Claim Missing Document
Check
Articles

STATUS MINERAL Fe DAN Mn PADA KAMBING DI DATARAN RENDAH DAN DATARAN TINGGI KABUPATEN KENDAL (Fe and Mn Status of the Goats in the Upland and Lowland Areas of Kendal Regency) Prasetyo, Eko; Purnomoadi, Agung; Achmadi, Joelal
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 1 (2014): Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.29 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengkaji perbedaan produksi pada kambing yang dipelihara pada ketinggian yang berbeda di Kabupaten Kendal berdasarkan dari status mineral Fe dan Mn dengan mengamati kandungan pada tanah, air, pakan dan serum darah kambing. Pengambilan sampel tanah, air minum, pakan dan serum kambing dilakukan di kedua kecamatan yaitu Kecamatan Patebon dengan ketinggian + 4 m dpl dan Kecamatan Sukorejo + 1000 m dpl. Sampel darah berasal 30 ekor kambing dengan umur + 1 tahun yang tiap wilayahnya masing – masing 15 ekor. Pengambilan sampel pakan, tanah dan air minum dilakukan di daerah pemeliharaan kambing. Kadar mineral Fe dan Mn  dianalisis dengan menggunakan alat atomic absorbance spectrophotometer (AAS). Data data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji-t untuk mengatahui perbedaan yang terdapat pada dataran tinggi dan dataran rendah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan Fe dan Mn pada serum kambing di dataran tinggi dengan dataran rendah tidak berbeda nyata (P>0,05). Status mineral Fe kambing di dataran tinggi lebih tinggi dan dataran rendah mengalami defiseinsi. Status mineral Mn di kedua wilayah sudah tercukupi.Kata kunci : zat besi; mangan; kambing; dataran tinggi; dataran rendah  ABSTRACT             The aim of this research was to study the mineral Fe and Mn status of the goats in the upland and lowland areas of Kendal Regency, by observing the Fe and Mn contents in soil, water, feed, and goats blood serum. Samples of soil, water, and feeds were taken in the upland area in District of Sukorejo (+ 1000 m above sea level) and lowland area in District of Patebon (+ 4 m above sea level). Samples of blood serum were taken from 30 goats (+ 1 year old) namely 15 goats in the upland and 15 goats in the lowland area. Mineral Fe and Mn concentrations of samples were analysed using atomic absorbance spectrophotometer (AAS). The data were analysed using t-test. The result of this research showed that there were no difference between Fe and Mn concentration of goat serum in the upland and lowland area. Mineral Fe status of the goats in upland area and lowland area were deficient. Mn status in both area was enough for daily needs of goatKeyword : iron; manganese; goats; upland; lowland
PENGARUH KANDUNGANTOTAL DIGESTIBLE NUTRIENTS RANSUM TERHADAP KELUARAN KREATININ PADA SAPI MADURA JANTAN Akbar, Ilham; Rianto, Edy; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 3 (2013): Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.855 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jumlah kreatinin pada sapi Madura yang diberi pakan dengan kandungantotal digestible nutrients(TDN) yang berbeda.Penelitian dilakukan di kandang Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Penelitian menggunakan sapi Madura jantan 12 ekor dengan bobot 153,75kg (CV= 7,78%). Jumlah bahan kering pakan diberikan 3% dari bobot badan sapi dengan pakan kasar menggunakan rumput gajah yang dikeringkan (hay) dan konsentrat terdiri dari bahan pakan dedak, pollard, bungkil kedelai dan gaplek.Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL).Perlakuan pakan yang diberikan memiliki protein kasar 14% dengan variasi TDN antara 50%; 60% dan 70%.Keluaran kreatinin pada pengambilan urin ke Itidak berbeda nyata (P>0,05) sebesar 202,83 mg/hari, pada pengambilan urin ke II tidak berbeda nyata (P>0,05) sebesar 369,67 mg/hari dan pada pengambilan ke III tidak berbeda nyata (P>0,05) sebesar 415,31 mg/hari.Keluaran kreatinin berhubungan positif dengan bobot badan ternak.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kandungan TDN pakan tidak berpengaruh terhadap keluaran kreatinin sapi Madura jantan.Semakin tinggi bobot badan ternak, semakin tinggi keluaran kreatininnya.
