Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengembangan Perpustakaan Sekolah di SMA Dharma Karya UT Wahyuningsih, Sri Suharmini; Widiyanto, Widiyanto; Rahardjo, Djoko; Sasmita, Surya Adi
Jurnal Abdimas Vol 25, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v25i2.34507

Abstract

Perpustakaan sekolah sebagai pendukung dalam proses belajar mengajar di sekolah. Koleksi yang disediakan merupakan koleksi yang dapat mendukung mata pelajaran, menambah pengetahuan dengan berbagai pengayaan materi mata pelajaran yang diajarkan. Hasil evaluasi menunjukkan Perpustakaan SMA Dharma Karya UT belum memiliki sarana prasaran dan koleksi sesuai yang ditetapkan dalam standar nasional perpustakaan sehingga masih diperlukan untuk dikembangkan. Memperhatikan hal tersebut, maka perlu penambahan sarana prasarana dan koleksi. Tujuan dilakukan kegiatan ini untuk mengembangkan Perpustakaan SMA Dharma Karya UT, sehingga lebih layak dijadikan sumber belajar di sekolah dan juga disesuaikan dengan standar perpustakaan sekolah. Analisis dilakukan untuk mengetahui kondisi awal dari perpustakaan. Kemudian dilakukan pengembangan sesuai dengan standar perpustakaan sekolah. Hasil kegiatan pengembangan SMA Dharma Karya UT menunjukkan perpustakaan lebih diminati siswa dan guru, koleksinya dapat mendukung pengayaan pembelajaran dan, juga dapat mengimbangi akreditasi sekolahnya.
The Effect of Motored Houses on Coliform Pollution in Marine Waters and Its Impact On Public Health, Jayapura City Simbiak, Herlin Mienatha; Imoliana, Wilhelmina Tania; Krismono, Krismono; Rahardjo, Djoko
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 20 No 1 (2023): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 20 No. 1, Januari 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jkl.v20i1.567

Abstract

An anchored house, which stands above seawater, is common in North Jayapura and South Jayapura. Wooden foundations support these houses. People frequently contract waterborne diseases when they use or consume water that is contaminated with pathogenic bacteria, such as coliform bacteria from human feces. In these areas, high levels of coliform bacteria can have an impact on water quality and public health. This study looks into how anchored houses affect total coliform contamination, the number of cases of waterborne disease (WBD), and the link between demographic factors, water quality, and WBD cases. We use the Most Probable Number (MPN) method to detect total coliform bacteria in marine waters. It consists of an initial test using LBS and LBD media for prediction, followed by a second test using Brilliant Green Lactose Bile Broth (BGLBB) media for confirmation. We also use observation and interview methods to identify WBD cases in anchored housing in North Jayapura and South Jayapura districts. North Jayapura has the highest coliform bacteria contamination in marine waters, with an average of 25.7 MPN/100 mL. Similarly, the highest contamination in clean water is in North Jayapura, averaging around 347.6 MPN/100 mL. The demographic characteristics in both districts are mostly men aged 18–65 years with high school education and occupations such as housewives and fishermen. The South Jayapura sub-district has the highest incidence of WBD. Anchored houses have no significant effect on water quality or the incidence of WBD, and there is no correlation between water quality and WBD incidence.
Inovasi Terpadu: Mengubah Sampah Plastik menjadi Eco Bricks demi Keberlanjutan Lingkungan di Kelurahan Kepuhdoko, Jombang, Jawa Timur Hamidah, Emmy; Lisanty, Nina; Rahardjo, Djoko; Sari, Sindy Permata; Anggraini, Dea
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v3i2.5110

Abstract

Sustainable management of plastic waste is an important issue in the context of the environment and community welfare. This community service activity is intended to develop a method for processing plastic waste into eco-bricks in Kepuhdoko Village, Jombang, East Java. A participatory approach was used throughout the process to actively involve the community. The implementing team collects, separates and processes plastic waste into eco-bricks that comply with construction standards. The result was increased public awareness regarding plastic waste management and eco-bricks that can be used in local construction projects. These findings also provide a logical continuation of previous plastic waste management efforts. The implication is that processing plastic waste into eco-bricks is quite a solution in reducing the negative impacts of plastic waste and supporting sustainable development. Pengelolaan sampah plastik yang berkelanjutan menjadi isu penting dalam konteks lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan community service ini dimaksud untuk mengembangkan metode pengolahan sampah plastik menjadi eco bricks di Kelurahan Kepuhdoko, Jombang, Jawa Timur. Pendekatan partisipatif digunakan dalam seluruh proses untuk melibatkan masyarakat secara aktif. Tim pelaksana mengumpulkan, memisahkan, dan mengolah sampah plastik menjadi eco bricks yang sesuai dengan standar konstruksi. Hasilnya adalah peningkatan kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah plastik dan eco bricks yang dapat digunakan dalam proyek konstruksi lokal. Temuan ini juga memberikan kelanjutan logis dari upaya pengelolaan sampah plastik sebelumnya. Implikasinya adalah bahwa pengolahan sampah plastik menjadi eco bricks cukup solutif dalam pengurangan dampak negatif sampah plastik dan mendukung konsep pembangunan berkelanjutan.
Konsentrasi pencemar timbal (Pb) pada sayur lalapan di pasar tradisional dan supermarket di Kota Yogyakarta Tamariska Sharon Christa Bella; Rahardjo, Djoko; Kisworo, Kisworo
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v16i2.1865

