Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH LEBAR PONDASI DAN KEMIRINGAN LERENG TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH PASIR PADA PEMODELAN FISIK Rifqi, Moch. Fachrur; Rachmansyah, Arief; Munawir, As’ad
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.282 KB)

Abstract

Dengan semakin terbatasnya lahan, masyarakat mulai memanfaatkan lereng sebagai alternatif tempat mendirikan bangunan tempat tinggal. Pembangunan di atas lereng tentunya sangat berbahaya, karena sifat lereng yang kurang stabil dapat menimbulkan terjadinya kelongsoran sewaktu-waktu. Salah satu bentuk upaya penanggulangannya adalah dengan mengaplikasikan geogrid sebagai bahan perkuatan lereng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi dari lebar pondasi dan kemiringan sudut pada pemodelan fisik lereng tanah pasir yang diperkuat geogrid. Pada penelitian ini digunakan 2 lapisan geogrid, rasio jarak pondasi dari tepi lereng (s/B) sebesar 2, dan kepadatan relatif sebesar 74%. Digunakan 3 variasi lebar pondasi yaitu 4cm, 6cm, dan 8cm. Sedangkan untuk kemiringan lereng digunakan 3 variasi juga yaitu 46o, 51o, dan 56o. Dari percobaan, didapatkan bahwa peningkatan beban ultimit yang paling maksimum adalah pada pondasi dengan lebar 4 cm dan kemiringan sudut lereng 46o.   Kata kunci: lereng, pasir, geogrid, sudut, lebar, pondasi
PENGARUH LEBAR PONDASI DAN PERKUATAN GEOGRID TERHADAP DAYA DUKUNG LERENG TANAH PASIR KEMIRINGAN 510 Prasetyo, Raenal Adji; Munawir, As’ad; Rachmansyah, Arief
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.748 KB)

Abstract

Bangunan berupa gedung atau perumahan diatas lereng semakin banyak dikarenakan keterbatasan  lahan. Lereng yang dibebani diatasnya sangat rawan dan dapat menyebabkan longsor. Banyak macam-macam cara dan bahan untuk memperkuat tanah. Geogrid merupakan bahan perkuatan tanah yang dapat diterapkan di lereng. Dalam penelitian ini digunakan pemodelan fisik lereng tanah pasir di dalam kotak uji coba yang kemudian diberi beban hingga runtuh. Pasir yang digunakan dipadatkan hingga 74% dan kemiringan lereng ditentukan sebesar 510. Variasi yang digunakan adalah lebar pondasi yaitu 4 cm, 6 cm dan 8cm. Sedangkan variabel perkuatan adalah jumlah geogrid yang dipasang yaitu satu, dua dan tiga lapis. Lebar pondasi berbanding terbalik dengan beban runtuh yang dapat ditahan. Sedangkan jumlah lapis geogrid berbanding lurus dengan daya dukung. Jumlah lapisan geogrid adalah variabel yang paling berpengaruh dibanding dengan lebar pondasi pada lereng pasir dengan kemiringan 510. Kata kunci : daya dukung pondasi, lereng, geogrid, variasi jumlah lapis geogrid, variasi lebar pondasi.
Pengaruh Penambahan Bahan Stabilisasi Merk ”X” Terhadap Nilai California Bearing Ratio (CBR) Hidayat, Mahesa; Rachmansyah, Arief; Zaika, Yulvi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.626 KB)