HUBUNGAN ANTARA LINGKAR DADA DENGAN BOBOT BADAN KAMBING JAWARANDU BETINA DI KABUPATEN KENDAL (Correlation between Chest Girth and Body Weight of Female Jawarandu Goat in Kendal Regency) Purwanti, Aprilia Intan; Arifin, Mukh; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 4 (2014): Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.712 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menduga bobot badan (BB) kambing Jawarandu betina melalui pengukuran lingkar dada (LD). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kambing Jawarandu betina yang berumur 3-12 bulan sebanyak 25 ekor dan >12-48 bulan sebanyak 75 ekor. Pengambilan sampel kambing dilakukan dengan cara purposive sampling. Variabel yang diamati adalah bobot badan dan lingkar dada kambing Jawarandu betina. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh angka korelasi (r) pada kelompok umur 3-12 bulan sebesar 0,840, pada kelompok umur >12-48 bulan sebesar 0,902 dan pada semua kelompok umur sebesar 0,938. Hasil korelasi antara lingkar dada dengan bobot badan diperoleh persamaan regresi linier untuk kambing Jawarandu betina kelompok umur 3-12 bulan BB = -22,500+0,693LD, pada kelompok umur >12-48 bulan BB = -47,523+1,109LD dan pada semua kelompok umur BB = -45,145+1,074LD. Persamaan regresi linier tersebut dapat digunakan untuk menduga bobot badan kambing Jawarandu betina yaitu pada semua kelompok umur dengan tingkat keakuratan sebesar 99,95%. Simpulan hasil penelitian ini yaitu persamaan regresi linier dengan variabel lingkar dada  dapat digunakan untuk menduga bobot badan kambing Jawarandu betina pada semua kelompok umur dengan akurat.Kata kunci : Bobot badan; Kambing Jawarandu; Lingkar dada ABSTRACT             This study was aimed to estimate the body weight of female Jawarandu goats based on the chest girth (CG) measurement. The materials used in this study were females Jawarandu goat aged 3-12 months and 12-48 months old as many as 25 and 75 heads, respectively. Goats were selected based on purposive sampling methods. The variables measured were body weight (BW) and CG of age group of goats. The results found that, the correlation (r) between CG and BW in the 3-12 month age group was 0.840, while in the age group >12-48 months was 0.902, while   for all age groups was 0,938 respectively. The correlation between CG and BW was formed in linear regression equations of BW (kg) = 0.693CG (cm) -22.500 for age of 3-12 months, and BW (kg)= 1.109CG (cm) - 47.523 for the age group of >12-48 months, and for all groups age was BW (kg) = 1.074CG(cm) -45.145. These linear regression equations could be used to estimate the body weight of the female Jawarandu goats in all age groups with the accuracy of 99.95%. Conclusion of this study was the linear regression equation with variable chest girth can be used to estimate the body weight of female Jawarandu goats in all age groups accurately.Keywords : Body weight, chest girth, Jawarandu goat.