Abstract

Lalapan is a popular food consumed. The increase in population, industrial activities, transportation, use of chemical fertilizers and pesticides has led to lead (Pb) pollution in the environment, contaminating vegetables that are to be consumed and posing health risks. Therefore, research was conducted regarding the analysis of Pb pollutant concentrations in lettuce, basil and cucumber sold in traditional markets and supermarkets in the city of Yogyakarta. Samples were extracted using 65% HNO3 and 37% HCl, and then the concentration of Pb in the samples was analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometry. The research results showed that all types of vegetables sold in traditional markets and supermarkets have been contaminated with Pb with concentrations ranging from 0.418 to 1.575 mg/kg, with the highest Pb concentration was found in basil with an average of 1.5156 mg/kg. The average concentrations of Pb in lalapan sold in traditional markets and supermarkets, when compared to the quality standard set by SNI regulation (2009) for cucumber sold in supermarkets N, are still below the safe limit of 0.5 mg/kg for , while the rest have exceeded the quality standard limit. There are significant differences in the concentration of Pb pollutants in vegetables sold in markets and supermarkets, as well as based on sales location, type of vegetable, and vegetable source. The consumption pattern of vegetables ranges from 62-97 g/day and poses health risks as the RQ value is greater than 1. Additionally, it has the potential to cause cancer because ECR > E-4.
Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Lokal Berbasis Pertanian: Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Desa Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur Setyowati; Auliyya, Zikra; Lisanty, Nina; Sidhi, Eko Yuliarsha; Rahardjo, Djoko
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v4i2.6136

Abstract

Gandusari Village, Gandusari District, Trenggalek Regency, East Java Province, has great potential in agriculture, especially in rice crop commodities. This activity aims to improve community welfare by optimizing the use of local agricultural-based resources in Gandusari Village. Thus, better and sustainable village community welfare can be achieved. The method used was to identify the potential obstacles faced by farmers in Gandusari Village and then provide training and assistance according to the needs of the farmers. The activities carried out include training programs, assistance, and focus group discussions (FGD). Each program is implemented by involving the active participation of the Gandusari Village community, especially farmers, to provide practical and theoretical understanding to the community regarding the optimization of local and regional resources. The implementation of the program has gone well and achieved the expected goals. This program has succeeded in increasing rice productivity through more efficient land management and the application of modern agricultural technology. In addition, farmers' knowledge and skills have also increased, especially in product diversification and better irrigation management. Desa Gandusari, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, memiliki potensi besar dalam bidang pertanian, khususnya pada komoditas tanaman padi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lokal berbasis pertanian di Desa Gandusari. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat desa yang lebih baik dan berkelanjutan dapat tercapai. Metode yang digunakan adalah dengan mengidentifikasi potensi dan hambatan yang dihadapi oleh petani Desa Gandusari, kemudian dilakukan pelatihan serta pendampingan sesuai dengan kebutuhan petani tersebut. Kegiatan yang dilakukan meliputi program pelatihan, pendampingan, serta focus group discussion (FGD). Setiap program diimplementasikan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat Desa Gandusari, khususnya para petani untuk memberikan pemahaman praktis maupun teoritis kepada masyarakat mengenai optimalisasi sumberdaya lokal daerah. Pelaksanaan program telah berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. Program ini berhasil meningkatkan produktivitas padi melalui pengelolaan lahan yang lebih efisien dan penerapan teknologi pertanian modern. Selain itu, pengetahuan dan keterampilan petani juga meningkat, terutama dalam diversifikasi produk dan manajemen irigasi yang lebih baik.
Implementasi Penegakan Hukum Disiplin bagi Anggota Polri sebagai Perwujudan Birokrasi Good Governance dan Clean Government Hermansyah, Eko; Toroby, Renida Jozelina; Rahardjo, Djoko
JOPPAS: Journal of Public Policy and Administration Silampari Vol 5 No 2 (2024): JOPPAS: Journal of Public Policy and Administration Silampari
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joppas.v5i2.9684