Abstract

Nilai CBR suatu bahan merupakan hal yang sangat diperhitungkan pada kontruksi baik jalan ataupun konstruksi lainnya. Penggunaan tanah yang distabilisasi untuk digunakan sebagai bahan konstruksi merupakan sebuah alternatif. Salah satu caranyaberupa meningkatkan kerapatan tanah dengan cara pemadatan dan mencampur dengan bahan stabilisasi tambahan untuk meningkatkan sifat-sifat tanah.Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan stabilisasi merk “X” yang diproduksi Chemilink Technologies Group yang merupakan bahan polimer dalam bentuk serbuk. Bahan ini dapat merubah sifat fisis dan mekanis tanah seperti meningkatkan konsistensi tanah, meningkatkan kepadatan tanah, meningkatkan kekuatan tanah, dsb. Tanah yang digunakan adalah tanah yang tidak dapat digunakan untuk timbunan jalan menurut spesifikasi umum PU yang berasal dari Jalan Raya Caruban – Ngawi, Desa Purworejo, Kecamatan Pilang Kenceng, Kabupaten Madiun.Setelah dicampurkan bahan stabilisasi dengan variasi kadar 2.50%, 3.00%, 3.25%, 3.50%, 4.00% dan 4.50% terjadi perubahan pada nilai batas atterberg yaitu penurunan PI seiring bertambahnya kadar bahan stabilisasi. Pada tanah asli PI sebesar 48,01% dan perubahan terbesar pada kadar 4.5% sebesar 29.86%. Lalu pada specific gravity juga terjadi peningkatan, dari Gs tanah asli sebesar 2.62 menjadi 2.701 pada kadar bahan stabilisasi 4.5%. Kemudian pada uji pemadatan tidak ada korelasi pasti pada nilai OMC namun terjadi peningkatan pada nilai berat isi kering maksimum akibat reaksi bahan stabilisasi yang memecahkan gumpalan-gumpalan lempung sehingga tercapai kepadatan yang lebih. Pada uji CBR terjadi peningkatan nilai CBR akibat penambahan bahan stabilisasi, peningkatan jumlah tumbukan, dan penambahan lama waktu curing. Didapatkan korelasi antara jumlah tumbukan peningkatan CBR bahwa peningkatan nilai CBR pada tumbukan 56 dan 65 lebih baik dibanding 10 dan 30 tumbukan. Kemudian pada tumbukan 56 dan 65 terlihat korelasi yang jelas akibat lama waktu curing yaitu semakin lama waktu curing maka CBR yang didapat lebih tinggi. Dan nilai CBR yang melebihi nilai CBR agregat A terjadi pada kadar bahan stabilisasi 4.0% dan 4.5% pada waktu curing 7 hari baik 56 maupun 65 tumbukan yaitu untuk 4.0% sebesar 98.659% dan  97.920% lalu 4.5% sebesar 100.924% dan111.530%. Kata kunci:Stabilisasi Tanah, Lempung Ekspansif,PI, Specific Gravity, CBR, Kepadatan, Curing
IDENTIFIKASI RESERVOAR DAERAH PANASBUMI DENGAN METODE GEOMAGNETIK DAERAH BLAWAN KECAMATAN SEMPOL KABUPATEN BONDOWOSO Afandi, Akhmad; Maryanto, Sukir; Rachmansyah, Arief
Jurnal Neutrino JURNAL NEUTRINO (Vol 6, No 1
Publisher : Department of Physics, Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.025 KB) | DOI: 10.18860/neu.v0i0.2441

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang identifikasi reservoar panasbumi dengan metode geomagnetik daerah Blawan Kecamatan Sempol Kabupaten Bondowoso. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat Proton Precision Magnetometer (PPM-856), Global Positioning System (GPS) dan termometer. Luas area penelitian 1100 meter dan 650 meter dengan menggunakan spasi 50 meter. Pengolahan data menggunakan koreksi IGRF, diurnal, pengangkatan ke atas dan reduksi ke kutub yang berguna untuk memudahkan interpretasi. Nilai kontur anomali lokal sekitar -800 nT sampai 960 nT. Pemodelan 2 dimensi menggunakan metode talwani menghasilkan pola distribusi manifestasi panasbumi berasal dari Pegunungan Kendeng yang mengalir ke Blawan melalui celah atau patahan. Reservoar panasbumi belawan terjadi akibat adanya intrusi batuan gunungapi sehingga pada daerah tersebut memiliki nilai suseptibilitas yang rendah dan suhunya sangat panas. Potensi lokasi reservoar berada di penampang A-B pada kedalaman 889 meter dan D-E pada kedalaman 905 meter. Pemodelan 3 dimensi menghasilkan volume sebesar 133.16 juta m3, suhu reservoar 70.2oC dan rapat daya spekulatif 10 MW/km2 serta konversi energi 10%.
STUDI POTENSI ENERGI GEOTHERMAL BLAWAN- IJEN, JAWA TIMUR BERDASARKAN METODE GRAVITY Raehanayati, Raehanayati; Rachmansyah, Arief; Maryanto, Sukir
Jurnal Neutrino JURNAL NEUTRINO (Vol 6, No 1
Publisher : Department of Physics, Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.573 KB) | DOI: 10.18860/neu.v0i0.2444

