Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENINGKATAN DAYA TARIK WISATAWAN DAN MEMPERKUAT KETAHANAN PANGAN MELALUI INOVASI DIVERSIFIKASI PRODUK BERBAHAN DASAR IKAN BILIH KHAS DANAU SINGKARAK Ira Desmiati; Siti Aisyah; Indira Karina; Abdullah Munzir; Eni Kamal
Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat Vol 4, No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpstm.v4i2.2257

Abstract

Abstract: Processed products made from Bilih fish typical of Lake Singkarak produced by POKLAHSAR Jaso Danau until now sales only rely on buyers from tourists from Lake Singkarak, while the number of tourists cannot be predicted. It often happens when the accumulation of unsold production stock due to the lack of tourists causes the product to smell rancid because it has been produced for too long. This is because the bilih fish processors have not been able to process bilih fish into other products that are more durable. The solution efforts offered in this community service activity are providing skills training on the technical aspects of food security, good bilih fish processing and food sanitation hygiene, providing skills training in diversifying products in the form of making bilih fish floss and bilih fish crackers, assistance in compiling business management starting from planning, organizing, directing to supervising the products produced and assistance in marketing products through improving marketing strategies by utilizing the internet network or website (e-commerce). This activity produces new products from diversification, namely bilih fish floss and bilih fish crackers. Establishment of business management starting from planning, organizing, directing to supervision of the products produced. Keyword: Bilih Fish, Tourists, Food Security Abstrak: Produk olahan berbahan dasar Ikan bilih khas Danau Singkarak yang dihasilkan oleh POKLAHSAR Jaso Danau hingga saat ini penjualan hanya mengandalkan pembeli dari wisatawan danau Singkarak, sedangkan banyak sedikitnya wisatawan tidak dapat diprediksi kedatangannya. Sering kali terjadi ketika penumpukan stok produksi yang tidak terjual karena sepinya wisatawan yang berkunjung mengakibatkan produk menjadi bau tengik karena sudah terlalu lama diproduksi. Hal tersebut disebabkan karena para pengolah ikan bilih belum mampu mengolah ikan bilih menjadi produk lain yang lebih tahan lama. Upaya solusi yang ditawarkan dalam kegiatan pengabdian ini adalah pemberian pelatihan keterampilan pada aspek teknis ketahanan pangan pengolahan ikan bilih yang baik dan hygiene sanitasi makanan, pemberian pelatihan keterampilan dalam melakukan diversifikasi produk berupa pembuatan abon ikan bilih dan kerupuk ikan bilih, pendampingan dalam penyusunan manajemen usaha mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan hingga pengawasan terhadap produk yang dihasilkan dan pendampingan dalam pemasaran produk melalui peningkatan stategi pemasaran dengan memanfaatkan jaringan internet atau website (e-commerce). Kegiatan ini mengahsilkan produk baru hasil diversifikasi yaitu abon ikan bilih dan kerupuk ikan bilih. Terbentuknya manajemen usaha mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan hingga pengawasan terhadap produk yang dihasilkan.Kata kunci: Ikan Bilih, Wisatawan, Ketahanan Pangan
INDEKS KEANEKARAGAMAN PLANKTON DI PERAIRAN DANAU SINGKARAK Mayasari, Lisa; M, Endryeni; Irwandi, Irwandi; Desmiati, Ira
SEMAH Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan Vol 9, No 1 (2025): SEMAH: Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/semahjpsp.v7i1.1133