TOTAL BAKTERI ANAEROB, PRODUKSI GAS DAN LAJU PRODUKSI GAS BIO-DIGESTER DENGAN PENAMBAHAN SEKAM PADI PADA BAHAN BAKU FESES SAPI POTONG Hakim, Luqman Nauval; Nurwantoro, Nurwantoro; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 1, No 2 (2012): Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.567 KB)

Abstract

This study aims to determine the total production of biogas, anaerobic bacterial counts, and the rate of biogas production with the addition of rice husk in cattle fecal material. The research was carried out on October 9, 2010 through June 14, 2011 in Dairy Cattle Science Laboratory, Faculty of Animal Science, Diponegoro University, Semarang. Research materials in the form of fresh feces of cattle by 200 males Java g biogas as the main ingredient, rice husks as much as 8.46 g of additional material, and as much water as a diluent 385.09 g stuffing materials digester. The equipment used is a set of tools digester, pH meter, thermometer, electric scales, aluminum foil, buckets, stirrers, measuring cups and shots. Experiments using completely randomized design (CRD) consisting of 2 treatments and 4 replications. Treatment is T0 (control) with stuffing materials 100% feces and T1 (treatment) with stuffing materials feces and rice hulls. Observed variables include the total gas, total anaerobic bacteria, and the rate of gas production. The data were tested by t test. The results showed that the addition of rice husk in biogas stuffing materials not significant (P> 0.05) on the production of gas and the gas production rate, whereas total anaerobic bacteria showed that there were significant effects (P <0.05). The average biogas production is 206.875 ml for 28 days at T0 and T1 243.75 ml. Total anaerobic bacteria in T0 (control) 0.75 × 107 cfu / g lower (P <0.05) than T1 (treatment) 3.24 × 107 cfu / g. Rice husks can not be used as an additive in the feces of beef cattle to produce biogas.Keywords: biogas, anaerobic bacteria, cow feces, rice husksABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui total produksi biogas, jumlah bakteri anaerob, dan laju produksi biogas dengan penambahan sekam padi pada bahan baku feses sapi potong. Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2010 sampai 14 Juni 2011 di Laboratorium Ilmu Ternak Perah, Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Materi penelitian berupa feses segar dari sapi Jawa jantan sebanyak 200 g sebagai bahan utama pembuatan biogas, sekam padi sebanyak 8,46 g sebagai bahan tambahan, dan air sebanyak 385,09 g sebagai pencair bahan isian digester. Peralatan yang digunakan yaitu seperangkat alat digester, pH meter, termometer, timbangan elektrik, alumunium foil, ember, pengaduk, gelas ukur dan suntikan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah T0 (kontrol) dengan bahan isian 100% feses dan T1 (perlakuan) dengan bahan isian feses dan sekam padi. Variabel yang diamati meliputi total gas, total bakteri anaerob, dan laju produksi gas. Data hasil penelitian diuji dengan uji t. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan sekam padi pada bahan isian biogas tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap produksi gas dan laju produksi gas, sedangkan total bakteri anaerob menunjukkan terdapat pengaruh yang nyata (P < 0,05). Rata-rata produksi biogas adalah 206,875 ml selama 28 hari pada T0 dan pada T1 243,75 ml. Total bakteri anaerob pada T0 (kontrol) 0,75 × 107 cfu/g lebih rendah (P < 0,05) daripada T1 (perlakuan) 3,24 × 107 cfu/g. Sekam padi belum bisa digunakan sebagai bahan tambahan dalam feses sapi potong untuk menghasilkan biogas.Kata kunci: biogas, bakteri anaerob, feses sapi, sekam padi
STATUS MINERAL Ca DAN P KAMBING LOKAL PADA DAERAH DATARAN TINGGI DAN RENDAH DI KABUPATEN KENDAL Arifah, Nurul; Achmadi, Joelal; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.201 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status mineral Ca dan P kambing lokal di daerah dataran tinggi dan dataran rendah di wilayah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah dengan mengamati kandungan Ca dan P pada tanah, air, pakan dan serum darah kambing lokal. Sampel tanah, air, dan pakan diperoleh dari sekitar tempat pemeliharaan kambing di daerah dataran tinggi yaitu di Kecamatan Sukorejo dengan ketinggian + 1000 m dpl dan dataran rendah di Kecamatan Patebon dengan ketinggian + 4 m dpl. Sampel darah berasal dari 30 ekor kambing (umur + 1 tahun) masing-masing 15 ekor di dataran tinggi dan 15 ekor di dataran rendah dengan rataan bobot badan sebesar 29,10 + 4,24 kg. Metode penelitian menggunakan metode survei dengan cara mengamati dan melakukan wawancara dengan peternak kambing di daerah dataran tinggi dan dataran rendah Kabupaten Kendal. Kadar mineral Ca dan P dianalisis dengan menggunakan alat atomic absorbance spectrophotometer (AAS). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji-t. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan Ca dan P tanah, air, tanaman pakan, dan serum kambing di dataran tinggi berbeda nyata (P<0,05) dengan dataran rendah. Status mineral Ca kambing lokal di dataran tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan status mineral Ca kambing lokal di dataran rendah, sedangkan status mineral P kambing lokal di dataran tinggi lebih rendah dibandingkan dengan status mineral P kambing lokal di dataran rendah.
