Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI AWAL JALUR KA UNTUK PERJALANAN ORANG DI KOTA SURABAYA Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keunggulan pengoperasian kereta api adalah bebas hambatan, dikarenakan kereta api memiliki jalur KA sendiri. Pada kenyataannya keberadaan perlintasan sebidang jalur KA, cukup berpengaruh terhadap pergerakan arus lalu lintas pada ruas jalan di sekitarnya. Oleh karena itu diperlukan identifikasi awal mengenai jalur KA untuk perjalanan orang di Kota Surabaya. Tujuan dilakukannya identifikasi awal ini adalah untuk mengetahui bentuk bentangan jalur KA, jenis jalur KA (single/double), dan perlintasan sebidang jalur KA. Metode yang dilakukan pada identifikasi awal ini adalah pengumpulan data sekunder melalui google maps terkait bentangan, jenis  jalur dan ruas jalan yang sebidang dengan perlintasan jalur KA yang dilalui oleh layanan KA Ekonomi Lokal. Hasil identifikasi awal, dapat diketahui bahwa bentangan jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Cerme, merupakan bentangan jalur KA dari arah Tengah Utara sampai dengan arah Barat perbatasan Kota Surabaya. Bentangan jalur KA dari Stasiun Kandangan, terhubung dengan bentangan jalur KA ke arah Gresik menuju ke Stasiun Indro. Bentangan jalur KA dari Stasiun Pasar Turi, memiliki jalur KA yang bercabang dua ke arah Tengah Utara menuju ke Stasiun Kalimas dan ke arah Utara Timur menuju ke Stasiun Sidotopo, bentangan jalur KA dari Stasiun Sidotopo ke arah Tengah Utara terdapat Stasiun Benteng. Bentangan jalur KA dari Stasiun Semut sampai dengan Stasiun Waru dan Stasiun Sepanjang memiliki jalur KA yang sama melalui Stasiun Gubeng sampai dengan Stasiun Wonokromo, pada Stasiun Wonokromo jalur KA bercabang dua ke arah Selatan Timur yaitu Stasiun Waru dan ke arah Selatan Tengah yaitu Stasiun Sepanjang. Bentangan jalur dari Stasiun Gubeng sampai dengan Stasiun Pasar Turi (jalur pintas/shortcut), tanpa melalui Stasiun Sidotopo terlebih dahulu. Jenis jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Cerme sudah dilayani oleh jalur KA ganda/double track. Jenis jalur KA dari Stasiun Kandangan, menuju ke Stasiun Indro masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Semut sampai dengan Stasiun Wonokromo sudah dilayani oleh jalur KA ganda/double track, sedangkan jenis jalur KA dari Stasiun Wonokromo sampai dengan Stasiun Waru dan Stasiun Sepanjang masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Kalimas menuju ke Stasiun Peti Kemas, masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Sidotopo masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track, sedangkan jenis jalur KA dari Stasiun Sidotopo sampai dengan Stasiun Benteng masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Gubeng mulai dari ruas jalan Raya Dupak sampai dengan ruas jalan Gembong masih dilayani oleh jalur KA tunggal, setelah itu mulai dari ruas jalan Kapasari sampai dengan ruas jalan Ambengan sudah dilayani oleh jalur KA ganda/double track. Jumlah ruas jalan yang sebidang dengan perlintasan jalur KA yang dilalui oleh layanan KA Ekonomi Lokal berjumlah 22 ruas jalan. Kata Kunci: identifikasi awal, bentangan, jenis jalur KA, perlintasan sebidang, Kota Surabaya
PERBANDINGAN HASIL PENGUKURAN TINGGI BADAN MANUSIA TERHADAP 3 KELOMPOK YANG BERBEDA Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan tinggi badan manusia dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras, dan usia. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian mengenai perbandingan pengukuran tinggi badan manusia pada 3 kelompok yang berbeda. Tujuan dari pengukuran tinggi badan ini adalah untuk mengetahui nilai rata-rata, nilai minimum, nilai maksimum, range, varians, standar deviasi. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah pengumpulan data sekunder dan data primer. