Claim Missing Document
Check
Articles

Local Fishermen’s Preception of Measured Fishing in WPPNRI 714 Tuhumury, Julian; Tupamahu, Agustinus; Hehanussa, Kedswin G.
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 18 No. 1 (2025): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v18i1.2528

Abstract

The issue of equitable access for local fishermen to marine resources remains a critical concern in the implementation of Measured Fishing (PIT) policies in Indonesia. This study aims to analyze the perceptions of local fishermen regarding PIT, with a specific focus on their access rights in Fisheries Management Area (WPPNRI) 714. The research was conducted from September to November 2023 in several coastal areas in Ambon Island and Banda Neira, Central Maluku. The survey targeted local fishermen operating ring seine (jaring bobo) vessels larger than 5 GT in the villages of Latuhalat, Laha, Waai, and Hitu. Respondents were selected using purposive sampling, and data were analyzed descriptively. Results indicate that most vessel owners support PIT, perceiving its benefits in sustaining fish stocks, optimizing profits, improving data accuracy, and increasing non-tax state revenue. However, many fishermen disagree with the obligation to pay landing fees at designated ports, viewing it as an additional burden. The findings reveal that while the ecological and economic aspects of PIT are generally well-received, issues related to fairness, administrative obligations, and economic impact remain contentious. In conclusion, the successful implementation of PIT requires adaptive and inclusive policies that prioritize sustainability while ensuring the economic viability of local small-scale fishers. These insights are expected to support both regional and national policymakers in formulating fair and context-sensitive fisheries governance.
PENGARUH KEDALAMAN BERBEDA TERHADAP HASIL TANGKAPAN BUBU DI PERAIRAN KARANG DUSUN WAITOTA, MALUKU BARAT DAYA Tupamahu, Agustinus; Hehanussa, Kedswin G.
SEMAH Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan Vol 9, No 1 (2025): SEMAH: Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/semahjpsp.v9i1.1733

Abstract

Pemanfaatan alat tangkap bubu di ekosistem terumbu karang merupakan pendekatan ramah lingkungan dalam aktivitas perikanan, namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, salah satunya adalah kedalaman perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kedalaman berbeda terhadap komposisi spesies, kelimpahan, dan ukuran ikan hasil tangkapan bubu di perairan karang Dusun Waitota, Kecamatan Babar Barat, Kabupaten Maluku Barat Daya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2024. Hasil penelitian menunjukkan total 297 individu dari 37 spesies ikan berhasil tertangkap, dengan variasi komposisi spesies antar kedalaman. Kedalaman 7–9 m menghasilkan tangkapan tertinggi (104 individu), nilai CPUE tertinggi (2,08 ekor/bubu/hari), serta rata-rata ukuran ikan terbesar (23,13 cm dan 241,06 g). Uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap ukuran ikan (panjang dan berat) antar kedalaman (Asymp-sig 0,05).
PRODUCTION FACTORS EFFECT ON GILL NET FISHERMEN CATCH IN INNER AMBON BAY Sangadji, Selfi; Tupamahu, Agustinus; Hehanussa, Kedswin
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 9 No 3 (2025): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.9.3.341-352

Abstract

The observed decline in fishery production within the Teluk Ambon and Teluk Ambon Baguala sub-districts of Ambon City from 2020 to 2021 has prompted concerns regarding the efficacy of the fishing gear employed, particularly gill nets, which are predominantly utilized by small-scale fishers in Teluk Ambon Dalam. This study sought to examine the impact of various production factors on the catch yields of fishermen using gill nets, specifically focusing on net length, net width, frequency of fishing trips, immersion duration, and the experience of the fishermen. A descriptive methodology was employed, utilizing a survey technique for primary data collection through structured interviews with 12 respondents, complemented by secondary data sourced from official records and scientific literature. The analysis revealed that, although not all variables demonstrated statistical significance, there existed a positive correlation between certain technical factors and the total catch, notably net width, frequency of fishing trips, and fishermen's experience. These findings underscore the necessity of optimizing production variables as a strategic approach to enhance the efficiency and sustainability of small-scale fisheries in coastal regions. Key words: fishing operations, passive fishing gear, productivity, small-scale fisheries, technical variable
OPTIMIZING JULUNG-JULUNG (Hemiramphus sp.) FISHERY USING SURPLUS PRODUCTION MODELS iN EAST SERAM Siahanenia, Stany Rachel; Tupamahu, Agustinus; Litiloli, Halik
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 16 No. 2 (2025): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/s57qn517