TINGKAH LAKU MAKAN KAMBING KACANG YANG DIBERI PAKAN DENGAN LEVEL PROTEIN-ENERGI BERBEDA Pembuyun, Ikhwal Hardiyanto; Purnomoadi, Agung; Dartosukarno, Sularno
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 4 (2013): Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.023 KB)

Abstract

Lima belas ekor kambing Kacang jantan dengan bobot badan (BB) sekitar 14,28 ± 3,36 kg (CV = 23,55%), digunakan untuk mengukur tingkah laku makan kambing Kacang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan kambing kacang yang diberi pakan dengan level protein-energi berbeda. Kambing tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelompok dengan 3 perlakuan, yaitu pakan T1 (PK 9,20%; TDN 54,67%), T2 (PK 11,67%; TDN 58,61%), dan T3 (PK 18,33%; TDN 65,23%). Parameter yang diukur adalah konsumsi pakan, lama waktu yang digunakan untuk makan, ruminasi, serta efisiensi waktu makan dan ruminasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan PK yang berbeda tidak memberikan perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, tingkah laku makan dan efisiensinya.
HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH TERHADAP BOBOT BADAN KAMBING JAWARANDU JANTAN UMUR MUDA DI KABUPATEN KENDAL JAWA TENGAH (The Correlation between body measurements and body weight of young male Jawarandu goats of Kendal Distric, Central Java) Basbeth, Abdullah Husein; Dilaga, I Wayan Sukarya; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.806 KB)

Abstract

ABSTRAKUkuran-ukuran tubuh ternak dapat dijadikan penduga bobot badan ternak tanpa harus menimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran tubuh yang memiliki hubungan paling kuat dengan bobot badan sebagai penduga bobot badan untuk kambing Jawarandu. Penentuan sampel kambing dengan metode purposive sampling dan diambil dari beberapa kecamatan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah umur ternak, ukuran lebar pinggul (LePi), lebar dada (LeDa), tinggi pinggul (TiPi), tinggi pundak (TiPu), dalam dada (DaDa), lingkar dada (LiDa), panjang tubuh (PaTu), dan bobot badan (BB). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa keeratan hubungan ukuran tubuh terhadap bobot badan pada setiap kelompok umur berbeda-beda yakni kelompok 1 (0-4 bulan): tinggi pinggul dan panjang tubuh (0,942; 0,926), kelompok 2 (>4-8 bulan): lingkar dada dan tinggi pinggul (0,933; 0,900), kelompok 3 (>8-12 bulan): tinggi pundak dan lingkar dada (0,902; 0,900). Persamaan regresi berganda yang muncul ialah kelompok 1: BB (kg) = -20,17 + 0,36 TiPi (cm) + 0,29 PaTu (cm) dengan nilai r = 0,96, kelompok 2: BB (kg) = -34,58 + 0,41 TiPi (cm) + 0,50 LiDa (cm) nilai r = 97, dan kelompok 3: BB (kg) = -45,84 + 0,54 TiPu (cm)+ 0,57 LiDa(cm) dan nilai r = 0,94. Simpulan dari penelitian ini ialah ukuran tubuh tinggi pinggul, panjang tubuh, lingkar dada, dan tinggi pundak dapat digunakan sebagai penduga bobot badan pada