Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hasil program Pemberdayaan Koperasi Nira Perwira Terhadap Kesejahteraan Petani Gula Desa Candinata Pramana, Rangga Budi; Santoso, Joko; Windiasih, Rili
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 2 No 1 (2022): Jurnal Interaksi Volume 2 Nomor 1 (Back Issue September 2022)
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/jis.v2i1.8178

Abstract

Abstrak Desa Candinata merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kutasari, Purbalingga, Jawa Tengah. Letak geografis desa ini berada di sebelah utara Desa Karangjengkol, selatan Desa Karangcegak, sebelah barat Desa Candiwulan dan Sebelah timur Desa Bumisari Kecamatan Bojongsari. Desa Candinata menjadi desa dengan lingkungan yang cukup strategis terkhusus pada bidang pertanian. Desa yang hampir dikelilingi oleh tanaman kelapa ini masih mengalami permasalahan ekonomi dan pendidikan yang rendah. Perkembangan pembangunan yang cukup mengalami perubahan didorong kuat oleh partisipasi dan kesadaran masyarakat Desa Candinata. Dengan hasil bumi yang melimpah, namun kurangnya SDM yang rendah menjadikan desa ini mengalami keterpurukan dalam bidang ekonomi. LPPSLH Purwokerto bersama pemerintah daerah Desa Candinata, Koperasi Nira Perwira dan Masyarakat bersama-sama mencoba membangkitkan perekonomian dengan menciptakan inovasi baru. Inovasi gula semut secara perlahan mulai diterima oleh masyarakat. Sosialisasi terkait inovasi gula semut gencar dilakukan guna mendapatkan respons dari masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai penderes. Respons masyarakat yang cukup baik menjadikan program-program yang direncanakan oleh pemerintah daerah, koperasi Nira Perwira dan masyarakat dapat berjalan dengan baik. Kata kunci: Pemberdayaan Petani, Partisipasi Masyarakat, Hasil Pemberdayaan. Abstract Candinata Village is one of the villages in Kutasari District, Purbalingga, Central Java. The geographical location of this village is to the north of Karangjengkol Village, south of Karangcegak Village, west of Candiwulan Village and east of Bumisari Village, Bojongsari District. Candinata Village is a village with a strategic environment, especially in the agricultural sector. This village, which is almost surrounded by coconut plantations, is still experiencing economic problems and low education. Developmental developments that have undergone significant changes are driven strongly by the participation and awareness of the people of Candinata Village. With abundant agricultural products, but the lack of low human resources makes this village experience a downturn in the economic field. LPPSLH Purwokerto together with the local government of Candinata Village, the Nira Perwira Cooperative and the Community are jointly trying to revive the economy by creating new innovations. The innovation of ant sugar is slowly starting to be accepted by the public. Socialization related to the innovation of ant sugar was intensively carried out in order to get a response from the community, especially those who work as tappers. Responses ma community that is good enough to make the programs planned by the local government, the Nira Perwira cooperative and the community run well. Keywords: Farmer Empowerment, Community Participation, Empowerment Results.
IMPLIKASI ATAS STRATEGI TOKOH MASYARAKAT DALAM PELEPASAN LAHAN PERTANIAN YANG TERKONVERSI UNTUK KAWASAN INDUSTRI Roihan Zaky, Mohammad; Santoso, Joko; Windiasih, Rili; Puspitasari, Elis
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 9 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i9.2025.3715-3724

Abstract

Sektor pertanian memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, terutama di negara agraris seperti Indonesia. Kabupaten Majalengka pada tahun 2018 memiliki luas lahan pertanian sebesar 50.408 hektar (Badan Pusat Statistik, 2022). Seiring dengan pembangunan, pada tahun 2020 lahan pertanian di kabupaten ini banyak yang beralih fungsi menjadi kawasan industri. Total luas areal produksi pertanian pada tahun 2021 adalah 50.323 hektar lahan pertanian (Badan Pusat Statistik, 2022). Kegiatan alih fungsi lahan yang terjadi di pedesaan merupakan hal yang umum terjadi. Alih fungsi lahan di pedesaan biasanya melibatkan tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat juga turut berperan dalam pelepasan lahan pertanian. Permasalahan dalam penelitian ini meliputi: 1) Strategi apa saja yang digunakan tokoh masyarakat dalam melepaskan lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi kawasan industri di Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Majalengka? 2) Bagaimana implikasi dari strategi tokoh masyarakat dalam melepaskan lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi kawasan industri di Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Majalengka. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, sumber datanya adalah tokoh masyarakat di Kecamatan Sumber Jaya dan masyarakat terdampak alih fungsi lahan. Strategi yang dilakukan masyarakat meliputi strategi komunikasi personal dan struktural; strategi kultural dan keagamaan; strategi persuasif berbasis relasi sosial; dan strategi tokoh masyarakat sebagai mediator. Kemudian, implikasi dari strategi tokoh masyarakat dalam alih fungsi lahan adalah, tokoh masyarakat terkesan membiarkan, sehingga menimbulkan ketegangan setelah lahan dilepas; masyarakat kehilangan mata pencaharian sebagai petani karena lahannya telah dijual; terjadi degradasi ekologi dan ketidakseimbangan fungsi spasial yang berdampak.
Tradisi Grebeg Gethuk: Studi tentang Kendala dan Keberlanjutan Tradisi Grebeg Gethuk di Kota Magelang Azahro, Sekar Aprilia; Suyanto, Edy; Windiasih, Rili
YASIN Vol 5 No 6 (2025): DESEMBER
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v5i6.7847

Abstract

Grebeg Gethuk is a distinctive tradition of Magelang City that highlights the traditional food getuk as a symbol of regional cultural identity. The uniqueness of this tradition has earned Magelang the nickname “City of Getuk” and strengthened the image of local culture within the community. This study aims to fill the gap in research concerning the challenges in implementing the Grebeg Gethuk tradition, while also describing its execution and the preventive strategies adopted by the Department of Education and Culture. A qualitative descriptive method was used, drawing on primary and secondary data obtained through interviews, observation, and documentation. The findings reveal that the implementation of Grebeg Gethuk faces several obstacles, including the impact of the Covid-19 pandemic, miscommunication among stakeholders, and budget constraints. Nevertheless, the spirit of cultural preservation remains strong, supported by collaboration among the government, community, artists, and getuk producers. Preventive strategies include enhancing cross-sectoral coordination, optimizing budget use, and introducing innovative adaptations of the tradition in response to current conditions. The study concludes that the continuity of Grebeg Gethuk relies heavily on the collaboration and commitment of all stakeholders to preserve this tradition as a form of living and relevant local wisdom in the modern era.