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan pengukuran tinggi badan pada 89 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2015, 37 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2016, dan 30 siswa (sampel) Bintara AL 2017. Hasil pengukuran tinggi badan manusia terhadap 89 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2015 memiliki nilai rata-rata 163.51 cm, nilai minimum 148 cm, nilai maksimum 184 cm, range 36 cm, nilai varians data 60.03, nilai standar deviasi 7.75. Hasil pengukuran tinggi badan manusia terhadap 37 mahasiswa (populasi) S1 Teknik Sipil UNESA 2016 memiliki nilai rata-rata 165.14 cm, nilai minimum 147 cm, nilai maksimum 180 cm, range 33 cm, nilai varians data 68.22,  nilai standar deviasi 8.26. Hasil pengukuran tinggi badan manusia terhadap 30 siswa (sampel) siswa Bintara AL 2017 memiliki nilai rata-rata 167.30, nilai minimum 160.5 cm, nilai maksimum 176 cm, range 15.5 cm, nilai varians data 11.41, nilai standar deviasi 3.38. Grafik distribusi frekuensi yang dihasilkan dari pengukuran tinggi badan terhadap 3 kelompok yang berbeda secara teoritis berdistribusi normal. Hasil perbandingan pengukuran tinggi badan dari 3 kelompok yang berbeda diketahui bahwa tinggi badan rata-rata yang paling tinggi adalah siswa Bintara Angkatan Laut (AL) 2017 sebesar 167.30 cm. Kata Kunci: tinggi badan, rata-rata, range, varians, standar deviasi
ANALISIS PERBEDAAN VOLUME NAIK TURUN PENUMPANG DI TIAP-TIAP STASIUN PEMBERHENTIAN KA KOMUTER SURABAYA-SIDOARJO (SUSI) Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/18 (2018): Wisuda ke-91 Periode 1 Tahun 2018
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya peningkatan kualitas pelayanan KA Komuter dapat ditingkatkan dengan melakukan perbaikan dari sisi waktu pelayanan (hari kerja, hari libur, jam sibuk dan jam tidak sibuk) dan aspek perpindahan moda.  Kedua upaya tersebut penting dilakukan guna menarik minat masyarakat dari kendaraan pribadi beralih menggunakan angkutan umum dalam hal ini Kereta Api (KA). Kurangnya minat masyarakat menggunakan KA juga berdampak pada jumlah penumpang yang naik dan turun di tiap-tiap stasiun berbeda-beda jumlahnya. Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai analisis perbedaan volume naik turun penumpang di tiap-tiap stasiun pemberhentian KA Komuter. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis hasil penelitian terdahulu terkait volume naik turun penumpang KA Komuter Surabaya-Sidoarjo (SUSI). Hasil penelitian diketahui bahwa perbedaan volume naik dan turun penumpang KA Komuter SUSI disebabkan karena pemanfaatan guna lahan yang berbeda-beda di tiap-tiap lokasi stasiun. Pergerakan penumpang KA Komuter SUSI dari dua arah yang berbeda di jam keberangkatan pagi, siang dan sore hari berdasarkan hasil penelitian terdahulu diketahui bahwa Stasiun Semut, Stasiun Gubeng, Stasiun Sidoarjo, Stasiun Porong dan Shelter Buduran memiliki bangkitan perjalanan tinggi dan berpotensi sebagai stasiun yang memiliki jumlah penumpang naik cukup besar dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Stasiun Porong, Stasiun Sidoarjo, Stasiun Waru, Stasiun Wonokromo dan Stasiun Gubeng memiliki tarikan perjalanan tinggi dan berpotensi sebagai stasiun yang memiliki jumlah penumpang turun cukup besar dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Kata kunci: volume penumpang naik turun, KA Komuter SUSI, guna lahan, bangkitan, tarikan.
Mamminasata BRT User Trip Characteristics for the Design of Demand Modelling Method for a New BRT Line Suprayitno, Hitapriya; Ananda Upa, Verdy
IPTEK The Journal for Technology and Science Vol 27, No 3 (2016)
Publisher : IPTEK, LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.069 KB) | DOI: 10.12962/j20882033.v27i3.1328