kambing Jawarandu jantan berumur 0-12 bulan.Kata kunci : ukuran tubuh; bobot badan; korelasi; kambing Jawarandu ABSTRACTSThe animal body measurements could be used as an estimators of body weight without weighing the animal. This study was aimed to determine the body measurements that highly correlated to body weight for Jawarandu goats. The samples of Jawarandu goats was determined by purposive sampling method and was taken from several sub-districts. Parameters observed in this study were the age of the goat, hip width (HW), chest width (CW), hip height (HH), shoulder height (SH), depth of chest (DC), chest circumference (CC), body length (BL), and body weight (BW). Statistical analysis showed that the correlation of body measurements to body weight at each different age group i.e. group 1 (0-4 months): hip height and body length (0.942; 0.926), group 2 (>4-8 months): chest circumference and hip height (0.933; 0,900), group 3 (>8-12 months): high shoulders and chest circumference (0.902; 0.900). Multiple regression equation that fit in group 1: BW (kg) = -20.17 + 0.36 HH (cm) + 0.29 BL (cm) with a value of r = 0.96, group 2: BW (kg) = -34.58 + 0.41 HH (cm) + 0.50 CC (cm) value of r = 97, and group 3: BW (kg) = -45.84 + 0.54 SH (cm) + 0.57 CC (cm) and the value r = 0.94. The conclusion of this study was the hip height, body length, chest circumference, and shoulder high could be used as estimators Jawarandu body weight in male goats aged 0-12 months.Keywords: body measurements; body size; correlation; Jawarandu goat
PERBANDINGAN PERSENTASE KULIT ANTARA KAMBING KEJOBONG, KAMBING PERANAKAN ETTAWAH DAN KAMBING KACANG JANTAN UMUR SATU TAHUN Kusuma, Arya; Purnomoadi, Agung; Al-Baari, Ahmad Ni'matullah
Animal Agriculture Journal Vol 2, No 1 (2013): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.617 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji perbandingan persentase kulit pada kambing Kejobong, kambing Peranakan Ettawah (PE) dan kambing Kacang. Penelitian disusun berdasarkan rancangan Uji F menggunakan bantuan SAS sistem dengan menggunakan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kulit paling tinggi pada kambing PE sedangkan kambing Kacang mempunyai persentase kulit paling rendah. Tidak terdapat perbedaan persentase berat kulit pada kambing Kejobong dengan kambing PE dan Kacang.Kata kunci: kulit; kambing Kejobong; kambing Peranakan Ettawah; kambing Kacang.ABSTRACT This study aimed to identify and compare of hide percentage of Kejobong, Ettawah grade (PE) and Kacang goats. The research is based on the design of relief F test using the SAS system by using four replications. The results showed that percentage of the hide in PE goats was the highest while Kacang goats was the lowest. There was no difference in the percentage of hide between Kejobong goats PE and Kacang goats.Key Words: hide; Kejobong; Ettawah grade; Kacang goats.
