Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Sosialisasi Pemanfaatan Herbal Bumbu Dapur sebagai Antihipertensi dan Pemeriksaan Tekanan Darah di Desa Kandangan Baru Kecamatan Panyipatan Tanah Laut Karina Erlianti; Juwita Ramadhani; Aris Fadillah; Hasniah Hasniah; Didi Susanto; Muhammad Fauzi; Fauzi Rahman
Jurnal Abdidas Vol. 2 No. 3 (2021): Pages 459-724
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v2i3.311

Abstract

Beberapa jenis bumbu dapur yang digunakan sehari-hari terbukti memiliki zat yang berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah. Kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan herbal yang benar menyebabkan tidak tercapainya khasiat yang diinginkan. Jumlah penduduk Desa Kandangan Baru yang diukur tekanan darahnya masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah total seluruh penduduk Desa Kandangan Baru. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menyelenggarakan deteksi dini terjadinya hipertensi serta memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai cara penggunaan herbal sebagai terapi pencegahan alternatif yang benar. Metode yang digunakan yaitu pemberian penyuluhan tentang pemanfaatan bumbu dapur yang benar serta pemeriksaan tekanan darah. Desain pretest dan post-test digunakan sebagai pengukur. Terjadi peningkatan skor pada peserta sebanyak 90 % dengan dari poin rata-rata 4,95 pada pretest menjadi 9,39 saat post-test. Diketahui sebanyak 18 orang memiliki tekanan darah di atas 120/80 mmHg dimana 3 orang di antaranya masih belum melakukan pengecekan rutin dan tidak dalam terapi hipertensi. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini secara efektif dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan herbal bumbu dapur sebagai terapi alternatif hipertensi dan dapat terdeteksinya hipertensi. Deteksi dini hipertensi serta penggunaan bumbu dapur sebagai terapi pencegahan yang benar sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat hipertensi yang tidak diterapi serta meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat desa.
ANALISIS COST OF ILLNESS PENYAKIT HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PRAYA, NTB Aris fadillah; Juwita Ramadhani; Karina Erlianti; Hasniah Hasniah
AL-ULUM: JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.975 KB) | DOI: 10.31602/ajst.v6i2.5226

Abstract

The high prevalence of hypertension and the long-term of antihypertensive treatments required are the main reasons for the need of economic analysis on the costs of hypertensive treatment. This study aims to quantify direct medical cost of hypertension. This study uses retrospective cost of illness analysis in descriptive observational design with heath care perspective. Data were collected from the hospital’s management information system, patient's prescriptions and patient's medical records. Fifty-eight patient’s data were analyzed. Direct medical cost of the patient without comorbidities in stage 1 hypertension was Rp 535,660 ± 100,681, stage 2 hypertension was Rp 381,940 ± 126,423 and hypertensive crises was Rp 456,241 ± 197,959. Direct medical cost of the patients with comorbidities in stage 1 hypertension was Rp 398,750 ± 240,542, stage 2 hypertension was Rp 486,227 ± 241,136 and hypertensive crises was Rp 425,816 ± 140,898. Direct medical costs for patients with compelling indications in stage 1 hypertension was Rp 512,810 ± 152,661, stage 2 hypertension was Rp 444,183 ± 109,162 and hypertensive crises was Rp 410,364 ± 80,388. Cost for drugs was represented as the largest component of direct medical cost (37.49%) followes by cost for ward (26.54%), medical treatment fee (15.88%), medical support fee (9.05%), doctor visit fee (8.12%) and service fee (2.91%). The hypertension's stage, comorbidities and compelling indications are not affecting the cost of therapy. The rational use of drugs will decrease the cost of hypertension treatment.
Analisis Kinerja Apoteker Dalam Pelayanan Farmasi Klinik di Puskesmas Kota Banjarmasin karina erlianti; Hasniah Hasniah; Lia Mardiana
AL-ULUM: JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.761 KB) | DOI: 10.31602/ajst.v7i1.5882