Abstract

This study aims to determine the Implementation of disciplinary law enforcement for members of the Indonesian National Police as a manifestation of good governance and clean governance bureaucracy. The study uses a qualitative and descriptive methodology. The data collection technique used by researchers in this study was through interviews. Data analysis techniques start with coding, word frequency, hierarchy chart, coding diagram, coding comparison diagram, data display, conclusion drawing, and source triangulation with the help of N-FIVO software. The results of the study indicate that the Implementation of disciplinary law enforcement for members of the Indonesian National Police as a manifestation of good governance and clean governance bureaucracy consists of upholding member discipline, responsibility for duties, obeying the law, exemplary leaders, community service, and preventing extortion. Keywords: Clean Governance, Good Governance, Implementation, Law Enforcement, Indonesian National Police.
Peningkatan Program Peduli Lingkungan Di Area Proyek Rumah Sakit Susanto, Sony; Rahardjo, Djoko; Romadhon, Romadhon; Gardjito, Edy
Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2021): Jurnal Karya Abdi Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.921 KB) | DOI: 10.22437/jkam.v5i3.16684

Abstract

Proyek konstruksi merupakan penumbang terbesar adanya kecelakaan kerja. Salah satu penyebab kecelakaan kerja adalah unsafe action. Tindakan unsafe action disebabkan oleh para pekerja yang kurangnya peduli lingkungan/kebersihan. Dengan alasan tersebut maka peningkatan peduli lingkungan merupakan salah satu upaya dalam mengurangi kecelakaan kerja maupun kenyamanan lingkungan sekitar. Pengabdian ini dilakukan pada salah satu proyek rumah sakit di nganjuk. Tahapan pengabdian ini diantaranya identifikasi, sosialisai dan evaluasi. Hasil dari pengabdian ini adalah adanya peningkatan kepemahaman dari 11 unsur lingkungan yang ditanyakan dan dihadiri oleh perwakilan pimpinan kontraktor/konsultan. Pengabdian ini memerlukan komunikasi / tindakan yang berkelanjutan agar peningkatan lingkungan lebih baik lagi / peningkatan unsur baru dalam lingkungan.
Analisa Risiko Kesehatan Cemaran Krom dalam Beras di Kecamatan Jetis, Yogyakarta: Health Risk Analysis of Chromium Contamination in Rice in Jetis District, Yogyakarta Sinaga, Wulan Sari; Rahardjo, Djoko; Krismono, Krismono
Biospecies Vol. 16 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v16i2.20205

