Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PEMBERDAYAAN KESEHATAN MANDIRI SANTRI MELALUI TEKNOLOGI BUDIDAYA TOGA DAN PEMBUATAN JAMU BERBASIS PENINGKATAN IMUN DI PONDOK PESANTREN Rizki Rahmadi Pratama; Muhammad Fauzi; Juwita Ramadhani; M. Hasan Andryanto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.33053

Abstract

Abstrak: Pondok pesantren sering menghadapi masalah kesehatan di kalangan santri, terutama terkait dengan gangguan sistem imun tubuh yang rentan terhadap penyakit. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman santri mengenai manfaat Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dalam memperkuat sistem imun tubuh, serta memberikan keterampilan praktis dalam menanam dan mengolah TOGA menjadi jamu serbuk. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi sosialisasi, penyuluhan, dan workshop yang melibatkan 42 santri Pondok Pesantren Al-Fatih di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut,di Kalimantan Selatan . Evaluasi dilakukan dengan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil yang dicapai menunjukkan peningkatan pemahaman peserta sebesar 33,6%, dengan nilai rata-rata pre-test 63,4 dan post-test 84,7. Selain meningkatkan pengetahuan, peserta juga memperoleh keterampilan praktis dalam mengolah jamu serbuk, yang tidak hanya berguna untuk meningkatkan kesehatan, tetapi juga memberikan potensi ekonomi melalui produk herbal yang dapat dipasarkan.Abstract: Pesantren often face health issues among students, particularly related to immune system disorders that make them vulnerable to diseases. The objective of this community service is to enhance students' understanding of the benefits of Family Medicinal Plants (TOGA) in strengthening the immune system and provide practical skills in planting and processing TOGA into powdered herbal medicine. The methods used in this program include socialization, counseling, and workshops involving 42 students from Pondok Pesantren Al-Fatih in Pelaihari, South Tanah Laut Regency, South Kalimantan. Evaluation was conducted using pre-test and post-test to measure the improvement in participants' understanding. The results showed a 33.6% increase in participants' knowledge, with an average pre-test score of 63.4 and post-test score of 84.7. In addition to improving their knowledge, participants gained practical skills in processing powdered herbal medicine, which not only contributes to enhancing health but also provides economic potential through herbal products that can be marketed.
PRODUK NUTRASETIKA BERBASIS TANAMAN OBAT KELUARGA MELALUI JAMU GUMMY SEBAGAI PENGUATAN IMUN MANDIRI SANTRI Rizki Rahmadi Pratama; Yuniarti Falya; Fauzi Rahman; Muhammad Fauzi; M. Hasan Andryanto; Aris Fadillah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.41143