Abstract

Kinerja seorang apoteker perlu dievaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian baik dalam pelayanan farmasi klinik maupun pengelolaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran kinerja apoteker di Puskesmas Kota Banjarmasin dalam melakukan pelayanan farmasi klinik. Penelitian analisis kinerja apoteker dalam melakukan pelayanan farmasi klinis di Puskesmas Kota Banjarmasin ini merupakan penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif melalui penelusuran dokumen dan dilengkapi dengan observasi langsung dengan menggunakan daftar tilik sebagai data kualitatif serta dilengkapi dengan wawancara untuk memperdalam temuan di lapangan. Kinerja apoteker dan faktor yang mempengaruhi kinerja apoteker dianalisis secara deskritif. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 5 apoteker yang berpraktek di lima Puskesmas kota Banjarmasin yang mewakili setiap kecamatan di Kota Banjarmasin. Hasil penelitian ini menunjukkan kinerja apoteker dalam pelayanan farmasi klinik di Puskesmas pada era Jaminan Kesehatan Nasional berada pada kategori sangat tinggi pada aspek penggunaan obat generik dan penggunaan injeksi pada myalgia. Kategori kinerja yang tinggi ditunjukkan pada aspek pengkajian resep, rata-rata item obat dalam resep dan penggunaan antibiotik pada diare non spesifik. Kategori kinerja sedang ditunjukkan melalui aspek konseling pasien dan penggunaan antibiotic pada ISPA non pneumonia
Efek Pemberian Metformin dan Metformin+Glimepiride terhadap Kadar HbA1c pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Fitri Apriliany; Elis Cholisah; Karina Erlianti
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 12, No 2
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.72192

Abstract

Diabetes is a chronic metabolic disease and management of DM begins with a helthy lifestyle with early administration of antidiabetic drug. Metformin is the first line therapy in the management of DM. Combination therapy is given if blood sugar level and HbA1c level cannot be controlled with single therapy. This study aimed to determine the effect of giving metformin and metformin+glimepiride on HbA1c levels in DM2 patients. The inclusion criteria were patients DM, received oral antidiabetic at least 6 months, completed medical record, and can speak Indonesia. Exclusion criteria included DM patients receiving insulin therapy, TB patients, patients with mental disorders, and pregnant/breastfeeding women. Sociodemographic data, description of prescribing patterns, and achievement of HbA1c levels were described descriptively. Data analysis using the Wilcoxon test. Respondents in this study were 69 patients,  dominated by women (71%). The types of therapy used were metformin (59.4%) and metformin+glimepiride (40.6%). Achievement of metformin + glimepiride HbA1c levels (67.9%), metformin (48.8%). The difference in decreasing HbA1c levels with metformin (-0.31%±0.38 mg/dL) and metformin+glimepiride -0.33%±0.54 mg/dL (p = 0.000). The results of the analysis showed that there is a significant effect of metformin alone on decreasing HbA1c levels and the addition of glimepiride (metformin + glimepiride) on reducing HbA1c levels in diabetes cannot be controlled with metformin. The implication of this study is as input for comprehensive management guidelines that can be used in an effort to reduce the prevalence of DM. Good management is needed to achieve therapeutic outcomes.
Pelatihan Online Pembuatan Makanan Fermentasi Wadi Yulistia Budianti Soemarie; Tiana Milanda; Karina Erlianti; Muhammad Fauzi; Didi Susanto; Melisa Intan Barliana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i1.5459

Abstract

ABSTRAKSalah satu penerapan proses fermentasi terjadi pada produk perikanan. Wadi merupakan hasil fermentasi ikan yang banyak sekali diminati oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Wadi merupakan salah satu proses fermentasi ikan atau daging secara tradisional yang berbentuk ikan utuh semi basah, berwarna agak hitam (mendekati warna ikan segar), bertekstur liat dengan aroma ikan khas fermentasi serta mempunyai cita rasa yang asin. Wadi memiliki waktu simpan yang lama sekitar 6 sampai 12 bulan. Kurangnya keterampilan dalam pengolahan wadi mengakibatkan wadi tidak bisa tahan lama sehingga wadi menjadi cepat busuk. Selain itu, belum ada wadi kemasan yang beredar dipasaran sehingga untuk masyarakat luar Kalimantan Selatan sulit untuk mendapatkan produk wadi ini. Pelatihan ini menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab serta demonstrasi atau praktek secara daring/online. Pelatihan ini menghasilkan pengetahuan dan pemahaman yang baik bagi peserta pelatihan. Hal ini dapat dilihat dari antusias peserta pelatihan dalam sesi diskusi dan tanya jawab untuk mencari informasi yang lengkap mengenai teknik fermentasi serta pelatihan dalam pembuatan wadi. Kata kunci: Fermentasi, Wadi, Pelatihan Online ABSTRACTOne of the processes of applying the fermentation process occurs in fishery products. Wadi is a fermented fish product that is in great demand by the people of South Kalimantan. Wadi is one of the traditional fish or meat fermentation processes in the form of semi-wet whole fish, slightly black (close to the color of fresh fish), clay texture with a distinctive fermented fish aroma, and has a salty taste. Wadi has a long shelf life of about 6 to 12 months. Lack of skills in wadi processing resulted in wadi not being able to last long so that the wadi rotted quickly. In addition, there is no packaged wadi on the market so it is difficult for people outside South Kalimantan to get this wadi product. This training uses lecture, discussion, question and answer methods as well as online demonstrations or practice. This training resulted in good knowledge and understanding for the participants of the wadi making training. This can be seen from the enthusiasm of the training participants in the discussion and question and answer sessions to seek complete information about fermentation techniques and training in wadi making. Keywords: Fermentation, Wadi, Online Training
PELATIHAN PEMBUATAN SABUN HERBAL ECENG GONDOK DI DESA SEMANGAT DALAM Karina Erlianti; Lia Mardiana; Aris Fadillah; Didi Susanto
KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2023): KARYA: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : FKIP Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eceng gondok (Eichornia crassipes) yang merupakan gulma di sungai dan rawa memiliki kandungan antioksidan serta memiliki aktivitas antibakteri pada kulit. Desa semangat dalam merupakan desa yang terletak pada wilayah rawa dengan pertumbuhan gulma eceng gondok yang cukup besar. Perkembangbiakan eceng gondok yang tidak terkendali dapat berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang benar mengenai manfaat eceng gondok untuk kesehatan kulit serta memberikan pelatihan pemanfaatan tanaman ini sebagai bahan dasar untuk membuat produk kecantikan berupa sabun herbal. Metode yang digunakan yaitu pemberian penyuluhan diikuti dengan pelatihan pembuatan produk sabun herbal. Pengabdian kepada Masyarakat telah dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2022 yang diikuti oleh ibuibu warga RT 31 Desa Semangat Dalam. Desain pretest dan postest digunakan untuk mengukur pengetahuan peserta sebelum dan setelah kegiatan. Hasil preteset dan post test menunjukkan terjadi peningkatan pemahanan peserta mengenai manfaat sabun herbal eceng gondok untuk kesehatan kulit serta cara pembuatan nya.
EDUKASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN HOME REMEDIES UNTUK MENGURANGI MASALAH KESEHATAN MENTAL Nily Su'aida; Yulistia Budianti Soemarie; Karina Erlianti; Sabit Tohari
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 4 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i4.15884