Abstract

The distribution of chromium originating from industrial waste disposal activities into the Opak River can pollute the flow of rice irrigation water which has an impact on food safety, especially rice. This study aims to determine the concentration of hexavalent chromium, the daily intake rate of age groups, and the effect of chromium on health risks. This research was conducted in Jetis District, Bantul, Yogyakarta with 3 sub-district locations: Canden Village, Trimulyo Village, and Sumber Agung Village. The research samples used were 60 rice samples from their own harvest using irrigation water from the Opak River using a random sampling method. Analysis of hexavalent chromium in rice was carried out with a preparation of 15 grams and analyzed using a HACH DR 2700 Spectrophotometer. The results showed that 100% of rice samples in Jetis District were contaminated with hexavalent chromium. The chromium concentration in the 3 villages ranged from 0.054-0.604 mg/kg with the highest mean value of 0.224 mg/kg found in Canden village. The pattern of chromium intake from rice consumption in 3 sub-districts ranged from 0-1909 µg/day with a mean value of 971 µg/day. The average value of chromium intake patterns in 3 sub-districts is far beyond the safe limit set by WHO of 320 µg/day. From the health risk calculations, the Risk Quotient values obtained for the subdistricts of Canden, Trimulyo, and Sumber Agung villages were respectively 3.00, 2.00, and 2.00. The RQ value in 3 sub-districts is above the safe limit set by WHO at RQ > 1. Based on the calculation of the risk of cancer, seen from the ECR value, the results obtained range from 1.E-01 – 2.E-01, this ECR value is far beyond the set safe limit. by WHO is 10-4. Chromium concentration, daily intake rate, consumption patterns, and characteristics of respondents influence health risks. Keywords: Hexavalent Chromium, Rice, Health Risk Analysis   Abstrak Distribusi kromium yang bersumber dari aktivitas pembuangan limbah industri ke Sungai Opak dapat mencemari aliran air irigasi persawahan yang berdampak pada keamanan pangan terutama beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kromium heksavalen, laju asupan harian dari kelompok umur, dan pengaruh kromium terhadap risiko kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta dengan 3 lokasi kelurahan yaitu Desa Canden, Desa Trimulyo dan Desa Sumberagung. Sampel penelitian yang digunakan adalah beras sebanyak 60 sampel yang berasal dari hasil panen sendiri yang memanfaatkan air irigasi sungai Opak dengan metode random sampling. Analisis kromium heksavalen pada beras dilakukan dengan preparasi sebanyak 15 gram dan dianalisis menggunakan alat Spektrofotometer HACH DR 2700. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% sampel beras di Kecamatan Jetis telah terkontaminasi kromium heksavalen. Konsentrasi kromium pada 3 desa berkisar sebesar 0,054-0,604 mg/kg dengan nilai rerata tertinggi sebesar 0,224 mg/kg terdapat di desa Canden. Pola asupan kromium dari konsumsi beras pada 3 kelurahan berkisar 0-1909 µg/hari dengan nilai rerata sebesar 971 µg/hari. Nilai rerata pola asupan kromium di 3 kelurahan jauh melewati batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar 320 µg/hari. Dari perhitungan risiko kesehatan, diperoleh hasil nilai Risk Quotient untuk kelurahan desa Canden, Trimulyo, Sumberagung secara berurutan sebesar 3,00, 2,00, 2,00. Nilai RQ pada 3 kelurahan diatas batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar RQ > 1. Berdasarkan perhitungan risiko terjadinya kanker, dilihat dari nilai ECR diperoleh hasil berkisar1,E-01 – 2,E-01, nilai ECR ini jauh melewati batas aman yang ditetapkan oleh WHO sebesar 10-4. Konsentrasi kromium, laju asupan harian, pola konsumsi, karakteristik responden berpengaruh terhadap risiko kesehatan. Kata kunci: Kromium Heksavalen, Beras, Analisa Risiko Kesehatan
Analisa Resiko Kesehatan Cemaran Kromium (Cr) pada Beras di Kecamatan Banguntapan, Yogyakarta: Health Risk Analysis of Chromium (Cr) Contamination in Rice in Banguntapan District, Yogyakarta Sembiring, Tesalonika br; Rahardjo, Djoko; Krismono, Krismono
Biospecies Vol. 16 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v16i1.20206

Abstract

The leather tanning process using chromium has the potential to cause environmental and health risks. Chromium that is not absorbed by the product will become liquid waste and is simply discharged into water bodies, causing a decrease in water quality, accumulation in soil and rice plants. Rice is the staple food of the Indonesian people and is a source of energy that is needed by the community Rice that has accumulated chromium can be a risk to human health. The purpose of this study is to determine the concentration of hexavalent chromium contained in rice, determine the intake rate based on age group, determine the effect of hexavalent chromium on health risk analysis. The location of this research was in the village of jambidan pedukuhan Combongan, Pamotan, Ponegaran, Kretek Banguntapan sub-district. Hexavalent chromium analysis test on 15 grams of rice samples using HACH DR 2700 Spectrophotometer. Hexavalent chromium in rice samples 0 - 0.901 mg/kg with a mean value of 0.266 mg/kg. The daily chromium intake rate of the community ranged from 0 - 4250 μg / day with an average of 919 μg / day exceeding the quality standard set by WHO of 0.023 μg / day. Health risk analysis of the risk level is unsafe because the RQ value> 1 or the average Non Carcinogen Intake of each Pedukuhan (1.56 mg/kg.day). Carcinogenic Intake in each Pedukuhan The risk level is unsafe because the average intake (6.67E-01) times SF (0.5) ERC value> E-4 exceeds the safe limit set by WHO (E-4). Hexavalent chromium concentration factor is significant with age body weight and length of stay of respondents. Keywods: Hexavalent Chromium, Rice, Health Risk Analysis.   Abstrak Proses penyamakan kulit menggunakan kromium berpotensi menyebabkan risiko lingkungan dan kesehatan, Kromium yang tidak diserap oleh produk akan menjadi limbah cair dan dibuang begitu saja ke badan air sehingga menyebabkan penurunan kualitas air, terjadinya akumulasi pada tanah dan tanaman padi. Beras merukan makan pokok masyarakat Indonesia dan merupakan sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Beras yang sudahterakumulasi kromium dapat menjadi risiko Kesehatan manusia. Tujuan dari penelitian ini dapat mengetahui konsentrasi kromium heksavalen yang terdapat pada beras, mengetahui laju asupan berdasarkan kelompok umur,mengetahui efek kromium heksavalen terhadap Analisis risiko Kesehatan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di desa jambidan pedukuhan Combongan, Pamotan, Ponegaran, Kretek kecamatan Banguntapan. Uji analisis kromium heksavalen pada 15 gram sampel beras menggunakan Spektrofotometer HACH DR 2700. Kromium heksavalen pada sampel beras 0 – 0.901 mg/kg dengan nilai rerata 0.266 mg/kg. Laju asupan kromium harian masyarakat berkisar antara 0 – 4250 μg/hari dengan rerata 919 μg/hari melebihi standar baku mutu yang telah ditetapkan WHO sebesar 0.023 μg/hari. Analisa risiko Kesehatan tingkat resikonya sudah tidak aman dikarenakan nilai RQ > 1 atau rerata Intake Non Karsinogen setiap Pedukuhan(1.56 mg/kg.hari). Intake karsinogenik pada setiap Pedukuhan Tingkat risikonya tidak aman dikarenakan Rerata intake (6.67E-01) di kali SF (0.5) nilai ERC > E-4 melewati batas aman yang sudah di tetapkan WHO (E-4). Faktor konsentrasi kromium heksavalen signifikan dengan umur berat badan dan lama tinggal responden. Kata Kunci: Kromium Heksavalen, Beras, Analisa Resiko Kesehatan.
Analisis Kelayakan Usaha Alpukat dalam Pot di Desa Wisata Jambu Kabupaten Kediri Fauzan, Muhammad Bishma; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Aji, Satriya Bayu; Rahardjo, Djoko
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 5 No. 1 (2025): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v5i1.6511

