Articles
Komodifikasi Keluarga dalam Dunia Virtual untuk Peningkatan Ekonomi di Era Revolusi Industri 4.0
Khairul Syafuddin
Pancanaka Vol 1 No 1 (2020): PANCANAKA Jurnal Kependudukan, Keluarga dan Sumber Daya Manusia
Publisher : Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1112.134 KB)
|
DOI: 10.37269/pancanaka.v1i1.10
The development of industry 4.0 begins with the emergence of internet technology that can connect the entire community without the constraints of space and time. Industry 4.0 also gave rise to a society 5.0 oriented to all problems that could be solved through technology. One problem in society is the economic problem. In families living in the industrial era 4.0, these problems can be faced through internet technology. One way is to make daily life in the family into a spectacle. To realize this, then family life needs to be used as a commodity so that it can carry out the process of commodification. The process of commodification of spectacle in this virtual world can be done through platforms offered via the internet, one of which is Youtube. One example of a Youtube account that successfully commodifies family life in the industrial era 4.0 is Li Ziqi's account. His creativity in creating content and making family life narratives can be one example of references for families to make use of the internet in generating profits. Through Youtube, families can also commercialize the content they make as a sign that the commodification process is successful.
Komodifikasi Nasionalisme Dalam Iklan Sirup
Khairul Syafuddin;
Rino Andreas
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 7th University Research Colloquium 2018: Mahasiswa (student paper presentation)
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (721.793 KB)
Iklan digunakan perusahaan atau instansi untuk menawarkan produkkepada konsumen. Iklan cenderung mengangkat tema dengan ideologitertentu dalam penyajiannya. Penelitian ini menganalisis pemaknaaniklan Sirup Kurnia sebagai produk komoditas nasionalisme diIndonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk membongkar konstruksimakna nasionalisme dalam iklan Sirup Kurnia. Terdapat tiga iklanyang menjadi objek kajian dalam penelitian ini. Peneliti melihatbagaimana komodifikasi nasionalisme diwujudkan dalam visualisasiiklan Sirup Kurnia. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah metode semiotika dengan pendekatan Roland Barthes. Penelitimenganalisis scene-scene yang ada dalam ketiga iklan. Scene-scenetersebut dikaji berdasarkan aspek visual dan narasi. Kedua aspektersebut dianalisis dengan pendekatan Barthes yang kemudiandihubungkan dengan konsep nasion, nasionalisme, dan komodifikasi.Peneliti melihat bahwa ketiga iklan sirup tersebut berusaha untukmembentuk pemaknaan nasionalisme yang dikaitkan dengan produkkomoditas sirup. Tanda-tanda (signs) yang muncul dalam ketiga iklan,dimaknai sebagai komodifikasi nasionalisme yang mendukung kaitanproduk dengan konsep pemaknaan mengenai nasion. Berdasarkanketiga iklan tersebut, selanjutnya dibagi menjadi tiga kategorisasinasionalisme, yaitu nasionalisme budaya, ekonomi, dan teritorial.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nasionalisme masih dijadikanmakna yang penting untuk mewujudkan tujuan iklan yaitu memasarkanproduk.
Efektivitas Komunikasi Pendidikan dalam Doing Project
Muhammad Rohim;
Khairul Syafuddin
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 8th University Research Colloquium 2018: Bidang Pendidikan, Humaniora dan Agama
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (514.29 KB)
Doing Project merupakan kegiatan workshop tentang dongeng serta belajar bersama anak-anak melalui metode mendongeng sehingga mudah dipahami oleh mereka. Proyek tersebut dilakukan secara berkeliling di panti asuhan wilayah Surakarta. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas komunikasi pendidikan dalam Doing Project. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan bentuk penelitian studi kasus. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti menganalisis proses komunikasi yang dilakukan oleh pendongeng melalui observasi yang selanjutnya diperkuat dengan hasil wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, peneliti membagi efektifitas komunikasi yang dilakukan Doing Project menjadi lima bagian, yaitu efektifitas istilah, kespesifikkan, penyusunan, keakuratan, dan keefisienan. Peneliti melihat bahwa Doing Project sangat efektif dilakukan dalam proses komunikasi pendidikan kepada anak. Hal ini dilihat berdasarkan kelima bagian efektifitas komunikasi tersebut yang dapat terpenuhi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui Doing Project pesan moral dan pendidikan yang ingin disampaikan kepada anak-anak lebih mudah dipahami.