Abstract

Abstrak: Masalah kesehatan mental merupakan salah satu permasalahan kesehatan nasional yang masuk dalam prioritas program kesehatan nasional. Fakta menjukkan bahwa 1 dari 3 remaja dengan usia 10-19 tahun di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. MAN 2 Model Banjarmasin merupakan salah satu sekolah percontohan dengan berbagai kegiatan akademik yang diantaranya dapat menjadi faktor pencetus terjadinya gangguan kesehatan mental seperti academic stress dan bullying. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberikan edukasi terkait pentingnya menjaga kesehatan mental serta memberikan pelatihan pembuatan home remedies sebagai terapi sederhana untuk membantu mengurangi masalah kesehatan mental. Mitra pada pengadian ini yaitu siswa kelas X MAN 2 Model Banjarmasin berjumlah 37 siswa. Metode yang digunakan yaitu pemberian penyuluhan, hipnomotivasi, diikuti dengan pelatihan pembuatan home remedies. Hasil yang diperoleh dari kegiatan PKM ini yaitu mitra mendapatkan ilmu pengetahuan terkait kesehatan mental yang ditunjukkan dari peningkatkan rata-rata nilai pre-test dan post-test sebesar 33% serta keterampilan dalam pembuatan home remedies yang dapat digunakan untuk terapi alternatif dalam mengurangi masalah kesehatan mental.Abstract: Mental health disorders are national health problems that are included in the priorities of the national health program. It is reported that one in three adolescents aged 10-19 in Indonesia experience mental health disorders. It is known that school is a risk factor for mental health disorders. MAN 2 Model Banjarmasin is a school with various academic activities that can trigger mental health disorders such as academic stress and bullying. The implementation of this community service activity (PKM) aims to provide education related to the importance of maintaining mental health and training in making home remedies as a simple therapy to help reduce mental health problems. A total of 37 students from the MAN 2 Model Banjarmasin participated in this public service. The methods used were counseling and hypnomotivation followed by training in making home remedies. The results obtained from this PKM are that partners gain knowledge related to mental health, as shown by an increase in the average pre-test and post-test scores by 33%, and skills in making home remedies that can be used for alternative therapy in reducing mental health problems.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN SABUN CAIR KOMBINASI DAUN KELOR DAN MADU DI DESA TELAGA LANGSAT KABUAPTEN TANAH LAUT Karina Erlianti; Juwita Ramadhani; Hasniah Hasniah; Lia Mardiana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.16773