Abstract

The julung-julung (Hemiramphus sp.) fishery in eastern Seram waters is an important livelihood resource for coastal communities, yet it is increasingly exposed to high exploitation pressure driven by intensified fishing and coastal habitat degradation. This study assesses the stock status and identifies optimal management strategies using a surplus production modelling approach. Catch (tons) and fishing effort (number of trips) data from 2014–2024 were analyzed using the Schaefer and Fox models. Model comparison showed that the Fox model provided a better fit to the observed data, with an R² of 76.0%, compared with 73.3% for the Schaefer model. Based on the Fox model, the estimated maximum sustainable yield (MSY) was 945.7 tons per year, with an optimal fishing effort (Eopt) of 2,365 trips per year. The declining trend in catch per unit effort (CPUE), despite continued increases in fishing effort, indicates reduced fishing efficiency and suggests that the stock is already experiencing overfishing. These results demonstrate that the julung-julung fishery in eastern Seram waters is under overexploitation and requires urgent management intervention. Effort regulation aligned with Eopt, together with ecosystem-based and participatory management approaches, is recommended to support recovery and long-term sustainability. The findings provide evidence-based guidance for strengthening policy development and management of small-scale, data-limited tropical fisheries, particularly those facing similar ecological and socioeconomic pressures. Keywords: Hemiramphus sp., MSY, CPUE, Fox model, fisheries management
ANALISIS PERUBAHAN INTENSITAS CAHAYA DAN SEBARAN IKAN PADA PROSES PENANGKAPAN BAGAN APUNG Haruna; Kedswin G. Hehanussa; Agustinus Tupamahu; Yohanes D.B.R. Minggo
AQUANIPA - Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol 5 No 3 (2023): AQUANIPA - Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan
Publisher : Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan cahaya lampu sebagai alat pengumpul ikan telah dirasakan manfaatnya dan terbukti dapat meningkatkan hasil tangkapan. Dengan kata lain, cahaya adalah salah satu alat bantu pada beberapa metoda penangkapan dan pada prinsipnya dapat digunakan untuk memikat dan menarik ikan yang mempunyai sifat fototaksis positif untuk mendatangi cahaya agar dapat ditangkap. Tujuan dari penelitian ini yaitu Menganalisis pola sebaran intensitas cahaya dan sebaran ikan pada proses penangkapan serta menganalisis perbedaan jumlah echo ikan pada periode sebelum dan sesudah tengah malampada bagan apung. Penelitian ini berlangsung pada Bulan November – Desember 2020 bertempat di Negeri Paperu Teluk Saparua Kabupaten Maluku Tengah. Pola sebaran cahaya mengalami penurunan secara eksponensial, intesitas cahaya 1 lampu terdeteksi kedalaman 26 meter dan horizontal 9 meter dengan intensitas cahaya awal yang masuk sebesar 84.800 lux, 2 lampu 27 meter dengan intensitas cahaya awal yang masuk 187.700 lux, 3 lampu secara vertikal mencapai 26 meter dengan intensitas cahaya awal yang masuk sebesar 176.400 lux, 4 lampu mencapai 24 meter dengan intensitas 155.700 lux, 5 lampu 27 meter dengan intensitas 134.200 lux, dan 6 lampu 28 meter dengan intensitas awal yang masuk sebesar 193.100 lux, dimana intensitas terkecil sebesar 0.001 lux Konsentrasi ikan tertinggi berada pada range kedalaman > 40 dengan intensitas cahaya mencapai 0,000 lux. Adanya perbedaan jumlah hasil tangkapan yang signifikan dengan adanya penambahan jumlah hasil tangkapan setelah sesudah tengah malam.
DAMPAK GHOST FISHING PADA JARING INSANG DASAR TERHADAP SUMBERDAYA IKAN DI PERAIRAN OHOI SATHEAN, MALUKU TENGGARA Ariel J.O. Tethool; Agus Tupamahu; Donald Noija
Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Vol 11 No 2 (2022): Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/amanisalv11i2p57-64

