Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Faktor- Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum - Gilang; Harsoyo Notoatmodjo; Maya Dian Rakhmawatie
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 2 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.534 KB)

Abstract

Pendahuluan  : Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami kegagalan bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Asfiksia menyebabkan kematian neonatus antara 8-35% di negara maju , sedangkan di negara berkembang antara 3156,5%.Faktor yang menyebabkan asfiksia neonatorum antara lain faktor keadaan ibu, faktor keadaan bayi, faktor plasenta dan faktor persalinan. Metode : Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan data rekam medis pasien asfiksia neonatorum dengan persalinan letak sungsang dan penyulit kehamilan persalinan lainnya dari 1 Januari 2009- 31 Desember 2010 di RSUD Tugurejo Semarang sebanyak 69 kasus. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan Uji Chi-Square dan Uji Fisher’s Exact pada beberapa variabel tertentu dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil : Faktor-faktor yang merupakan faktor yang berhubungan dengan asfiksia neonatorum antara lain  umur ibu (p=0,040), pendarahan antepartum (p=0,010). Berat Badan Lahir (BBL) bayi (p=0,033), pertolongan pertama letak sungsang  perabdominam dan pervaginam (p=0,006), partus lama atau macet (p=0,035) dan Ketuban Pecah Dini (KPD) (p=0,004). Analisi regresi logistik mendapatkan 4 faktor yang dominan kejadian asfiksia neonatorum yaitu BBL dengan nilai B expected nya paling besar (53,737), urutan kedua adalah pendarahan antepartum dengan nilai B expected (24,707), urutan ketiga adalah KPD dengan nilai B expected (9,560), dan urutan keempat adalah pertolongan persalinan letak sungsang pervaginam dengan nilai B expected (0,164). Kesimpulan : Hasil penelitian membuktikan bahwa faktor-faktor risiko seperti faktor ibu, faktor bayi dan faktor persalinan merupakanfaktor yang dapat menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum.Kata Kunci : asfiksia neonatorum, faktor risiko
Hubungan Karakteristik, Tingkat Konsumsi Energi, Tingkat Konsumsi Protein, dan Frekuensi Periksa Kehamilan dengan Pertambahan Berat Badan Ibu Hamil Trimester II (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanaran Semarang) Febrina Dwi Haryani; Darmono SS; Maya Dian Rakhmawatie
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 3 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.996 KB)

Abstract

Latar belakang : pada masa kehamilan seorang wanita memerlukan  gizi yang lebih banyak daripada yang dibutuhkan dalam keadaan biasa untuk menghindari defisiensi gizi yaitu dengan cara mengkonsumsi makanan yang mengandung energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam porsi yang seimbang dan sesuai dengan tahapan kehamilan.. Tujuan : mengetahui hubungan karakteristik, tingkat konsumsi energi, tingkat konsumsi protein, dan frekuensi periksa kehamilan dengan pertambahan berat badan ibu hamil trimester II. Metode : penelitian dilakukan secara studi analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil trimester II yang melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Pandanaran Semarang dari bulan November 2011 sampai dengan Februari 2012. Sampel penelitian ini dipilih dengan teknik total sampling dengan menggunakan semua ibu hamil dengan usia kehamilan 13 – 27 minggu (trimester II) yang berjumlah 31 orang yang telah memenuhi kriteria. Tiap variabel dilakukan uji normalitas data dengan uji Kolmogorov Smirnov, kemudian dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman. Hasil : tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik ibu (umur ibu, jarak kehamilan/kelahiran, paritas, dan pendidikan) dengan pertambahan berat badan ibu hamil trimester II (p>0,05). Dimana umur ibu memiliki p-value 0,862, jarak kehamilan/kelahiran p-value 0,306, paritas p-value 0,696, dan pendidikan p-value 0,649. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi, tingkat konsumsi protein, dan frekuensi periksa kehamilan dengan pertambahan berat badan ibu hamil trimester II (p<0,05). Dimana tingkat konsumsi energi dan tingkat konsumsi protein memiliki p-value 0,000, serta frekuensi periksa kehamilan memiliki p-value 0,002. Kesimpulan : tidak ada hubungan yang signifikan antara karakteristik dengan pertambahan berat badan ibu hamil trimester II, tetapi ada hubungan yang signifakan antara tingkat konsumsi energi, tingkat konsumsi protein, dan frekuensi periksa kehamilan dengan pertambahan berat badan ibu hamil trimester II.
EVALUASI PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI TERHADAP PENCAPAIAN PROGRAM INDONESIA SEHAT 2010 Maya Dian Rakhmawatie; Merry Tiyas Anggraini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.386 KB)