Diskursus Modal Awal Calon Presiden dalam Talkshow
Khairul Syafuddin
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 8th University Research Colloquium 2018: Bidang Sosial Ekonomi dan Psikologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (303.403 KB)
Televisi adalah salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat propaganda. Salah satu program televisi dengan muatan politik yang kuat adalah Mata Najwa. Mendekati pemilu capres periode 2019 – 2024, Mata Najwa menayangkan episode Siapa Berani Jadi Presiden. Episode ini mengundang tiga calon kandidat, yaitu Rizal Ramli, Muhaimin Iskandar, dan Gatot Nurmantyo. Tujuan dari penelitian ini adalah membongkar wacana yang dibentuk para calon kandidat dalam menanggapi modal awal menjadi capres. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis wacana kritis dengan pendekatan Teun A. van Dijk. Peneliti menganalisis setiap segmen yang ada dalam satu episode tersebut. Segmen-segmen tersebut dikaji berdasarkan kognisi dalam memproduksi wacana melalui komunikasi verbal. Peneliti melihat bahwa para calon kandidat berusaha untuk membentuk wacana baru yang berkaitan dengan modal awal menjadi capres atau cawapres. Wacana baru yang mereka bentuk berbeda dengan wacana yang dibentuk oleh media, yaitu kekayaan dan RUU. Berdasarkan program acara tersebut ada beberapa wacana yang dibentuk, yaitu wacana modal media sosial, elektabilitas di masyarakat, dan modal politik identitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal awal menjadi presiden diwacanakan tidak hanya berasal dari kekayaan pribadi maupun RUU saja, namun juga dibentuk melalui suara masyarakat yang menjadi poin penting dari elektabilitas calon kandidat.
Komodifikasi Nilai Islam dalam Fashion Muslim di Instagram
Khairul Syafuddin;
Ni’amatul Mahfiroh
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Sains dan Teknologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (618.474 KB)
Perkembangan teknologi di era industri 4.0 di tandai dengan kemunculan internet. Salah satu efek dari munculnya teknologi internet adalah lahirnya media sosial. Instagram menjadi media sosial yang hingga saat ini digunakan oleh lebih dari 61 juta orang di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengguna Instagram sangatlah banyak. Sehingga media sosial menjadi alat yang efektif bagi sebuah industri dalam rangka praktik ekonomi politik, salah satunya dalam industri fashion muslim. Salah satu industri fashion muslim yang bergerak di dunia digital adalah santun.inv. Akun tersebut telah membranding dirinya sebagai produsen dari kaos hijrah. Berdasarkan brandingnya serta produk yang dijual melalui akun instagramnya, dapat dilihat bahwa akun tersebut telah melakukan komodifikasi nilai islam melalui alat komoditi fashion. Dengan begitu dapat dilihat, kini nilai islam tidak hanya beroperasi di tataran kajian keilmuan dan dakwah. Namun telah bergeser fungsi menjadi alat ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana nilai-nilai islam dikomodifikasi melalui media sosial Instagram. Tidak hanya komodifikasi dalam bentuk komoditi pakaian, akan tetapi peneliti juga ingin melihat bagaimana komodifikasi nilai islam ini membuat akun santun.inv yang berorientasi pada ekonomi juga berusaha mensyiarkan nilai agama islam. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komodifikasi dari Vincent Mosco. Selanjutnya, teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika visual model Roland Barthes serta semiotika teks model Ferdinand de Saussure melalui langue dan parole. Hasil dari penelitian ini melihat bahwa akun santun.inv berusaha melakukan komodifikasi nilai islam untuk memperoleh keuntungan. Komodifikasi tersebut dilakukan dengan menempelkan makna dari nilai positif keislaman melalui produk kaos, miki hat, dan tumblernya. Selain itu, akun tersebut juga berusaha mensyiarkan nilai keislaman dengan menggunakan teks di setiap postingannya. Sehingga praktik yang dilakukan oleh pemilik akun santun.inv selain mencari keuntungan berupa ekonomi, dia juga memanfaatkan akunnya untuk mensyiarkan nilai keislama, baik melalui teks yang terdapat dalam postingan maupun captionnya