Abstract

Keanekaragaman plankton sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, terutama parameter kualitas air seperti suhu, pH, kadar oksigen terlarut (DO). Salah satu dampak nyata dari pencemaran tersebut adalah eutrofikasi, yaitu peningkatan konsentrasi nutrien yang berlebih dalam perairan, yang dapat memicu ledakan populasi plankton tertentu dan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis keanekaragaman plankton di Danau Singkarak dengan pendekatan indeks biodiversitas.Penelitian ini dilaksanakan di Danau Singkarak, Provinsi Sumatera Barat, Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober s/d November 2024. Dari hasil penelitian menjukkan bahwa Nilai indeks Shannon (H’) tertinggi terdapat di Titik C, menunjukkan bahwa keanekaragaman plankton paling tinggi. Nilai evenness (E) di Titik C juga tertinggi (0,887), mengindikasikan distribusi individu antar spesies yang paling merata sedangkan Dominasi (D) paling tinggi di Titik B. Parameter kualitas air berupa suhu, pH, dan oksigen terlarut. Titik A menunjukkan suhu tertinggi, lebih dari 25°C, sedangkan suhu pada Titik B dan Titik C, dengan pH, Titik A memiliki pH sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Titik B dan Titik C. Sedangkan oksigen terlarut, Titik C, yang berada di pinggir sungai, menunjukkan kadar yang lebih tinggi dibandingkan dua titik lainnya.
Ectoparasite analysis in vaname shrimp in Padang Pariaman, West Sumatra, Indonesia Elfrida, Elfrida; Rosida, Amrona; Lubis, Amelia Sriwahyuni; Munzir, Abdullah; Desmiati, Ira
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 14, No 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.14.3.41033

Abstract

Ectoparasites pose a significant threat to the health and productivity of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) in aquaculture settings, particularly in tropical regions. This study aimed to assess the prevalence, intensity, and dominance of ectoparasites in vaname shrimp ponds in Padang Pariaman, West Sumatra. This study was conducted from March to May 2024 in vaname shrimp ponds in Padang Pariaman, West Sumatra. Sampling was carried out at five different pond stations, and water quality assessments were carried out. Ectoparasites were identified, and their prevalence, intensity, and dominance were measured. Station II had the highest prevalence (100%), intensity (69 ind/shrimp), and dominance of ectoparasites from all other observation stations. The dominant types of ectoparasites were Epystylis sp. (37.81%), Zootamnium sp. (18.65%), and Vorticella sp. (20.64%). Water quality at five Vaname shrimp pond stations showed significant variations, especially in pH, COD, and ammonia parameters, with some values exceeding the quality standard. Station V was identified as the most critical location with the highest COD (90.08 mg/l) and ammonia (0.188 mg/l) values and pH below the optimal threshold. It is important to implement better pond management strategies to improve shrimp health and productivity while minimizing the ectoparasites on aquaculture systems in tropical regions.Keywords:Vaname shrimpEctoparasitesAquaculture managementWater quality
Ectoparasite analysis in vaname shrimp in Padang Pariaman, West Sumatra, Indonesia Elfrida, Elfrida; Rosida, Amrona; Lubis, Amelia Sriwahyuni; Munzir, Abdullah; Desmiati, Ira
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 14, No 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.14.3.41033

Abstract

Ectoparasites pose a significant threat to the health and productivity of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) in aquaculture settings, particularly in tropical regions. This study aimed to assess the prevalence, intensity, and dominance of ectoparasites in vaname shrimp ponds in Padang Pariaman, West Sumatra. This study was conducted from March to May 2024 in vaname shrimp ponds in Padang Pariaman, West Sumatra. Sampling was carried out at five different pond stations, and water quality assessments were carried out. Ectoparasites were identified, and their prevalence, intensity, and dominance were measured. Station II had the highest prevalence (100%), intensity (69 ind/shrimp), and dominance of ectoparasites from all other observation stations. The dominant types of ectoparasites were Epystylis sp. (37.81%), Zootamnium sp. (18.65%), and Vorticella sp. (20.64%). Water quality at five Vaname shrimp pond stations showed significant variations, especially in pH, COD, and ammonia parameters, with some values exceeding the quality standard. Station V was identified as the most critical location with the highest COD (90.08 mg/l) and ammonia (0.188 mg/l) values and pH below the optimal threshold. It is important to implement better pond management strategies to improve shrimp health and productivity while minimizing the ectoparasites on aquaculture systems in tropical regions.Keywords:Vaname shrimpEctoparasitesAquaculture managementWater quality
Transformasi Digital UMKM Perikanan: Studi Kasus Poklahsar Bali Padang Aisyah, Siti; Putra, Ari Limay Trisno; Sari, Siska Fitrima; Desmiati, Ira; Rustam, Dicky
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 8 No. 4 (2025): Oktober 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i4.4121