Abstract

Jenis alat tangkap hilang dan teringgal di dasar laut yang paling banyak ditemukan pada ghost fishing adalah jaring insang dan bubu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dampak ghost fishing jaring insang terhadap sumberdaya ikan di perairan ohoi Sathean. Penelitian ini dilaksanakan di perairan ohoi Sathean selama satu bulan pada bulan November sampai dengan Desember 2021 dengan menggunakan metode deskriptif dengan cara pengamatan langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang tertangkap dengan jaring insang dasar selama 30 hari berjumlah 64 individu yang terdiri dari 16 famili, 20 genera dan 22 spesies. Pendugaan peningkatan hasil tangkapan menunjukkan bahwa hasil tangkapan meningkat secara eksponensial hingga hari ke-28. Hal ini disebabkan oleh kondisi panel jaring insang yang menurun akibat penempelan sedimen.
SELEKTIVITAS JARING INSANG DASAR IKAN BARONANG (Siganus canaliculatus) DI TELUK KOTANIA Jacobus Latumeten; Agustinus Tupamahu; Haruna Haruna
Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Vol 11 No 2 (2022): Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/amanisalv11i2p86-92

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menduka selektivitas ukuran mata jaring insang dasar 2,0 dan 2,5 inch terhadap ukuran ikan Siganus canaliculatus. Penelitian ini dilaksanakan di teluk Kotania Seram Barat selama bulan Juni sampai Juli 2022 melalui percobaan penangkapan selama 8 kali seting dan hauling. Hasil penelitian menunjukan bahwa ikan S canaliculatus yang tertangkap dengan ukuran mata jaring 2,0 inch terdistribusi dari ukuran panjang total 11-25 cm dengan frekuensi tertangkap terbanyak pada ukuran panjang total 15-17 cm, sedangkan pada ukuran mata jaring 2,5 inch terdistribusi pada ukuran panjang total 12-25 cm dengan frekuensi tertangkap terbanyak pada kelas panjang total 16-19 cm. Hasil pendugaan tingkat selektivitas ukuran ikan S canaliculatus yang optimum tertangkap dengan ukuran mata jaring 2,0 inch adalah pada kelas panjang total 14-15 cm (peluang tertangkap relative 50% 11-12 cm dan 17-18 cm). Ukuran ikan yang optimum tertangkap dengan ukuran mata jaring 2,5 inch adalah pada kelas panjang total 18-19 cm (peluang tertangkap relative 50% 15-16 cm dan 21-22 cm).
TINGKAH LAKU IKAN BUBARA (Caranx ignobilis) TERHADAP LAMA WAKTU PERENDAMAN UMPAN Abdul F Rahawarin; Haruna Haruna; Agustinus Tupamahu; Stany R. Siahainenia; Kedswin G. Hehanussa
Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Vol 11 No 2 (2022): Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/amanisalv11i2p80-85

Abstract

Umpan merupakan faktor penting pada perikanan pancing. Pemahaman tingkah laku dan respon makan ikan menjadi bagian penting untuk mengetahui efektivitas penggunaan umpan. Tujuan penelitian yaitu mendeskripsikani pola reaksi ikan kuwe (C ignobilis) terhadap perlakuan umpan, dan menganalisis pengaruh lama waktu perendaman umpan dan waktu pengamatan terhadap respon C ignobilis. Penelitian dilakukan dengan metode percobaan. Umpan yang digunakan adalah potongan daging ikan cakalang. Sampel ikan C ignobilis sebanyak 5 ekor (TL 29-30 cm). Data penelitian meliputi waktu respons makan ikan terhadap umpan masing-masing adalah umpan tidak di rendam, umpan direndam 1 jam dan (C) umpan direndam 2 jam yang dilakukan secara acak pada pagi hari (jam 07.30-09.30) dan malam hari (jam 21.00-23.00). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga fase dalam proses C ignobilis memangsa umpan meliputi fase appearance, approach, dan attack. Respons makan C ignobilis terhadap potongan umpan cakalang secara parsial pada pagi hari dan malam hari tidak berbeda (P>0,05). Terdapat perbedaan respons makan C ignobilis lebih cepat pada kondisi waktu pagi hari dibandingkan pada malam hari (P<0,05).
SELEKTIFITAS JARING INSANG DASAR IKAN SAMANDAR (SIGANIDAE SP) DI PERAIRAN TELUK KOTANIA KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Salma Salma; Agustinus Tupamahu; Barbara G. Hutubessy; Ruslan H. S. Tawari
Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Vol 11 No 2 (2022): Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/amanisalv11i2p93-101