Abstract

Indonesia started to developed largely the MRT line, especially the BRT. A new BRT Corridor implementation need a Passenger Demand Prediction. Thus, a Special BRT Passenger Demand Modelling Method for a New BRT Line need to be developed. This attempt needs a sufficient knowledges on the Existing BRT User Trip Characteristics. Mamminasata BRT User Trip Characteristics Survey were executed on Corridor 2 and Corridor 3, during morning peak hour. The result indicates that the BRTs are used mainly for schooling and working trips, the BRT passengers are the previous public transport and motorcycle users. The trip origin zone is extended 3 km to the left and to the right of the BRT corridor, while the trip destination zone is extended 1.5 km to the left and to the right of the BRT corridor. The embarking connecting trip modes are dominated by motorcycle, public transport and becak, while the alighting connecting trip modes are dominated by walking tri
Perbandingan Pengelolaan Rusunawa: Pemilik, Penghuni, Pengelola, Pembiayaan, Luas Unit, Tarif dan Fasilitas Purnamasari, Arry Widya; Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.068 KB) | DOI: 10.12962/j26151847.v4i2.6889

Abstract

Selain pangan dan sandang, rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar (basic needs) bagi kehidupan manusia. Terbatasnya lahan dan beragamnya aktivitas masyarakat di perkotaan membutuhkan suatu strategi dalam rangka efisiensi penggunaan lahan, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur rumah susun. Di Kota Surabaya terdapat beberapa rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) yang dibangun di atas tanah aset pemerintah dengan pola pengelolaan yang berbeda-beda, maka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan dalam pengelolaan Rusunawa. Hasilnya terdapat beberapa perbedaan antara lain berdasarkan penghuni terdapat 3 kelompok sasaran yaitu: MBR, MBMB dan masyarakat Umum, dimana pembiayaan pembangunan Rusunawa dapat menggunakan APBD/APBD maupun menggunakan kerjasama pemerintah dan swasta. Rusunawa yang dibangun untuk MBR dan MBMB memiliki luas unit hunian yang seragam pada tiap towernya antara 18m2 hingga 24 m2 dengan tarif yang disubsidi oleh pemerintah serta penyediaan fasilitas yang sederhana. Sedangkan, Rusunawa untuk masyarakat umum dalam satu tower memiliki luasan unit hunian yang bervariasi dari 18m2 hingga 48m2 dengan pengenaan tarif komersial serta didukung tersedianya berbagai fasilitas penunjang yang beragam dari jenis dan fungsinya.
Karakteristik Variasi Panjang Perjalanan dan Variasi Volume Perjalanan Berbasis Jam Bagi Taksi Bluebird di Kota Surabaya Mangopo, Merlyn; Suprayitno, Hitapriya
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.635 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v18i1.6253