BOBOT BADAN, TINGGI PINGGUL, LEBAR PINGGUL DAN PANJANG PINGGUL KAMBING KACANG BETINA DI KABUPATEN KARANGANYAR (Body Weight, Hip Height, Hip Width, and Hip Length of Kacang Goat in Karaganyar Regency) Mia Putri, Aneda Gian; Purnomoadi, Agung; Purbowati, Endang
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.537 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bobot badan (BB), tinggi pinggul (TgPg), lebar pinggul (LbPg), dan panjang pinggul (PjPg), kambing Kacang betina pada kelompok umur yang berbeda di kabupaten Karanganyar. Materi penelitian berupa 140 ekor kambing Kacang betina yang dikelompokkan dalam 7 kelompok umur yang berbeda, yaitu(1) 0-3 bulan, (2) >3-6 bulan, (3) >6-12 bulan, (4) poel 1, (5)poel 2, (6)poel 3, dan (7) poel 4, masing-masing sebanyak 20 ekor. Penelitian ini menggunakan metode survey, penentuan lokasi dan sampel ternak berdasarkan metode purposive sampling. Variabel yang diamati adalah BB, TgPg, LbPg dan PjPg. Data hasil penelitian dianalisis dengan Program SPSS analisis one way Anova, dilanjutkan uji wilayah berganda dari Duncan apabila ada perbedaan. Hasil penelitian menunjukan bahwaBB kambing Kacang betina pada semua kelompok umur berbeda nyata (P<0,05), kecuali pada kelompok 3 dan 4 tidak berbeda nyata (P>0,05). TgPg kambing Kacang betina pada kelompok 1-4 berbeda nyata (P<0,05), namun pada kelompok 5-7 tidak berbeda nyata (P>0,05). LbPg kambing Kacang betina pada kelompok 1 berbeda nyata (P<0,05), namun pada kelompok umur 2 sampai 7 tidak berbeda nyata (P>0,05). PjPg kambing Kacang betina pada kelompok 1 dan 2 berbeda nyata (P<0,05), pada kelompok umur 3 sampai7 tidak berbeda nyata (P>0,05). Simpulan hasil penelitian ini adalah BB, TgPg, LbPg dan PjPg kambing Kacang betina di Karanganyar mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya umur namun dengan pertambahan yang berbeda. Pertambahan BB paling besar pada umur <6 bulan, dan mulai melambat pada umur >18 bulan. TgPg pada umur >24 bulan sudah tidak mengalami pertumbuhan yang berarti, LbPg dan PjPg mengalami pertambahan ukuran paling tinggi pada umur <3 bulan. Kata kunci: kambing Kacang; bobot badan; tinggi pinggul; lebar pinggul; panjang Pinggul ABSTRACT            This study was aimed to determine body weight (BW), hip height (HH), hip width (HW), and hip length (HL) of female Kacang goats in different age groups in the Karanganyar regency. One hundred forty headsof not pregnant female Kacang goats were grouped in 7 age groups, namely (1) 0-3 months, (2) >3-6 months, (3) > 6-12 months, (4) eruption 1, (5)eruption2,(6) eruption3, and (7) eruption 4, respectively, each group contained 20 heads. This study was conducted by a survey method, in which location and animal samples were determined by purposive sampling method. The variables measured were BW, HH, HW, dan HL. Data were analyzed with SPSS version 16 with one way anova, followed by the Duncan multipletest if there was a difference. The results showed that the BW of female Kacang goats in all age groups were significantly different (P < 0.05), except in groups 3 and 4 (P > 0.05). HH of female Kacang goats in groups 1-4 were difference (P < 0.05), but the 5-7 group was not difference (P > 0.05). Female Kacang goats HW in group 1 was s difference(P < 0.05), but in the age group of 2 to 7 were not difference(P > 0.05). HL of female Kacang goats in group 1 and 2 were difference(P < 0.05), but in the age group 3 to 7 were not difference (P > 0.05). Conclusion of this study were BW, HH, HW, dan HL of females Kacang goats in Karanganyar was increased with age with a different growth rates. Greatest BW gain was found at age less than 6 months, and start to decrease at age higher than 18 months. HH at age 24 months had notgrown significantly, while the highest grow of the HW and HL was at age < 3 months.Key words : Kacang goat; body weight; hip height; hip width; hip length