REPRESENTASI MASKULINITAS DAN KESENJANGAN RAS DALAM IKLAN REXONA MEN X CHELSEA
Khairul Syafuddin
Virtu: Jurnal Kajian Komunikasi, Budaya dan Islam Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15408/virtu.v2i1.28369
Advertising is made to communicate a message from a product to consumers. This makes the advertising narratives formed according to social constructs that are close to the reality of consumers. One of the advertisements that represents the social condition of contemporary masculinity is Rexona Men x Chelsea: Keringat? Bau Badan?. Rexona tries to construct masculine men through grooming products for men. This in turn leads to the hybridization of masculinities. This hybrid masculinity is influenced by bodywork which is not only shown through the strength, hardness, and smell of sweat. But also the action in carrying out body care. The findings from the study show that the Rexona Men x Chelsea advertisement constructs this masculinity through a series of visuals shown by the selected brand ambassadors. There are three brand ambassadors, namely Callum, Marcos, and Pedro. The three of them are shown as masculine men through the training activities they are doing, the work they have which is represented through the uniforms they wear, to sweat and body odor. All these things are packaged in visual and written text. Furthermore, at the end of the commercial, hybrid masculinity is shown when Marcos does not sweat and smells due to wearing personal care products. This advertisement also shows a form of racism through a visual that is directed at Callum. This racism is shown in Callum's own eyes, Marcos's eyes to Callum, and gave Callum a mop. From the advertisements that offer body care products, it can be seen that there is a racial gap that is used as a spectacle to offer products for sale.
Social Media Network Analysis Of Virtual Public Opinion For Luhut Binsar Panjaitan On Twitter
Khairul Syafuddin
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : UIN Salatiga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18326/inject.v7i2.141-160
The Indonesian people are currently in a situation of rising oil prices. Either in the form of cooking oil or pertamax. This condition makes the public conversation on Twitter very crowded. Especially when news emerged regarding Luhut Binsar Panjaitan signaling that the price of pertalite and 3 kg LPG would also increase gradually. This led to trending topics with the hashtags #OpungBiangKerok and #PecatBrutusLuhut. The theory used in this research is the theory of representation and agenda setting which is carried out in the context of social media. The purpose of this study is to determine the strength of the network on Twitter in shaping public opinion which aims to attack Luhut's image. This study uses a qualitative method. The analytical technique chosen in this study is the analysis of social media networks. The results of this study see that the hashtags #OpungBiangKerok and #PecatBrutusLuhut were produced in 2 different moments. The hashtag #OpungBiangKerok was built when Luhut signaled a price increase. Meanwhile, the hashtag #PecatBrutusLuhut emerged after the student demonstration on April 11, 2022. However, the opinion that was built through the hashtag #PecatBrutusLuhut focused more on Jokowi's 3-term rejection. Through these two hashtags, netizens on Twitter are trying to build a representation of Luhut's image as a leader who is cruel to the people. The community movement is not only strong when in the field, but there is also a strong effort on social media to produce a public opinion. This movement at the same time strengthens their action in the field.