Abstract

Pertumbuhan kawasan-kawasan terbangun di Kota Surabaya memberikan potensi yang besar bagi pengemudi taksi untuk mengangkut lebih banyak penumpang dari kawasan satu ke kawasan lain. Namun saat ini pengemudi taksi belum optimal dalam menggunakan waktu mereka bekerja mengangkut penumpang, hal ini dikarenakan mereka belum mengetahui dengan tepat, pada jam-jam yang berpotensi untuk bekerja mengangkut penumpang. Dan pengemudi belum bisa memperkirakan jumlah antaran penumpang dalam sehari sehingga belum bisa mempergunakan peluang mendapatkan penumpang dengan optimal. Oleh karena itu dalam penelitian ini melakukan metode analisis distribusi data dengan penyebaran kuesioner dan diolah dalam bentuk Tabel dan Grafik. Hasil penelitian ini adalah penumpang taksi lebih banyak menggunaan taksi pada jam 12:00-15:00 WIB sebesar 22%, pada jam 09:00-12:00 WIB sebesar 21% dan pada jam 15:00-18:00 WIB sebesar 15%. Jumlah perjalanan mengangkut penumpang pada jarak 3,1-6 km sebesar 27%,  pada jarak 6,1-9 km sebesar 21% dan  pada jarak  0-3  km  sebesar 20%. Data karakteristik panjang perjalanan dan variasi volume perjalanan taksi berbasis jam bertujuan untuk mengetahui jumlah antaran penumpang dalam sehari dan jam bekerja pengemudi taksi yang efektif.
Pemanfaatan Bagian-Bagian Jalan Nasional, Studi Kasus di Ruas Jalan MERR Surabaya Dewi, Dyah Kusuma; Soemitro, Ria Asih Aryani; Suprayitno, Hitapriya; Budianto, Herry
Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas Vol 4, No 3 (2020): Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.085 KB) | DOI: 10.12962/j26151847.v4i3.7103

Abstract

Jalan nasional merupakan salah satu infrastruktur trasportasi darat yang kewenangan pengelolaannya adalah pemerintah. Jalan mempunyai bagian-bagian jalan yang pemanfaatannya tidak hanya untuk menghubungkan daerah satu dengan daerah lain, namun juga dapat dimanfaatakan untuk keperluan pihak-pihak lain. Pemanfaatan bagian-bagian jalan dapat dilakukan oleh pihak perorangan, perusahaan maupun pemerintah dengan mendapat izin dari pengelola jalan nasional yaitu Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional/Balai Pelaksanaan Jalan Nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif.  Hasil observasi menunjukkan di Jln. Ir Soekarno (MERR Surabaya) ada pemanfaatan bagian-bagian jalan berupa utilitas, iklan dan media informasi serta bangunan-bangunan yang berupa jalan keluar masuk. Pemanfaatan jalan ada yang belum berizin ke penyelenggara jalan nasional yaitu Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional.  
PEMIKIRAN AWAL TENTANG KERANGKA DASAR ANALISIS INFRASTRUKTUR PUBLIK BAGI PEMBANGUNAN Suprayitno, Hitapriya; Soemitro, Ria Asih Aryani
IPTEK Journal of Proceedings Series No 5 (2018): Seminar Nasional Teknologi dan Perubahan (SEMATEKSOS) 3 2018
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2018i5.4435

Abstract

Pembangunan merupakan salah satu nafas bagi kehidupan wilayah atau negara. Telah jelas terlihat bahwa keberadaan Infrastruktur mutlak perlu bagi pembangunan. ITS telah membuka Program Studi Pembangunan. Oleh karena itu penelitian tentang hubungan timbal balik antara infrastruktur publik dengan pembangunan mutlak perlu untuk dikembangkan di ITS, untuk itu diperlukan suatu Kerangka Dasar Analisis. Makalah ini menyampaikan upaya awal untuk menyusun Kerangka Dasar bagi Analisis Hubungan antara Infrastruktur dengan Pembangunan. Kerangka Dasar disusun berdasarkan 4 pemahaman utama: infrtruktur, pembangunan, keterkaitan antara infrastruktur dengan pembangunan dan manajemen aset infrastruktur. Kerangka Dasar Analisis harus didasarkan pada Kebutuhan akan Infrastruktur disesuaikan dengan Kondisi Wilayah dan Program Pembangunan Wilayah; pada Katagori Infrastruktur Publik atau Infrastruktur Swasta; pada Analisis Manfaat dan Biaya; pada Analisis Kelayakan Teknis, Ekonomi dan Sosial; pada Pengelolaan Infrastruktur Berkelanjutan; pada penggolongan Infrastruktur Publik tidak diusahakan dan disusahakan; pada Fungsi Infrastruktur; pada Tipe Bangunan Fisik Infrastruktur; pada Klasifikasi Infrastruktur : baik klasifikasi penanggung jawab, klasifikasi fungsi dan klasifikasi lain
Perbandingan dan Sintesis Karakteristik Perilaku Perjalanan Pengguna Bis Trans Mamminasata dan Bis Trans Koetaradja Ananda Upa, Verdy; Suprayitno, Hitapriya; Ryansyah, Muhammad
Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.699 KB) | DOI: 10.12962/j26151847.v2i2.4341

