Claim Missing Document
Check
Articles

Urgensi Regulasi Khusus Praktik Surogasi dalam Perspektif Hukum Perlindungan Perempuan dan Anak di Indonesia Salwia Malu; Moh. Rusdianto U. Puluhulawa; Waode Mustika
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.989

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah hukum terkait praktik surogasi di Indonesia yang hingga saat ini belum memiliki pengaturan hukum yang jelas dan spesifik. Ketiadaan regulasi menyebabkan praktik ini berlangsung tanpa pengawasan dan berpotensi besar menjadi bentuk eksploitasi terhadap perempuan, khususnya ketika dilakukan dalam konteks komersial yang memanfaatkan kondisi ekonomi yang rentan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana praktik surogasi dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perdagangan orang berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), serta untuk mengkaji urgensi pembentukan regulasi khusus yang mengatur praktik surogasi secara komprehensif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif dengan analisis terhadap peraturan perundang-undangan, literatur hukum, dan dokumen relevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun UU TPPO menyebut eksploitasi reproduksi sebagai salah satu bentuk perdagangan orang, praktik surogasi belum secara eksplisit diatur di dalamnya, sehingga menimbulkan kekosongan hukum. Oleh karena itu, diperlukan pembentukan regulasi khusus yang tidak hanya mengatur secara teknis prosedur surogasi, tetapi juga menjamin perlindungan hukum bagi ibu pengganti dan anak yang dilahirkan, serta mencegah penyalahgunaan praktik ini oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pertentangan Antara Literasi Kesehatan Seksual Dan Pemali: Deskripsi Pada Remaja Di Desa Ayula Selatan Nasiru, La Ode Gusman; Juniarti, Gita; Mustika, Waode
Jurnal Kajian Ilmiah Vol. 26 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Publikasi (LPPMP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/bgavg423

Abstract

This study analyzes the management of sexual health information among adolescents in Ayula Selatan Village, Gorontalo, amidst the challenges of social taboos, conservative values, and vulnerability to myths. The Elaboration Likelihood Model (ELM) was used in this study. The purpose of this study is to identify the message processing pathways, i.e. central or peripheral pathways, used by adolescents. This study adopted a mixed methods method with an explanatory sequential design to complete the analysis in this study. Quantitative data from 76 respondents measured adolescents' understanding of sexual health myths and facts, combined with in-depth interview data from selected respondents. The results showed an imbalance in adolescents' knowledge about myths and facts related to sexual health. In addition, information about sexual health tends to be obtained from digital media without assistance from parents or teachers. A sense of taboo and embarrassment to ask questions is one of the reasons why adolescents discuss with peers rather than adults. Another interesting finding shows that adolescents also discuss with artificial intelligence to validate their knowledge about sexual health. ELM analysis found that the majority of adolescents used peripheral pathways in this study. They accepted messages based on non-message cues such as influencer popularity, language style and aesthetic visualization. The adolescents disregarded the quality of arguments. The dominance of this pathway has consequences in the form of temporary changes in attitudes and the risk of spreading misinformation. This study suggests designing adaptive educational programs and strengthening the role of family and school as credible sources.