Abstract

Abstract: This community service program was implemented with POKLAHSAR BALI, a fisheries MSME in Ulak Karang Utara, Padang City, whose members are mostly women and coastal youth. The main problems identified were traditional production methods, unstructured business management, and marketing dependence on collectors, limiting added value. The program aimed to improve production capacity, strengthen business governance, and develop a website-based digital marketing strategy. A participatory-collaborative approach was applied through socialization, technical training, technology implementation, mentoring, and continuous evaluation. Innovations introduced included production SOPs, logbooks and simple bookkeeping, a gas-fueled drying oven, development of the website www.sejala.org, QR Code integration on packaging, and activation of social media and marketplaces. Evaluation showed significant improvements in partner skills, with average scores increasing from 2.7 to 4.0, particularly in business recording and digital marketing. Economically, average income rose by 25% and digital sales volume doubled. Sustainability was strengthened through cooperation with the Merah Putih Cooperative and regular coaching from the Padang City Marine and Fisheries Office, thereby enhancing the economic independence of coastal women and youth. Keywords: coastal women’s empowerment; digital marketing; fisheries MSMEs; local food products; padang city; website. Abstrak: Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan bersama POKLAHSAR BALI, sebuah UMKM perikanan di Ulak Karang Utara, Kota Padang, yang mayoritas anggotanya perempuan dan remaja pesisir. Permasalahan utama mitra meliputi metode produksi tradisional, manajemen usaha yang belum tertata, serta pemasaran yang bergantung pada pengepul sehingga nilai tambah terbatas. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat tata kelola usaha, dan mengembangkan strategi pemasaran digital berbasis website. Metode partisipatif-kolaboratif diterapkan melalui sosialisasi, pelatihan teknis, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi berkelanjutan. Inovasi yang diperkenalkan meliputi SOP produksi, penggunaan logbook dan pembukuan sederhana, oven pengering berbahan bakar gas, pengembangan website www.sejala.org, integrasi QR Code pada kemasan, serta aktivasi media sosial dan marketplace. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan keterampilan mitra dengan skor rata-rata naik dari 2,7 menjadi 4,0, terutama pada pencatatan usaha dan pemasaran digital. Secara ekonomi, pendapatan meningkat rata-rata 25% dan volume penjualan digital dua kali lipat. Keberlanjutan program diperkuat melalui kerjasama dengan Koperasi Merah Putih dan pembinaan rutin Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang, sehingga mampu mendukung kemandirian ekonomi perempuan dan remaja pesisir. Kata kunci: kota padang; pemasaran digital; produk pangan lokal; pemberdayaan perempuan pesisir; umkm perikanan; website
Transformasi Digital Produk Olahan Ikan Bilih Pada Poklahsar Jaso Danau Nagari Tikalak ira desmiati; Indira Karina; Boni Ikhlas; Siti Aisyah; Dicky Rustam
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 8 No. 4 (2025): Oktober 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i4.4134