PERBANDINGAN KUALITAS VERMIKOMPOS YANG DIHASILKAN DARI FESES SAPI DAN FESES KERBAU (Comparison of Vermicompost Quality made from Feces of Cattle and Buffalo) Dwiyantono, Rifky; Sutaryo, Sutaryo; Purnomoadi, Agung
Animal Agriculture Journal Vol 3, No 2 (2014): Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Animal Agriculture Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.089 KB)

Abstract

ABSTRAK           Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan feses sapi dan feses kerbau terhadap kualitas vermikompos dilihat dari rasio C/N, pH dan uji organoleptik. Analisis penelitian menggunakan t-test Independent dengan 16 sampel, 8 sampel feses sapi dan 8 sampel feses kerbau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rasio C/N vermikompos dari sapi 11,89 dan feses kerbau 12,09. Uji hedonik vermikompos (bau, warna dan tekstur), telah memenuhi standar SNI dan pH vermikompos feses sapi 6,28 dan feses kerbau 6,65. Perbedaan jenis feses sapi dan feses kerbau tidak mempengaruhi kualitas vermikompos. Kata kunci : vermikompos; feses sapi; feses kerbau ABSTRACT           The aim of the study was to study to determine differences of the feces of the cattle and the buffalo on the vermicompost quality evaluated by the C/N ratio, pH and organoleptic tests. The data was analyzed using independent t-test on 16 samples, 8 samples cattle feces and 8 samples buffalo feces. The results showed that C/N ratio of vermicompost from cattle feces was 11.89 and the buffalo feces was 12.09. The vermicompost hedonic test (smell, color and texture), has satisfied the SNI standard and the pH of the cattle and buffalo feces vermicompost were 6.28 and 6.65. The different types feces from the cattle and the buffalo feces did not affect the vermicompost quality. Key word : Vermicompost; cattle feces; buffalo feces
Co-Authors A M Legowo Abdullah Husein Basbeth, Abdullah Husein Abeng, Doni Adi Rahman Satrio Adiwinarti, R.R. Retno Adji Prasetya, Andika Agustina Wonga Bela Aisyah Nurhajah Al-Baari, Ahmad Ni'matullah Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Arifin Hadi, Mukh Arya Kusuma Ayu Saputri, Ajeng Damaryanto Widharto Dewi, Giovani Surya Dhuhitta, Aryya Mulya Dian Wahyu Harjanti DIANA DELVIA NANDA Dwiyantono, Rifky Dzakiyah Nur Aziza Edo Muhamad Hadad Gibran, Edo Muhamad Edy Rianto EDY RIANTO Edy Riyanto Endang Purbowati Farah Nabila Fredynanta Saputra Galuh Estu Prihatiningsih Hakim, Aan Lukman herwinda, fauzia alma Hijriyatul Untsayaini Muharramatin Niam I Gede Suparta Budisatria I Wayan Sukarya Dilaga Ibnu Adib Fuady Idayanti, Rahma Wulan Ilham Akbar Joelal Achmadi Kustantinah Kustantinah Limbang Kustiawan Nuswantara Lintang Sulistyaning Utami Lipiyanto, Ony Luqman Nauval Hakim M. Istiadi Mia Putri, Aneda Gian Muhammad, Bayu Mukh Arifin Nain Ufidiyati Nur Azzimahtul Zahroh Nur Syahrul, Alfian Nurhidayat Nurhidayat NURUL ARIFAH Nurwantoro . Pembuyun, Ikhwal Hardiyanto Prasojo, Imam Hakim Puji Lestari, Endang Purwanti, Aprilia Intan Restitrisnani, Vita Retno Adiwinarti Retno Adiwiniarti, Retno Rita Purwasih Rohani, Tatik Rusman Rusman S. Soedarsono Satrio, Adi Rahman Sri Lestari Sri Mawati Sularno Darto Sukarno, Sularno Darto Sularno Dartosukarno Sunarso . Susanto, Setio Suseno, Satrio Tegar Sutaryo , Sutaryo Sutaryo Sutaryo Sutaryo Sutaryo Sutaryo Suwasono, Patah Tunggadewi, Faustina Helene V P Bintoro Vita Restitrisnani Wibowo, Septrian Yusantyo Wisnuwati, Wisnuwati Yayuki, Fendi