Abstract

Ukuran mata jaring yang digunakan nelayan di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat untuk menangkap ikan demersal biasanya berkisar antara 1,5 - 4 inch. Nelayan memilih jaring insang karena harganya yang relatif murah, dan mudah dioperasikan. Salah satu jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan dengan jaring insang di Perairan Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat adalah ikan samandar papan (Siganus sp). Ukuran mata jaring yang digunakan berkisar antara 2 inch sampai 3,5 inch. Walaupun upaya penangkapan ini sudah lama dilakukan, informasi tentang selektifitas jaring insang terhadap hasil tangkapan ikan samandar papan masih belum banyak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis selektifitas jaring insang dasar dengan ukuran mata jaring 2,0 inch, 3,0 inch dan 3,5 inch terhadap ukuran ikan samandar papan (Siganidae sp). Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan yakni pada bulan Maret-April 2018. Penelitian ini berlokasi di Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat. Percobaan penangkapan dengan mengikuti operasi penangkapan ikan oleh nelayan di dusun Wael, Negeri Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat. Jaring insang dasar yang digunakan terdiri dari 3 ukuran mata jaring yaitu 2,0 inch, 3,0 inch dan 3,5 inch, di mana masing-masing ukuran mata jaring yang digunakan sebanyak 2 piece. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini Kurva selektivitas diperoleh berdasarkan metode Kitahara (1971), kurva polinomial (Fujimori et al, 1996) dan program Solver pada Microsoft Excel (Tokai and Fujimori, 1999). Hasil penelitian ini adalah selektifitas jaring insang dasar dengan menggunakan ukuran mata jaring 2,0 inch, 3,0 inch dan 3,5 inch terhadap ukuran ikan samandar (Siganidae) dapat disimpulkan bahwa efisiensi penggunaan alat tangkap jaring insang yang efektif untuk menangkap ikan samandar (Siganidae ) adalah jaring insang dengan ukuran mata jaring 3, 0 inch dan 3,5 inch. Hal ini dikarenakan kurva selektifitas ukuran mata jaring 3,0 inch dan 3,5 inch cenderung membentuk kurva normal yang artinya hanya memiliki satu nilai optimum dibandingkan dengan kurva selektifitas ukuran mata jaring 2,0 inch yang cenderung berbentuk kurva bi-modal yang artinya terjadinya fluktuatif yang mengakibatkan adanya peningkatan nilai optimum lebih dari satu.
Kondisi Perikanan Pancing Tuna Skala Kecil di Dusun Parigi Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah Agustinus Tupamahu; Filkha A. Makatita; Ruslan H. S. Tawari
Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Vol 11 No 1 (2022): Amanisal: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/amanisalv11i1p19-30

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi perikanan pancing tuna di dusun Parigi Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-April 2019 di dusun Parigi Maluku Tengah melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan nelayan pancing tuna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit penangkapan pancing tuna terdiri dari kapal dengan dimensi rata-rata (LxBxD) adalah 8,2x1,1x0,8 m menggunakan pancing ulur yang dioperasikan oleh satu orang nelayan dengan jumlah keseluruhan nelayan adalah 198 orang yang sebagian besar membentuk 3 kelompok usaha. Operasi penangkapan dilakukan di rumpon laut dalam dengan jarak tempuh dari fishing base 14 – 34 mil, hasil tangkapan utama adalah tuna madidihang yang dijadikan produk tuna loin yang dijual kepada pedagang pengumpul. Sarana dan prasarana penunjang kegiatan penangkapan ikan seperti penyalur BBM, toko bahan dan alat tangkap, tempat tambatan kapal.