Abstract

Abstract: This program aims to transform processed bilih fish products from Lake Singkarak through business digitalization to enhance tourism appeal and increase the added value of local food products. The partner, POKLAHSAR Jaso Danau in Nagari Tikalak, Solok Regency, experienced a 35% decline in sales turnover over the past two years due to limited digital marketing and reliance on conventional sales. In addition, production capacity could only meet about 60% of market demand, with inconsistent product quality caused by the absence of written SOPs. The program was implemented using a participatory approach through stages of socialization, technical training, innovation adoption, and mentoring. The main focus included the development of production SOPs, logbooks and digital bookkeeping, organizational structuring, and digital marketing strategies using websites, QR Codes, and social media. The results revealed significant improvement in five key aspects: business recording, production, distribution, branding, and digital marketing. The average score increased from 2.7 (fair) in 2024 to 4.0 (good) in 2025, with the highest achievement in business recording and digital marketing through the activation of an official website and marketplace integration. This transformation demonstrates that digitalization of local food MSMEs not only improves product quality and consistency but also expands distribution channels, strengthens competitiveness, and supports the achievement of the SDGs, particularly women’s empowerment, poverty alleviation, economic growth, and sustainable consumption and production. Keywords: bilih fish, MSME digitalization, women empowerment, digital marketing, lake singkarak Abstrak: Program ini bertujuan mentransformasi produk olahan ikan bilih khas Danau Singkarak melalui digitalisasi usaha guna meningkatkan daya tarik wisata dan nilai tambah pangan lokal. Mitra kegiatan adalah POKLAHSAR Jaso Danau di Nagari Tikalak, Kabupaten Solok, yang mengalami penurunan omzet hingga 35% dalam dua tahun terakhir akibat keterbatasan pemasaran digital dan masih mengandalkan penjualan konvensional. Selain itu, kapasitas produksi hanya mampu memenuhi sekitar 60% permintaan pasar, dengan kualitas produk sering tidak konsisten karena ketiadaan SOP tertulis. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan teknis, penerapan inovasi, dan pendampingan. Fokus utama meliputi penyusunan SOP produksi, logbook dan pembukuan digital, pembentukan struktur organisasi, serta strategi pemasaran berbasis website, QR Code, dan media sosial. Hasil menunjukkan peningkatan keterampilan signifikan pada lima aspek utama: pencatatan usaha, produksi, distribusi, branding, dan pemasaran digital. Skor rata-rata naik dari 2,7 (cukup) pada 2024 menjadi 4,0 (baik) pada 2025, dengan capaian terbesar pada pencatatan usaha dan pemasaran digital melalui aktivasi website resmi dan integrasi marketplace. Transformasi ini membuktikan bahwa digitalisasi UMKM pangan lokal tidak hanya memperbaiki kualitas dan konsistensi produk, tetapi juga memperluas distribusi, memperkuat daya saing, serta mendukung pencapaian SDGs, khususnya pemberdayaan perempuan, pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi-produksi berkelanjutan. Kata Kunci: ikan bilih, digitalisasi UMKM, pemberdayaan perempuan, pemasaran digital, danau singkarak
A Study on the Level of Water Pollution in the Coastal Ecotourism Area of Padang City (Case Study of Bungus Beach, Purus Beach, and Pasir Jambak Beach) Qamara, Ridho; Aisyah, Siti; Uzra, Murhenna; Desmiati, Ira
The Future of Education Journal Vol 4 No 8 (2025): #2
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i8.1070

Abstract

The coastal area of Padang City has high ecological and economic potential; however, anthropogenic activities such as tourism, settlements, and industry have contributed to a decline in water quality. This study aims to identify pollutants and determine the pollution status in Bungus Beach, Purus Beach, and Pasir Jambak Beach based on physical, chemical, and biological parameters. A quantitative approach was employed using purposive sampling at three research stations. The observed parameters included temperature, brightness, turbidity, pH, nitrate, phosphate, ammonia, DO, as well as the condition of mangrove, seagrass, and coral reef ecosystems. The data were compared with the marine water quality standards (Government Regulation No. 22 of 2021) and analyzed using the Pollution Index method (Decree of the Ministry of Environment No. 115 of 2003). The results showed that nitrate and phosphate levels exceeded quality standards, DO levels decreased at Purus Beach, and brightness was low in Purus and Pasir Jambak. Biological ecosystems in Purus have disappeared, while Bungus and Pasir Jambak still contain coastal vegetation that is pressured by human activities. Based on the pollution index, Purus is classified as moderately to heavily polluted, while Bungus and Pasir Jambak are classified as lightly to moderately polluted.