Abstract

Penelitian ini merupakan studi awal untuk menentukan daerah yang memiliki potensi   panasbumi   berdasarkan   pengukuran   gayaberat   di   Blawan-Ijen,   Jawa   Timur. Pengukuran data primer dilakukan dengan menggunakan Gravitimeter LaCoste Romberg tipe G-1053. Data anomali Bouger dari hasil perhitungan koreksi-koreksi metode gayaberat kemudian dibawa ke bidang datar selanjutnya dilakukan pemisahan anomali regional dan anomali sisa dengan menggunakan metode kontinuasi ke  atas. Hasil interpretasi terhadap anomali sisa yang dilakukan pada tiga penampang adalah penampang A-A’ nilai densitasnya yaitu: ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.80 gr/cm3 , ρ3=2.67 gr/cm3, dan ρ4=2.69 gr/cm3, sedangkan untuk penampang B-B’ nilai densitasnya adalah ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3, dan untuk penampang C-C’  nilai  densitasnya yaitu  ρ1=2.585 gr/cm3,  ρ2=2.82 gr/cm3,  ρ3=2.67 gr/cm3 dan ρ4=2.684 gr/cm3. Dari hasil pemodelan 2D dan 3D dapat terlihat bahwa pada daerah yang memiliki manifestasi air panas didominasi oleh batuan ρ1 karena memiliki nilai densitas paling rendah yang berada pada daerah Blawan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa reservoir panasbumi  daerah  Blawan-Ijen  didominasi  oleh  batuan  yang  memiliki  porositas  tinggi (densitas rendah) dan tingkat permeabilitasnya tinggi dengan jumlah volume sebesar 101.20 juta m3.
Analisis Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pembengkakan Biaya (Cost Overrun) pada Proyek Konstruksi Gedung di Kota Ambon Sahusilawane, Tonny; Bisri, Mohammad; Rachmansyah, Arief
Rekayasa Sipil Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.038 KB)

Abstract

Unsur input dari proyek konstruksi diantaranya man (tenaga kerja), money (biaya), methods (metode), machines (peralatan), materials (bahan) dan market (pasar), semua unsur tersebut perlu diatur sedemikian rupa sehingga proporsi unsur unsur yang menjadi kebutuhan dalam proyek konstruksi tersebut dapat tepat dalam penggunaanya dan proyek dapat berjalan secara efisien. Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji Faktor-faktor apa saja yang paling dominan menyebabkan terjadinya pembengkakan biaya (Cost Overrun) pada proyek konstruksi gedung di kota Ambon. Berdasarkan hasil analisis faktor, faktor-faktor dominan penyebab terjadinya Cost Overrun pada pelaksanaan proyek konstruksi gedung di kota Ambon adalah : Bagian perencanaan yaitu; factor pelaksanaan hubungan kerja; dengan nilai loading factor sebesar 81.9 %. Yang terdiri dari a)tingginya frekwensi perubahan pelaksanaan; b)terlalu banyak pengulangan pekerjaan karena mutu jelek; c)terlalu banyak proyek yang ditangani dalam waktu yang sama; d) kurangnya koordinasi antara kontraktor utama dan sub kontraktor; e)kurangnya koorninasi antara Construction Manger – Perencana–Kontraktor; f) terjadi perbedaan/perselisihan pada proyek; g) Manajer proyek tidak kompeten/cakap. 
Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Ketersediaan Air Baku Di Kabupaten Mojokerto Pujiraharjo, Alwafi; Rachmansyah, Arief; Wijatmiko, Indradi; Suharyanto, Agus; Zaika, Yulvi; Pudyono, Pudyono; Hasyim, M. Hamzah
Rekayasa Sipil Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.72 KB)

Abstract

Air merupakan kebutuhan yang penting dalam kehidupan manusia dimana merupakan sumber daya alam yang harus dijaga ketersediaannya. Perubahan dan penggunaan lahan serta perubahan cuaca dapat menimbulkan perubahan pada kondisi sumber air. Perubahan tersebut dapat mempengaruhi ketersediaan air. Kondisi saat ini di Kabupaten Mojokerto, terdapat beberapa mata air dan sumur yang mengalami penurunan kuantitas. Apabila tidak dilakukan usaha perlindungan dan perbaikan mata air, maka dapat menimbulkan kondisi dimana tidak ada sumber air yang dapat diambil lagi. Untuk lebih memahami masalah kesediaan air di Kabupaten Mojokerto, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kondisi kesediaan air di Kabupaten Mojokerto. Penelitian akan dilakukan dengan mengumpulkan data-data dan informasi yang dapat digunakan dalam analisis keterssediaan air. Data yang diperoleh dapat berupa data primer dan sekunder. Data-data tersebut kemudian juga akan dianalisis dengan adanya pengaruh perubahan iklim. Akibat perubahan iklim debit banjir andalan dari aliran permukaan (run off) diperkirakan menurun drastis, begitu pula air hujan yang akan meresap menjadi air tanah. 
PENGARUH LEBAR PONDASI DAN SUDUT KEMIRINGAN LERENG TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR RC 85% DENGAN PERKUATAN GEOGRID Nizar, Faisal; Rachmansyah, Arief; Munawir, As’ad
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.232 KB)