Abstract

Layanan BRT dan Semi BRT sedang banyak dikembangkan di wilayah perkotaan ibu kota Propinsi di Indonesia. Perencanaan operasional koridor baru harus disertai dengan perhitungan prakiraan jumlah penumpang. Perhitungan dilakukan dengan memakai teknik Pemodelan Transportasi. Untuk itu dibutuhkan data karakteristik perilaku perjalanan pengguna bis, untuk menentukan metoda pemodelan. Survei data karakteristik tersebut pernah dilakukan untuk Bis Trans Mamminasata dan Bis Trans Koetaradja. Kedua karakteristik tersebut ternyata cukup mirip satu dengan yang lain. Sedangkan, hasil sintesa kedua karakteristik tersebut bisa disampaikan sebagai berikut : maksud perjalanan didominasi oleh perjalanan bekerja dan kuliah, moda sebelum menggunakan Bis Trans didominasi oleh moda angkot mikrobis, perjalanan hubung ke halte didominasi oleh jarak 0 – 1,5 km dengan menggunakan moda jalan kaki dan sepeda motor, perjalanan hubung dari halte didominasi oleh jarak 0 – 1 km dengan menggunakan moda jalan kaki.
Analisa Karakteristik Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Ahmad Yani Surabaya melalui Pendekatan Knowledge Discovery in Database Zanuardi, Arvian; Suprayitno, Hitapriya
Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.669 KB) | DOI: 10.12962/j26151847.v2i1.3767

Abstract

Analisa karakteristik kecelakaan merupakan tahapan audit keselamatan jalan sebagai bagian manajemen operasional aset jalan. Melalui data kecelakaan terdahulu, informasi penting dan bermanfaat dapat diketahui. Studi bertujuan menganalisa karakteristik kecelakaan lalu lintas di Jl. Ahmad Yani Surabaya meliputi analisa situasi, identifikasi blackspot, faktor pemicu dan karakteristik kecelakaan. Metode yang digunakan adalah Knowledge Discovery in Databases dengan data mining didukung aplikasi SPSS dan RapidMiner. Baseline data diambil dari rekaman laka lantas Polrestabes Surabaya tahun 2015 s.d Agustus 2017. Hasil analisa menunjukkan peningkatan angka kecelakaan di Jl. Ahmad Yani paska dibangunnya frontage disebabkan oleh faktor kedisiplinan pengguna jalan. Tiga lokasi utama blackspot adalah sekitar Royal Plaza, pertigaan Margorejo dan Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL). Analisa karakteristik kecelakaan mendapati beberapa hasil antara lain : 85,9% kecelakaan jamak; potensi kecelakaan terbesar pada hari Senin pukul 20:00-21:00; pihak terlibat kecelakaan didominasi sepeda motor (69,61%) ; dan 75,9% tingkat fatalitas masih rendah. Biaya kecelakaan meliputi biaya korban dan kerugiaan materiil selalu meningkat setiap tahun. Peningkatan terbesar tejadi pada kerugian materiil dari tahun 2015 ke 2016 (466,49%). Perhitungan total biaya kecelakaan selama periode pengamatan mencapai Rp. 10,78 Triliun. Oleh karenanya, audit keselamatan jalan dan tindakan pencegahan secara komprehensif (aspek teknis dan non teknis) perlu segera dilakukan.