Abstract

Latar belakang : Salah satu indikator tercapainya Indonesia Sehat 2010 adalah tercapainya Program Pembangunan Kesehatan. Salah satu upaya agar derajat kesehatan masyarakat lebih optimal adalah pengobatan sendiri. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang tercantum pada kemasannya. Tujuan penelitian : Mengevaluasi perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah perilaku pengobatan sendiri oleh masyarakat sudah rasional atau masih irasional. Metoda: Metode penelitian survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada sampel terpilih dengan multistage random sampling yang dilakukan di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Jumlah sampel 97 terbagi ke dalam lima kelurahan yang kemudian dari masing-masing kelurahan diambil sampel secara proporsional sesuai dengan jumlah penduduk. Hasil : Rata-rata angka kerasionalan penggunaan obat belum maksimal. Angka rasionalitas pengobatan masing-masing keluhan antara lain; penggunaan obat demam 76,3%; obat nyeri  43,3%; obat batuk kering dan berdahak 13,4%; obat pilek 32,0%; obat flu 93,8%; obat sesak nafas 14,4%; obat maag 70,1%; obat diare 85,6%; obat konstipasi 61,9%, obat jamur 50,5%, obat bisul 38,1%, obat haemoroid 36,1%. Dari hasil penelitian hanya 76,3% masyarakat yang menyatakan pergi ke dokter jika dalam dua hari gejala tidak membaik. Simpulan : Dilihat dari kerasionalitasan penggunaan obat, ternyata hasilnya belum memuaskan.Kata kunci : Pengobatan sendiri, Indonesia Sehat
EFFECTIVITY IN VITRO OF Averrhoa bilimbi L ETHANOLIC EXTRACT AGAINTS Escherichia coli AND Staphylococcus aureus GROWTH Erwin Kukuh Widhianto; Ransidelenta Vistaprila Elmarda; Maya Dian Rakhmawatie
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Proceeding International Seminar of Occupational Health and Medical Sciences (I-SOCMED) 2017 “
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.662 KB)

Abstract

Averrhoa bilimbi L, or in Indonesian named belimbing wuluh has been widely used by the community as a complement to cuisine. From many studies, fruit or leaves of Averrhoa bilimbi L declared to have antibacterial activity. The activity is caused by the antibacterial content in Averrhoa bilimbi L,  such as flavonoids, saponins, and tannins. This research is conducted to test the effectiveness of ethanolic extractof Averrhoa bilimbi L as antibacterial. The bacteria used to tested are Gram + Staphylococcus aureus and Gram- Escherichia coli, both of which are pathogenic bacteria in humans. This research was a pure experimental design with posttest only control group design. Averrhoa bilimbi L was extracted using maceration method with 96% ethanol solvent. The thick extract of the Averrhoa bilimbi L was diluted using 2% DMSO solvent to concentration range 0,19%; 0,39%; 0,78%; 1,0%; 1,56%; and 3,12% (v/v).Extracts with various concentrations were then tested to S. aureus and E. coli bacteria, and each concentration was repeated four times. MIC and MBC test were conducted by dilution method using Mueller Hinton Broth and Mueller Hinton Agar. MIC values were minimal concentration of no bacterial test growth , as measured by observing the difference of absorbance before and after incubation oftreatment solution using spectrophotometer λ 625 nm. The MBC values are minimal concentration there is no bacterial colony growth after treatment.The statistical test showed that there was significant difference of absorbance value at each concentration of Averrhoa bilimbi L ethanolic extract test on both bacteria. Based on ANOVA analysis, p value was 0,001. In linear regression analysis, the relationshipbetween extract concentration and the absorbance of S. aureus bacteria, is generated with regression value y = 0,081x-0,181 and R  = 0,93 (p value 0,001). For the relationship between extract concentration and the log colony number of S. aureus, obtained regression value y = 2,250x- 1,521 and R2 = 0,72 (p value 0,001). In statistic test of E. coli, there was significant difference from six Averrhoa bilimbi L ethanolic concentration groups. Based on test Kruskal-Wallis analysis, p value was 0,003. In linearregression analysis, the relationship between extract concentration and the absorbance of E. coli bacteria, is generated with regression value y = 0,089x-0,212 and R = 0,89 (p value 0,001). For the elationship between extract concentration and the log colony number of E. coli, obtained regression value y = 0,526x + 6,998 value R2 = 0,79 (p value 0,001).Ethanolic extract of Averrhoa bilimbi L fruitwas effective against S. aureus and E. coli with MIC and MBC concentration of 1.56% (v/v). Increased concentration of Averrhoa bilimbi L ethanolic extract will increase the inhibition growth of S. aureus and E. coli bacteria Keywords : Averrhoa bilimbi L, belimbing wuluh, antibacterial, S. aureus, E. coli.
EVALUASI PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI TERHADAP PENCAPAIAN PROGRAM INDONESIA SEHAT 2010 Maya Dian Rakhmawatie; Merry Tiyas Anggraini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.386 KB)