Analisis Jaringan Isu #percumalaporpolisi Sebagai Bentuk Rendahnya Kepercayaan Netizen Terhadap Kepolisian di Twitter
Khairul Syafuddin
JIKA (Jurnal Ilmu Komunikasi Andalan) Vol. 5 No. 1 (2022): Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Majalengka
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (660.159 KB)
The emergence of social media makes it easy for people to produce their own public opinion. Public opinion is not only formed by the mass media. People who become netizens on social media are able to shape this public opinion. One of them through Twitter. One of the public opinions that had become a trending topic on Twitter was #percumalaporpolisi. The hashtag became popular because the public considered the police performance to be lower. This study aims to see how large the Twitter network is formed from the hashtag #percumalaporpolisi. In addition, this study also looks at the discourse that is formed from the tweets produced by netizens on Twitter. This study uses the method of Social Media Network Analysis (SMNA) and critical discourse analysis with the Fairclough approach. Twitter tweets data were taken as many as 2.500 posts related to #percumalaporpolisi from December 12 to December 20, 2021. The results of this study see that during that time the issue of #percumalaporpolisi had increased dramatically on December 19, 2021. The increase in issues was triggered by related issues. #TangkapBaharSmith. In addition, netizens also raised several discourses in their tweets. The tweets that have a high enough intensity are related to the CINTA NKRI. The hashtag #percumalaporpolisi also broadens the meaning of individual officers.
Peningkatan Literasi Digital Melalui Kegiatan bermain Untuk Siswa SDN Jamaras Cugenang Cianjur
Themotia Titi Widaningsih;
Khairul Syafuddin;
Listijono Setyopratinjo
Eastasouth Journal of Impactive Community Services Vol 1 No 02 (2023): Eastasouth Journal of Impactive Community Services (EJIMCS)
Publisher : Eastasouth Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (868.367 KB)
|
DOI: 10.58812/ejimcs.v1i02.86
Warga yang berada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat saat ini tengah mengalami kondisi yang sulit. Hal ini diakibatkan karena adanya gempa bumi yang terjadi di sana pada 21 November 2022. Bencana ini mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi terhenti. Salah satu pembelajaran yang penting untuk dilakukan terkait dengan literasi digital, terutama di daerah yang mengalami bencana. Oleh sebab itu, perlu diadakan kegiatan peningkatan literasi digital untuk siswa SDN Jamaras, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Dalam kondisi pasca bencana, tim PKM Usahid melakukan peningkatan literasi digital melalui strategi permainan. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan kemampuan literasi digital kepada 202 siswa SD beserta guru yang mendampinginya. Kegiatan PKM ini dapat memberikan bekal dan pengetahuan kepada para siswa SD terkait budaya digital, etika dalam bermedia sosial, dan Undang Undang Perlindungan data Pribadi secara ringan. Siswa diajak berperan aktif dalam kegiatan bermain dan belajar dan dibekali skill dalam memahami jenis hoaks dan cara melawannya.
COMMODIFICATION OF RELIGION-BASED AUDIOVISUAL CONTENT ON THE YOUTUBE CHANNEL (CASE STUDY ON ISLAM POPULER YOUTUBE CHANNEL)
Khairul Syafuddin;
Tangguh Okta Wibowo
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, dan Pendidikan Vol. 2 No. 5 (2023): April
Publisher : Lafadz Jaya Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54443/sibatik.v2i5.745
Technological developments have made it easier for people to consume and produce audiovisual content on social media, including through the use of the Islam Populeric YouTube channel which provides diverse information for its users. The channel owners monetize their content, making their content production practices profit-oriented. This article analyzes how Islam Populer commodifies Islamic-themed content to generate profits, as well as the exploitation of new media workers. The article shows that Islam Populer successfully commodifies the values and teachings of Islam in their content, generating profits for their media endeavors. However, Islam Populer remains a commodity for YouTube, as the account's performance attracts advertisers who benefit YouTube the most. This makes Islam Populer one of the parties that are exploited in the context of media work.