Abstract

ABSTRAKDaun kelor merupakan bagian dari tanaman kelor yang memiliki aktifitas antioksidan dan antibakteri yang bermanfaat untuk kulit. Bahan alam lain yang memiliki manfaat untuk kulit yaitu madu yang dapat melembabkan kulit. Desa Telaga Langsat Kabupaten Tanah Laut meruapakan desa yang memiliki hasil kebun berupa daun kelor dan juga merupakan sentra madu kelulut di Kabupaten Tanah Laut. Pelaksanaan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang benar mengenai manfaat daun kelor dan madu kelulut untuk kesehatan kulit serta memberikan pelatihan pemanfaatan tanaman ini sebagai bahan dasar untuk membuat produk sabun cair herbal kaya manfaat. Metode yang digunakan yaitu pemberian penyuluhan diikuti dengan pelatihan pembuatan produk sabun cair serta memberikan contoh desain kemasan yang menarik.  Pengabdian kepada Masyarakat telah dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2023 yang diikuti oleh ibu-ibu anggota PKK Desa Telaga Langsat. Desain pretest dan postest digunakan untuk mengukur pengetahuan peserta  sebelum  dan  setelah  kegiatan.  Skor pretest pada kegiatan ini adalah sebesar 1,7 dan skor pretest adalah 4,6. Hasil  preteset  dan  post  test tersebut  menunjukkan  terjadi  peningkatan pemahanan peserta sebesar 58% mengenai manfaat daun kelor dan madu untuk Kesehatan kulit serta cara pembuatannya menjadi sabun cair. Kata Kunci: daun kelor; madu; sabun cair ABSTRACTMoringa leaves are part of the moringa plant that have antioxidant and antibacterial activities beneficial for the skin. Another natural ingredient that is beneficial for the skin is honey, which can moisturize the skin. Telaga Langsat Village in Tanah Laut Regency is a village that produces moringa leaves and is also a center for stingless bee honey in the Tanah Laut Regency. The implementation of this activity aims to provide accurate information about the benefits of moringa leaves and stingless bee honey for skin health and to provide training on how to utilize these plants as the main ingredients to create beneficial herbal liquid soap products. The method used in this activity involved providing counseling followed by training on how to make the liquid soap products and providing attractive packaging design examples. The Community Service was conducted on June 17, 2023, and was attended by the women members of the PKK of Telaga Langsat Village. Pretest and posttest designs were used to measure the participants' knowledge before and after the activity. The pretest score for this activity was 1.7, and the posttest score was 4.6. The results of the pretest and posttest showed a 58% improvement in participants' understanding of the benefits of moringa leaves and honey for skin health and how to turn them into liquid soap. Keywords: moringa leaves; honey; liquid soap
A Little Pharmacist (APOCIL) Yulistia Budianti Soemarie; Hasniah Hasniah; Karina Erlianti; Didi Susanto
Engagement: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6 No 1 (2022): May 2022
Publisher : Asosiasi Dosen Pengembang Masyarajat (ADPEMAS) Forum Komunikasi Dosen Peneliti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29062/engagement.v6i1.1134

Abstract

It is very important to introduce the pharmacist profession too early in childhood, one of which is a Little Pharmacist program in elementary schools. The purpose of this community service is to introduce the pharmacist profession, especially to students at Sungai Miai 10 Elementary School Banjarmasin so that they are more familiar with and foster interest in the pharmacist profession. The stages of this activity start from a survey of the implementation location, making activity permits, preparation and implementation of activities as well as analysis of results and conclusions. The method used in this activity is the lecture method, and discussion, accompanied by training in making puyer. Participants who take part in this program are grade 5 students, totaling 31 people. The results obtained were that all participants were very enthusiastic about the pharmacist profession introduction program and after participating in this program, participants better understood the duties and responsibilities of the pharmacist profession
Use of MOCAF flour as raw material for healthy and hygienic lakar crackers in N&N MSMEs Muhaimin Muhaimin; Anis Yohana Chaerunisaa; Tiana Milanda; Intan Timur Maisyarah; Uce Lestari; Mayang Kusuma Dewi; Lia Mardiana; Karina Erlianti
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol 8, No 4 (2023): November 2023
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v8i4.11237

Abstract

In the vicinity of NN Micro, Small, and Medium Enterprises (MSME) in Jatiroke Village, Sumedang, West Java, cassava plantations abound, yet their harvest is often undervalued and sold at low prices. To enhance economic value, cassava from Jatiroke Village is now being processed into Modified Cassava Flour (MOCAF) for use as a primary ingredient in lakar cracker production at NN MSME. Previously, wheat and tapioca flours were sourced from the market for cracker production. The objective of this Community Partnership Empowerment (CPE) initiative is to replace wheat flour with locally processed MOCAF, diversifying food ingredient sources using available resources. MOCAF is not only gluten-free but is also deemed safe for consumption, especially for those with autoimmune diseases, memory loss, and autism. The CPE program includes training on MOCAF flour production and hands-on experience in making lakar crackers with MOCAF as a core ingredient. This comprehensive effort aims to promote NN MSME's growth by incorporating innovative technology for the production of healthy and hygienic crackers, thereby benefiting public health, particularly individuals with autoimmune conditions. This strategic shift not only holds economic promise but also contributes to the well-being of the community.