Abstract

Lereng merupakan salah satu lahan terbuka yang beresiko tinggi dan tidak stabil sehingga banyak kelongsoran yang terjadi. Namun, kelongsoran dapat diantisipasi dengan mengaplikasikan perkuatan geogrid pada lereng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari variasi kemiringan sudut kemiringan lereng dan lebar pondasi yang paling optimum untuk daya dukung tanah yang diperkuat menggunakan geogrid. Penelitian ini digunakan 2 lapisan perkuatan geogrid, rasio jarak pondasi dari tepi lereng sebesar 2B, 3 variasi lebar pondasi sebesar 4cm, 6cm dan 8cm dan 3 variasi sudut kemiringan lereng sebesar 46o, 51o, 56o. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa peningkatan daya dukung maksimum terjadi pada saat pondasi dengan lebar 4cm dan sudut kemiringan lereng 46o. Kata Kunci: Lebar, Sudut, Geogrid, Pondasi, Lereng
PENGARUH LEBAR PONDASI DAN JUMLAH LAPISAN GEOGRID TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (RC) 85% Afifuddin, Annas; Munawir, As’ad; Rachmansyah, Arief
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.253 KB)

Abstract

Penggunaan Geogrid untuk meningkatkan daya dukung tanah telah berkembang pesat utamanya dalam bidang geoteknik. Penggunaan Geogriddapatmeningkatkankemampuanagar dapatdigunakannyapondasidangkalsebagaigantipenggunaanpondasidalam yang relatifmahal. Dibandingkonstruksipondasipadatanahdatar, pondasidangkal yang diletakkandekatlerengdandibebani di atasnyamenghasilkanpengurangandayadukungultimitnya. Berbagai penelitian telah dilakukan terhadap lereng pasir yang diberi perkuatan Geogrid untuk mengevaluasi keunggulannya. Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadappemodelan fisik lereng pasiryang diberi perkuatan Geogrid. Parameter-parameter yang diuji dalam penelitian ini antara variasi lebar pondasi yang digunakan yaitu 4,6, dan 8 cm serta variasi jumlah lapisan perkuatan Geogrid yaitu 1,2,3 lapisan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah dapat diketahui bahwa nilai daya dukung semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah lapis perkuatan Geogrid yang digunakan. Sedangkan kenaikan besar lebar pondasi satu lereng tidak sebanding dengan kenaikan nilai daya dukung pondasi tersebut. Berdasarkan analisis Bearing Capacity Improvement (BCI)dapat diketahui rasio peningkatan daya dukung terbesar terdapat pada lebar pondasi terkecil yang digunakan, yaitu sebesar 4 cm dan jumlah lapisan paling banyak, yaitu sebanyak 3 lapisan. Kata kunci:Geogrid, dayadukung, lerengpasir, lebarpondasi, Lapisan Geogrid, BCI.
PENGARUH PENAMBAHAN ABU AMPAS TEBU DAN KAPUR PADA TANAH EKSPANSIF DI BOJONEGORO TERHADAP NILAI CBR, SWELLING DAN DURABILITAS Sauri, Sofyan; Rachmansyah, Arief; Zaika, Yulvi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.506 KB)