Abstract

Abstrak: Pondok pesantren merupakan lingkungan komunal berdensitas populasi tinggi sehingga rentan terhadap penularan penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan, sementara akseptabilitas jamu tradisional yang cenderung pahit masih rendah di kalangan santri usia muda. Pengabdian ini bertujuan mendiversifikasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA) melalui formulasi Jamu Gummy sebagai sediaan nutrasetika untuk penguatan imun mandiri santri, dengan sasaran peningkatan hardskill sekaligus softskill mitra, yaitu keterampilan teknis budidaya TOGA dan formulasi sediaan gummy (hardskill) serta literasi kesehatan preventif, kerja sama tim, dan kemampuan komunikasi (softskill). Metode pelaksanaan menggunakan metode campuran (mixed method) yang memadukan ceramah edukatif, diskusi dua arah berbasis problem-solving, dan pelatihan praktik langsung dalam kerangka pendekatan partisipatif, dengan tahapan berupa asesmen awal (pre-test), edukasi fitofarmaka dan sistem imunologis, workshop budidaya serta formulasi gummy berbahan ekstrak kunyit, jahe, dan temulawak, dan evaluasi akhir (post-test). Mitra kegiatan adalah 40 santri pada salah satu pondok pesantren di Kalimantan Selatan, dengan pengurus pesantren berperan sebagai fasilitator. Sistem evaluasi menggunakan desain pre-test dan post-test melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya untuk mengukur pengetahuan, sedangkan keterampilan dinilai melalui observasi praktik langsung. Indikator keberhasilan kegiatan ditetapkan berupa peningkatan rerata nilai post-test yang signifikan (p < 0,05) dan kemampuan mitra memproduksi Jamu Gummy secara mandiri. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan santri yang signifikan, dengan rerata nilai meningkat dari 45,5 pada pre-test menjadi 86,8 pada post-test (peningkatan sekitar 90,8%; paired t-test, p < 0,0001).Abstract: Islamic boarding schools are densely populated communal environments prone to the transmission of skin diseases and respiratory infections, while the acceptability of traditional herbal medicine (jamu), which tends to be bitter, remains low among young students. This community service program aims to diversify Family Medicinal Plants (TOGA) through the formulation of Jamu Gummy as a modern nutraceutical dosage form to strengthen students' self-reliant immunity, targeting both hard skills (TOGA cultivation and gummy formulation techniques) and soft skills (preventive health literacy, teamwork, and communication). The implementation method used a mixed method combining educational lectures, two-way problem-solving discussions, and hands-on training within a participatory approach, comprising an initial assessment (pre-test), education on phytopharmaca and the immune system, a workshop on cultivation and gummy formulation using turmeric, ginger, and temulawak extracts, and a final evaluation (post-test). The partners were 40 students of an Islamic boarding school in South Kalimantan, Indonesia, facilitated by the school administrators. Evaluation used a pre-test and post-test design with a validated and reliable structured questionnaire to measure knowledge, while skills were assessed through observation of hands-on practice. The success indicators were a significant increase in the mean post-test score (p < 0.05) and the partners' ability to produce Jamu Gummy independently. The results showed a significant increase in students' knowledge, with the mean score rising from 45.5 in the pre-test to 86.8 in the post-test (an increase of about 90.8%; paired t-test, p < 0.0001).
PELATIHAN PEMBUATAN “NATURAL SOAP BAR” UNTUK MENGATASI MASALAH KESEHATAN KULIT DI PONDOK PESANTREN X BARITO KUALA Nily Su&#039;aida; Yulistia Budianti Soemarie; Muhammad Fauzi; Karina Erlianti
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 4 (2024): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i4.24645

Abstract

Abstrak: Beberapa masalah Kesehatan pada kulit seperti panu, kulit kering, jerawat, hingga eksim atopik sering dialami oleh santri yang berada di lingkungan pondok pesantren yang umumnya disebabkan karena sumber air yang digunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) kurang bersih seperti yang dialami santri di Pondok pesantren X di Barito Kuala. Salah satu Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan penggunaan sabun-sabun herbal yang memiliki berbagai macam khasiat. Santri diajarkan untuk membuat sabun herbal dengan bahan-bahan sederhana yang mengandung ekstrak bahan alam berkhasiat. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan hard skill dan soft skill para santri yaitu dengan mampu bekerja sama dalam membuat sabun herbal yang dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah Kesehatan kulit serta meningkatkan pengetahun santri terkait cara menjaga kesehatan Kulit. Pengabdian diikuti oleh 50 santri SMA pondok pesantren X yang diawali dengan menjawab pre-test yang dilanjutkan dengan pemberian edukasi tentang bakteri penyebab masalah kulit dan kewirausahaan serta pelatihan pembuatan sabun herbal dan ditutup dengan post-test. Hasil dari program ini yaitu mitra memperoleh pengetahuan tentang kesehatan kulit yang ditunjukkan dari peningkatan skor rata-rata sebesar 64,25% dari pre-test ke post-test, dan memperoleh keterampilan pembuatan sabun herbal yang dapat digunakan sebagai alternatif terapi untuk masalah kesehatan kulit.Abstract: Various skin health issues such as tinea versicolor, dry skin, acne, and atopic eczema are often experienced by students in X Islamic boarding schools due to the poor cleanliness of water sources used for bathing, washing, and sanitation. One of the efforts to address this issue is the use of herbal soaps, which have various beneficial properties. Students are taught to make natural soaps using simple ingredients containing extracts of beneficial natural substances. This training aims to enhance the hard and soft skills of the students by enabling them to collaborate in making natural soaps, which can be a solution for skin health issues and to increase their knowledge on maintaining skin health. The program involved 50 high school students from Islamic boarding school X, starting with a pre-test, followed by education on bacteria causing skin problems and entrepreneurship, as well as training on herbal soap making, and concluded with a post-test. The results of this program showed that the participants gained knowledge about skin health, evidenced by a 64.25% increase in the average score from pre-test to post-test, and acquired skills in making herbal soaps that can be used as an alternative therapy for skin health issues.