Abstract

Latar belakang : Salah satu indikator tercapainya Indonesia Sehat 2010 adalah tercapainya ProgramPembangunan Kesehatan. Salah satu upaya agar derajat kesehatan masyarakat lebih optimal adalahpengobatan sendiri. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obatbebas dan obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang tercantum pada kemasannya. Tujuanpenelitian : Mengevaluasi perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat. Evaluasidilakukan untuk melihat apakah perilaku pengobatan sendiri oleh masyarakat sudah rasional atau masihirasional. Metoda: Metode penelitian survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang disebarkankepada sampel terpilih dengan multistage random sampling yang dilakukan di Kecamatan Tembalang,Kota Semarang. Jumlah sampel 97 terbagi ke dalam lima kelurahan yang kemudian dari masing-masingkelurahan diambil sampel secara proporsional sesuai dengan jumlah penduduk. Hasil : Rata-rata angkakerasionalan penggunaan obat belum maksimal. Angka rasionalitas pengobatan masing-masing keluhanantara lain; penggunaan obat demam 76,3%; obat nyeri 43,3%; obat batuk kering dan berdahak 13,4%;obat pilek 32,0%; obat flu 93,8%; obat sesak nafas 14,4%; obat maag 70,1%; obat diare 85,6%; obatkonstipasi 61,9%, obat jamur 50,5%, obat bisul 38,1%, obat haemoroid 36,1%. Dari hasil penelitianhanya 76,3% masyarakat yang menyatakan pergi ke dokter jika dalam dua hari gejala tidak membaik.Simpulan : Dilihat dari kerasionalitasan penggunaan obat, ternyata hasilnya belum memuaskan.Kata kunci : Pengobatan sendiri, Indonesia Sehat
OPTIMASI DAN VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR SIPROFLOKSASIN DALAM MEDIA MUELLER HINTON BROTH MENGGUNAKAN HPLC (High Performance Liquid Chromatography) Maya Dian Rakhmawatie; Afiana Rohmani
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Perkembangan Terbaru Pemanfaatan Herbal Sebagai Agen Preventif Pada Tera
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.943 KB) | DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.1213

Abstract

ABSTRAK   Model kinetika in vitro telah dikembangkan untuk menggambarkan simulasi farmakokinetika antibiotika sesuai dengan profil farmakokinetika pada tubuh manusia. Untuk melakukan penelitian model kinetika in vitro, salah satu faktor penting untuk dianalisis adalah kadar obat dalam media bakteri yang disesuaikan dengan kadar obat dalam tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis optimasi dan validasi penetapan kadar antibiotik siprofloksasin dalam media Mueller Hinton Broth (MHB), menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) UV Vis pada panjang gelombang 275 nm. Pemisahan kromatografi dilakukan menggunakan kolom C18 (250 x 4,6 mm; 4,6 µm; Knauer Jerman). Fase gerak isokratik terdiri dari 0,02 M buffer natrium dihidrogen fosfat pH ± 3,0 dan asetonitril (65:35, v/v). Fase gerak mengandung 5 mM trietilamin sebagai agen pasangan ion. Laju fase gerak konstan 0,8 mL/menit, pada suhu kolom 42°C, dan tekanan kolom berkisar 183 – 198 kgf. Metode yang digunakan selektif dapat memisahkan puncak area kromatogram dengan media MHB. Waktu retensi berada pada 3,74 menit (SD 0,04; CV 1,06%). Metode ini valid dan linear pada rentang konsentrasi 0,1 – 10 µg/mL (r2 = 0,992). Sensitivitas ditunjukkan dengan nilai LOD dan LLOQ sebesar 1,24 µg/mL dan 4,12 µg/mL. Stabilitas sampel yang diukur pada penyimpanan 7 hari suhu 2 – 8°C menunjukkan nilai perolehan kembali hasil simpan sebesar 93,80%. Kata kunci : HPLC; media Mueller Hinton Broth; siprofloksasin.
AKTIVITAS ANTIFUNGI CUKA NANAS (Ananas comosus) PADA PERTUMBUHAN JAMUR Malassezia furfur Maya Dian Rakhmawatie; Tefia Riswanda Lumban Gaol; Ika Dyah Kurniati
Biomedika Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v14i2.18564