Abstract

Avocado Kelud cultivation in Jambu Tourism Village, Kediri Regency, using the Tabulampot technique (fruit plants in pots), shows great potential as an agribusiness. This training aims to analyze the financial feasibility of the farming business by highlighting the main problems, such as the limitations of optimal application of the Tabulampot technique and the lack of research on its financial feasibility. Data were obtained from farmers' financial records during 2024 through a purposive sampling method. The analysis was carried out to calculate production costs, income, and financial feasibility indicators, such as Break-Even Point (BEP), Revenue-Cost Ratio (R-C Ratio), and Benefit-Cost Ratio (B-C Ratio). The results showed a total production cost of IDR 18,705,815, resulting in a total income of IDR 51,041,250 with a net profit of IDR 32,335,435. BEP was recorded at IDR 19,108 per kilogram, far below the selling price of IDR 45,000 per kilogram. The R-C Ratio value of 2.97 and B-C Ratio of 1.72 indicate that this business is efficient and profitable. This study emphasizes the importance of innovative marketing strategies, production cost management, and optimization of Tabulampot techniques to maintain product competitiveness in the premium market. This study provides practical recommendations for farmers and stakeholders to increase the productivity and sustainability of Tabulampot-based agribusiness, which can become a model for sustainable farming. Budidaya Alpukat Kelud di Desa Wisata Jambu, Kabupaten Kediri, menggunakan teknik Tabulampot (tanaman buah dalam pot) menunjukkan potensi besar sebagai usaha agribisnis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial usaha tani tersebut dengan menyoroti permasalahan utama, seperti keterbatasan penerapan teknik Tabulampot secara optimal dan minimnya penelitian mengenai kelayakan finansialnya. Data diperoleh melalui metode purposive sampling dari catatan keuangan petani selama tahun 2024. Analisis dilakukan untuk menghitung biaya produksi, pendapatan, serta indikator kelayakan finansial, seperti Break-Even Point (BEP), Revenue-Cost Ratio (R-C Ratio), dan Benefit-Cost Ratio (B-C Ratio). Hasil menunjukkan total biaya produksi sebesar Rp18.705.815 menghasilkan total pendapatan Rp51.041.250 dengan keuntungan bersih Rp32.335.435. BEP tercatat sebesar Rp19.108 per kilogram, jauh di bawah harga jual Rp45.000 per kilogram. Nilai R-C Ratio sebesar 2,97 dan B-C Ratio sebesar 1,72 mengindikasikan bahwa usaha ini sangat efisien dan menguntungkan. Studi ini menekankan pentingnya strategi pemasaran inovatif, pengelolaan biaya produksi, dan optimalisasi teknik Tabulampot untuk mempertahankan daya saing produk di pasar premium. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi petani dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan agribisnis berbasis Tabulampot, yang berpotensi menjadi model usaha tani berkelanjutan.