindungan diri, serta keamanan dalam berinteraksi di ruang digital. Kegiatan dilaksanakan pada 11 Agustus 2026 di SD Negeri 004 Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, dengan melibatkan 76 siswa kelas VI yang sedang mempersiapkan diri menuju jenjang SMP. Metode yang digunakan berupa pendekatan edukatif, partisipatif, dan interaktif melalui penyampaian materi, pemutaran video edukasi Ini Privasku, diskusi, mini quiz, kuis interaktif, refleksi, dan tanya jawab. Evaluasi dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui observasi partisipatif dan wawancara singkat dengan guru pendamping. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Hasil observasi menunjukkan bahwa seluruh siswa kelas VI yang menjadi sasaran kegiatan memiliki setidaknya satu akun media sosial. Platform yang dikenal dan digunakan oleh siswa antara lain TikTok dan Instagram, sedangkan aktivitas digital siswa juga mencakup permainan daring, salah satunya Mobile Legends. Temuan tersebut menunjukkan bahwa siswa telah memiliki pengalaman berinteraksi dalam lingkungan digital sehingga edukasi mengenai keamanan dan perlindungan diri di ruang digital menjadi relevan untuk diberikan.