Abstract

ABSTRAK Malassezia furfur merupakan flora normal yang terdapat pada kulit manusia, namun dapat menjadi patogen pada pasien imunosupresi. Di Indonesia, penyakit kulit pityriasis versicolor (hampir 50% penyakit kulit) disebabkan oleh M. furfur. Ketokonazol merupakan obat yang paling umum digunakan untuk pengobatan infeksi M. furfur, namun diketahui memiliki efek samping kerusakan hati. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan antijamur yang lebih aman. Cuka nanas mempunyai potensi sebagai antijamur karena mengandung senyawa saponin dan tanin. Penelitian ini melakukan uji kadar hambat minimal (KHM) cuka nanas dengan metode two-fold dilution pewarnaan Resazurin Microplate Assay (REMA). Konsentrasi cuka nanas yang digunakan berada pada rentang 62.5- 4000 µg/mL. Analisis regresi digunakan untuk menilai hubungan antara konsentrasi cuka nanas dengan pertumbuhan jamur M. furfur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi cuka nanas 4000 µg/mL belum dapat menghambat pertumbuhan jamur M. furfur. Namun, berdasarkan hasil uji regresi linier sederhana, diketahui terdapat hubungan antara peningkatan konsentrasi cuka nanas terhadap pertumbuhan jamur dengan persamaan garis y = -0,000097x + 5,88 dan nilai korelasi determinasi (R2) 0,729 = 72,9 % (p=0,000). Peningkatan dosis uji cuka nanas mungkin dapat bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan jamur M. furfur.Kata Kunci: Antijamur, Cuka Nanas, Malassezia Furfur, Resazurin Microplate Assay. ABSTRACT Malassezia furfur is normal flora found on human skin, but can be pathogenic in immunosuppressed patients. In tropical areas such as Indonesia, pityriasis versicolor skin disease (almost 50% of skin diseases) is caused by M. furfur.). Ketoconazole is commonly drug for the treatment of M. furfur infection, but it’s known to have hepatotoxic effects. Therefore, it’s necessary to develop safer antifungals. Pineapple vinegar has potential as an antifungal because it contains saponins and tannins. Minimum inhibitory concentration (MIC) of pineapple vinegar was carried out using two-fold dilution method and Resazurin Microplate Assay (REMA) staining. The concentration range of pineapple vinegar used is 62.5- 4000 g/mL. Regression analysis was used to assess the relationship between pineapple vinegar concentration and the growth of the M. furfur. The concentration of pineapple vinegar 4000 g/mL could not inhibit the growth of the M. furfur. However, based on a linear regression test, there is a relationship between increasing the concentration of pineapple vinegar on the growth of M. furfur, with regression line equation y = -0.000097x + 5.88 and (R2) 0.729 = 72.9% (p = 0.000). Increasing the dose of pineapple vinegar may be useful for inhibiting the growth of the M. furfur.Keywords: Antifungal, Malassezia furfur, pineapple vinegar, pytiriasis versicolor, resazurin microplate assay 
Antimicrobial Activity of Pecut Kuda Leaf Extract (Stachytarpheta jamaicensis (L. Vahl) against Mycobacterium smegmatis Putri Nadia Ramadhani; Ika Dyah Kurniati; Maya Dian Rakhmawatie
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 23, No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v23i1.15599