Abstract

Tanah merupakan material dasar yang sangat penting karena merupakan tempat dimana struktur akan didirikan. Banyaknya daerah di Indonesia yang memiliki jenis tanah lempung ekspansif, hampir 20% dari luasan tanah di Pulau Jawa dan kurang lebih 25% dari luasan tanah di Indonesia, salah satunya di Ngasem Bojonegoro. Tanah lempung ekspansif memiliki daya dukung tanah yang rendah pada kondisi muka air yang tinggi, sifat kembang susut (swelling) yang besar dan plastisitas yang tinggi. Kondisi tersebut merugikan bangunan yang ada di atasnya. Dengan kerugian dari akibat kembang susut tanah ekspansif, maka diperlukan stabilisasi untuk mengurangi kembang susut dan meningkatkan daya dukung. Salah satunya dengan menggunakan aditif.Pada penelitian ini aditif yang digunakan adalah kapur dan abu ampas tebu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari aditif tersebut dapat menstabilisasi tanah lempung ekspansif dilihat dari CBR, swelling dan durabilitas dengan perlakuan siklus basah-kering. Tanah di campur dengan 3 variasi campuran yaitu tanah dengan 4% kapur, tanah dengan 8% abu ampas tebu, dan tanah dengan 4% kapur + 8% abu ampas tebu.Masing-masing campuran tanah mengalami siklus basah-kering sebanyak 1 periode, 2 periode, dan 3 periode, 1 periode adalah 1 kali direndam selama 4 hari dan 1 kali diangin-anginkan selama 4 hari. Pengujian dilakukan setelah siklus basah-kering berakhir sesuai ketentuan dan hasil yang di dapat bahwa campuran terbaik adalah dengan kapur 4%, nilai CBR menunjukkan peningkatan yang signifikan  sebesar 1181,49% pada periode pertama, peningkatan sebesar 8.877% di periode kedua dan penurunan yang kecil di periode ketiga serta nilai swelling-nya mengalami penurunan secara signifikan sekitar 99,237%, serta durabilitasnya paling baik dilihat dari perubahan volume tertinggi sekitar 3,05%  dan perubahan berat tertinggi sekitar 0,5%. Kata-kata kunci: lempung ekspansif, kapur, abu ampas tebu, CBR,swelling, durabilitas
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Aditya, Tri Destian Afifuddin, Annas Agung, Annisa Tri Kurnia Agus Suharyanto Agustia, Daffa Fadhiel Aji, Muhammad Satria Bayu Akbarrina, Ailia Rizky Akhmad Afandi Al Islami, Auliya Nusyura Alfi Syahr, Enrico Widy Alfianto, Galih Alwafi Pujiraharjo Amin Setyo Leksono Aminudin Afandhi Andrianto, Haris Anisa Zairina Anjar Pranggawan Azhari Ansor, Zakaria Al Anthon Efani Ardiyansari, Anisa Oktavia Asyifa, Hira Atikah, Laras Bagyo Yanuwiadi Bambang Semedi Bangalino, Arvi Bayuaji, Gerardus David Ady Purnama Chandra, Farhan Prima Darmawan, Wahid Dharmawan, Aditya Leo Dian Novitasari Dirman, Eris Nur Diza, Novia Fara Eko Andi Suryo El Khaldi, Malika Fadh, Ghulam Aghnia Faradita, Putri Agil GITA PERMATA LIANSARI Halim, Lusiani Ferelia Harimurti . Haristama, Iffat Shafwan Harsuko Riniwati Hidayat, Mahesa Hikmawati, Viona Faiqoh Hutama Putra, Made Dwika imaniyah, rifatul Indradi Wijatmiko Iswardhana, Fanny Pramudya Karimah, Maslin Akhlaqul Karl Raffeelino Y.H, Raynard Kartikasari, Retna Ludfi Djakfar M. Hamzah Hasyim Machsusiyah, Firanda Nuriszatul Maharani Pertiwi Koentjoro Marjono Marjono Meisy Putri Rahmawati, Ika Mohammad Bisri Munawir, As'ad Munawir, As’ad Nizar, Faisal Nuddin Harahab Pertiwi, Maharani Pramadana, Farhan Prana, Resa Bagus Dharma Prasetyo, Raenal Adji Pratama, Dicky Rosian Pudyono . PUJI LESTARI Pujo Susilo, Ekki Darmawan Purbiantoro, Arie Putro, Galih Karno Qomariyatus Sholihah Raditya, Achmad Gusti Raehanayati Raehanayati Rahayu Kusumaningrum Rahmadya, Reza Roseno Ratri, Lola Kumala Rifqi, Moch. Fachrur Safitri, Ni Luh Eka Sanjaya, Rofi Trianto Sauri, Sofyan Sjaputra, Rakha Soemarno Soemarno Solimun, Solimun Suhasmoro, Auliyah Rizky Sukir Maryanto Suwandoko, Adiwena Bachtiar Syam's, Nova Dewi Safitri Tonny Sahusilawane Undiprastya, Guruh Wardhana, Febra Ndaru Widagda, Rahamdhana Purwa Wulansari, Yunita Yulvi Zaika Yuniar Yuniar