Abstract

Mycobacterium smegmatis infrequently causes infection, but it is easy to be pathogenic in immunosuppressed patients. Many reported that M. smegmatis resistance to several antibiotics became an impetus for searching for new antimicrobials. Therefore, this study aims to prove the effect of Pecut Kuda leaf extract (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) on the growth of M. smegmatis mc2 155. This research is an experimental study with a post-test control group design. The susceptibility test was carried out using the two-fold microdilution method and resazurin staining. The concentration of Pecut Kuda leaf ethanol extract was prepared in the concentration range of 10000.0 – 625.0 µg/ml.  Phytochemical analysis of the content of saponins, tannins, flavonoids, and alkaloids was also carried out on Pecut Kuda leaf ethanol extract. Pecut Kuda leaf ethanol extract can inhibit the growth of M. smegmatis with a minimum inhibitory concentration (MIC) of 5000 µg/ml (very weak activity) because, at the highest concentration of 10000 µg/ml, M. smegmatis still cannot be killed. Furthermore, Pecut Kuda leaf ethanol extract contains saponins, tannins, flavonoids, and alkaloids which are known to have antibacterial activity. However, further evaluation is needed to maximize the antibacterial activity of Pecut Kuda leaf extract, for example, by fractionating the extract.
Antimicrobial Activity of Pecut Kuda Leaf Extract (Stachytarpheta jamaicensis (L. Vahl) against Mycobacterium smegmatis Putri Nadia Ramadhani; Ika Dyah Kurniati; Maya Dian Rakhmawatie
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 23, No 1 (2023): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v23i1.15599

Abstract

Mycobacterium smegmatis infrequently causes infection, but it is easy to be pathogenic in immunosuppressed patients. Many reported that M. smegmatis resistance to several antibiotics became an impetus for searching for new antimicrobials. Therefore, this study aims to prove the effect of Pecut Kuda leaf extract (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) on the growth of M. smegmatis mc2 155. This research is an experimental study with a post-test control group design. The susceptibility test was carried out using the two-fold microdilution method and resazurin staining. The concentration of Pecut Kuda leaf ethanol extract was prepared in the concentration range of 10000.0 – 625.0 µg/ml.  Phytochemical analysis of the content of saponins, tannins, flavonoids, and alkaloids was also carried out on Pecut Kuda leaf ethanol extract. Pecut Kuda leaf ethanol extract can inhibit the growth of M. smegmatis with a minimum inhibitory concentration (MIC) of 5000 µg/ml (very weak activity) because, at the highest concentration of 10000 µg/ml, M. smegmatis still cannot be killed. Furthermore, Pecut Kuda leaf ethanol extract contains saponins, tannins, flavonoids, and alkaloids which are known to have antibacterial activity. However, further evaluation is needed to maximize the antibacterial activity of Pecut Kuda leaf extract, for example, by fractionating the extract.
In Vitro Effect of Alfa Mangostin on Multiresistant Uropathogenic Escherichia Coli Rakhmawatie, Maya Dian; Rohmani, Afiana; Ahyar, Fariz Wafaul
Sains Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.141 KB) | DOI: 10.30659/sainsmed.v8i1.1002

Abstract

Introduction: In Indonesia, the most commom uropatogen E. coli resistance has been to ampicillin (91.9%), ciprof loxacin (83.7%) and cefixime (67.6%). α-mangostin, a chemical compound, has been developed as a new antibiotics isolaated from herbal Garcinia mangostana L, but its effectiveness against multiresistant uropathogenic E. Coli has not been established.Objective: This study examined the effect of α-mangostin on growth of multiresistant E. coliMethods: α-mangostin Treatment of E. coli uropatogen bacteria was administered in vitro, using 14 levels of concentration 14; 28,13; 56.25; 112.5;225; And 450 μg/mL with 4 times replication at each concentration. The antibacterial activity of α-mangostin was determined by evaluating bacterial growth at each concentration using the indirect method by sample absorbance reading. The Samples of uropatogen of E. coli treated with various doses of α-mangostin were incubated for 18-20 hours and then subjected to the absorbance reading using a UV-Vis spectrophotometer λ 625 nm.Results: Minimum inhibitory concentration (MIC) in this study was 450 mg/mL. Based on linear regression (STATA 13.1) relationship betweenα-mangostin concentrations and bacterial growth inhibition activity showed 0.0001 <0.05 showing that all concentrations of α-mangostin simultaneously had a significant effect on the growth of uropathogenic E. coli.Conclusion: α-mangostin has not been effective to inhibit the growth of multiresistent uropathogentic E. coli due to a relatively high MIC (450 mcg/mL).a Potentially relevant activity in the clinical setting will occur if the value of the MIC of a substance in vitro <100 μg /mL. Even the pharmaceutical industry prefers the development of antibiotics with in vitro MIC value of ≤ 2 μg/mL.